Bab 1

"Udah pergi." kata Riri terdengar lirih. Ia merasa bingung harus bertindak seperti apa.

"Lah gimana sih. Kamu nggak kangen sama bapakmu?"

"Nggak tau deh." ucap Riri dengan perasaan kecewa yang kembali muncul ketika melihat bapaknya. Rasa benci seakan tak bisa di bunuhnya. Mungkin terlalu banyak perbuatan bapak yang membuat Riri sakit hati.

"Sebenernya aku kangen juga sih sama sosok seorang bapak. Tapi bapakku sepertinya udah lupa sama aku apalagi sama ibuku." jelas Riri sedih.

Akbar tidak menanyakan lebih dalam lagi soal bapaknya. Takut Riri akan lebih sedih lagi.

Mereka pun mulai menukar tulisannya masing-masing. Riri memegang kertas milik Akbar dan siap membacanya. Ia membuang pikirannya tentang bapak. Ia hanya ingin luka yang bapak berikan di pendam dalam-dalam di dalam hatinya.

(Kenapa harus kulihat luka di ujung sana. Luka yang tak pernah ku rasakan. Seakan semburat duri menancap di dada.

Papa, seharusnya kau menjadi panutanku, tetapi ada apa denganmu? Kenapa seolah kau melukiskan tinta hitam dan membawa kabar buruk.

Tidak ingatkah kau selama ini aku selalu menjadikanmu penyemangat dalam hidupku? tolong jangan rusak jiwa ini. Anakmu sangat menyayangimu wahai sang pemimpin keluarga.)

Riri membaca dengan penuh rasa iba kepada Akbar.

Ia melayangkan pandangan kepada Akbar.

"Gimana menurut kamu?" tanya Akbar dengan raut wajah datar.

Riri seakan bisa melihat kesedihan di mata Akbar.

"Bagus tulisannya. Jujur aku sedih bacanya. Memangnya ada apa dengan papa kamu?" tanya Riri selembut mungkin. Ia tidak ingin memecahkan luka yang di simpan Akbar.

"Aku melihat papa dengan wanita lain." kata Akbar dengan matanya yang menerawang jauh.

Mata Riri membelalak mendengar ucapan Akbar.

"Serius kamu? mungkin kamu salah liat kali. Aku tahu papa kamu orangnya sangat baik. Nggak mungkin papa kamu berbuat kaya gitu." Riri merasa sedikit kesal dengan apa yang terjadi. Sejujurnya ia sangat kaget dengan cerita Akbar.

"Aku serius Ri, aku liat pake mata kepalaku sendiri. Selama ini aku udah memata-matai papaku. Dan ternyata memang benar papaku berselingkuh. Puncaknya aku melihat perempuan itu masuk ke dalam mobil papa dan mereka berdua melakukan hal layaknya suami istri. Disitu aku marah banget. Hati aku sakit. Malam itu aku nangis." jelas Akbar dengan mata berkaca lalu menunduk. Sebenarnya ia sangat malu harus menangis dan menceritakan semua yang terpendam dalam hati.

"Yaudah sekarang waktunya kamu ngomong sama mama kamu." Riri memberi saran dengan menggebu-gebu. Sebagai seorang wanita. Ia merasa kesal jika ada di posisi mama Akbar. Bukan kesal lagi, mungkin ia akan menangis sejadinya.

"Nggak mungkin aku ngomong sama mamaku." kata Iyan dengan tegas. Ia tidak mau menyakiti hati mamanya. Namun di sisi lain ia ingin membongkar kebusukan papa.

"Kamu harus ngomong Bar!" bentak Riri saat itu juga. Baru kali ini ia bersuara tinggi dengan Akbar.

"Aku nggak mau nyakitin mama aku,Ri." jawab Akbar tanpa membalas nada tinggi Riri. Ia tetap menjaga emosinya agar stabil.

"Kalo kamu nggak ngomong sama mama kamu. Itu artinya kamu perlahan nyakitin mama kamu sendiri. Mama kamu hidup dalam kepalsuan cinta papa kamu." Tuduh Riri seakan ia tahu segalanya. Ia memang merasa sangat emosi.

"Kamu nggak tau rasanya jadi aku. Aku bingung, Ri." Akbar mengacak rambutnya dengan kasar.

"Aku emang nggak tahu rasanya jadi kamu. Tapi aku peduli sama kamu. Makannya aku kasih saran buat kamu." ucap Riri mengalihkan pandangan.

"Aku nggak bakal ngomong sama mamaku. Mungkin aku akan ngomong terlebih dahulu sama papaku. Aku ingin tahu seberapa besar pedulinya dia sama Aku, mama dan Bintang." ucap Akbar dengan sorot mata menyipit. Ia sangat berharap bisa berbicara dengan papanya secara perlahan agar papanya sadar.

"Iya kamu benar juga, mungkin kamu harus ngomong sama papa kamu dulu. Semoga aja papa kamu segera bertaubat dan kembali bersama mama kamu. Mencintai mama kamu dengan tulus." Kata Riri sangat berharap keluarga Akbar bisa harmonis seperti dulu. Pasalnya ia trauma dengan keluarganya. Ia takut papa Akbar akan seperti bapaknya sendiri yang menikahi perempuan lain dan meninggalkan ibu.

Mereka berdua terdiam sejenak. Mencoba bernafas setelah percakapan penuh api yang terjadi. Adzan maghrib memecah keheningan diantara keduanya.

"Aku sholat dulu ya, Bar." ucap Riri dengan lirih. Ia kehilangan sedikit tenaganya setelah obrolan yang menggebu-gebu.

"Iya aku juga mau sholat. Eh ini tulisan kamu belum aku baca. Nanti aku baca setelah makan malam ya. Soalnya laper banget nih. Habis sholat maghrib aku mau langsung ngambil jatah makan malamku." kata Akbar mencoba menghibur diri dengan melemparkan senyum kepada Riri.

"Oke. Nih tulisan kamu." Riri menyerahkan kertas puisi milik Akbar kepada pria jangkung di depannya.

Akbar meraihnya. Lalu mereka berdua berjalan bersama kemudian melewati jalan yang berbeda untuk pergi ke toilet dan berwudhu.

"Ri, kemana aja kamu? Aku cari kamu loh. Tadi ada bapak-bapak yang nyari kamu. Katanya itu bapak kamu ya Ri?" ucap Cahaya penasaran.

"Hah? apa?" mata Riri mendelik tak habis pikir dengan yang di lontarkan Cahaya.

"Ciri-cirinya kaya gimana?" Riri kembali bertanya.

"Rambut ada sedikit ubannya, berkumis tipis, Badannya tinggi dan nggak gemuk. Tadi bapak itu pake jaket." kata Cahaya seraya mengingat kembali orang yang di temuinya.

"Terus kamu bilang apa sama bapak itu?"

"Ya aku bilang, kamu ada di pengungsian ini. dan dia menjawab kalo besok akan kesini buat menemui kamu." jelas Cahaya membuat Riri tak percaya.

"Terus bapak itu pergi naik becak?" tanya Riri penasaran.

"Iya dia mengendarai becaknya sendiri." jawab Cahaya mengangguk-angguk.

"Berarti benar, dia bapak aku. Tadi aku sempet ngliat dia. Tapi aku cuma bisa diam aja." cerita Riri sambil menunduk.

"Kenapa kamu nggak nyamperin?"

"Ya aku bingung aja mau ngapain setelah ngliat bapak aku. Pas aku ngliat dia rasanya luka yang dulu muncul. Kelakuan kasar bapak pada ibu seketika muncul di benakku dan aku merasa sakit." jelas Riri dengan perasaan sedihnya.

"Sabar ya, Ri. Mungkin bapak kamu kesini pengin tahu kabar kamu. Mungkin juga dia pengin minta maaf sama kamu." Kata Cahaya berusaha menenangkan teman baiknya.

"Semoga aja ap yang kamu ucapkan itu bisa menjadi kenyataan." Riri berharap dengan penuh.

"Yaudah yuk! kita sholat maghrib dulu." ajak Cahaya merangkul pundak Riri yang sedang rapuh.

Mereka berjalan menyusuri lorong lalu mengantri di toilet. Setelah giliran Riri masuk ke toilet. Ia menangis sejadinya. Ia merasa hari ini penuh dengan emosi. Di depan orang-orang ia bisa tersenyum. Tapi ketika sendiri ia begitu teriris.

Bab 2

Riri dan Cahaya memasuki musolla yang penuh dengan jamaah. Barisan sholat maghrib lebih banyak dari pada sholat wajib yang lain.

Beribadah kepada sang pencipta memang membuat hati menjadi lega dan terasa adem. Apalagi jika dilakukan dengan bersama-sama, rasa semangat pasti muncul seketika.

Riri berharap ia akan masuk surga bersama orang-orang sholeh. Matanya melihat kedepan orang-orang yang memakai mukena. Melihat warna putih itu perasaan Riri menjadi tenang. Ia sangat bersyukur bisa berada di pengungsian ini. Karena ia bisa beribadah tanpa rasa malas. Ia berharap semoga tetap istiqomah dalam menjalankan perintahnya.

Sudah sejatinya bahwa manusia di ciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.

Setelah semua orang telah keluar dari musolla. Dan hanya ada Riri dan Cahaya yang masih melipat mukenanya. Kemudian mereka bercermin di sebuah kaca yang menempel pada tembok.

"Aku pengin deh! pake kerudung kaya kamu," ucap Cahaya spontan langsung membuat Riri terharu.

"Yaudah pake aja, pasti kamu terlihat cantik saat memakai kerudung," kata Riri sambil melihat wajah Cahaya. Rambut Cahaya yang panjang kini di kuncir.

"Tapi aku nggak pede makenya," ucap Cahaya bercermin sambil melihat-lihat wajahnya sendiri.

"Itu nggak masalah, kalo udah terbiasa pasti bisa kok. Dan wanita muslim memang wajib memakai hijab dari kepala sampai menutupi dadanya." jelas Riri dengan mantap.

"Duh aku jadi nggak pede nih kamu ngomong kaya gitu, aku jadi nggak pede kalo nggak pake kerudung." Cahaya tersenyum kecil kepada Riri.

"Baguslah kalo kamu merasa seperti itu," kata Riri membalas senyum Cahaya.

"Jadi kapan nih kamu mau pake kerudung?" tanya Riri seperti meledek temannya.

"Secepatnya sih, tapi aku bingung. Aku nggak punya gamis kaya kamu. Kerudung juga nggak punya." tutur Cahaya sambil cemberut.

"Aduh kamu nggak usah mikirin itu. Kamu kan bisa pinjem sama aku." jawab Riri antusias. Ia membayangkan Cahaya yang mengenakan gamis dan kerudung pasti terlihat sangat cantik.

"Hah? emang nggak papa Ri?" tanya Cahaya dengan mendekatkan dirinya kepada Riri.

"Ya nggak papa lah! Nyantai aja kali," kata Riri dengan santainya sambil memperlihatkan giginya di depan Cahaya.

Seketika Cahaya memeluk Riri dengan cepat. Ia sangat bersyukur mendapatkan teman seperti Riri.

Cahaya melepas pelukannya. Seketika Riri melihat bulir bening meleset di pipi Cahaya.

"Hei kenapa nangis?" tanya Riri sambil menyeka air mata Cahaya, namun jari temannya mencegah tindakannya.

"Nggak papa kok, aku ngrasa lega aja setelah memutuskan untuk memakai kerudung. Pasalnya baru kali ini aku mendapat teman seperti kamu, Ri." jelas Cahaya sambil menyeka air matanya sendiri dengan malu.

"Ya Allah aku terharu dengernya. Duh jadi pengin nangis nih!" ucap Riri memegang dadanya. Entah bagaimana ada rasa bahagia di ruang hatinya.

"Aku pengin jadi wanita sholehah," kata Cahaya tersenyum sambil menunduk.

"Masya Allah! Alhamdulillah aku seneng dengernya." kata Riri mengelus lengan Cahaya.

Merekapun segera keluar dari musolla. Lalu Riri mengambil baju dan gamisnya kemudian meminjamkannya kepada Cahaya.

"Nih kamu pake sekarang ya. Semoga tetap istiqomah ya!" senyum Riri merekah. Cahaya meraih baju gamis dan kerudung. Lalu pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya.

Riri menunggu sambil berselonjor di atas karpetnya. Di sebelahnya ada mama Akbar yang sibuk mengipasi Bintang yang akan tidur.

"Papa mana sih!jam segini belum pulang juga. Biasanya kan habis maghrib papa udah pulang kerja. Kenapa akhir-akhir ini pulang kerjanya suka kemaleman. Bahkan sampai jam 10 malam." Gerutu mama Akbar sambil mengipasi anak kecilnya.

Riri hanya bisa diam mendengar ocehan mama Akbar. Seandainya ia boleh bicara. Ia akan mengungkapkan apa yang sebenarnya papa Akbar lakukan kepada mama Akbar.

"Ri, tolong jagain Bintang ya. Tante mau ke toilet sebentar. Mau cuci muka." kata tante seraya menyerahkan kipas kepada Riri.

"Oh! iya tante," Riri segera mengipasi Bintang. Takut gadis kecil itu bangun, gara-gara mamanya pergi.

Seketika itu mata Riri berbinar melihat teman yang lebih tua dari umurnya memakai gamis dan kerudung.

Cahaya duduk di sebelah Riri.

"Cantik banget kamu!" Riri terkagum-kagum melihat penampilan Cahaya dari ujung kaki hingga kepala.

"Eh! beneran deh, aku malu nih." ucap Cahaya dengan menutup mulutnya sambil tertawa. Riri pun ikut tertawa.

"Yaudah nggak usah malu sih. Aku seneng ngliat penampilan kamu."

"Makasih ya Ri! kamu udah mau minjemin aku baju." kata Cahaya melempar senyum. Ia begitu bahagia sekarang.

"Iya, kamu boleh minjem baju aku berapapun. Eh aku kasih kamu tiga baju deh sama kerudung."

Mendengar itu Cahaya membelalak tak percaya.

"Apa? seriusan?"

"Iyalah serius, maap ya baju bekasku. Bukan baju baru. Nanti kalo aku udah kerja dan dapet gaji. Aku bakal kasih kamu baju dam kerudung." ucap Riri dengan semangat. Pasalnya ia sangat bahagia bisa membuat orang menjadi taat kepada Allah.

"Duh aku terharu sama kebaikan kamu." kata Cahaya kemudian memeluk lagi.

"Udahan dong peluk-pelukannya. Berasa kaya lagi pacaran aja." kata mama Akbar dengan nada menyindir.

Mereka berdua pun melepas pelukannnya.

"Eh kirain tante kamu bukan Cahaya." ucap mama Akbar merasa pangling dengan penampilan Cahaya.

"Masa sih tante? tanya Cahaya memegangi kerudungnya. Takut jika ia salah cara memakai kerudungnya.

"Iya, dari deket aja kaya bukan kamu. Cantik kok. Tante suka." ucap Mama Akbar memandang Cahaya.

"Tante dong pake kerudung coba." ucap Cahaya berani.

"Heh?" wajah mama Cahaya belum siap untuk menjawab.

"Tente belum siap pake kerudung, di sini aja panas bnget. huh!" katanya sambil mengipas dengan telapak tangannya.

"Masih mending tante, panas di dunia dari pada panas di neraka." ucap Cahaya dengan blak-blakan. Riri melirik seakan memberi aba-aba bahwa apa yang di ucapkan Cahaya akan menyakiti hati mama Akbar.

"Nih bocah kalo ngomong suka bener aja." kata mama akbar sambil tertawa kecil. Mereka berdua pun tertawa. Riri lega, untung mama Akbar tidak sakit hati atas omongan Cahaya.

Seseorang membagikan bungkus makanan kepada mereka bertiga. Merekapun segera membukanya dengan perut yang sudah lapar.

"Wah ayam geprek!" ujar Riri dengan mata berbinar melihat ayam geprek dengan sambal yang menggoda.

"Tumben banget ya lauknya ayam geprek, biasanya kan cuma tahu tempe sama sayuran gitu." kata Cahaya kemudian memakan nasinya dengan tangan kosong.

"Alhamdulillah." ucap Riri bersyukur dengan makanan yang di sajikan malam ini.

"Akbar kemana ya sama iyan? biasanya mereka ikut makan bareng di karpet ini." ucap mama sambil mengunyah makanannya.

"Tadi pas aku ke toilet, aku sempet ngliat mereka lagi ngobrol di luar." ucap Cahaya.

"Hem! gimana sih Akbar, waktunya makan harusnya cepet makan dong!" mama berkata dengan kesal.

Bab 3

Akbar dan Iyan memakan jatah makannya di luar. Mereka menikmati angin malam sambil menyantap geprek yang pedas.

"Mantap banget ya lauknya!" ucap Iyan dengan mata memerah karena kepedesan.

Akbar tertawa geli melihat ekspresi Iyan yang lucu. Akbar tidak suka pedas, jadi ia menyingkirkan sambalnya dan hanya memakan ayamnya.

"Minum dulu sana! sampe kepedesan gitu amat," ucap Akbar melihat kasihan Iyan.

Tangan Iyan pun segera meraih gelas plastik yang berisi air mineral.

"Duh! kenapa pedes banget sih, Huh!" gerutunya setelah meminum air putih.

Selesai makan mereka duduk sejenak dan melihat-lihat suasana di luar. Papa terlihat berjalan ke arah mereka duduk.

"Pah!" Akbar menyalimi papanya. Iyan tersenyum sopan kepada papa Akbar.

"Tumben pah pulang cepet. Biasanya sampai jam 10 malam," sindir Akbar secara halus.

"Iya, papa pengin segera menyerahkan kertas-kertas ini kepada Riri," papa duduk di samping Akbar. Ia melihat-lihat tumpukan kertas yang di pegangnya.

"Apaan sih pah?" tanya Akbar seraya mengambil kertas yang di pegang papanya.

Iyan pun mengikuti tindakan Akbar.

"Oh ini mau di sebar ya pah?" kata Akbar setelah selesai membaca data pribadi ibu kartika, ibunya Riri.

"Iya, kalian bantuin Riri juga ya? kasian dia, selama ini belum ketemu sama ibunya. Padahal papa udah bantu lewat media sosial. Tapi hasilnya nihil. Jadi papa bantu dengan cara seperti ini. Semoga aja ibu Riri cepat ketemu." kata papa sembari membagikan kertas itu beberapa tumpuk kepada Akbar dan Iyan.

Akbar tidak tahu kenapa papa begitu baik, tapi di sisi lain kenapa papa berselingkuh? Akbar terus menanyakan pertanyaan itu dalam hati. Akbar akan memberanikan diri. Malam ini ia akan berbicara empat mata dengan papanya.

"Om, maaf sebelumnya, bolehkah aku kerja di tempat om? menjadi kuli bangunan nggak papa kok, asal aku bisa dapat uang." kata Iyan dengan nada memohon.

Papa Akbar mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka dengan perkataan Iyan. Ia bisa melihat bahwa tubuh Iyan tidak menjanjikan untuknya menjadi kuli bangunan.

"Om sih mau bantuin kamu, tapi om nggak tega ngliat kamu jadi kuli bangunan." kata papa Akbar dengan jujur.

"Om, sejak SMA kelas satu saya udah kerja jadi pelayan restoran. Jadi saya bisa kok kerja di tempat om, bolehkan om?" Iyan memohon dengan raut wajahnya yang memelas.

"Jangan deh, lagian nggak ada yang seumuran sama kamu. Semuanya udah jadi bapak-bapak. Kamu nanti nggak bakal kuat jadi tukang kuli bangunan." kata om dengan serius.

"Duh! kalo nggak kerja saya bingung om tinggal di pengungsian ini nggak dapat penghasilan sama sekali. Sekarang bapak aku udah meninggal menjadi korban bencana alam ini. Dan aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu udah meninggal waktu aku kecil."

papa menggaruk kepalanya, ia masih merasa bingung akan bagaimana bertindak.

"Sebenernya om juga lagi butuh karyawan lagi sih, yaudah om coba kamu dulu untuk jadi kuli bangunan di tempat om. Kalo kamu nggak kuat kamu ngomong aja sama om ya?" kata papa Akbar dengan suara bijaksana.

"Alhamdulillah...makasih banyak ya om. Aku akan coba semaksimal mungkin. Jadi kapan om aku bisa mulai kerja?" tanya Iyan dengan antusias.

"Besok juga udah bisa kok," jawab papa Akbar tersenyum.

Akhinya Iyan sangat berterimakasih kepada papa Akbar dan juga Akbar. Ia sangat bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan. Nantinya uang dari hasil kerjanya akan ia tabung sebaik mungkin agar bisa bermanfaat.

Papa Akbar menyarankan supaya besok ia ikut ke dalam mobil papa Akbar agar bisa berangkat sama-sama, namun Iyan menolaknya. Karena ia tak ingin merepotkan papa Akbar, ia juga merasa tak enak hati dengan karyawan lain.

Iyan memiliki sedikit uang untuk naik angkot. Uang yang di peroleh dari bantuan untuk anak yatim yang terkena bencana alam.

"Tapi kalo naik angkot kamu harus jalan dulu sekitar 200 meter menuju jalan besar. Apa kamu nggak cape yan? sudahlah kamu bareng saja sama om. Nggak papa kok." kata papa Akbar dengan ikhlas membantu Iyan.

"Nggak usah om, aku udah biasa jalan kaki jarak jauh kok, tenang aja om," kata Iyan dengan yakin.

"Hem yaudah kalo kamu tetap dengan pendirianmu."

"Yaudah aku masuk dulu ya om. Bentar lagi aku mau adzan isya." kata Iyan lalu segera pergi kemudian menuju musolla.

"Pah..." panggil Akbar dengan selembut mungkin kepada papanya.

"Iya kenapa, Bar?"

"Aku mau ngomong serius sama papa." ucap Akbar dengan memberanikan diri. Ia harus kuat apapun nantinya yang akan terjadi. karena ia adalah seorang laki-laki. Ia juga menjadi kakak satu-satunya untuk Bintang.

"Yaudah ngomong aja, Bar." kata papa dengan santai sambil memasukkan kertas-kertas kedalam tas ranselnya.

"Aku melihat papa sama seorang perempuan," kata Akbar dengan tetap tenang.

"Kamu ngliat papa sama perempuan? dimana?" tanya papa. Ia merasa tegang dengan apa yang di ucapkan anak laki-lakinya.

"Udah pah! jangan tanya apa-apa lagi. Akbar udah melihat dengan mata Akbar sendiri. Papa selingkuh kan?" Akbar sudah tidak sabar untuk segera berbicara pada intinya.

"Sejak kapan kamu tahu hal itu?" tanya papa menatap Akbar tajam. Ia juga melihat-lihat sekitar. Takut percakapan dengan anaknya terdengar oleh telinga lain.

"Sejak pertama kali Aku menginjakkan kaki di pengungsian ini. Kenapa papa kaya gitu? papa jahat banget sama mama. Papa kurang ajar." kata Akbar yang sudah marah. Seakan tanduk merah muncul di kepalanya.

Papa menelan ludah dengan susahnya. Ia kewalahan akan berkata apa kepada Akbar. Ia tertunduk memegang keningnya dengan frustasi. Kebohongan yang selama ini ia simpan, ternyata telah di ketahui sejak lama oleh anaknya sendiri.

"Kamu nggak tau masalah papa. Papa memang berselingkuh. Karena papa sudah muak dengan mama kamu yang cerewet. Papa udah nggak ada rasa sayang lagi sama mama kamu. Papa udah bosan sama mama." ucap papa dengan jujur. Memang itulah yang ia rasakan sejak dulu.

"Apa? papa gampang banget ngomong kaya gitu? udah berapa lama pernikahan papa selama ini? papa tega merusak segalanya." Akbar tertunduk. Kali ini ia sangat marah dengan papanya.

"Kamu nggak tahu perasaan papa." kata papa seolah ingin Akbar membelanya.

"Sekarang papa pilih aja. Perempuan itu atau mama. Aku juga akan bilang sama mama kalo papa selingkuh." kata Akbar dengan berani menatap mata papanya.

"Papa hanya bisa pasrah. Papa udah terlanjur menjalin hubungan lama sama perempuan itu. Papa juga akan menikah dengannya." kata papa membuat mata Akbar membelalak tak percaya.

Akbar menggeleng sambil menatap tajam mata papanya. Rahangnya mengeras karena marah.

"Akbar sakit hati pa." kata Akbar dengan bola mata yang mulai perih.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED