Rutinitas di pagi hari adalah sarapan agar kuat menghadapi kenyataan bukan banyak harapan seperti yang dilakukan Irfan.
Lelaki dewasa yang sudah rapi dengan kemeja dipadu dengan celana kain panjang dan sepatu pantofel itu menatap sinis ke arah sang istri yang sedang menghadap kompor.
"Dek... bisa enggak sih kamu perawatan, aku eneg lihat wajah kamu yang kusam dan dekil apalagi lihat badanmu yang makin hari makin melebar seperti gajah bengkak. Baru aja punya anak satu sudah kek gitu gimana kalau udah punya anak lima. Aku malulah, Dek, punya istri sepertimu, di kantor setiap hari selalu di suguhi wanita cantik, sexy dan wangi. Tapi di rumah selalu di sambut istri yang kucel dan bau bawang!!" omel Irfan. Ia menuju meja makan lantas menarik kursi untuk duduk, tangannya dengan cekatan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi beserta lauk yang di sajikan sang istri. Irfan sarapan dengan raut muka masam memandang sang istri yang memakai daster lecek serta rambut acak-acakan.
Wanita berwajah cantik alami namun tak terawat itu hanya bisa menghela nafas, keluhan seperti itu selalu keluar dari mulut suaminya setiap hari. Amira mematikan kompor setelah air di dalam panci mendidih lalu menuang airnya ke dalam gelas yang sudah berisi kopi.
"Kalau Abang mau aku cantik ya di modalin dong, Bang. Cantik itu butuh modal enggak sulapan," bantah Mira. Ia memendam emosi sembari meletakkan secangkir kopi susu di hadapan sang suami, meski setiap hari cacian dan makian ia dapatkan namun tetap melayani kebutuhan Irfan dengan baik.
Irfan makan dengan lahap bahkan ia menghabiskan lauknya tanpa memikirkan sang istri dan putrinya akan sarapan dengan apa. Setelah menyelesaikan sarapannya, ia kembali menimpali pembelaan Mira.
"Selama ini aku sudah memberimu uang seratus ribu untuk satu minggu kamu kemanain saja, harusnya kamu bisa menyisihkan sedikit untuk sekedar membeli skincare, Dek. Banyak tuh di toko biru, ataupun toko orange skincare yang enggak nyampe ratusan ribu sudah bisa bikin putih dan glowing," ujar Irfan dengan santai. Ia segera mengambil hp-nya dan mengetikan sesuatu.
Irfan menscrol beranda aplikasi hijau dan memperlihatkan kepada sang istri. Ia berpikir uang yang diberinya bisa cukup untuk berbelanja dan membeli skincare murahan tanpa mau tahu efek samping dari skincare itu.
"Nih lihat, banyak kan skincare dengan harga di bawah lima puluh ribu. Bahkan lima puluh ribu sudah dapat sepaket, kamunya aja yang enggak pandai mengatur uang dan malas merawat tubuh. Harusnya kamu tuh bisa menyenangkan suami biar suami betah di rumah, itu jerawat kamu makin hari makin penuh di wajah bikin aku makin jijik aja!" imbuh Irfan nyerocos tiada henti. Tanpa mau intropeksi diri ia selalu mencari-cari kekurangan sang istri.
"Boro-boro bisa pesan skincare dari aplikasi online, beli paketan data saja nggak mampu, Bang. Beli lauk untuk Abang saja rasanya ngos-ngosan. Abang pikir uang seratus ribu bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama satu minggu, apalagi Abang saat makan selalu minta lauk ikan. Coba deh Abang yang belanja, aku tinggal masak saja," balas Mira dengan kesal.
Istri mana yang tidak kesal bila suami terus menuntut dirinya untuk tetap cantik tetapi memberi uang saja sangat pelit, Irfan hanya memberi nafkah seratus ribu untuk satu minggu. Dengan entengnya ia meminta sang istri untuk perawatan.
"Kamu pikir beli skincare itu pakai daun apa, Bang. Perawatan kalau belinya cuma sekali juga percuma enggak akan ada hasilnya. Sama saja percobaan kalau mau perawatan kan harus rutin memakainya," imbuh Mira.
"Kamu bilang nggak cukup, Dek, dasar istri boros banget sih bisanya cuma ngabisin duit suami aja. Nggak tahu apa aku capek-capek kerja kamu enak-enak tinggal ngabisin duitku saja. Mulai hari ini aku jatah kamu lima belas ribu, Dek, cukup enggak cukup kamu harus cukup-cukupin. Ngeluh mulu kerjaan kamu," ucap Irfan. Ia mengeluarkan uang lima belas ribu dari dalam dompetnya. Bukannya menambah uang belanja justru ia menguranginya.
"Dah.. Abang mau berangkat dulu. Oh ya kalau nggak mau beli data mending nebeng wifi deh punya tetangga depan rumah, makanya punya otak tuh di manfaatin jangan cuma dianggurin," imbuh Irfan. Ia segera beranjak dari duduknya dan segera melangkah keluar rumah.
"Abang, enggak sarapan dulu??" tanya Mira. Bahkan ia mengabaikan segala ocehan suaminya.
"Enggak, Abang sarapan di kantor saja. Bosen sarapan di rumah menunya tempe, telur mulu. Jangan lupa nanti sore masak rendang buat Abang!" jawab Irfan dengan ketus.
Amira tak membalas lagi ucapan Irfan, dan segera mencium punggung tangan sang suami dengan takzim. Selalu seperti itu saat Irfan bosan makan di rumah ia akan memilih jajan di luar tanpa mengingat anak dan istrinya. Mira bahkan tak tahu berapa gaji Irfan sebenarnya, menyebalkan bukan??.
Setelah kepergian Irfan, Mira segera mengambil nasi untuk sarapan Azzura Celina Nora, putri tercintanya yang berusia dua setengah tahun.
Celin, panggilan yang mereka sematkan untuk putri kecilnya, Celin sedang asyik bermain dengan mainannya di lantai.
"Mira....!! Kerjaan kamu ngapain saja hah, ini rumah kenapa seperti kapal pecah dibiarkan saja!" Terdengar teriakan dari arah ruang tamu, siapa lagi yang datang kalau bukan Bu Fatma, Ibu mertua Mira.
Namun Mira tetap membiarkan Bu Fatma terus mengomel, karena ocehan wanita paruh baya itu sudah menjadi makanan sehari- hari baginya.
Mira tetap tenang, tak tergoyahkan oleh kata-kata kasar itu ia hanya menghela nafas panjang, dan segera menghampiri dimana Celin berada.
"Nanti aku bersihin 'Bu, tadi habis ngurus bang Irfan dulu. Sekarang mau nyuapin Celin sarapan," balas Mira. Ia menatap Ibu mertua dengan tatapan tulus dan sabar.
"Alah... dasarnya saja kamu yang lelet dan pemalas. Dulu Ibu juga pernah ada di posisi kamu, setiap subuh ibu sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan rumah jam tujuh semua sudah selesai, Ibu sudah mandi dan dandan yang wangi. Jadi suami tuh betah di rumah. Makanya mumpung anaknya masih tidur itu kita segera melakukan tugas istri dan ibu rumah tangga, bukanya malah ikut ngebo mulu," sungut Bu Fatma dengan menggebu.
Mira sama sekali tak mau meladeninya lagi, ia memilih fokus bermain bersama sang putri. Setelah selesai menyuapi Celin, ia segera memandikannya.
"Heh, kamu dengar enggak sih Ibu ngomong apa? Orang tua kalau ngomong itu dengerin dan dikerjakan bukan malah diam aja! Dasar wanita pemalas!" protes Bu Fatma karena Amira hanya diam saja dan memilih masuk ke dalam kamar mandi.
"Mira! Kamu budeg ya enggak punya telinga, kenapa diam aja? Apa kamu tiba-tiba bisu?" panggil Bu Fatma dengan suara meninggi.
Celin memeluk sang Ibu dengan erat karena takut dengan suara tinggi Neneknya. Mira memilih meng'iya'kan saja agar Bu Fatma cepat diam.
"Iya, Bu, aku udah denger kok," balas Mira.
"Kalau ngejawab itu jangan iya, iya, terus. Harus dilakukan, udah pemalas jorok lagi!" ucap Bu Fatma dengan ketus. Ia akhirnya keluar dari rumah ini membuat hati Mira merasa lega dan bisa mengurus putrinya dengan tenang.
Saat Mira selesai membereskan rumah dan memastikan Celin tertidur, ia merasakan kelelahan yang mendalam. Pandangannya menerawang keluar jendela, memikirkan Irfan yang akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.
Sebuah suara samar mengganggu lamunannya, ponselnya berbunyi. Mira melirik layar dan mendapati sebuah pesan SMS dari nomor tak dikenal. Meski ragu, ia membuka pesan tersebut, dan kata-katanya membuat bulu kuduknya berdiri.
Apakah kamu tahu ke mana Irfan pergi setiap malam?
Mira membaca pesan itu berulang kali, berusaha mencerna maksudnya. Siapa yang mengirim pesan ini? Apa maksudnya?
Pikirannya berkecamuk, namun ia mencoba menepis rasa cemas yang tiba-tiba datang. Mungkin hanya orang iseng. Tetapi, saat ia hendak meletakkan ponsel, pesan lain masuk.
Jangan terlalu percaya. Semakin kamu diam, semakin dia akan terus berbohong.
Mira merasakan detak jantungnya semakin kencang, seolah pesan-pesan ini mengisyaratkan sesuatu yang selama ini tak ia sadari. Ia menggenggam ponsel itu erat, mencoba menenangkan diri, namun perasaan aneh dan mencurigakan mulai menyelimuti pikirannya.
Ia memandang wajah Celine yang tertidur lelap di sampingnya, dan firasat buruk perlahan muncul di hatinya.
Apa yang sebenarnya terjadi di belakangku? batin Mira
Tiga kunci dalam pernikahan ialah senyum istri, do'a istri dan keikhlasan istri.
Senyum istri adalah Rezki suami, do'a istri itu kesalamatan suami sedangkan keikhlasan hati istri adalah kunci suksesnya seorang suami.
Maka dari itu janganlah seorang suami menyia-nyiakan bidadari yang sudah engkau pilih sebagai pelengkap hidupmu.
--------
"Sayur mayur, murah meriah..!" teriak penjual sayur yang sudah datang. Ibu-ibu segera menghampiri tak ketinggalan juga, bu Fatma.
"Kalian lihat deh si Mira, dia itu jorok banget masa baju kotor seperti itu di taruh di kursi," ucap bu Fatma dengan suara yang sengaja di keraskan.
"Eh iya, iya. Nggak nyangka ternyata Mbak Amira jorok banget orangnya," balas salah satu ibu-ibu itu.
Amira yang mendengar bahwa dirinya di bicarakan mengurungkan niat untuk berbelanja. Hatinya terasa kesal, capek, dan sakit bercampur aduk menjadi satu.
Hidup berdampingan dengan ibu mertua yang toxic tidaklah mudah. Selama empat tahun Mira memendam perasaan sedihnya sendiri, saat ia mengeluh kepada sang suami pasti Irfan akan membalas, "Maklum orang tua memang seperti itu".
Saat membersihkan rumah, tepat di bagian rak sepatu Mira tak sengaja menemukan uang di dalam sepatu Irfan yang sudah jarang dipakai.
"Uang! Banyak sekali, astaga," gumam Mira dengan kedua mata yang melotot.
"Ini pasti uangnya bang Irfan. Bisa-bisanya dia menyimpan uang di sini kalau di gondol tikus bagaimana coba," gumamnya lagi. Saat Mira menghitung lembaran uang merah itu ternyata ada sepuluh lembar. Selama menjadi istrinya Irfan, dirinya belum pernah memegang uang sebanyak itu.
"Bolehlah aku jadi tuyul di rumah sendiri?" Mira menyeringai licik. Ya, ia tahu apa yang harus di lakukannya.
Amira tidak bisa menahan senyum nakal yang melintas di pikirannya. Rasa penasaran dan kegembiraan campur aduk dalam dirinya, ia tidak menyangka akan menemukan uang sebesar itu di dalam sepatu Irfan. Pikiran-pikiran jahil mulai terbesit dalam benaknya, ide nakal untuk mengejutkan suaminya itu terus menggelitik di dada.
Tanpa ragu lagi, Amira segera menyembunyikan uang tersebut di tempat yang aman. Kemudian, ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang uang tersebut.
Sore hari setelah memandikan Celin dan memakaikan baju, badan Mira terasa kaku punggungnya terasa pegal. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kursi sofa sebentar dan memejamkan kedua mata untuk menikmati rasa sakitnya. Setelah sakitnya mereda ia berencana akan segera mandi sebelum Irfan pulang.
"Amira..!" Terdengar lengkingan yang begitu keras membuat Mira yang baru saja memejamkan mata terlonjak kaget.
"Tidur terus kerjaanmu!! Lihat ini rumah bagaikan kapal pecah, aku baru pulang kerja badan rasanya capek sampai rumah bukannya senang justru kepalaku semakin pening melihat rumah dari pagi sampai sore sangat berantakan, kamu malah enak-enakkan ngebo terus!!" Maki Irfan di ambang pintu. Raut wajahnya memerah seperti menahan amarah dan emosinya yang sangat besar, rahangnya juga terlihat mengeras tanda bila lelaki itu sudah di puncak kemarahan.
Amira segera membuka mata dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya, ia baru sadar ternyata ketiduran, sebelum memandikan putrinya rumah sudah bersih. Namun ternyata saat ia tertidur Celin memberantakkan lagi semua mainannya. Sungguh ia tak bisa berkata-kata apalagi, badannya terasa capek sekali setelah seharian mengurus rumah dan mengurus anak yang lagi aktif-aktifnya.
"Mira, mana makanan reques abang?! Abang kan minta di masakin rendang kenapa yang ada cuma mie instan." Teriak Irfan dari dapur. Rupanya ia mengomel sembari melangkah menuju dapur untuk mencari makan.
"Sama saja, Bang, itu mie juga rasa rendang kok," balas Mira. Ia segera bangkit dari duduknya meski kepala terasa berputar dirinya tetap membereskan mainan Celin.
Bruak....
Mira sungguh shock saat piring berisi mie goreng rasa rendang itu dilemparkan ke arahnya. Piring itu pecah dan mienya tercecer kemana-mana, untung saja pecahan piring itu tak mengenai tubuhnya ataupun tubuh Celin.
"Seharian ngapain saja kerjaan kamu, masak nggak becus, merawat diri juga nggak pecus. Ngaca sana lihat tubuhmu yang kumal dan rambut yang acak- acakkan di tambah lagi bau keringat kamu, bikin aku mual dan semakin jijik denganmu!" bentak Irfan. Amira tak kuasa membendung air mata, ia menangis terisak.
"Makan tuh rendangmu!!" ujar Irfan menginjak mie rendang dengan sepatunya dan menendang mie itu hingga mengenai wajah sang istri.
"Keterlaluan kamu, Bang," balas Mira. Namun Irfan sama sekali tak merasa iba dan ia bergegas masuk ke dalam kamar.
Seharian ini Mira belum sempat mandi, apalagi sekedar menyisir rambut ia tak sempat. Celin yang begitu aktif tak bisa berdiam diri, selalu ada saja tingkah Celin yang membuat sang Ibu kawatir dan tak bisa meninggalkannya walau sekedar untuk mandi. Bahkan perut Mira pun berbunyi keroncongan, ia belum sempat makan siang karena lupa.
Tadi pagi Amira tak jadi belanja setelah mendengar omongan Ibu mertuanya yang menyakitkan. Maka dari itu ia memutuskan untuk membeli mie instan saja, saat akan memasak kebetulan gas juga habis. Mau tak mau ia memasaknya dengan magicom. Sambil berlinangan air mata Amira membersihkan mie yang kotor itu dan membuangnya ke tempat tong sampah.
"Abang mau kemana??" tanya Mira. Ia heran saat melihat Irfan sudah rapi dan wangi sembari membawa kontak motornya.
"Mau keluar cari angin, sumpek dan mual aku di rumah terus!" jawab Irfan dengan ketus. Ia sama sekali tak memandang sang istri yang masih terisak.
"Ya- Yah, itut. Yah... itut," rengek Celin. Anak kecil itu mengulurkan kedua tangannya meminta di gendong sang ayah. Namu Irfan dengan tega tak memperdulikan tangisan dan rengekan Celin.
Amira sama sekali tak tahu Irfan akan pergi kemana, padahal ia berharap Irfan mau menjaga Celin walau hanya sebentar supaya dirinya bisa segera mandi. Amira memilih menenangkan Celin yang masih menangis dan memberikan susu formula agar tangisnya mereda.
"Dedek Celin yang cantik di sini sebentar ya jangan ke mana-mana, Bunda mandi sebentar ya," ujar Mira. Tangis Celin sudah mereda dan ia juga sudah tenang kepada setelah mengedot dan menonton kartun upin dan ipin di televisi.
Saat dirasa Celin sudah anteng, Mira bergegas menyambar handuk dan membawanya ke kamar mandi. Ia akan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar pikirannya juga menjadi dingin.
Huaa.... hua....huawaaa..
Baru saja Amira mengguyur tubuh sudah terdengar tangisan Celin yang begitu keras. Ia segera memakai sabun dengan cepat dan mengguyurnya dengan air lagi, setelah itu ia bergegas keluar setelah menutup tubuhnya dengan handuk.
"Astaga, Sayang, kamu ngapain lagi sih..." ucap Mira. Ia berlari menghampiri Celin yang sedang menjerit kesakitan.
"Celin..!" panggil Mira. Panik, itulah yang dirasakan Mira saat tubuh putrinya tak terlihat namun tangisnya terdengar begitu menyayat hati.
Kipas angin tergelatak di lantai, dan terlihat ada dua kaki yang bergerak. Mira segera menghampiri lalu mengambil kipas yang ternyata menimpa tubuh mungil Celin.
"Ya Allah, Celin, kenapa bisa begini. Apa yang sudah kamu lakuin, Nak."
Seperti inilah ada saja tingkah Celin yang selalu membuat Mira was-was dan tak bisa meninggalkannya dengan tenang. Entah apa yang di lakukan putrinya sehingga kipas yang berdiri di samping televisi itu bisa ambruk menghantam tubuh Celin.
Mira menggendong Celin dan membawanya ke dalam kamar, ia baringkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Mira membiarkan Celin menangis kejer, walau tak tega ia harus segera mencari baju ganti dan memakai daster yang tak ribet.
"Mira, kenapa Celin nangis nggak diam-diam sih. Pasti habis jatuh lagi kan, kamu ngurus satu anak saja enggak becus selalu saja jatuh dan jatuh terus!!" omel bu Fatma. Ia nyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar Mira, dan untungnya Mira sudah selesai memakai baju.
"Maaf 'Bu, tadi aku mandi sebentar, Celin malah jatuh tertimpa kipas angin," balas Mira segera menggendong Celin.
"Astaga jam segini kamu baru mandi. Sudah berapa kali Ibu bilang sama kamu kalau magrib-mangrib itu jangan mandi apalagi ninggalin anak sendiri, PAMALI. Bebal banget kamu di bilangin, kalau sudah begini susah sendiri kan, lalu di mana Irfan enggak mungkin kan dia belum pulang?" ujar Bu Fatma dengan nada tinggi. Wanita paruh baya itu selalu merasa benar dengan apa yang di ucapnya, ia merasa geram saat sang menantu tak pernah mendengar perintahnya.
"Habis pulang kerja bang Irfan keluar lagi, 'Bu," balas Mira dengan datar. Di dalam kamar yang tak begitu luas ia sibuk menenangkan Celin agar tangisnya segera mereda.
"Ya jelas dia pergi lagi, di rumah pasti dia bosan karena kamu tidak bisa memanjakannya. Makanya jadi istri itu yang pinter memanjakan suami biar suami betah di rumah dan enggak suka jajan di luar. Sebelum Irfan pulang kerja harusnya kamu tuh udah mandi, dandan yang cantik untuk menyambut suami pulang. Jadi suami tuh seneng lihat pemandangan yang segar bukan yang kucel dekil kayak kamu!" ucap Bu Fatma. Ia melenggang pergi begitu saja dan justru membela putranya tanpa mau membantu Mira menenangkan cucunya.
Hati Mira terasa perih dengan semua hinaan itu namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam pasrah dan menerima.
**
Keesokan paginya saat Irfan belum bangun, dengan ragu Mira membangunkannya untuk meminta uang. Ia harus segera membeli gas agar bisa memasak, segala ocehan yang akan keluar dari bibir Irfan sudah siap Mira terima.
"Bang, minta uang buat beli gas," ujar Mira.
"Hmm, perasaan beli gas baru satu minggu yang lalu masa udah habis. Memangnya kamu masak apa sih kok boros banget, kalau masak itu jangan boros-boros biar gasnya enggak cepat habis." Dengan suara serak khas bangun tidur Irfan mengomel panjang lebar padahal pertanyaan sang istri sangat singkat.
"Nih, jangan lupa kembaliannya dibalikin. Jangan korupsi," ujar Irfan. Ia menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu yang diambilnya dari dompet yang berada di atas nakas samping ranjang.
Mira segera mengambilnya dan berlalu menuju ke warung. Dalam perjalanan ia terus menggerutu, "Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan bahwa beli gas baru seminggu padahal beli gas sudah dua minggu yang lalu. Terus gas disuruh menghemat bagaimana bisa coba!"
Kebutuhan rumah seperti gas, galon, token listrik, peralatan mandi, semua sudah di tanggung oleh Irfan. Mira hanya diberi nafkah lima belas ribu sehari untuk kebutuhan dapur, Irfan sama sekali tak mau tahu bagaimana saat bumbu-bumbu lainnya sedang habis.
Terlalu berbakti, setelah membeli gas isi ulang Mira segera pulang tanpa ingin membeli yang lainnya.
"Mana kembaliannya?" tanya Irfan. Ia duduk di teras saat melihat sang istri sudah kembali dari warung langsung menanyakan uang sisa. Saat itu juga Mira segera memberikan kembaliannya.
"Heh kamu jangan coba-coba korupsi ya, Dek. Gas itu harganya dua puluh lima ribu harusnya kembaliannya dua puluh lima ribu juga. Kamu korupsi lima ribu ya cepet kembalikan yang lima ribu," pinta Irfan dengan tatapan marah.
"Harga gas naik, Bang, jadi tiga puluh ribu," balas Mira kesal.
Irfan menuduh sang istri korupsi lima ribu, segitu perhitungannya kah dia.
"Kamu jangan coba-coba bohongi aku, Dek, aku enggak percaya," ujar Irfan. Ia memeriksa semua saku daster Mira, bahkan sampai tega membukanya di depan rumah. Ia berpikir istrinya menyembunyikan di dalam ke**luan.
Beruntung saat Irfan membuka pakaian Mira tak ada orang yang lewat, andai saja ada seseorang yang melihat tindakan Irfan, Mira akan merasa sangat malu.
"Stop, Bang! Ini di depan rumah kalau ada orang yang lewat bagaimana, bisa-bisanya Abang membuka aurat istri sendiri di luar," decap Mira dengan marah juga.
Mira yang menahan kesal segera meninggalkan Irfan sendiri, ia harus segera masak membuat sarapan sebelum putrinya terbangun.
"Jangan lupa kopinya, Dek," teriak Irfan yang masih bisa Mira dengar.
Mira tak menjawab, tanpa Irfan meminta pun ia sudah hapal dengan kebiasaan sang suami. Kopi sudah siap dan sarapan sudah matang Mira segera sarapan terlebih dahulu karena dari kemarin ia belum sempat makan.
Sehabis sarapan Mira merasakan badannya yang terasa pegal serta kepala pusing akibat kurang tidur membuat ia memutuskan untuk berjemur terlebih dahalu.
Semalam Celin demam dan menangis terus, walau sudah diberi obat parasetamol tetapi demamnya tak kunjung mereda membuat Mira begadang. Irfan baru pulang sekitar jam dua, sesampai di rumah dirinya pun langsung tertidur tanpa mau tahu betapa lelahnya Mira. Celin baru tidur sekitar jam empat membuat kepalanya terasa cenat-cenut.
"Maafin Bunda ya, Sayang. Kamu pasti kelaparan dan capek, semoga dengan hadirmu Ayah bisa berubah sayang dengan kita," gumam Mira sembari meraba-raba perutnya yang mulai buncit.
Ya, selain mempunyai balita ia juga tengah mengandung buah hati mereka yang kedua. Usia kandungan Mira empat bulan jalan lima bulan. Itulah yang membuat dirinya cepat lelah dan merasa pusing.
"Enak sekali ya, pagi-pagi sudah nyantai aja!"
Mira sudah hapal dengan suara itu, ia memilih untuk tak meladeni dan tetap menatap sinar matahari yang masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Putri, Kakak Irfan itu merasa kesal karena diabaikan adik iparnya. Mereka tinggal satu desa namun berbeda Rt. Wanita berambut sebahu dan dandanan yang sedikit menor menatap benci ke arah Mira. Ia tak suka melihat Amira sedikit bersantai, ia akan merasa puas kalau Amira menderita dan tersiksa.
"Tuan putri jam segini ya sudah nyantai, rumah kayak kandang ya dibiarin aja. Kasihan sekali adikku punya istri tak tahu diri, bisanya cuma tiduran dan bermalas-malasan. Minta dilempar ke laut aja istri macam begitu," ucap Putri lagi dengan tangan bersedakap di dada serta wajah yang nampak angkuh.
Mira membuka mata dan menatap Putri yang tersenyum meremehkan. Kedua wanita itu memang tak pernah akur sejak pertama kali bertemu.
"Nggak usah nyindir-nyindir deh, Mbak, aku udah bangun dari sebelum subuh dan beres-beres rumah waktu semua orang masih tertidur. Selama ini aku selalu diam saja saat dihina dan ditindas namun mulai sekarang aku akan membalas perbuatan kalian, aku tidak sudi kalian injak-injak terus!" balas Mira dengan tegas dan tatapan yang tajam.
Amira berusaha mengumpulkan keberanian untuk membalas cacian sang kakak ipar meski baginya itu tidak mudah.
"Aku yakin, pasti bisa melawan mereka. Selama ini aku diam bukan berarti takut, tetapi aku menghormati mereka. Namun justru mereka menginjak-injak diriku seperti tak ada artinya. Kamu pasti bisa, Mira, ayo lawan orang-orang picik itu!" batin Amira meronta-ronta. Putri dan Mira sudah siap berperang di pagi hari yang cerah.