Bab 1

Angin sore berhembus pelan menerpa dedaunan layu yang berserakan di tanah gersang. Suara kicauan burung yang berterbangan terdengar saling bersahutan. 

Di ujung jalan setapak, tampak pria renta sedang berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat kayu. Tubuhnya pun sudah sedikit bungkuk. Maklum usianya sudah menginjak Delapan puluh tahun lebih.

Namanya adalah Karjo. Biasa dipanggil abah Karjo. Keseharian abah hanya bekerja sebagai pemulung barang bekas. Kadang jika tubuh ringkihnya kelelahan, abah hanya bisa berdiam dan berbaring dalam rumahnya. 

Hidup seorang diri di daerah perantauan membuatnya tidak banyak dikenal warga sekitar. Hanya sebagian yang mengenalnya dengan baik bahkan ada juga sebagian warga yang mau mengasihinya.

Hasil memulung tidaklah seberapa. Jika kesehatan tubuhnya mendukung, abah pergi bekerja mencari barang bekas di sekitar. Ia kumpul hasil memulung itu selama tiga hari lalu ia jual pada orang pengumpul barang bekas. 

Hasil penjualan terkadang hanya dapat lima belas ribu. Abah akan selalu bersyukur berapapun uang yang ia dapatkan. Terpenting baginya adalah dapat membeli beras.

Jika tubuhnya sedang tak enak, abah pun terpaksa tidak mencari. Terkadang ia terpaksa menahan lapar karena stok kebutuhannya sudah habis. Jika sudah begitu, abah hanya mampu meminum air putih untuk mengganjal perutnya.

Kaki kurus tanpa mengenakan sandal itu terlihat masih kuat berjalan. Hanya beberapa langkah lagi ia tiba di sebuah  rumah yang dituju.

Akhirnya, ia tiba di halaman sebuah rumah yang sederhana.  Sejak sebelum sore tadi ia sudah berniat mendatangi rumah tersebut. Tujuannya tidak lain hanya ingin meminta tolong dan ia yakini hanya pemilik rumah inilah yang mau menolongnya.

Abah melangkah pelan memasuki teras depan rumah tersebut. Ia mengangkat tangannya yang terlihat gemetar kemudian mencoba mengetuk pintu dan memberi salam.

Tok tok tok 

 "Assalamualaikum, Nduk!" ucapnya sambil mengetuk pintu.

Sembari menunggu pintu dibuka, abah mencoba duduk di kursi untuk mengurangi rasa lelahnya. Ia letakkan tongkat kesayangan di samping kursi tempatnya duduk.

"Waalaikumsalam." terdengar sahutan si empunya rumah dari dalam.

Seorang wanita muda beranjak dari kamarnya dan bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Pekerjaannya melipat baju di kamar itu pun ia tinggalkan sebentar. 

Nama wanita itu adalah Mira. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumah abah. Mira merupakan seorang ibu rumah tangga. Keseharian ia hanya di rumah merawat rumah, suami dan kedua anaknya.

Krek

Pintu berbentuk persegi itu pun terbuka lebar. Mira melihat pria tua yang menggunakan tongkat duduk di kursi teras rumahnya. Ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah Abah Karjo

"Eh, Abah. ada apa, Bah?"  tanyanya menghampiri Abah. 

Mira langsung duduk di samping pria tua itu. Ia memandangnya sambil tersenyum. Di lihatnya, wajah keriput itu  pun ikut tersenyum ke arahnya.

Tampak di sebelah mata kanan abah ada kotoran mata yang menempel. Mira tahu, mata abah sudah sangat rabun. Akhirnya ia mengambil handuk kecil yang sedikit usang yang tergantung di leher abah kemudian mengelap kotoran mata tersebut.

"Nggak apa-apa, Nduk. Abah kesini cuma mau minta tolong kalau kamu berkenan." Ucap Abah langsung ke intinya. Kedua tangannya terlihat saling meremas merasa tidak enak dengan apa yang barusan diucapkan pada Mira.

"Minta tolong apa, Bah? InsyaAllah Mira selalu berkenan," jawab Mira kembali sambil tersenyum. Ia akan menolong semampunya, siapa pun yang membutuhkan pertolongannya. termasuk abah, pria tua di hadapannya itu.

Abah karjo tampak mengangguk. Mengambil nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sejujurnya ia merasa ragu untuk meminta tolong pada Mira. Sebab, dirinya bukan siapa-siapanya bagi wanita itu.

Akan tetapi, karena tak ada pilihan lain, abah pun terpaksa meminta pertolongan. Sebab tubuhnya sungguh tidak mampu lagi untuk berusaha. Akhirnya, dengan pelan dan hati-hati, abah pun mengatakan tujuannya pada wanita tersebut.

"Abah mau minjem beras, Nduk. kalau ada, secanting saja. Dari tadi pagi abah belum makan. karena beras abah habis. InsyaAllah kalau ada rejeki nanti, abah pasti kembalikan." Jelas abah kemudian sambil memandang Mira penuh harap.

Mira tertegun mendengar ucapan abah Karjo. Sekarang hari sudah pukul empat sore. Dari tadi pagi abah belum makan. Hatinya terasa teriris melihat pria renta di hadapannya. "Ya Allah, kasihan Abah," batinnya dalam hati.

"Iya, tunggu sebentar ya, Bah. Mira ambilkan beras dulu," ucapnya tersenyum. 

Mira beranjak dari duduknya kemudian pergi kembali ke dalam. Tujuannya mengambil beras di dapur dan memberikannya pada abah Karjo.

Saat tiba di dapur, Mira bergegas mengambil sepiring nasi beserta lauk tumis kangkung dan sambal. Tak lupa ia mengambil beras di dalam wadah tempat ia menyimpan beras.

Saat membuka wadah beras, Mira terdiam.Ternyata beras-nya juga tinggal sedikit cuma secanting. Itupun untuk jatah makan esok hari.

Lama Mira terdiam sambil berpikir. Ia merasa bingung. Suaminya pun belum pulang dari kerja. Jika beras secanting ini ia berikan pada abah Karjo, bagaimana keluarga kecilnya makan esok hari. Ia takut suaminya nanti akan marah. karena mengingat hari ini suaminya pun belum gajian.

Suami Mira hanya bekerja jadi kenek mobil angkutan umum kota. Itu pun tak selalu dapat uang. kadang tiga hari kedepan ia baru mendapatkan uang. Itupun tergantung keberuntungan. 

Bila angkot sedang ramai penumpang, dalam satu hari suaminya bisa membawa uang sebesar seratus ribu Rupiah. Terkadang bila lagi sepi, suaminya hanya bisa membawa uang sebesar dua puluh ribu Rupiah. Terkadang pulang suaminya tidak  membawa uang sama sekali.

Dengan niat dan Bismillah, akhirnya Mira berniat menyedekahkan satu-satunya harta secanting beras pada abah Karjo. 

Soal esok hari, ia akan mencari. Apapun dan bagaimanapun ia harus berusaha. Yang penting baginya anak-anaknya bisa makan.

Mira lantas membungkus beras secanting tersebut dengan plastik kemudian bergegas beranjak pergi ke luar menemui abah Karjo kembali. 

Sambil tersenyum, Mira memberikan sepiring nasi tadi serta beras dalam plastik tersebut pada abah karjo. 

"Ini Bah, berasnya. nggak usah dikembalikan, Bah. Mira ikhlas. Dan juga ini  ada nasi beserta lauk untuk makan Abah nanti malam," ucap Mira sambil memberikan kantong plastik dan sepiring nasi. 

Mata abah Karjo berkaca-kaca menahan rasa haru dan syukur. Hatinya senang dan merasa sangat berterimakasih pada wanita di hadapannya.

"Terimakasih, Nduk. Mudah-mudahan rejeki nduk melimpah dan barokah." 

"Amin, Bah," sahut Mira mengaminkan ucapan abah Karjo. 

" Kalau begitu abah pulang dulu, Nduk! Bentar lagi hari mau malam." Ucapnya lagi mohon pamit untuk pulang. 

"Iya, Bah. hati-hati di jalan." Balas Mira sambil menganggukkan kepala.

Abah karjo pun pulang. Sambil memegang kantong plastik dan sepiring nasi, abah tersenyum kemudian berlalu pergi berjalan mengenakan tongkatnya menuju pulang ke rumahnya.

Bab 2

Sepulang abah Karjo ke rumahnya, Mira lantas segera menutup pintu. Di lihatnya jam dinding sudah menunjukan pukul 6 sore. Tinggal beberapa menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Mira khawatir mengingat suaminya jam segini belum juga pulang. Biasanya ia pulang paling lambat jam 5 sore.

"Ma, kenapa melamun?" putri Mira yang bernama Alea itu membuyarkan lamunannya. Ia gadis yang imut, usianya baru 6 tahun. Alea memiliki adik laki-laki. Namanya Bian. Sekarang baru berusia 4 tahun.

"Eh, nggak apa-apa kok! Ade mana?" perasaan Mira tadi Bian main sama Alea.

"Di kamar, Ma. lagi belajar menggambar." Alea memang sering bermain sama adiknya di waktu sore hari. Adiknya paling gemar mencoret buku kakaknya.

"Kok, kaka' tinggalin adek sendiri di kamar." Mira protes sama putri sulungnya.

"Habis kakak nggak enak mama nggak ada di kamar. Mama keluarnya lama banget," balas Alea bersungut. Bibirnya maju dua centi. Hal itu membuat Mira gemas melihat putri sulungnya lantas ia mencubit pipi gembul Alea.

"Aww, sakit dong Ma." rintih Alea sambil memegangi pipinya.

"Habis mama gemes banget sih." Mira masih menggoda putrinya sambil tertawa.

"Yuk, masuk! Bentar lagi mau magrib. Ajak ade bareng ambil wudhu. Nggih!" titah Mira

Alea lantas menghampiri adiknya di kamar. Mengajaknya untuk mengambil wudhu. Sedangkan Mira mempersiapkan sajadah untuk memulai sholat maghrib.

Terdengar Adzan maghrib dari TOA masjid berkumandang. Hati Mira semakin gelisah. Tak seperti biasanya jam segini suaminya belum juga pulang. 

"Udah, Ma. mama udah ambil wudhu-nya?" Alea datang menghampiri bersama adiknya. Mereka sudah siap untuk melakukan sholat. Alea membantu adiknya mengenakan sarung dan peci. Lantas ia pun mengenakan mukenanya.

"Ya, bentar. Mama ambil wudhu dulu, ya."

Mira bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Dan akhirnya mereka pun melaksanakan sholat maghrib berjamaah bertiga. Biasanya mereka berjamaah berempat. Papa Alea yang menjadi imamnya.

Usai sholat, Mira merapikan perlengkapan sholat. Tak lupa ia membimbing anak-anaknya belajar mengaji. Kebiasaan ini sering ia lakukan bersama suaminya selama 8 tahun pernikahan mereka. Suami Mira  namanya Farhan. Selama 8 tahun Mira hidup bersama mas Farhan, ia sangat bersyukur. Ia dikaruniai Dua buah hati yang sehat dan penurut. Mempunyai suami yang bertanggung jawab dan jujur. 

Pekerjaan suaminya hanyalah tukang kenek angkutan umum kota. Namun, meski begitu Mira sangat menghargai pekerjaan suaminya. Bahkan ia selalu bersyukur berapapun penghasilan suaminya. Suaminya selalu jujur memberikan uang kebutuhan padanya. Dan Alhamdulillah selama 8 tahun pernikahan hidup Mira dan kedua anaknya tak pernah kekurangan. Intinya, selalu bersyukur. insyaAllah Allah akan selalu mencukupkan rezeki kita.

"Ma, kok papa belum pulang, ya?" Mira tersentak dalam lamunannya kala putri sulungnya menanyakan papanya yang belum pulang.

"Sabar ya, sayang. Bentar lagi papa pulang. Kaka doain aja, biar papa segera pulang." Mira mengelus pucuk kepala putri sulungnya. Ia mengerti perasaan Alea. Bagaimana perasaan Alea, Sama dengan perasaannya saat ini.

"Ade, udah belum ngajinya?" Mira lantas memangku putra bungsunya yang berusia 4 tahun itu. Meski baru berusia 4 tahun putra bungsunya  itu sudah lancar dalam mengaji. Sekarang ia sebentar lagi tamat dari iqra' 1.

Mira  sungguh bangga pada anak-anaknya. Selama 8 tahun pernikahan, anak-anaknya selalu mau belajar dan tumbuh dengan cerdas.

"Udah, Ma. tadi bareng sama kakak. Mama lihat nggak, waktu ade ngaji tadi?" Bian putra bungsunya itu berbicara dengan muka polosnya. Ia selalu semangat apapun kegiatan yang dilakukannya. Apalagi itu bareng sama kaka' nya. 

"Iya dong sayang, tentu mama lihat kok," balas  Mira sembari menciumi pipi tembem Bian.

"Ade pintar banget, siip." sambil tersenyum Mira memuji putra bungsunya tak lupa ia acungkan jari jempolnya buat Bian atas apresiasi tindakan semangatnya.

"Oh, iya. tadi habis sholat ade sama kakak baca doa apa? Masih ingat kan doa untuk ibu bapak?" Mira mengulang pembicaraan yang biasa ia bicarakan pada anak-anaknya setiap usai sholat. Bukan hanya doa ibu bapak tetapi juga doa yang lainnya seperti doa mohon keselamatan dunia dan akhirat, doa menuntut ilmu dll. Hal itu Mira biasakan membimbing mereka sejak dini agar hidup mereka selalu berpegang pada agama.

"Tentu ingat dong, ma." Alea menjawab dengan mantap. Mira  tersenyum. Perlahan Alea tidak lagi menanyakan papanya yang belum pulang. Mira tak ingin melihat hati anaknya sedih lantaran menunggu kepulangan papanya yang tak kunjung tiba.

"Kalau ade gimana? Masih ingat nggak?" ucap Mira beralih ke putra bungsunya.

Bian mengangguk mantap.

"Coba ade ucapkan doanya, mama mau mendengarnya dong." ucap Mira diiringi senyum menggoda.

Bian lantas membacakan doa seperti yang diminta mamanya.

"Allahumma firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayana shaqiro." Bian melafalkan doa tersebut dengan Fasih.

"Pintarnya anak mama, cup cup." ucap Mira haru sambil mencium putra kecilnya bertubi-tubi.

Tok tok tok

Saat sedang asyiknya bercanda, tiba- tiba pintu depan di ketuk.

"Assalamualaikum."

"Ma, itu suara papa. Yeay, papa pulang! Ayo ade cepat kita bukain pintu." seru Alea girang. Begitupun adeknya. Ia sampai jingkrak- jingkrak senangnya bukan main.

"Waalaikumsalam,"

Alea dan Bian langsung berlari bergegas membuka pintu untuk menyambut kepulangan papanya. 

"Yeay, papa pulang! Ayo masuk, Pa." Alea dan Bian mencium tangan papanya dengan takzim. Kemudian menggandeng tangan papanya masuk ke dalam. Farhan tertawa melihat tingkah lucu anak-anaknya. Rasanya menyenangkan di sambut anak-anak yang menggemaskan. Baginya semangat anak-anak adalah semangatnya. Melihat kebahagiaan mereka seketika rasa lelah dan capek seharian bekerja hilang begitu saja.

Mira bergegas menghampiri Farhan kemudian mencium tangannya.

"Baru pulang, Mas." Mira memandang suaminya. Ada gurat kelelahan membingkai wajah tampannya.

"Iya, Ma. Tadi mobil sopir papa mogok." Farhan mendudukkan pantatnya di kursi makan di dapur.

"Kakak dan ade, kalian main di kamar ya," titah Mira kepada kedua anaknya.

Alea dan Bian pun akhirnya manut.

Usai anak-anaknya berlalu, Farhan kemudian bergegas mandi. Sementara Mira membikin kopi untuk suaminya itu.

*******

Selesai makan malam bersama, anak-anak langsung tidur. Sementara Farhan dan Mira masih duduk di kursi meja makan di dapur.

"Dek, maafkan mas, hari ini mas belum membawa pulang uang." Farhan memulai pembicaraan. Wajahnya memandangi gelas kopi yang sebentar lagi habis. 

"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Mungkin belum rejekinya kita hari ini." Mira berusaha menyemangati suaminya walau kenyataannya hatinya pun kecewa. Karena ia pun sangat membutuhkan uang untuk kebutuhan makan esok hari. Namun ia akan berusaha untuk menerima dengan sabar. 

"Mas." 

"Iya, Dek. Ada apa?"

"Hemm, ada yang ingin aku katakan dengan jujur sama mas. Tapi ...," Mira ragu untuk memulai menjelaskan.

"Iya, katakan saja Dek. Nggak usah ragu." Farhan seolah-olah memahami isi pikiran istrinya.

Mira akhirnya menjelaskan semua kejadian Abah Karjo yang datang meminjam beras sore tadi. Mira  ceritakan semua keikhlasannya memberi Abah Karjo. Dan terakhir dengan habisnya beras yang ia stok untuk makan esok pun tak lepas dari kejujurannya.

"Mas, lalu bagaimana dengan besok?"

Bab 3

Udara malam mulai terasa dingin. Suara jangkrik di gelapnya malam mulai saling bersahutan. Langit malam ini dipenuhi bintang-bintang yang gemerlapan. Di sudut dalam rumah  yang sederhana dan teduh dua insan sedang berbicara serius tentang peliknya hidup. Mereka adalah Farhan dan Mira. Sepasang suami istri yang hidup sederhana dan suka menolong antar sesama.

"Lalu bagaimana dengan besok, Mas?" Di kursi meja makan yang sedikit rapuh, Mira menatap suaminya. Berharap suaminya tak marah padanya dan mengerti.

"Kita pikirkan besok, Dek. Sekarang mas ingin istirahat dan tidur." Farhan meminum kopi yang sebentar lagi habis itu. Ia ingin beranjak ke kamar menyusul anak-anaknya untuk tidur.

"Mas tak marah sama aku?" Mira memegang pergelangan tangan suaminya. Ia hanya bertanya. Ia mengerti suaminya begitu lelah setelah bekerja seharian ini.

"Nggak, mas nggak marah. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Soal besok, kamu jangan dipikirkan. Karena kita punya Allah. Rezeki-NYA maha luas," ucap Farhan sambil tersenyum dan akhirnya beranjak dari tempat duduknya.

Mira mengangguk. Ia memandangi punggung suaminya yang menghilang masuk ke kamar menyusul anak-anaknya untuk tidur. Lantas Mira pun beranjak untuk merapikan dapur.

********

Suara kokok ayam terdengar bersahutan pertanda sebentar lagi hari akan siang. Jam di dinding baru menunjukan pukul setengah 5 pagi. Mira bergegas bangun membersihkan muka dan mengambil wudhu, di susul oleh suaminya. 

Mira mencium punggung tangan suaminya dengan takzim usai sholat. Hatinya begitu tenang dan damai sholat bersama suaminya. Di mana ia dan suaminya berserah diri ke keharibaan yang maha kuasa. Apapun dan bagaimanapun masalah hidup dalam rumah tangga mereka, mereka selalu meminta pertolongan-Nya.

"Dek, Terimakasih atas semua nya. Terimakasih telah menemaniku selama 8 tahun ini. Telah menjaga dan mendidik anak-anak kita hingga mereka mau belajar. Dan telah sabar dan bertahan bersamaku dengan segala kekurangan ku.

Maafkan mas, yang belum membuat kalian bahagia, yang belum mampu memberikan apa yang kalian inginkan." Farhan meraih tangan istrinya lantas menciumnya dengan lembut. Raut wajahnya terlihat begitu sendu.

Mata Mira berkaca- kaca mendengar penuturan tulus dari mulut suaminya. Ia lantas balas mencium dan menempelkan telapak tangan suaminya ke pipinya.

"Aku pun sama, Mas. Mas sempurna di mataku. Apa yang Mas berikan pada kami itu sudah cukup bagi kami. Aku tak meminta lebih darimu Mas, cukuplah hidup bersamamu dan anak-anak bagiku sudah membuat ku bahagia. Begitupun dengan anak-anak, mereka bahagia bersama papanya yaitu kamu." Mira menatap mata suaminya dengan rasa yang tak bisa ia gambarkan. Baginya keluarga kecilnya adalah anugerah yang terindah. Dan Mira sangat bersyukur memiliki keluarga seperti ini, bersyukur mendapatkan suami seperti mas Farhan yang begitu menyayanginya.

"Mas, mas jangan memikirkan semua termasuk masalah keuangan kita, bukankah mas sendiri yang mengatakan bahwa Allah itu maha luas rezekinya. Yang kita lakukan hanyalah berusaha dan tawakal selebihnya biarlah Allah yang mengatur." jelas Mira menambahkan.

"Iya Dek, kamu benar. Terimakasih sudah mengingatkan mas. Hanya saja mas memikirkan bagaimana anak-anak kita makan hari ini. Bukankah beras kita sudah habis dan mas sama sekali tak memiliki uang." Farhan memijat keningnya karena bingung. Ia memang harus bekerja hari ini. Tapi bagaimana dengan anak-anaknya mengingat ia pulang sudah pasti sore hari. Ia tak ingin anak-anaknya kelaparan hari ini. Kalau dirinya sendiri tak masalah harus berpuasa.

"Mas tak usah khawatir, di dapur ada ubi singkong sedikit, kemarin di kasih Bude Sutiyah. Mira akan merebusnya nanti buat sarapan anak-anak sementara," ucap Mira sambil tersenyum.

"Tapi, Mas kerja pulangnya sudah pasti sore Dek, apakah rebusan ubi singkong itu cukup mengganjal perut anak-anak?" raut wajah Farhan berubah sedih.

"InsyaAllah cukup, Mas. Nanti Mira kerja di rumah Uwak Marni. Jika sudah, Siangnya Mira sudah boleh pulang." Mira menjelaskan begitu mantap.

"Kerja apa Dek? kok mas nggak tahu. Kenapa kamu nggak bilang sama mas?" 

"Cuci baju, Mas. baru kemarin Mira di tawari sama Uwak Marni. kata Uwak Marni, Mira hanya mencuci baju dan menggosok, terus kalau sudah selesai Uwak Marni langsung kasih upah. tak banyak sih, yang penting bisa beli beras. boleh ya, Mas. Mira kerja." Mira memohon pada suaminya agar mengijinkan.

"Tapi, Mas merasa nggak enak Dek. Mas malu sama kamu karena mas tak becus jadi suami." ucap Farhan sambil menunduk.

"Udah, Mas. nggak apa-apa kok, biasa aja. Mira cuma niat bantu mas. nggak ada niat apa-apa kok." Mira lantas menggenggam erat tangan suaminya meyakinkan suaminya bahwa semua baik- baik saja.

****** 

Pukul 6 pagi, Mira sudah menyiapkan rebusan ubi singkong di atas meja. Tak lupa ia hidangkan juga air teh manis hangat sebagai pelengkapnya. Sisa ubi singkong, ia masukan ke dalam wadah sebagai bekal suaminya bekerja nanti. Biasanya setiap pagi Mira menyiapkan sarapan nasi beserta lauk. Namun hari ini tidak. Karena stok beras sudah habis.

Di lihatnya Alea dan Bian begitu lahap menyantap rebusan ubi singkong tersebut. Apalagi dilengkapi air teh hangat minuman kesukaan anak-anak mereka. Mira begitu haru, ternyata anak-anaknya itupun bersyukur. makanan sesederhana ini begitu mewah bagi mereka.

"Dek, Mas berangkat kerja dulu, ya." tiba-tiba Farhan muncul menghampiri. Ia tampak sudah siap pergi bekerja. Topi dan handuk kecil tergantung di lehernya tak pernah ia lupa. Farhan selalu mengenakannya setiap kerja.

"Iya Mas, ini bekalnya. Hati-hati di jalan." 

"Nggak usah, Dek. buat anak-anak aja." Farhan mengelus pucuk kepala kedua anaknya.

"Bawa aja Mas, punya anak-anak masih ada kok." Mira lantas memasukkan bekal tersebut ke dalam tas jinjing suaminya.

"Ya udah, Mas pergi dulu ya. Ade, kakak, papa pergi dulu. Assalamualaikum," 

" Iya, Pa. Waalaikumsalam." Balas keduanya serempak kemudian langsung menyalami tangan papanya.

Farhan bergegas berangkat kerja. Mira mengantar suaminya sampai pintu depan.

Setelah suaminya berangkat, Mira lantas meminta anak-anaknya untuk bersiap. Hari sudah menunjukan pukul 7 pagi. Saatnya ia mengantar Alea ke sekolah. Alea baru kelas 1 SD. Jarak sekolahnya tak begitu jauh dari rumah. Hanya ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit baru tiba.

Usai mengantar Alea, Mira bergegas ke rumah uwak Marni untuk bekerja mencuci pakaian. Ia melangkah begitu cepat, putra bungsunya ia gendong. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kerja untuknya. Hari ini Ia harus mendapatkan uang untuk makan. Ia tak ingin anak-anaknya kelaparan. Ia tahu suaminya bekerja, namun belum bisa dipastikan apakah suaminya membawa pulang uang atau tidak, yang dipikirkannya adalah ia juga harus mencari.

"Assalamualaikum, Uwak!" Mira mengetuk pintu rumah yang berlantai keramik tersebut. Rumah uwak Marni cukup besar. Dindingnya terbuat dari beton yang bercat warna hijau daun. Semakin menambah keasrian di tambah taman-taman yang dipenuhi bunga dan rumput hijau yang halus. Siapapun yang menginap di rumah uwak Marni pasti merasa betah. Karena dengan keasrian dan kebersihan lingkungannya. Uwak Marni orangnya sangat baik. Pekerjaannya sebagai PNS begitupun dengan suaminya. Ia memiliki 3 orang anak dan kesemuanya berada di luar kota untuk mengenyam pendidikan.

Uwak Marni tinggal hanya berdua dengan suaminya serta satpam penjaga rumahnya sekaligus tukang bersih-bersih taman rumahnya.

"Waalaikumsalam." Uwak Marni membuka pintu sambil tersenyum. Ia sudah berpakaian dinasnya. Tampaknya beliau akan berangkat kerja.

"Eh, Mira, ayo masuk," sambil menoel pipi Bian, uwak Marni lantas membawa Mira langsung ke dapur.

"Kamu bisa mengerjakan semua ini hari ini kan, Mira?" Uwak Marni menunjukan beberapa pakaian dalam bak besar untuk di cuci.

"Ya, Uwak. Tentu Mira bisa kok." balas Mira sambil mengangguk dengan mantap.

"Baiklah, kalau begitu uwak berangkat kerja dulu. Ini ada makanan buat Bian, di makan ya, sayang." ucap uwak Marni tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Bian dengan lembut.

"Dan ini, upah buat kamu, kalau pekerjaan mencuci sudah selesai." uwak Marni memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Mira.

"Tapi ... Uwak, ini terlalu cepat. Mira juga harus menggosok. Bagaimana kalau nanti saja ya, upahnya." Mira menolak merasa tak enak hati, sebab bukan caranya menerima uang dengan mudah jika belum bekerja.

"Tak apa, ini di ambil ya, Soal menggosok, kamu cuma menggosok beberapa lembar baju yang sudah saya persiapkan di atas meja di sana," uwak Marni memberikan amplop tersebut dengan paksa pada Mira kemudian menunjukan tempat menggosok baju di ruangan yang tak jauh dari dapur.

"Sekarang uwak berangkat kerja dulu, kalau kamu sudah selesai, tak apa boleh pulang. Di sana ada Mang Supri yang menjaga rumah." jelas uwak Marni seraya mengambil tas selempang di dekat lemari.

"Udah ya, Uwak berangkat dulu. Assalamualaikum." Uwak Marni bergegas berlalu pergi. 

"Wa'alaikumsalam," balas Mira seraya memperhatikan kepergian uwak Marni dari dapur.

Setelah berlalunya uwak Marni, Mira lantas membuka genggaman tangannya. Dilihatnya sebuah Amplop berwarna putih itu. Lantas ia membukanya. saat melihat isi amplop tersebut, jantung Mira berdetak kuat, tangannya gemetar. Ia tak tahu harus mengatakan apa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED