Samsul di buat kaget setengah mati. Saat tukang sayur langganan istrinya memberitahukan, bahwa dia beberapa kali, melihat Mila istrinya, keluar dari rumah milik seorang lelaki muda, yang rumahnya bersebelahan dengan rumah yang ditempati Samsul sekarang.
Tapi Samsul tak percaya begitu saja aduan Mang Ujang.
Tukang sayur yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar komplek perumahan.
Dan untuk itu. Samsul harus membuktikan sendiri kebenarannya.
Sebenarnya Samsul baru mengetahui, bahwa di sebelah rumahnya di huni oleh seorang lelaki muda.
Melihat wajahnya saja Samsul belum pernah, apalagi mengenalnya. Karena sibuk dengan pekerjaan di kantor.
Samsul tak pernah tahu semua kejadian di sekitar komplek perumahan yang ia tempati.
Pernah satu kali, Samsul melihat motor matic warna merah terparkir di depan teras rumah itu. Tapi Samsul tak memperdulikannya dan tak mau peduli. Samsul juga tak mengetahui dengan pasti. Sejak kapan lelaki muda itu menempati rumah yang hampir dua tahun kosong tak berpenghuni itu.
Lagipula tak ada yang aneh pada sikap Mila. Wanita itu bersikap wajar- wajar saja di depannya. Hanya saja, belakangan ini. Samsul merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya. Mila sering bolak balik ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tapi itu bukan berarti Mila berselingkuh. Justru Samsul merasa senang melihat istrinya yang semakin hari semakin menjaga kebersihan tubuhnya.
Aduan Mang Ujang tentang Mila istrinya, tak mempengaruhi keharmonisan rumah tangganya. Sebelum ada bukti yang kuat. Samsul tak mau berprasangka buruk terhadap Mila. Wanita yang tiga tahun mendampinginya dalam suka dan duka. Meski perempuan itu belum juga memberinya keturunan.
Seperti biasa Mila yang anggun dan menawan, selalu menyiapkan sarapan pagi kesukaan Samsul. Roti isi daging dengan teh hangat.
"Pa. Pulangnya jangan terlalu malam, ya?" tuturnya manja, sambil memeluk Samsul dari belakang.
"Iya Ma. Papa pasti pulang cepat, kalau pekerjaan sudah beres," jawab Samsul sambil mengecup pipi Mila dengan lembut.
Senyum mengembang Mila, mengawali hari Samsul saat pergi bekerja. Itulah yang membuat Samsul sangat menyayangi istrinya.
Mila penuh perhatian dan manja.
Namun sebelum sempat ia mengayunkan kakinya, Samsul berhenti sejenak karena teringat akan sesuatu.
"Ohiya Ma. Mama tahu, gak? Di sebelah rumah kita, katanya sudah ada penghuninya?" tanya Samsul.
Wajah Mila seketika pucat.
"Ehh, anu Pa. Ma ... Mama kurang tahu Pa," ucap Mila gagap.
"Ya sudah. Papa pergi dulu, ya?"
Samsul kemudian pergi dengan motor kesayangannya.
Mila menghela nafas lega berkali- kali. Di balik kisah asmara terlarangnya dengan berondong di sebelah rumahnya, rupanya hari ini ia masih di limpahi secuil keberuntungan.
Mendadak Samsul menanyakan penghuni sebelah rumahnya tadi, yang tak lain adalah berondong simpanannya, yang tiga bulan ini menjalin hubungan gelap dengannya.
Lelaki muda yang baru berusia dua puluh tahun itu. Di kenalnya lewat media sosial. Meski usianya berbeda jauh dengan Mila. Tapi pesona lelaki itu membuatnya jatuh cinta setengah mati.
Permainan liar lelaki itu di atas ranjang. Mampu melelehkan hasrat Mila yang haus akan belaian seorang lelaki kuat dan perkasa. Sering kali lelaki muda itu memberinya kepuasan batin. Terbukti ia sampai berkali- kali melepas kenikmatan yang tiada duanya.
Berbeda dengan Samsul suaminya. Pria itu hanya mampu bertahan lima menit setelah itu menyerah.
Selepas kepergian Samsul. Dan dirasa suasana sudah aman. Dengan tergesa Mila pergi menemui Deni. Lelaki muda simpanannya.
Baru satu satu bulan, Mila menyewa rumah itu untuk di tempati Deni. Agar ia bisa leluasa menemuinya kapan saja.
Dengan uang tabungannya sendiri. Mila bahkan membelikan semua kebutuhan Deni. Dari pakaian sepatu dan lainnya. Lelaki pengangguran itu merasa senang. Meski hatinya kadang ketakutan, jika suatu saat nanti. Suami Mila mengetahui perbuatan bejadnya.
Untuk itu Deni selalu menasehati Mila agar berhati- hati. Bisa berabe urusannya jika suatu saat nanti, suami Mila menaruh curiga terhadapnya. Apalagi rumah yang di tempati nya bersebelahan dengan rumah milik wanita yang sekarang tengah menjalin hubungan terlarang dengannya.
Tepat di depan pintu rumah Deni. Mila membuka pintu hati- hati dengan kunci cadangan yang selalu ia simpan dengan aman, agar tidak diketahui suaminya.
Setelah berada di dalam. Segera Mila menguncinya rapat sembari mengamati situasi di luar yang tampak sepi. Komplek itu memang selalu terlihat sepi saat pagi hari, karena para penghuninya sibuk dengan aktifitasnya masing- masing.
Nafasnya memburu penuh gairah saat di depan matanya. Deni baru keluar dari kamar mandi. Lelaki muda itu memakai asal celananya lalu berjalan mendekati Mila yang sedang berdiri memandanginya.
"Ibu, ini masih pagi," ucapnya berbisik.
"Ayo Den. Ibu sudah tidak tahan."
Tak berapa lama di dalam kamar suara teriakan dan Erangan Mila terdengar dari mulutnya yang baru saja mencapai puncaknya.
Tapi rupanya Mila belum juga puas. Sekali lagi Deni harus melayani hasrat wanita itu dengan tenaga ekstra.
Suara jeritan nikmat terdengar memenuhi setiap sudut kamar. Setelahnya, dua manusia itu terkulai lemas melepas dahaga cintanya.
"Den. Uang yang kemarin Ibu berikan masih ada?" ucap Mila menyandarkan wajahnya di dada kekar Deni.
Keduanya terbaring di ranjang empuk dan masih dalam keadaan polos.
"Masih ada Bu. Tapi hari ini, Deni ingin membeli laptop," ucap Deni kemudian.
Mila lalu bangkit beranjak dari tempat tidur, meraih satu persatu pakaiannya yang masih tercecer di lantai.
"Baiklah. Ibu pulang dulu. Besok Ibu berikan uangnya," kata Mila seraya menggigit bibir bawahnya, seolah tak puas dengan adegan panas yang baru saja dilakukannya.
Deni mengangguk samar menanggapinya.
***
Pagi itu tak seperti biasanya. Pikiran Samsul selalu teringat akan istrinya Mila. Di ruangan tempatnya bekerja terdengar Pak Dadang sedang asyik ngobrol dengan Bu Dewi.
Sesekali mereka berdua tertawa terbahak membuat Samsul penasaran dan segera menghampiri mereka berdua.
"Ada apa nih. Pagi- pagi udah heboh. Bukannya kerja," tegur Samsul sambil menepuk bahu Pak Dadang.
"Ini. Pak, Bu Dewi bawa sesuatu dan ini sangat penting untuk kita," bisik Pak Dadang bicara di telinga Samsul.
"Memang apa yang dibawa Bu Dewi?" Samsul tambah penasaran.
Bu Dewi dan Pak Dadang lantas tersenyum.
"Nih." Pak Dadang menyelipkan satu butir obat kecil ke tangan Samsul. Sambil berkata.
"Satu butir harganya empat puluh ribu. Dijamin kuat seharian," bisik Pak Dadang lagi.
"Obat apaan ini?" Dahi Samsul berkerut sambil melihat benda yang di pegangnya.
"Itu obat kuat," Bu Dewi menyela.
"Obat kuat?" Samsul menatap heran wajah Bu Dewi dan Pak Dadang.
"Dengar, obat ini bisa bikin istrimu meronta- meronta hahaha ... " Pak Dadang tertawa terbahak melihat raut wajah Samsul.
"Wah! Serius Pak!" Bola mata Samsul hendak keluar mendengar pengakuan Pak Dadang.
"Jangan khawatir Pak. Obat ini mujarab dan ampuh. Saya sudah membuktikannya. Istri saya sampai ketagihan," terang Pak Dadang kemudian.
"Baiklah, kalau begitu, saya beli satu, ya?" Samsul begitu bersemangat lalu merogoh saku celananya. Satu lembar uang ratusan di berikan pada Bu Dewi.
"Nih Bu. Simpan saja kembaliannya, buat nanti kalau saya butuh obat kuat ini lagi," ujar Samsul dengan wajah bersinar.
"Terima kasih Pak. Nanti malam, Bapak bisa langsung membuktikan khasiat obat ini."
Bu Dewi dan Pak Dadang kembali ke ruang kerjanya masing- masing.
Sementara Samsul masih memegang erat obat itu sambil membayangkan Mila yang nanti malam akan ia hantam dengan obat kuat itu.
Ia senyum- senyum sendiri di depan laptop nya. Malam nanti, ia akan bertarung dengan istrinya untuk membuktikan khasiat obat yang di jual Bu Dewi.
Berondong Simpanan Istriku
Tepat pukul lima sore jam kantor usai. Segera Samsul membereskan semua berkas - berkas pekerjaannya. Dia sudah tak sabar ingin segera pulang ke rumah.
"Pak," tiba- tiba Pak Darman menepuk bahunya dari belakang.
Samsul kaget. "Ada apa Pak?"
"Atasan manggil kamu tuh!" ujar Pak Darman.
Samsul mendengus kasar. Lelaki botak itu pasti memberinya pekerjaan.
Cepat Samsul menyimpan berkasnya di laci kemudian berjalan tergesa menuju ruang atasannya. Bapak Wisnu.
Tampak Pak Wisnu tengah duduk menunggunya.
"Ayo Pak. Sini masuk!" sambutnya.
Lalu Samsul duduk berhadapan dengan Pak Wisnu.
"Ada apa Pak?"
"Begini. Karena hari ini pekerjaan begitu menumpuk, dan aku ada acara penting yang tak bisa kutinggalkan. Jadi aku minta kamu hari ini lembur. Tapi jangan khawatir, aku akan beri kamu bonus bulan depan, bagaimana? Kamu mau kan?"
Samsul menelan ludahnya. Bagaimana mungkin ia menolak permintaan Pak Wisnu. Lelaki berkepala botak itu selalu memberinya bonus yang lumayan besar, jika Samsul sanggup mengerjakan semua pekerjaan yang di limpahkan padanya.
Tapi bagaimana dengan obat kuat?
Padahal malam itu, ia ingin membuktikan keampuhan obat itu pada istrinya Mila, tapi sial. Pak Wisnu mendadak meminta bantuan padanya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tapi bonus besar di depan mata.
Dengan berat hati, akhirnya Samsul menerima permintaan Pak Wisnu. Malam itu Samsul akan lembur sampai pekerjaannya selesai.
Lumayan bonusna bisa ia berikan pada Mila. Istri tercinta.
"Baiklah. Terima kasih, ya?"
"Ya Pak."
Tak berapa lama Pak Wisnu pun pergi meninggalkan ruangan. Sementara Samsul mengambil tumpukan berkas yang ada di atas meja.
Samsul akan bereskan semua pekerjaannya. Meski hatinya dongkol. Tapi biarlah. Toh bonusnya besar ini.
Sebelum mengerjakan tugasnya. Samsul mengambil ponsel untuk menghubungi istrinya Mila.
"Sayang ..." sapa Samsul pada istrinya.
"Iya Pa. Ada apa? Kok jam segini masih di kantor?" jawaban Mila di sebrang sana.
"Iya nih, Ma. Maaf ya, Papa sepertinya pulang malam."
"Kok gitu, sih? Katanya Papa akan pulang cepat, kalau pekerjaannya sudah beres."
"Mau bagaimana lagi Ma. Bos Papa meminta Papa untuk lembur. Ya sudah, Mama hati- hati ya."
"Iya Pa. Papa kira- kira pulang jam berapa?"
"Papa paling pulang jam satu malam Ma. Mama bobo aja duluan, ya? Gak usah nunggu Papa."
Lalu Samsul memutuskan sambungan teleponnya. Lega rasanya sudah menghubungi Mila. Dengan begitu dia tidak khawatir terhadap istrinya yang selalu ditinggal lembur hampir tiap malam.
Mau bagaimana lagi. Demi membahagiakan istrinya. Ia harus kerja keras agar kebutuhan Mila bisa ia cukupi. Maklum Mila banyak sekali permintaannya. Dari tas dan baju mahal, istrinya sering membelinya. Walau Samsul tak pernah melihat barang baru yang Mila beli. Tapi Samsul percaya. Mila lakukan itu semua demi membahagiakannya. Mila ingin terlihat cantik dan luwes di depannya.
**
Malam itu, rasanya Mila ingin menjerit sekencang mungkin. Suaminya akan pulang larut malam. Dengan begitu ia bisa bersenang- senang dengan Deni.
Dengan cepat ia segera menghubungi Deni.
"Den."
"Ya, Bu. Ada apa?"
"Kamu siap- siap, ya? Malam ini kita jalan- jalan. Kamu tunggu di tempat biasa, agar tak ada yang lihat kita."
"Tapi Bu. Memangnya suami Ibu kemana?"
"Sudahlah Den. Jangan mikirin suamiku. Dia malam ini ada lembur."
Setelah mengatakan itu. Mila menutup teleponnya. Gegas ia menuju kamar mandi membersihkan diri. Berdandan rapih. Malam itu ia akan habiskan waktunya dengan Deni. Jalan- jalan sambil kulineran.
Ah. Bahagia sekali ia malam itu. Terbayang ia akan melakukan apa saja dengan Deni.
Setelah selesai berpakaian rapih. Mila langsung ke luar rumah. Tampak Deni sudah siap dengan motor maticnya. Dia pun sudah berpakaian rapih. Sore itu wajah Deni sangat tampan dan gagah. Tak sabar Mila segera ingin mencumbu lelaki muda itu.
"Den. Kamu duluan. Ibu nyusul nanti. Kamu tunggu di tempat biasa, ya ..." bisik Mila pada Deni.
Deni mengganguk pelan. Ia pun pergi dari rumah. Diikuti Mila dari belakang. Mila cukup jalan kaki ke depan. Sekitar sepuluh menit untuk sampai depan pigura tempat mereka bertemu secara diam- diam.
Di tangah perjalanan, Mila berpapasan dengan Pak Bowo tetangga depan rumahnya.
"Eh. Bu Samsul. Rapih amat, mau kemana Bu?" sapanya sopan.
"Oh ini Pak. Saya mau ada perlu, permisi Pak," ucap Mila sambil terburu- buru jalannya.
Pak Bowo memperhatikan Mila dengan wajah heran. Belakangan ini. Ia sering melihat Mila berpakaian sedikit seksi. Padahal diusianya, Mila sepantasnya memakai hijab agar terlihat anggun dan sopan di lihatnya.
Tapi wanita itu malah memakai rok selutut dengan atasan kaos ketat, membuat Pa Bowo bergidik melihat penampilannya.
Tepat di depan Gapura . Deni sudah siap menunggunya. Cepat Mila naik ke motor Deni dan memeluk pinggang Deni dengan erat.
"Kemana kita Bu?"
"Kita nonton ke bioskop Den. Malam ini ada film horor."
"Baik Bu."
Deni cepat menyalakan motornya. Mereka berdua pun pergi sambil tertawa bahagia. Sepanjang perjalanan. Mila tak henti- henti menciumi pundak Deni. Dia tak punya malu sedikitpun saat orang yang berada di jalan memperhatikan tingkah mereka berdua.
Tapi Mila tak peduli. Tak ada yang mengenalinya ini. Lagipula hari sudah mulai gelap. Dan mereka sudah berada jauh dari rumahnya. Dan Mila bebas melakukan apa saja dengan Deni sambil berboncengan.
Jiwa muda Mila seakan bangkit kembali. Ia merasa seperti gadis kembali. Di bonceng oleh sang pujaan membuat Mila lupa akan statusnya.
Tapi orang yang sedang dimabuk cinta dan lupa daratan itu. Tak pernah memikirkan orang lain. Yang penting mereka hepi malam itu.
Tiba di sebuah Mal besar. Mereka bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang merajut kisah asmara.
Meski orang di sekitarnya mulai memperhatikan tingkah mereka berdua. Seorang lelaki muda yang tampan di gandeng wanita yang sudah tak muda lagi.
Umur Mila bulan Juli nanti menginjak tiga puluh delapan tahun. Sementara Deni baru dua puluh tahun.
Tapi bagi Mila. Ia berasa umur tujuh belas tahun jika sedang bejalan dengan Deni. Wanita itu memang sudah putus urat malunya, karena di gelapkan oleh cinta butanya terhadap Deni.
***
Disisi lain. Samsul sibuk berjibaku dengan pekerjaan. Matanya sudah terlihat kantuk. Sesekali ia menyeka keringat nya yang menitik di dahinya.
Malam itu, ia harus cepat menyelesaikan tugasnya. Cape dan lelah tak ia hiraukan. Demi Mila. Ia akan lakukan apa saja. Meski ia harus kehilangan nyawa sekalipun, bagi Samsul tak mengapa. Asal Mila bahagia.
Samsul menghela nafas kasar sambil melirik jam tangannya. Baru jam sepuluh malam. Dua jam lagi tugas selesai. Tinggal dua berkas lagi.
Samsul kemudian berdiri dari duduknya. Untuk mengencangkan otot- ototnya yang mulai tegang.
"Mila lagi apa, ya ... " guman Samsul sambil menyambar ponsel yang tergeletak diatas meja.
"Helo sayang .... "
Tak ada jawaban di seberang sana.
Samsul kembali menekan layar ponselnya menghubungi Mila sekali lagi.
"Helo, sayang ... "
Tetap tak ada jawaban. Malah ponsel Mila tak aktif.
"Mungkin istriku sudah tidur," pikirnya.
Ia pun kembali duduk untuk menyelesaikan pekerjaannya. Agar cepat pulang.
Suara desahan dari dua pasangan yang sedang asyik dengan kegiatannya itu, memenuhi seluruh penjuru dengan penerangan yang sangat minim, membuat ruangan itu terlihat sedikit gelap.
Suara erangan dan teriakan terdengar, tanda dari mulut Mila yang baru akan mencapai puncaknya, tapi sebelum berhasil menuntaskannya. Suara jam dinding di kamarnya mengejutkan mereka berdua.
"Astaga! Sudah jam dua belas!"
Mila segera bangkit dari tempat tidur begitupun Deni.
"Kenapa Bu! Kita belum selesai!" ujar Deni seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh kekarnya.
"Aduh Den. Suamiku sebentar lagi pulang, ayo cepat pakai bajumu!"
Gegas Deni beranjak bangkit dari tempat tidur. Lalu menyambar satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Cepat Den!" Mila ketakutan. Saking asyiknya mereka bercinta sampai tiga putaran. Ia lupa bahwa Samsul suaminya akan segera pulang.
Dengan cepat Mila dan Deni berjalan menuju pintu rumah.
"Sebentar Den," bisik Mila. Matanya mengedar mengamati situasi, takut kalau ada seseorang yang melihatnya.
"Aman Den! Ayo cepetan."
Berjalan mengendap- endap, Deni kembali ke rumahnya. Beruntung malam itu tak ada seorangpun di luar.
Mila segera mengunci pintu rumahnya. Jantungnya dag dig dug. Bagaimana tidak. Malam itu mereka berdua bermain adegan panas ditempat yang biasa Mila dan Samsul memadu cinta.
Di tempat tidur itulah. Samsul biasa beristirahat melepas lelah. Tempat yang semestinya suami istri saling berbagi cerita dan cinta. Tapi Mila begitu berani. Memasukkan lelaki lain ke kamar pribadinya tanpa sepengetahuan Samsul tentunya.
Dirinya sudah gelap mata. Hatinya sudah tertutup oleh dosa. Tanpa menimbang rasa. Di kantor, suaminya berpeluh keringat mencari rupiah. Sementara dia bercengkrama dengan lelaki yang bukan mahramnya. Sungguh biadab perbuatan mereka berdua, tak ubahnya seperti binatang.
Setelah Deni pulang. Lekas Mila kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidurnya yang acak-acakan. Tapi tiba- tiba terdengar suara seseorang memarkirkan motornya.
Sontak saja Mila kaget. Dengan cepat ia berlari lagi menuju pintu rumahnya. Dan benar saja, Samsul yang datang.
Mila menghela nafas panjang. Untung saja Deni sudah pergi.
"Sayang aku pulang," ucap Samsul sambil memasukkan motornya ke dalam rumah.
Mila berpura- pura layaknya orang bangun tidur di depan suaminya.
"Eh sayang, sudah pulang," sambut Mila seraya merapihkan bajunya yang terlihat kusut.
Samsul yang kelelahan langsung meminta Mila untuk di buatkan teh hangat.
"Pake gula sayang!"
"Jangan Ma. Tadi di kantor, Papa minum kopi sampai lima gelas. Teh hangat saja, ya?" ujar Samsul yang sudah berada di kamar.
Mata Samsul langsung tertuju pada tempat tidurnya yang berantakan. Bantal dan guling ada dibawah tempat tidur, sprei juga tidak pada tempatnya.
"Ma ... !" Samsul berteriak memanggil Mila.
"Ya Pa, ada apa?" Mila menghampirinya dengan jantung masih berdebar- sebar karena tegang.
"Ini, tempat tidur berantakan sekali, bagaimana Papa bisa tidur Ma. Kalau kasurnya berantakan begini, Papa cape Mah, Papa ingin istirahat," keluh Samsul dengan wajah yang sudah tampak kusut karena sejak di kantor tadi, ia menahan kantuk yang menderanya.
"Eh, iya, itu Pa. Sebentar Mama beresin, ya?"
Dengan sigap, Mila kemudian merapihkan tempat tidurnya.
Sementara Samsul kembali ke ruang tengah lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, setelah itu Samsul langsung tertidur pulas.
Kemeja putihnya tampak kusut, rambutnya pun begitu. Raut wajah suami yang sejak pagi tadi, banting tulang demi membahagiakan istri tercinta.
Pulang mendapati tempat tidur berantakan. Membuat Samsul yang malam itu sudah tak bisa lagi menahan kantuknya. Iapun ketiduran di sofa.
"Pa ... ini ko ..." Mila berdiri mematung sambil memegang segelas teh hangat untuk suaminya. Tapi Samsul sudah tidur di sofa.
Mila lalu meletakkan gelasnya di atas meja makan, mendekati suaminya. Kemudian memandangi wajahnya suaminya yang tertidur begitu pulas.
Di belainya rambut Samsul, lalu di lap nya keringat suaminya dengan baju dasternya. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya karena selama ini ia telah banyak membodohi suaminya.
Tapi apa daya, Nafkah batin yang diberikan Samsul tak memuaskannya. Ia tersiksa jika berhubungan fisik dengan Samsul. Lelaki yang sekian tahun menjadi suaminya itu. Tak pernah mengerti dirinya sama sekali. Selama berhubungan dengan Samsul, Mila tak pernah merasakan pelepasan yang di dambakan setiap wanita. Mila hanya merasakan itu hanya jika berhubungan dengan Deni.
Ia menyadari apa yang dilakukannya itu sebuah dosa besar. Tapi sebagai wanita ia juga membutuhkan itu.
Pernah Mila membeli alat yang bisa memuaskan hasratnya yang banyak di jual di online. Tapi benda itu juga tak sepenuhnya memuaskan hasratnya.
Lewat teman di tempat senam nya, Mila juga sering ditawari benda yang lebih dahsyat lagi katanya. Tapi kenyataanya, benda itu malah menimbulkan penyakit bagi pemakainya jika tak bisa merawatnya.
Hampir semua teman senam Mila juga memakainya karena benda itu, sepertinya bukan rahasia umum lagi di kalangan emak- emak kesepian yang sering di tinggal dinas suaminya.
Sampai akhirnya. Mila bertemu dengan Deni. Lelaki muda yang di kenalnya lewat medsos. Dengan Denilah. Barulah ia merasakan nikmatnya surga dunia.
Dengan Deni ia seakan kembali pada masa remajanya dulu. Deni membuatnya melupakan segalanya. Meski lelaki itu pengangguran. Tapi bukan masalah bagi Mila. Karena baginya uang yang berlimpah pemberian suaminya tak begitu berarti, jika suaminya tak bisa memberikan apa yang selama ini para istri inginkan. Yaitu Belai hangat seorang pria dan cumbu rayu yang manja.
Dan itu, tak ia dapatkan dari Samsul. Lelaki itu terlalu sibuk dengan dunia pekerjaannya. Melupakan Mila yang haus akan hasrat cinta.
Cairan bening menitik di kedua sudut Mila. Iapun kemudian membenamkan wajahnya di dada Samsul dan keduanya tertidur di sofa.
Pagi harinya. Samsul mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya ia tersentak kaget.
"Ma! Jam berapa ini?" Samsul beranjak dari sofa, melirik ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Cepat Samsul berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi Samsul langsung ke kamar mengenakan kemeja dan celana dengan rapih.
"Pa. Mau kemana?" Mila sudah berdiri di hadapannya.
"Mama ini bagaimana sih! Papa harus ke kantor, mengapa Mama tidak bangunkan Papa!" ujar Samsul sambil menyisir rambutnya.
"Pa. Bisa gak. Sehari saja, luangkan waktu Papa untuk Mama," keluh Mila dengan wajah memelas.
"Sayang, aku lakukan ini untuk kamu," rayu Samsul seraya mencubit hidung Mila.
"Cukup!" Mila menepis kasar tangan Samsul.
Sontak saja Samsul kaget.
"Hei! Ada apa ini? Kenapa Mama marah!" tegur Samsul menatap heran wajah istrinya.
"Papa tahu, apa yang Mama inginkan? Mama tidak ingin semua ini Pa! Mama ingin Papa ... hisk ... hiks ... " Mila tiba- tiba menangis sambil merangkul suaminya.
Samsul terdiam sejenak.
"Apa maksud Mama?"
Mila semakin mengeratkan pelukannya pada Samsul.
"Papa sudah memberikan Mama segalanya, itu sudah cukup. Mama berterima kasih sama Papa. Tapi beri Mama kesempatan untuk melayani Papa. Hampir tiap hari Papa lembur. Mama juga butuh Papa ... hiks ... hiks ... " Mila merengek di pundak Samsul hingga kemeja Samsul basah karena tetesan air mata Mila yang deras mengalir.