Bab 1

"ku tidak suka ini," kata Jack sambil menatap undangan berbentuk gulungan yang baru saja diterimanya. Surat itu ditulis dengan tinta emas, terlihat mahal, dan terkesan terlalu mewah untuk sesuatu yang disebut sebagai "acara bertahan hidup". Ia duduk di kursi di ruang tamunya yang sederhana, memandangi tulisan besar di bagian atas undangan itu: "Survival Paradise: The Island of Deception."

"Kenapa?" tanya Steven, manajernya, yang duduk di sofa di seberang meja. Pria itu menggulung lengan kemejanya, terlihat santai, tetapi matanya tetap fokus pada Jack. "Ini acara besar, Jack. Kamu bisa dapet exposure yang lebih besar. Orang-orang suka lihat kamu di situasi kayak gini."

Jack menghela napas panjang, menggosok pelipisnya. "Karena ini terlalu... aneh. Aku sudah pernah syuting acara reality show sebelumnya. Tapi ini? Lihat ini." Ia menunjuk bagian bawah undangan yang mencantumkan daftar peserta: seorang aktris terkenal, model internasional, CEO sukses, bahkan seorang penyanyi pop.

"Ini bukan acara bertahan hidup. Ini kayak pesta orang kaya."

Steven terkekeh. "Itu justru poinnya. Kamu yang ahli bertahan hidup, mereka yang nggak tahu apa-apa soal itu. Bagaimana caramu mengajari mereka? Bagaimana mereka bertahan? Orang-orang bakal nonton, Jack. Dan kalau semuanya berjalan lancar, kamu bisa dapet kontrak baru. Bayaran bagus."

Jack terdiam sejenak, membaca ulang undangan itu. Bagian "hadiah besar untuk pemenang" tidak menarik perhatiannya. Dia tidak peduli soal uang. Tapi sesuatu tentang acara ini memang terasa... salah. Terlalu glamor untuk sesuatu yang seharusnya sederhana.

"Aku nggak yakin," gumamnya akhirnya. "Aku cuma merasa ada sesuatu yang disembunyikan di balik ini semua."

Steven mengangkat bahu. "Kalau kamu nggak mau, aku bisa kasih tahu mereka. Tapi ingat, ini bisa jadi kesempatan besar buat karirmu. Setelah acara ini, kamu bisa jadi pembicara di mana-mana, bikin buku lagi, bahkan film. Semua orang suka lihat orang kayak kamu jadi pahlawan."

Jack tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat langit sore yang mulai memerah. Dalam hatinya, ia tahu Steven benar. Tapi firasat buruk itu tetap ada.

---

Tiga minggu kemudian, Jack berdiri di dek kapal pesiar mewah yang membawa para peserta menuju pulau tujuan. Laut biru membentang tanpa batas di sekelilingnya. Udara terasa hangat, dengan angin lembut yang membawa aroma asin laut. Tapi suasana di atas kapal tidak sehangat itu.

"Jadi, kamu si ahli bertahan hidup itu?" Suara seorang wanita terdengar dari belakangnya. Jack menoleh dan melihat seorang wanita berambut hitam panjang berdiri dengan tangan terlipat di dadanya. Pakaiannya sederhana, tetapi sorot matanya tajam dan penuh perhitungan.

"Dan kamu siapa?" balas Jack, nada suaranya datar. Ia bukan tipe orang yang suka basa-basi.

"Mei Ling," jawab wanita itu sambil mengulurkan tangan. "Aku... entertainer." Senyuman tipis muncul di wajahnya, tetapi Jack merasa senyum itu tidak tulus. Ada sesuatu yang dingin dan penuh rahasia di balik mata wanita itu.

Jack menjabat tangannya singkat. "Jack Harper."

Mei Ling menatapnya beberapa detik sebelum melepaskan tangannya. "Kamu kelihatan seperti orang yang tahu apa yang dia lakukan. Tapi aku penasaran, Jack. Apa kamu bisa bertahan kalau nggak ada kamera yang merekam semua aksi heroikmu?"

Jack menatapnya balik, mencoba menebak maksud di balik kata-kata itu. Tapi sebelum ia sempat menjawab, suara lain memotong.

"Lihat siapa yang sudah mulai berdebat sebelum acara dimulai." Seorang wanita dengan rambut pirang dan gaun elegan mendekat. Senyumnya lebar, tetapi ada kesan sinis di baliknya.

"Victoria Huxley," katanya sambil mengulurkan tangan, kali ini kepada Jack. "CEO Huxley Enterprises. Mungkin kamu pernah dengar."

Jack menjabat tangannya tanpa ekspresi. "Mungkin."

Victoria terkekeh kecil. "Ah, kamu tipe yang tidak peduli dengan dunia korporat, ya? Bagus. Aku suka orang yang fokus pada hal-hal praktis."

Mei Ling memutar mata. "Kamu suka orang yang bisa kamu manfaatkan, maksudnya."

Victoria hanya tersenyum, tidak membalas.

Jack memutuskan untuk tidak ikut campur. "Aku mau lihat-lihat ke bagian lain," katanya sambil berjalan pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika seorang wanita lain mendekat.

"Jack Harper?" Wanita itu berambut cokelat gelap dengan mata besar yang tampak sedikit gugup. Dia mengenakan jaket kulit yang tampak terlalu tebal untuk cuaca di sini. "Aku Elena. Elena Martinez."

"Aku tahu," jawab Jack singkat. Wajah wanita ini familiar. Dia pernah melihatnya di beberapa film dan acara TV. Dia aktris terkenal, tetapi di sini, dia terlihat lebih kecil dan lebih rapuh daripada yang ia bayangkan.

"Aku cuma mau bilang, aku ngefans sama kamu," kata Elena dengan senyum canggung. "Aku pernah baca bukumu tentang bertahan hidup di hutan tropis. Itu keren banget."

"Terima kasih," jawab Jack. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi setidaknya, Elena terlihat lebih tulus dibandingkan Victoria atau Mei Ling.

Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara mikrofon terdengar dari speaker di seluruh kapal. "Para peserta yang terhormat, kita akan tiba di pulau tujuan dalam waktu satu jam. Mohon bersiap-siap, dan nikmati perjalanan Anda."

---

Satu jam kemudian, kapal berhenti di dekat sebuah pulau tropis yang tampak seperti surga. Pantai berpasir putih, pohon kelapa yang melambai-lambai, dan air laut yang jernih. Tapi bagi Jack, keindahan ini tidak menghilangkan firasat buruknya.

Semua peserta berkumpul di dek utama, berdiri berdampingan. Selain Jack, Mei Ling, Victoria, dan Elena, ada juga seorang wanita Eropa berambut pirang bernama Sofia Novak. Dia model terkenal, tetapi sejak awal, dia terlihat pendiam dan tidak banyak bicara.

"Ayo, teman-teman!" seru seorang pria berkacamata hitam yang tampaknya adalah pembawa acara. "Selamat datang di petualangan terbesar dalam hidup kalian! Ini bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang menguji batasan diri kalian. Siap?"

Semua orang, kecuali Jack, menjawab dengan sorakan setengah hati.

Jack menatap pria itu dengan tajam. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Pria itu hanya tersenyum lebar, tetapi sorot matanya tidak menjawab apa pun. "Kamu akan tahu, Jack. Kamu akan tahu."

---

Setelah semua peserta turun ke pantai, suasana mulai terasa lebih serius. Para kru sibuk mengatur kamera dan perlengkapan lainnya. Mereka diberi waktu untuk berkenalan lebih jauh sebelum acara dimulai.

Victoria mendekati Jack lagi, kali ini dengan nada suara yang lebih rendah. "Jadi, Jack," katanya. "Apa pendapatmu soal acara ini?"

Jack menatapnya. "Aku belum tahu. Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak mereka katakan kepada kita."

Victoria tersenyum tipis. "Kamu pintar. Aku suka itu. Tapi hati-hati, Jack. Kadang, terlalu banyak tahu bisa membuatmu dalam bahaya."

Jack tidak menjawab. Tapi kata-kata Victoria itu membuat firasat buruknya semakin kuat.

---

Malamnya, saat mereka duduk di sekitar api unggun yang disiapkan oleh kru, Mei Ling duduk di sebelah Jack. Dia menatap api dengan pandangan kosong sebelum akhirnya berbicara.

"Kenapa kamu ikut acara ini?" tanyanya pelan.

Jack menoleh padanya. "Kenapa kamu peduli?"

Mei Ling tersenyum tipis, tetapi matanya tetap dingin. "Cuma penasaran. Kamu ahli bertahan hidup. Aku yakin kamu nggak butuh acara ini untuk membuktikan apa pun."

Jack tidak menjawab. Dia tahu ada sesuatu di balik pertanyaan itu, tetapi dia tidak ingin memancing konflik terlalu cepat.

"Aku punya alasan sendiri untuk ada di sini," lanjut Mei Ling. "Dan aku yakin kamu juga punya."

Jack menatapnya, mencoba mencari tahu apa yang wanita ini sembunyikan. Tapi sebelum dia sempat bertanya, suara keras terdengar dari arah hutan.

Semua orang langsung berdiri, termasuk kru. "Apa itu?" tanya Elena dengan suara gemetar.

Jack meraih tongkat kayu yang ada di dekatnya, bersiap untuk apa pun. Tapi sebelum mereka bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, Victoria berbicara.

"Selamat datang di pulau ini," katanya dengan nada sinis. "Aku rasa, ini baru permulaan."

Jack menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Victoria hanya tersenyum, tapi tidak menjawab. Sebuah pertanyaan besar menggantung di udara, dan Jack tahu, ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Bab 2

"Kalau begini caranya, kita semua cuma jadi bahan tontonan murahan."

Jack Harper melontarkan kalimat itu sambil menatap tajam ke arah kamera yang terpasang di atas pohon kelapa. Suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar oleh Victoria Huxley yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu hanya menaikkan alis, menahan komentar yang sudah hampir keluar dari bibirnya.

"Ya ampun, Jack. Ini cuma acara TV. Santai aja," sahut Elena Martinez. Aktris terkenal itu sedang duduk di atas batang kayu besar sambil memeriksa kuku-kukunya yang baru saja dicat ulang beberapa jam sebelum mereka tiba di pulau ini.

Jack menghela napas panjang. "Santai? Kita lagi di tengah pulau terpencil, Elena. Ini bukan sekadar syuting. Kita harus tetap waspada."

"Waspada dari apa?" Elena mendengus kecil, lalu menoleh ke arah Sofia Novak yang berdiri di dekatnya. "Aku yakin cewek ini lebih takut sama kerikil kecil daripada hal lain di pulau ini."

Sofia mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia tahu, Elena punya hobi menjatuhkan orang lain dengan kalimat pedasnya. Meski begitu, Sofia tetap diam. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang seperti Elena.

"Cukup," suara Victoria memotong. CEO itu melangkah mendekat, sikapnya tenang tapi penuh otoritas. "Kita baru sampai di sini beberapa jam, dan aku sudah muak sama drama kalian. Kita semua harus bekerjasama kalau mau keluar dari sini hidup-hidup."

Elena tertawa pelan, tapi tidak membantah.

Sementara itu, di sisi lain pantai, Mei Ling diam-diam mengamati percakapan mereka dari balik pepohonan. Dia memperhatikan setiap gerakan Jack Harper dengan cermat. Cara pria itu berbicara, bagaimana ia memimpin kelompok, nada suaranya yang penuh percaya diri-semuanya terekam dalam ingatan Mei Ling.

"Lihatlah, pahlawan besar yang selalu ingin menyelamatkan semua orang," gumam Mei Ling pelan. Bibirnya membentuk senyum tipis, tapi matanya dingin. Dia tahu betul siapa pria itu. Dan lebih dari itu, dia tahu apa yang harus dia lakukan.

"Selamat datang di Pulau Paradise!"

Suara pembawa acara terdengar nyaring dari speaker kecil yang dipasang di sebuah tiang kayu di tengah pantai. Para peserta berdiri berbaris, sebagian tampak antusias, sementara yang lain-seperti Jack-hanya berdiri dengan ekspresi datar.

"Untuk tantangan pertama kalian, kami ingin melihat seberapa cepat kalian bisa membuat tempat berlindung sederhana. Kalian punya waktu tiga jam, dan kalian akan dinilai berdasarkan kreativitas serta fungsionalitasnya. Hadiah? Sebuah peti makanan yang bisa kalian gunakan untuk makan malam nanti. Semuanya siap?"

Elena langsung mengangkat tangan. "Uh, maaf, tapi aku nggak tahu apa-apa soal bertahan hidup. Aku aktris, bukan tukang kayu."

"Bagian itu yang bikin acara ini menarik, sayang," sahut Victoria dengan nada sinis.

Jack tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah berjalan ke arah hutan, mencari bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membangun tempat berlindung. Sofia mengikuti di belakangnya, membawa tas kecil berisi pisau dan tali yang diberikan oleh kru sebelum acara dimulai.

"Jack, kita bisa kerja sama, kan?" tanya Sofia, suaranya pelan dan hati-hati.

Jack menoleh sebentar, lalu mengangguk. "Tentu. Tapi kita harus bergerak cepat."

Mereka mulai memotong ranting-ranting panjang dan mencari daun besar untuk atap. Sementara itu, di sisi lain pantai, Elena malah duduk di pasir sambil mengeluh.

"Aku nggak peduli soal peti makanan itu. Aku bisa makan kelapa kalau perlu," katanya dengan nada malas.

Mei Ling mendekati Elena, memasang senyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu benar. Lagipula, Jack pasti akan menang. Dia kan mantan tentara. Kita nggak punya peluang."

Elena menoleh, matanya menyipit. "Kamu pikir dia sebagus itu?"

Mei Ling mengangkat bahu. "Dia cuma manusia biasa. Semua orang punya kelemahan."

Kata-kata itu terdengar ringan, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Elena terdiam. Mei Ling tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. "Ayo, aku bantu kamu. Setidaknya kita coba bikin sesuatu."

Tiga jam kemudian, semua peserta berkumpul lagi di pantai untuk menunjukkan hasil kerja mereka. Tempat berlindung buatan Jack dan Sofia tampak sederhana tapi kokoh. Mereka menggunakan batang kayu sebagai kerangka dan daun-daun besar untuk atap.

"Bagus. Fungsional," komentar pembawa acara.

Elena dan Mei Ling, di sisi lain, hanya berhasil membuat sesuatu yang lebih mirip tumpukan ranting dibandingkan tempat berlindung.

"Yah, setidaknya kami mencoba," kata Elena sambil tersenyum kecut.

Victoria, yang bekerja sendirian, berhasil membuat tempat berlindung kecil yang terlihat rapi tapi terlalu sempit untuk digunakan.

"Aku nggak butuh bantuan orang lain," katanya dengan nada puas.

Saat mereka sedang menunggu hasil penilaian, Jack mendekati Sofia. "Kerja bagus tadi."

Sofia tersenyum kecil. "Aku cuma mengikuti arahannya."

"Tetap saja, kamu membantu banyak."

Di kejauhan, Mei Ling memperhatikan mereka dengan mata tajam. Dia memperhatikan bagaimana Jack berbicara dengan Sofia, nada suaranya yang tenang, sikapnya yang selalu melindungi.

"Dia terlalu percaya diri," gumam Mei Ling. "Tapi itu bagus. Orang seperti dia biasanya lengah pada saat yang salah."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah hutan. Semua peserta terkejut dan langsung melihat ke arah itu.

"Apa itu?" tanya Elena dengan wajah panik.

Jack sudah bergerak lebih dulu, berlari ke arah hutan tanpa menunggu yang lain. Sofia mengikuti di belakangnya, meskipun dia tampak ragu-ragu.

Victoria berdiri di tempatnya, matanya menyipit. "Ini nggak ada di skrip."

Jack dan Sofia tiba di lokasi ledakan pertama. Mereka menemukan sebuah lubang kecil di tanah, dengan bekas-bekas asap yang masih mengepul.

"Bahan peledak?" gumam Jack sambil memeriksa tanah.

"Kenapa ada bahan peledak di sini?" tanya Sofia, suaranya gemetar.

Jack tidak menjawab. Dia berdiri dan melihat sekeliling, matanya tajam seperti sedang mencari sesuatu.

"Kita harus kembali ke pantai. Beritahu yang lain untuk tetap bersama-sama," katanya akhirnya.

Tapi sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah kaki terdengar dari belakang mereka. Jack langsung berbalik, siap menghadapi apapun yang muncul.

Ternyata itu Mei Ling.

"Apa yang kalian temukan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Jack menatapnya curiga. "Kenapa kamu di sini?"

Mei Ling mengangkat bahu. "Aku penasaran. Lagipula, aku dengar suara ledakan tadi."

Jack tidak menjawab. Dia hanya menatap wanita itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Kita kembali ke pantai. Sekarang."

Saat mereka kembali ke pantai, suasana sudah berubah. Para peserta tampak bingung dan panik, sementara Victoria berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah serius.

"Kita nggak sendiri di pulau ini," katanya pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang.

Elena langsung bereaksi. "Maksudmu apa? Bukannya ini pulau kosong?"

Victoria menggeleng. "Aku menemukan jejak kaki di dekat tempat berlindungku. Dan jejak itu bukan milik salah satu dari kita."

Semua orang terdiam.

Jack menatap Victoria dengan ekspresi serius. "Kamu yakin?"

"Sangat yakin."

Sofia mulai gemetar. "Jadi... ada orang lain di sini?"

Jack mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling membuka mulutnya.

"Atau mungkin... kita cuma bagian dari permainan yang lebih besar."

Jack menoleh tajam ke arahnya. "Apa maksudmu?"

Mei Ling hanya tersenyum tipis, lalu menjawab dengan satu pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.

"Kamu yakin kita benar-benar terdampar di sini, Jack?"

Bab 3

"BOM! BOOOM!"

Suara ledakan memecah kesunyian pulau yang sebelumnya hanya diisi suara ombak dan burung-burung. Semua kepala langsung menoleh ke arah pantai, ke tempat kapal utama yang seharusnya masih terparkir dengan aman. Detik berikutnya, asap hitam pekat membubung ke udara, diiringi api yang menjilat-jilat bagian kapal.

"Apa itu barusan?!" Elena menjerit, suaranya penuh kepanikan.

Jack Harper, yang saat itu sedang memeriksa tali jebakan di pinggir hutan, langsung berdiri tegak. Matanya menyipit, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"Kapal kita..." Sofia berbisik dari belakang Jack, suaranya bergetar.

Jack tidak menunggu lebih lama. Dia berlari ke arah pantai, meninggalkan jebakan yang tadi sedang ia periksa. Sofia mengikuti di belakangnya, wajahnya pucat pasi, sementara di kejauhan, para peserta yang lain juga mulai berlarian menuju sumber ledakan.

Di pantai, pemandangan kacau balau menyambut mereka. Kapal utama, yang sebelumnya menjadi alat komunikasi sekaligus penyelamat jika terjadi keadaan darurat, kini tinggal kerangka. Api yang menyala-nyala di atasnya seperti menegaskan bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan.

"Kapalnya..." Victoria berdiri membeku di tempat, suaranya pelan dan nyaris tidak terdengar. "Peralatan kita ada di sana... semua kru..."

"Semua alat komunikasi juga..." Mei Ling menambahkan dengan nada dingin.

Jack melangkah lebih dekat ke kapal yang terbakar, berhenti beberapa meter dari air karena panas yang menyengat. Matanya dengan cepat memeriksa sekitar, mencari tanda-tanda kehidupan atau jejak penyebab ledakan.

"Ini bukan kecelakaan," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Victoria yang berdiri di belakangnya langsung menoleh. "Apa maksudmu? Kau pikir ini disengaja?"

Jack tidak langsung menjawab. Dia berbalik menghadap peserta lain yang sudah berkumpul, wajah mereka dipenuhi kebingungan dan ketakutan.

"Dengar," Jack mulai berbicara, suaranya tegas. "Ledakan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Kapal itu sudah dicek sebelum kita berangkat. Tidak ada bahan peledak, tidak ada kebocoran bahan bakar yang bisa menimbulkan api sebesar ini. Seseorang... atau sesuatu... sengaja membuat ini terjadi."

Elena langsung mengangkat tangan, wajahnya penuh ketidakpercayaan. "Kau bercanda, kan? Maksudmu ada yang sengaja meledakkan kapal kita? Untuk apa? Ini reality show, Jack! Bukan film action!"

"Aku serius," balas Jack, tatapannya tajam. "Dan aku butuh kalian semua untuk tetap tenang. Panik tidak akan membantu."

"Tunggu," Victoria menyela, nada bicaranya datar tapi penuh ketegasan. "Apa kau punya bukti? Atau ini cuma instingmu?"

"Instingku ini yang menyelamatkan nyawaku berkali-kali," Jack menjawab cepat. "Aku tahu apa yang aku katakan."

Sofia, yang berdiri di samping Jack, angkat bicara untuk pertama kalinya. "Tapi... kalau ini benar-benar disengaja, siapa yang melakukannya? Dan kenapa?"

Kata-katanya membuat semua orang terdiam sejenak. Tidak ada yang punya jawaban, tapi jelas mereka tidak nyaman dengan kemungkinan itu.

"Kita tidak bisa tinggal di sini kalau kapal kita sudah tidak ada," Victoria akhirnya membuka suara lagi. "Kita harus mencari cara lain untuk keluar dari pulau ini."

"Bagaimana cara kita keluar?!" Elena membentak, nadanya tinggi. "Kapal sudah hancur, alat komunikasi tidak ada lagi. Kau mau berenang sampai ke daratan?"

"Tenang, Elena," Jack memotong, suaranya tajam. "Kita masih punya beberapa persediaan di pantai. Kita bisa mulai dengan itu."

"Persediaan? Kau pikir itu cukup?" Elena mendengus. "Kita bahkan tidak tahu apakah ada yang masih tersisa setelah ledakan itu!"

Jack menatapnya tajam, tapi sebelum dia sempat menjawab, Mei Ling angkat bicara, suaranya dingin tapi tenang. "Jack benar. Kita tidak bisa panik, apalagi membuat situasi ini lebih buruk. Kita butuh rencana."

Jack menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. Dia tidak menyangka wanita itu akan mendukungnya. Tapi ekspresi Mei Ling tetap datar, sulit untuk dibaca.

"Baik," Jack akhirnya berkata. "Langkah pertama: kita cari apa yang masih bisa diselamatkan dari kapal. Setelah itu, kita buat kelompok kecil untuk menjelajahi pulau. Kita harus tahu apa yang kita hadapi di sini."

Victoria mengangguk setuju. "Aku setuju. Tapi kita tidak boleh ceroboh. Pulau ini mungkin terlihat indah, tapi kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya."

"Ya, tentu saja," Elena menyela sinis. "Mungkin ada monster laut atau alien, kan?"

"Cukup, Elena," Jack menatapnya tajam. "Ini bukan lelucon."

Setelah beberapa menit berdiskusi, kelompok itu akhirnya sepakat untuk memeriksa kapal yang sudah hancur. Jack memimpin, diikuti oleh Sofia, Mei Ling, dan Victoria. Elena menolak ikut, memilih untuk duduk di tepi pantai sambil menggerutu bahwa semua ini tidak masuk akal.

Jack berjalan mendekati sisa-sisa kapal yang masih mengepulkan asap. Panasnya masih terasa, tapi sudah cukup aman untuk mendekat. Dengan hati-hati, dia mulai memeriksa barang-barang yang berserakan di sekitar kapal.

"Kita butuh air bersih," Jack berkata tanpa menoleh. "Juga alat-alat yang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup."

Sofia menemukan sebuah kotak kecil yang tersangkut di antara reruntuhan. Dia membukanya dengan hati-hati, lalu mengangkat beberapa botol air dan paket makanan kering. "Aku menemukan ini!" katanya dengan nada lega.

"Bagus," Jack mengangguk. "Simpan semuanya."

Mei Ling, yang berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan sisa-sisa kapal dengan ekspresi dingin. Matanya mencari sesuatu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Apa yang kau cari?" tanya Jack tiba-tiba, menyadari gerak-geriknya.

Mei Ling menoleh, ekspresinya tetap datar. "Aku hanya memastikan tidak ada yang berbahaya di sini."

Jack tidak sepenuhnya percaya, tapi dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.

Setelah satu jam mencari, kelompok itu kembali ke pantai dengan hasil yang minim. Beberapa botol air, beberapa paket makanan, dan sedikit alat-alat kecil seperti pisau dan korek api.

"Ini tidak akan cukup," Victoria berkata sambil memeriksa barang-barang itu. "Kita butuh lebih banyak."

"Kita harus mulai menjelajahi pulau," Jack menjawab. "Kita tidak punya pilihan lain."

Elena, yang duduk di tepi pantai sambil memeluk lutut, menatap mereka dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Kalian serius mau masuk ke hutan itu? Bagaimana kalau ada yang mengintai kita? Atau binatang buas?"

"Kita tidak punya pilihan lain," Jack menjawab tegas. "Kalau kau punya ide yang lebih baik, aku akan dengar."

Elena terdiam, tapi wajahnya masih menunjukkan ketidaksetujuan.

Mei Ling memperhatikan interaksi mereka dengan cermat. Dia tahu Jack adalah pemimpin alami, seseorang yang dengan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Tapi dia juga tahu, semakin besar kepercayaan itu, semakin mudah untuk menghancurkannya.

"Kita mulai besok pagi," Jack akhirnya berkata, mengakhiri diskusi. "Sekarang, kita buat tempat berlindung untuk malam ini."

Malam mulai turun, dan kelompok itu berkumpul di sekitar api unggun kecil yang dibuat dengan susah payah. Suasana hening, hanya diisi suara angin dan ombak yang memecah pantai.

Jack duduk di dekat api, matanya menatap ke dalam kegelapan hutan. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Sofia, yang duduk di sebelahnya, akhirnya angkat bicara. "Jack... menurutmu... apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Jack tidak segera menjawab. Dia mengambil napas panjang, lalu berkata pelan, "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ini bukan kecelakaan biasa. Ada sesuatu... atau seseorang... yang ingin kita tetap di sini."

Sebelum Sofia sempat menjawab, Mei Ling yang duduk di seberang mereka tiba-tiba berkata, "Pertanyaannya sekarang adalah... siapa, dan kenapa?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED