"Kalau begini caranya, kita semua cuma jadi bahan tontonan murahan."
Jack Harper melontarkan kalimat itu sambil menatap tajam ke arah kamera yang terpasang di atas pohon kelapa. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar oleh Victoria Huxley yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu hanya menaikkan alis, menahan komentar yang sudah hampir keluar dari bibirnya.
"Ya ampun, Jack. Ini cuma acara TV. Santai aja," sahut Elena Martinez. Aktris terkenal itu sedang duduk di atas batang kayu besar sambil memeriksa kuku-kukunya yang baru saja dicat ulang beberapa jam sebelum mereka tiba di pulau ini.
Jack menghela napas panjang. "Santai? Kita lagi di tengah pulau terpencil, Elena. Ini bukan sekadar syuting. Kita harus tetap waspada."
"Waspada dari apa?" Elena mendengus kecil, lalu menoleh ke arah Sofia Novak yang berdiri di dekatnya. "Aku yakin cewek ini lebih takut sama kerikil kecil daripada hal lain di pulau ini."
Sofia mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia tahu, Elena punya hobi menjatuhkan orang lain dengan kalimat pedasnya. Meski begitu, Sofia tetap diam. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang seperti Elena.
"Cukup," suara Victoria memotong. CEO itu melangkah mendekat, sikapnya tenang tapi penuh otoritas. "Kita baru sampai di sini beberapa jam, dan aku sudah muak sama drama kalian. Kita semua harus bekerjasama kalau mau keluar dari sini hidup-hidup."
Elena tertawa pelan, tapi tidak membantah.
Sementara itu, di sisi lain pantai, Mei Ling diam-diam mengamati percakapan mereka dari balik pepohonan. Dia memperhatikan setiap gerakan Jack Harper dengan cermat. Cara pria itu berbicara, bagaimana ia memimpin kelompok, nada suaranya yang penuh percaya diri-semuanya terekam dalam ingatan Mei Ling.
"Lihatlah, pahlawan besar yang selalu ingin menyelamatkan semua orang," gumam Mei Ling pelan. Bibirnya membentuk senyum tipis, tapi matanya dingin. Dia tahu betul siapa pria itu. Dan lebih dari itu, dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Selamat datang di Pulau Paradise!"
Suara pembawa acara terdengar nyaring dari speaker kecil yang dipasang di sebuah tiang kayu di tengah pantai. Para peserta berdiri berbaris, sebagian tampak antusias, sementara yang lain-seperti Jack-hanya berdiri dengan ekspresi datar.
"Untuk tantangan pertama kalian, kami ingin melihat seberapa cepat kalian bisa membuat tempat berlindung sederhana. Kalian punya waktu tiga jam, dan kalian akan dinilai berdasarkan kreativitas serta fungsionalitasnya. Hadiah? Sebuah peti makanan yang bisa kalian gunakan untuk makan malam nanti. Semuanya siap?"
Elena langsung mengangkat tangan. "Uh, maaf, tapi aku nggak tahu apa-apa soal bertahan hidup. Aku aktris, bukan tukang kayu."
"Bagian itu yang bikin acara ini menarik, sayang," sahut Victoria dengan nada sinis.
Jack tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah berjalan ke arah hutan, mencari bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membangun tempat berlindung. Sofia mengikuti di belakangnya, membawa tas kecil berisi pisau dan tali yang diberikan oleh kru sebelum acara dimulai.
"Jack, kita bisa kerja sama, kan?" tanya Sofia, suaranya pelan dan hati-hati.
Jack menoleh sebentar, lalu mengangguk. "Tentu. Tapi kita harus bergerak cepat."
Mereka mulai memotong ranting-ranting panjang dan mencari daun besar untuk atap. Sementara itu, di sisi lain pantai, Elena malah duduk di pasir sambil mengeluh.
"Aku nggak peduli soal peti makanan itu. Aku bisa makan kelapa kalau perlu," katanya dengan nada malas.
Mei Ling mendekati Elena, memasang senyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu benar. Lagipula, Jack pasti akan menang. Dia kan mantan tentara. Kita nggak punya peluang."
Elena menoleh, matanya menyipit. "Kamu pikir dia sebagus itu?"
Mei Ling mengangkat bahu. "Dia cuma manusia biasa. Semua orang punya kelemahan."
Kata-kata itu terdengar ringan, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Elena terdiam. Mei Ling tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. "Ayo, aku bantu kamu. Setidaknya kita coba bikin sesuatu."
Tiga jam kemudian, semua peserta berkumpul lagi di pantai untuk menunjukkan hasil kerja mereka. Tempat berlindung buatan Jack dan Sofia tampak sederhana tapi kokoh. Mereka menggunakan batang kayu sebagai kerangka dan daun-daun besar untuk atap.
"Bagus. Fungsional," komentar pembawa acara.
Elena dan Mei Ling, di sisi lain, hanya berhasil membuat sesuatu yang lebih mirip tumpukan ranting dibandingkan tempat berlindung.
"Yah, setidaknya kami mencoba," kata Elena sambil tersenyum kecut.
Victoria, yang bekerja sendirian, berhasil membuat tempat berlindung kecil yang terlihat rapi tapi terlalu sempit untuk digunakan.
"Aku nggak butuh bantuan orang lain," katanya dengan nada puas.
Saat mereka sedang menunggu hasil penilaian, Jack mendekati Sofia. "Kerja bagus tadi."
Sofia tersenyum kecil. "Aku cuma mengikuti arahannya."
"Tetap saja, kamu membantu banyak."
Di kejauhan, Mei Ling memperhatikan mereka dengan mata tajam. Dia memperhatikan bagaimana Jack berbicara dengan Sofia, nada suaranya yang tenang, sikapnya yang selalu melindungi.
"Dia terlalu percaya diri," gumam Mei Ling. "Tapi itu bagus. Orang seperti dia biasanya lengah pada saat yang salah."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah hutan. Semua peserta terkejut dan langsung melihat ke arah itu.
"Apa itu?" tanya Elena dengan wajah panik.
Jack sudah bergerak lebih dulu, berlari ke arah hutan tanpa menunggu yang lain. Sofia mengikuti di belakangnya, meskipun dia tampak ragu-ragu.
Victoria berdiri di tempatnya, matanya menyipit. "Ini nggak ada di skrip."
Jack dan Sofia tiba di lokasi ledakan pertama. Mereka menemukan sebuah lubang kecil di tanah, dengan bekas-bekas asap yang masih mengepul.
"Bahan peledak?" gumam Jack sambil memeriksa tanah.
"Kenapa ada bahan peledak di sini?" tanya Sofia, suaranya gemetar.
Jack tidak menjawab. Dia berdiri dan melihat sekeliling, matanya tajam seperti sedang mencari sesuatu.
"Kita harus kembali ke pantai. Beritahu yang lain untuk tetap bersama-sama," katanya akhirnya.
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah kaki terdengar dari belakang mereka. Jack langsung berbalik, siap menghadapi apapun yang muncul.
Ternyata itu Mei Ling.
"Apa yang kalian temukan?" tanyanya tanpa basa-basi.
Jack menatapnya curiga. "Kenapa kamu di sini?"
Mei Ling mengangkat bahu. "Aku penasaran. Lagipula, aku dengar suara ledakan tadi."
Jack tidak menjawab. Dia hanya menatap wanita itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Kita kembali ke pantai. Sekarang."
Saat mereka kembali ke pantai, suasana sudah berubah. Para peserta tampak bingung dan panik, sementara Victoria berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah serius.
"Kita nggak sendiri di pulau ini," katanya pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.
Elena langsung bereaksi. "Maksudmu apa? Bukannya ini pulau kosong?"
Victoria menggeleng. "Aku menemukan jejak kaki di dekat tempat berlindungku. Dan jejak itu bukan milik salah satu dari kita."
Semua orang terdiam.
Jack menatap Victoria dengan ekspresi serius. "Kamu yakin?"
"Sangat yakin."
Sofia mulai gemetar. "Jadi... ada orang lain di sini?"
Jack mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling membuka mulutnya.
"Atau mungkin... kita cuma bagian dari permainan yang lebih besar."
Jack menoleh tajam ke arahnya. "Apa maksudmu?"
Mei Ling hanya tersenyum tipis, lalu menjawab dengan satu pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.
"Kamu yakin kita benar-benar terdampar di sini, Jack?"
"BOM! BOOOM!"
Suara ledakan memecah kesunyian pulau yang sebelumnya hanya diisi suara ombak dan burung-burung. Semua kepala langsung menoleh ke arah pantai, ke tempat kapal utama yang seharusnya masih terparkir dengan aman. Detik berikutnya, asap hitam pekat membubung ke udara, diiringi api yang menjilat-jilat bagian kapal.
"Apa itu barusan?!" Elena menjerit, suaranya penuh kepanikan.
Jack Harper, yang saat itu sedang memeriksa tali jebakan di pinggir hutan, langsung berdiri tegak. Matanya menyipit, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
"Kapal kita..." Sofia berbisik dari belakang Jack, suaranya bergetar.
Jack tidak menunggu lebih lama. Dia berlari ke arah pantai, meninggalkan jebakan yang tadi sedang ia periksa. Sofia mengikuti di belakangnya, wajahnya pucat pasi, sementara di kejauhan, para peserta yang lain juga mulai berlarian menuju sumber ledakan.
Di pantai, pemandangan kacau balau menyambut mereka. Kapal utama, yang sebelumnya menjadi alat komunikasi sekaligus penyelamat jika terjadi keadaan darurat, kini tinggal kerangka. Api yang menyala-nyala di atasnya seperti menegaskan bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan.
"Kapalnya..." Victoria berdiri membeku di tempat, suaranya pelan dan nyaris tidak terdengar. "Peralatan kita ada di sana... semua kru..."
"Semua alat komunikasi juga..." Mei Ling menambahkan dengan nada dingin.
Jack melangkah lebih dekat ke kapal yang terbakar, berhenti beberapa meter dari air karena panas yang menyengat. Matanya dengan cepat memeriksa sekitar, mencari tanda-tanda kehidupan atau jejak penyebab ledakan.
"Ini bukan kecelakaan," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Victoria yang berdiri di belakangnya langsung menoleh. "Apa maksudmu? Kau pikir ini disengaja?"
Jack tidak langsung menjawab. Dia berbalik menghadap peserta lain yang sudah berkumpul, wajah mereka dipenuhi kebingungan dan ketakutan.
"Dengar," Jack mulai berbicara, suaranya tegas. "Ledakan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Kapal itu sudah dicek sebelum kita berangkat. Tidak ada bahan peledak, tidak ada kebocoran bahan bakar yang bisa menimbulkan api sebesar ini. Seseorang... atau sesuatu... sengaja membuat ini terjadi."
Elena langsung mengangkat tangan, wajahnya penuh ketidakpercayaan. "Kau bercanda, kan? Maksudmu ada yang sengaja meledakkan kapal kita? Untuk apa? Ini reality show, Jack! Bukan film action!"
"Aku serius," balas Jack, tatapannya tajam. "Dan aku butuh kalian semua untuk tetap tenang. Panik tidak akan membantu."
"Tunggu," Victoria menyela, nada bicaranya datar tapi penuh ketegasan. "Apa kau punya bukti? Atau ini cuma instingmu?"
"Instingku ini yang menyelamatkan nyawaku berkali-kali," Jack menjawab cepat. "Aku tahu apa yang aku katakan."
Sofia, yang berdiri di samping Jack, angkat bicara untuk pertama kalinya. "Tapi... kalau ini benar-benar disengaja, siapa yang melakukannya? Dan kenapa?"
Kata-katanya membuat semua orang terdiam sejenak. Tidak ada yang punya jawaban, tapi jelas mereka tidak nyaman dengan kemungkinan itu.
"Kita tidak bisa tinggal di sini kalau kapal kita sudah tidak ada," Victoria akhirnya membuka suara lagi. "Kita harus mencari cara lain untuk keluar dari pulau ini."
"Bagaimana cara kita keluar?!" Elena membentak, nadanya tinggi. "Kapal sudah hancur, alat komunikasi tidak ada lagi. Kau mau berenang sampai ke daratan?"
"Tenang, Elena," Jack memotong, suaranya tajam. "Kita masih punya beberapa persediaan di pantai. Kita bisa mulai dengan itu."
"Persediaan? Kau pikir itu cukup?" Elena mendengus. "Kita bahkan tidak tahu apakah ada yang masih tersisa setelah ledakan itu!"
Jack menatapnya tajam, tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling angkat bicara, suaranya dingin tapi tenang. "Jack benar. Kita tidak bisa panik, apalagi membuat situasi ini lebih buruk. Kita butuh rencana."
Jack menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. Dia tidak menyangka wanita itu akan mendukungnya. Tapi ekspresi Mei Ling tetap datar, sulit untuk dibaca.
"Baik," Jack akhirnya berkata. "Langkah pertama: kita cari apa yang masih bisa diselamatkan dari kapal. Setelah itu, kita buat kelompok kecil untuk menjelajahi pulau. Kita harus tahu apa yang kita hadapi di sini."
Victoria mengangguk setuju. "Aku setuju. Tapi kita tidak boleh ceroboh. Pulau ini mungkin terlihat indah, tapi kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya."
"Ya, tentu saja," Elena menyela sinis. "Mungkin ada monster laut atau alien, kan?"
"Cukup, Elena," Jack menatapnya tajam. "Ini bukan lelucon."
Setelah beberapa menit berdiskusi, kelompok itu akhirnya sepakat untuk memeriksa kapal yang sudah hancur. Jack memimpin, diikuti oleh Sofia, Mei Ling, dan Victoria. Elena menolak ikut, memilih untuk duduk di tepi pantai sambil menggerutu bahwa semua ini tidak masuk akal.
Jack berjalan mendekati sisa-sisa kapal yang masih mengepulkan asap. Panasnya masih terasa, tapi sudah cukup aman untuk mendekat. Dengan hati-hati, dia mulai memeriksa barang-barang yang berserakan di sekitar kapal.
"Kita butuh air bersih," Jack berkata tanpa menoleh. "Juga alat-alat yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup."
Sofia menemukan sebuah kotak kecil yang tersangkut di antara reruntuhan. Dia membukanya dengan hati-hati, lalu mengangkat beberapa botol air dan paket makanan kering. "Aku menemukan ini!" katanya dengan nada lega.
"Bagus," Jack mengangguk. "Simpan semuanya."
Mei Ling, yang berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan sisa-sisa kapal dengan ekspresi dingin. Matanya mencari sesuatu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
"Apa yang kau cari?" tanya Jack tiba-tiba, menyadari gerak-geriknya.
Mei Ling menoleh, ekspresinya tetap datar. "Aku hanya memastikan tidak ada yang berbahaya di sini."
Jack tidak sepenuhnya percaya, tapi dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.
Setelah satu jam mencari, kelompok itu kembali ke pantai dengan hasil yang minim. Beberapa botol air, beberapa paket makanan, dan sedikit alat-alat kecil seperti pisau dan korek api.
"Ini tidak akan cukup," Victoria berkata sambil memeriksa barang-barang itu. "Kita butuh lebih banyak."
"Kita harus mulai menjelajahi pulau," Jack menjawab. "Kita tidak punya pilihan lain."
Elena, yang duduk di tepi pantai sambil memeluk lutut, menatap mereka dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Kalian serius mau masuk ke hutan itu? Bagaimana kalau ada yang mengintai kita? Atau binatang buas?"
"Kita tidak punya pilihan lain," Jack menjawab tegas. "Kalau kau punya ide yang lebih baik, aku akan dengar."
Elena terdiam, tapi wajahnya masih menunjukkan ketidaksetujuan.
Mei Ling memperhatikan interaksi mereka dengan cermat. Dia tahu Jack adalah pemimpin alami, seseorang yang dengan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Tapi dia juga tahu, semakin besar kepercayaan itu, semakin mudah untuk menghancurkannya.
"Kita mulai besok pagi," Jack akhirnya berkata, mengakhiri diskusi. "Sekarang, kita buat tempat berlindung untuk malam ini."
Malam mulai turun, dan kelompok itu berkumpul di sekitar api unggun kecil yang dibuat dengan susah payah. Suasana hening, hanya diisi suara angin dan ombak yang memecah pantai.
Jack duduk di dekat api, matanya menatap ke dalam kegelapan hutan. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Sofia, yang duduk di sebelahnya, akhirnya angkat bicara. "Jack... menurutmu... apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Jack tidak segera menjawab. Dia mengambil napas panjang, lalu berkata pelan, "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ini bukan kecelakaan biasa. Ada sesuatu... atau seseorang... yang ingin kita tetap di sini."
Sebelum Sofia sempat menjawab, Mei Ling yang duduk di seberang mereka tiba-tiba berkata, "Pertanyaannya sekarang adalah... siapa, dan kenapa?"