Bab 1

Hampir satu dekade Rena tinggal di istana ini. Menikmati hari demi hari menjadi seorang pengabdi untuk Alpha Jonathan dan juga Luna Irene. Mereka berdua adalah pasangan yang disayangi oleh rakyat pack, karena memiliki integritas dan jiwa kepemimpinan yang tinggi.

Tapi, di tengah kebahagiaan yang melanda, ada saja orang yang merasakan iri pada kesempurnaan keluarga istana. Rena pernah mendengar dari obrolan salah satu teman pelayan, bahwa Alpha Nickholas—anak dari Alpha Jonathan—sebenarnya mempunyai seorang kembaran, yaitu Nickley. Nickley tewas dibunuh oleh kekasih saudaranya sendiri, Cecilia Zera. Hati mana yang tak remuk saat saudara kandung dibunuh tragis oleh seseorang yang sangat dicintai.

Ya, itu adalah sepenggal kisah tragis yang ditutup rapat oleh para penghuni pack ini.

Sambil melamun, Rena menyeka piring yang sudah dicuci. Namun, karena tangannya licin, dia tidak menyadari bahwa dia telah menjatuhkannya dan membuat keributan di dapur istana.

“Sudah kukatakan, Rena, bekerjalah dengan hati-hati!” Seorang wanita gempal dengan pakaian yang sama seperti dirinya berteriak dengan kasar.

“Maafkan aku, Bibi. Aku akan membereskan kekacauan ini,” jawab Rena dan langsung memunguti pecahan kaca.

Namun, jawaban Rena tidak membuat amukan Bibi Morin mereda. Wanita tua itu bahkan menginjak tangan Rena dan pergi begitu saja. Bahkan para omega yang lain pun tak mau turut membantu.

Sedikit meringis, ia mencabut pecahan kaca yang tersangkut di tangannya dan membawanya ke wastafel guna membersihkan luka. Ia mencoba untuk menahan, tapi ternyata air mata yang tak diinginkan itu jatuh juga. Ia tak ingin dianggap lemah, apalagi di hadapan teman-teman yang selalu menggunjingnya. Dengan segera ia menghapus cairan bening sialan itu.

 Meskipun ia seorang omega tetapi tak ada salahnya melindungi diri sendiri apalagi hatinya. Ia sudah cukup puas dengan perbuatan sang kepala dapur beserta penghuni lainnya, lebih dari sembilan tahun lamanya ia menikmati itu semua.

***

“Kau memang tak becus dalam bekerja, ya!” Tubuhnya didorong kuat menyebabkan keningnya terantuk pinggiran meja, kepalanya pusing seketika. Dengan cepat dirinya dipaksa bangun dan berhamburanlah rambut hitam yang tadi di gulung dengan rapi. Kepalanya sakit saat rambutnya ditarik kuat oleh Wendy, yang lain hanya bisa menonton tanpa niat memisahkan.

“Apa yang sudah terjadi?!” Bibi Morin yang tiba-tiba muncul menarik paksa tubuh Wendy agar menghentikan perseteruannya.

“Dia membersihkan lantai pun tak bisa, Bibi. Aku terpeleset karena lantainya terlalu basah.” Dengan nada berapi-api Wendy menjelaskan kronologi kejadian.

Perkataan itu membuat mata sipit Rena terbelalak, ia yakin sudah mengeringkannya tadi, tapi mengapa Wendy bisa terjatuh. 

“Cukup! Kembali bekerja semuanya. Dan kau Rena tak ada lagi jatah untuk makan malam!” Hukuman telak, siapa yang mampu menolak? Lagi. Hukuman yang menurutnya sudah melekat.

Kemudian, Rena menatap langit hitam yang disinari rembulan. Belum sepenuhnya purnama memang, tapi cahayanya mampu untuk menggantikan matahari. Perlahan, ia memejamkan mata guna menikmati sengatan lemah. Kaum werewolf seperti mereka selalu merasakan sengatan listrik yang mengalir di tubuhnya saat terkena sinar itu.

“Apa kau tak punya pekerjaan, selain tidur di bangku taman ini, hm!" Cibiran itu memasuki gendang telinga Rena. Dengan cepat ia membuka mata dan tergugup saat mengetahui siapa yang sudah berdiri di depan matanya.

Bukan ia tak mempunyai pekerjaan, hanya saja sekarang waktunya bagi pelayan untuk makan malam dan ia sedang dalam menjalani hukuman, kan?

“Be—Beta Romeo.” Dia menundukkan kepalanya dan bergegas berdiri untuk masuk ke dalam mansion.

“Maafkan aku ... aku akan masuk ke dalam.” Dengan langkah terburu Rena meninggalkan Romeo.

“Bagaimana jika aku benar-benar menolakmu, Rena?”

Langkah itu terhenti dan bahunya sedikit bergetar. Rena memegang dadanya nyeri. Romeo sudah sering mengatakannya tapi kenapa efeknya selalu sama.

Dengan agak tertatih ia memberikan kekuatan pada diri sendiri, Rena benar-benar meninggalkan Romeo sendirian dengan tangan yang terkepal.

Rena memasuki kamar lusuhnya, kamar yang hanya berukuran dua kali tiga meter dengan kasur yang sudah sangat tipis. Bangunan untuk para pelayan terpisah dari istana. Rumah yang ia tempati sebenarnya mewah tapi bibi Morin memberikan kamar bekas gudang yang sangat pengap untuknya.

Ditatapnya langit-langit plafon berwarna putih. Beta Romeo selalu berkata seperti itu bahkan ia sudah terlalu merasakan nyeri yang melanda akibat perkataan pria itu. Ia tahu alasan mengapa pria itu benci terhadapnya, karena dulunya ia seorang rogue. Beta Romeo adalah pria yang paling membenci kasta rogue. Bagaimana tidak, mereka hanya bisa merusak pack yang damai dan tenteram menjadi porak-poranda jika sedang berulah.

Pria itu, salah satu kepercayaan Alpha untuk mengurusi kedamaian pack, sekaligus merangkap menjadi Beta dengan segala urusannya. Tidak main-main menyangkut tugas dan kepercayaan, Beta Romeo benar-benar melakukan semua tugas itu dengan sangat apik tanpa kesalahan sedikit pun. Hanya tinggal satu tugas yang selama ini tidak bisa ia kerjakan dengan baik, mensterilkan istana dengan rogue yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini, Rena.

Matanya menutup menghilangkan semua bayangan serta perih yang semakin melanda perutnya.

*** 

“Rena Sayang, bisakah kau membuatkanku omelette setengah matang? Ah … ya, maksudku adalah lembut di bagian dalamnya.”

Rena yang merasakan rambutnya dielus hanya bisa menunduk. Ia rindu elusan ini. Bagaikan belaian kasih sayang ibu pada anaknya.

“Baik, Luna.” Rena dengan cepat memberikan apa yang Luna Irene inginkan, ia tak mau melakukan kesalahan lagi mengingat ia adalah biang kerok dalam dapur. Meskipun Luna Irene tak akan pernah memberikan cercaan sadis yang keluar dari mulutnya, tetap saja Rena tak ingin mengecewakan.

“Apa yang telah terjadi dan ada apa dengan keningmu?” Luna Irene menyingkap rambut yang menyembunyikan luka lebam itu. Rena sontak mundur menjauhi meja makan dan merapikan kembali rambutnya.

“Tidak apa-apa, Luna. Aku hanya kurang berhati-hati saat bekerja. Apakah ada yang ingin Anda inginkan lagi?” tanya Rena mengalihkan topik pembicaraan.

“Tidak, kau bisa pergi dan melanjutkan pekerjaanmu,” ucap Luna Irene sambil menggeleng, ia akan memberikan waktu lagi bagi Rena karena masih tak mau bersikap terbuka terhadap dirinya.

*** 

“Brengsek!” Romeo tak habis pikir kenapa banyak sekali rogue yang berkeliaran di wilayahnya. Entah bagaimana mereka bisa lolos sedangkan penjagaan sudah sangat diketatkan.

"Danny, kerahkan pasukan dari wilayah utara dan giring mereka menjadi satu. Aku akan ke wilayah barat bersama dengan Jack dan Albert!”

"Baik, Beta." Sambil bersiap-siap. "Apa tidak sebaiknya kita beritahukan Alpha terlebih dahulu, Beta?” tanya Danny.  

"Jangan! Biarkan kita urus sendiri. Jika ada hal yang mendesak dan tak dapat kita tangani kita langsung mindlink Alpha.”

Albert menghela napas gusar, sebenarnya masalah ini sudah masuk ke ranah menyulitkan. Tapi Beta tak mau mengadu pada Alpha. Tipikal Romeo.

“Jack, kau berpencarlah ke Barat bersama Albert dan teman yang lain. Aku akan menggiring mereka ke sana, aku yakin mereka tak akan pernah lolos.” Sedangkan yang lainnya mengikuti instruksi Romeo, karena warior lainnya yakin akan kemampuan Beta-nya.

“Jadikan mereka mainan terlebih dulu sebelum membunuhnya,” tambah Romeo diiringi seringai tajam. Dibalik sikap ramah dan bersahabatnya, ia tak pernah main-main jika ada yang mengganggu tugasnya.

Jade sudah mengambil alih tubuh kekar Romeo, serigala cokelat itu membelah hutan. Wajahnya sudah benar-benar tak tahan ingin bermain dengan mangsanya. Tubuh besar itu semakin lama semakin cepat, meninggalkan daun kering yang beterbangan seusai diinjak.

Hidungnya terlalu sensitif untuk mencium aroma yang memuakkan. ”Aku berada di tiga kilometer arah kalian,” ucap Jade pada teman se-timnya.

 Jade semakin jelas melihat tiga ekor Rogue yang saat ini ia yakini sedang dalam kondisi waswas, karena menunggu kehadirannya. Kakinya berjalan perlahan dan mengintai mereka yang saat ini belum mengetahui dirinya telah bersembunyi di balik pohon.

Kalian salah jika berhadapan denganku. Dengan sekali gerakan, Romeo mencakar dua sekaligus mata musuhnya dan dalam sekejap mengalirkan darah segar. Jade menyeringai ngeri melihat koyakkan itu. Terlalu ringan untuk sang penyusup di dalam pack.

Serigala merah itu tak terima saat temannya menjadi bulan-bulanan sang Beta. Dengan cepat ia memberikan cakaran pada wajah Jade dan berakhir kosong. Jade menghindar lebih dulu tanpa ada perlawanan berarti.

Geraman ketiga serigala itu dibalas dengan tenang oleh Jade dan Romeo. Mereka terlalu percaya bisa melawannya yang seorang diri. Dengan sekali sentakan, goresan tangan Jade sudah berada di punggung serigala merah. Raungan khas kesakitan tak pelik membuatnya kasihan dan malah memacu adrenalin yang berada dalam dirinya.

Dengan santai Jade meninggalkan mereka dengan berlari pelan. Wajahnya menyeringai karena ini adalah saatnya.

Merasakan hawa panas yang berada di belakangnya, Jade berlari kencang membiarkan mereka mengejarnya. "Kalian bersiaplah."

"Kami juga sudah menunggu, Beta."

Jade menghindar saat ketiga serigala itu mencoba untuk menerjang punggungnya. "Konyol."

Mendengar perkataan Sang Beta, serigala merah itu semakin brutal mencoba untuk mencari celah melukai Jade. Goresan cakar serigala merah itu mengenai sedikit pergelangan kaki Jade tapi itu tak membuat gerakannya melambat.

Sebentar lagi.

Jade akhirnya menemukan rogue yang lain, entah berapa jumlahnya, ia tak sempat menghitung. Dirinya hanya terfokus pada ketiga serigala yang sekarang sudah masuk perangkapnya.

Setelah sampai, Jade berlari memutar mengambil posisi yang sudah ditentukan. Para rogue pun mengumpat tak percaya bahwa mereka sudah dipermainkan seperti ini. Mereka sebentar lagi menjadi santapan para prajurit yang sudah mengelilinginya, mencoba mencari cara bagaimana keluar dari jebakan.

Jade berjalan mendekati serigala merah yang diketahui sebagai pimpinan kelompok mereka. Jade mengaum di depan wajahnya guna menunjukkan eksistensi siapa yang berkuasa sekarang. Dengan keadaan tak siap Jade menggoreskan seluruh cakarnya di tubuh serigala merah, begitu juga prajurit yang lain. Pertarungan tak bisa dielakkan, meskipun Jade, dan lainnya tahu bahwa mereka akan menang. Tapi tetap saja rogue tetaplah rogue, mereka adalah perusak.

Detik terakhir itu juga Jade mengambil paksa jantung serigala merah dan membuangnya sembarang arah. Pekikan dan rintihan kesakitan tak dipedulikan mereka. Hanya satu yang Jade inginkan memangkas habis rogue yang berada di wilayahnya.  

***

“Apa kau baik-baik saja, Rome?” Albert sedikit meringis saat melihat Romeo berjalan pincang.

“Naiklah ke punggungku,” tawar Albert saat ingin berubah diri. Romeo hanya tersenyum mendengar temannya sangat khawatir.

“Tenang saja, aku tak apa. Hanya goresan kecil.” Albert dan Jack pamit pergi saat Alpha Jonathan menghampirinya.

“Ada apa dengan kakimu, Rome?”

Romeo menundukkan kepala sambil memberikan hormat pada Alpha-nya. Ia sedikit meringis merasakan kakinya yang sedikit kram. “Tadi sempat ada gerombolan rogue yang mampir di wilayah kita, Alpha. Tapi mereka sudah kami bereskan.” Senyum semangat dan puas masih tergambar di wajah Romeo. Ya, ia sangat puas hari ini.

Alpha Jonathan menepuk hangat kepala Beta kecilnya yang sudah dianggap sebagai anak sendiri. Ia sangat bangga terhadap Romeo. Pria itu memang pantas bersanding dengan Nickholas. Perpaduan yang pas.  

“Rena, kemari, Nak.” Jonathan yang melihat Rena tak jauh dari dirinya—sedang menyiram bunga—memanggil untuk mendekat. Tanpa berpikir dua kali Rena memutar kran dan menaruh selang air untuk menghampiri kedua pria beda generasi itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Alpha?” ucap Rena tanpa melihat Romeo yang sudah memalingkan wajahnya.

“Aku minta tolong padamu, obati Romeo dia baru saja bertarung dengan rogue.”

Rena yang baru saja mendengar penjelasan Jonathan hatinya langsung berdenyut nyeri, pria itu selalu bertarung dan akan tetap selalu menang. Rena melihat kaki kanan Romeo yang terluka, memang tidak besar tapi cukup dalam bahkan darahnya pun sudah hampir mengering.

“Baik Alpha, saya akan membuat obatnya terlebih dulu.” Rena berkata.

Romeo mendesah lega saat Jonathan sudah meninggalkannya di bangku taman. Ia menutup matanya sebentar menikmati angin sore yang berembus.

Sudah dua hari Alpha Nickholas meninggalkan pack untuk urusan mendesak, mau tidak mau pack menjadi tanggung jawabnya meskipun Alpha Jonathan turut membantu. Tapi tetap saja, dia tidak bisa terpaku oleh Alpha Jonathan terlalu sering. 

Matanya terbuka saat gadis itu menghampiri dengan membawa baskom dan kotak yang ada di tangan.  

“Maaf.”

Romeo merasakan kakinya ditaruh ke bangku panjang dan Rena bersimpuh menyejajarkan tubuhnya agar bisa menggapai kaki Romeo. Romeo yang melihat itu hanya bisa terdiam terpaku. Kakinya sedang dibersihkan oleh seorang pelayan yang tanpa mau menatap matanya.  

“Rena Schaaci.”

Rena yang mendengar namanya disebut lengkap menghentikan usapan pada kaki Romeo dan meremas kuat kain putih yang sudah berganti warna menjadi merah.  

“Kau tahu, Rena? Kau di mataku bagaikan apa, hm?”

Rena yang mendengarkan itu mencoba mengabaikan ucapan Romeo dan lebih memilih untuk menaburkan bubuk hijau di atas luka Sang Beta. Dengan hati-hati Rena menaruh kapas agar bubuk itu tertutup dengan sempurna.  

Tangannya dengan luwes menutup luka di kaki berotot Romeo dengan kasa putih.

“Sampah. Kau di mataku bagaikan sampah, Rena.”

Sudah cukup Rena menahan butiran air matanya, dadanya terlalu sakit saat mendengar ejekan bahkan hinaan yang Beta Romeo lontarkan untuknya. Dengan menghapus bulir air mata yang masih mengalir, ia tetap melanjutkan membalut luka itu dengan hati-hati tak ingin Romeo merasakan sakit. Jemarinya semakin bergetar saat memilin kasa yang hampir habis itu sebagai tindakan akhir.

Perlakuan Rena tak lepas dari mata tajam milik Romeo. Wajah itu semakin berkerut hingga alis tebalnya bersatu. Rena menangis dalam diam tanpa suara, hanya butiran air mata yang masih setia menunjukkan padanya yang sesekali dihapus oleh tangan kurus itu.

“Apa kau masih terlalu percaya diri untuk tinggal di sini, ha?!” Rena berdiri membawa peralatan tadi tanpa menatap Romeo.

“Aku pamit undur diri, Beta.”

Sekali lagi, Romeo ditinggalkan sendiri oleh punggung ringkih itu dengan wajah dan mata yang sembab.

***

Sudah tak tahu seperti apa yang Romeo lakukan, ia selalu melihat cercaan dan hinaan yang pelayan lain  lontarkan pada Rena. Ia pun sama saja, mereka tak ada bedanya. Ia menghela napas gusar, memikirkan ini sudah bertahun-tahun tapi tak kunjung selesai juga. Rena selalu tak membalas perkataan apa yang sudah di dengarnya. Perempuan itu selalu diam tanpa respons. Seakan ia memang ditakdirkan untuk tuli.

Telapak tangannya terbuka dan menutup dengan durasi lambat. Merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Tangan yang sudah membunuh entah berapa ratus rogue dalam sepuluh tahun terakhir. Apakah ia mampu juga membunuh Rena menggunakan tangannya, mengingat gadis itu dulunya seorang rogue?

Ia bisa melihat gadis tertutup itu yang selalu menyendiri tanpa adanya teman. Tidak akan bersuara jika tidak ditanya. Romeo juga sebenarnya tak akan menyangkal dengan pesona Rena yang cantik. Mata yang lain daripada yang lain, kulitnya putih, dan wajah yang selalu menunduk. Jangan lupakan tubuh yang kurus itu. 

"Bagaimana cara melenyapkannya, Jade?" 

Serigala yang ditanya pun hanya mendesah pasrah. Ya watak mereka sama. Ingin melenyapkan Rena sedari dulu. "Aku tak tahu, Rome."  Hanya itu yang Jade katakan jika Romeo sudah lelah mencari cara bahkan tak berhasil. Karena memang tak pernah ia mulai.

Apakah Rena tak pernah menyerah dan pernah memikirkan hatinya yang selalu sakit setiap hari, karena orang-orang di istana ini. Seharusnya perempuan itu menyerah saja dan keluar dari pack ini dengan cara berbaur dengan manusia di luar sana. Itu akan membuat tugasnya selesai dan tidak ada ganjalan yang masih menyangkut di pikirannya.

Ia masih ingat sembilan tahun lalu tepatnya di sisi Barat wilayah penjagaan di mana gadis kecil ditemukan oleh warior-nya.

“Beta ada seorang gadis kecil di Barat. Bisakah kau kemari.” Romeo yang saat itu sedang berlatih dengan warior yang lain segera bergegas menghampiri Jack.

“Tahan dia untuk tetap di sana, Jack.”

Gadis kecil siapa yang berani masuk ke wilayahnya seorang diri tanpa penjagaan dari orang tua. Jikalau memang ia rogue, dirinya tak segan-segan untuk menghabisi saat itu juga.

Romeo melihat gadis kecil sedang duduk di tanah bersama Jack dan Theo. Ia melihat Jack dan Theo memberikan makanan pada gadis itu sambil mengobrol. Ia semakin mengerutkan keningnya saat dadanya berdebar-debar dan keringat dingin membasahi keningnya.

Romeo berjalan menghampiri mereka dengan perlahan, matanya masih terfokus pada mata sipit aneh gadis itu. “Di mana kalian menemukan anak kecil ini?” Suara bariton nan dalam itu mengagetkan Rena. Tanpa menduga juga kalau makanan di tangannya terjatuh. Ia beringsut mundur mendekati sisi pohon meminta perlindungan. Raut muka yang ketakutan dan memerah membuat Romeo semakin jengkel pada gadis itu.

“Beta, kami menemukannya di sini.”  Jack segera berdiri diikuti oleh Theo.

Romeo menatap tajam dan jeli pada gadis itu. Gaun kuning itu sobek dimana-mana dan banyak sekali kotoran di sana. Apakah benar gadis ini serigala liar, tapi jika bukan kenapa tidak ada ciri khas aroma pack yang menguar di tubuh gadis ini.

Romeo segera mengeluarkan belati di kantong celananya, membuat anak kecil itu semakin takut dan terisak lirih.

“Tidak—tidak … kumohon jangan bunuh aku ....”

Jika saja ia membunuh Rena sedari awal tanpa diketahui Beta Christopher, sudah dipastikan ia tak akan pernah melihat wajah putih pucat itu lagi.

Hatinya berdenyut nyeri mengingat itu semua.

Matanya melalang liar memperhatikan kamarnya. Ia bukan pria munafik dan juga pria yang baik-baik  Di umurnya yang sudah kepala tiga, pasti mendambakan pasangan sempurna yang selalu siap memberikannya kepuasan. Apalagi dia belum pernah merasakan apa itu kenikmatan duniawi, berbeda dengan Alpha Nick yang sudah biasa merasakan itu semua dengan perempuan berbeda.

Bab 2

“Bu, mereka mengatakan jika mataku aneh.” Perempuan kecil berusia tiga belas tahun itu merajuk pada Ibunya. Dirinya tak terima karena selalu dicemooh oleh teman sepermainan yang berada di desanya.

Sang Ibu hanya bisa tersenyum sambil tangannya memetik buah di kebun.

”Memang apa yang aneh. Bukankah mataku ini unik, ya.” Buah yang sudah dipetik Ibunya di keranjang, sesekali dimakan olehnya.

“Matamu memang unik, Rena. Karena kau memiliki mata seperti nenekmu. Ibu orang  Asia. Kau sudah tahu, kan?” Ibu Rena berjalan mencari anggur yang sudah masak, tangannya dengan telaten menggunting batang buah tersebut. Rena yang melihat Ibunya pun mengambil gunting yang berada di dalam keranjang dan mencoba membantu.

“Ambil yang berwarna ungu. Tinggalkan yang hijau.” Instruksi yang langsung dipatuhi oleh Rena tanpa adanya bantahan.

“Tapi mata kak Ben tidak sepertiku, Bu?” Ternyata masih berlanjut masalah ini.

Yura yang melihat punggung anaknya hanya bisa mendesah. Gadis kecil dengan rambut hitam kepang dua yang tertutup topi rotan itu selalu mempermasalahkan matanya, padahal tidak semua orang bisa mempunyai mata seperti itu. Tapi banyak yang menghina bahkan mengolok sebagai bukti jika ia tak normal. Seharusnya itu anugerah tersendiri bukan?

“Nikmati apa yang sudah diberikan, Sayang. Syukuri kita masih bisa hidup tanpa ada kekurangan.”

Rena kecil hanya bisa bergumam. Ego yang selalu ada di dalam dirinya kembali terusik. Teman-teman sekolah maupun di rumah selalu menghinanya ada yang bilang di sipit aneh ada yang bilang vampir karena kulit pucat meronanya. Dia kan bukan vampir tapi were ... upss! Rena memukul mulutnya gemas. Orang tuanya sudah mewanti-wanti jangan sampai identitas keluarga diketahui orang.

Mereka memilih tinggal di desa dan menjauhi segala macam kelompok—pack—dan berbaur dengan manusia. Karena Ibunya sering berkata, manusia sangat menyenangkan daripada kelompok werewolf.  

“Bu, ayah dan kak Ben belum pulang?” Tangannya memegang baju Ibunya sampai di halaman rumah.

“Sepertinya belum, mungkin kayunya belum terkumpul banyak.”

“Apa kau mau ikut ibu ke rumah paman Gill untuk menjual anggur?" Ibunya membawa gerobak berisikan anggur yang sudah dipanen sedari kemarin.

Rena yang sedang memberikan makanan hewan kesayangannya dengan daun menggeleng. “Aku ingin mengurus Didi-ku dulu, Bu.” Binatang bertelinga panjang itu terus saja mengunyah apa yang disodorkan Rena.

“Kalau begitu, kau tunggu di sini Rena. Jangan main ke sungai, berbahaya.”

“Ibu sudah memberitahuku ribuan kali, jika Ibu lupa.” Rena menggendong binatang berbulu putih itu. Sebenarnya ia mau sekali mandi di pinggiran sungai, apalagi kakaknya Ben selalu mengajaknya meskipun itu hanya tawaran kosong.

Rena menatap ke depan melihat aliran sungai  Rhein yang lumayan jauh dari halaman rumahnya. Sungai terpanjang yang melintasi beberapa Negara Eropa.

Sankt Goarshausen tepatnya di Desa Wellmich, Jerman. Sebuah desa yang penduduknya sekitar seribu orang dengan pemandangan yang masih asri juga bukit yang tinggi. Salah satu penghasilan dari penduduk desa ini adalah anggur. Anggur yang nantinya menjadi salah satu minuman termahal yang Jerman punya.

“Rena!” Gadis sebaya menghampiri Rena dan ikutan berjongkok memberikan Didi daun. “Kau sudah mengerjakan tugas?”

Rena membuka topi rotan dan menaruhnya di tanah berumput. Memasukkan Didi di kandangnya dan menutup rapat. “Sudah, dong, aku kan pintar.” Dengan cengiran yang membuat mata itu terlihat hanya segaris membuat Harriet mengerucut.

“Bisakah kau mengajarkanku, Ren?” Harriet memohon iba sambil menggoyang-goyangkan badan Rena yang sudah terduduk di bangku panjang.

Rena yang mendengar permintaan temannya memikirkan dengan cara mengetuk-ketuk dagu. “Tapi ada syaratnya, bagaimana?”

Harriet yang ikut di duduk di bangku pun mengangguk setuju. Apa pun akan dipenuhi asal guru menjengkelkan itu tak memarahinya.

“Tetap menjadi temanku, Harry.” Rena menaik turunkan alisnya. Membuat Harriet melotot tak percaya, semudah itukah?

“Kan aku memang temanmu.” Harriet ingat, tak semua teman sebayanya yang mau menerima Rena. Harriet memegang tangan Rena dan berkata, “Aku selalu menjadi temanmu selamanya.” Dan Rena menganggap itu sebagai janji sampai mati.

***

Di Senin pagi. Siapa yang menyukai hari Senin? Di mana semua orang diharuskan memulai kegiatan. Rena merengut kesal saat memakan roti yang sudah tersaji di piring.

“Kak, nanti aku berangkat bersama Harriet saja ya, pinta Rena memelas.

“Kenapa tidak mau bersama Kakak?” Ben menambahkan selai cokelat pada rotinya.

“Aku hanya ingin berbicara pada Harriet. Ya berbicara padanya.”

“Baiklah.”

Tanpa menunggu lagi, ia langsung berpamitan pada Ibu dan Ayah serta mengambil tas ranselnya.

“Kau tahu, Ren. Brandon kemarin mengatakan cinta pada Ursula.” Rena yang mendengar cerita dari Harriet pun menghentikan langkahnya dan terkejut heboh.

“Bagaimana bisa!? Brandon kan seumuran dengan kakakku, sedangkan Ursula dia seumur kita. Mereka berbeda jauh bayangkan Harry, lima tahun. Brandon seperti paedofil ya.” Rena tak habis pikir bagaimana bisa teman kakaknya mencintai gadis yang jauh di bawah umurnya. Mereka memang remaja kecil yang akan beranjak dewasa tapi tetap saja terasa aneh.

“Namanya cinta, Rena. Biarkan saja mereka menjalin cinta di usia muda.” Ya Harriet adalah salah satu manusia yang melankolis. Rena menyetujui itu.

Jangan sampai mate-ku berumur yang berada jauh di atasku. Rena bergidik ngeri mengingat itu semua.

***

“Hai, mata aneh. Seharusnya kau melakukan operasi yang membuat matamu seperti manusia normal.” Elisha tertawa bahagia disambut teman yang lain.

Rena yang melihat dan mendengar itu hanya memutar bola matanya jengah dan membalikkan lembar buku yang masih dibacanya meskipun sudah tidak fokus.

“Apakah kau tak mempunyai biaya untuk melakukan operasi?” Elisha memutar rambut pirang bergelombangnya. Sebenarnya ia jengah jika harus seperti ini, tapi jika ia mengamuk ia takut tak bisa terkontrol.

“Elisha Si Ratu Drama, bisakah kau diam sejenak. Telingaku sakit mendengar mulut bawelmu sedari dulu. Lagi pula yang seharusnya operasi itu kau, melihatmu yang tak pernah bisa menghafal pelajaran dengan benar.”

Telak. 

Pekikan jeritan, siulan dan cercaan teman sekelas membuat Elisha bungkam. Ia tak habis pikir ternyata Rena bisa membuat malu dirinya dalam sekejap. Dengan emosi dan muka memerah, Elisha keluar dari kelas di temani dua pembantu—eh temannya.  

***

Rena tersenyum tipis saat mengingat kejadian itu, kejadian yang tak pernah ia lupa seumur hidup. Masa remaja kecil yang membuat ia tampak egois karena perkataannya tanpa maksud menyinggung Elisha sedikit pun. Setelah kejadian itu Elisha tak pernah mau lagi berbicara bahkan mengejeknya, tapi tidak teman-teman yang lain. Mereka tetap saja mengejeknya. Menyebalkan.

Seharusnya pada saat itu juga ia meminta maaf pada Elisha dan menjalin pertemanan yang baik. Tapi setelah mengingat Elisha adalah orang nomor pertama yang selalu gencar menghinanya, ia tak pernah melakukan permintaan maaf itu sampai sekarang.

Rena menghela napas, kenangan yang indah bukan di mana saat semua orang masih ingin bermain dengannya tapi dengan cara yang berbeda.

“Luna.”

“Kemari, Nak.” Luna Irene membawa Rena duduk di sofa dan membuka bungkusan berwarna merah muda itu.

Terpampang gaun cantik berwarna putih yang dihiasi pita di pinggangnya. Membuat Rena tampak takjub dengan pemandangan di hadapannya. “Indah sekali, Luna." Ia tak sanggup memegang dan hanya melihat  tak ingin gaun itu kotor karenanya.

“Kau menyukainya?” Luna Irene senang melihat reaksi Rena. Rena mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.

“Kalau begitu, ini untukmu.” Luna Irene memasukkan gaun itu ke tas kertas dan memberikannya pada Rena. Rena yang melihat kantong kertas itu hanya menggeleng dan tak terima. Bagaimana bisa Luna-nya memberikan gaun yang semewah itu untuk dirinya.

“Terima, Rena. Ini perintah!” Tegas. Luna Irene baru kali ini berbicara seperti itu padanya, membuat Rena terkesiap dan tangan bergetar.

“Pakai gaun ini malam nanti, akan ada acara ulang tahun pernikahanku. Kau sudah tahu itu kan?!” Tanpa menerima penolakan dari Rena, ia berdiri dan berjalan angkuh meninggalkan Rena yang masih menatap baju itu kosong.

Irene bukan marah padanya hanya saja ia tak mau melihat Rena yang setiap hari selalu tertutup dan memojokkan diri sendiri. Ia selalu mengamati gadis itu, gadis yang disayangi seperti anaknya sendiri. Jika saja Jonathan mengizinkan Rena untuk ia asuh sebagai anak angkat, bisa dipastikan Rena selalu bahagia.

Saat di mana Rena datang ke dalam wilayah packnya dan membuat gempar seisi istana karena diperbolehkannya seorang rogue tinggal di dalamnya. Tapi itu perintah mutlak dari Jonathan dan disetujui Christopher. Jika memang Rena tak mau dibunuh ia harus menjadi pelayan untuk istana ini.

“Tapi ia masih kecil, Jo.” Irene terisak melihat pakaian compang-camping Rena yang sangat tak layak pakai.

“Iya atau tidak, Irene!” Bagaimana bisa seorang anak kecil membuat dirinya dan istri bertengkar.

Irene memegang bahu Rena melihat manik mata yang kosong seolah ia siap kapan saja dieksekusi.

“Kita tidak tahu apa yang akan diperbuat di suatu hari nanti, mengingat ia adalah rogue.” Jonathan selalu berpikiran matang. Ia tak ingin ada masalah apa pun dalam wilayahnya.

“Aku bisa merasakannya ia adalah anak baik, Jo. Kau pun bisa merasakannya ‘kan, Sayang.” Pecah sudah tangis Irene ia tak percaya jika suaminya akan menjadikan Rena sebagai pelayan  di umurnya yang masih kecil, seharusnya Rena mengenyam pendidikan.

Jonathan menghela napas lelah, sebagai seorang Alpha ia ditugaskan untuk menjaga miliknya dari segala macam bahaya. Tapi jika dilihat dari sisi orang tua ia tak mungkin tega membiarkan Rena menjadi pelayan di usia muda. “Biarkan ia belajar seperti anak pelayan yang lain. Katakan pada Morin jangan terlalu keras pada Rena alasannya karena ia masih kecil. Kau bisa memantaunya dari jauh Irene. Dan juga jangan kau tunjukkan ketidakadilan antara Rena dan yang lain.”  

“Setelah dia dewasa jadikan dia pelayan pribadi untuk pasangan Nickholas.” Tanpa menerima bantahan apa pun dari Istrinya, ia meninggalkan Irene yang memeluk tubuh Rena.

Irene tak bisa membantah lagi, perintah Jonathan termasuk adil untuk Rena.

Bab 3

Suasana istana tampak ramai. Banyak anggota keluarga dan kerabat yang hadir. Dengan menggunakan konsep serba hitam dan putih, membuat pesta ini terlihat mewah dan elegan.

Ternyata tidak hanya Rena sendiri yang memakai gaun, pelayan lain pun memakainya. Mereka serasi dengan pakaian yang berwarna putih hanya saja motifnya yang berbeda. Mungkin Luna Irene ingin membuat malam ini sempurna. Tetapi Rena tahu bahwa gaun yang diberikan Irene sangat berbeda dengan yang lainnya, apakah ini khusus.

Seketika kepercayaan dirinya luntur, ia tak pantas memakai pakaian mewah seperti ini. Seharusnya ia sama seperti teman yang lainnya. Tapi jika ia tak memakainya bisa saja Luna Irene benar-benar marah.

“Rena ... Rena ... Rena.” Wendy dengan gaya angkuhnya berdiri di depan Rena dan memperhatikan gaun dari atas sampai bawah. Matanya terbelalak saat gaun Rena berbeda dari miliknya. Padahal sama-sama dari pemberian Luna Irene.

“Dapat dari mana kau gaun mewah ini?" Tangannya menyentuh kain putih itu dan merasakan kehalusan di sana.

Rena sontak mundur tak membiarkan pakaiannya dikotori oleh tangan Wendy.

“Luna Irene.”

Jawaban singkat itu membuat tangan Wendy mengepal dan mukanya memerah. Ia pergi meninggalkan Rena tanpa mau terlibat lebih jauh. Suara entakkan heels memenuhi telinga  dan diabaikan. Biarlah Wendy berasumsi dengan pikirannya sendiri.

Rena melangkah memasuki ruang utama yang dijadikan acara malam ini. Ruang yang sudah disulap menjadi tempat terindah yang didominasi hitam dan putih. Kakinya yang memakai heels tidak terlalu tinggi mencari sang raja dan ratu dalam cara ini. Ingin mengucapkan selamat dan meminta maaf kepada Luna Irene soal kejadian siang tadi. Matanya mengedarkan ke penjuru ruangan, ruangan yang sudah dipenuhi oleh tamu dan kerabat.

“Rena, kau sangat cantik.” Suara berat menginterupsi, ia melihat Theo melihatnya dari atas hingga bawah. Pria dengan rambut panjang yang diikat itu tersenyum geli.

“Terima Kasih, Theo.” Rena sedikit menarik bibirnya, matanya masih mencari Luna Irene berada.  

“Kau sedang mencari Luna Irene ?” tanya pria itu.  

Hanya gumaman yang membalas perkataan Theo.  

“Alpha dan Luna belum terlihat dari tadi. Mungkin masih bersiap-siap.”  Rena menatap mata cokelat Theo dan menganggukkan kepalanya, kemudian pergi dari hadapan Theo tanpa berbicara lagi.

Theo geram melihat kelakuan pelayan itu, sungguh gadis yang tak mengerti etika. Ia sudah bersikap baik untuk menyapa tapi balasan gadis itu membuatnya menahan emosi.

***

Rena menatap pasangan paruh baya yang sedang tertawa itu memotong kue berwarna putih yang kira-kira mencapai tinggi satu meter lebih. Terlihat raut wajah Luna Irene sangat bahagia berdampingan dengan Alpha Jonathan. Setiap tahun mereka melakukan acara ini, tapi mungkin di tahun ini adalah tahun yang spesial. Di mana seluruh tamu menggunakan pakaian yang sama begitu juga dengan pelayan. Tak ada kasta yang terlihat saat ini, semua sama.

Rena mengulum bibirnya saat mencium wangi kayu manis yang mendekatinya. Jantungnya selalu berdebar jika pria itu menampakkan eksistensi saat berada tak jauh darinya. Matanya masih menatap lurus ke depan, membiarkan pikiran serta gejolak yang sudah bersemayam. Ia sudah biasa.

“Mereka selalu terlihat bahagia.” Suara berat itu memenuhi gendang telinga Rena setelah sekian menit sang pria berdiri di sampingnya.

Rena membenarkan toh seperti itu kenyataannya.  

“Apa kau bahagia?” Rena sedikit mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Romeo.

“Selama sembilan tahun kau di sini aku tak pernah lagi merasakan kebahagiaan itu, Rena. Kau sudah mengubahku.”

Rena mengelus kedua lengannya yang tak tertutup baju, menghantarkan sedikit rasa hangat. Jika berhadapan dengan pria ini, ia selalu seperti tersiram air es sangat menyakitkan. Rena tak menjawab, ia semakin mendengarkan apa yang Romeo sampaikan.

“Tidak puaskah kau menyiksaku seperti ini?” Suara lirih Romeo membekukan tubuh Rena. Benarkah selama ini ia menyiksa Romeo? Bukankah sebaliknya.

“Pergilah Rena. Jangan kau tampakkan muka menyedihkanmu itu di depan mataku lagi.” Suara itu semakin memelas.

Rena masih menatap lurus ke depan, melihat Luna Irene menyuapi kue yang tadi dipotongnya pada anaknya, Alpha Nickholas.

“Aku selalu mengingat kata-katamu, Beta Romeo. Ada saatnya aku pergi dari hadapanmu sesuai permintaan. Saat di mana itu terjadi mungkin kau tak akan pernah lagi melihatku sudah berbeda.” Rena berjalan menghampiri Luna Irene menghapus setitik air mata yang sempat jatuh.

Dada Romeo berdenyut nyeri tangannya meremas tuksedo dengan keras. Apakah Rena akan menuruti permintaannya? Apakah ia siap jika gadis itu benar-benar pergi dari hadapannya sesuai permintaan?

Sejak tadi ia memperhatikan Rena yang berdiri sendiri tanpa ada yang mau menyapanya. Ia sedikit bangga, Rena terlihat sangat cantik malam ini dengan gaun yang cocok melekat di tubuhnya. Ia dengan terburu-buru menghampiri gadis itu ingin memberikan pujian. Tapi sayang, hati dan mulut tak bisa selaras. Ia kembali menyakitinya dengan kata-kata tajam. Kata-kata yang juga melukai hati terdalam.

Romeo mengambil gelas yang berisikan alkohol dan meminumnya dengan cepat. Ia harus bisa menjernihkan pikirannya kembali. Dengan terburu Pria itu meninggalkan pesta dan pergi ke hutan menenangkan diri.

***

Romeo menyendiri menikmati suasana yang sepi. Semilir angin malam membuat dedaunan di hutan rimbun itu sedikit mengalun. Ia pergi dari Istana untuk menenangkan diri dan tidak ingin terlibat jauh dengan hingar bingar pesta, tak terlalu memekakkan telinga memang tapi cukup membuat dada Romeo sesak.

Bukan karena pesta tapi gadis itu.

Jika dulu ia diyakini akan menjadi Beta terkuat setelah Beta Christopher dengan segala taktik dan perencanaan yang matang. Tapi semakin lama ia semakin tak mengenali dirinya sendiri.

Dua kancing kemeja sudah dilepaskan, kemeja putihnya pun sudah digulung hingga siku menampilkan otot liat yang terpampang. Sedikit sentakan ia memukul pohon tua itu hingga membuat ruas jarinya memerah. Pohon tua yang ia dan teman lainnya jadikan sebagai rumah pohon adalah salah satu tempat kesukaannya. Dari atas sana ia bisa melihat bahkan memantau keadaan sekitar. Pohon besar dengan daun rimbun seolah menyembunyikan persinggahan itu.

“Kak,” panggil seseorang dari bawah sambil membawa buah anggur dan melemparkannya pada Romeo.

Romeo yang terkejut tapi karena refleksnya bagus, tak membiarkan buah kesukaannya itu jatuh dan berakibat hancur ke tanah. Ia mendelik kesal dan mengumpat.

“Kau tak perlu mengikutiku sampai sejauh ini, Jordan.”

“Aku hanya khawatir padamu saja. Apa itu salah?” tanya laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun. Dengan mudah dirinya ikut bergabung naik ke atas pohon.

Romeo mendengus sambil mengacak-acak rambut Jordan. “Jordan ....” Romeo menatap jauh ke depan membayangkan sesuatu.

“Apa kau pernah membayangkan bagaimana jika kau menjadi seorang rogue dan berbaur dengan manusia setiap saat?”

Pertanyaan yang membuat Jordan tersentak dan memandang kakaknya bingung. “Kau tak pernah berpikir untuk keluar dari pack 'kan, Kak?” tanya Jordan was-was melihat ekspresi Romeo yang tak terbaca.

Romeo hanya tertawa kecil ini hanya canda dan pertanyaan yang singgah di otaknya. Tak pernah sedikit pun ia berniat untuk meninggalkan pack dan semuanya. Mungkin jika dibandingkan, ia lebih memilih mati daripada meninggalkan pack. Pack yang sudah membesarkan namanya serta keluarganya.

“Lagi pula, untuk alasan apa aku meninggalkan pack dan menjadi rogue rendahan?” Romeo memakan anggur secara perlahan.

“Pikiranmu terlalu kolot, Kak. Tidak semua werewolf yang berbaur dengan manusia adalah rogue yang sebenarnya. Dan tak selalu rogue itu mengusik pack hingga membuat kekacauan. Banyak dari mereka yang memang sengaja meminta izin kepada para Alpha untuk pergi dan tinggal berdampingan dengan manusia," jelas Jordan.  

“Semakin berkembangnya zaman kau tak selalu melulu menjadi seperti ini, Moongoddess menciptakan kita berdampingan dengan mereka supaya kita tak terlalu rakus begitu juga mereka,” tambahnya.  

Romeo tertegun, senaif itu ‘kah dirinya?

“Coba kau ingat, kapan terakhir kali kau meninggalkan Black Forest untuk kesenanganmu sendiri tanpa embel-embel tugas yang kau dapat? Kapan terakhir kali kau berbaur dengan manusia lagi dengan jangka waktu yang lama?” Jordan menatap kakaknya. “Sudah lama sekali bukan, terakhir saat kau masih bersekolah.”

Benar, apa yang dikatakan adiknya memang benar. Romeo sudah terlalu larut akan kesetiaan yang selama ini diayomi. Tugas yang selalu ada setiap detiknya selama sepuluh tahun terakhir membuat dirinya terlalu larut dan melupakan kesenangan dirinya sendiri.

“Aku tidak iri padamu saat kau dipilih Alpha Jonathan untuk menjadi kandidat terkuat calon Beta, tapi yang aku takutkan kau berubah menjadi kejam ya ... seperti sekarang ini. Kau dan Alpha Nickholas adalah perpaduan yang pas." Jordan mengejek sambil membaringkan tubuhnya.

Dia ingat, saat dirinya sudah lulus sekolah dan pada saat itu berumur delapan belas tahun, Romeo dan teman-teman yang lainnya dipilih secara acak oleh Alpha Jonathan untuk dijadikan kandidat terkuat mendampingi calon Alpha berikutnya—Nickholas

Pemilihan itu dikarenakan Beta Christopher tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai satu anak yaitu Nona Noella.  

“Aku mempunyai beberapa kandidat terkuat yang akan mendampingi Alpha Nickholas di kemudian hari menjadi seorang Beta.” Jonathan berbicara di hadapan segerombolan anak remaja laki-laki yang sedang bermain pedang di halaman istana.  

Semua orang di sana hanya saling menoleh dan mendengarkan kelanjutannya.

“Menariknya adalah bahwa Alpha Nickholas sendiri yang memilih kandidat.” Jonathan yang melihat Nickholas hanya bisa memasang wajah datar.

“Danny, Theo, dan Romeo. Persiapkan diri kalian mulai sekarang, karena kalian akan dibimbing selama dua tahun untuk memantaskan diri. Satu di antara kalian akan dipilih menjadi Beta dan mendampingi Nickholas. Setelah itu, Calon Alpha dan Calon Beta akan mendapatkan pelajaran khusus selama kurang lebih empat tahun untuk mendalami kepemimpinan dan kekuasaan. Kalian mengerti?” teriakkan Jonathan membuat ketiga remaja itu mengangguk.

“Baik, Alpha.”

Romeo menyandarkan punggungnya di dinding kayu. “Kau baru saja menasihatiku, Adik Kecil?”

“Tidak, untuk apa aku menasihatimu kau yang tahu tentang dirimu sendiri dan masa depanmu.” Jordan melipat kedua tangannya di bawah kepala menjadi bantalan.

“Kau tak kembali ke istana?” tanya Romeo saat adiknya sudah menutup mata.

“Tidak, pesta yang membosankan menurutku walaupun tahun ini ada yang berbeda dengan semua orang apalagi para pelayan yang terlihat cantik-cantik.”

Romeo mengangguk.

“Kau sudah menemukan pasanganmu, Dan?” Mata Jordan terbuka mendengar pertanyaan itu.

“Belum,” jawabnya ikut menerawang.

“Tapi mungkin aku harus berkeliling dunia untuk menemukan mate-ku. Sebenarnya sedari dulu ada anggota pack yang aku suka.” Jordan tertawa kecil.

Romeo mengerutkan kening, tangannya mengelus ruas jemari yang memerah.

“Rena, aku menyukainya.” Senyum hangat yang Jordan berikan pada Romeo membuat pria itu terdiam.

Rena?

Jordan menyukai Rena? Adikku menyukai gadis itu?

Jantung Romeo berdetak cepat, dengan cepat ia melompat dari rumah pohon itu meninggalkan Jordan sendirian. Jordan yang melihat gelagat aneh kakaknya hanya bisa menyeringai kejam.

Menyedihkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED