Alena sigadis periang dan juga mudah akrab dengan orang lain, siapa yang tidak menyukai seorang yang memiliki parah cantik seperti Alena, dengan tinggi 163 cm, kulit putih yang diturunkan sang papa, juga lesung pipi yang akan nampak saat dirinya tersenyum, belum lagi dirinya memiliki sifat yang hangat dan juga humble. Membuat siapapun yang dekat dengannya mudah merasa nyaman.
Sifat Alena itu terbentuk karena ia tumbuh diantara keluarga yang hangat, dirinya juga memiliki seorang adik yang saat ini masih duduk dibangku SMA, namanya Brandon, sama seperti Alena dirinya juga banyak disukai oleh banyak orang karena parasnya yang menawan, ditambah lagi dirinya adalah seorang kapten basket di sekolahnya. Sungguh, sering kali orang-orang iri dengan ketampanan dan kecantikan dua kakak beradik ini.
Alena dan Brandon adalah adik kakak yang bisa terbilang akur, sering kali mereka juga bercerita tentang masalah-masalah mereka pada kedua orang tuanya, mereka tidak sungkan untuk menceritakan semuanya, itu semua karena Bastian dan Reyna yang menjadikan diri mereka sebagai rumah bagi kedua anaknya, agar kedua anaknya dapat merasakan kehangatan dalam keluarga. Walaupun, sering kali sebagai orang tua dia pun merasa takut kalau anaknya merasa tidak nyaman. Tapi, bagi Bastian dan Reyna, mental kebahagiaan mereka adalah hal yang terpenting sehingga mereka akan nyaman di rumah dan menjadikan rumah sebagai tempat di mana mereka saling bertukar cerita tanpa ada rasa takut dihakimi atau dipojokkan.
Bahkan meskipun sudah terbilang lama menikah, namun kedua orang tua Alena tidak malu mengumbar kemesraan di depan anak-anaknya, yang bahkan terkadang tingkah keduanya membuat Alena dan Brandon merasa geli sendiri karena keduanya masih jomblo. Tapi, mereka selalu bangga dengan itu Alena dan Brandon merasa orang tuanya ini selalu hangat antara satu sama lain. Sehingga, dalam hati mereka kelak ingin bisa mendapatkan pasangan yang benar-benar hangatnya seperti keluarga mereka.
Berbeda dengan Leo, si laki-laki yang memiliki sifat dingin karena keadaan keluarga yang sangat bertolak belakang dengan keluarga Alena.
Sejak SMA, Leo harus merasaka pahitnya kehidupan dalam keluarganya, di mana sang ibu memilih untuk bercerai dengan ayahnya, dengan alasan karena ayahnya sering berselingkuh dibelakangnya.
Awalnya Leo berusaha keras untuk mempertahankan keutuhan keluarganya, namun keputusan kedua orang tuanya membuat dirinya kecewa, hingga pada akhirnya ia benar-benar tidak mempercayai yang namanya Cinta lagi dalam kehidupannya. Orang tuanya benar-benar membuat bekas luka percintaan yang membuat Leo enggan merajut kasih dengan siapapun.
Tumbuh dan berkembang diantara lingkungan yang berbeda, menjadikan Alena dan Leo memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, Alena yang hangat sedangkan Leo yang dingin, membuat keduanya selalu sulit menyesuaikan diri masing-masing. Terlebih lagi Alena sering sekali dibuat jengkel karena Leo yang sering kali mengabaikan dirinya, bahkan setelah mereka menikahpun Leo masih saja tidak merubah dirinya.
Ternyata ikatan pernikahan tidak selamanya membuat dua orang yang terikat menjadi bahagia, apalagi yang dijalani Alena dan Leo adalah pernikahan dengan unsur keterpaksaan, dan sebelumnya mereka juga sudah membuat kontrak pernikahan, kalau mereka hanya akan berpura-pura baik saat di depan Sabrina, selebihnya mereka tetap pada dunia mereka masing-masing.
Sebenarnya Alena tidak mau menyetujui kontrak tersebut, karena saat Leo melamarnya, dirinya benar-benar terlihat tulus dan serius, namun tidak ia sangka kalau semua itu hanya ilusi yang dilakukan Leo agar Alena terperangkap dalam rencananya.
Kesal dan kecewa adalah dua perasaan yang Alena rasakan diwaktu yang bersamaan, namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia mengetahui kalau kondisi ibu mertuanya sudah benar-benar parah, dirinya tidak ingin terjadi apapun pada Sabrina, jadi mau tidak mau ia hanya bisa bertahan dengan sikap Leo yang selalu saja seenaknya.
"Kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Alena saat Leo sedang bersiap-siap akan berangkat kerja.
"Untuk apa kamu nanyain hal itu, memang ibu nanya?" balas Leo sambil melihat Alena dengan tatapan kurang suka.
"Tidak, aku hanya ingin tau saja kapan kamu akan pulang," jawab Alena.
Leo langsung menarik napas, dirinya mendekat sambil memegang dagu Alena "Aku sudah bilang ke kamu, kan, selama hal tersebut tidak bersangkutan sama ibu, jangan pernah ikut campur urusanku, mengerti?" tegasnya.
Setelah itu dirinya langsung pergi meninggalkan Alena dengan segala kekecewaan yang ia rasakan saat ini.
Walaupun sudah biasa menghadapi sikap Leo yang seperti itu, namun ada saat di mana Alena juga merasa kesal karena terus diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri, padahal sebagai istri dirinya hanya ingin memenuhi tugas rumah tangganya saja.
"Sampai, kapan si kamu akan terus menjadi seperti ini Leo?" gumam Alena sambil membereskan lemari Leo yang berantakan karena ulah Leo yang mencari baju dengan terburu-buru.
"Alena kamu tidak kerja sayang?" tanya Sabrina saat melihat Alena tengah membereskan lemari.
"Oh iya ibu, Alena kerja agak siangan nanti," jawab Alena.
"Kalau nanti kamu mau berangkat, nanti kasih tau ibu, karena ibu ada jemuran di luar," ucap Sabrina.
"Ah kalau jemuran biar Alena saja bu yang ngangkatin, jadi ibu istirahat saja," jawab Alena.
Setelah menjadi menantu, Alena mau tak mau harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya tidak ia kerjakan saat ia masih single.
Untung saja dirinya bisa mengajukan diri untuk masuk siang kepada atasannya, sehingga ia tidak perlu khawatir akan pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan.
Sebenarnya ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan ibu mertuanya sendiri, namun ia juga masih belum bisa memutuskan untuk berenti dari tempat kerjanya yang tidak mudah ia dapatkan begitu saja.
"Oh iya, hari ini ibu mau tutup toko dulu, mau belanja," ucap Sabrina.
"Loh kok belanja sendiri, gak nunggu Alena libur saja?" tanya Alena yang merasa khawatir jika Sabrina harus pergi keluar seorang diri.
"Yaampun Alena kamu ini sudah memperlakukan ibu kaya apa saja, ibu ini masih kuat, tenang saja," ucap Sabrina sambil menepuk pundak kanan Alena, dirinya mau agar menantunya itu bisa mempercayai dirinya.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa, ibu langsung kabarin Alena ya," pinta Alena.
"Pasti dong." Sabrina tersenyum pada Alena, dirinya tidak mau kalau menantunya itu jadi tidak fokus pada kehidupan pribadinya hanya karena mengasihaninya.
Terlebih tujuan Sabrina menikahkah Leo dan Alena adalah agar keduanya berhenti mengasihani kondisinya yang tidak tau akan bertahan berapa lama lagi ke depannya. Di satu sisi lain, Sabrina sebenarnya merasa sedikit bersalah karena telah menikahkan mereka diusia muda, di mana seharusnya mereka bisa meraih apa yang mereka inginkan tanpa terikat dengan apapun.
Di kantor, Leo terus saja berusaha fokus pada pekerjaannya, namun entah mengapa dirinya terus saja merasa khawatir tidak jelas, firasatnya mengatakan seolah akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.
"Ck kenapa gua gak bisa fokus, si?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu, Alena baru saja sampai di kantornya, sama seperti Leo, dirinya juga memiliki perasaan yang tidak enak, padahal tadi sebelum berangkat kerja dirinya merasa baik-baik saja. kenapa jadi begini? gumam Alena sambil memegang dadanya yang merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Karena tak mau berpikir hal yang negatif, akhirnya Alena memilih untuk mengabaikan perasaan tersebut, lagipula selama ibunya tidak kenapa-napa, semuanya pasti aman-aman saja.
Begitu juga dengan Leo, karena pekerjaannya yang masih banyak, dirinya sebisa mungkin untuk mengabaikan perasaan tersebut dan berusaha untuk tidak berpikir yang macam-macam.
Keduanya kini berusaha fokus pada pekerjaan masing-masing.
-o0o-
Di rumah setelah pulang dari pasar, dirinya lupa kalau tadi ia mau meminta sesuatu dari Alena, tapi sekarang karena ia merasa tidak enak untuk bertanya pada Alena, jadi ia memilih untuk mencari sendiri apa yang ia butuhkan.
Yang Sabrina saat ini butuhkan adalah nomor rekening Alena, karena dirinya mau mengirim uang kepada Alena sebagai simpanan bulanan, tapi dirinya lupa meminta nomor tersebut pada Alena, namun seingatnya Alena pernah menyimpan buku tabungannya di dalam kamar, jadi sebisa mungkin Sabrina mencarinya sendiri.
Dirinya berusaha mencari dari lemari sampai ke beberapa laci kamar Alena dan Leo, namun dirinya tidak juga menemukan buku tabungan Alena, sempat Sabrina berpikir mungkin Alena membawanya, namun dirinya ingat kalau Alena tidak pernah sekalipun membawa buku tabungannya.
"Perasaan Alena gak pernah bawa buku tabungannya, di mana dia nyimpennya ya?" gumam Sabrina yang masih saja terus berusaha mencarinya.
Mungkin memang sudah menjadi scenario Tuhan kalau semua hal ini harus terjadi, tiba-tiba saja Sabrina memiliki pikiran untuk mencari buku tersebut diatas lemari, bahkan dirinya sampai harus jinjit agar bisa meraih atas lemari.
Saat sedang mencari tiba-tiba ada sebuah map biru yang jatuh, Sabrina langsung menggambil map tersebut, dirinya berpikir mungkin saja Alena menyimpan buku tabungannya di dalam map tersebut, namun tidak apa yang dilihat Sabrina dalam map tersebut berhasil membuat dadanya terasa sakit.
Dirinya benar-benar shock setelah membaca surat kontrak setelah menikah yang ditanda tangani oleh Leo dan juga Alena.
Sebisa mungkin Sabrina berusaha tenang, namun Tuhan berkehendak lain, perlahan Sabrina mulai sulit untuk bernapas, sampai akhirnya dirinya sudah benar-benar tidak bisa bernapas dan terjatuh ke lantai.
-o0o-
Ditengah-tengah pekerjaan, Alena dan Leo diserang perasaan tidak enak. Karena pikirannya sudah kacau dan itu selalu tertuju pada ibunya, Alena langsung menelpon ibunya berkali-kali, namun dirinya tidak juga mengangkat telepon tersebut.
Begitu juga Leo yang memilih menghentikan paksa rapat yang sedang berjalan karena pikirannya yang tiba-tiba kacau, ia juga berkali-kali menelpon ibunya berharap tidak terjadi sesuatu padanya.
Karena tidak menerima jawaban dari mertuanya, Alena memilih untuk izin kepada atasannya, dirinya tidak peduli tentang pekerjaannya saat ini, yang ia pedulikan hanya kondisi ibunya.
"Maaf pak, tapi saya harus segera pulang," pamit Alena sambil menunduk berharap atasan tersebut mau mengizinkan dirinya pulang.
Untung saja atasan Alena adalah orang yang mampu mengerti perasaan bawahannya, jadi Alena diizinkan untuk pulang, lagipula hari ini tidak ada pekerjaan khusus yang harus dikerjakan oleh sekertaris. Dengan cepat Alena langsung memesan ojek online agar bisa cepat sampai ke rumahnya.
Sementara itu, Leo dirinya masih dibuat bimbang karena ibunya tidak juga menjawab teleponnya, di satu sisi lain dirinya masih harus bekerja.
Kamu di mana, aku sedang jalan pulang?
Setelah membaca pesan dari Alena, tanpa peduli dirinya langsung pergi begitu saja meninggalkan kantor dan segera pulang ke rumah.
-o0o-
Keduanya sampai di rumah secara bersamaan. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah dan mencari ibunya ke seluruh ruangan, betapa shocknya Alena saat mendapati ibunya sudah dalam keadaan kaku di kamarnya.
"Ibu," lirih Alena, kakinya tiba-tiba terasa lemas dan tak bisa menopang berat badannya lagi.
"Kenapa Len?" tanya Leo yang langsung menangkap Alena yang belum sepenuhnya terjatuh ke lantai. Alena langsung mengisyaratkan Leo untuk melihat ke dalam kamarnya.
"Ibu!" teriak Leo yang langsung lari mendekati ibunya yang sudah tebujur kaku dilantai.
Leo memeluk ibunya yang kini sudah sangat dingin, "Ibu Leo udah pulang bu," ucap Leo sambil menangis memeluk ibunya.
Alena yang masih belum bisa bangun, dirinya benar-benar merasa bersalah, seharusnya ia tetap di rumah dan tidak pergi bekerja hari ini, seharusnya ia menemani ibunya berbelanja, jika saja hal tersebut ia lakukan tadi, mungkin saja kejadian sekarang ini takkan terjadi.
"Ibu maafin Alena bu," lirih Alena yang saking tidak kuatnya menahan sedih, akhirnya ia terjatuh pingsan.
Melihat kondisi Alena, seketika pikiran Leo bertambah kacau, dirinya harus dihadapi dengan situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya atau bahkan tidak akan pernah ia bayangkan selamanya.
-o0o-
Kini rumah Leo sudah dipenuhi banyak orang, sementara itu Alena masih belum sadarkan diri, keluarga Alenapun telah datang setelah dikabari oleh Leo dan mereka turut berduka cita atas kepergian ibunya Leo, tidak ada cara lain selain hanya bisa menenangkan Leo saat ini.
Selagi mengurus ibunya, Leo juga dibuat khawatir dengan keadan Alena yang sampai sekarang belum sadarkan diri, namun Bastian dan Reyna meminta Leo untuk fokus terlebih dahulu pada ibunya, sementara itu Alena akan diurus oleh mereka berdua.
Sebenci apapun Leo pada Alena, namun Alena adalah orang pilihan dan orang kepercayaan ibunya, jadi ia juga tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang aneh pada Alena, karena sekarang hanya Alenalah yang ia punya.
Beberapa orang membantu Leo untuk mengurus jenazah ibunya, dari dimandikan sampai disholatkan, semua orang benar-benar mengurus semuanya dengan sangat baik.
Karena ibunya dinyatakan meninggal tadi siang, jadi jenazah baru bisa dimakamkan saat malam hari. Saat semua orang mau mengiring jenazah ke pemakaman, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuat emosi Leo naik.
"Untuk apa anda datang kemari?!" sentak Leo pada laki-laki yang saat ini bahkan tidak mengeluarkan air mata sama sekali.
"Ayah turut berduka cita," ucap Jordan yang sedikit merasa sedih, karena mau bagaimanapun Sabrina adalah mantan istrinya.
"Ayah?" ucap Leo merasa miris. "Masih berani anda mengatakan kata itu pada saya?" ucap Leo.
Jordan hanya bisa diam saja, iya mau bagaimanapun dirinya tetap ayah Leo, meski dirinya dan Sabrina sudah resmi berpisah.
Semua orang terdiam melihat kejadian tersebut. Namun, karena saat ini dalam keadaan berduka jadi Bastian dengan cepat memegang tangan Leo agar menantunya itu bisa menetralkan dirinya, terlepas dari apapun masalahnya bersama sang ayah, saat ini yang lebih penting adalah memakamkan Sabrina terlebih dahulu.
Genggaman Bastian berhasil membuat Leo tenang. Tanpa peduli ia meminta semua orang untuk tetap melanjutkan perjalanan sampai ke makam ibunya. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, sedangkan Jordan hanya bisa terdiam saja melihat keranda berisi jenazah mantan istrinya perlahan pergi menjauh.
-o0o-
Sementara itu, Alena masih saja tidak sadarkan diri, suhu tubuhnya semakin lama semakin naik, karena khawatir, Reyna meminta Brandon untuk mengantar mereka ke rumah sakit, karena ia tidak mau Alena kenapa-napa.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Reyna mengabari Bastian terlebih dahulu agar dirinya bisa memberitatu Leo tentang kondisi Alena, namun ia juga meminta Bastian untuk memberitau Leo disaat keadaan Leo sudah membaik.
Selain itu, ia juga meminta pada beberapa tetangga untuk menjaga rumah Leo selagi yang lain masih di pemakaman, sedangkan Reyna mau membawa Alena ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Reyna sedikit merasa tidak fokus, dirinya terus saja memikirkan keadaan Alena. Karena setelah lepas dari orang tuanya, belum ada sebulan sifat Alena tiba-tiba saja berubah, dirinya sudah tidak seriang dulu lagi setelah menikah dengan Leo.
Awalnya Reyna merasa tidak beres dengan rumah tangga anak pertamanya itu, namun sebagai orang tua dirinya tidak mau ikut campur urusan rumah tangga anaknya, lagipula selama Alena masih diam, Reyna tidak memiliki hak untuk ikut campur.
Setelah sampai rumah sakit, Alena langsung dirujuk ke ruang rawat, panasnya sudah sangat tinggi, napasnya pun mulai tidak stabil. Keadaan Alena sudah sedikit membaik setelah dirinya mendapatkan perawatan.
Setelah kembali dari pemakaman, Bastian baru memberitau Leo kalau Alena saat ini sudah dirawat di rumah sakit, dirinya tadi mengalami demam yang cukup tinggi, napasnya pun tidak stabil karena ia mengalami shock yang sangat berat, tapi keadaannya sudah membaik dan mungkin untuk beberapa hari ke depan Alena harus dirawat terlebih dahulu di rumah sakit.
Leo yang mengatahui hal tersebut dirinya juga mulai merasa lemas, kini pikirannya sudah benar-benar kacau.
"Kamu boleh ke sana kalau kamu sudah kuat," ucap Bastian.
"Makasih pa, maaf kalau Leo gak bisa jaga Alena dengan baik," ucap Leo yang merasa sedikit tidak enak pada mertuanya.
"Tidak apa-apa, Alena itu memang kalau lagi shock pasti selalu drop." Sebisa mungkin Bastian menenangkan Alena.
Leo hanya mengangguk saja, dirinya tidak tau harus bekata apalagi pada mertuanya. Hari ini dirinya benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya.
-o0o-
Di rumah sakit, Alena baru saja sadar, namun dirinya lagnsung dibuat panik oleh suasana, "Ibu!" teriak Alena saat menyadari kalau dirinya tidak ada di sekitar ibunya.
"Alena, tenang nak," ucap Reyna yang berusaha menenangkan anaknya.
"Ma, Ibu di mana?Dan bagaimana keadaanya sekarang?" Alena benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
"Alena hei tenang sayang, sekarang kamu sedang ada di rumah sakit," ucap mamanya.
"Kenapa Alena bisa di sini? Ibu di mana? Gimana keadaan ibu, mah?" Alena masih saja shock saat ini sampai akhirnya suster datang dan menyuntikkan obat penenang padanya.
Melihat kondisi Alena, Reyna tak kuasa menahan air matanya, baru kali ini Alena benar-benar merasa shock yang sangat berat seperti sekarang. Bagi Alena Sabrina tidak beda dari mamanya, jadi apapun yang terjadi pada Sabrina dirinya akan merasa tidak baik-baik saja.
Setelah situasi mulai membaik, Leo mengusahakan untuk pergi ke rumah sakit, mau bagaimanapun Alena sudah menajadi istrinya sekarang. Di rumah sakit, dirinya tidak tega melihat Alena yang tampak pucat saat ini, dengan selang infus dan selang oksigen yang terpasang padanya.
"Padahal yang meninggal itu ibu gua, kenapa jadi lo yang sakit parah begini? "Batin Leo, dirinya merasa kalau hubungan Alena dan ibunya benar-benar memiliki hubungan sedekat yang tidak ia kira sebelumnya.
"Kamu kalau masih capek, biar mamah saja yang menunggu Alena," ucap Reyna.
"Gak apa-apa mah, biar Leo saja yang jaga Alena, mamah, papah dan Brandon bisa pulang," jawab Leo sambil terus menatap Alena dengan tatapan sendu.
"Kamu yakin mau jaga Alena?" tanya Bastian yang merasa ragu karena kondisi Leo saat ini juga sudah kelihatan lelah.
"Muka kamu keliatan lelah," lanjutnya Bastian agar tidak membuat Leo tersinggung.
"Yakin pah, mau bagaimanapun Alena ini sekarang udah jadi tanggungjawab Leo," ucap Leo berusaha mencoba meyakinkan mertuanya saat ini. "Lagipula besok papah masih harus kerja dan Brandon juga masih harus sekolah, jadi biar Leo yang jaga Alena," lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa langsung kabarin papah atau mamah ya," ucap Bastian seraya pamit pada Leo.
"Baik pah," jawab Leo.
Sebelum pulan Reyna menatap Alena sambil berusaha menahan air matanya, saat mau beranjak dirinya berkata, "Leo. Alena itu mungkin terlihat kuat dan baik-baik saja dari luar, tapi sejatinya Alena adalah orang yang tidak sekuat apa yang kita kira, jadi jagalah dia baik-baik dan janga menyakitinya," ucap Reyna.
"Baik mah, Leo ngerti," jawab Leo.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Leo dan Alena berdua diruang rawat. Dalam keheningan Leo hanya bisa berpikir, kalau selama ini mungkin sifat ego dia adalah alasan mengapa sifat Alena berubah 180°.
Setelah keluar ruangan Bastian mulai bertanya pada istrinya. "Kamu kenapa harus berkata seperti itu pada Leo? " tanyanya.
"Aku cuma mau memberitaunya saja kalau dirinya harus bisa jaga Alena dengan baik," jawab Reyna.
"Tapi omongan kamu tadi seolah kamu menyalahkan Leo."
"Mas, kamu sadar, kan kalau sikap Alena itu berbeda setelah dia menikah dengan Leo, ini baru bulan pertama mereka menikah mas, tapi Alena sudah berubah drastis," jelas Reyna.
"Sekarang ini Alena sudah menjadi istri sah Leo, bahkan kita sendiri orang tuanya yang menyetujui dan menjadi saksi pernikahan mereka, jadi biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa harus kita campur tangan urusan mereka," balas Bastian.
"Tapi mereka itu masih sama-sama muda mas, mereka bahkan masih belum bisa mengendalikan ego masing-masing." Reyna sudah mulai kesal dengan omongan suaminya yang seolah tak membiarkan dirinya memberitau mana yang terbaik untuk anaknya.
"Semua itu butuh waktu Reyna, untuk memantaskan diri satu sama lain dalam ikatan pernikahan itu tidaklah mudah, bukankah kamu dan aku juga merasakan hal yang sama saat kita menikah dulu?"
Perkataan Bastian berhasil membuat Reyna kembali mengingat tentang dirinya di masa lalu, di mana dirinya dan Bastian masih sama-sama egois dalam menggambil keputusan.
"Maaf, aku cuma gak mau rumah tanggan putri pertamaku kacau hanya karena Leo yang bersikap dingin padanya." Reyna merasa sedikit bersalah.
"Leo itu dari luar memang dingin, tapi dalam hatinya, terdapat satu kehangatan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang terdekatnya saja," ucap Bastian. Setelah keduanya relai, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sementara itu, Leo masih terus berada di posisinya saat ini.
"Maaf ya Len, seharusnya gua gak sekeras itu sama lo," gumam Leo sambil mengusap kepala Alena yang saat ini masih saja belum sadarkan diri.
Karena malam sudah semakin larut, akhirnya Leo memilih untuk tidur di sofa, sedaritadi kepalanya terus saja terasa sakit, kali ini dirinya bahkan harus meminum obat tidur agar bisa tertidur.