“Bu, mereka mengatakan jika mataku aneh.” Perempuan kecil berusia tiga belas tahun itu merajuk pada Ibunya. Dirinya tak terima karena selalu dicemooh oleh teman sepermainan yang berada di desanya.
Sang Ibu hanya bisa tersenyum sambil tangannya memetik buah di kebun.
”Memang apa yang aneh. Bukankah mataku ini unik, ya.” Buah yang sudah dipetik Ibunya di keranjang, sesekali dimakan olehnya.
“Matamu memang unik, Rena. Karena kau memiliki mata seperti nenekmu. Ibu orang Asia. Kau sudah tahu, kan?” Ibu Rena berjalan mencari anggur yang sudah masak, tangannya dengan telaten menggunting batang buah tersebut. Rena yang melihat Ibunya pun mengambil gunting yang berada di dalam keranjang dan mencoba membantu.
“Ambil yang berwarna ungu. Tinggalkan yang hijau.” Instruksi yang langsung dipatuhi oleh Rena tanpa adanya bantahan.
“Tapi mata kak Ben tidak sepertiku, Bu?” Ternyata masih berlanjut masalah ini.
Yura yang melihat punggung anaknya hanya bisa mendesah. Gadis kecil dengan rambut hitam kepang dua yang tertutup topi rotan itu selalu mempermasalahkan matanya, padahal tidak semua orang bisa mempunyai mata seperti itu. Tapi banyak yang menghina bahkan mengolok sebagai bukti jika ia tak normal. Seharusnya itu anugerah tersendiri bukan?
“Nikmati apa yang sudah diberikan, Sayang. Syukuri kita masih bisa hidup tanpa ada kekurangan.”
Rena kecil hanya bisa bergumam. Ego yang selalu ada di dalam dirinya kembali terusik. Teman-teman sekolah maupun di rumah selalu menghinanya ada yang bilang di sipit aneh ada yang bilang vampir karena kulit pucat meronanya. Dia kan bukan vampir tapi were ... upss! Rena memukul mulutnya gemas. Orang tuanya sudah mewanti-wanti jangan sampai identitas keluarga diketahui orang.
Mereka memilih tinggal di desa dan menjauhi segala macam kelompok—pack—dan berbaur dengan manusia. Karena Ibunya sering berkata, manusia sangat menyenangkan daripada kelompok werewolf.
“Bu, ayah dan kak Ben belum pulang?” Tangannya memegang baju Ibunya sampai di halaman rumah.
“Sepertinya belum, mungkin kayunya belum terkumpul banyak.”
“Apa kau mau ikut ibu ke rumah paman Gill untuk menjual anggur?" Ibunya membawa gerobak berisikan anggur yang sudah dipanen sedari kemarin.
Rena yang sedang memberikan makanan hewan kesayangannya dengan daun menggeleng. “Aku ingin mengurus Didi-ku dulu, Bu.” Binatang bertelinga panjang itu terus saja mengunyah apa yang disodorkan Rena.
“Kalau begitu, kau tunggu di sini Rena. Jangan main ke sungai, berbahaya.”
“Ibu sudah memberitahuku ribuan kali, jika Ibu lupa.” Rena menggendong binatang berbulu putih itu. Sebenarnya ia mau sekali mandi di pinggiran sungai, apalagi kakaknya Ben selalu mengajaknya meskipun itu hanya tawaran kosong.
Rena menatap ke depan melihat aliran sungai Rhein yang lumayan jauh dari halaman rumahnya. Sungai terpanjang yang melintasi beberapa Negara Eropa.
Sankt Goarshausen tepatnya di Desa Wellmich, Jerman. Sebuah desa yang penduduknya sekitar seribu orang dengan pemandangan yang masih asri juga bukit yang tinggi. Salah satu penghasilan dari penduduk desa ini adalah anggur. Anggur yang nantinya menjadi salah satu minuman termahal yang Jerman punya.
“Rena!” Gadis sebaya menghampiri Rena dan ikutan berjongkok memberikan Didi daun. “Kau sudah mengerjakan tugas?”
Rena membuka topi rotan dan menaruhnya di tanah berumput. Memasukkan Didi di kandangnya dan menutup rapat. “Sudah, dong, aku kan pintar.” Dengan cengiran yang membuat mata itu terlihat hanya segaris membuat Harriet mengerucut.
“Bisakah kau mengajarkanku, Ren?” Harriet memohon iba sambil menggoyang-goyangkan badan Rena yang sudah terduduk di bangku panjang.
Rena yang mendengar permintaan temannya memikirkan dengan cara mengetuk-ketuk dagu. “Tapi ada syaratnya, bagaimana?”
Harriet yang ikut di duduk di bangku pun mengangguk setuju. Apa pun akan dipenuhi asal guru menjengkelkan itu tak memarahinya.
“Tetap menjadi temanku, Harry.” Rena menaik turunkan alisnya. Membuat Harriet melotot tak percaya, semudah itukah?
“Kan aku memang temanmu.” Harriet ingat, tak semua teman sebayanya yang mau menerima Rena. Harriet memegang tangan Rena dan berkata, “Aku selalu menjadi temanmu selamanya.” Dan Rena menganggap itu sebagai janji sampai mati.
***
Di Senin pagi. Siapa yang menyukai hari Senin? Di mana semua orang diharuskan memulai kegiatan. Rena merengut kesal saat memakan roti yang sudah tersaji di piring.
“Kak, nanti aku berangkat bersama Harriet saja ya, pinta Rena memelas.
“Kenapa tidak mau bersama Kakak?” Ben menambahkan selai cokelat pada rotinya.
“Aku hanya ingin berbicara pada Harriet. Ya berbicara padanya.”
“Baiklah.”
Tanpa menunggu lagi, ia langsung berpamitan pada Ibu dan Ayah serta mengambil tas ranselnya.
“Kau tahu, Ren. Brandon kemarin mengatakan cinta pada Ursula.” Rena yang mendengar cerita dari Harriet pun menghentikan langkahnya dan terkejut heboh.
“Bagaimana bisa!? Brandon kan seumuran dengan kakakku, sedangkan Ursula dia seumur kita. Mereka berbeda jauh bayangkan Harry, lima tahun. Brandon seperti paedofil ya.” Rena tak habis pikir bagaimana bisa teman kakaknya mencintai gadis yang jauh di bawah umurnya. Mereka memang remaja kecil yang akan beranjak dewasa tapi tetap saja terasa aneh.
“Namanya cinta, Rena. Biarkan saja mereka menjalin cinta di usia muda.” Ya Harriet adalah salah satu manusia yang melankolis. Rena menyetujui itu.
Jangan sampai mate-ku berumur yang berada jauh di atasku. Rena bergidik ngeri mengingat itu semua.
***
“Hai, mata aneh. Seharusnya kau melakukan operasi yang membuat matamu seperti manusia normal.” Elisha tertawa bahagia disambut teman yang lain.
Rena yang melihat dan mendengar itu hanya memutar bola matanya jengah dan membalikkan lembar buku yang masih dibacanya meskipun sudah tidak fokus.
“Apakah kau tak mempunyai biaya untuk melakukan operasi?” Elisha memutar rambut pirang bergelombangnya. Sebenarnya ia jengah jika harus seperti ini, tapi jika ia mengamuk ia takut tak bisa terkontrol.
“Elisha Si Ratu Drama, bisakah kau diam sejenak. Telingaku sakit mendengar mulut bawelmu sedari dulu. Lagi pula yang seharusnya operasi itu kau, melihatmu yang tak pernah bisa menghafal pelajaran dengan benar.”
Telak.
Pekikan jeritan, siulan dan cercaan teman sekelas membuat Elisha bungkam. Ia tak habis pikir ternyata Rena bisa membuat malu dirinya dalam sekejap. Dengan emosi dan muka memerah, Elisha keluar dari kelas di temani dua pembantu—eh temannya.
***
Rena tersenyum tipis saat mengingat kejadian itu, kejadian yang tak pernah ia lupa seumur hidup. Masa remaja kecil yang membuat ia tampak egois karena perkataannya tanpa maksud menyinggung Elisha sedikit pun. Setelah kejadian itu Elisha tak pernah mau lagi berbicara bahkan mengejeknya, tapi tidak teman-teman yang lain. Mereka tetap saja mengejeknya. Menyebalkan.
Seharusnya pada saat itu juga ia meminta maaf pada Elisha dan menjalin pertemanan yang baik. Tapi setelah mengingat Elisha adalah orang nomor pertama yang selalu gencar menghinanya, ia tak pernah melakukan permintaan maaf itu sampai sekarang.
Rena menghela napas, kenangan yang indah bukan di mana saat semua orang masih ingin bermain dengannya tapi dengan cara yang berbeda.
“Luna.”
“Kemari, Nak.” Luna Irene membawa Rena duduk di sofa dan membuka bungkusan berwarna merah muda itu.
Terpampang gaun cantik berwarna putih yang dihiasi pita di pinggangnya. Membuat Rena tampak takjub dengan pemandangan di hadapannya. “Indah sekali, Luna." Ia tak sanggup memegang dan hanya melihat tak ingin gaun itu kotor karenanya.
“Kau menyukainya?” Luna Irene senang melihat reaksi Rena. Rena mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kalau begitu, ini untukmu.” Luna Irene memasukkan gaun itu ke tas kertas dan memberikannya pada Rena. Rena yang melihat kantong kertas itu hanya menggeleng dan tak terima. Bagaimana bisa Luna-nya memberikan gaun yang semewah itu untuk dirinya.
“Terima, Rena. Ini perintah!” Tegas. Luna Irene baru kali ini berbicara seperti itu padanya, membuat Rena terkesiap dan tangan bergetar.
“Pakai gaun ini malam nanti, akan ada acara ulang tahun pernikahanku. Kau sudah tahu itu kan?!” Tanpa menerima penolakan dari Rena, ia berdiri dan berjalan angkuh meninggalkan Rena yang masih menatap baju itu kosong.
Irene bukan marah padanya hanya saja ia tak mau melihat Rena yang setiap hari selalu tertutup dan memojokkan diri sendiri. Ia selalu mengamati gadis itu, gadis yang disayangi seperti anaknya sendiri. Jika saja Jonathan mengizinkan Rena untuk ia asuh sebagai anak angkat, bisa dipastikan Rena selalu bahagia.
Saat di mana Rena datang ke dalam wilayah packnya dan membuat gempar seisi istana karena diperbolehkannya seorang rogue tinggal di dalamnya. Tapi itu perintah mutlak dari Jonathan dan disetujui Christopher. Jika memang Rena tak mau dibunuh ia harus menjadi pelayan untuk istana ini.
“Tapi ia masih kecil, Jo.” Irene terisak melihat pakaian compang-camping Rena yang sangat tak layak pakai.
“Iya atau tidak, Irene!” Bagaimana bisa seorang anak kecil membuat dirinya dan istri bertengkar.
Irene memegang bahu Rena melihat manik mata yang kosong seolah ia siap kapan saja dieksekusi.
“Kita tidak tahu apa yang akan diperbuat di suatu hari nanti, mengingat ia adalah rogue.” Jonathan selalu berpikiran matang. Ia tak ingin ada masalah apa pun dalam wilayahnya.
“Aku bisa merasakannya ia adalah anak baik, Jo. Kau pun bisa merasakannya ‘kan, Sayang.” Pecah sudah tangis Irene ia tak percaya jika suaminya akan menjadikan Rena sebagai pelayan di umurnya yang masih kecil, seharusnya Rena mengenyam pendidikan.
Jonathan menghela napas lelah, sebagai seorang Alpha ia ditugaskan untuk menjaga miliknya dari segala macam bahaya. Tapi jika dilihat dari sisi orang tua ia tak mungkin tega membiarkan Rena menjadi pelayan di usia muda. “Biarkan ia belajar seperti anak pelayan yang lain. Katakan pada Morin jangan terlalu keras pada Rena alasannya karena ia masih kecil. Kau bisa memantaunya dari jauh Irene. Dan juga jangan kau tunjukkan ketidakadilan antara Rena dan yang lain.”
“Setelah dia dewasa jadikan dia pelayan pribadi untuk pasangan Nickholas.” Tanpa menerima bantahan apa pun dari Istrinya, ia meninggalkan Irene yang memeluk tubuh Rena.
Irene tak bisa membantah lagi, perintah Jonathan termasuk adil untuk Rena.
Suasana istana tampak ramai. Banyak anggota keluarga dan kerabat yang hadir. Dengan menggunakan konsep serba hitam dan putih, membuat pesta ini terlihat mewah dan elegan.
Ternyata tidak hanya Rena sendiri yang memakai gaun, pelayan lain pun memakainya. Mereka serasi dengan pakaian yang berwarna putih hanya saja motifnya yang berbeda. Mungkin Luna Irene ingin membuat malam ini sempurna. Tetapi Rena tahu bahwa gaun yang diberikan Irene sangat berbeda dengan yang lainnya, apakah ini khusus.
Seketika kepercayaan dirinya luntur, ia tak pantas memakai pakaian mewah seperti ini. Seharusnya ia sama seperti teman yang lainnya. Tapi jika ia tak memakainya bisa saja Luna Irene benar-benar marah.
“Rena ... Rena ... Rena.” Wendy dengan gaya angkuhnya berdiri di depan Rena dan memperhatikan gaun dari atas sampai bawah. Matanya terbelalak saat gaun Rena berbeda dari miliknya. Padahal sama-sama dari pemberian Luna Irene.
“Dapat dari mana kau gaun mewah ini?" Tangannya menyentuh kain putih itu dan merasakan kehalusan di sana.
Rena sontak mundur tak membiarkan pakaiannya dikotori oleh tangan Wendy.
“Luna Irene.”
Jawaban singkat itu membuat tangan Wendy mengepal dan mukanya memerah. Ia pergi meninggalkan Rena tanpa mau terlibat lebih jauh. Suara entakkan heels memenuhi telinga dan diabaikan. Biarlah Wendy berasumsi dengan pikirannya sendiri.
Rena melangkah memasuki ruang utama yang dijadikan acara malam ini. Ruang yang sudah disulap menjadi tempat terindah yang didominasi hitam dan putih. Kakinya yang memakai heels tidak terlalu tinggi mencari sang raja dan ratu dalam cara ini. Ingin mengucapkan selamat dan meminta maaf kepada Luna Irene soal kejadian siang tadi. Matanya mengedarkan ke penjuru ruangan, ruangan yang sudah dipenuhi oleh tamu dan kerabat.
“Rena, kau sangat cantik.” Suara berat menginterupsi, ia melihat Theo melihatnya dari atas hingga bawah. Pria dengan rambut panjang yang diikat itu tersenyum geli.
“Terima Kasih, Theo.” Rena sedikit menarik bibirnya, matanya masih mencari Luna Irene berada.
“Kau sedang mencari Luna Irene ?” tanya pria itu.
Hanya gumaman yang membalas perkataan Theo.
“Alpha dan Luna belum terlihat dari tadi. Mungkin masih bersiap-siap.” Rena menatap mata cokelat Theo dan menganggukkan kepalanya, kemudian pergi dari hadapan Theo tanpa berbicara lagi.
Theo geram melihat kelakuan pelayan itu, sungguh gadis yang tak mengerti etika. Ia sudah bersikap baik untuk menyapa tapi balasan gadis itu membuatnya menahan emosi.
***
Rena menatap pasangan paruh baya yang sedang tertawa itu memotong kue berwarna putih yang kira-kira mencapai tinggi satu meter lebih. Terlihat raut wajah Luna Irene sangat bahagia berdampingan dengan Alpha Jonathan. Setiap tahun mereka melakukan acara ini, tapi mungkin di tahun ini adalah tahun yang spesial. Di mana seluruh tamu menggunakan pakaian yang sama begitu juga dengan pelayan. Tak ada kasta yang terlihat saat ini, semua sama.
Rena mengulum bibirnya saat mencium wangi kayu manis yang mendekatinya. Jantungnya selalu berdebar jika pria itu menampakkan eksistensi saat berada tak jauh darinya. Matanya masih menatap lurus ke depan, membiarkan pikiran serta gejolak yang sudah bersemayam. Ia sudah biasa.
“Mereka selalu terlihat bahagia.” Suara berat itu memenuhi gendang telinga Rena setelah sekian menit sang pria berdiri di sampingnya.
Rena membenarkan toh seperti itu kenyataannya.
“Apa kau bahagia?” Rena sedikit mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Romeo.
“Selama sembilan tahun kau di sini aku tak pernah lagi merasakan kebahagiaan itu, Rena. Kau sudah mengubahku.”
Rena mengelus kedua lengannya yang tak tertutup baju, menghantarkan sedikit rasa hangat. Jika berhadapan dengan pria ini, ia selalu seperti tersiram air es sangat menyakitkan. Rena tak menjawab, ia semakin mendengarkan apa yang Romeo sampaikan.
“Tidak puaskah kau menyiksaku seperti ini?” Suara lirih Romeo membekukan tubuh Rena. Benarkah selama ini ia menyiksa Romeo? Bukankah sebaliknya.
“Pergilah Rena. Jangan kau tampakkan muka menyedihkanmu itu di depan mataku lagi.” Suara itu semakin memelas.
Rena masih menatap lurus ke depan, melihat Luna Irene menyuapi kue yang tadi dipotongnya pada anaknya, Alpha Nickholas.
“Aku selalu mengingat kata-katamu, Beta Romeo. Ada saatnya aku pergi dari hadapanmu sesuai permintaan. Saat di mana itu terjadi mungkin kau tak akan pernah lagi melihatku sudah berbeda.” Rena berjalan menghampiri Luna Irene menghapus setitik air mata yang sempat jatuh.
Dada Romeo berdenyut nyeri tangannya meremas tuksedo dengan keras. Apakah Rena akan menuruti permintaannya? Apakah ia siap jika gadis itu benar-benar pergi dari hadapannya sesuai permintaan?
Sejak tadi ia memperhatikan Rena yang berdiri sendiri tanpa ada yang mau menyapanya. Ia sedikit bangga, Rena terlihat sangat cantik malam ini dengan gaun yang cocok melekat di tubuhnya. Ia dengan terburu-buru menghampiri gadis itu ingin memberikan pujian. Tapi sayang, hati dan mulut tak bisa selaras. Ia kembali menyakitinya dengan kata-kata tajam. Kata-kata yang juga melukai hati terdalam.
Romeo mengambil gelas yang berisikan alkohol dan meminumnya dengan cepat. Ia harus bisa menjernihkan pikirannya kembali. Dengan terburu Pria itu meninggalkan pesta dan pergi ke hutan menenangkan diri.
***
Romeo menyendiri menikmati suasana yang sepi. Semilir angin malam membuat dedaunan di hutan rimbun itu sedikit mengalun. Ia pergi dari Istana untuk menenangkan diri dan tidak ingin terlibat jauh dengan hingar bingar pesta, tak terlalu memekakkan telinga memang tapi cukup membuat dada Romeo sesak.
Bukan karena pesta tapi gadis itu.
Jika dulu ia diyakini akan menjadi Beta terkuat setelah Beta Christopher dengan segala taktik dan perencanaan yang matang. Tapi semakin lama ia semakin tak mengenali dirinya sendiri.
Dua kancing kemeja sudah dilepaskan, kemeja putihnya pun sudah digulung hingga siku menampilkan otot liat yang terpampang. Sedikit sentakan ia memukul pohon tua itu hingga membuat ruas jarinya memerah. Pohon tua yang ia dan teman lainnya jadikan sebagai rumah pohon adalah salah satu tempat kesukaannya. Dari atas sana ia bisa melihat bahkan memantau keadaan sekitar. Pohon besar dengan daun rimbun seolah menyembunyikan persinggahan itu.
“Kak,” panggil seseorang dari bawah sambil membawa buah anggur dan melemparkannya pada Romeo.
Romeo yang terkejut tapi karena refleksnya bagus, tak membiarkan buah kesukaannya itu jatuh dan berakibat hancur ke tanah. Ia mendelik kesal dan mengumpat.
“Kau tak perlu mengikutiku sampai sejauh ini, Jordan.”
“Aku hanya khawatir padamu saja. Apa itu salah?” tanya laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun. Dengan mudah dirinya ikut bergabung naik ke atas pohon.
Romeo mendengus sambil mengacak-acak rambut Jordan. “Jordan ....” Romeo menatap jauh ke depan membayangkan sesuatu.
“Apa kau pernah membayangkan bagaimana jika kau menjadi seorang rogue dan berbaur dengan manusia setiap saat?”
Pertanyaan yang membuat Jordan tersentak dan memandang kakaknya bingung. “Kau tak pernah berpikir untuk keluar dari pack 'kan, Kak?” tanya Jordan was-was melihat ekspresi Romeo yang tak terbaca.
Romeo hanya tertawa kecil ini hanya canda dan pertanyaan yang singgah di otaknya. Tak pernah sedikit pun ia berniat untuk meninggalkan pack dan semuanya. Mungkin jika dibandingkan, ia lebih memilih mati daripada meninggalkan pack. Pack yang sudah membesarkan namanya serta keluarganya.
“Lagi pula, untuk alasan apa aku meninggalkan pack dan menjadi rogue rendahan?” Romeo memakan anggur secara perlahan.
“Pikiranmu terlalu kolot, Kak. Tidak semua werewolf yang berbaur dengan manusia adalah rogue yang sebenarnya. Dan tak selalu rogue itu mengusik pack hingga membuat kekacauan. Banyak dari mereka yang memang sengaja meminta izin kepada para Alpha untuk pergi dan tinggal berdampingan dengan manusia," jelas Jordan.
“Semakin berkembangnya zaman kau tak selalu melulu menjadi seperti ini, Moongoddess menciptakan kita berdampingan dengan mereka supaya kita tak terlalu rakus begitu juga mereka,” tambahnya.
Romeo tertegun, senaif itu ‘kah dirinya?
“Coba kau ingat, kapan terakhir kali kau meninggalkan Black Forest untuk kesenanganmu sendiri tanpa embel-embel tugas yang kau dapat? Kapan terakhir kali kau berbaur dengan manusia lagi dengan jangka waktu yang lama?” Jordan menatap kakaknya. “Sudah lama sekali bukan, terakhir saat kau masih bersekolah.”
Benar, apa yang dikatakan adiknya memang benar. Romeo sudah terlalu larut akan kesetiaan yang selama ini diayomi. Tugas yang selalu ada setiap detiknya selama sepuluh tahun terakhir membuat dirinya terlalu larut dan melupakan kesenangan dirinya sendiri.
“Aku tidak iri padamu saat kau dipilih Alpha Jonathan untuk menjadi kandidat terkuat calon Beta, tapi yang aku takutkan kau berubah menjadi kejam ya ... seperti sekarang ini. Kau dan Alpha Nickholas adalah perpaduan yang pas." Jordan mengejek sambil membaringkan tubuhnya.
Dia ingat, saat dirinya sudah lulus sekolah dan pada saat itu berumur delapan belas tahun, Romeo dan teman-teman yang lainnya dipilih secara acak oleh Alpha Jonathan untuk dijadikan kandidat terkuat mendampingi calon Alpha berikutnya—Nickholas
Pemilihan itu dikarenakan Beta Christopher tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai satu anak yaitu Nona Noella.
“Aku mempunyai beberapa kandidat terkuat yang akan mendampingi Alpha Nickholas di kemudian hari menjadi seorang Beta.” Jonathan berbicara di hadapan segerombolan anak remaja laki-laki yang sedang bermain pedang di halaman istana.
Semua orang di sana hanya saling menoleh dan mendengarkan kelanjutannya.
“Menariknya adalah bahwa Alpha Nickholas sendiri yang memilih kandidat.” Jonathan yang melihat Nickholas hanya bisa memasang wajah datar.
“Danny, Theo, dan Romeo. Persiapkan diri kalian mulai sekarang, karena kalian akan dibimbing selama dua tahun untuk memantaskan diri. Satu di antara kalian akan dipilih menjadi Beta dan mendampingi Nickholas. Setelah itu, Calon Alpha dan Calon Beta akan mendapatkan pelajaran khusus selama kurang lebih empat tahun untuk mendalami kepemimpinan dan kekuasaan. Kalian mengerti?” teriakkan Jonathan membuat ketiga remaja itu mengangguk.
“Baik, Alpha.”
Romeo menyandarkan punggungnya di dinding kayu. “Kau baru saja menasihatiku, Adik Kecil?”
“Tidak, untuk apa aku menasihatimu kau yang tahu tentang dirimu sendiri dan masa depanmu.” Jordan melipat kedua tangannya di bawah kepala menjadi bantalan.
“Kau tak kembali ke istana?” tanya Romeo saat adiknya sudah menutup mata.
“Tidak, pesta yang membosankan menurutku walaupun tahun ini ada yang berbeda dengan semua orang apalagi para pelayan yang terlihat cantik-cantik.”
Romeo mengangguk.
“Kau sudah menemukan pasanganmu, Dan?” Mata Jordan terbuka mendengar pertanyaan itu.
“Belum,” jawabnya ikut menerawang.
“Tapi mungkin aku harus berkeliling dunia untuk menemukan mate-ku. Sebenarnya sedari dulu ada anggota pack yang aku suka.” Jordan tertawa kecil.
Romeo mengerutkan kening, tangannya mengelus ruas jemari yang memerah.
“Rena, aku menyukainya.” Senyum hangat yang Jordan berikan pada Romeo membuat pria itu terdiam.
Rena?
Jordan menyukai Rena? Adikku menyukai gadis itu?
Jantung Romeo berdetak cepat, dengan cepat ia melompat dari rumah pohon itu meninggalkan Jordan sendirian. Jordan yang melihat gelagat aneh kakaknya hanya bisa menyeringai kejam.
Menyedihkan.