Bab 1

Aku berdiri di tengah keramaian itu, di bawah sorot lampu kristal yang harganya bisa buat beli pulau kecil. Malam ini, Pestanya The Golden Circle-nama keren buat perkumpulan orang-orang yang hartanya nggak habis tujuh turunan. Semua mata, dan serius, semua mata, tertuju padaku.

Aku, Aluna Callysta.

Gaun haute couture yang kupakai malam ini, bahannya didatangkan langsung dari Milan. Potongannya berani, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna. Di leherku melingkar kalung berlian yang cahayanya bersaing sama lampu di langit-langit. Senyumku? Senyum yang sudah teruji oleh ratusan kamera paparazzi. Hangat, elegan, dan... kosong.

"Aluna, darling, kamu luar biasa malam ini."

Suara itu datang dari Nyonya Chandra, seorang janda kaya raya yang kerjanya cuma sibuk menjaga reputasi. Aku memiringkan kepala sedikit, senyumku sedikit lebih lebar.

"Terima kasih, Tante. Kamu juga. Cincin barunya stunning."

Omong kosong. Aku nggak peduli sama cincin itu. Aku nggak peduli sama Nyonya Chandra, sama pestanya, atau sama semua sampanye mahal yang mereka minum. Aku ada di sini, bukan buat bersenang-senang. Aku ada di sini buat nunjukkin pada dunia: Aku baik-baik saja.

Padahal, aku hancur. Hancur lebur sampai ke serpihan terkecil yang nggak mungkin lagi direkatkan.

Cinta. Kata itu buatku sekarang cuma seperti kentut. Ada, tapi nggak kelihatan, dan biasanya cuma ninggalin bau nggak enak. Tawa renyah yang barusan kulepaskan, itu palsu. Itu hasil latihan keras di depan cermin, memastikan setiap sudut bibirku naik sempurna, nggak ada jejak kesedihan di sana.

Aku menahan napas sejenak, mengambil gelas champagne yang lewat di nampan pelayan, dan menyesapnya cepat. Dinginnya menyengat lidah, tapi nggak bisa mematikan api amarah yang sudah tiga tahun ini membakar habis hatiku.

Tiga tahun. Tiga tahun sejak tragedi itu. Tiga tahun sejak aku menyaksikan orang yang paling kucintai, Elian Dharma, mengucapkan janji suci. Bukan padaku. Tapi pada Anya, kakak tiriku.

Elian dan Anya.

Dua nama itu, kalau digabung, menciptakan racun paling mematikan buatku. Mereka membunuhku, nggak pakai pisau atau peluru, tapi dengan gaun pengantin putih bersih, sumpah pernikahan, dan senyum bahagia yang mereka tunjukkan ke semua orang.

Aku berbalik memunggungi Nyonya Chandra, pura-pura tertarik sama lukisan abstrak di dinding. Mataku fokus ke pigura emasnya, tapi yang kulihat di balik refleksi kaca adalah momen yang nggak akan pernah bisa kuhapus.

- Tiga Tahun Lalu -

Hari itu, hari pernikahan mereka. Harusnya itu jadi hari terindah dalam hidupku, karena aku sudah membayangkan diriku yang berdiri di altar itu, menggandeng lengan Elian. Kami sudah merencanakan semuanya, dari rumah masa depan sampai nama anak-anak kami. Elian itu duniaku. Dia satu-satunya orang yang tahu bagaimana rapuhnya Aluna yang workaholic ini. Dia tahu semua ketakutan dan impianku.

Sampai Anya datang.

Anya itu sisi lain dari cerita kami. Kakak tiri yang masuk ke kehidupanku setelah Ayahku menikah lagi. Dia selalu jadi bayanganku. Lebih lembut, lebih penurut, lebih pandai bersandiwara. Aku nggak pernah benci dia. Cuma... mengabaikannya, seperti aku mengabaikan perabotan di rumah yang nggak penting.

Tapi, ternyata dia nggak bisa diabaikan. Dia mengambil Elian.

Aku ingat sekali, aku berdiri di pintu gereja itu, pakai gaun hitam yang harusnya kusimpan buat acara pemakaman. Aku nggak diundang. Mereka tahu aku akan bikin kekacauan. Tapi aku harus lihat. Aku harus memastikan kalau ini bukan mimpi buruk.

Bau bunga lili dan mawar putih menusuk hidungku. Musik organ menggema, suaranya seperti genderang kematian buatku. Semua kepala menoleh ke arah Anya yang berjalan pelan, anggun, diapit Ayah kami. Gaunnya, gaun impianku. Rambutnya, sanggulan yang kubilang sempurna di majalah tahun lalu.

Lalu pandanganku bertemu dengan Elian.

Dia berdiri di sana, di ujung karpet merah. Dia kelihatan tenang. Terlalu tenang. Matanya nggak memancarkan kegelisahan sama sekali. Bahkan, di sana ada semacam... kedamaian. Kedamaian yang seharusnya ia rasakan saat melihatku.

Jantungku berdebar sangat kencang, bukan karena cinta lagi, tapi karena rasa sakit yang mencoba merobek rusukku. Aku menunggu. Menunggu dia melihatku. Menunggu dia sadar. Menunggu dia lari.

Dan saat Anya tiba di sisinya, mereka saling bertukar pandang. Itu bukan sekadar pandangan pasangan. Itu pandangan yang penuh pemilikkan. Seolah, dari awal, mereka berdua adalah sepasang teka-teki yang baru saja menemukan kepingan terakhirnya.

Di tengah pandangan mereka, aku merasa diriku lenyap. Aku nggak lagi berdiri di sana. Aku cuma jadi debu.

Elian, kamu lihat nggak, di sudut pintu itu, Aluna-mu sedang mati?

Tentu saja dia nggak lihat. Dia cuma melihat masa depannya, yang kini bergandengan tangan dengan Anya.

Satu detik setelah pendeta meminta mereka mengucapkan janji, aku berbalik. Aku nggak butuh dengar kata-kata manis itu. Aku cuma butuh mendengar suara langkah kakiku yang menjauh, seolah aku bisa lari dari takdir yang baru saja menghantamku.

Aku lari, bukan ke mobil, tapi ke taman belakang gereja yang sepi. Aku jatuh berlutut di rerumputan yang baru dipotong, baunya segar, kontras dengan bau kesedihan yang mencekik. Aku nggak nangis. Air mata terasa terlalu murah buat melukiskan duka ini.

Yang keluar cuma satu suara: raungan. Raungan yang nggak manusiawi. Raungan seorang wanita yang baru sadar, selama ini, cinta yang ia yakini sebagai fondasi hidupnya ternyata cuma bom waktu yang meledak tepat di wajahnya.

Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu. Sambil mencengkeram rumput basah: Aku nggak akan pernah lagi membiarkan diriku dicintai atau mencintai. Aku nggak akan pernah lagi memberikan kekuatanku pada makhluk bernama laki-laki.

- Sekarang -

Aku kembali ke realitas pesta. Gelas champagne di tanganku sudah kosong. Udah cukup drama masa lalu. Aku menggelengkan kepala sedikit, seolah mengusir bayangan gaun pengantin sialan itu.

"Aluna?"

Suara itu. Berat, berwibawa, dan sedikit menggangguku.

Aku menoleh. Itu Om Richard, Ayah Elian, bos besar Dharma Group. Wajahnya ramah, tapi matanya selalu menyimpan kalkulasi.

"Om Richard. Selamat malam." Aku menyapanya formal, padahal di hatiku cuma ada sumpah serapah.

"Kamu makin cemerlang. King Callysta Company pasti bangga punya kamu."

"Begitulah. Aku harus memastikan warisan Kakek nggak jatuh ke tangan sembarangan."

Om Richard tertawa, tawa bisnis yang nggak ada kehangatannya. "Om dengar, kamu baru saja menutup kesepakatan besar di Singapura. Hebat. Om selalu bilang, kamu dan Elian itu pasangan yang paling sempurna, baik di bisnis maupun-"

"Elian sudah menemukan kesempurnaan di tempat lain, Om," potongku cepat, nadaku dingin. Aku nggak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. "Aku juga sudah bergerak maju. Aku nggak tertarik pada barang bekas."

Wajah Om Richard menegang sebentar. Dia tahu, dia sudah menyinggung luka yang sangat sensitif. Hubunganku dengan Elian itu skandal yang sampai sekarang masih jadi bahan gosip elit. Dan pengkhianatan Elian, itu pukulan telak buat harga diri Aluna Callysta.

"Tentu saja. Om minta maaf. Om... cuma merindukan masa-masa dulu."

Aku mengedikkan bahu, memasang ekspresi bosan. "Masa lalu biar jadi urusan pembuat sejarah, Om. Aku sibuk bikin masa depan. Permisi, aku harus mengambil udara segar."

Aku nggak menunggu jawabannya. Aku berbalik, berjalan cepat, hampir seperti berlari, menuju teras yang sepi.

Teras ini tinggi, menghadap langsung ke kerlap-kerlip Jakarta. Kota ini berisik, tapi di sini, cuma suara detak jantungku yang kupaksakan tenang.

Aku mengeluarkan ponsel. Cuma satu nama yang kupanggil.

"Sekar?"

"Ya, Nona Aluna. Bagaimana pestanya?" Suara Sekar, asisten pribadiku yang efisiennya nggak ketulungan, terdengar dari seberang.

"Biasa saja. Standar orang kaya yang nggak punya pekerjaan lain selain pamer. Aku nggak suka basa-basi mereka. Cringy." Aku mendesis. "Gimana urusanku yang kutinggalkan tadi sore? Sudah selesai?"

Ada keheningan singkat. Aku tahu Sekar gugup. Ini bukan permintaan bisnis biasa. Ini permintaan yang nggak masuk akal, gila, dan melanggar hampir semua norma sosial yang ada.

"Sudah, Nona. Draftnya sudah disiapkan oleh tim hukum. Mereka bilang, ini... ini revolusioner. Belum pernah ada kasus seperti ini."

Aku menyeringai di kegelapan. Revolusioner? Aku nggak peduli. Aku cuma peduli sama hasil.

"Bagus. Aku nggak mau jadi yang kedua. Aku nggak mau jadi Aluna yang ditinggalkan, Aluna yang patah hati. Aku mau jadi Aluna yang memiliki."

"Maksud Nona, memiliki..." Sekar ragu-ragu.

Aku menutup mataku, menikmati dinginnya angin malam di kulitku. Ini dia. Momen keputusanku yang nggak bisa diganggu gugat.

"Aku nggak butuh suami. Aku nggak butuh pasangan. Aku nggak butuh laki-laki buat berbagi hidup. Aku nggak butuh cinta. Tapi aku butuh pewaris. Pewaris yang bisa meneruskan King Callysta Company, yang darahnya secerdas, sekaya, dan sekuat darahku."

Aku membuka mata, menatap tajam ke arah gedung Dharma Group yang menjulang di kejauhan.

"Aku mau bayi, Sekar. Bayi yang limited edition. Dan aku mau bibitnya dari sumber terbaik. Aku nggak mau sembarangan. Aku mau bikin 'Sayembara Bibit Unggul'. Aku mau umumkan ke seluruh dunia, siapa pun pria yang memenuhi kualifikasiku, yang punya gen paling sempurna, dia akan jadi pendonor anonim. Dia akan dibayar, dia akan disingkirkan, dan dia akan melupakan Aluna Callysta pernah ada."

Keheningan di seberang telepon kali ini lebih lama. Aku bisa bayangin Sekar menahan napas.

"Nona, itu... itu namanya surogasi tapi dengan kualifikasi donor yang sangat spesifik dan-"

"Aku nggak bilang surogasi, Sekar. Aku bilang aku mau mengandungnya sendiri." Aku memotongnya lagi. "Aku mau rasain sembilan bulan itu. Aku mau rasain bagaimana rasanya punya kehidupanku sendiri di dalam diriku. Itu satu-satunya hal yang nggak bisa diambil dari Elian, atau Anya, atau siapa pun."

"Tapi Nona, proses ini... IVF dengan donor selektif, kualifikasi genetik yang Nona tetapkan, harganya mahal sekali. Dan mencari pria dengan IQ 150 ke atas, net worth miliaran, tanpa catatan kriminal, dan memiliki latar belakang keluarga yang pure itu-"

Aku tertawa. Kali ini, tawa asliku. Tawa yang berasal dari kekuasaan.

"Uang bukan masalah. Kalau King Louis Company nggak bisa membelikan gen terbaik di dunia, berarti kakekku gagal dalam membangun kerajaan. King Louis Company itu kekayaannya nggak ada ujungnya, Sekar. Pakai uang itu. Rekrut tim riset. Jaringan dokter terbaik. Konsultan genetik."

"Satu hal yang penting, Sekar. Laki-laki itu harus sadar, dia cuma alat. Dia cuma bank sperma berjalan. Setelah tugasnya selesai, dia akan dibayar, dan dia akan hilang dari hidupku. Nggak ada hak asuh. Nggak ada komunikasi. Nggak ada yang tahu siapa dia."

"Aku mau buat perjanjian yang sekuat baja. Biar mereka gugat aku, biar mereka challenge di pengadilan, aku mau pastikan bayi ini sepenuhnya milikku. Bukan milik bersama."

Ada jeda lagi. Sekar akhirnya menyerah. Dia tahu, kalau Aluna sudah memutuskan, nggak ada yang bisa menghalangi.

"Baik, Nona. Aku akan koordinasi dengan legal team untuk menyiapkan press release dan formulir pendaftaran yang, uhm, eksklusif."

"Bukan eksklusif, Sekar. Elite. Aku mau semua pria yang merasa dirinya 'spesial' tahu: ini adalah kesempatan mereka buat menyumbang gen luar biasa mereka ke dinasti Callysta. Bikin tagline yang bombastis. Sesuatu yang... menantang. Bilang saja: Mencari Pewaris Tanpa Cinta: Sumbangkan Benih Terkaya Anda."

Aku mematikan telepon. Rasa sakit di hatiku belum hilang, tapi kini tertutup oleh lapisan es kehendak yang kuat.

Beberapa minggu kemudian, dunia gempar.

Aku nggak pakai konferensi pers yang membosankan. Aku cuma menyewa semua billboard paling strategis di seluruh ibu kota, memasang foto close-up wajahku yang serius, dengan tagline yang kubuat:

KING CALLYSTA COMPANY MENCARI SUMBER GENETIK TERBAIK.

PERSYARATAN:

IQ Minimal 150.

Kekayaan Pribadi Minimal $100 Juta (Bukan Warisan Semata).

Riwayat Kesehatan & Garis Keturunan Sempurna (Tidak Ada Riwayat Penyakit Genetik/Kriminal).

Bersedia Menandatangani Kontrak Penghapusan Hak Asuh Seumur Hidup & Kerahasiaan Absolut.

HADIAH: KOMPENSASI 10 JUTA DOLLAR AMERIKA.

Media massa heboh. Judulnya liar.

WANITA PALING DINGIN DI ASIA MENCARI BAYI BAYARAN!

ALUNA CALLYSTA MENGUMUMKAN SAYEMBARA BIBIT UNGGUL UNTUK PEWARISNYA.

10 JUTA DOLLAR UNTUK SPERMA TERBAIK: CINTA MEMANG SUDAH MATI.

Aku duduk di ruang kerjaku, ditemani suara tick-tock jam mewah dan tumpukan berkas pendaftaran yang tebalnya sudah mencapai tiga meter. Semua itu diatur di atas meja kaca yang mahal, simbol kekuasaan King Callysta.

"Gila, Nona," kata Sekar, sambil menyeka keringat dingin di dahinya, padahal pendingin ruangan di sini suhunya nyaris nol derajat. "Sampai saat ini, ada lebih dari 5.000 pelamar. Dari konglomerat teknologi Silicon Valley sampai bangsawan Eropa. Tapi setelah saringan awal yang kita berlakukan..."

Dia menunjukkan sebuah tablet di mana data-datanya berkilauan.

"...hanya tersisa delapan orang. Delapan pria yang benar-benar memenuhi kualifikasi genetik dan kekayaan yang Nona mau."

Aku mengambil tablet itu, menggeser layarnya dengan gerakan santai. Senyum sinisku kembali muncul.

"Delapan. Aku butuh satu. Yang paling sempurna."

Di sana, terpampang wajah-wajah pria yang, kalau dilihat sekilas, memang luar biasa. Mereka tampan, cerdas, sukses. Tapi di mataku, mereka semua sama: cuma wadah gen, bukan manusia yang layak mendapatkan hatiku.

"Nona, tim dokter sudah memilih tiga kandidat teratas. Mereka sudah lolos tes DNA dan psikologis. Mereka akan datang ke Indonesia minggu depan untuk wawancara terakhir dan finalisasi kontrak. Apa Nona ingin bertemu mereka?"

"Tentu saja."

Aku meletakkan tablet itu kembali. Jendela ruang kerjaku memperlihatkan pemandangan kota yang sama sekali nggak menarik. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada tujuan baru. Tujuan yang nggak ada hubungannya sama saham, merger, atau pengkhianatan.

Ini tentang hidup. Tentang menciptakan sesuatu yang murni milikku, tanpa embel-embel keterikatan emosional. Aku sudah menyaksikan bagaimana cinta bisa menghancurkan. Jadi, aku akan membangun kebahagiaanku di atas pondasi yang benar-benar kebal: Genetik dan Uang.

Aku bangkit, berjalan ke dinding kaca. Di sana, tergantung foto lama. Foto kakekku, Louis, pendiri King Callysta Company. Pria keras kepala yang mewariskan bukan cuma uang, tapi juga prinsip: "Kalau kamu nggak bisa membelinya, kamu nggak layak memilikinya."

Aku nggak bisa membeli hati Elian. Tapi aku bisa membeli genetik yang jauh lebih baik darinya.

Aku menyentuh perut rataku, yang sebentar lagi akan jadi rumah bagi pewaris tunggal King Callysta. Aku nggak sabar. Dalam hidup yang penuh kepura-puraan, hanya ada satu hal yang bisa kuberikan padanya: nama belakang yang kuat, harta yang nggak terbatas, dan seorang Ibu yang akan melindunginya dari ilusi paling jahat di dunia-cinta.

"Sayembara dimulai, Sekar," ujarku, suaraku rendah dan penuh tekad. "Siapkan kontrak. Kali ini, nggak ada ruang buat kesalahan. Aku akan memilih bibit yang membuat Elian dan Anya terlihat seperti produk massal."

Aku tahu, tindakanku ini akan memicu badai. Akan ada yang menghakimi. Akan ada yang mencibir. Tapi aku nggak peduli. Karena saat kamu sudah mati rasa karena pengkhianatan, satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah menjadi dingin. Dan dari kedalaman jurang yang dingin itu, aku akan melahirkan penerus dinastiku.

Bersambung ke sesi wawancara, di mana Aluna Callysta akan bertemu dengan delapan pria yang siap menjual gen mereka.

Bab 2

Ruangan itu didesain khusus. Nggak ada jendela, dindingnya dilapisi panel kayu hitam yang mahal, dan cuma ada dua kursi yang saling berhadapan. Aku duduk di kursi yang lebih besar, tinggi, kayak singgasana. Di depan kursiku, ada meja minimalis yang terbuat dari marmer dingin, dan di atasnya cuma ada tablet dan segelas air mineral. Dingin. Formal. Tepat seperti yang kuinginkan.

Ini bukan ruang wawancara, ini ruang isolasi. Tempat aku bertemu dengan delapan pria yang sudah lolos saringan paling ketat yang pernah dibuat King Callysta Company. Delapan pria yang siap menjual warisan genetik mereka seharga sepuluh juta dolar.

Sekar berdiri di sudut, dia nggak bicara, cuma memegang folder berisi data lengkap masing-masing kandidat. Raut mukanya tegang, kayak lagi menghadapi sidang skripsi yang nyawanya taruhannya.

"Nona Aluna," kata Sekar berbisik, mendekat sedikit. "Kita mulai jam sembilan tepat. Mereka sudah menunggu di ruangan terpisah. Semua sudah menandatangani persetujuan awal, mereka paham betul kerahasiaan dan zero-contact policy."

Aku mengangguk tanpa melihat Sekar. Aku sedang menatap pantulan diriku di permukaan meja marmer. Aku nggak pakai gaun mahal lagi, cuma power suit berwarna abu-abu gelap, rambut kukeat ke belakang, dan wajahku minim makeup. Aku harus kelihatan seperti CEO paling kejam di dunia. Karena di mata mereka, aku bukan wanita yang butuh anak. Aku adalah klien, sekaligus hakim.

"Siapa yang pertama?" tanyaku, suaraku terdengar serak dan rendah, efek dari stres beberapa hari terakhir mempersiapkan semua kehebohan ini.

"Kandidat A, Nona. Namanya Damon. Usia 32. Lulusan MIT. Punya tiga startup yang sudah dibeli Google. IQ 160. Net worth pribadinya $300 juta. Tidak ada catatan sosial yang aneh. Dan secara fisik..." Sekar berhenti sebentar, kayak menelan ludah. "Sangat menarik."

Aku memutar mataku. "Aku nggak butuh boneka pajangan, Sekar. Aku butuh gen yang stabil. Panggil dia masuk."

Pintu baja itu bergeser.

Kandidat A: Damon.

Damon masuk dengan langkah percaya diri yang menyebalkan. Dia tinggi, rambutnya pirang kecokelatan yang tertata rapi, dan matanya biru muda yang tajam. Dia pakai setelan jas tailor-made Italia yang harganya pasti puluhan ribu dolar. Dia bahkan nggak kelihatan gugup. Dia kelihatan... menikmati drama ini.

Dia duduk di kursi di depanku, menyandarkan punggungnya dengan santai.

"Nona Callysta," sapanya, suaranya halus, kayak announcer di film action. "Sebuah kehormatan. Aku harus bilang, kamu lebih menakjubkan di kehidupan nyata daripada di majalah."

Aku mendengus pelan, tapi nggak ada ekspresi yang muncul di wajahku. Flirting? Di saat kayak gini? Dia pikir ini kencan?

"Simpan sanjungan kamu, Damon. Aku nggak jualan majalah." Aku langsung menusuk. "Aku baca berkas kamu. Kamu punya segalanya. Kenapa kamu mau menjual diri kamu seharga sepuluh juta dolar? Sepuluh juta itu cuma remah-remah buat kekayaan kamu."

Damon tersenyum. Itu bukan senyum manis, tapi senyum yang penuh perhitungan. "It's not about the money, Nona Aluna. It's about the legacy."

"Legacy?"

"Iya. Aku sadar, genku adalah salah satu yang terbaik yang bisa dihasilkan oleh planet ini. Tapi aku nggak punya waktu buat pernikahan, buat komitmen. Aku sibuk membangun kerajaan. Aku butuh keturunan yang sempurna, tapi nggak butuh istri yang menyusahkan. Kamu menawarkan solusi yang sempurna: Aku dapat uang, dan yang lebih penting, aku tahu ada darahku yang akan meneruskan kejayaan, diurus oleh wanita yang sangat kompeten, tanpa aku perlu repot-repot ganti popok."

Dia bicara seolah ini adalah negosiasi bisnis paling keren. Aku memperhatikan matanya. Di sana, aku nggak melihat kehangatan seorang ayah. Aku melihat ego yang berlapis-lapis.

"Kamu nggak repot ganti popok. Bagus. Tapi kamu tahu risiko terbesar dari perjanjian ini, kan?" Aku mencondongkan tubuh sedikit. "Selamanya, kamu cuma ghost. Kamu nggak akan pernah tahu di mana anak ini, siapa namanya, bagaimana rupanya. Bahkan kalau kita ketemu di jalan, aku nggak akan bilang apa-apa. Kamu rela kehilangan legacy itu sepenuhnya?"

Damon tertawa kecil. "Aku sudah memikirkannya. Sepuluh juta dolar itu adalah harga untuk melupakan. Lagipula, aku cukup yakin genku akan membuatnya jadi luar biasa. Itu sudah cukup buat egoku."

"Ego," ulangku pelan. "Itu yang aku takutkan, Damon."

Aku mengambil tablet dan menekan tombol merah. "Terima kasih atas waktunya. Kamu nggak lolos."

Damon terkejut. Senyumnya langsung hilang, berganti kaget yang nggak bisa dia sembunyikan.

"Tunggu, Nona Callysta. Kenapa? Aku yang paling memenuhi syarat! Aku paling sempurna!"

"Justru itu masalahnya," kataku dingin, berdiri. "Kamu terlalu yakin genetik kamu itu emas murni. Aku nggak mau Ayah dari anakku punya ego yang sebesar ini, bahkan kalau dia cuma pendonor. Aku nggak mau suatu hari nanti kamu tergelincir, dan berpikir kamu punya hak untuk mengklaim anakku, hanya karena kamu merasa kamu yang paling sempurna. Aku butuh pendonor yang bisa menghilang, Damon. Bukan yang menganggap dirinya pahlawan genetik."

Dia mencoba membantah, tapi Sekar sudah maju, memegang lengannya, dan menuntunnya keluar dari ruangan. Pintu baja tertutup lagi, meninggalkan keheningan yang nyaman.

"Kandidat A, dibatalkan," kataku pada Sekar. "Catat alasannya: Ego yang terlalu besar. Berpotensi melanggar kontrak kerahasiaan di masa depan."

Aku menghela napas. Tipe seperti Damon ini adalah tipe pria yang paling kubenci. Sempurna di luar, tapi busuk karena kesombongan di dalamnya. Persis seperti Elian.

Kandidat B: Dr. Kenzo Hiroshi.

Pria kedua ini kebalikan Damon. Dia pakai kemeja biasa, agak kusut. Kacamata tebalnya hampir menutupi separuh wajah. Dia nggak punya sense of style sama sekali, tapi begitu dia duduk, aura kecerdasannya langsung memenuhi ruangan. Dia seorang ahli fisika nuklir, usianya 35, IQ 165. Dia datang dari keluarga ilmuwan, kekayaannya didapat dari penemuan patennya.

Dia nggak menyapaku. Dia cuma duduk, menegakkan punggungnya, dan menatapku dengan mata lelah.

"Dr. Kenzo," kataku. "Berbeda dengan kandidat sebelumnya, kamu nggak kelihatan tertarik sama sekali dengan uangnya. Kenapa kamu di sini?"

Kenzo menghela napas, seolah dia baru saja dipaksa meninggalkan perhitungan fisika paling penting di abad ini.

"Aku nggak tertarik dengan sepuluh juta dolar, Nona Callysta. Aku tertarik dengan proses selektif yang kamu lakukan," jawabnya, suaranya pelan dan monoton. "Aku sudah mempelajari proposal genetik kamu. Kamu mencari stabilitas. Dan aku-secara genetik dan psikologis-adalah entitas yang paling stabil. Aku nggak punya kebutuhan emosional. Aku cuma hidup untuk riset. Kontrak ini menjamin aku tetap bisa hidup dalam keheningan, tanpa ikatan sosial yang mengganggu, sambil mengetahui bahwa gen yang kugunakan untuk memajukan ilmu pengetahuan juga akan hidup dan berkontribusi di dunia bisnis."

Wow. Bicara kayak robot. Tapi jujur.

"Kamu nggak merasa, sedikit pun, ingin tahu bagaimana rupa anak kamu nanti? Bukankah manusiawi kalau kamu punya rasa penasaran?"

Kenzo menggeleng. "Nggak. Anak adalah variabel yang nggak perlu. Aku sudah menghitung semua kemungkinan hasil perkawinan genetik aku dan kamu. Aku yakin hasilnya akan superior. Setelah itu, outcome dari kehidupan anak tersebut sudah nggak penting lagi buatku, karena itu ada di tangan kamu."

Dia bicara seolah aku adalah laboratorium dan anakku adalah eksperimen. Dan anehnya, itu yang paling kusukai dari dia. Dia nggak berusaha jadi 'Ayah'. Dia cuma menawarkan data genetiknya.

"Keluarga kamu. Mereka tahu kamu melakukan ini?"

"Tentu nggak. Mereka semua ilmuwan yang hidup di dunia mereka sendiri. Mereka nggak akan pernah tahu. Aku akan bilang aku sedang menjalani proyek riset rahasia di Antartika. Itu jauh lebih masuk akal buat mereka daripada aku menjual benihku pada sosialita." Kenzo sedikit menyunggingkan senyum tipis, mungkin itu bentuk candaan darinya.

Aku merasakan sedikit harapan. Pria ini sempurna. Stabil, cerdas luar biasa, dan yang terpenting: nggak punya kebutuhan untuk dicintai atau mencintai. Dia nggak akan pernah melanggar kontrak demi drama emosional.

"Kita lanjutkan ke tahap selanjutnya, Dr. Kenzo. Kamu lolos."

"Terima kasih. Aku harap proses ini cepat diselesaikan. Aku harus kembali ke lab bulan depan."

Setelah Kenzo keluar, aku bersandar di kursi. "Sekar, keep Dr. Kenzo di daftar teratas. Dia yang paling nggak bermasalah."

"Baik, Nona. Kandidat C sudah siap."

Kandidat C: Julian Sanjaya.

Julian masuk. Dia berbeda total dari dua kandidat sebelumnya. Dia nggak setebal Damon, dan nggak sekaku Kenzo. Julian adalah seorang philanthropist muda, mewarisi jaringan yayasan sosial besar di Asia Tenggara. Dia tampan dengan cara yang lembut, rambutnya sedikit berantakan alami, dan matanya cokelat hangat.

Dia duduk, dan alih-alih menyapa, dia malah menatapku dengan tatapan yang... menyedihkan.

"Nona Callysta, aku harus mengakui, aku datang bukan karena uang," katanya, suaranya sedikit bergetar.

Aku mengernyitkan dahi. "Lalu kenapa? Kamu mau jadi pahlawan? Kamu mau menyelamatkan aku dari skandal ini?"

Julian menggeleng pelan. "Aku merasa simpati. Aku baca semua berita tentang kamu dan Elian. Aku tahu gimana rasanya dikhianati cinta."

Seketika, hatiku yang sudah beku kayak iceberg di Antartika langsung panas. Simpati? Cinta?

"Hentikan omong kosong kamu, Julian," potongku tajam. Aku menunjuk folder datanya di meja. "Aku nggak butuh simpati. Aku nggak butuh penyelamat. Aku butuh gen kamu. Kalau kamu di sini buat drama, kamu buang-buang waktu aku."

"Aku serius," Julian membalas, matanya nggak gentar. "Aku nggak akan meminta hak asuh. Aku nggak akan meminta uangnya. Aku di sini karena aku mau memberimu hadiah. Hadiah berupa kehidupan baru, yang bisa kamu fokuskan, yang bisa menyembuhkan kamu dari rasa sakit itu. Aku mau kebaikan aku ini jadi sesuatu yang berguna. Karena di mata dunia, kamu wanita yang hebat, tapi di mata Tuhan..."

Aku membanting tangan ke meja. Marmer itu bergetar.

"Jangan bawa Tuhan ke sini, Julian! Kamu pikir kamu siapa? Malaikat yang dikirim buat menyembuhkan Aluna Callysta yang malang?" Aku tertawa, tawa yang penuh kebencian. "Kamu datang ke sini, menawarkan gen kamu, dengan alasan simpati? Itu lebih menyebalkan dari Damon yang terang-terangan bilang dia ingin melestarikan egonya!"

Aku berdiri, mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangan bertumpu di meja.

"Dengar, Julian. Aku nggak sakit. Aku nggak butuh disembuhkan. Aku cuma sadar. Sadar kalau cinta itu ilusi yang diciptakan biar kita mau nurut sama aturan sosial. Aku nggak mau nurut lagi! Aku kaya, aku cerdas, dan aku bisa punya bayi tanpa harus menelan janji palsu dari laki-laki mana pun!"

"Kamu pikir, dengan menawarkan gen kamu sebagai 'hadiah', kamu lebih baik dari yang lain? Justru kamu yang paling berbahaya. Kamu datang dengan topeng kemanusiaan. Kamu pikir kamu bisa mencariku lima tahun lagi dan bilang, 'Aku Ayah biologisnya. Aku memberikannya padamu karena cinta'?"

Wajah Julian pucat. Dia nggak menyangka aku akan sefrontal ini.

"Aku nggak akan pernah melakukan itu."

"Oh, kamu akan melakukannya," desisku. "Semua laki-laki akan. Ketika kalian melihat apa yang kalian buat, naluri posesif kalian muncul. Kalian nggak bisa melihat wanita menjadi utuh tanpa kehadiran kalian. Aku nggak butuh Ayah, Julian. Aku butuh pendonor yang bisa mati setelah transaksi. Kamu nggak bisa mati, karena kamu terlalu sibuk jadi orang baik."

Aku menjentikkan jariku. Sekar langsung sigap.

"Singkirkan dia. Catatan: Terlalu emosional. Berpotensi melanggar kontrak dengan alasan moral atau kemanusiaan."

Julian diantar keluar. Aku terduduk kembali, kepalaku pusing.

Tiga kandidat, tiga alasan untuk dibuang. Ego, keheningan, dan kemanusiaan. Tiga hal yang paling kubenci dari laki-laki. Aku cuma butuh benih. Kenapa sesulit ini mencari pria yang bisa menerima dirinya sebagai objek?

Lima kandidat lainnya masuk dan keluar selama tiga jam berikutnya.

Ada miliarder yang gennya sempurna, tapi dia punya fetish aneh untuk menulis puisi tentang anak-anaknya kelak. Ditolak.

Ada ahli bedah saraf yang IQ-nya gila-gilaan, tapi dia menolak kontrak yang melarangnya melihat foto anakku satu kali pun. Ditolak.

Ada seorang CEO yang gennya bagus banget, tapi dia terus-terusan mengirimi Sekar pesan spam tentang betapa cantiknya aku. Ditolak.

Semua sama. Di balik jas mahal, di balik gelar mentereng, mereka semua punya satu masalah: mereka berpikir mereka lebih dari sekadar data. Mereka berpikir mereka punya hak, punya perasaan, atau punya kesempatan buat mengubah pikiranku tentang cinta.

Mereka salah. Cinta sudah jadi barang kadaluarsa buatku.

Setelah Kandidat H keluar, aku menjatuhkan tablet ke meja. Bunyinya keras sekali di keheningan ruangan itu.

"Sekar. Aku nggak dapat apa-apa. Nggak ada yang lolos final."

Sekar tampak sangat lelah. Dia menarik napas. "Nona Aluna, dari delapan ini, Dr. Kenzo yang paling mendekati kriteria. Dia yang paling rasional, paling non-emosional. Bukankah kita bisa menambahkan klausul denda yang lebih berat untuknya?"

Aku menutup mata, membayangkan wajah Dr. Kenzo: Kaku, serius, dan matanya fokus pada angka. Ya, dia sempurna. Tapi ada yang kurang.

"Nggak cukup, Sekar. Aku butuh sempurna. Aku nggak mau mengambil risiko lima persen dia akan mencoba kembali. Aku butuh pria yang nggak punya waktu, nggak punya keinginan, dan nggak punya alasan kuat buat mencari anaknya."

Aku terdiam, mengusap pelipisku yang berdenyut. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu yang tidak ada di delapan folder itu. Sesuatu yang Sekar bilang dia sembunyikan karena aku akan langsung menolak.

"Ada satu folder lagi, kan?" tanyaku, membuka mata, menatap Sekar tajam. "Yang kamu bilang 'terlalu berisiko' dan 'secara sosial nggak mungkin'?"

Sekar menelan ludah. Dia mengeluarkan folder abu-abu tipis dari tasnya.

"Aku nggak mau tunjukkan ini, Nona. Kandidat ini... dia nggak melamar lewat jalur sayembara. Dia menghubungi tim hukum kita secara diam-diam. Dan dia nggak memenuhi semua kualifikasi uang yang Nona mau. Kekayaan pribadinya cuma... $50 juta. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Genetiknya. Nona Aluna. Genetiknya itu... sempurna. Nggak ada riwayat penyakit genetik di keluarga besarnya selama empat generasi. IQ-nya 155. Dia lulusan Oxford, punya tiga PhD di bidang bioteknologi, linguistik, dan musik klasik. Dia tampan. Dan dia menawarkan satu hal yang nggak dimiliki kandidat lain."

Aku mengambil folder itu. Di depanku, terpampang foto seorang pria.

Kandidat X: Tristan Adyantara.

Rambutnya hitam pekat, matanya abu-abu tajam, dan wajahnya punya garis rahang yang keras. Dia nggak tersenyum di foto itu. Ekspresinya serius, sedikit arogan, tapi nggak sleek kayak Damon. Dia kelihatan... raw. Kelihatan seperti serigala yang sedang mengamati mangsa.

"Dia menawarkan apa?" tanyaku, suaraku tiba-tiba bergetar sedikit.

"Dia menawarkan anonymity. Dia bilang dia siap menandatangani kontrak apa pun, dia nggak butuh uangnya, dia cuma ingin membantu proses riset genetik yang dia yakini. Tapi dia punya satu syarat."

"Apa syaratnya?"

"Dia mau ketemu Nona. Bukan wawancara. Dia mau bertemu kamu di luar konteks bisnis. Just to talk. Sebelum dia menyumbangkan benihnya, dia mau memastikan kamu bukan 'monster' seperti yang diberitakan media."

Aku tertawa. Kali ini, tawa yang sinis. "Monster? Aku memang monster. Dan dia berani menghakimi aku? Padahal dia datang ke sini, menawarkan gennya dengan harga diskon? Konyol."

"Dia bilang, Nona Aluna," Sekar membacakan catatan di folder. "Dia bilang, 'Aku nggak menjual genku. Aku menawarkan kolaborasi genetik. Dan kolaborasi nggak boleh dilakukan sama orang gila.' Net worth-nya memang kurang, Nona. Tapi, dari sisi genetik, dia melebihi semua kriteria kita."

Aku menatap foto Tristan. Matanya itu... ada api di sana. Api yang sama yang ada di mataku. Dia bukan data. Dia adalah masalah.

Dan karena dia adalah masalah, dia jadi satu-satunya yang menarik perhatianku setelah semua drama fake dari delapan kandidat lainnya.

"Bikin janji," kataku, suaraku memutus keheningan.

Sekar terkesiap. "Nona?"

"Aku bilang, bikin janji. Aku akan temui Tristan Adyantara. Di luar King Callysta. Dia mau membuktikan aku bukan monster? Aku akan tunjukkan padanya. Dan aku akan pastikan, setelah dia melihat betapa dinginnya aku, dia akan lari. Tapi kalau dia nggak lari, dan gennya sesempurna yang kamu bilang, dia yang akan jadi pilihanku."

Aku menutup folder itu dengan bunyi keras.

"Aku nggak peduli sama uang. Aku peduli sama kualitas. Sepuluh juta dolar itu nggak sebanding sama legacy King Callysta. Aku akan ambil dia, Tristan Adyantara. Pria yang berani menantang Aluna Callysta. Dia sempurna buat jadi ghost."

Aku bangkit dan berjalan menuju jendela ruangan itu, menatap langit Jakarta yang sudah gelap. Semuanya terasa seperti permainan catur. Aku adalah Ratu. Dan aku baru saja memilih Kuda Hitam-ku.

Aku nggak butuh cinta. Aku butuh bayi. Dan aku nggak akan membiarkan trauma masa lalu membuatku berkompromi dengan kualitas.

Elian, kamu pikir kamu menang dengan menikahi Anya? Tunggu saja. Generasiku akan jauh lebih cemerlang, jauh lebih kuat, karena aku tidak akan pernah mengajarkan anakku betapa bodohnya percaya pada ilusi bernama cinta.

Tristan Adyantara. Mari kita lihat seberapa besar nyali seorang pria yang berani menantang wanita yang sudah mati hatinya ini. Pria ini, yang nggak punya uang sebanyak yang lain, justru berpotensi besar jadi ayah bagi anakku. Karena dia datang bukan karena ketamakan, tapi karena sesuatu yang lebih rumit dari uang. Dan kerumitan itulah yang membuat gennya terasa lebih limited edition dari yang lain.

Aku akan mengambil gennya. Dan aku akan membuangnya. Tepat seperti bagaimana aku dibuang oleh Elian. A perfect revenge, disguised as a perfect baby.

Bab 3

Aku memilih sebuah lokasi yang sepi dan eksklusif. Bukan restoran, bukan kafe, apalagi kantor. Aku memilih penthouse pribadi milikku di atas gedung tertinggi, yang biasanya cuma kupakai buat merenung sambil menatap kemacetan Jakarta di bawah. Suasananya tenang, minimalis, dengan pencahayaan temaram yang dramatis. Aku nggak mau ada saksi mata, kecuali Sekar yang duduk di balik panel kaca kedap suara, bertindak sebagai pengawas dan penyelamat darurat kalau-kalau cowok ini ternyata gila beneran.

Aku duduk di sofa kulit mahal. Di depanku, ada meja kaca, tapi kali ini nggak ada folder data atau tablet. Cuma dua gelas whiskey single malt berusia dua puluh tahun yang sudah siap, menunggu tuannya. Aku nggak mau minuman manis. Aku butuh sesuatu yang kuat, yang bisa menyaingi rasa dingin yang sengaja kupasang di tubuhku.

Tepat jam tujuh malam, pintu lift bergeser terbuka dengan bunyi pelan.

Tristan Adyantara.

Dia masuk. Dia nggak pakai jas mahal atau kemeja licin kayak delapan pria yang kukenal sebelumnya. Dia cuma pakai sweater kasmir hitam yang pas di badannya, celana bahan yang santai, dan sepatu kulit yang kelihatan nyaman. Dia kelihatan seperti seorang profesor seni yang lagi cuti, bukan seorang kandidat donor sperma yang dihargai sepuluh juta dolar.

Mataku langsung fokus ke matanya yang abu-abu itu. Di foto, mata itu tajam. Di sini? Mata itu... menyelidik. Dia nggak melihatku sebagai Aluna Callysta si ratu bisnis. Dia melihatku sebagai objek studi.

Dia berhenti sejenak, mengamati ruangan, lalu pandangannya kembali padaku. Dia berjalan pelan, tanpa tergesa-gesa, lalu duduk di sofa di depanku. Dia nggak minta izin, dia cuma mengambil tempatnya. Sesuatu yang nggak pernah dilakukan oleh orang lain di hadapanku.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Nona Callysta," sapanya. Suaranya berat, dalam, dan tenang, seperti bunyi cello di tengah malam.

"Aluna," koreksiku dingin. "Dan aku nggak meluangkan waktu. Kamu memaksa aku. Kamu yang bikin permintaan konyol ini."

Tristan mengambil gelas whiskey di depannya, menggesek pinggiran gelas itu dengan ibu jarinya, tapi nggak meminumnya. "Aku memang konyol. Karena semua pria yang kamu kumpulkan di ruangan itu, mereka hanya melihat angka sepuluh juta. Mereka melihatmu sebagai bank. Sedangkan aku, aku melihatmu sebagai sebuah anomali."

Aku menyandarkan punggungku, melipat tanganku di depan dada. "Anomali? Jangan pakai bahasa linguistik kamu di sini. To the point, Tristan. Aku nggak punya banyak waktu buat main tebak-tebakan filosofis."

"Baiklah. Aku akan bicara tentang data," katanya, matanya tak pernah lepas dariku. "Kamu wanita yang baru saja mengalami trauma pengkhianatan emosional terbesar dalam hidupmu. Kamu menyalurkan rasa sakit itu ke dalam sebuah proyek yang secara genetik sangat ambisius, tapi secara psikologis sangat protektif. Kamu membangun tembok. Tembok itu namanya Sayembara Bibit Unggul."

"Itu namanya bisnis, Tristan. Bisnis yang aku beli dengan uangku sendiri."

"Bukan, Aluna. Itu namanya mekanisme pertahanan diri. Kamu nggak cuma mencari benih yang sempurna. Kamu mencari benih yang nggak akan pernah kamu sentuh perasaannya. Kamu ingin memastikan, bahwa makhluk yang lahir dari rahimmu, Ayahnya adalah seseorang yang nggak punya hak untuk claim perasaannya. Kamu membuang cinta sebelum dia sempat tumbuh."

Aku merasakan panas menjalar ke leherku. Aku nggak suka dibaca. Terutama nggak suka dibaca sama seorang pria yang baru kutemui dan punya tiga PhD.

"Kamu datang ke sini buat jadi psikiater aku? Kamu salah tempat. Dan kalau kamu terus bicara omong kosong, aku akan menolak kamu, nggak peduli seberapa sempurna genetik kamu."

Tristan tersenyum tipis. Senyumnya nggak jahat, tapi sangat tahu diri. "Aku bukan psikiater. Aku seorang ilmuwan. Dan aku tahu, untuk mendapatkan hasil lab yang murni, kita harus memahami vessel-nya. Kamu adalah vessel-nya, Aluna. Aku perlu tahu apakah kamu stabil."

"Aku stabil," jawabku tajam. "Aku stabil karena aku tahu yang aku mau. Aku mau anak. Aku nggak mau Ayah. Aku akan membesarkannya dengan uang Kakekku, aku akan mengajarkannya semua yang aku tahu tentang bisnis, dan aku akan melindunginya dari ilusi yang namanya janji sehidup semati."

Aku mengambil gelas whiskey-ku dan meminumnya cepat. Cairan panas itu membakar kerongkonganku.

"Kamu tahu, kenapa aku menolak tujuh kandidat lainnya?" tanyaku, meletakkan gelas itu kembali dengan sedikit dentingan. "Mereka semua punya satu masalah. Mereka ingin uangnya, tapi mereka juga ingin perasaannya. Mereka mau jadi anonim, tapi mereka bertanya, 'Apa aku boleh tahu kalau anakku jadi juara catur?' Mereka ingin jadi Ayah rahasia. Itu namanya nggak profesional. Itu namanya drama."

Tristan mencondongkan tubuh sedikit. "Dan kenapa aku nggak melamar lewat jalur Sayembara yang kamu buat?"

Aku diam, menunggu jawabannya.

"Karena aku tahu kamu akan langsung menolakku. Uangku kurang. Statusku nggak sekeren mereka. Aku cuma seorang peneliti yang kebetulan punya beberapa paten. Tapi aku punya satu hal yang mereka nggak punya: Aku nggak terikat pada pandangan romantis tentang keluarga."

"Jelaskan."

"Aku nggak butuh Ayah. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku membesarkanku sambil bekerja gila-gilaan, dan aku tahu, genetik itu lebih kuat dari ikatan emosional. Aku tahu aku cerdas. Aku tahu aku bisa berkontribusi. Aku menawarkan genku bukan sebagai seorang Ayah, Aluna. Tapi sebagai seorang Kolaborator Genetik. Aku peduli pada kualitas spesies, bukan pada drama kepemilikan. Aku nggak akan pernah mencarimu. Aku nggak akan pernah mengganggu anakmu. Aku nggak akan pernah cemburu pada peran Ibu tunggalmu. Buatku, ini adalah transfer data biologis yang paling efisien."

Aku menatapnya lama. Sial, dia pandai sekali bicara. Dia menggunakan bahasa yang benar-benar mematikan pertahananku. Dia bicara soal data, efisiensi, dan kualitas, bukan soal hati.

"Kenapa kamu nggak butuh uangnya?" tanyaku.

Tristan mengedikkan bahu, menyesap sedikit whiskey-nya. "Uang sepuluh juta dolar itu nggak akan mengubah hidupku. Aku sudah punya cukup uang untuk membeli laboratorium baru dan mendanai risetku selama lima tahun ke depan. Aku nggak butuh kemewahan. Aku butuh ketenangan. Dan untuk menjamin ketenangan itu, aku nggak mau ada ikatan finansial yang bisa kamu pakai buat menekan aku. Aku nggak butuh uangmu. Aku cuma butuh persetujuan, bahwa kamu akan membesarkan anak ini dengan standar keunggulan yang tinggi. Bukan sekadar anak yang dimanjakan karena uang."

"Aku tahu bagaimana membesarkan anak," balasku dingin.

"Aku yakin kamu tahu membesarkan penerus King Callysta. Tapi, apakah kamu tahu bagaimana membesarkan anak dengan hati yang utuh, setelah kamu sendiri begitu terluka?" tanyanya, suaranya pelan sekali, tapi menusuk tepat ke jantung.

Aku merasakan tinjuku mengepal. Ini dia. Ini batasnya.

"Aku nggak butuh hati yang utuh, Tristan. Aku butuh bank gen yang utuh. Hati itu lemah. Hati itu membuat orang kayak Elian berkhianat. Hati itu membuatku lari dari gereja tiga tahun lalu kayak orang bodoh. Aku nggak mau anakku jadi bodoh karena hatinya!"

Aku berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar yang menghadap kota. Lampu-lampu di bawah kelihatan seperti jutaan kunang-kunang.

"Kamu dengar berita tentang aku dan Elian?" tanyaku tanpa menoleh. "Tentu saja. Semua orang mendengarnya. Mereka bilang, aku wanita yang dingin, yang cuma memikirkan bisnis. Mereka benar. Mereka bilang, aku nggak akan pernah bisa mencintai lagi. Mereka juga benar."

Aku berbalik, menatap Tristan.

"Aku mau anak yang nggak terikat pada ilusi cinta, Tristan. Aku mau anak yang tahu, di dunia ini, yang abadi cuma kekuasaan dan uang. Kalau kamu datang ke sini, melihat aku yang sudah hancur, dan kamu berpikir kamu bisa menyembuhkannya dengan gen kamu, kamu salah besar. Aku nggak akan pernah sembuh. Dan aku nggak mau kamu, atau siapa pun, mencoba mengklaim bagian dari diriku yang sudah mati."

Tristan bangkit dari sofa. Tingginya membuat ruangan itu terasa sempit. Dia berjalan pelan ke arahku, tapi dia berhenti beberapa langkah di depanku. Dia nggak berusaha menyentuhku. Dia cuma menatapku dengan tatapan yang penuh rasa kasihan, dan itu membuatku muak.

"Aku nggak di sini buat menyembuhkan kamu, Aluna," katanya, nadanya tegas. "Aku di sini buat menawarkan sebuah proposal. Sebuah kolaborasi genetik yang murni. Aku melihat rasa sakitmu, dan aku menghormatinya. Karena aku tahu, di balik Sayembara ini, ada keinginan murni untuk memiliki sesuatu yang takkan pernah bisa diambil darimu lagi. Dan aku mengagumi kegigihanmu."

"Jadi, kamu setuju dengan semua klausulnya?" tanyaku, memotong dramanya. "Kerahasiaan absolut, nggak ada hak asuh seumur hidup, nggak ada komunikasi, dan kamu harus menghilang tanpa jejak setelah prosesnya selesai?"

"Aku setuju. Tapi aku punya satu syarat lagi, yang nggak bisa dinegosiasikan."

Aku menyipitkan mata. "Apa itu?"

"Aku ingin proses ini dilakukan secara alami. Bukan IVF."

Aku terkejut. Tubuhku menegang. "Apa? Kenapa? Aku sudah siapkan segalanya, dokter, klinik terbaik. Aku mau ini steril, tanpa sentuhan emosional-"

"Justru itu masalahnya," Tristan memotongku, suaranya tenang, logis. "Proses IVF itu berisiko, Aluna. Secara ilmiah, proses alami menghasilkan kualitas benih yang lebih baik, lebih stabil, dan tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Kamu bilang kamu ingin yang sempurna. Maka kita harus pakai proses yang sempurna."

"Tapi... itu melibatkan kontak fisik. Itu melibatkan... keintiman." Kata 'keintiman' terasa asing di lidahku. Setelah Elian, aku bersumpah nggak ada laki-laki yang akan menyentuhku. Nggak ada.

"Aku nggak bilang kita harus membuat cinta," kata Tristan, suaranya meremehkan. "Aku bilang kita harus membuat transfer genetik yang efisien. Aku nggak akan menyentuh kamu lebih dari yang diperlukan. Kita bisa anggap ini sebagai 'kewajiban biologis' yang dingin. Kamu akan mengandung. Aku akan menyumbang. Setelah itu, kita lupakan."

Aku menatapnya. Dia menantang semua pertahanan yang sudah kubangun. Dia tahu aku nggak mau sentuhan. Dan dia memaksa aku. Dia memaksa aku buat menghadapi trauma yang kubawa dari gereja. Dia memaksa aku buat menyentuh lagi batas diriku yang sudah kubekukan.

"Kenapa kamu peduli dengan prosesnya?"

"Karena aku peduli dengan hasilnya," jawabnya lugas. "Aku nggak mau gen superior aku gagal karena proses lab yang terburu-buru dan artifisial. Ini tentang ilmu pengetahuan, Aluna. Bukan tentang trauma kamu."

Dia membalikkan pisaunya. Dia membuat rasa sakitku sendiri jadi alasan untuk menerima persyaratannya. Sialan. Pria ini brilian. Dan dia benar. Kalau aku mau yang terbaik, aku harus melakukan cara terbaik, meskipun itu berarti aku harus berhadapan dengan ketakutanku sendiri.

Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.

"Baik," kataku, suaraku kembali dingin. "Aku setuju. Proses alami. Tapi aku yang menentukan kapan dan di mana. Dan kamu harus bersumpah, bahwa kamu nggak akan mencoba mencari tahu siapa aku, di luar momen transfer ini."

Tristan mengangguk. Matanya sedikit berkilauan, bukan karena kemenangan, tapi karena perhitungan. "Aku bukan pengejar emosi, Aluna. Aku pengejar pengetahuan. Dan aku sudah mendapatkan data yang aku butuhkan dari pertemuan ini. Kamu bukan monster. Kamu cuma wanita yang sangat terluka, yang mencoba mengubah rasa sakitnya menjadi sebuah mahakarya. Aku akan membantumu menciptakan mahakarya itu."

"Jangan pernah pakai kata 'mahakarya' lagi, Tristan. Ini adalah penerus King Callysta. Bukan lukisan. Ini bisnis."

"Terserah kamu," katanya, kembali tersenyum tipis. "Tapi di balik setiap bisnis besar, selalu ada drama yang luar biasa. Selamat, Aluna. Kamu sudah menemukan kolaborator genetik kamu."

Aku menekan tombol interkom. "Sekar, siapkan kontrak Tristan Adyantara. Semua klausul tetap, hanya tambahkan klausul tentang metode transfer genetik yang disepakati secara alami. Dan siapkan jadwal. Secepatnya."

Sekar yang pasti sudah mendengar semua percakapan kami, menjawab dengan suara tercekat, "B-baik, Nona Aluna."

Tristan Adyantara mengangguk, meletakkan gelasnya yang masih penuh. Dia berbalik, berjalan ke arah lift, dan menatapku sekali lagi sebelum pintu baja itu menutup.

"Sampai bertemu di 'lab' kita, Aluna."

Aku berdiri di ruangan yang sepi itu, merasakan sentakan listrik yang nggak nyaman di perutku. Ini adalah pertama kalinya setelah tiga tahun, seorang pria membuatku merasakan sesuatu yang bukan cuma rasa sakit. Ini namanya kewaspadaan. Dan itu berbahaya.

Aku tahu, aku baru saja memilih pendonor paling sempurna. Tapi aku juga tahu, aku baru saja mengizinkan serigala masuk ke sarangku, meskipun hanya untuk satu malam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED