Bab 1

Senin pagi seperti biasa aktifitas padat dimulai. Jalanan Ibu Kota akan dipenuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Saat fajar datang menyapa, kebanyakan dari para pengais rejeki akan memulai aktifitasnya. Sama seperti diriku yang memilih berangkat setelah shalat subuh kutunaikan agar aku bisa menghirup udara segar di pagi hari, juga menghindari macet yang menjadi ikon kota ini. Kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, aku tiba di pelantaran  sebuah bangunan tempatku mengais rejeki. Bangunan tiga lantai berdiri tegak atas hasil keringat sendiri.

Suasananya masih sepi. Tentu saja. Aku lebih suka datang lebih awal agar aku bisa berehat sejenak sebelum memulai aktifitasku. Menghambakan kepada Sang Pemilik diri ini untuk memohon keberkahan atas segala usahaku hari ini.

Satu jam berlalu, satu persatu karyawan mulai berdatangan dan memulai aktifitas sesaat setelah breafing yang rutin setiap pagi dilakukan untuk menambah semangat kerja para karyawan.

Saat aku tengah sibuk memeriksa laporan bulanan, terdengar pintu diketuk. Seseorang muncul setelah aku persilahkan untuk masuk.

"Hari ini jadi nggak ngisi poadcast di channel Muslimah Berbagi Inspirasi?" tanya Rayyan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjaku.

Aku melirik jam di tangan sejenak.

"Sepuluh menit lagi aku berangkat," jawabku tanpa menoleh.

"Ayolah, Zafran. Kamu bakal tampil, loh, di channel youtube terkenal. Perbaiki dulu penampilanmu."

Aku tersenyum tipis menanggapi.

"Apa penampilan begitu penting?"

Rayyan beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapanku dengan tangan menyilang di depan dada.

"Kamu akan ditonton oleh banyak orang. Jelaslah penampilan penting," ucapnya sewot.

Aku berdiri mengikuti dia yang lebih dulu sudah di depan lemari pakaian yang memang aku siapkan di ruang kerja. Ini adalah ide Rayyan. Saat aku tanya kenapa, dia malah menjawab di luar perkiraanku.

"Takutnya kamu tiba-tiba butuh untuk berganti pakaian. Kan sampai saat ini belum ada yang ngurusin kamu. Maka bersyukurlah punya sahabat sebaik aku." Aku hanya diam tanpa menanggapi.

"Makanya buruan, gih, cari pendamping sebelum aku yang nikah duluan."

Aku mendelik malas jika ujung-ujungnya membahas ke arah sana. Menikah.

Lamunanku buyar saat sebuah tangan menepuk wajahku.

"Jangan bengong! Entar kesambet kamu."

"Kamu terlalu cerewet. Kayak perempuan aja," ujarku sambil memilih baju yang akan kupilih.

"Terserahlah. Asal kamu nurut."

Sepuluh menit berlalu, tak perlu banyak waktu untuk memilih. Kali ini kemeja koko warna navi adalah pilihan yang tepat untukku yang berkulit cerah. Rambut sedikit kurapikan kemudian memasang peci berwarna hitam , jam tangan digital dengan merk ternama melingkar manis di pergelangan tangan kiri serta sepatu santai warna hitam sepadan dengan celana kain berwarna senada.

Dering ponsel menghentikan aktifitasku. Tertera nama Mas Taufik salah satu kru channel Muslimah Berbagi Inspirasi.

"Assalamu'alaikum. Iya, aku sudah menuju ke sana. Mungkin setengah jam lagi aku tiba di sana."

Gegas aku menyambar kunci mobil di atas meja lalu melangkah keluar. Tak kupedulikan teriakan Rayyan yang protes ditinggal begitu saja.

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, kembali aku merapikan diri sebelum masuk ke dalam gedung berlantai dua itu.

"Bagaimana?" tanyaku memastikan.

"Udah keren," jawabnya dengan menaikkan dua jempol.

Langkah kaki ini kemudian membawaku menaiki lantai tiga. Rayyan tentunya sejak tadi mengekor di belakangku. Selain menjabat sebagai manajer, dia juga merupakan sahabatku sejak kecil. Jadi tak salah jika dia secerewet itu.

Di lantai tiga kami disambut oleh tiga orang yang kuyakini para kru.

"Assalamu'alaikum, Ustadz Zafran," sapa Mas Taufik.

"Wa'alaikumussalam, Mas. Maaf kami telat," ucapku sambil merangkul Mas Taufik.

Pandanganku kemudian tertuju pada dua wanita yang berdiri bersisian di samping Mas Taufik. Salah satu di antara mereka sedikit mengalihkan perhatianku. Kuucapkan istighfar sebelum setan mengambil kesempatan ini.

"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapanya lembut sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan.

"Wa'alaikumussalam," balasku kikuk.

"Sudah bisa dimulai, Ustadz?" tanya Mas Taufik kemudian.

"Boleh."

"Silahkan masuk Ustadz. Lima menit lagi kita mulai, ya." Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya.

Wanita yang belum aku tahu namanya tersenyum simpul lalu kubalas dengan senyum pula.

Di dalam ruang persegi dengan warna dominan putih serta kaligrafi menghiasi setiap sudut ruangan. Aku dan Rayyan duduk bersisian. Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Rayyan, muncul salah satu wanita tadi.

"Maaf mengganggu, Ustadz. Mungkin ustadz Zafran sudah bisa masuk ke ruang utama untuk mengambil rekaman hari ini."

Sejenak aku menoleh ke arah Rayyan yang tak pernah berkedip menatap wanita tadi.

'Semoga nggak kumat, batinku'

Aku berjalan menuju ruangan yang dituju. Di dalam sudah ada wanita yang duduk di balik meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang akan menjadi tempatku nanti. Wanita dengan gamis berwarna navi dengan paduan khimar berwarna abu muda. Sangat cocok dengan wajahnya yang manis.

'Jadi, dia yang akan memandu acara hari ini?' tanyaku dalam hati.

Sejenak pandangan kami bertemu.

"Silakan duduk, Ustadz," ujarnya dengan lembut dengan senyum menghiasi wajahnya.

Aku mendudukkan diri kemudian sedikit merapikan penampilan sebelum ditake.

"Bisa kita mulai ya, Ustadz?" Aku menggangguk patuh. Ada dentuman dari dalam dada yang sedang berusaha kukontrol.

Pandangannya mulai melihat ke arah sisi kanannya kemudian mengangkat jempol kanannya.

"Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul pada hari ini dengan keadaan sehat wal'afiat.

Tak Lupa Sholawat serta salam tak henti - hentinya kita haturkan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, yang kita tunggu syafaatnya di hari kiamaat nanti. Semoga kita termasuk golongan umat yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Aamiin Allahumma Aamiin."

"Sahabat MBI di mana pun berada, apa kabar hari ini? Semoga senatiasa dalam lindungan Allah Subhana Wa Ta'ala. Aamiin. Seperti biasa hari ini Zaira Khazanah kembali menyapa sahabat fillah semua untuk berbagi kisah inspirasi dengan ornag hebat."

Aku sekali-sekali mencuri pandang kepadanya. Zaira, nama yang indah. Tanpa sadar senyum tercipta diwajahku.

"Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang belakangan ini jadi pembicaraaan hangat akan sosoknya. Ustadz Zafran Abdullah. Pengusaha muda dengan berjualan busana muslim. Masya Allah."

"Assalamu'alaikum, Ustadz"

"Wa'alaikumussalam," jawabku yang kini berhadapan dengannya.

"Sebelumnya jazakallah khairan katsiran Ustadz sudah bersedia membagi waktunya di tengah kesibukan Ustadz untuk menjadi narasumber kami hari ini."

"Wa jazakillah khair."

"Sebelumnya kita santai saja ya, Ustadz, agar sharing kita berjalan dengan mudah."

Entah dia menangkap sinyal rasa gugupku atau memang prosedurnya.

"Baik."

"Sebelumnya, apa Ustadz bisa sedikit bercerita bagaimana kisah di balik kesuksesan Ustadz dalam mengelola usaha ini?"

"Awalnya itu bermula pada tiga tahun silam. Saat itu aku masih menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Di kampus kami itu ada suatu lembaga yang mengadakan kegiatan khusus sebagai wadah bagi mahasiswa beragama muslim untuk mengembangkan dakwah di kampus kami. Setiap hari jum'at sore kami akan mengadakan kajian rutinan yang dihadiri oleh beberapa petinggi universitas, staf dan juga mahasiswa."

"Sampai suatu hari kami berencana mengadakan lomba dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Salah satunya adalah kelompok shalawatan. Petinggi kampus meminta untuk membuat seragam sendiri yang akan didanai oleh pihak kampus."

"Kebetulan Umi saya memiliki keahlian menjahit. Lalu dengan bantuan beliaulah, seragam itu jadi. Alhamdulillah setiap kegiatan kampus bertema islami, seragam akan dipesan dengan saya sebagai perantara. Katanya, jahitan, kain dan modelnya berbeda dari yang ada di pasaran."

"Saat itulah saya terinspirasi untuk menjadi pedangan muslim dan banyak belajar dari Umi."

"Masyaa Allah sangat inspiratif sekali yang berawal dari seorang aktifis dakwah di kampus, lalu sentuhan jahitan seorang ibu dan pastinya diselingi do'a sehingga bisa seperti ini ya, Ustadz?" Aku mengangguk ramah.

"Lalu untuk nama brandnya sendiri yaitu An-Nur Barokah itu terinspirasi dari mana, Ustadz?"

"Untuk nama brandnya seperti artinya adalah cahaya berkah. Berharap apa yang saya lakukan senantiasa mendapatkan limpahan cahaya keberkahan di dalamnya."

"Masyaa Allah berarti sebuah do'a ya, Ustadz?" Aku mengangguk kembali.

Lalu pertanyaan terus terlontar darinya. Wanita yang berhasil menarik perhatianku sejak awal jumpa. Wanita shalihah yang cerdas dan santun. Zaira Khazanah.

Satu jam telah berlalu, obrolan ringan yang sedikit diselingi canda darinya membuatku semakin tertarik. Pembawaannya yang ringan dan mudah membawa lawan bicara sudah seperti sangat dekat.

"Alhamdulillah sharing pada hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang disampaikan oleh narasumber kita pada hari ini bermanfaat untuk kita semua."

"Jazakallah khairan kepada Ustadz Zafran Abdullah yang telah menyampaikan sharing luar biasa pada hari ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk Ustadz."

"Sebelum kami akhiri sharing hari ini, ada sedikit kenang - kenangan dari kami sebagai ucapan terimakasih."

Tangan lentiknya mengeluarkan sebuah plakat

sebagai tanda terimakasih dan telah bersedia membagi waktuku untuk berbagi di akun channel mereka.

Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat hingga sharing hari ini selesai. Ada rasa sedikit sesal karena waktu yang kuminta begitu sedikit. Ah, andai saja aku memilih waktu sedikit lwbih lagi, tentu saja aku bisa menikmati kedekatan ini meskipun hanya sebagai tuan rumah dan tamu. Tapi rasa nyaman itu muncul seketika.

'Astagfirullah ada apa ini? Ampuni Hamba' batinku.

Setelah kami selesai sharing di ruangan persegi kini kami terlibat obrolan ringan di sebuah meja kecil.

"Masyaa Allah begit menginspirasi cerita di balik suksesnya usaha Ustadz." Mas Taufik membuka obrolan.

"Di luaran sana pasti masih banyak lagi inspirator hebat, Mas."

Kami tertawa ringan sambil menikmati kopi dan beberapa irisan kue bronis cokelat pandan.

"Oh, iya, ini dua rekan saya ustadz, yang satunya pasti ustadz sudah kenal tadi. Zaira Khazanah, dan sahabatnya Khadijah." Mas Taufik memperkenalkan dua rekannya kembali.

"Ini sahabat sekaligus partner saya dalam bisnis ini. Rayyan Habibullah.

Mereka kemudian saling berkenalan. Bisa kutangkap sesekai Zaira mencuri pandang kepadaku. Akupun begitu selalu tertangkap basah mencuri pandang ke arahnya. Saat mata kami bertemu, Zaira akan otomatis menunduk, sedang aku membuang pandangan.

"Maaf ustadz, di kisahnya tadi ustadz belum pernah menyebut sosok wanita yang senantiasa mendampingi ustadz selain sosok umi. Apa sengaja tidak disebut ustadz?"

Khadijah sebagai salah satu yang hadir di sini bertanya sesuatu yang sangat jarang ditanyakan oleh kebayakan orang.

Kulihat rona wajah Zaira seolah menunggu sebuah jawaban dariku. Apakah dia? Ah, aku tak ingin menimbulkan praduga yang berujung kecewa.

"Sayangnya sosok itu memang belum ada," jawabku dengan sedikit terkekeh.

"Jadi ustadz masih sendiri ternyata. Saya pikir ustadz sudah ada yang punya," celetuk Mas Taufik.

"Apa Mas Taufik ada calon untuk Ustadz Zafran?" tanya Rayyan.

"Segan aku ustadz. Nanti ustadz sendiri yang memilih. Aku yakin pilihan ustadz paling terbaik," timpal Mas Taufik.

Tak terasa setengah jam berlalu. Aku harus kembali ke kantor. Aku tidak bisa meninggalkan lebih lama lagi pekerjaan di sana.

Sebelum benar-benar berlalu, aku sengaja menyuruh Rayyan turun duluan. Aku menghampiri Zaira yang tengah merapikan bekas minum kami.

Aku berdehem yang membuatnya sedikit tersentak.

"Ada apa, Ustadz?" tanyanya.

"Eum, apa kamu....masih sendiri?"

Jujur, aku sangat ragu untuk menanyakan hal yang sangat pribadi. Untuk mengumpulkan keberanian bertanya saja sangat butuh lama hingga sedikit terjeda.

Zaira tersenyum lantas menunduk.

"Belum, Ustadz," lirihnya.

"Alhamdulillah."

Zaira mendongak menampakkan wajahnya yang tengah menghangat. Aku mengulum senyum melihat wajahnya begitu lucu saat ini.

"Zaira, jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka ijinkan aku untuk membawa namamu dalam do'aku."

Wajahnya semakin bersemu merah. Secara tidak langsung aku telah mengakui memiliki daya tarik untuknya. Entah Zaira mengerti atau tidak.

"Aku permisi. Assalamu'alaikum."

Aku pemait setelah mendapatkan balasan atas salam yang telah terucap. Meninggalkan dia yang masih mematung di tempat.

Zaira, ijinkan aku membawa namamu dalam sujud panjangku.

"Lama amat sih, di atas masih ada ketinggalan?" tanya Zafran saat aku sudah berada di balik kemudi.

'Ada, Rayyan. Hatiku, bisikku dalam hati.'

"Tidak ada," jawabku santai namun ditanggapi tawa renyah oleh Rayyan.

"Zafran, aku nggak mengenalmu baru kemarin. Sejak tadi tuh gerak-gerik kamu aku awasi semua."

Aku terkesiap. Jangan-jangan dia tahu.

"Sudahlah. Nggak usah berlagak sok kalem di depanku. Aku tahu. Zaira kan?" godanya.

"Ah, sok tahu kamu," kilahku.

"Tatapan mata kamu itu buktinya. Saat sebelum mulai acara. Pandangan kamu itu udah mengarah ke dia. Meskipun ada Khadijah di sampingnya." Aku bergeming.

"Saat mulai sharing. Tatapan kamu nggak lepas dari dia."

"Sok tahu kamu." Aku terus berpura-pura fokus menyetir.

"Zafran, aku sangat mengenal kamu. Aku setuju kalau sama dia. Dia cantik, baik, shalihah." Aku mengerling tajam.

"Hey, biasa aja dong tatapannya. Apa salahnya?" tanyanya seolah-olah apa yang dia lakukan adalah benar.

"Kamu memujinya di depanku. Membayangkan wajahnya. Itu dosa!"

"Hey, kamu cemburu?" Rayyan terkekeh.

Aku diam dan memilih fokus menyetir.

"Tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mencari tahu soal dia." Aku memilih tetap diam.

Zaira, akankah kita akan bertemu lagi? Kapan? Di mana? Atau apakah justru ini adalah pertemuan terakhir kita?

'Astaghfirullah'

Bab 2

Langkahku terus menyusuri jalanan Ibu Kota. Dering ponsel tak berhenti sejak tadi. Ini salahku. Aku terlalu fokus mengejar deadline tugas kuliah sampai lupa kalau hari ini ada sesi sharing dengan seorang ustadz muda yang sedang hangat diperbincangkan.

Jujur, aku belum terlalu mengenalnya. Mas Taufik hanya menyebutkan namanya. Ustadz Zafran Abdullah. Ustadz muda berusia dua puluh delapan tahun.

Dering ponsel kembali terdengar. Gegas aku mengangkatnya sebelum Mas Taufik berceloteh.

"Assalamu'alaikum, Mas. Aku udah di depan, Mas."

Langkah kupercepat menaiki tangga hingga menampakkan Khadijah yang tengah mempersiapkan semuanya.

"Assalamu'alaikum," sapaku ngos-ngosan.

"Wa'alaikumussalam."

"Mas Taufik mana?" tanyaku sambil celingukan.

"Ada kok di dalam," ucapannya sambil mengarahkan pandangannya ke ruang perekaman.

Gegas aku melangkah masuk ke ruangan yang menampakkan sosok tubuh tegap.

Sosok pria yang sudah satu setengah tahun aku mengenalnya. Sosok idaman para wanita di luar sana. Tapi entah kenapa tak satupun dia tanggapi.

"Eh, kamu udah sampai?" tanyanya saat dia melihatku.

"Orangnya sudah menuju ke sini, Mas?" tanyaku saat tak kudapatkan orang lain di kantor ini.

"Sebentar ya, Mas mau telepon kembali."

Aku terdiam mengamati dia sibuk mengotak-atik ponselnya.

"Assalamu'alaikum, Ustadz. Oh, tiga puluh menit lagi ya, Ustadz?" Matanya melirik jam dipergelangan tangannya.

"Baik, Ustadz, kami tunggu." Panggilan terputus setelah mwngucapkan salam.

Pandangannya kini beralih kepadaku.

"Zaira, kamu siap-siap, ya. Beliau tiba setengah jam lagi."

Aku mengangguk kemudian gegas mempersiapkan diri.

Tiga puluh menit berlalu, sosok yang kami tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya.

"Assalamu'alaikum, Ustadz Zafran," sapa Mas Taufik.

"Wa'alaikumussalam, Mas. Maaf kami telat," ucap sosok yang kuyakin itu adalah Ustadz Zafran sambil merangkul Mas Taufik.

Pandangannya kemudian tertuju padaku yang berdiri bersisian di samping Mas Taufik. Aku tersenyum simpul kepadanya.

"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapaku sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan.

"Wa'alaikumussalam," balasnya.

"Sudah bisa dimulai, Ustadz?" tanya Mas Taufik kemudian.

"Boleh."

"Silahkan masuk Ustadz. Lima menit lagi kita mulai, ya," ucap Mas Taufik.

Ustadz Zafran mengangguk kemudian mengikuti langkahnya.

Pandangannya kembali mengarah padaku. Aku kembali tersenyum simpul lalu dibalas dengan senyum pula.

Gegas aku mempersiapkan diri. Aku memasuki  ruang ganti dan menelisik gamis, pashmina dan wajahku. Sedikit kurapikan letak jilbabku dan sedikit touch up bagian wajah.

Setelah yakin sudah tak ada yang mengganggu pandangan, aku menuju pintu samping menuju ruangan rekaman dan menunggunya dengan perasaan gugup luar biasa.

Tak berselang lama sosoknya muncul dengan gagahnya. Kuperhatikan apa yang ada pada dirinya. Kulit bersih dan cerah, pakaian rapi, rambut dan pandangan teduh dan menenangkan.

Sejenak pandangan kami bertemu. Ada ketenangan saat memandang wajahnya.

Aku beristgfar dalam hati merutuki kesalahanku.

"Silakan duduk, Ustadz."

Aku kemudian mempersiapkan beliau untuk duduk di depanku. Ya, tepat di depanku dan meja lah pembatas kami.

"Bisa kita mulai ya, Ustadz?" Ustadz Zafran. menggangguk patuh. Ada dentuman dari dalam dada yang sedang berusaha aku kontrol.

Pandangan kualihkan  ke arah sisi kanannya kemudian mengangkat jempol kanan.

"Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul pada hari ini dengan keadaan sehat wal'afiat.

Tak Lupa Sholawat serta salam tak henti - hentinya kita haturkan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, yang kita tunggu syafaatnya di hari kiamaat nanti. Semoga kita termasuk golongan umat yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Aamiin Allahumma Aamiin."

"Sahabat MBI di mana pun berada, apa kabar hari ini? Semoga senatiasa dalam lindungan Allah Subhana Wa Ta'ala. Aamiin. Seperti biasa hari ini Zaira Khazanah kembali menyapa sahabat fillah semua untuk berbagi kisah inspirasi dengan ornag hebat."

"Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang belakangan ini jadi pembicaraaan hangat akan sosoknya. Ustadz Zafran Abdullah. Pengusaha muslim dengan berjualan busana muslim. Masya Allah."

Kembali pandangan ini mengarah padanya.

"Assalamu'alaikum, Ustadz"

"Wa'alaikumussalam."

"Sebelumnya jazakallah khairan katsiran Ustadz sudah bersedia membagi waktunya di tengah kesibukan Ustadz untuk menjadi narasumber kami hari ini."

"Wa jazakillah khair."

"Sebelumnya kita santai saja ya, Ustadz, agar sharing kita berjalan dengan mudah."

Aku berusaha seramah mungkin, semua ini demi menutup rasa gugup yang sejak tadi melanda.

"Baik."

"Sebelumnya, apa Ustadz bisa sedikit bercerita bagaimana kisah di balik kesuksesan Ustadz dalam mengelola usaha ini?"

"Awalnya itu bermula pada tiga tahun silam. Saat itu aku masih menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Di kampus kami itu ada suatu lembaga yang mengadakan kegiatan khusus sebagai wadah bagi mahasiswa beragama muslim untuk mengembangkan dakwah di kampus kami. Setiap hari jum'at sore kami akan mengadakan kajian rutinan yang dihadiri oleh beberapa petinggi universitas, staf dan juga mahasiswa."

Ustadz Zafran kini berkisah tentang bagaimana proses itu dimulai. Aku mendengarnya begitu seksama. Tidak, aku terlalu larut dan terus mengangumi setiap kisahnya.

Caranya menyampaikan begitu tenang. Jujur, aku terhipnotis olehnya. Dia memang pria idaman. Tapi, apakah dia masih sendiri?

"Masyaa Allah sangat inspiratif sekali yang berawal dari seorang aktifis dakwah di kampus, lalu sentuhan jahitan seorang ibu dan pastinya diselingi do'a sehingga bisa seperti ini ya, Ustadz?" Ucapku setelah mendengar setiap kisah yang dia ucapkan.

"Lalu untuk nama brandnya sendiri yaitu An-Nur Barokah itu terinspirasi dari mana, Ustadz?"

"Untuk nama brandnya seperti artinya adalah cahaya berkah. Berharap apa yang saya lakukan senantiasa mendapatkan limpahan cahaya keberkahan di dalamnya."

"Masyaa Allah berarti sebuah do'a ya, Ustadz?" Aku mengangguk kembali.

Lalu pertanyaan terus terlontar dariku. Sebenarnya bukan hanya untuk kepentingan konten, tapi juga untuk mengenalnya lebih jauh lagi.

Seperti kata pepatah kuno, "Sambil menyelam minum air."

Satu jam telah berlalu, obrolan ringan yang sedikit diselingi canda  di antara kami. Aku suka caranya yang begitu bersahaja dan tidak pelit akan ilmu.

"Alhamdulillah sharing pada hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang disampaikan oleh narasumber kita pada hari ini bermanfaat untuk kita semua."

"Jazakallah khairan kepada Ustadz Zafran Abdullah yang telah menyampaikan sharing luar biasa pada hari ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk Ustadz."

"Sebelum kami akhiri sharing hari ini, ada sedikit kenang - kenangan dari kami sebagai ucapan terimakasih."

Tanganku mengeluarkan sebuah plakat

sebagai tanda terimakasih dan telah bersedia membagi waktuku untuk berbagi di akun channel kami.

*

"Masyaa Allah begitu menginspirasi cerita di balik suksesnya usaha Ustadz." Mas Taufik membuka obrolan.

Saat ini kami tengah terlibat obrolan ringan di ruang istirahat kami.

"Di luaran sana pasti masih banyak lagi inspirator hebat, Mas."

Masyaa Allah begitu tawadhunya, padahal saat ini Ustadz Zafran menjadi perbincangan hangat.

Kami tertawa ringan sambil menikmati kopi dan beberapa irisan kue bronis cokelat pandan.

"Oh, iya, ini dua rekan saya ustadz, yang satunya pasti ustadz sudah kenal tadi. Zaira Khazanah, dan sahabatnya Khadijah." Mas Taufik memperkenalkan kami kembali.

"Ini sahabat sekaligus partner saya dalam bisnis ini. Rayyan Habibullah." Ustadz Zafran memperkenalkan sosok yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Khadijah.

Kami kemudian saling berkenalan. Bisa kutangkap sesekai Ustadz Zafran mencuri pandang kepadaku. Akupun begitu selalu tertangkap basah mencuri pandang ke arahnya. Saat mata kami bertemu, aku akan otomatis menunduk.

"Maaf ustadz, di kisahnya tadi ustadz belum pernah menyebut sosok wanita yang senantiasa mendampingi ustadz selain sosok umi. Apa sengaja tidak disebut ustadz?"

Khadijah mewakili pertanyaan yang sebenarnya ingin kutanyakan. Tapi ragu dan segan.

"Sayangnya sosok itu memang belum ada," jawabnya dengan sedikit terkekeh.

Ada rasa bahagia menyelinap dalam dada. Dia ternyata masih sendiri. Aku mengulum senyum.

"Jadi ustadz masih sendiri ternyata. Saya pikir ustadz sudah ada yang punya," celetuk Mas Taufik.

"Apa Mas Taufik ada calon untuk Ustadz Zafran?" tanya Rayyan.

"Segan aku ustadz. Nanti ustadz sendiri yang memilih. Aku yakin pilihan ustadz paling terbaik," timpal Mas Taufik.

Tak terasa setengah jam berlalu. Ustadz memilih pamit harus kembali ke kantor. Katanya dia tidak bisa meninggalkan lebih lama lagi pekerjaan di sana.

Saat mereka berlalu, aku membersihkan bekas makanan dan minuman kami. Sejenak terdengar suara seseorang yang berdehem.

Aku membalikkan badan lalu menampakkan sosok yang sejak tadi mencuri perhatianku.

"Ada apa, Ustadz?" tanyaku.

"Eum, apa kamu....masih sendiri?"

Aku sedikit tersentak saat pertanyaan itu terucap darinya. Apa maksudnya?

Aku tersenyum lantas menunduk.

"Belum, Ustadz."

"Alhamdulillah."

Aku mendongak dan mungkin tengah menampakkan wajah yang menghangat. Tampak jelas dia berusaha mengulum senyum.

"Zaira, jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka ijinkan aku untuk membawa namamu dalam do'aku."

Wajahku semakin menghangat dibuatnya. Apa maksud ustadz kali ini? Membawa namaku dalam do'a?

"Aku permisi. Assalamu'alaikum."

Dia pamait setelah mendapatkan balasan atas salam yang telah terucap. Meninggalkan aku yang masih mematung di tempat. Mencerna setiap kalimat yang barusan terucap.

"Hey, ngelamun aja kamu!" tegur Khadijah.

"En-enggak, kok," kilahku sambil kemblai melanjutkan aktifitasku.

"Ustadz Zafran kok segitunya baget dipelototin. Hi hi."

Aku melirik sekilas kemudian membawa gelaa dan piring kotor ke dapur.

Khadijah mengekoriku di belakang. Aku pura-pura tidak melihat.

"Ustadz Zafran itu Masyaa Allah banget, ya?" tanya Khadijah sambil bersender di kulkas.

Aku tak menanggapi ocehannya. Aku lebih memilih sibuk membersihkan bekas kopi yang menempel.

"Sudahlah tampan, pengusaha sukses, ramah, singel pula. Cocok banget jadi suami." Tanganku berhenti bergerak.

"Kira-kira calon istri idaman Ustadz seperti apa ya?" ucapnya dengan telunjuk dan ibu jari tangan menempel di dagu. Khas orang yang sedang berpikir keras.

"Zaira, kamu tahu nggak?"

Aku meliriknya sekilas. " Aku nggak tahu. Kan nggak nanya."

Kembali aku melanjutkan aktifitasku. Pertanyaan Khadijah membuatku sedikit terganggu.

"Harusnya kamu tanya dong tadi."

"Segan aku. Kenapa kamu nggak tanya aja sendiri?" tanyaku mulai sewot.

"Iya, ya. Harusnya tadi aku tanyakan. Siapa tahu, aku termasuk tipenya."

Aku tertegun. Khadijah juga suka?

Khadijah berlalu meninggalkanku dengan penuh tanya dalam diri. Ada rasa yang tak bisa kugambarkan saat Khadijah secara terang-terangan mengakuinya.

*

Selesai membersihkan pantry, aku berjalan keluar lalu mendapati Khadijah yang tengah berbincang dengan Mas Taufik. Langkahku gontai menghampiri mereka.

"Zaira, hari ini kamu nggak ngampus?" tanya Mas Taufik saat aku tengah duduk di antara mereka.

"Lagi free, Mas," lirihku.

"Kamu sakit? Kok lemes banget?" tanya Mas Taufik lagi dengan ekspresi khawatir.

"Nggak, kok, Mas. Aku....."

"Lagi mikirin Ustadz Zafran tuh dia," celetuk Khadijah. Aku melotot ke arahnya yag sedang tertawa cekikan.

"Zaira suka sama Ustadz Zafran?" tanya Mas Taufik.

Aku seperti tersangka yang sedang diintrogasi oleh penyidik. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Memilih jujur pun tak mungkin. Jelas-jelas Khadijah telah mengakui perasaannya.

"Nggak, kok, Mas."

"Aku bisa menangkap loh tatapanmu. Caramu saat berhadapan dengannya. Bagaimana kamu saat di dekatnya. Aku tahu loh, Zaira."

Aku bagai tersangka yang tertangkap basah. Mana mungkin?

"Aku nggak tertarik sama Ustadz Zafran. Buat kamu aja deh," ucapnya santai.

Aku semakin gelagapan. Mas Taufik yang sedari tadi diam memilih menjauh dari kami. Dapat kutangkap raut wajah tak suka darinya.

"Mas Taufik!" panggil Khadijah saat sadar Mas Taufik berpindah.

Mas Taufik menoleh sejenak.

"Mau kemana, Mas?"

"Shalat dhuhur," jawabnya sambil berlalu.

Aku dan Khadijah saling melempar pandangan.

"Shalat dhuhur? Bukannya ini baru jam sebelas ya?" tanya Khadijah keheranan. Aku mengangkat bahu tanda tak mengerti.

"Mas Taufik ngigau kali," jawabku asal.

"Ya, nggak mungkin lah."

"Mungkin maksud beliau shalat dhuha kali."

"Iya, kali ya. Eh, Rayyan temannya Ustadz cakep juga ya? Meskipun Ustadz lebih terlihat berwibawa sih." Khadijah terus berceloteh soal mereka berdua.

Aku terus memikirkan apa yang ustadz maksud tadi. Mau bertanya langsung kan nggak mungkin. Yang ada aku malu. Mau bertanya ke Khadijah takutnya dia bocorin ke Mas Taufik. Kan bahaya.

Mas Taufik itu dekat sama Abi. Katanya dia adalah anak dari teman lama Abi. Aku kerja dengannya sudah setahun ini tentunya atas rekomendasi Abi. Ya, hitung-hitung mengisi waktu luang. Sekalian berdakwah dengan cara yang berbeda.

"Kalian nanti akan ada projek besar. Dan tentunya itu outdoor."

Lamunanku buyar saat sosok Mas Taufik muncul.

"Di mana, Mas? Projek apa?" tanya Khadijah penasaran.

"Nantilah kalian lihat sendiri. Siap-siap aja kita kerjanya di luar gedung."

"Berat nggak, Mas?" tanyaku.

"Nggak juga."

"Lalu?"

Mas Taufik sejenak menarik napas. "Ini berhubungan dengan usaha Ustadz Zafran."

Aku mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Mas Taufik yang sedari tadi berdiri kemudian kembali duduk di antara kami.

"Jadi, setelah aku pikir, kita baiknya nggak hanya sharing dengan beliau, tapi baiknya ikut meliput usaha dan kegiatan beliau. Jadi, yang belum mengenal, bisa jadi kenal. Ngerti kan maksud saya?"

Aku dan Khadijah mengangguk mantap.

Setelah kepergian Mas Taufik, Khadijah kembali beraksi.

"Zaira, ini kesempatan bagus untuk kamu tahu soal dia."

"Maksudnya?"

"Nggak perlu ta'arufan lagi. Soalnya secara nggak langsung kalian udh ta'aruf dengan cara yang berbeda," ucapnya antusias.

"Apaan, sih?" Aku berusaha mengulum senyum.

"Nggak usah sok bersembunyi gitu deh. Aku tahu kamu, loh, Zaira."

Bab 3

Seminggu dari sejak pertemuan itu, kami kembali dipertemukan dalam acara yang sama. Namun, konsep kali ini berbeda. Kami tak harus lagi berada di dalam ruangan persegi. Konsep kali ini adalah tema outdoor. Di mana tim Muslimah Berbagi Inspirasi mendatangi usahaku dan meliput kegiatan kami di sana. Tentunya aku lah sebagai owner yang akan menjadi pemandu.

Berkali-kali aku mematut diri di depan cermin. Menelisik setiap inci tubuh. Berulang kali aku mengganti setelan agar terlihat modis. Bukan. Aku bukan untuk menarik perhatian Zaira, aku hanya ingin menampilkan produk terbaikku.

"Zafran, dari tadi kamu nggak berhenti mondar-mandir di depanku. Ganti satu baju ke baju yang lainnya. Putar kiri dan kanan di depan cermin. Seperti mau diajak kencan buta saja," cibir Rayyan yang tengah berdiri di dekat pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Aku hanya ingin tampil lebih baik. Salah?" tanyaku yang masih sibuk memilih.

"Nggak, sih, hanya saja kamu terlihat aneh. Jangan-jangan ada udah di balik batu."

Aku mengerutkan kening.

"Maksudnya?"

"Ayolah, Zafran. Sudah lebih dari lima belas menit dan kamu belum bersiap. Ganti baju yang satu ke baju yang lain. Sepatu pun begitu. Rambut masih acak-acakan."

Aku berhenti sejenak.

"Aku hanya ingin menampilkan produk terbaik. Sebagai owner, harusnya aku menampilkan yang terbaik bukan? Sekalian untuk menarik pelanggan," jelasku.

"Menarik hati pelanggan atau menarik hati Zaira? Hm?"

Aku acuh atas argumennya yang bagiku tak penting saat ini. Rayyan memang begitu, suka menilai sesuka hati.

Setelah lama memilih, pilihanku jatuh pada kemeja koko berwarna tosca. Celana ku sesuaikan berwarna hitam dan sepatu santai berwarna krem. Tidak lupa jam tangan melingkar di pergelangan tangan kiri.

Rambut kurapikan dengan sisir kemudian memakai peci berwarna hitam.

Dering ponsel berbunyi, panggilan dari nomor baru. Ragu aku untuk menjawab, tapi entah kenapa jari ini menggeser ikon ke arah kanan. Panggilan tersambung.

"Assalamu'alaikum, Ustadz." Terdengar suara lembut dari seberang.

"Wa'alaikumussalam. Siapa?"

"Maaf, Ustadz, saya Zaira."

Deg. Jantungku mulai berpacu. Ada rasa yang tak biasa.

"Ustadz?"

"E-eh, iya," jawabku gugup.

"Aku sudah ada di depan ustadz."

"Oh. Oke. Aku akan segera turun."

Panggilan terputus setelH mengucapkan salam. Aku sedikit gelapan.

"Apa?" tanya Rayyan yang menangkap sikapku.

"Zaira ada di bawah," jawabku setelah menghabiskan setengah gelas air putih.

Rayyan menahanku saat hendak melangkah keluar.

"Jangan grogi di depannya. Nanti ketahuan," godanya.

Aku terkekeh menanggapinya. Sungguh, Rayyan sangat tau sikapku.

*

Dua orang wanita sedang duduk bercengkerama di bagian kursi tunggu. Tampak Zaira larut dalam candaan yang dibuat sahabatnya-Khadijah. Sekali-sekali menutup wajahnya dengan beberapa lembar kertas yang dipegangnya. Senyumnya merekah terhenti saat sadar aku sedari tadi berdiri mematung memperhatikannya. Tampak raut malu di wajahnya.

"Maaf menunggu lama," ucapku berusaha mencairkan suasana.

"Ustadz, kita ambil posisi yang bagus di mana ya?" tanya Khadijah.

Aku berjalan menuju sudut ruangan yang kemudian diikuti oleh mereka berdua. Tibalah kami pada suatu tempat yang sengaja aku buat agar mereka tak bosan menunggu.

Sebuah kafe kecil di lantai dua. Aku terinspirasi dari salah satu film layar lebar yang mendominasikan kantor dan kafe dalam satu gedung. Aku pun sama, tanpa perlu ke luar untuk sekedar berdiskusi atau rapat dengan rekan bisnis, di sini kami sediakan semua demi kenyamanan bersama.

"Masya Allah bagus banget, Ustadz. Kafe dalam kantor. Lantai bawah adalah gerai, lantai dua cafe dan lantai tiganya apa ustadz?" tanya Khadijah.

"Ruang pribadiku," jawabku dengan sedikit menyungging senyum.

"Bisa di mulai, Ustadz?" tanya Zaira yang sedari tadi hanya terdiam mengamati seluruh ruangan.

Aku mempersilahkan mereka duduk di dekat jendela agar bisa melihat dengan luas ke arah luar.  Menikmati pemandangan lalu lalang kesibukan penduduk Ibu Kota.

"Mau minum apa?" tanyaku setelah kami duduk berhadapan.

Mereka tak langsung menjawab malah sibuk memilih menu.

"Orange Jus, Ustadz," jawab Zaira.

"Kalau aku....ah, black oreo," jawab Khadijah.

Aku mengangguk lalu memanggil waiters kemudian ikut memesan cappuchino. Kopi andalanku.

Hampir sepuluh menit berlalu, pesanan kami pun tiba.

"Nikmatilah dulu pesanan kalian sebelum kita mulai."

Aku melirik sekilas ke arah Zaira yang sejak tadi memilih banyak diam. Entah apa yang ada di benaknya.

"Zaira, apa kamu masih kuliah atau fokus bekerja?"

"Aku masih kuliah, Ustadz. Sudah menuju semester akhir."

"Apa kegiatan ini tidak mengganggumu nanti saat penyusunan?"

"Justru ini juga bagian dari penelitianku, Ustadz. Jadi sambil bekerja sambil meneliti. Nanti setelah waktunya tiba aku punya banyak waktu, tidak tergesa-gesa karena sudah memiliki bahan, Ustadz."

Cerdas. Itu point yang aku berikan.

"Khadijah nggak ditanyain nih, Ustadz?" celetuk Khadijah.

"Khadijah sendiri bagaimana?"

"Nggak jauh beda dengan Zaira, Ustadz. Saya juga menuju semester akhir. Tapi penelitianku berbeda. Sebab jurusan kami pun berbeda."

Obrolan mengalir begitu saja sampai pesanan kami tersisa sedikit.

"Kita mulai dari mana?" tanyaku sambil menatap mereka berdua. Padahal dalam dada sudah bergemuruh sejak tadi.

"Sebentar, Ustadz."

Khadijah sibuk mengeluarkan kameranya.

"Zaira, bisa kan sama ustadz aja? Aku maum

ambil gambar setiap sudut kafe."

Khadijah berlalu setelah meminta ijin sedangkan Zaira memposisikan kamera di samping kiri kami untuk mengabadikan rekaman video nanti.

Rasa gugup melanda, dapat kutangkap Zaira merasakan hal yang sama. Berdua berhadapan tanpa pengawasan. Hanya Allah yang mengawasi kami.

Zaira memulai seperti biasa kemudian akan melontarkan berbagai pertanyaan.

"Ustadz selain gerai ini, apa ada gerai di tempat lain? Maksud saya, apakah gerai ini sudah memiliki cabang?"

"Alhamdulillah sudah ada tiga cabang. Bandung, Surabaya dan Jogja. Sedangkan pusatnya adalah di sini, Jakarta."

"Apakah hanya pakaian muslim saja? Atau ada yang lain?"

"Selain pakaian muslim, tentu ada juga barang lain. Seperti perlengkapan shalat yaitu mukena, peci, sajadah dan tasbih."

Berbagai pertanyaan dilontarkan berakhir saat Zaira meminta ijin untuk merekam keadaan di sini. Mulai dari lantainsatu hingga lantai dua.

Sebelum beranjak aku membisikkan sesuatu tepat di sampingnya.

"Aku ingin bicara sebentar. Nanti aku arahkan Rayyan untuk mendampingi Khadijah dalam proses pengambilan gambar.

Zaira mengangguk patuh lalu mengekor di belakangku.

Di lantai satu, aku membimbingnya mengintari  setiap sudut yang menampilkan berbagai produk. Zaira dengan semangat merekam setiap produk yang ditampilkan.

Setelah selesai aku membimbingnya menuju ruangan produksi. Di sana ada sekitar dua puluh pegawai yang dari tangan lihainyalah produk itu bisa selesai dengan tamoilan memuaskan.

Bangunan ini memang lumayan luas, sehingga tak perlu menyewa tempat lagi untuk bagian produksi. Cukup di satu gedung, agar mudah mengontrol.

Berbeda dengan cabang, produk hanya dikirim ke sana.

Kembali aku mengajaknya ke lantai dua. Kini kami duduk saling berhadapan dan terdiam dengan pikiran masing-masing.

"Zaira."

Zaira sejenak melihat ke arahku.

"Kamu ingat tiga hari yang lalu aku mengucapkan sesuatu?"

Zaira mengangguk.

"Aku nggak nyangka loh, kupikir itu pertemuan terakhir kita. Atau entah berapa lama lagi kita bisa dipertemukan. Ternyata secepat ini."

Aku tersenyum saat mendapati semburat wajah merona.

"Mungkin ini takdir, Zaira. Bisakah aku membawa namamu dalam do'a malamku?"

Lama dia terdiam hingga akhirnya dia berani membuka suara.

"Kriteria calon istri idaman Ustadz seperti apa?"

"Sepertimu. Makanya aku ingin meminta ijin terlebih dahulu."

"Kenapa aku?"

Sejenak aku terdiam kembali. Memilih kata yang pas untuk dia.

"Kalau sudah halal, kamu akan tahu jawabannya. Aku hanya perlu ijinmu saat ini. Bagaimana?"

"Bolehz Ustadz," jawabnya dengan senyum sempurna.

"Terimakasih. Aku sudah lega sekarang."

Kembali kami terdiam. Zaira lebih banyak menunduk dan memilin ujing khimarnya.

"Kapan kamu siap menikah?" pertanyaan itu spontan kuucapkan. Padahal sejujurnya ini di luar rencanaku.

"Aku manut saja sama Abi, Ustadz. Tapi Abi menyuruhku untuk fokus kuliah dulu."

"Aku paham. Berapa lama lagi kamu akan selesai?"

"Kurang lebih tiga atau empat bulan, Ustadz. Itupun belum masuk yudisium dan wisuda. Baru selesai sidang. Insya Allah."

Aku berpikir sejenak empat bulan dari sekarang. Baiklah, aku akan menunggunya.

"Baiklah."

Zaira tampak mengernyitkan kening. Mungkin dia butuh jawaban atas pertanyaanku yang menggantung.

Aku menoleh ke arah kanan, memberikan kode ke Rayyan agar menyelesaikan tugasnya. Khadijah dan Rayyan berjalan beriringan ke arah kami.

"Sesi wawancaranya sudah selesai. Apa masih ingin tambahan?" tanyaku.

"Sepertinya tidak ada, Ustadz. Kami harus pamit karena mengejar deadline juga," jawab Khadijah.

Zaira hanya diam tak berkutik. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Khadijah yang sadar akan sikap Zaira berulang kali menyikut lengan sahabatnya.

"E-eh?" Zaira kembali tersadar dari lamunannya. Khadijah dan Rayyan tidak bisa menyembunyikan tawanya, sedangkan aku berusaha tetap terlihat tenang.

"Kami permisi dulu, Ustadz, Mas Rayyan. Terimakasih atas waktunya dan jamuannya," pamit Khadijah.

Zaira tersenyum sekilas sebelum lengannya sedikit ditarik oleh Khadijah.

Selepas kepergian mereka aku dan Rayyan sama-sama terkekeh melihat sikap lucu Zaira.

"Bagaimana?" tanya Rayyan.

"Aku sudah bilang ke dia."

"Lalu?"

"Kurang lebih tiga atau empat bulan dari sekarang dia menyelesaikan kuliahnya meskipun baru di tahap lulus sidang."

"Itu artinya enam bulan dari sekarang, ya?"

Aku terdiam. Apa bisa aku menunggunya selama itu? Sedangkan aku ingin segera menghalalkannya. Aku jiga tidak ingin terus memikirkan sedangkan dia belum halal untukku.

"Bisa jadi."

"Tapi kalian bisa nikah meskipun dia masih kuliah."

"Itu permintaan Abinya. Waktu enam bulan bukan waktu yang lama kok."

"Kamu yakin bisa menunggu?"

"Insyaa Allah."

"Bagaimana jika da yang lebih dulu melamar?"

Aku berpikir sejenak.

"Harusnya hal itu kamu tanyakan pada Zaira. Aku lah yang menjemput."

"Tetap saja. Kita tidak tahu ke depannya. Siapa tahu, saat sebelum ujian sidah sudah ada yang lebih dulu melamar. Bagaimana?"

Benar. Rayyan benar. Bagaimana jika hal itu terjadi? Sedangkan aku masih menggantungkan pernyataanku.

Aku membuang pandangan keluar jendela. Merenungi setiap kata dari Rayyan. Jika itu terjadi, berarti aku harus siap kehilangan Zaira.

*

Menjelang jam sembilan malam, aku baru tiba di rumah. Rasa lelah dan penat begitu terasa. Mengurus keperluan gerai, dilanjutkan mengajar tahsin kepada  ibu-ibu kompleks setelah magrib, terakhir menerima setoran hafalan dari anak-anak remaj mesjid setelah shalat isya. Di ruang tengah tampak Abi dan Umi sedang bersantai sambil menonton.

"Assalamu'alaikum." Keduanya menoleh mwnjawab salam bersamaan.

"Sudah makan, Nak?" tanya Umi.

"Belum, Umi."

"Itulah mengapa perlunya pendamping. Agar ada yang lebih memperhatikanmu. Bukannya begitu, Mi?"

"Iya loh, kamu sudah sepantasnya memikirkan ini. Kamu khawatir soal apa lagi?" tanya Umi sambil menyendokkan nasi ke piring.

Aku hanya tersenyum simpul mendekati meja makan.

"Usia sudah pas, Nafkah? Kamu udah mapan, lalu apa lagi?" lanjut Umi.

Memang Umi lah yang paling sering menyuruhku untuk segera menikah.

"Sabar, Umi. Jodoh nggak akan kemana," jawabku santai.

"Ya gimana caranya kalau yang harusnya menjemput."

"Iya, Mi."

"Lihat, tuh, Abi. Setiap kali Umi minta mantu malah gitu."

"Sabar, Umi. Anaknya lagi makan kok diajak ngobrol. Nggak boleh," tegur Abi.

"Atau Abi cariin deh jodoh untuk anaknya. Udah mampu gini kok, nggak nikah-nikah. Umi nggak sabar nimang cucu."

Aku hanya mendengar permintaan Umi. Nanti selepas makan aku akan mengajukan nama Zaira di hadapan mereka.

Saat Umi asyik membujuk Abi, Zain adikku muncul dari dalam kamarnya.

"Umi kenapa, Bi?" tanya Zain.

"Biasa.... Sudah minta menantu, tapi Mas mu belum ketemu."

"Ya udah, tinggal Abi pilihkan salah satu anak dari teman atau sahabat Abi. Gampang kan? Ucapnya santai.

Aku yang baru selesai makan dan membersihkan piring dan gelas bekas makan ikut dalam obrolan mereka.

"Tuh, kan, Abi. Zain aja pinter jawabnya."

Kali ini Umi seperti anak kecil yang bahagia saat idenya diterima.

Abi masih terdiam, belum menanggapi. Aku yang sengaja diam, masih menyimak obrolan mereka.

Aku mengulum senyum melihat bahagimana tingkah mereka dalam memilihkanku jodoh. Padahal mereka belum tahu, aku punya calon sendiri. Biarlah. Biar jadi rahasia dulu.

"Abi. Ditanya kok malah diam?" Umi sepertinya gemas dengan respon Abi.

"Nanti Abi pikirkan ya, Umi." jawab Abi.

"Jangan lama, ya, Bi."

"Iya, Umi."

"Zafran istirahat dulu, ya," pamitku setelah merasa sudah sangat lelah.

Perlahan kaki ini terus melangkah menuju tempat pembaringan.

Pertemuan hari ini begitu bermakna. Aku tidak menyangka sama sekali akan kembali dipertemukan. Pertemuan yang masih membekas dalam ingatan.

Bagaimana dia tersenyum, bahagiamana dia berinteraksi. Cerdas, cantik dan shalihah.

Aku ingat betul bagaimana saat aku memberinya sinyal untuk memdekat. Dia begitu berusaha menjaga dirinya sebagai muslimah. Bagaimana dia menundukkan pandangan saat berdua denganku, menjaga jarak dan tetap menjaga harga dirinya sebagai muslimah.

Semua yang ada pada dirinya aku suka. Terhitung enam bulan dari sekarang aku harus bersabar menunggunya.

Sesuai ucapanku saat kali pertama bertemu dengannya. Aku akan membawa namanya di sepertiga malamku. Di do'a-do'a malamku.

Aku sudah pikirkan, secepatnya aku akan mengajukan namanya di depan orang tuaku. Mengenalkan dia sebagai pilihanku untuk membersamai kelak.

Zaira Khazanah. Biarlah rasa ini terus tumbuh, hingga waktu mempertemukan kita kelak. Menyatukan dua insan dalam sebuah pernikahan. Pada sebuah janji suci.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED