"Ya pak' Jawab Ana sopan.
Setelah tiba di dekat majikannya itu.
"Duduklah!" Peritah Aris.
Sembari mengisyaratkan tangannya agar gadis itu duduk di sofa yang ada di sampingnya itu.
"Baik pak" Sahut Ana.
Lalu duduk di sofa yang di maksud oleh majikannya itu.
"Ana, mungkin semenjak kedatangan Elios tempo hari, dan juga keluargaku ke sini hari ini aku yakin sekali kalau di benakmu kau pasti terus-terusan bertanya, mengapa bisa mereka selalu mengejek dan mengiramu kekasihku bukan?" Tanya Aris.
Matanya menatap ke arah gadis itu
"liiiiya pak' Sahut Ana membenarkan.
Wajahnya tampak memerah saat mengakui itu.
"Awalnya kami memang tidak akan pernah memberitahu pada siapapun selain orang-orang yang hanya menjadi kepercayaan kami, tapi berhubung kau juga terlibat di dalam masalah ini, jadi aku memutuskan untuk memberitahu kebenarannya padamu" Ujar Aris menjelaskan.
Ana sempat kebingungan dengan maksud pria itu, tapi Ana tetap duduk manis dan mendengarkan dengan baik apa yang akan di katakan oleh pria itu selanjutnya.
Sebelum Aris meneruskan ucapannya,
Aris terlebih dahulu menarik nafasnya lalu membuangnya kembali, karena ini pertama kalinya dia menceritakan hal pribadinya kepada orang lain.
"Aku dan Bella hanya menikah Siri, bahkan di saat awal pernikahan kami sampai saat ini, kedua belah pihak keluarga kami tidak tahu menahu soal itu, mungkin kau sempat tak percaya dengan ucapanku, tapi itulah kernyataannya, aku memang sengaja menceritakan ini padamu, alasannya hanya karena aku ingin agar kedepannya kau tetap tutup mulut dan tidak menanyakan apa-apa kepada semua kerabatku kalau sewaktu-waktu mereka berbuat hal yang sama lagi, aku harap kau dapat memaklumi mereka, kau tak usah melakukan apa-apa, kau hanya cukup diam menanggapi ucapan mereka semua" Pesan Aris.
"Walaupun saat ini status kami memang sudah bukan suami istri lagi, akan tetapi aku tetap tidak mau kalau berita ini sampai tersebar ke khalayak dunia luar, jadi aku harap kau bisa menyimpan rahasia ini rapat-rapat dari orang lain, kau bisa bukan?"Tanya Aris penuh harap.
".iya pak, Ana jamin, Ana akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjaga rahasia bapak, jadi bapak tak perlu khawatir tentang ini"' Sahut Ana seraya tersenyum ke arah pria itu.
Jujur saja Ana sempat terkejut saat mengetahui kalau kedua majikannya itu hanya menikah Siri, mengapa bisa keduanya hanya menikah siri, memangnya ada masalah apa dengan keluarga mereka? begitu pikir Ana.
Tapi Ana memilih untuk membungkam mulutnya dari pada harus menanyai soal kehidupan majikannya itu secara mendetail.
"Aku percaya padamu! kalau begitu sekarang kau boleh kembali ke kamarmu, aku hanya ingin memberitahumu soal itu,"
Ujar Aris menjelaskan.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu' Jawab Ana sopan. Lalu berdiri dari duduknya meninggalkan ruang tamu.
******
Entah mengapa semenjak Ana mengetahui kalau kedua majikannya itu sudah bercerai rasanya Ana benar-benar sudah menjadi canggung pada majikannya itu, pedahal dulunya Ana tak pernah merasa secanggung ini walaupun di rumah hanya ada mereka berdua.
"Ana bersiaplah secepatnya! aku akan sekalian mengantarmu ke sekolah terlebih dahulu sebelum ke kantorku hari ini,"
Pesan Aris pada gadis itu sebelum dia meninggalkan meja makan.
"Baik pak' Sahut Ana.
Ana pun langsung cepat-cepat membereskan piring kotor yang ada di atas meja lalu menyucinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dapurnya barulah Ana bergegas pergi ke kamarnya.
Sesudah penampilannya tertata rapi,
Ana pun langsung buru-buru keluar dari kamarnya.
Di lihatnya majikannya itu sudah menunggu di ruang tamu, saat Aris melihat Ana sudah ada di sana, Aris pun langsung buru-buru keluar rumahnya berjalan ke arah mobilnya yang ada di garasi.
"Masuklah!" Perintah Aris.
Sesudah pintu Mobilnya sengaja ia buka dari dalam, demi mempersilahkan gadis itu agar duduk di sampingnya.
"Apa tak apa-apa kalau Ana duduk bersebelaham dengan bapak?" Batin
Ana. Dia sempat termangu karena pria itu menyuruhnya untuk duduk di depan.
"Tunggu apa lagi? ayo masuk!" Ujar Aris lagi saat melihat gadis itu masih mematung di luar.
"Aah baiklah' Sahut Ana akhirnya. Lalu duduk di samping majikannya itu.
Setelah itu Aris pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Cantik sekali gadis ini hari ini, Gumam Aris dalam hati.
Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman tipis saat melihat gadis itu.
Sementara Ana hanya diam mematung di tempatnya, saat ini tubuhnya terasa gemetaran, entah mengapa setelah status majikannya itu sudah menjadi duda rasanya Ana canggung sekali berdekatan dengannya, bahkan duduk bersebelahan seperti ini saja jantungnya langsung deg-deg an seperti sehabis berlari maraton.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam membisu, sampai akhirnya mobil Aris sudah terparkir di halaman sekolahnya.
"Saya turun dulu pak' Pamit Ana.
"Terimakasih sudah mengantarkan saya ke sekolah" Lanjutnya lagi seraya ingin bergegas keluar mobil.
"Ana tunggu dulu!"
"Kenapa pak?" Sahut Ana seraya menolehkan wajahnya pada pria itu.
"Ini ambilah! untuk keperluanmu sehari-hari" Ujar Aris seraya memberikan uang ratusan ribu beberapa lembar kepada gadis itu.
"Ah tak apa pak, tak usah' Tolak Ana.
"'Ambil saja! bukankah uangmu kemarin hilang? kalau kau tak punya uang kau akan kelaparan seharian di sekolah, lagi pula bukankah mulai hari ini kau mulai mengikuti Bimbel sehabis pulang sekolah?"
"Tapi pak, Ana tak bisa menerimanya, bapak sudah terlalu banyak membantu Ana."
"Baiklah kalau kau masih keberatan menerima uangku, anggap saja uang ini sebagai pinjamanmu padaku, jadi saat kau gajian nanti aku akan memotongnya, bagaimana?"
Ana pun langsung berpikir kembali, kalau di pikir-pikir apa kata majikannya itu ada benarnya juga, tanpa uang bagaimana dia akan berbelanja, lagi pula Uang tunjangan yang biasa di berikan oleh majikannya itu kemarinnya juga sempat Ana tolak, karena dia masih mempunyai uang sisa yang cukup berkat bonus dari majikannya itu.
"Baiklah, Ujar Ana akhirnya seraya mengambil uang itu dari tangan pria itu.
Setelah Aris melihat gadis itu sudah memasuki gerbang sekolahnya, Aris pun langsung melajukan mobilnya kembali menuju ke Kantornya.
"Hey aku baru saja melihatmu keluar dari sebuah mobil yang sangat mewah, apakah itu mobil majikanmu?" Tegur Sheri saat melihat sahabatnya itu sudah memasuki gerbang sekolah, Sheri pun langsung berlarian menghampirinya.
"Ya, Sahut Ana datar seraya tetap meneruskan perjalanannya ke kelas.
"Wah majikanmu baik sekali, sampai ke sekolah pun kau di antarkan olehnya, aku jadi penasaran ingin bertemu dengan majikanmu itu" Ujar Sheri seraya mengetuk-ngetuk kepalanya sambil membayangkan rupa majikan sahabatnya itu.
"Udah ah! mending kita piket dulu, mumpung lonceng belum berbunyi, Ujar
Ana memperingatkan.
"Ahhh iya aku lupa,' Sahut Sheri seraya langsung mempercepat langkah kakinya untuk menyaingi sahabatnya itu.
******
Sepanjang perjalanan Aris menuju
Kantornya bibirnya terus saja menyunggingkan sebuah senyuman, bahkan mulutnya juga sekali-kali menyenandungkan sebuah lagu.
"Sepertinya hari ini moodku tengah bagus sekali, mungkin gara-gara Rey memberitahuku kalau beberapa hari ini produk perusahaanku mulai merajalela di pasaran yang ada di Indonesia, senang sekali rasanya akhirnya semua kerja kerasku selama ini mulai membuahkan hasil, Batin Aris.
Setibanya di Kantor.
"Pagi pak direktur?"
Sapa satpam kantornya Aris saat melihat direkturnya itu tengah berjalan mendekat ke arahnya ingin memasuki Kantornya.
"Pagi" Sahut Aris seraya tetap terus menerus tersenyum.
"Wah ada apa ini dengan pak direktur? dia barusan saja menyahut sapaanku, bahkan senyuman yang lebar" Gumam satpam itu seraya menatap ke arah direkturnya dengan bibirnya juga ikut meyunggingkan sebuah tatapan tak percaya.
Sesampainya di dalam kantor.
Hal yang sama juga terjadi lagi, setiap semua karyawan Aris yang kebetulan berpas-pas an dengannya itu, juga melakukan hal yang sama persis seperti yang di perbuat oleh satpam itu, bahkan karena saking tidak percayanya mereka dengan penglihatan dan juga pendengarannya, semua karyawan kantornya itu, sampai harus menyakiti salah satu bagian tubuhnya agar mereka bisa terbangun dari mimpi konyolnya itu, tapi di saat mereka melakukan tindakan bodoh itu mereka merasakan kesakitan, akhirnya mereka pun benar-benar yakin kalau semua yang mereka alami saat ini adalah kenyataan, bukan sebuah mimpi tidur belaka.
Sepeninggal Aris.
"Wah apakah Mood pak direktur tengah baik hari ini? bahkan dia juga menjawab sapaan kita, Bisik-bisik para karyawannya.
"Ya, aku sampai tak habis pikir laki-laki berwajah datar dan cuek sepertinya bisa melakukan hal yang sangat langka seperti tadinya' Sahut yang lainnya.
"Hahaahhh apa kalian tak tahu? pak direktur sebentar lagi akan menyebar undangan"Ujar Wisnu menyela para temannya itu.
"Menyebar undangan? memangnya kau tahu dari mana?" Ujar semua karyawati yang ada di situ berbarengan.
Jujur saja mereka sempat merasa patah hati saat mengetahui laki-laki yang diam-diam mereka idam-idam kan itu akan segera menikah.
"Tentu saja aku tahu, kalau kalian tak percaya akan ucapanku tak apa' Sahut
Wisnu acuh seraya langsung pergi menuju ke Toilet untuk memberitahu seseorang.
Sementara para wanita itu hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain saat mendengar ucapan ngawurnya Wisnu itu. mereka masih tak percaya dengan kata-kata pria itu, karena mereka tahu sendiri Aris itu orangnya bagaimana.
Tut... panggilan terhubung.
"Hallo." Sahut Rika dari seberang sana.
"lbu ada berita baik hari ini Ujar Wisnu memberitahu penuh antusias.
"*Apa itu?"
"Pak Aris pagi ini bersikap begitu ramah pada semua karyawan kantor, bahkan muka datarnya itu selalu di hiasi dengan senyuman*" Ujar Wisnu bercerita.
"Wah benarkah? ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan, akhirnya
Anak tunggalku satu-satunya itu lembaran hidupnya yang baru akan segera dimulai senang sekali rasanya mendengar kabar bahagia ini darimu' Sahut Rika.
Sudah lama Rika tak pernah melihat senyuman anaknya itu, gara-gara pasca pernikahannya dan Bellena tidak mereka restui, bahkan Rika sampai mati-matian mencarikan calon istri untuk anaknya itu, tapi semuanya ditolak secara mentah-mentah oleh pria datar itu.
"Ya, saya hanya ingin memberitahu ibu soal itu, kalau begitu teleponnya akan saya akhiri dulu" Ujar Wisnu meminta izin.
"Ya" Sahut Rika.
Tak lama setelah itu telepon pun sudah berakhir.
.
Sorenya di SMAN Satu.
Waa..waaa....
Teriak para siswi-siswi di sekolah itu saat melihat ada seorang laki-laki tampan berkacamata hitam yang masih mengenakan Jas kantornya, pria itu tengah berdiri dengan posisi kedua tangannya masuk ke saku celana sambil menyandarkan punggungnya di kaca mobilnya.
Terlihat sekali kalau dia tengah menunggu seseorang.
Para siswi-siswi yang berteriak itu pun tak lain adalah teman-teman sekelasnya Ana, sementara anak-anak kelas 3 yang berasal dari kelas sebelah ( kelasnya Aldo) sudah pulang terlebih dahulu sekitar 20 menitan yang lalu, jadi saat ini sekolah sudah mulai sepi.
"Hey siapakah lelaki tampan itu? sepertinya dia tengah menunggu seseorang yang juga berada di lingkungan sekolah ini, Bisik-bisik mereka.
"Ya, Aku rasa juga begitu," Sahut yang lainnya.
Anak-anak itu masih berkerumunan di sana demi melihat pria tampan itu, sementara orang yang menjadi bahan tontonan hanya cuek tak memperdulikan mereka.
Ana yang saat itu baru saja keluar dari kelasnya langsung di buat terheran-heran saat melihat kerumunan teman-teman sekelasnya itu.
Ana pun langsung mempercepat langkah kakinya untuk melihat apa yang tengah mereka lihat, sesampainya Ana di situ,
Ana pun langsung di buat melongo saat melihat apa yang tengah di tonton oleh para siswi-siswi teman sekelasnya itu.
"Pak Aris, kenapa beliau ada di sini? dia sedang menunggu siapa?" Gumam Ana.
Tapi setelah Ana berdebat dengan pikirannya.
Ana pun langsung memutuskan untuk segera pulang ke rumah, mungkin saja majikannya itu tengah ada urusan di sekolahnya, begitu pikir Ana.
Tanpa pikir panjang, Ana pun langsung menerobos kerumunan teman-temannya itu untuk segera pulang ke rumah secepat mungkin.
Aris yang saat itu kebetulan sudah menemukan objek yang di carinya dari tadi itu langsung buru-buru memanggil gadis cantik yang tengah berjalan kaki menjauh dari halaman sekolah itu.
"Ana..." Panggil Aris.
Ana yang merasa namanya di panggil itu pun lantas langsung menolehkan wajahnya ke belakang saat mendengar seseorang menyebut namanya itu.
Sementara itu siswa-siswi yang dari tadi tetap asyik memandangi pria tampan itu, langsung dibuat terperangah karena terkejut saat mendengar pria itu memanggil nama Ana, perempuan yang satu kelas dari mereka itu.
"Pak Aris!" Sapa Raihan( kepala sekolah
Ana) saat melihat Pria itu tengah berada di halaman gerbang sekolahnya.
Raihan pun langsung mengulurkan tangannya pada pria itu.
"Oh hay pak Raihan, Sapa Aris balik seraya menerima uluran tangan pria itu.
"'Sedang apa anda di sini?"
Tanya Raihan penasaran.
"Ah tidak apa-apa saya memang kebetulan berada di sini untuk menunggu anda, karena ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda' Ujar Aris menjelaskan.
Mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain,
karena Aris merupakan salah seorang donatur di sekolah SMA N satu.
Ana yang saat itu tidak melihat siapa yang memanggilnya barusan, selain majikannya yang tengah asik mengobrol dengan kepala sekolahnya itu pun langsung melanjutkan perjalanannya kembali.
Awalnya Ana sempat berpikir kalau yang memanggilnya barusan itu adalah majikannya, tapi berhubung saat dia melihat majikannya yang tengah asik mengobrol dengan kepala sekolahnya itu pun, dia pun langsung berpikir mungkin saja tadinya dia hanya salah dengar.
Sementara itu para siswi-siswi yang tadinya berkerumun di sana pun langsung berbubaran saat melihat kepala sekolahnya itu.
"Kenapa bapak tidak menelepon saya saja, kenapa harus susah-susah datang kemari?"
Ujar Raihan.
"Ah kebetulan saya memang ada urusan yang lainnya juga di sini,"
Ujar Aris menjelaskan.
"Oohh" Ujar Raihan manggut-manggut.
Setelah itu keduanya pun langsung terhanyut dalam obrolan, setelah urusannya sudah selesai Aris pun langsung pamit ingin undur diri.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,
Pamit Aris setelah maksudnya sudah tersampaikan kepada Raihan.
"Ya, silahkan pak' Sahut Raihan.
setelah itu keduanya pun langsung berpisah, Raihan pun langsung melanjutkan perjalanannya kembali.
Sementara Aris saat melihat orang yang dipanggilnya sudah tiada, langsung bergegas melajukan mobilnya kembali.
"Kemana gadis itu?"
Ujar Aris dalam hati, sembari mobilnya tetap menyusuri sepanjang jalanan raya untuk mencari gadis itu.
Tak seberapa jauh dari penglihatannya, akhirnya Aris pun sudah menemukan objek yang di carinya.
"Ana naiklah!" Titah Aris saat dia sudah berhasil mensejajari langkah gadis itu.
"Bapak' Gumam Ana.
Tanpa banyak bersuara lagi Ana pun langsung naik ke dalam mobil.
"Kenapa kau tidak menungguku?"
Tanya Aris sembari melanjutkan perjalanannya kembali.
"Memangnya bapak menunggu Ana?"
Tanya Ana keheranan sembari menatap pria tampan di sampingnya itu.
"Ya aku menunggumu, bahkan aku tadi memanggilmu."
"'Ah itu Ana tidak tahu pak, awalnya Ana memang ada mendengar suara bapak memanggil Ana, tapi saat Ana menoleh ke belakang, bapak tengah asik mengobrol dengan kepala sekolah, jadi Ana fikir, Ana hanya salah dengar"
Ujar Ana menjelaskan.
"Oh begitu' Sahut Aris.
"*Ada apa dengan pak Aris? kenapa dia sampai harus menjemputku ke sekolah, dan satu lagi kenapa dia harus berpenampilan seperti ini?"
Ujar Ana dalam hati seraya memandangi wajah tampan pria itu, bahkan awalnya Ana tak mengenali penanmpilan majikannya itu.
Akan tetapi setelah Ana melihat warna jas kerja dan juga mobilnya, Ana pun langsung tersadar bahwa pria tampan itu adalah majikannya.
"Ana hari ini aku memang sengaja menjemputmu, karena tadinya mamaku ada memintaku untuk mengajakmu bermain ke rumah,"' Ujar Aris bercerita.
Aris langsung tahu apa yang ada di pikiran gadis itu, saat melihat expresinya yang nampak kebingungan, jadi Aris pun langsung cepat-cepat menjelaskannya.
"Ouuhh Sahut Ana singkat.
Tak lama setelah itu Aris pun terlihat tengah memarkirkan mobilnya di sebuah
Butik.
"Kenapa kita malah ke sin?" Batin Ana.
Dia merasa heran karena pria itu justru mengajaknya ke sebuah butik.
"Ayo kita turun dulu!" Ajak Aris.
"Bukankah bapak bilang ingin mengajak
Ana untuk bermain ke rumah orangtuanya bapak, lantas kenapa kita justru mampir ke sini?"
"Kau harus mengganti baju sekolahmu terlebih dahulu, tidak mungkinkan kita ke sana dengan pakain sekolahmu itu" Ujar
Aris menerangkan.
"'Ah iya pak' Sahut Ana.
Dia baru tersadar, kalau ucapan majikannya itu ada benarnya juga.
Akhirnya keduanya pun langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam butik itu.
Tak seberapa lama, keduanya pun sudah terlihat keluar dari butik itu, lalu melanjutkan perjalananya kembali.
Ting tong...
Bik Nung yang kebetulan saat itu tengah menata piring di atas meja makan pun langsung buru-buru berjalan ke arah pintu saat mendengar Bel rumah majikannya berbunyi.
"Bik Nung!" Panggil Suci (mamanya Nisa). "Ya Non,' Sahut Bik Nung seraya menghentikan langkahnya.
"Bik Nung lanjut aja nata piringnya di meja makan! pintunya biar saya aja yang buka,"
Pesan Suci seraya langsung berjalan menuju pintu.
"Enggeh non,' Sahut Bik Nung seraya langsung melanjutkan kegiatannya kembali.
Ceklek..
Pintu terbuka.
"Ngapain lho di sini?" Ujar Aris sinis saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya, karena Aris paling sebal saat melihat wanita itu, gara-gara Suci sering menitipkan anak tengiknya itu pada mamanya.
Banyak sedikitnya Aris selalu saja kena imbasnya karena ulah konyol Nisa.
"Ketemu bibik bukannya nanyain kabar, malah di sinisin kek gitu, Gerutu Suci.
Setelah itu Suci pun langsung berlalu begitu saja di hadapan Aris, untuk menghampiri gadis cantik yang ada di sebelahnya itu, lalu menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Sementara Ana yang di perlakukan seperti itu oleh suci hanya diam dan menurut saja
Saat lengannya di tarik oleh wanita cantik yang mengaku sebagai bibik majikannya itu.
Setibanya di dalam.
"Hey lihatlah! siapa yang datang" Ujar Suci memberitahu kepada semua keluarganya yang saat itu tengah berkumpul di ruang tengah.
Lantas semua orang yang berada di situ pun langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita cantik itu.
"Wahhh apakah kamu yang bernama
Ana?" Tanya Gina (Omanya Aris) seraya menghampiri gadis cantik itu.
"lya nek," Sahut Ana malu-malu lalu mencium punggung tangan wanita tua itu terlebih dahulu.
"Jangan panggil nenek sayang! tapi panggil saja saya Oma, nama saya Gina, jadi kamu bisa panggil saya dengan sebutan Oma
Gina!"
"lya Oma' Sahut Ana malu-malu.
Namun masih terdengar sangat canggung, setelah itu giliran yang lainnya lagi yang ikut menyapa dan mengajak Ana berkenalan.
Senang sekali rasanya Ana bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga majikannya itu, walaupun di sini statusnya hanya sebagai orang luar, namun keluarga Aris memperlakukan Ana seperti keluarga mereka sendiri.
"Oma! Oma juga berada di sini?" Ujar
Aris terkejut, lalu langsung memeluk dan menciumi kedua pipi Oma kesayangannya itu.
Sudah berbulan-bulan Aris tak pernah berjumpa dengan Omanya, karena Gina selama ini tinggal di luar kota bersama
Suaminya.
"Sudah lama sekali Oma tak bertemu cucuk kesayangan Oma ini, lihatlah dirimu! semakin terlihat bertambah tua dari saat kita bertemu terakhir kali waktu itu,' Ejek Gina.
"Oma sudahlah! kalian sepertinya sangat senang memojokan Aris" Aris langsung merajuk saat mendengar ucapan omanya itu.
"Kalau kau tak ingin di ejek lagi, makannya menikahlah secepatnya! Oma sudah tidak sabar untuk menimang cicitnya Oma," Ujar
Gina seraya melirik ke arah Ana.
Sementara orang yang di lirik hanya tersipu malu, Ana sudah tahu apa yang akan terjadi padanya kalau sampai berjumpa dengan keluarga majikannya itu. Huh lagi-lagi Aris hanya bisa merajuk saat mendengar ejekan anggota keluarganya itu.
"Wah gadis cantik ibuk rupanya sudah datang!" Ujar Rika menyapa.
Saat matanya bertemu pemandangan seorang Ana yang sudah berkumpul di tengah-tengah keluarganya itu.
Rika memang baru saja menampakan batang hidungnya di sana, karena dari tadinya dia tengah sibuk memasak makanan di dapur, Rika sengaja turun langsung ke dapur, untuk memasakan makanan bagi semua keluarga besarnya itu.
Karena setiap akhir pekan dalam 6 bulan sekali, keluarga mereka memang memiliki tradisi untuk berkumpul-kumpul di salah satu rumah keluarga mereka. Kebetulan kali ini yang terkena giliran adalah keluarganya Rika.
Ana pun langsung cepat-cepat berdiri dari duduknya untuk menyalami ibu majikannya sebagai tanda hormatnya pada wanita paruh baya itu.
"Wah kalian lihatlah! sepertinya sebentar lagi di rumah ini akan segera mengadakan pesta nikah besar-besaran' ejek Rika terangan-terangan seraya melirik ke arah anak tunggalnya itu.
"Mama diamlah! kalau kalian terus mengejek kami berdua seperti ini kami akan kembali pulang sekarang!"
Suara Aris terdengar sangat kesal.
Lalu menarik lengan pembantunya itu untuk membawanya pulang ke rumahnya saat ini juga.
"Heii.. Ana yang menjadi objek sasaran saja tak ada marah dan merajuk sepertimu, kenapa malah kau yang menjadi sewot dan juga ingin membawa-bawa Ana pulang ke rumah bersamamu, kalau kau tak suka kami ejek, pulang saja sana! tapi jangan membawa-bawa Ana pulang bersamamu!"
Usir Raka (ayahnya Nisa).
"Huh sewot katamu? suka-suka akulah kalau aku ingin mengajak Ana pulang, maka dia juga harus pulang bersamaku, karena Ana bekerja padaku, jadi kalau aku ingin kembali ke rumah sekarang maka dia juga harus ikut bersamaku, karena dia bisa kemari juga karena aku' Tukas Aris.
"Hey kalian itu sekarang bukanlah seorang teman lagi, jadi yang tua harus menjadi contoh yang baik bagi yang muda, dan yang muda juga harus menghormati yang tua!"
Tegur Andi pada kedua pria itu.
"Huh siapa juga yang mau menganggapnya paman papa, bahkan urusan otak saja otakku jauh lebih jenius darinya' Sahut Aris tak mau kalah.
"Sudahlah berdebatnya! lebih baik sekarang kita makan terlebih dahulu' Ajak Rika pada semua keluarganya itu.
"Ya, sebaiknya kita makan dulu, ngobrolnya kita lanjut nanti saja' Ujar Gina menengahi.
Setelah mendengar ucapan Gina barusan,
Aris dan Raka yang tadinya tengah berdebat pun langsung terdiam kembali.
"Ayo! kenapa kalian masih belum bangun-bangun juga' Tegur Gina lagi pada
Anak cucunya itu.
Seraya langsung berjalan ke ruang makan terlebih dahulu.
Setelah itu semuanya pun langsung bangun dari duduknya lalu mengekor di belakang Gina untuk makan malam.
Sesampainya di meja makan.
"Sayang ini untukmu!" Ujar Rika lembut seraya menyodorkan sepiring penuh makanan lezat yang diambilnya barusan khusus ia ambilkan untuk calon menantunya itu.
"Gak usah repot-repot buk, Ana kan bisa mengambilnya sendiri," Tolak Ana halus.
"Tak apa sayang, kamu sama sekali gak ada ngerepotin ibuk sedikitpun, ibu malahan senang sekali karena kamu mau berkunjung kesini, jadi sebaiknya kau jangan sampai membuat ibu kecewa!" Ujar
Rika memaksa.
"'Ah baiklah, terima kasih buk' Ujar Ana akhirnya.
Jujur saja makanan yang diberikan oleh Rika adalah makanan yang begitu menggugah selera makannya, hanya saja karena Ana merasa tak enak dan tak ingin merepotkan orang lain jadi dia menolaknya.
"Ehmmm...ehmmm."
Aris langsung berdehem saat melihat ulah mamanya itu.
"Kau kenapa sayang? kau juga ingin mama layani?" Tanya Rika seraya menatap ke arah anaknya itu.
"Ya tentu saja mama, aku kan anakmu, tapi kenapa rasanya aku jadi tersisih sekarang"Jawab Aris seraya pura-pura memberengut kesal.
"Apakah kau cemburu sayang, karena mama lebih perhatian pada calon menantu mama yang cantik ini dibanding dirimu?"
Ujar Rika seraya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda anak bujangnya itu.
"Mama! mama bicara apa? Aris kan sudah kasih tau kalau Ana itu cuma pembantunya Aris bukan kekasih.
" Suara Aris terdengar sangat kesal, namun entah mengapa di hatinya ada perasaan bahagia saat semua keluarganya terus mengolok-ngoloknya seperti itu.
"Sudahlah kau tak perlu berbohong! sebegitu malunya kah kau mengakui gadis cantik ini sebagai kekasihmu? oma sudah tak sabar ingin melihat kalian segera naik ke pelaminan, jadi oma harap setelah Ana lulus sekolah nanti, kalian harus menikah secepat mungkin Ujar Gina menengahi seraya menatap ke arah Ana yang tengah menyantap makanannya.
"Uhuk..uhuk.."
Ana langsung terbatuk saat mendengar ucapan Gina barusan.
Aris yang kebetulan memang duduk bersebelahan dengan gadis itu pun langsung dibuat panik lalu memberikan gelas air putihnya kepada Ana.
Ana pun langsung cepat-cepat menerimanya dan meneguknya sampai habis dalam sekali tegukan.
"Apa kau tak apa-apa?" Tanya Aris khawatir.
"Ya Ana tak apa-apa pak" Wajah Ana langsung bersemu merah saat mendapat perhatian dari pria itu
"Wah kalau bapak bersikap seperti ini pada Ana siapapun juga memang akan mengira kalau kita berdua adalah sepasang kekasih, jadi tolong berhentilah bersikap seperti ini Batin Ana.
Sementara itu semua keluarga Aris yang menyaksikan perhatian Aris kepada Ana itu pun langsung di buat senyum-senyum tak jelas. Mereka tahu status Ana yang sebenarnya, akan tetapi mereka juga bisa melihat sendiri kalau pria kebanggaan mereka itu diam-diam sudah jatuh cinta kepada pembantunya itu.
Ah rasanya mereka bahagia sekali, akhirnya gunung es yang membeku itu perlahan-lahan mulai mencair, mereka sudah terlalu lelah mengaturkan perjodohan untuk pria itu, saat ini tugas mereka hanyalah membuat Aris agar segera menyatakan perasaannya kepada
Ana.
"Bagaimana tuan Aris kau setuju bukan dengan pendapat Oma?"
"Pendapat apa oma?"
"Menikah setelah Ana lulus sekolah."
Aris tak langsung menjawab pertanyaan omanya melainkan justru menatap ke arah gadis yang ada di sebelahnya itu.
Entah mengapa saat ditanya omanya seperti itu, Aris tiba-tiba malah ingin meminta persetujuan dari gadis itu.
Sementara Ana yang sadar tengah di tatap oleh majikannya itu pun seketika jantungnya langsung kembali berdebar-debar tak karuan.
"Saya sudah kenyang, jadi saya akan keluar terlebih dahulu Pamit Ana seraya langsung berdiri dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruang makan.
Sementara Aris tetap fokus memandangi kepergian gadis itu sampai akhirnya Ana menghilang di balik pintu.
"Aris bagaimana pendapat oma, kau setuju bukan?" Suara Gina kembali terngiang di telinganya. Aris pun langsung tersadar dari lamunannya.
"Entahlah oma, yang jelas kami tak memiliki hubungan spesial saat ini"' Sahut Aris datar.
Setelah itu semuanya pun langsung terdiam kembali dan melanjutkan makan malamnya.
Setelah mereka semua puas berbincang-bincang sampai larut malam di ruang tengah bersama anggota keluarganya itu, Aris pun langsung memutuskan untuk pamit undur diri kepada semua keluarganya saat melihat Ana yang sudah menguap beberapa kali karena matanya sudah mengantuk.
"Buk, oma, Ana pulang dulu ya?" Pamit Ana seraya mencium kedua punggung tangan Rika dan Gina secara bergantian.
"Oke hati-hati ya sayang, lain kali kau harus datang kembali kesini," Pesan Rika.
"lya buk!' Sahut Ana. Setelah itu Ana pun langsung melangkahkan kakinya keluar untuk menyusul majikannya.
Sementara semua keluarganya Aris juga tak lupa untuk mengantarkan kepergian mereka sampai ke teras rumah.
"Rika secepatnya kau harus memikirkan cara untuk membuat Aris segera mengakui cintanya pada Ana, Ana adalah gadis yang tepat untuk Aris, dia begitu sopan santun, pertama kali melihatnya saja aku sudah tahu kalau dia adalah gadis baik-baik yang tidak gila harta dan kehormatan, dia memang wanita yang tepat untuk menjadi bagian dari keluarga kita, ingat! keluarga kita turun temurun selalu mengutamakan perilaku dan akhlaq nya dalam mengoreksi seorang calon menantu"' Pesan Gina pada anaknya itu dengan wajah yang sangat serius.
"Ya ma, mama tak usah khawatir, Rika akan berusaha mencari cara agar Aris menyatakan cintanya pada Ana secepatnya, adapun soal Ana, apa yang mama katakan barusan memang benar, Rika pun juga merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu gadis itu" Puji Rika.
"Ya semoga saja segera terwujud" Sahut
Gina singkat.
Keluarga Aris memang benar-benar berharap kali ini Aris akan bersedia menikahi Ana, lagi pula mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri kalau pria itu mempunyai perasaan terhadap pembantunya.
*****
Lagi-lagi di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam membisu, saat Aris melirik ke arah gadis di sampingnya di lihatnya Ana semakin bertambah canggung dari sebelumnya gara-gara obrolan mereka di meja makan tadinya.
"'Ana apa kau tak apa-apa?" Ujar Aris membuka percakapan saat melihat ulah gadis itu.
"Ya Ana tak apa-apa pak."
"Maaf kalau keluargaku sempat membuatmu menjadi tak nyaman, lain kali aku tak akan membawamu menemui mereka lagi, kau pasti tertekan sekali bukan, saat mendengar ucapan mereka yang begitu konyol itu?"
Wajah Aris tampak sangat menyesal karena sudah membawa gadis itu bermain ke rumahnya.
"Jangan berkata seperti itu pak! Ana bahkan senang sekali bisa berkumpul dengan keluarga bapak, karena mereka ramah tamah pada Ana, walaupun Ana hanya orang luar dan tidak memiliki status sosial seperti keluarga bapak, tapi mereka berbeda dari kebanyakan orang, Ana suka mereka,"Jawab Ana seraya tersenyum.
"Benarkah?"
"lya."
"Syukurlah kalau begitu, aku pikir kau diam karena tertekan dengan kata-kata keluargaku."
Setelah itu keduanya pun langsung hening kembali. Saat ini mata Ana benar-benar sudah tak dapat diajak kompromi lagi olehnya, Ana langsung tertidur pulas di tengah perjalanan.
Satu jam kemudian.
Mobil Aris sudah tiba di halaman rumahnya. saat Aris menolehkan wajahnya ke samping, di lihatnya gadis itu sudah tertidur begitu lelapnya.
"'Saat tidur pun kau masih terlihat cantik"
Gumam Aris seraya tersenyum kecil.
Entah perasaan apa yang mendorongnya,
Aris tiba-tiba langsung ingin mendaratkan ciumannya di bibir mungil gadis itu.
Cupp
Ciumannya berhasil mendarat di bibir gadis itu, bahkan dia juga tak hanya sekedar mendaratkan ciumannya di sana Aris juga menjilat bibir merah alami tanpa lipstik itu.
Ana yang saat itu merasa tidurnya terusik karena ulah jahil majikannya itu, perlahan-lahan mulai menggerakan tubuhnya dan mencoba memicingkan kedua matanya untuk kembali terjaga.
Aris yang saat itu sadar akan ulah gadis itu pun langsung cepat-cepat menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk manis di kursinya sambil pura-pura sibuk sendiri.
"Apa kita sudah sampai pak?" Tanya Ana saat melihat mobil yang ditumpangi sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Ah ya, aku baru saja ingin membangunkanmu, tapi kau sudah terlebih dahulu bangun,' Sahut Aris gugup.
Wajahnya tampak memerah saat mengatakan itu.
"Apa yang aku lakukan? kenapa aku berlaku seperti pencuri untuk mengambil bahkan aku melakukannya di saat dia tengah tertidur Maki Aris dalam hati.
kesempatan mencium bibir gadis ini, aaah
Ana yang sadar akan ulah sikap majikannya itu menjadi terheran-heran sendiri, di tambah lagi saat dia merasakan bibirnya terasa lembab, seperti habis di cium.
Oh Ana memang sempat berpikir kalau majikannya itu diam-diam mencuri kesempatan untuk mencium bibirnya di saat dia tertidur.
Tapi di saat dia pikir-pikir kembali, itu tidak mungkin terjadi, mungkin saja bibirnya basah karena ilernya ooh, Ana malu sekali saat membayangkan dirinya yang tertidur sampai mengeluarkan iler di hadapan laki-laki itu.
Ana pun langsung buru-buru berlarian ke kamarnya karena malu.
"Apa yang kulakukan? kenapa bisa aku tertidur sampai mengeluarkan iler di hadapan pak Aris, aaaa mau ku taruh menelungkupkan bantal ke atas wajahnya. di mana mukaku" Batin Ana seraya menelungkupkan bantal ke atas wajahnya.