Disebuah rumah klasik minimalis yang masih terletak didalam kawasan sebuah rumah besar seorang bangsawan di San Francisco. Seorang gadis berkerudung besar dengan cadar hitam sedang duduk dimeja kerjanya dengan tumpukan buku didepannya.
Buku-buku yang berada dimejanya seakan membuatnya tenggelam. Mata cantiknya melirik ponsel yang berdering memberi notif waktu ibadah. Gadis itu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia menanggalkan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Dengan gerakan lembut, ia menyapukan air wudhu pada wajah, tangan dan kaki. Gadis itu kemudian meraih gamis hitam beserta kerudung besarnya didalam lemari untuk kemudian menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim.
Jari jemarinya yang lentik memutar tasbih mutiara pemberian sang Ayah. Sesekali ia menyapu air matanya yang turun membasahi pipinya yang mulus.
Aktivitasnya terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Gadis itu meraih cadarnya kembali dan melangkah keluar. Saat pintu terbuka, seorang pria paruh baya datang bersama dua orang, 1 laki-laki dan perempuan.
“Assalamualaikum” sapa pria tua tadi.
“Waalaikumsalam Tuan”
Gadis itu kemudian mempersilahkan tamunya masuk. Mereka duduk diruang tamu. Gadis itu menundukkan pandangannya. Suasana canggung menyelimuti ruangan tersebut.
Pria tua itu berdehem guna memecah kecanggungan.
“Bagaimana tentang tawaran saya tempo hari Vana? Apakah kau sudah memikirkannya?”
“Saya sudah memikirkannya Tuan” jawabnya dengan lirih.
“Apa keputusanmu, apakah kau menerima lamaranku atau tidak”
“Dengan menyebut nama Allah, saya menerima lamaran Tuan”
Tuan Corleane tersenyum bahagia. Tanpa berlama-lama berada ditempat tersebut, Tuan Corleane pamit untuk kembali ke mansion miliknya guna menyampaikan kabar bahagia tersebut pada Vincent.
Setelah tamunya menghilang. Gadis tersebut lantas menuju rumah besar yang berada agak jauh dari tempat ia tinggal. Para pelayan menundukkan badan menyambut kedatangan sang putri yang terasingkan.
Di lorong lantai dua, tak sengaja ia bertemu dengan Pasha, pengawal setia kakeknya. Pria yang usianya hampir sama dengan mendiang Ayahnya tersebut menunduk hormat pada Silvana.
“Selamat datang kembali Nona Vana” sambutnya dengan penuh penghormatan.
“Apa Paman tau dimana Kakek?”
“Tuan Besar sedang berada diruang pribadinya Nona”
“Terimakasih Paman”
“Apakah Nona butuh pengawalan?”
“Apa disini sudah tidak aman bagiku hingga aku membutuhkan pengawalan dirumah kakekku sendiri Paman?”
“Baiklah Nona”
Vana masuk kedalam ruangan besar di sudut lantai dua. Sebuah ruangan dengan nuansa emas yang mendominasi. Manik coklat miliknya yang cantik menatap sang Kakek yang tengah duduk membelakanginya. Tuan Fedor memutar kursi lantas tersenyum menatap seorang gadis dengan kurudung besar dan cadar hitamnya.
Tangannya mengisyaratkan pada Vana untuk mendekat. Tuan Fedor tampak bersusah payah untuk bangun dari duduknya guna menghampiri sang cucu tercinta yang jarang sekali ia temui. Vana dengan sigap memapah sang Kakek dan membantunya duduk diatas sebuah sofa empuk diruangan tersebut.
Sebuah obrolan ringan mengawali percakapan dari dua insan yang berbeda generasi. Sampai akhirnya Vana mengatakan bahwa Tuan Corleane, sahabat mendiang Ayahnya telah meminangnya untuk putra pertamanya.
Tuan Fedor menatap Vana dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya tampak sayu dan sedikit berembun. Vana, gadis itu sangat mirip dengan putra keduanya, Matvey. Dengan penuh keyakinan, Tuan Fedor memberikan restunya kepada sang cucu.
Tubuh renta seorang bangsawan keturunan Rusia tersebut berjalan menuju sebuah lukisan besar yang menempel sempurna pada dinding yang kokoh. Tangannya yang keriput tampak meraba sesuatu disamping lukisan. Sebuah tombol kecil yang berwarna senada dengan cat dinding ia tekan. Terbukalah lukisan tersebut layaknya sebuah pintu lemari.
Dengan matanya sendiri, Vana melihat begitu banyak perhiasan dan juga tumpukan uang. Tuan Fedor meraih dua kotak beludru berbeda ukuran berwarna hitam dari dalam sana lalu menyerahkannya pada Vana.
Tangan Vana terulur menyambut pemberian Tuan Fedor. Vana membuka kotak hitam tersebut dengan sangat hati-hati. Sebuah kalung bertahtakan batu safir warna biru yang tampak cantik. Sedangkan, satu kotak yang ukurannya agak besar berisi dua buah shuriken dengan mata pisau yang berbeda jumlahnya. Dua barang dalam kotak tersebut tidak asing bagi Vana. Tapi untuk apa kakeknya memberinya dua jenis barang yang sudah ia lupakan bertahun-tahun lamanya. Vana menatap penuh tanda tanya pada Tuan Fedor.
Tuan Fedor tersenyum penuh arti. Dengan langkah yang sedikit tertatih, pria tua tersebut berdiri didekat jendela kaca yang besar. Matanya menatap jauh kearah dunia luar. Dengan penuh keyakinan, Tuan Fedor akhirnya mulai bicara.
“Kau pasti bertanya-tanya, untuk apa kakek memberikan itu semua padamu?”
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Vana. Pikirannya seolah buntu oleh sebuah pertanyaan yang membuat otaknya terasa penuh.
“Kalung tersebut adalah hadiah dari calon ayah mertuamu, Corleane, ketika kau baru saja dilahirkan. Sementara shuriken itu –”
Setetes air mata jatuh dari mata Tuan Fedor. Lidahnya terasa kelu tak dapat melanjutkan bicara. Vana lantas menghampiri kakeknya. Berdiri tepat disampingnya dan menyenderkan kepalanya dilengan Tuan Fedor.
Tangan Tuan Fedor melepaskan tongkat yang menopang tubuhnya lalu membelai lembut puncak kepala cucu kecilnya yang sudah beranjak dewasa.
“Tidak usah dilanjutkan kakek, Vana masih mengingat semuanya” ucapnya dengan suara lirih.
“Simpan semuanya, suatu saat kau akan membutuhkannya”
“Vana akan menyimpannya untuk kakek”
Tak ada percakapan setelahnya. Vana lantas berpamitan lalu kembali kerumah kecilnya yang terletak jauh dibelakang rumah besar Tuan Fedor.
Tanpa ia sadari sepasang mata menatap penuh kebencian pada Vana. Sosok misterius tersebut lantas berlalu dengan amarah yang memuncak.
Masih berada didalam ruang pribadinya. Tuan Fedor yang duduk dikursi membuka laci mejanya. Jarinya mengambil sebuah pigura dengan foto hitam putih disana. Menatap lekat foto tersebut dengan keharuan yang memuncak. Mungkin karena faktor usia yang membuat pria tua tersebut mudah sekali terharu.
“Ayah tau mungkin rencana Ayah akan membuat Putrimu dalam bahaya Vey, tapi tidak ada yang bisa Ayah lakukan selain merelakan Vana bersama dengan Vincent seperti yang kalian rencanakan dulu. Vincent akan membantunya mengakhiri sesuatu yang belum tuntas” ujarnya dengan menatap selembar foto ditangannya.
Pasha masuk kedalam ruangan setelah Tuannya memanggilnya melalui alat komunikasi kecil yang ia pasang ditelinganya. Ruangan tersebut sangat pribadi, hanya tiga orang yang diperbolehkan masuk kesana. Dirinya, Vana dan juga Tuan Fedor sendiri. Anak-anaknya bahkan tidak ada yang berani menginjakkan kakinya diruangan tersebut. Bahkan mendiang Matvey yang dulunya ia pilih untuk menjadi penerusnya tidak diperkenankan masuk kedalamnya.
Pasha masih berdiam diri dibalik pintu yang terkunci. Pria paruh baya tersebut tak berani melangkah sebelum mendapat perintah dari Tuannya.
Sebuah senyum tercetak diwajah Tuan Fedor yang tak lagi muda. Pasha, sang pengawal setia yang sangat patuh padanya. Jari telunjuknya ia arahkan ke sebuah rak buku yang berada didekat pintu.
Seperti mengerti maksud sang Tuan. Pasha lantas menarik tiga buah buku yang terletak dijajaran paling atas.
Sebuah pintu rahasia berada dibalik rak buku yang terbuka. Dengan langkah pelan, kakinya yang mulai lemah menuruni setiap anak tangga diikuti Pasha dibelakangnya.
Dibawah sana, sebuah ruangan yang cukup besar dengan berbagai macam senjata didalamnya. Ruangan rahasia tersebut tak ubahnya semacam ruang penyimpanan senjata. Berbagai macam pistol dengan jenis berbeda berjejer rapi disebuah lemari kaca. Pedang, granat, senapan, panah serta busur dan longsongan peluru memenuhi ruangan tersebut.
Pasha terkesiap. Sejak kematian Matvey, dirinya tak pernah lagi menginjakkan kaki diruangan rahasia itu.
Tuan Fedor mengambil sebuah pistol berwarna hitam putih dari dalam lemari kaca. Memasukkannya kedalam sebuah kotak bertuliskan “Aramazd”. Kemudian menyerahkannya pada Pasha.
“Apa Tuan akan tetap melakukannya?”
“Kau tak percaya padaku?”
“Saya percaya pada anda Tuan. Tapi keselamatan Nona?”
“Kau meragukan kemampuannya Pasha?”
“Saya sangat percaya akan kemampuan Nona Vana”
Suara deru sepatu menggema beradu dengan lantai yang licin di mansion Tuan Corleane. Pria itu sangat bahagia. Senyum terbit dari wajahnya yang mulai menua. Di lorong lantai satu ia berpapasan dengan Hera. Hera bergidik ngeri melihat Tuan Corleane yang nampak aneh.
'Senyumnya bahkan terlihat mengerikan' batin Hera.
"Kau mengutukku Hera"
"Saya tidak berani Tuan Besar"
"Dimana bocah itu, apa dia belum kembali"
"Sepertinya belum Tuan"
"Anak yang menyusahkan!"
Mobil Vincent telah terparkir rapi dihalaman mansion. Dengan langkah lebarnya, Vincent masuk kedalam. Betapa terkejutnya Vincent mendapati Ayahnya telah berdiri dibalik pintu utama mansionnya. Jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya. Namun berbeda dengan Tuan Corleane, pria paruh baya tersebut tampak sedang bahagia.
Vincent melangkah menuju ruang utama dan menjatuhkan dirinya disofa empuk ditengah ruangan. Tuan Corleane mengikuti langkah Vincent dari belakang bersama Ken dan Paulo.
“Kau akan menikah tiga hari lagi” ucap Ayahnya tanpa basa-basi.
“APA!” Vincent tersentak.
“Mengapa Ayah memutuskan semuanya tanpa ada persetujuan dariku” imbuhnya.
“Persetujuan apa yang kau maksud?”
“Aku tidak bisa menikahi gadis pilihan Ayah"
“Lantas?”
“Apapun alasannya aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak ku kenal, terlepas dari itu aku tidak mencintainya”
"Alice hanyalah masa lalumu Vin. Lagipula Ayah tidak pernah melarangmu melakukan apapun! Bisakah kau menuruti keinginan orangtua ini sekali saja? Kau akan mencintainya setelah bertemu dengannya!” ucapnya dingin.
Vincent tersenyum hambar. Permintaan Ayahnya tak ubahnya seperti perintah. Tidak ada yang mampu menolaknya, termasuk dirinya. Dengan sangat terpaksa pria 35 tahun tersebut akhirnya menyetujuinya.
“Kau harus melakukan dua hal untuk bisa menikahinya Vin”
Vincent terdiam. Dirinya sudah tidak berselera mendengarkan permintaan Ayahnya.
“Pertama kau harus bersyahadat, kemudian kau harus sunat”
“Sunat?"
"Kau bisa tanyakan tentang itu pada Jorge"
Keesokan harinya, Dante diberi tugas oleh Tuan Corleane untuk mencari seorang guru Muslim yang diminta untuk mengislamkan putra pertamanya. Dante mendatangi sebuah masjid yang berada dipusat kota. Setelah bertemu dengan Syekh Muhammad, Dante lantas kembali menuju mansion.
Antara ragu dan yakin, gamang. Begitulah yang dirasakan oleh seorang Vincent. Dengan menjabat tangan Syekh Muhammad, Vincent mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sempurna. Hati yang sebelumnya gersang terasa sejuk seketika seperti sebuah oasis ditengah gurun.
Vincent lantas menuju tempat praktek dokter Jorge untuk melaksanakan sunat. Sebelumnya Vincent mengira bahwa sunat ialah memotong habis ‘miliknya’ seperti yang dikatakan oleh Dante. Yang membuat dirinya sedikit ragu melakukannya.
Namun setelah mencari tahu pasal sunat di internet ditambah informasi dari Syekh Muhammad, keraguannya sedikit memudar.
“Jorge, aku siap membantumu memangkas habis miliknya yang tidak manusiawi itu” tukas Dante dengan senyum psikopatnya.
“Sial! Keluar sana!” hardik Vincent.
“Hahaha, apa singa jantan akan berubah menjadi anjing yang manis disini” ujar Dante diiringi gelak tawa yang terdengar nyaring.
“Usir bajingan ini Jorge!"
“Diam! Kalian hanya membuatku pusing. Sebaiknya kau keluar saja Dan, atau aku juga akan memangkas habis milikmu itu” ujar dokter Jorge sambil menyiapkan alat steril.
“No!” ucapnya sambil menutupi ‘miliknya’ yang tersembunyi dibalik celana.
Selepas disunat, Vincent akhirnya keluar dari ruang mematikan tersebut. Dirinya duduk dikursi roda yang didorong oleh Ken.
“Kapan ini akan sembuh? Aku merasa tersiksa!”
“Mungkin tiga sampai empat hari. Aku sudah menggunakan metode sunat dengan penyembuhan paling cepat. Kau hanya harus istirahat total dan jangan lupa meminum obatmu”
“Sial! Dua hari lagi aku akan menikah!” Vincent mengacak rambutnya karena frustasi.
“Hahaha, sejak kapan kau berubah jadi pria mesum!” seloroh Dante sembari tertawa lebar.
Sebuah mobil sport keluar dari klinik pribadi milik dokter Jorge diikuti satu mobil jeep dibelakangnya. Suasana sangat hening didalam mobil hingga akhirnya suara tembakan dari belakang mengejutkan mereka.
Sebuah mobil van hitam melaju kencang hendak mendahului mereka. Kaca mobil van tersebut sedikit terbuka. Sebuah tembakan dari dalam mobil melesat mengenai kaca mobil Vincent.
Vincent mengumpat kesal. Bisa-bisanya ia diserang disaat dirinya tidak berdaya. Dante yang berada disampingnya mengeluarkan sebuah glock yang tersembunyi di balik jaketnya. Menembakkan senjatanya kearah mobil van hitam tersebut.
Para pengawal Vincent di jeep belakang juga memberondong tembakan pada mobil van yang sejajar dengan mobil milik Tuannya. Tembakan dari senjata milik Dante tepat mengenai ban belakang mobil hingga mobil van tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.
Dante keluar dari mobil. Dirinya memerintahkan Ken untuk langsung kembali ke mansion guna melindungi Vincent. Sementara dirinya dan para pengawal menghampiri mobil van yang tak berkutik di tepi jalan.
Sekitar delapan orang pria berpakaian hitam keluar dari mobil van tersebut. Pertempuran pun tak terelakkan. Suara peluru bersahut-sahutan. Lima orang dari musuh berhasil dilumpuhkan sementara tiga yang lainnya kabur.
Dante menyeret lima orang yang tertangkap, membawanya ke penjara milik Vincent. Sebelum pergi, Dante menatap tajam kearah sebuah mobil hitam yang terparkir agak jauh dibelakang mereka.
Senyumnya bak psikopat. Dante menjilat jari tangannya yang terciprat darah dari musuh. Membuat seseorang yang berada didalam mobil hitam tersebut menjadi ketakutan.
Mobil tersebut bergegas pergi dari tempat kejadian sebelum mendapat amukan dari seorang psikopat seperti Dante. Seorang pria yang berada dikursi kemudi tampak memukul setir sembari mengumpat. Douglas lagi-lagi gagal membunuh sang ketua mafia.
“Sial! Padahal dia dalam keadaan tak berdaya tapi aku gagal membunuhnya! Semuanya akibat psikopat seperti Dante!” ujarnya dengan marah.
Alfonso Dante, anak angkat Tuan Corleane tersebut sangat pandai membuat musuh ketakutan. Dante tak ubahnya seperti bunglon, ia sangat manipulatif dan pandai berkamuflase.
“Ck! Douglas, Douglas! Ternyata kau masih bodoh seperti dulu” gumam Dante seraya menatap mobil yang sudah tak terlihat.
Vincent turun dari mobil dibantu oleh Ken. Wajah dari ketua mafia tersebut sangat masam. Dalam lubuk hatinya, ia merutuki ketidak berdayaannya karena tak bisa menghadapi musuh. Ken mendorong kursi roda menuju ruang kerja Vincent diujung lantai tiga. Tak satupun kalimat terlontar darinya. Bibirnya terkunci rapat. Ruangan yang luas mendadak terasa sesak tatkala melihat raut wajah Tuannya yang tidak bersahabat.
“Apa kau sudah mengatur transaksi malam ini Ken?”
“Sudah Tuan, saya pastikan semua akan berjalan dengan lancar”
Vincent mengangguk. Pekerjaan Ken selalu berhasil. Setiap transaksi yang ia lakukan tidak pernah gagal. Ken juga merupakan pengawal kepercayaan Vincent.
Pria berdarah Jepang tersebut menarik diri dari sana. Dilorong lantai dua, secara tak sengaja ia berpapasan dengan Dante. Penampilan sang Tuan Muda Kedua sungguh buruk. Terdapat bercak darah dipakaiannya juga jari dan ujung bibirnya.
Merasa dirinya mendapat tatapan maut dari Ken. Dante memukul kepala Ken menggunakan gagang glock miliknya. Ken memekik tatkala mendapat sebuah hadiah dari Dante secara mendadak. Ken dengan cepat melesat meninggalkan Dante yang terlihat tengah naik darah.
Dante lalu mengecek CCTV dari ponselnya guna mencari keberadaan Vincent. Terlihat Vincent tengah sibuk didalam ruang kerjanya di lantai tiga. Dante menghampiri Vincent tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Brakk!!
Pintu dibuka secara kasar. Vincent bergeming. Raut wajahnya datar, tak peduli pada seseorang yang datang dengan membawa kekesalan yang sudah dipuncak ubun-ubun. Dante yang meradang, menjatuhkan dirinya diatas kursi empuk diruangan besar tersebut. Melihat Vincent tak peduli padanya, ia mendengus kesal.
“Bisakah kau mengganti pakaianmu sebelum datang kemari?”
“Aku bahkan tak punya pakaian!”
“Hah!”
“Si bodoh itu telah mengotori pakaianku yang mahal ini, aku anggap dia telah berhutang padaku! Aku akan menagihnya suatu saat nanti!” gerutu Dante dengan suara yang mendayu-dayu.
“Tagih saja padanya”
Dante bungkam. Matanya fokus pada ponsel yang berada ditangannya. Sementara Vincent, pria itu tampak tengah memikirkan sesuatu. Suatu hal yang terasa mengganjal dihatinya.
Ekor matanya tampak melirik ke arah Dante yang sedang sibuk. Ia ingin menanyakan suatu hal pada sahabat sekaligus saudara angkatnya tersebut. Namun ia urungkan. Seperti cenayang, Dante mengetahui akan kegelisahan saudaranya.
“Tanyakan saja, kenapa harus malu-malu” ucapnya dengan ekspresi menggoda.
“Sial! Apa kau tau tentang pernikahanku”
“Tidak terlalu, tapi aku mendengar Ayah telah merencanakannya dari lama"
“Apa kau juga tau tentang gadis itu”
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Vincent, Dante lantas membenarkan posisinya. Pria itu menyipitkan matanya, mencoba mencari sebuah jawaban dari Vincent.
“Aku dengar kau tidak menyukainya, tapi mengapa kau ingin tau tentangnya? Aneh sekali”
“Apa aku tidak boleh mengetahui tentang calon mempelaiku?”
“Ya ya tentu saja. Aku dengar dia sangat cantik”
“Apa kau pernah bertemu dengannya?”
“Tidak. Aku hanya menebaknya. Dia wanita, tentu saja cantik, mustahil kan kalau dia tampan”
“Dasar gila!”