Bab 1

Rania menatap bayangannya di cermin, memperhatikan setiap detail penampilannya yang kini terlihat berbeda dari biasanya. Gaun putih sederhana dengan sulaman halus membalut tubuhnya, tapi matanya memancarkan keraguan yang dalam. Hari ini adalah hari yang mengubah hidupnya, ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Hatinya bergejolak, antara menerima takdir dan ketidakpastian masa depan.

"Apa aku bisa melewati semua ini?" bisiknya dalam hati, sambil menyentuh ringan riasannya. Ini bukan pernikahan impiannya, tidak ada cinta, tidak ada persahabatan, hanya komitmen yang disusun oleh keluarga. Rania menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, dan melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang terasa semakin berat.

Sedetik kemudian, Mama Rania datang menghampiri dengan langkah pelan. Matanya berkaca-kaca, menahan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa bicara, beliau meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.

"Rania, Nak..." suara Mama Rania terdengar serak dan lembut. "Ibu tahu ini bukan mudah bagimu. Tapi percayalah, takdir Allah selalu yang terbaik, meskipun kadang sulit kita pahami. Terimalah dengan lapang dada, dan semoga nanti, seiring waktu, hatimu akan menemukan kebahagiaan."

Rania menatap ibunya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kehangatan tangan ibunya memberi kekuatan, meski hati masih bergemuruh. Ia mencoba tersenyum kecil, meski lemah, sebagai tanda ia mendengar dan memahami.

Mama Rania menghela napas panjang, berusaha menahan isak. "Nak, ada sesuatu yang belum sempat Ibu sampaikan ... Ini bukan hanya tentang perjodohan semata. Ini juga wasiat dari Papa sebelum beliau meninggal."

Mata Rania membesar, terkejut mendengar kata-kata itu. "Wasiat Papa?" tanyanya, suaranya bergetar. 

Mama Rania mengangguk pelan, air mata mulai jatuh. "Papa ingin kamu menikah dengan seseorang yang menurutnya bisa menjaga dan melindungimu. Dia sudah memikirkan ini jauh sebelum kepergiannya. Papa percaya, meskipun kamu belum mengenalnya sekarang, suatu hari kamu akan mengerti alasan di balik keputusan ini."

Rania terdiam, dadanya sesak. Kenyataan bahwa ini adalah keinginan terakhir ayahnya membuatnya semakin sulit untuk menolak. "Papa selalu ingin yang terbaik untukmu, Rania," lanjut mamanya dengan suara penuh kelembutan. "Mama harap kamu bisa menjalani ini dengan ikhlas. Percayalah, takdir Allah pasti indah pada waktunya."

Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang berkecamuk dalam dadanya. Genggaman tangan Mama yang hangat memberinya sedikit kekuatan. Ketika kakinya menginjak area tempat akad, tatapannya langsung tertuju pada sosok Yoga. Ia berdiri tegap di sana, tampak tenang dengan wajah penuh keyakinan. Laki-laki yang akan menjadi suaminya sebentar lagi, dengan segala kelebihan dan kekayaannya, tampak siap menghadapi momen sakral ini.

Hati Rania masih diliputi keraguan. Bukan karena ia tidak mengenal Yoga, tetapi karena pernikahan ini terjadi begitu cepat. Segalanya terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, di hadapan penghulu dan keluarga besar yang hadir, ia tahu bahwa inilah saatnya mengambil langkah besar dalam hidupnya.

Sang penghulu mulai memimpin prosesi dengan suara yang tenang dan penuh hikmat. Yoga mempersiapkan diri untuk melantunkan ijab kabul. Suasana seketika hening, seluruh perhatian tertuju pada momen paling penting itu.

Di tengah keheningan yang khidmat, penghulu membuka prosesi dengan kalimat bismillah, diikuti dengan beberapa penjelasan singkat mengenai makna pernikahan. Setelah itu, ia mempersilakan Yoga untuk memulai ijab kabul.

Dengan napas dalam yang hampir tak terdengar, Yoga menatap lekat pada wali Rania. Suaranya tegas tapi penuh hormat saat ia mengucapkan:

"Saya terima nikahnya Rania binti Hendra dengan mas kawin tersebut, tunai."

Seketika, suara saksi dan hadirin yang hadir pun mengikuti, mengucapkan tanda persetujuan, "Sah."

Momen itu seakan berhenti sejenak. Yoga menundukkan kepala, menghela napas lega. Rania, yang mendengar kalimat itu, merasa dunia di sekitarnya mengabur. Hatinya bergetar, antara kebahagiaan dan ketidakpastian yang selama ini menyelimutinya perlahan mulai tersibak. Ia kini resmi menjadi istri Yoga, dan sebuah babak baru dalam hidupnya telah dimulai.

Setelah ucapan ijab kabul terlantun dan dinyatakan sah, Yoga hanya bisa menghela napas panjang, namun bukan napas lega seperti yang biasa dirasakan oleh pengantin pada umumnya. Alih-alih merasa bahagia, ada kekosongan yang sulit ia gambarkan. Senyum yang terukir di wajahnya hanya topeng, menutupi gelisah yang bersemayam di dalam hatinya.

Di benaknya, bayangan kekasihnya, seorang model ternama, terus muncul. Wanita yang ia cintai sepenuh hati, tapi tidak bisa ia nikahi karena desakan keras dari sang Kakek yang sangat berpengaruh dalam keluarganya. Kakek Yoga menginginkan Rania sebagai istri cucunya demi menjaga kehormatan keluarga dan memperkuat ikatan bisnis di antara kedua keluarga besar.

"Ini bukan kehidupan yang kuinginkan, tapi aku tidak punya pilihan." batin Yoga. 

Rania, yang duduk di sampingnya dengan pandangan ragu dan penuh harap, mungkin tidak tahu apa yang berkecamuk di hati Yoga. Ia hanya melihat sosok pria yang baru saja menjadi suaminya, tanpa mengetahui bahwa cinta pria itu berada di tempat lain, bersama wanita lain.

Dengan perasaan yang bercampur aduk, Yoga mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu, keputusannya untuk menikahi Rania adalah demi memenuhi kewajiban keluarganya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak bisa menipu dirinya sendiri bahwa pernikahan ini bukanlah apa yang ia inginkan.

Bab 2

Setelah acara ijab kabul selesai, suasana haru memenuhi ruangan. Rania dan Yoga melangkah perlahan mendekati orang tua mereka untuk sungkem. Rania menundukkan kepala, air mata tertahan di pelupuk mata, mencium tangan kedua orang tuanya dengan penuh takzim. Sementara Yoga, meskipun melakukan hal yang sama, ekspresinya tetap datar. Ia tampak menjalani prosesi ini dengan enggan, tanpa ada perasaan yang terpancar di wajahnya. 

Rania sudah memasrahkan semuanya. Meskipun pernikahan ini tidak dilandasi cinta, ia bertekad untuk menjalani tanggung jawab barunya sebagai seorang istri. Dalam hatinya, ia berharap bisa menemukan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian ini. 

Saat tiba gilirannya untuk sungkem, Rania berlutut di depan Mamanya dengan air mata yang tak lagi bisa ditahan. Ia menggenggam erat tangan sang mama, merasakan kehangatan yang selama ini selalu menemaninya. Suara Rania bergetar, mencerminkan pergulatan batinnya.

"Ma, maafkan Rania atas semua kesalahan yang pernah Rania lakukan. Terima kasih sudah selalu ada untuk Rania, dari kecil hingga saat ini. Rania mungkin belum bisa menjadi anak yang sempurna, tapi Rania akan berusaha menjadi istri yang baik, seperti Mama dulu."

Mamanya membelai lembut kepala Rania, air mata juga mengalir dari matanya. "Nak, mama selalu percaya padamu. Mama tahu ini tak mudah, tapi setiap langkah yang kamu ambil, mama akan selalu mendukungmu. Jalani semua dengan ikhlas, dan ingat bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Mama bangga padamu."

Sementara itu, di sudut ruangan, Yoga berdiri kaku di depan kakeknya yang bijaksana. Kakek yang tampak tegas tapi penuh kasih menyadari keraguan di mata cucunya. Ia menepuk pundak Yoga, lalu memberikan wejangan yang dalam suaranya menggema penuh makna.

"Yoga, menikah bukan sekadar memenuhi kewajiban atau tradisi. Pernikahan adalah amanah, tanggung jawab besar yang harus kamu jaga. Istrimu, Rania, sekarang adalah tanggung jawabmu. Mungkin sekarang kamu belum merasakan cinta itu, tapi pernikahan bukan hanya soal cinta. Ini tentang kesetiaan, kepercayaan, dan komitmen untuk saling mendukung. Cintailah dia dengan tindakanmu, perlakukan dia dengan baik. Jika kamu ikhlas, kebahagiaan akan datang, meski perlahan."

Yoga menunduk, menyerap setiap kata yang keluar dari mulut kakeknya. Meskipun masih ada keraguan di dalam hatinya, wejangan kakeknya itu membuatnya merenung lebih dalam tentang arti dari komitmen yang baru saja ia ikrarkan.

Yoga hanya bisa mengangguk lirih di depan kakeknya, meskipun hatinya bergejolak menolak keras pernikahan ini. Setiap kata yang diucapkan sang kakek terasa seperti beban tambahan di hatinya yang sudah penuh dengan konflik. Rania, wanita yang kini menjadi istrinya, bukanlah sosok yang ia cintai. Pernikahan ini bukanlah keinginannya, melainkan hasil dari tuntutan keluarga yang terus mendesaknya.

Dalam hatinya, Yoga bertekad untuk tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya saat ini, meskipun statusnya sekarang sudah tidak lagi sendiri. Ia merasa cinta sejatinya hanya kepada wanita itu, bukan kepada Rania. Baginya, pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas yang harus dijalani tanpa benar-benar melibatkan hatinya. 

Setiap kali ia melirik ke arah Rania, yang masih terlihat pasrah dan penuh harap, hatinya semakin kacau. Yoga tahu, apa yang ia rencanakan salah, tapi ia merasa tak sanggup melepas cinta yang selama ini ia perjuangkan dengan kekasihnya. Bahkan dalam situasi penuh tradisi dan harapan dari keluarganya, Yoga tak bisa menghindari hasrat untuk tetap bersama orang yang ia cintai, meski kini terjebak dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.

Setelah prosesi sungkeman yang penuh haru dan ritual, Rania dan Yoga digiring menuju pelaminan. Rangkaian bunga mewah dan dekorasi megah menyelimuti seluruh ruangan, menandai betapa besarnya pernikahan ini. Pernikahan yang tak hanya mengikat dua insan, tapi juga memperlihatkan kekuasaan dan kekayaan keluarga Yoga, yang dikenal sebagai salah satu keluarga terpandang dan kaya raya di kota itu. 

Kehadiran tamu-tamu penting dari kalangan pengusaha, pejabat, dan tokoh masyarakat menambah kemegahan acara. Semuanya serba gemerlap dan tertata sempurna, mencerminkan status Yoga sebagai pewaris tunggal dari kekayaan keluarga yang begitu besar.

Di kursi kehormatan, sang kakek, yang kini menjadi kepala keluarga setelah kedua orang tua Yoga meninggal dunia, memandang cucunya dengan tatapan tajam dan penuh harap. Dialah yang mengambil alih semua wewenang, termasuk memastikan pernikahan ini berjalan sesuai kehendaknya. Bagi sang kakek, pernikahan ini bukan hanya soal cinta atau perasaan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga martabat dan nama besar keluarga mereka.

Di atas pelaminan, Yoga dan Rania duduk bersisian, akan tetapi aura dingin di antara mereka tak dapat disembunyikan. Rania mencoba tersenyum tipis, meski hatinya masih penuh ketidakpastian, sementara Yoga hanya menatap kosong ke arah para tamu, pikirannya melayang jauh dari semua kemewahan yang mengelilinginya. 

Bagi Yoga, meskipun acara ini begitu mewah dan dipenuhi sorak sorai kebahagiaan, hatinya tetap terasa kosong. Kekasih yang ia cintai masih memenuhi pikirannya, dan pernikahan ini terasa seperti penjara yang membatasi dirinya dari kebahagiaan sejatinya. Namun, di hadapan keluarganya dan tamu-tamu yang datang, Yoga hanya bisa menahan semua perasaan itu, menyembunyikannya di balik senyum yang ia paksakan.

Setelah lama dalam kebisuan, akhirnya Yoga membuka suaranya, "Dengar Rania, pernikahan ini hanyalah status semata, aku tau kau juga tidak menginginkan pernikahan ini, bukan!" ucap Yoga tiba-tiba membuyarkan lamunan Rania. "Jadi bekerja samalah dan buat keluarga kita percaya kalau kita saling mencintai!" bisik Yoga lagi. 

Rania tersentak mendengar ucapan Yoga. Pikirannya yang semula melayang jauh kini dipaksa kembali pada kenyataan pahit yang dihadapinya. Ia menatap Yoga dengan mata yang masih dipenuhi kebingungan dan rasa sakit. 

"Jadi, bagimu pernikahan ini hanya permainan?" Rania berbisik lirih, mencoba menahan perasaannya. 

Yoga menghela napas panjang, lalu menunduk. "Bukan permainan, Rania. Ini adalah kenyataan yang kita hadapi sekarang. Aku tahu kau juga tidak menginginkan semua ini. Kita harus menjalani ini dengan cara yang paling baik, untuk keluarga kita. Setidaknya, sampai semuanya selesai."

Rania menatapnya lama, hatinya terasa berat. "Dan apa yang akan terjadi setelah itu, Yoga?"

Bab 3

Kata-kata Yoga sungguh sulit di cerna, Rania tidak memungkiri bahwa sosok Yoga adalah laki-laki yang tampan dan berkharisma, dia juga dilahirkan dari keluarga berada sehingga membuatnya semakin dielu-elukan perempuan gila harta diluar sana. 

Keduanya akhirnya mengikuti serentetan acara hingga selesai, sebelum pulang Kakek Yoga menyerahkan sebuah kunci rumah baru sebagai kado ulang tahun mereka berdua.

Kakek, Rania, dan Yoga masih berada di tempat resepsi, para tamu sudah banyak yang pamitan pulang dan menyisakan keluarga inti saja saat pemberian hadiah pernikahan. 

Suasana malam itu terasa begitu hangat. Angin lembut berhembus dari jendela yang terbuka, membawa aroma harum bunga yang bertebaran di tempat resepsi. Rania dan Yoga duduk berdampingan di sofa, masih mengenakan baju pengantin seusai resepsi. Kakek berdiri dengan tongkatnya, senyumnya lembut tapi penuh arti. Mata tuanya menatap mereka dengan kasih sayang, seolah ingin memastikan bahwa pesan yang akan disampaikan bisa dipahami sepenuhnya.

Kakek kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna cokelat dari sakunya. Suara kecil "klik" terdengar saat Kakek membuka kotak tersebut, menampilkan sebuah kunci rumah berkilau di dalamnya.

"Rania, Yoga... ada yang ingin Kakek berikan kepada kalian berdua."

Rania menoleh ke arah Yoga, matanya sedikit bingung tapi penuh rasa penasaran. Yoga menggenggam tangan Rania, memberi isyarat tenang dengan senyuman tipisnya. Kakek menyerahkan kotak kecil itu kepada mereka, tangannya sedikit gemetar, tapi penuh keikhlasan.

"Kakek... ini untuk kami?"

Kakek mengangguk perlahan. "Iya, untuk kalian. Ini kunci rumah baru. Rumah ini bukan hanya hadiah, tapi juga simbol... simbol harapan Kakek untuk kalian berdua. Kalian baru saja memulai perjalanan sebagai suami istri. Di rumah itu, Kakek berharap kalian bisa saling melengkapi, saling menjaga, dan selalu ada untuk satu sama lain. Hidup tidak selalu mudah, tapi ingatlah, di setiap sudut rumah itu... ada doa dan harapan dari Kakek."

Rania menatap kunci tersebut, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyadari betapa besar arti pemberian ini, bukan hanya sebagai properti fisik, tetapi lebih dari itu, sebuah harapan dan doa yang tulus dari sang kakek.

"Kakek, kami tidak tahu harus berkata apa... ini lebih dari yang pernah kami bayangkan. Terima kasih banyak."

Yoga, yang biasanya tenang, juga tak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya. Ia menunduk hormat, suaranya terdengar rendah dan tegas.

"Kakek, kami akan menjaga rumah itu... dan kami akan menjaga satu sama lain, seperti harapan Kakek. Terima kasih untuk segalanya." sahut Yoga. 

Kakek tersenyum, wajahnya penuh kebanggaan dan kebahagiaan. "Kakek tahu kalian bisa. Kalian adalah pasangan yang baik, dan Kakek yakin kalian akan membuat rumah itu penuh dengan cinta dan kebahagiaan."

Mereka bertiga saling tersenyum. Di tengah suasana hangat itu, Rania dan Yoga tahu bahwa mereka tidak hanya membawa pulang kunci rumah, tetapi juga amanah yang besar dari kakek mereka yang sangat mereka cintai.

Kakek menatap keduanya dengan lembut, lalu berkata, "Yoga, Rania, pernikahan adalah perjalanan panjang yang penuh dengan kebahagiaan dan juga tantangan. Kalian harus saling menjaga dan saling melengkapi satu sama lain."

Yoga mengangguk dengan penuh hormat, sementara Rania tersenyum malu-malu di samping suaminya.

Kakek melanjutkan, "Rumah baru kalian sudah siap. ART sudah ada, dan semua kebutuhan telah disiapkan. Kakek ingin kalian langsung pergi ke sana setelah resepsi ini. Mulailah kehidupan baru kalian dengan tenang dan penuh syukur."

Yoga dan Rania menatap Kakek dengan penuh rasa terima kasih. Rania menjawab dengan suara lembut, "Terima kasih, Kek, atas semuanya."

Kakek tersenyum hangat, "Jaga baik-baik rumah kalian, dan ingat, saling memahami itu kunci. Jangan pernah lupakan itu."

Dengan pesan penuh makna, Kakek memberikan pelukan kepada mereka berdua sebelum akhirnya melepaskan mereka untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.

Setelah meninggalkan beberapa pesan, Kakek langsung pamit pergi lebih dulu disusul oleh asistennya. Sementara itu Yoga juga memanggil asistennya untuk menyiapkan mobil. 

"Mas, aku pamit sama Mama dulu, ya!" ucap Rania dan Yoga pun mengikutinya. 

Rania berdiri di depan Mamanya, menatap wajah Mamanya dengan perasaan campur aduk. Perlahan, ia mendekat dan memeluk erat Mamanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir, meski ia berusaha tetap tegar. 

"Mama ... Rania harus pergi," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. 

Mamanya membalas pelukan itu dengan lembut, berbisik, "Kamu anak yang kuat, Nak. Mama yakin kamu bisa melalui semuanya. Mama selalu di sini untukmu."

Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangis lebih keras lagi. "Aku akan baik-baik saja, Ma. Terima kasih untuk semuanya."

Dengan berat hati, Rania melepaskan pelukan itu, menatap Mamanya sekali lagi sebelum berbalik menuju Yoga, yang menunggunya. Mereka pamit, dan langkah demi langkah, Rania berjalan meninggalkan rumah yang selama ini ia tinggali, mengikuti suaminya menuju kehidupan baru.

Mamanya hanya bisa tersenyum tipis, meski hatinya terasa perih melihat putrinya yang kini telah menjadi istri orang lain.

Rania melangkah dengan hati yang masih berat, mengikuti suaminya menuju kehidupan barunya. Ia tak menyadari bahwa di balik kebahagiaan hari itu, ada tantangan yang menunggu di depan. Senyum manis yang ia kenakan saat ini akan segera diuji oleh berbagai prahara dalam rumah tangganya, sesuatu yang belum ia bayangkan saat ini. Namun, seperti hari ini, Rania akan berusaha tegar menghadapi semuanya.

"Semoga aku bisa menjalani ini semua dengan ikhlas,"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED