Bab 2

Amel yang sangat mencintai suaminya tidak pernah memiliki perasaan sedikitpun kepada pria lain selain suaminya. Walau banyak yang menggoda dan merayunya untuk menjalin hubungan asmara dengannya. Amel termasuk orang yang penyabar terhadap suaminya namun memiliki sifat sedikit bar-bar terhadap orang lain.

Andre yang bekerja sebagai sopir truk angkutan barang antar kota maupun luar kota tidak tentu waktu kerjanya. Kadang pergi subuh, pulang subuh, tapi kadang tidak pergi.

"Bang, hari ini berangkat kerja?" tanya Amel kepada Andre yang sedang duduk di atas lantai keramik menikmati segelas kopi.

"Nggak," jawabnya judes. 

"Oh, kita jalan-jalan yuk Bang," ajak Amel penuh semangat.

"Nggak, mau jalan-jalan kemana, cuaca panas gini! Malas!"

"Kan kita naik mobil truk Abang," ucapku sayu. Wajahku yang tadinya bersemangat berubah menjadi lesu.

"Apa? Naik truk? Gila kamu yah, jalan-jalan mau naik truk! Kau aja sana yang pergi nggak usah ngajak-ngajak aku!"

Amel membuang nafas kasar, dia merasa sesak atas jawaban suaminya yang jarang mau jika diajak jalan-jalan. 

"Kalau nggak mau naik truk, naik motor aja kita, bang," ucap Amel. Dia terus mencoba membujuk sang suami untuk jalan-jalan karena dia jarang sekali keluar rumah, jangankan healing ngobrol dengan tetangga aja jarang.

Amel lebih suka di rumahnya sendiri, menonton televisi sambil rebahan setelah selesai membereskan rumah. Selain itu dia bermain ponsel walau hanya mencari kesibukan untuk menyenangkan dirinya sendiri.

Belakangan ini dia juga sering bermain tiktok untuk menghibur dirinya sendiri terkadang dia duet dengan sang anak yang baru berusia empat tahun.

"Kalau Abang nggak mau, ya sudah."

"Iya, aku capek setiap hari kerja. Ini saat aku libur aku mau istirahat dulu, tolong mengerti aku yah aku nggak ingin kemana-mana," ujar Andre dengan nada suara merendah.

"Ya sudahlah kalau memang suamiku kecapekan aku tidak boleh memaksanya," ucapku di dalam hati.

"Lain kali aja deh kalau gitu bang, kapan ada waktu lagi kita pergi jalan-jalan yah," ucap Amel seraya memeluk tangan suaminya itu sebelah kanan.

"Sari dimana?" Andre melepaskan genggaman Amel dari tangannya seraya matanya liar mencari keberadaan sari.

"Sari lagi tidur siang bang."

"Oh," jawabnya.

Di saat bersamaan teman Andre datang ke rumahnya. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah beton itu yang bercat warna hijau. Pintu depan yang sedang terbuka lebar sehingga dapat melihat siapa yang datang.

Seorang pemuda berambut keriting memarkirkan motornya menggunakan standar satu lalu berjalan menuju Amel dan suaminya.

"Mau ngapain si Polan ke sini bang?" tanya Amel penuh curiga. Dia yang mengetahui jika Polan adalah teman suaminya yang gemar memakai barang terlarang itu mendadak emosi melihatnya.

"Bg Andre!" panggil Polan seraya tersenyum. Bang Andre membalas senyumannya itu dan memberi isyarat padanya dengan menyimak aku yang fokus menatap Polan.

Aku melihat raut wajah Polan berubah seketika saat menatap Amel. Dia mengetahui jika Amel tidak menyukai Andre ber narkoba.

"Hum, kenapa Polan?" tanya Amel.

"Ng-nggak ada kok Kak," jawabnya gugup.

"Bang Andre, manggis si Rendi sudah panen, ayo kita ke sana mengambilnya baru kita jual."

"Ah, serius kau Polan?! Nanti kita ke sana rupanya nggak bisa diambil!" kata Andre.

Dari cara bicaranya Amel mencurigai jika suaminya itu berbohong, dia hanya mencari alasan agar bisa pergi keluar dari rumah dengan alasan yang tidak bisa ditolak.

"Bisa! Soalnya tadi malam Rendi datang ke rumahku, dia yang mengatakannya padaku," jelas Polan menekankan Andre agar secepatnya pergi.

Andre menatap Amel dengan tatapan sayu, mungkin karena ingin pergi keluar bersama temannya. Itulah sifat Andre, kadang bicaranya kasar pada Amel, tapi kadang bisa juga lembut. Dia melakukan semua itu sesuka hatinya saja.

Jika dia mau begini dia melakukannya, jika ingin sesuatu dia cari cara untuk mendapatnya.

Amel memasang wajah cemberut kepada Andre, dia terlanjur kesal dengan sikap suaminya itu. Baru saja diajak jalan-jalan Andre nggak mau, setelah temannya datang ia ingin pergi ke luar.

"Dek, Abang pergi dulu sama si Polan ambil manggis. Walaupun hari ini Abang libur nggak ada uang masuk, untung ada Polan yang memanggil Abang untuk bekerja."

Amel ingin berontak dan marah meluapkan kekesalannya pada Andre, tapi Amel masih memiliki perasaan dan rasa malu di depan temannya jika mereka bertengkar. Amel mengurungkan niatnya untuk memarahi Andre  karena lebih memilih temannya dibandingkan istrinya yang jarang sekali keluar rumah.

Amel bergeming tidak menjawab perkataannya. Hati Amel  masih bergejolak, jiwanya kalut seperti benang yang berbalut-balut. 

"Dek!" Andre meninggikan sedikit suaranya karena Amel tidak menjawab perkataannya.

"Ya, sudah pulangnya jangan lama-lama ya bang, ingat waktu!" Amel selalu mengucapkan itu ketika Andre mau keluar rumahnya bukan karena suatu pekerjaan biasanya.

"Iya," jawab Andre. Dan itu saja jawaban yang Andre berikan saat Amel memintanya untuk tidak pulang lama ke rumah. Namun, Andre belum pernah menuruti kemauan istrinya itu hingga detik ini.

Jika dia sudah melangkahkan kakinya ke luar rumah walau hanya sekedar ke kedai kopi, dia tidak pernah pulang cepat ke rumahnya. Terkadang keluar setelah magrib jam tujuh malam, Andre akan pulang pada subuh hari. Begitulah seterusnya setiap Andre keluar rumah.

Sudah sering sekali Amel menasehatinya agar tidak pulang terlalu malam apalagi sampai subuh. Biar bagaimanapun seorang istri masih membutuhkan kehangatan dari suaminya selagi manusia normal.

Andre mengambil dompetnya yang terletak di atas meja televisi sembari mengantonginya di saku celana sebelah kanan. 

"Ini uang belanjaan hari ini," Andre memberikan uang sebanyak tiga puluh ribu ke tangannya Amel.

"Ini nggak cukup bang, beras kita juga habis, minyak dan cabe juga habis."

Melihat mereka sedang berbicara mengenai keuangan, Polan bergegas keluar dari rumahnya Amel dan menunggu Andre di atas motornya.

"Sudah, jangan berdebat denganku! Kamu nggak malu apa bicara soal uang di depan orang?!'' Andre yang tidak mau tahu dengan masalah uang yang kurang meninggalkan Amel begitu saja. Dia berjalan kasar menuju Polan.

"Berangkat kita bang!'' ujar Polan.

"Ya!" Andre naik ke jok belakang motornya Polan lalu melaju pergi meninggalkan rumahnya.

Amel menatap lesu uang tiga puluh ribu dengan pecahan dua puluh ribu dan sepuluh ribu di tangannya itu. Dia memikirkan lauk apa yang akan dimasak untuk hari ini.

Amel menatap Sari yang tertidur lelap di dalam kamarnya. Dia meninggalkannya sebentar untuk membeli mi instan di warung dekat rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah saja.

Dengan uang tiga puluh ribu dia membelikan beras satu kilogram dan mie instan tiga biji. Selebihnya, Amel belikan minyak goreng dan cabe secukupnya.

"Amel, aku lihat kerjaan suami kamu tuh lumayan yah, tapi kok lauk kalian makan sering sekali mie instan?" tanya pemilik warung kepo.

"Alhamdulillah Bu, masih ada pekerjaan. Soal lumayan atau nggak ibu nggak usah urus hidup saya, yang pentingkan saya nggak ngutang di warung ibu!" jawab Amel judes. 

Amel naik pitam saat pemilik warung mengatakan itu. Dia merasa pemilik warung itu terlalu kepo dengan urusan rumah tangganya, walau kenyataannya gaji suaminya lumayan tapi dia tidak bisa menikmati itu. 

Entah kemana saja uang itu dihabiskan oleh suaminya, jika ditanyai katanya bayar hutang dimana-mana sehingga jatah untuk keluarga kurang. Banyak yang sudah mengadu tentang perbuatan suaminya di luar sana yang gemar memakai narkoba dan suka membayari makan teman-temannya saat sedang bekerja.

Namun, jika Amel mempertanyakan itu suaminya tidak pernah mengakuinya, dia hanya mengatakan jika itu hanya akal-akalan orang saja untuk merusak rumah tangga mereka.

"Eh, saya cuman bilang faktanya kok Mel! Kok sewot pula Kau!" cicit pemilik warung itu seraya memutar mata kesalnya kepada Amel.

"Itu namanya ngurusin hidup orang, Bu! Urus saja diri ibu sendiri, nggak usah urus orang lain!" Amel meninggalkan warung itu dengan kemarahan.

Pemilik warung itu mendecakkan bibirnya seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah Amel.

Bab 3

Sepulang dari kedai Amel meletakkan belanjaannya di dapur. Dia memandikan putrinya yang belum mandi dari tadi pagi. Setelah mandi, Sari dan Amel menonton televisi.

Waktu sudah menjelang Maghrib, tapi suaminya Amel belum juga kunjung pulang. Amel terus menanti kedatangan sang suami karena jam sudah semakin berjalan. Sari kelaparan dan minta makan, Amel bergegas ke dapur mengambilkan nasi dan lauk untuk putrinya.

"Ma, ayah kok lama pulang yah?" tanya Sari pada Amel. Ini hal yang biasa ia tanyakan pada Amel jika ayahnya lama pulang.

Aku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam, sementara suaminya sudah pergi dari pukul sembilan pagi. Pulang untuk makan siang juga nggak.

"Mungkin sebentar lagi sayang, sabar yah," ucap Amel pada putrinya seraya mengelus-ngelus rambutnya.

"Ayah kok begitu terus sih Ma, suka pulang malam-malam. Ayah nggak sayang sama sari ya Ma, nggak perduli sama Sari yang selalu nungguin ayah," ucap sari dengan tatapan sendu.

"Sebentar lagi ayah kamu pasti pulang, habiskan makanannya sayang habis ini sari tidur," ucap Lisa sembari tersenyum.

Setelah selesai makan Amel mengantarkan Sari ke dalam kamarnya dan menemaninya di sana hingga tertidur pulas. Setelah satu tertidur pulas Amel keluar menuju kamarnya.

Dia mencoba menghubungi suaminya untuk menanyakan kenapa belum pulang karena kadang hatinya suka kahawatir jika sesuatu terjadi pada suaminya itu karena terlalu lama sekali pulangnya. Walau sebenarnya dia tidak pernah kenapa-napa tapi hati sebagai seorang istri sangat peduli terhadap suaminya.

Sudah beberapa kali di telpon tapi Andre tidak mengangkatnya. Amel kesal dan melemparkan handphonenya di atas kasur. Dia melirik jam dinding lagi ternyata sudah pukul dua belas malam.

Amel tidak bisa tidur jika suaminya belum pulang ke rumah. Dia akan terus menunggunya sampai jam berapa pun suaminya itu pulang.

Amel kembali mengambil ponselnya yang dia lemparkan tadi dengan penuh kekesalan. Untung saja di atas kasur jadi ponselnya masih aman dan terkendali bagaimana jika itu tadi di atas lantai semen atau keramik bisa hancur tuh ponselnya.

Amel membuka facebooknya dan mencari hiburan di sana dengan menonton video-video lucu. Tapi seketika pikirannya beralih untuk menonton video porno untuk memuaskan nafsunya karena beberapa bulan ini suaminya jarang sekali memberikannya kenikmatan sexual.

Dia bergegas mengambil headset dari dalam laci, dan menaruhnya di kedua lobang telinganya. Sebelum dia memutar video mesum yang akan dia nonton dia mendapatkan chat dari seorang pria tampan dan masih berstatus lajang sedang putus cinta. Dan pemuda itu adalah temannya di saat SMP dulu.

Amel yang tidak terlalu suka membalas pesan para lelaki karena tidak ingin melakukan itu karena dia sudah bersuami sekarang malah berubah. Menurutnya kesetiaan dan kesabarannya selama ini terhadap suaminya sudah tidak ada artinya lagi.

Satu tahun belakangan ini suaminya yang dari penyayang dan tidak kasar terhadapnya berubah menjadi kasar dan tidak perduli terhadap dirinya bahkan kebutuhan  biologisnya saja Andre sudah tidak perduli.

Terkadang Amel suka curiga jika dia memiliki wanita simpanan di luar sana karena jarang sekali menyetubuhinya. Dia sibuk dengan ponselnya bermain game dan lainnya. Walau begitu Amel masih berusaha untuk bersabar dan melayani hasrat suaminya jika suaminya yang minta.

Keluar rumah saja untuk nimbrung bersama tetangga ataupun teman-teman masa sekolah dulu tidak ia ikuti padahal ini jamannya lagi trend reunian bersama teman masa sekolah. Dia lebih memilih kesibukannya sendiri di dalam rumah.

"Bang, Kamu dimana sih! Aku lagi butuh dimanja, butuh pelukan hangat darimu, aku ingin memuaskan hasrat ku yang sudah lama terpendam," lirih Amel pada dirinya sendiri.

Dia membuka pesan dari temannya itu yang awal mulanya menanyakan kabarnya, dengan sigap dia langsung membalasnya karena ia tidak punya teman ngobrol dan curhat dengan keadaannya yang seperti ini.

"Hai Amel, apa kabar?" tanya temannya itu yang bernama Bayu.

"Alhamdulillah kabar baik, kamu bagaimana kabarmu?" tanya Amel kembali. Nafasnya terburu-buru dan besar seperti orang yang sedang naik nafsunya.

Banyak sekali yang mereka obrolkan di sana, mulai dari tangan tempat tinggal, anak berapa, tinggal dimana, hingga berujung pada curhat tentang masalah masing-masing. 

Amel juga yang tidak mempunyai teman curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis terpaksa menceritakan segalanya kepada Bayu. Sementara Bayu curhat tentang pacarnya yang lebih memilih untuk menikah dengan orang lain karena suruhan dari orang tuanya.

Di dalam obrolan itu mereka saling memberikan perhatian dan bertukar pikiran hingga berujung kedekatan. Namun, walaupun mereka sudah begitu dekat tapi mereka sama sekali tidak pernah berjumpa.

Hubungan itu terus berlanjut hingga beberapa Minggu lamanya, sampai-sampai Amel sudah tidak terlalu memikirkan lagi sikap suaminya itu. Jika suaminya pergi dan dia tidak punya teman, Amel akan menghubungi Bayu dan mereka akan saling mengobrol layaknya dua pasangan yang sedang berpacaran tapi tidak pernah bertopik sexual hanya pada umumnya orang berpacaran.

Hari demi hari telah berlalu, adik suaminya Amel yang bernama Bella berantem dengan suaminya dan dia datang ke rumah Amel untuk mengadu kepada Abangnya yaitu suami Amel.

Hubungan Amel dan batu sudah berlangsung selama satu bulan dan tidak pernah diketahui oleh suaminya karena Amel menutupnya rapat-rapat. Amel juga heran dengan perubahan dirinya yang dulunya anti selingkuh dan melirik pria lain tapi sekarang dia malah melakukannya untuk dirinya sendiri.

Wajahnya dulu yang sering sekali murung karena sikap kasar suaminya sekarang berubah lebih ceria dan tidak mementingkan sikap suaminya itu lagi.

Suaminya pulang larut malam dia sudah tidak perduli lagi karena itu hal yang dia inginkan sekarang agar dia bebas telponan dengan Bayu saling melepaskan rindu.

Suatu hari ada konser band di kota Amel, Bayu meminta Amel untuk datang agar mereka bisa ketemuan malam ini. Namun, keinginan Bayu itu tidak terkabul karena seharian ini Amel ditemani oleh suaminya yang tidak pergi kemana-mana.

Bukan hanya itu, Andre juga mengajak Amel yang sudah berbulan-bulan tidak melakukan hubungan suami istri. Amel yang telah lama menahan hasratnya langsung menyetujui ajakan dari suaminya itu.

Malam itu juga mereka melakukan hubungan suami istri dengan nikmatnya.

"Bang, aku sangat mencintaimu," lirih Lisa dengan manjanya dengan suara yang penuh menggoda.

Saat berhubungan intim Andre dan Amel hanya melepaskan celana mereka saja, tidak seperti kebanyakan orang yang melepaskan seluruh pakaiannya. Andre juga selalu mencapai klimaks duluan sementara Amel masih belum mencapai klimaksnya.

Namun, hal itu tidak dipikirkan oleh Andre, kepuasan nafsunya sudah terpenuhi dan dia sudah menyemburkan spermanya sudah cukup baginya. Masalah kepuasan nafsu Amel yang belum terpenuhi dia tidak mau tahu dan setelah itu meninggalkan Amel begitu saja di dalam kamar.

Andre kembali memakai celananya, dan pergi lagi ke luar rumah untuk menemui teman-temannya. Amel merasa sedih karena hasratnya belum tuntas masih tanggung di tengah jalan, dia bergegas meraih ponselnya dan melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

Amel bergegas ke kamar putrinya untuk memastikan apakah putrinya masih tertidur pulas, dan ternyata putrinya masih tertidur dengan lelap.

Amel membuka pesan dari batu yang tidak sempat ia buka karena seharian ini sedang bersama suaminya. Yang isinya, Bayu sudah menunggunya di tempat konser, membuka panggilan tak tertahan dari bayu juga sampai enam panggilan tak terjawab.

Ada pesan suara juga jika Bayu kesal karena Amel tidak mau menemuinya, tidak membalas pesannya dan tidak mengangkat telponnya. Amel merasa bersalah dengan sikapnya terhadap Bayu, dengan sigap dia menelpon Bayu dan meminta maaf padanya.

"Aku minta maaf karena seharian ini aku bersama suamiku," ucap Amel melalui telepon via whatsapp.

"Baiklah, apalah aku ini yang hanya pria cadangan," ucap Bayu kesal.

"Bukan seperti itu Bay, aku sangat mencintai Kamu tapi kamu juga harus mengerti tentang kondisiku. Dari dulu juga kamu sudah tahu aku wanita yang bersuami dan kamu tetap ingin menjalin hubungan denganku," lirihku.

"Iya, aku ngerti Amel. Hanya saja aku kesal karena kamu tidak membalas pesanku, aku tidak mengira jika kamu lagi bersama suami Kamu. Biasanyakan dia tidak di rumahmu?" ujar Bayu.

"Iya, tapi seharian ini beda. Dan kami baru selesai berhubungan intim dan dia sudah pergi."

Terdengar suara hembusan nafas Bayu yang begitu keras dari ponsel Amel dan Bayu terdiam.

"Bay, maafkan aku yah. Kapan-kapan kalau aku ada waktu untuk keluar rumah aku akan menemui Kamu," ucap Amel penuh percaya diri.

"Baiklah,'' ucap Bayu. Setelah itu mereka mematikan ponselnya masing-masing karena Amel mendengar suara motor suaminya di luar rumah.

Amel mengintipnya dari jendela kaca kamarnya, ternyata memang Andre yang sudah balik entah darimana. Amel sesegar mungkin menghapus semua isi chatnya dengan Bayu dan memblokir kontak Bayu sementara waktu.

Amel turun dari pembaringanny menuju ruang tengah membukakan pintu untuk suaminya tercinta. 

Kret!

Andre langsung memasukkan motornya ke dalam rumah, setelah itu Amel melirik kembali jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul satu tengah malam.

"Tumben jam segini sudah pulang, biasanya subuh," ucap Amel di dalam hatinya.

Andre langsung menuju kamar tidur mereka tanpa basa-basi kepada Amel. Amel juga yang biasa memarahi suaminya saat pulang larut malam sejak mengenal Bayu hal itu sudah jarang sekali ia lakukan.

Andre menaiki kasur empuk dan membaringkan tubuhnya. Lagi-lagi Amel memperhatikan matanya Andre yang terlihat sangat merah seperti baru selesai memakai barang narkoba. Amel menarik nafas panjang karena kesal melihat suaminya tapi kali ini dia bisa menahannya karena dirinya sudah memiliki teman yang bisa diajak ngobrol berbagi cerita kisah rumah tangganya.

Amel yang sengaja memakai piyama tidur transparan tidak dilirik oleh suaminya. Tubuhnya yang sintal, kulitnya putih dan bersih, wajahnya yang cantik tidak pernah lagi dikatakan oleh suaminya.

Amel merindukan suaminya yang selalu memuji kecantikannya di awal mereka menikah, tapi semua itu hilang ketika putri mereka berusia tiga tahun. Kalau dilihat dari paras, Amel merupakan wanita cantik idaman para pria, memiliki rambut lurus dan panjang sepinggang.

Di waktu anak gadis banyak sekali pria yang antri untuk mendapatkan cintanya begitu juga untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, Amel lebih memilih Andre yang bekerja serabutan saat itu karena sudah menjalin asmara bertahun-tahun lamanya.

Perubahan suaminya masih bisa disabar-sabarkan olehnya walau terkadang dia mau juga marah kepada Andre. Tapi rasa cintanya tidak pernah pudar walau rasa cinta suaminya sudah terlihat berubah.

Andre menarik selimutnya dan memejamkan kedua matanya, Amel juga menarik selimutnya seraya menatap suaminya itu. Dia sudah lega dan bisa tidur jika suaminya telah pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya, Bella yang sedang berantam dengan suaminya datang lagi ke rumah Amel dengan membawa sebuah tas besar yang berisi semua pakaiannya. Dia meminta kepada kami untuk tinggal di rumah sebelum dia mendapatkan pekerjaan.

Bella adik perempuannya Andre, Andre satu-satunya Abang mereka dan Bella nomor dua sementara saudara perempuannya yang lain satu tinggal satu kota juga dengan Amel dan satunya lagi tinggal di luar kota.

Amel sudah merasa muak dengan kehidupannya saat ini. Setelah mau membuka hati untuk menerima Bayu dan membalas pesan darinya Amel sadar bahwa dunia ini luas. Dulu Andre sering sekali ingin menceraikannya tapi Amel selalu menolak dengan alasan putrinya yang masih kecil. Dan di dalam hati Amel hanya ada Andre, dan dia merasa was-was tidak bisa melanjutkan hidupnya tanpa Andre.

Namun, setelah mengenal dunia luar dan membuka hati untuk pria lain. Amel merasa dirinya selama ini bodoh menghadapi sikap suaminya yang sudah jelas tidak menganggap keberadaannya lagi. Berbuat sesuka hatinya, jika ingin berhubungan intim suaminya mengajak dan Amel tidak menolak. Jika Amel yang menginginkannya Andre sering sekali menolaknya.

Belum lagi jatah uang belanjaan yang kadang kurang sehingga hanya berlakukan sayur rebus dan sambal terasi saja. Sebulan setelah mengenal Bayu, Amel berkeinginan untuk meminta cerai kepada Andre. Dia sudah siap dengan konsekuensi yang akan ia terima saat tidak bersama Andre lagi.

Tapi semua itu berubah setelah Bella datang ke rumah mereka, Amel mengurungkan niatnya untuk meminta cerai. Sebenarnya dia ingin bercerai bukan karena ingin beralih kepada Bayu, tapi karena dia sudah sadar bahwa masih banyak kehidupan di luar sana tanpa harus terus bergantung dengan kehidupan yang tidak jelas ini.

"Bang, aku tinggal di sini dulu yah! Bolehkan Kak?" tanya Bella kepada mereka berdua.

Andre yang sebagai Abang kandungnya tentu saja mengijinkannya dan Amel sebagai istri yang baik selama ini terhadap keluarganya Andre tentu saja mengijinkannya. Baginya adik-adik suaminya adalah adiknya juga, jadi dia harus berbuat baik kepada mereka.

"Anakmu tinggal dengan siapa?" tanya Andre kekada Bella.

"Mereka berdua aku tinggalkan dengan Adam, Bang!" sahut Bella dengan wajah kesal.

Adam adakah bama suaminya Bella. Usia pernikahan kami sama hanya beda beberapa bulan saja. Bella memiliki dua orang anak satu putra dan satu putri, dan keduanya dia tinggalkan bersama suami dan mertuanya.

"Kamu tega meninggalkan mereka?" tanyaku pada Bella. Bella terdiam mendengar pertanyaannku.

"Biarkan saja, daripada dia bawa bersamanya akan tambah susah nantinya! Biarkan saja mereka yang rawat biar tau rasanya bagaimana merawat anak!" Andre menyela perkataan Amel.

"Iya, mereka itu jahat kak! Suamiku ketahuan selingkuh dan ibu mertuaku merestuinya," lirih Bella dengan wajah sendu.

Kami semua tahu jika ibu mertua Bella sangat membencinya, selalu di rendahkan dalam keluarga suaminya. Adam yang selalu membela ibunya membuat keluarga Andre kesal dengan sikap keluarga suaminya Bella. Sudah beberapa kali mereka ingin berpisah tapi selalu terhalang karena Bella sangat menyayangi suami dan anaknya.

Namun, setelah mengetahui Adam selingkuh bersama mantan pacarnya dan ibunya Adam merestuinya Bella merasa sakit hati dan pertengkaran di antara mereka terjadi. Ibu mertuanya mengusirnya dari rumah mereka dan mengeluarkan tasnya yang sudah diisi dengan pakaian miliki bella.

Bella sangat sedih dengan perlakuan ibu mertuanya dan tidak mendapat pembelaan dari suaminya sehingga Bella meninggalkan rumah mertuanya itu dengan perasaan pilu ditambah lagi saat terpaksa meninggalkan kedua anaknya.

"Ya sudah jika begitu kejadiannya, Kamu tinggal di sini saja. Apa yang ada itu yang kita makan bersama," ucap Amel kepada Bella seraya menghapus pundaknya.

Keluarga Andre juga tahu jika Amel adalah seorang wanita penyabar dan baik hati dan juga sangat tulus membantu orang. Makanya setiap ada masalah mereka pasti datang ke rumah Amel untuk mengadu kepada Andre.

Setelah Bella tinggal di rumah Amel, Andre jarang sekali pergi bekerja unag belanjaan jadi tidak cukup untuk makan sehari-hari ditambah lagi biaya  tanggungan yang bertambah.

Amel yang dulunya pernah jualan online kembali membuka usahanya itu, sementara pekerjaan rumahnya dibantu oleh Bella dan diberi upah oleh Amel tiga puluh ribu setiap harinya.

Pulsa, bedak, semua kebutuhan Bella Amel yang tanggung. Suaminya yang jarang bekerja membuatnya semakin fokus berjualan online. Andre yang dulunya sebagai supir truk beralih menjadi seorang petani. Dai membuka lahan yang sudah lama ditinggalkan dan tidak diurus. Tanah itu milik mereka tapi tidak pernah diurus dengan benar.

Andre mulai berkebun dan biaya kebutuhan sehari-hari kebanyakan dari hasil jualan online. Setelah Bella resmi diceraikan oleh suaminya, Bella menjalin hubungan dengan berbagai pria yang tidak pandang bulu. Ada yang pria tua, pria seumuran dengannya, dan ada pula yang brondong dan lebih muda satu tahun dibandingkan dirinya.

Amel dan Bella seumuran sama-sama masih menjalani umur 25 tahun. Salah satu pria yang ia pergauli berumur 24 tahun yang bernama Arman. Arman seorang pemuda yang masih berstatus lajang, dulunya dia bekerja di luar kota sebagai operator alat berat.

Arman dikenalkan oleh Amel kepada Bella karena dia tahu jika Arman ini adalah sosok pemuda yang baik hati. Amel mengenal Arman di saat Amel dulunya memiliki tetangga yang akrab dengannya hanya berjarakkan dinding saja. Temannya itu bercerita jika ia mempunyai seorang adik laki-laki yang baik hati uangnya banyak dan tidak pelit.

Namun, setelah satu tahun akrab dengannya mereka pindah ke luar kota dimana tempat adiknya yang bernama Arman itu bekerja. Arman putus asa karena ditinggalkan oleh pacarnya yang sangat ia cintai. Mereka sudah menjalin hubungan asmara selama empat tahun.

Dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun selain bersama mantan kekasihnya itu. Namun, karena suatu kesalahan wanita itu terpaksa menikah dengan seorang pemuda yang lebih tua darinya dan meninggalkan Arman yang sangat mencintainya.

Amel melihat status beranda Arman yang merawat dari beranda facebooknya dan mengetahui jika Arman sudah putus dengan pacarnya itu. Amel yang sudah tidak menutupinya untuk saling berkomunikasi dengan pria lain walau hanya mengobrol saja, mengirimkan pesan via messenger kepada Arman.

Awal mulanya hanya menanyakan keberadaan kakaknya Arman yang nomor whatsappnya tidak aktif lagi. Arman memberikan nomor wahatsapp kakaknya itu kepada Amel dan menceritakan kronologi perpisahannya bersama sang mantan kekasih.

Arman begitu terkutuk karena ditinggal nikah oleh wanita yang sangat ia cintai selama ini. Dan dia tidak menyangka jika wanita itu lebih memilih pria asing itu dibandingkan dirinya.

Cerita punya cerita, Arman semakin dekat dengan Amel. Mereka berdua menganggap satu sama lainnya sebagai kakak dan adik tidak lebih daripada itu.

Amel yang mengenalkan Bella kepada Arman merasa sangat senang karena mereka yang sama-sama lagi galau akan memiliki teman saling curhat. Bella yang memiliki paras cantik dengan kulit sawo matang itu sangat senang saat berhubungan dengan Arman hingga suatu hari mereka berjanji akan ketemuan di rumah Amel.

Amel merasa bahagia karena selama chattingan dengan Arman dia tidak pernah kenal bagaimana wajah aslinya yang dia tahu hanya dari Facebook saja. Amel menyetujui kedatangan Arman ke rumahnya begitu juga dengan Andre.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED