“Ternyata ke dalam banget ya pak tempatnya," celetuk Alif ke pak Fahri setelah sampai gerbang di lokasi yang dituju.
“Iya mas, inimah di dalem banget,” jawab pak Fahri yang tak kalah dibuat heran.
Tempat yang dituju oleh Alif dan pak Fahri adalah Balai Diklat, Alif dan pak Fahri akan menjalani pendidikan dan latihan bagi orang-orang yang baru saja menjadi pegawai negeri.
Mereka turun di lobi utama, memastikan informasi di depan pintu masuk dan kemudian keduanya masuk. Di dalam ada beberapa orang yang sudah sampai duluan, ada yang sibuk dengan gawainya, ada yang sibuk dengan orang di sampingnya, ada pula yang sibuk menata barang bawaannya.
“Ouuh man, what's going on. Ada aja yang ketinggalan, mesti balik lagi ke mobil."
Suara gadis dengan wajah tirus mencairkan suasa lobi utama, hijabnya sangat modis namun simpel. Ia berlalu begitu saja seolah seisi ruangan tidak memperhatikannya. Namun berbeda dengan Alif, ia lekat betul memperhatikannya.
“Mas udah melengkapi persyaratan untuk registrasi?”suara pak Fahri memecah perhatiannya.
“Oia pak, ada semua di carrier terus gimana ya?" balas Alif sejadinya.
“Nanti langsung aja tuh ke meja registrasi sekalian ada formulir yang mesti diisi," pak Fahri kembali mengarahkan.
“Loh bapak udah?”Alif kembali menimpali.
“Lah saya kan dari awal masuk langsung ke meja regis, emang mas Alif kemana?" balas pak Fahri.
“Ouh iya ya itu pak biasa lah hehehehe," Alif semakin sejadinya.
Alif menuju meja registrasi, ia meminta formulir yang dimaksud pak Fahri kepada panitia. Ada beberapa lembar yang diberikan, ia mengisinya dengan perlahan, beberapa identitas pendukung mulai Alif keluarkan dari dompet dan berkas yang ia bawa di dalam carrier. Sesekali matanya mencari sosok pak Fahri untuk menanyakan sesuatu, lalu ia kembali melanjutkan mengisi formulir. Setelah selesai, ia diberikan formulir yang baru saja ia isi oleh panitia untuk difotokopi.
“Pak mau fotokopi kemana?”tanya Alif ke pak Fahri.
“Kita coba keluar aja dulu yu, tadi saya tanya panitia sih katanya di depan ada tukang fotokopi."
Alif dan pak Fahri keluar dari lobi utama, di pintu masuk ia kembali melihat si gadis berwajah tirus yang tadi suaranya mencuri perhatian Alif, mata Alif membuntutinya membawa koper berwarna ungu. Sosoknya lenyap di balik tembok lobi dengan wangi parfum yang masih tertinggal di pikiran Alif.
“Waduuuuh panas banget ya mas,”celetuk pak Fahri.
“Mau pesan ojek online aja pak?" Alif menawarkan.
“Nggak apa-apa mas kita jalan aja biar tahu nanti kalo butuh apa-apa bisa keluar."
Siang itu Alif kembali menyusuri teriknya Jakarta bersama pak Fahri, baru saja ia merasakan sejuknya suhu dingin di dalam gedung saat registrasi kini ia harus jalan kaki untuk mencari tukang fotokopi di siang bolong.
Alif dan pak Fahri sama-sama seorang pegawai negeri yang akan mengikuti latihan dasar di balai diklat, Alif mengenal pak Fahri karena berasal dari daerah penempatan tugas yang sama namun beda kecamatan. Persamaan lainnya antara Alif dan pak Fahri adalah sama-sama di tempat tugaskan jauh dari rumah. Maka ketika pengumuman latihan dasar muncul dan mereka di angkatan yang sama, mereka membuat janji untuk berangkat bersama untuk mempermudah mencari lokasi diklat dan ada teman dalam perjalanan. Mulai hari ini mereka akan mengikuti latihan dasar bagi para pegawai negeri selama delapan belas hari.
“Segini cukup pak, 3 rangkap?”tanya Alif.
“Cukup mas, yuk kita langsung balik biar dapet kamar dan bisa istirahat,”saran pak Fahri.
Keduanya kembali ke gedung diklat, mengembalikan formulir pendaftaran dan menerima kunci kamar. Kamar dibagikan secara random oleh panitia dengan ketentuan satu kamar berisi tiga orang.
Saat kunci kamar dibagikan ada dua yang disodorkan oleh panitia di meja registrasi, Alif tidak menyadari sosok gadis berhijab modis di sampingnya sedari tadi, matanya disibukan dengan mengecek identitasnya kembali di formulir pendaftaran setelah difotokopi, wangi parfum dengan aroma yang segar tiba-tiba tercium, Alif tidak sampai menerka jenis wangi parfum yang membuatnya tenang, matanya keburu disadarkan oleh tangan dengan kulit yang putih mengambil satu kunci di hadapannya.
“Okay thanks pak,”suara gadis itu terdengar.
Alif menoleh sejenak, matanya mengamati sosok pemilik wajah tirus yang membawa koper ungu dan berlalu meninggalkan meja registrasi. Pandangan Alif berganti tertuju ke pak Fahri yang nampak menunggu dirinya, ia menghampirinya dan pak Fahri bangkit dari dudukunya, keduanya mulai mencari kamar untuk istirahat.
“Loh emang gedungnya sama disini juga?”pak Fahri mengagetkan Alif yang sedari tadi mengikutinya.
“Eh beda-beda ya pak, waduh kacau,”jawab Alif sejadinya.
“Itu liat di kuncinya, ada kodenya. B-10.12 berarti gedung B lantai 10 kamar 12 mas,”pak Alif menjelaskan kunci yang ada di Alif.
“Ouh gitu, pak Fahri di gedung apa?”balas Alif.
“Saya di gedung A lantai 8 kamar 7 mas, kita beda gedung berarti kita pisah di sini nih."
“Okay pak kalau gitu, terima kasih nih udah nemenin selama perjalanan saya jadi ada temennya, coba kalau sendiri pak wah ga ada temannya deh,”Alif mencoba guyon.
“Ah saya yang makasih mas, kalo sendiri kesini bingung juga deh,”balas pak Fahri.
Dan guyonan ala Alif ternyata tidak masuk di pak Fahri, mungkin memang beda server. Alif melanjutkan mencari gedung B. Sementara sosok pak Fahri sudah tak lagi terlihat. Alif memasuki gedung B, berbelok dan lurus mencari-cari akses lift menuju lantai 10. Di depan lift hanya ia seorang, tombol merah lift tanda ke atas menyala, langsung ia tekan. Alif tengok kanan kiri bermaksud mencari teman sesama peserta yang mungkin akan menuju lantai atas, pintu lift terbuka.
****
Sesampainya di lantai sepuluh, beberapa kali tanda pintu lift terbuka berbunyi. Ia terbangun dalam lamunan, kakinya tersandung saat keluar lift. Ia menyusuri kamar demi kamar untuk menemukan kamar dengan kode yang cocok di kuncinya. Lantai sepuluh terdiri dari ruang tamu lengkap dengan sofa untuk berkumpul berbentuk setengah lingkaran, di sisi lainnya ada sofa berbaris rapi dengan warna krem berpadu hitam dan di seberangnya ada televisi super tipis yang sangat besar terpasang kokoh di dinding, di bawahnya ada meja hias dengan jejeran vas dan beberapa buku yang tersusun rapi, persis di kanan meja hias ada dispenser.
Alif mendapati kamarnya dan langsung masuk, menutup tanpa membiarkannya terkunci karena ada dua teman kamarnya yang belum datang. Ia hanya meletakan carrier biru navy-nya di sudut kamar, di bawah meja. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menerawang jauh.
****
“Mas ya yang barusan tekan tombol liftnya?" tanya gadis berhijab dengan wajah tirus.
“Eh i iya bu, maaf saya kira masih kosong,” jawab Alif setengah terbata.
“Enak aja, emangnya potongan gini kayak ibu-ibu ya?”gadis berwajah tirus itu menimpali sambil merapikan penampilannya di pantulan interior dalam lift.
“Nggak mba, maksud saya itu kirain tadi nggak ada orang, mbanya serasi kok, stylenya sama sekali nggak ada potongan ibu-ibu, mana mungkin saya salah lihat."
Gadis berwajah tirus itu berhenti merapikan penampilannya. Suasana di dalam lift sangat kaku, setelah itu tidak ada percakapan lain. Alif terbawa harum parfum segar yang ia cium, wanginya sama seperti yang ia cium di meja registrasi, wanginya perpaduan jeruk dan mawar namun juga bercampur wangi woddy, ia mengambil pandangan dari pantulan interior dalam lift, ia baru tersadar gambar diri dua insan manusia di hadapannya sangat berbeda, begitu kontras. Lelaki dengan style pendaki gunung, kaos hitam dan kemeja biru yang tidak dikancing, celana dan sepatu outdoor, lengkap dengan carrier 65l di punggung. Satunya gadis manis dengan wajah tirus dibalut hijab unggu muda yang begitu serasi dengan Freya blouse ungu dipadukan warna ungu yang lebih tua, pada bagian pinggang di lengkapi belt putih dan dipadukan dengan bawahan putih. Saat Alif memfokuskan ingin melihat wajah si gadis berwajah tirus, mata mereka bertemu, keduanya saling melempar pandangan ke langit-langit lift.
Alif terbangun saat mendengar suara percakapan di kamarnya, ia mendapati dua orang yang baru pertama ia lihat. Ia membetulkan posisi duduknya di atas tempat tidur, mencoba memfokuskan diri dari kantuk yang tersisa.
“Weeeh dia kebangun,” ucap seorang lelaki bertubuh berisi dan berkacamata.
“Ehh maaf nih kita berisik ya?” seorang lagi menimpali, lelaki kurus dengan stelan yang rapi.
“Eh nggak kok, ini tadi emang ketiduran aja, enak adem banget,” jawab Alif.
“Oia gue Sandi.” Lelaki berkacamata itu mengulurkan tangan ke Alif dan berkenalan.
“Alif, Alif Pramata.” Balas Alif santai.
“Saya Bagus bang, bang Alif udah lama datengnya?” giliran lelaki dengan perawakan kurus mengenalkan diri.
“Sekitar jam dua belas kurang kayaknya, lagi panas-panasnya tadi cuaca, makanya langsung rebahan deh hehehe,” jawab Alif.
“Iye bang panas beud, kaga nahan gue juga. Eh pembukaan jam berapa dah?”
Sandi mengenakan kaos oblong dan menghempaskan tubuhnya ke kasur di sisi Alif. Ia juga nampak lelah.
“Kayaknya setengah empat gitu deh bang, abis asar pokoknya,” jawab Bagus.
“Eh emang sekarang jam berapa bang Bagus?” Alif gantian bertanya.
“Emmm, jam dua kurang bang Alif, kenapa?” Bagus gantian yang menyandarkan tubuhnya di kasur untuk istirahat.
“Belum zuhur gue bang, berarti pulas banget gue tidur hahaha,” jawab Alif.
“Oalah, yaudah bang buru. Saya mau ikut rebahan juga deh selagi ada waktu.” Bagus memejamkan matanya.
Kamar yang ditempati oleh Alif, Sandi, dan Bagus cukup luas untuk 2 kasur utama dan 1 kasur tambahan yang lebih kecil. Satu kamar mandi, satu lemari besar dengan dua pintu, satu televisi LED, dan satu set meja kerja dengan cermin besar.
Sedari awal Alif menempatkan dirinya di kasur ekstra yang berukuran lebih kecil, setelah salat zuhur ia merapikan pakaiannya. Mengambil perlahan pakaiannya dari ransel yang ia bawa dan memindahkan ke lemari. Lemari dengan dua pintu yang ia buka rupanya sudah terisi pakaian Sandi dan Bagus, disisakan slot tengah untuknya. Sisi kanan lemari berisi tiga susun untuk pakaian lipat, sisi kiri untuk pakaian gantung.
Tepat pukul 15.00WIB Sandi terbangun, lalu ia membangunkan Bagus. Alif masih menonton TV.
“Bang bro udah mandi belum?” tanya Sandi ke Alif.
“Udah bang tadi jam dua sekalian mau salat zuhur.”
“Bang, gue mandi duluan yak,” pinta Sandi ke Bagus.
“Iya duluan aja bang, masih ngumpulin nyawa nih.”
Bagus bangkit dari kasurnya dan menuju lemari, ia menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian untuk acara pembukaan.
Sandi dan Bagus pun ternyata dalam satu acara yang sama yaitu diklat untuk pegawai baru pemerintah dan sebentar lagi mereka akan mengikuti serangkaian kegiatan pendidikan dan latihan tersebut.
“Bang Bagus dari mana bang?” tanya Alif, yang dari tadi memperhatikan Bagus mencari pakaian, pandangannya kembali ke TV.
“Saya dari Pandeglang bang, bang Alif dari mana?” Bagus giliran bertanya.
“Waaah sama dong, saya juga dari Pandeglang cuma agak ke ujung lagi.”
“Oalah kalau nggak ketemu disini mana tau ya kita sama-sama dari Pandeglang,” Bagus menimpali.
“Bang Alif berangkat jam berapa tadi?” Bagus bergabung menonton tv dengan membawa peralatan mandinya.
“Tadi sekitar jam 6-an pagi bang naik KRL.”
“Waah pagi banget, karena jauh juga ya jarakanya,” terka Bagus.
“Nggak sih bang, tadi berangkat dari rumah di Cikokol Kota Tangerang, cuma ada teman mau bareng jadi janjian KRL-an.” Alif menjelaskan.
“Oalah gitu, kirain langsung dari Pandeglang berangkatnya.”
Pintu kamar mandi terbuka, Sandi keluar dengan handuk di lehernya sambil mengeringkan rambutnya.
“Bang gantian nih!” suaranya memenuhi kamar.
“Mantap dah ah segeeeeeer,” celetuk Alif.
“Iye nih mantap beud dah ah, udah mah tadi siang di luar panas beud bang gerah, jadi nyes dah ah,” jawab Sandi.
“Emang nanti pembukaan seremonial gitu ya bang?”
“Kurang tau gue juga bro, biasanya sih gitu.”
Setelah azan asar mereka salat berjamaah, lalu merapikan diri masing-masing. Mereka menggunkan stelan yang sama, kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan dasi hitam juga.
“Ada yang bawa semir nggak?” tanya Sandi.
“Gue bawa ni bang, tapi yang roll gitu bukan pakai sikat,” jawab Alif.
“Boleh dong, lupa nyemir gue tadi.”
Terdengar suara panitia bahwa lima menit lagi pembukaan diklat akan dimulai di aula utama atau gedung D. Ketiganya keluar bersama, Sandi mengunci kamar dan menitipkannya ke Alif, mereka menuju lift dengan terburu-buru. Sandi menekan tombol lift, indikator lift menyala berpindah tanda ke arah atas. Setelah menuggu sekian menit, lift terbuka dan ketiganyanya masuk. Baru turun satu lantai, lift berhenti lumayan lama. Alif, Sandi, dan Bagus saling beradu pandang.
“Coba lagi bang, ditekan!” pinta Alif ke Sandi yang berada di depan deretan nomor lift.
“Udah bang, nih udah berkali-kali,” jawab Sandi.
Lift terbuka, harum parfum yang familiar di hidung Alif menyeruak masuk memenuhi lift, si empunya padahal belum melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
“Kayaknya nggak boleh banget mas saya ikut liftnya,” suara yang Alif kenal terdengar.
Alif tertegun, gadis dengan kerudung hitam itu masuk.
“Iya mba emang gitu dia orangnya, tadi udah saya bilang sabar ae mungkin ada orang yang mau masuk eh dia bilang, gas aja udah mau telat, gitu mba,” Sandri nyerocos. Bagus menyembunyikan tawanya, menyisakan simpul senyum.
Alif berdiri di tengah, Sandi di kanan Alif dan Bagus di kiri Alif, gadis berwajah tirus itu berdiri aga depan beberapa cm dari Alif. Wajah Alif bak udang rebus, memerah.
“Ouh jadi mau balas dendam mas, kalo tadi siang belum selesai mending kita selesaikan aja sekarang mas!”
“Ya ampun brooo, loe nggak boleh gitu. Udah mba nanti saya nasehatin. Kebetulan satu kamar sama saya. Udah mba kalem ae mba, selooow,” jawab Sandi tanpa diminta.
Lift terbuka, gadis berwajah tirus itu keluar duluan. Sandi dan Bagus melepas tawanya, mereka berdua keluar lift hanya untuk menumpahkan tawanya.
“Bhahahaha nggak kuat gue bro,” seloroh Sandi, guyonan Sandi membuat Alif tak berkutik selama di lift.
“Hahahaha kacau loe bang Sandi, nggak tega liat Alif kikuk gitu,” tambah Bagus.
“Ah pada tega loe bang, kan gue dikiranya nggak asyik nanti,” jawab Alif sejadinya.
“Jiaaahhh bro belum juga dimulai ni acara udah ada yang pake perasaan aja nih.” Ledek Sandi, ia merangkul pundak Alif.
“Bhahaha bukan gitu konsepnya bang, itu orang tadi emang udah ketemu, di lift juga. Gue mau masuk eh dikira dia jadi penyebab liftnya lama karena gue baru masuk. Persis dia tadi posisinya.” Alif menjelaskan.
“Ouh bisa sama gitu ya skenarionya,” Bagus menimpali.
“Tau dah ah, yudah yuk udah mepet nih waktunya.” Alif menutup pembicaraan.
Ketiganya menuju aula utama, nampak beberapa orang dengan stelan yang sama dengan mereka berlari kecil, ada lagi yang berjalan cepat memasuki gedung D.
Saat Alif, Sandi, dan Bagus masuk aula sudah dipadati orang. Mereka juga mengenakan stelan yang sama, serba putih hitam. Peserta sudah menempati kursi yang disediakan panitia. Kursi dibagi menjadi tiga kelompok besar. Bagian kanan sudah terisi penuh, bagian tengah menyisakan satu baris kosong di belakang dan bagian paling kiri sebaris dengan posisi berdiri Alif yang baru masuk, menyisakan kursi kosong di barisan belakang.
“Nih kosong nih yang paling belakang, rejeki banget, disitu yuk!” Ajak Sandi.
Ketiganya menempati kursi di barisan belakang yang kosong, ada enam kurusi satu barisnya.
Panitia nampak memberikan beberapa arahan, menginfokan sesaat lagi acara pembukaan diklat akan dimulai.
“Baik bapak/ibu peserta diklat, sekali lagi kami minta kerjasamanya untuk terlebih dahulu mengisi kursi barisan depan yang masih kosong. Coba itu yang baru datang, tiga orang yang paling belakang untuk pindah ke depan”, suara MC mengundang ratusan pasang mata untuk melihat Alif, Sandi, dan Bagus.
“Wahhh kacau loe bang, kacau sarannya,” celetuk Alif.
Ketiganya bangkit dari kursi, Bagus kembali menahan tawa. Sandi hanya senyum-senyum saja. Sandi berjalan paling depan, Alif mengikuti di belakang dan terakhir Bagus.
“Udah mah tadi gue jadi bahan lawakan di lift, nah sekarang gara-gara loe ni bang bukannya santai di belakang malah jadi paling depan,” Komentar Alif dengan suara kecil.
Dua baris sebelum Alif duduk, ia kembali mencium parfum yang sama wanginya seperti di lift dari sebelah kanan. Setelah duduk, Alif memastikan sumbernya, ia sedikit menoleh ke kanan, si gadis berwajah tirus sedang asyik mengobrol dengan teman di samping kirinya. Ia pun menyadari saat Alif melihat ke arahnya.
Alif kembali duduk ke arah depan, ia mencoba duduk setenang mungkin. Ia tak memberitahukan keberadaan gadis yang ia temui bertiga di lift ke Sandi dan Bagus. Sandi di samping kiri nampak menangkap gerak-gerik Alif.
“Iye bang kalem, gue juga tau kok dia ada di deket sini,” tiba-tiba suara Sandi mengagetkannya.
“Asli kacau loe bang,” jawab Alif dengan santai. Ketiganya kembali menahan tawa.