Ujian akhir semester telah tiba, dan kini siswa-siswi dari sekolah elite dan terkenal itu bermaksud untuk menggelar acara perpisahan di salah satu rumah kediaman mereka.
(Vania, lo udah siap 'kan?)
"Udah, tunggu aja di depan," jawab Vania sembari memasang high heels di kakinya.
(Oke, buruan!)
"Iya, Bawell!"
Setelah selesai Vania langsung keluar kamarnya dan berjalan cepat menuju ke pintu depan. Namun, saat di ruang tamu ia bertemu dengan Ijah ART rumahnya.
"Loh, Non Vania mau ke mana?" tanyanya heran.
"Aku mau keluar sebentar, Mbak. Nanti kalo Mamy dan Kak Leon pulang bilang aja aku lagi cari sesuatu di luar." balas Vania sembari melanjutkan langkahnya menuju ke pintu keluar.
"Kalo Den Leon marah, gimana dong, Non?" teriak Ijah kebingungan karena Vania sudah tidak lagi memperdulikan dirinya. Ia khawatir jika Veronika ibu Vania pulang dan menemukan sang anak tak ada di rumah. Terutama Leon, sang kakak pasti akan mengamuk jika tahu sang adik pergi tanpa pamit.
"Semoga Tuhan selalu melindungi Non Vania do luar sana." gumam Ijah sembari memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dapur.
Sedangkan Vania kini sudah masuk ke dalam sebuah mobil Honda Brio bersama temannya Sesil.
"Elu yakin nggak bakal dicariin Kak Leon atau Mamy lu ini?" tanya Sesil khawatir sembari terus fokus pada jalanan yang ada di depannya.
IA sangat hafal watak dari keluarga Vania karena mereka sudah berteman sejak di bangku sekolah SMP.
"Udah, lu tenang aja! Mereka nggak bakalan tau, kok." jawab Vania yakin.
Bagaimana tidak yakin. Vania telah menyulap kamarnya sedemikian rupa agar sang ibu ataupun kakaknya tidak curiga dan mengira ia sudah terlelap tidur.
Vania begitu nekat untuk pergi dari rumah secara diam-diam karena ia sangat menginginkan untuk bisa menghadiri acara perpisahan siswa-siswi sekolah tempat ia menimba ilmu beberapa tahun ini.
Setibanya di tempat digelarnya pesta perpisahan tersebut Vania dan Sesil segera masuk, dan ternyata di dalam rumah itu sudah begitu banyak teman-teman mereka yang sudah hadir. Pesta itu sengaja digelar di rumah salah satu siswa dari sekolah tempat Vania dan Sisil brrsekolah yaitu rumah Anthony.
Vania dan Sisil terus berjalan semakin ke dalam dan ikut bergabung di keramaian tersebut
"Hai Vania, Sisil. Ternyata kalian datang juga. Gue kira lu berdua nggak datang," ujar Antoni menyambut kedatangan keduanya dengan suka cita.
"Datang dong, masa nggak. Ini 'kan pesta kita. Perayaan yang kita rayakan sebagai bentuk kebahagiaan kita karena seluruh teman-teman kita lulus bersama-sama, dan juga ini merupakan malam perpisahan kita. Karena setelah ini, pasti banyak di antara kita yang kemungkinan besar akan melanjutkan pendidikan di luar negeri maupun luar kota, dan ini adalah kesempatan kita untuk bisa saling memberi support, dan juga di sini kita bisa membuat kenang-kenangan yang indah agar kelak jika kita bertemu kembali akan ada kisah yang kita ceritakan. Cerita indah di masa lalu kita bersama," balas Sisil yang dengan gaya dramatisnya seperti seorang yang sedang membacakan puisi.
Melihat hal itu Vania dan Anthony tertawa terbahak-bahak karena menurut mereka Sisil terlihat begitu lucu.
Sedangkan Sisil yang merasa jengkel karena ditertawakan oleh kedua temannya itu hanya bisa mendengkus sembari memanyunkan bibirnya sebagai bentuk protes dirinya atas perlakuan dua temannya itu.
"Ya sudah, kalau begitu kalian nikmati saja pestanya! Bergabunglah bersama yang lain. Gue masih harus menunggu teman-teman yang lain agar mereka tidak merasa terabaikan berada di pesta ini. Have fun guys!" seru Anthony mempersilakan kedua temannya itu untuk masuk dan menikmati pestanya sembari melangkah pergi.
Sisil dan Vania duduk di sebuah kursi panjang yang ada di pojok ruangan. Mereka begitu bahagia saat memperhatikan keramaian yang ada di sana. Pesta berlangsung dengan begitu meriah dan penuh suka cita.
Vania nampak mencari-cari seuatu. Dan setelah beberapa saat memperhatikan sekelilingnya, akhirnya ia menemukan yang ia cari.
Edgar Emiliano, sosok pria tampan dan berkharisma di sekolah, merupakan salah seorang pria yang dijuluki 'Playboy' di SMA PELITA BANGSA.
"Ehm ...!"
Deheman dari Sisilia menyadarkan Vania dari kekaguman dirinya terhadap Edgar. Karena Sesilia selalu sahabatnya, ialah satu-satunya orang yang tau bahwa Vania menyimpan perasaan suka terhadap Edgar Emiliano sang playboy sekolah.
Vania hanya bisa tersenyum malu karena merasa ke-gep saat memperhatikan Edgar. Hingga akhirnya ia berkata, "Entah setelah ini, apa gue bisa ketemu lagi sama Edgar atau tidak. Kita masih sama-sama tidak tahu akan melanjutkan kuliah di mana dan jurusan apa."
Sesilia membenarkan perkataan temannya itu. Karena ia sendiri pun masih bingung harus kuliah di mana dan jurusan apa.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 malam. Vania dan Sesilia semakin terhanyut dengan kemeriahan pesta hingga mereka tanpa sadar terpisah saat sama-sama sedang asik berjoget di antara kerumunan teman-teman mereka yang lainnya. Mereka begitu bersemangat hingga saat mereka jingkrak-jingkrak mengikuti hentakan musik yang dimainkan oleh seorang DJ yang sengaja mereka panggil untuk menambah semarak kemeriahan pesta itu.
Saat sedang asik bergoyang dan melompat-lompat, tiba-tiba Vania merasa ada seseorang yang terhuyung dan langsung memeluk dirinya. Sempat ingin menghindar dan melepaskan pelukan orang tersebut. Namun, gerakan Vania terhenti saat mendengar racauan dari mulut orang yang sedang memeluk dirinya.
"Lo cantik malam ini, dan pasti akan lebih mengasyikkan jika kita bisa berkencan berdua saja." Suara parau orang itu menghentikan tangan Vania yang hendak mendorong tubuh lemah itu. Karena Vania sangat mengenal suara itu.
Edgar Emiliano, laki-laki tampan yang menarik perhatian dirinya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Astaga, Edgar! Baru minum sedikit udah teler aja." Celetuk Mike-salah satu teman Edgar.
"Iya nih anak! Biasanya juga bisa tahan sampe pagi," seloroh Briyan.
Vania yang mendengar perkataan kedua sahabat Edgar itu akhirnya menoleh ke arah mereka meski dengan kepayahan. Ia sempat merasa sebal karena mereka bukannya membantunya untuk menopang tubuh Edgar, justru malah meledek temannya yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Vania, lo bisa 'kan tolongin kita buat ngantar Edgar balik? Karena jika dibiarkan di sini pun percuma karena udah nggak sadarkan diri juga ni anak!" Terang Anthony kepada Vania.
"Tapi, gue ...,"
"Tenang, Edgar malam ini nggak pulang ke rumahnya. Ia sudah memesan sebuah kamar hotel."
Ucapan Vania terpotong karena Anthony terlebih dahulu menjelaskan. Lalu Anthony merogoh saku celana Edgar dan mengambil hand phone yang ada di dalamnya.
Anthony nampak mengutak-atik hand phone tersebut, dan setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia menunjukkan layar handphone yang sedang menyala itu kepada Vania. "Ini! Tadi dia sudah booking kamar di hotel X. Kamu bisa bawa dia ke sana, dan nanti tunjukkan saja ini kepada petugas hotelnya. Bisa 'kan?"
Vania nampak berpikir beberapa saat, tetapi karena ini merupakan kesempatan langka bagi dirinya, akhirnya Vania pun nekat membawa Edgar ke alamat yang ada di handphone tersebut dengan berbekalkan sandi ponsel Edgar.
Anthony memesankan taksi online untuk mereka dan ikut membantu Vania membawa Edgar masuk ke dalam mobil tersebut.
"Hati-hati. Gue percayakan Edgar aman sama lo." ujar Anthony sebelum mobil yang ditumpangi oleh Vania dan Edgar melaju membelah jalanan kota malam itu.
Di hotel tempat yang telah ditunjukkan oleh Anthony, Vania meminta bantuan kepada supir yang membawanya ke sana untuk membawa Edgar masuk ke dalam hotel tersebut.
Keren berjalan masuk dan mereka juga disambut hangat oleh para petugas hotel.
"Ada yang bisa kami bantu?"
Vania tidak menjawab, tetapi Iya berusaha mengambil handphone mirip Fighter yang ada di satu celananya dan setelah ia mendapatkan apa yang dicari Fanny langsung menunjukkan kepada tugas hotel tersebut sesuai petunjuk yang Antoni katakan tadi
Di luar dugaan Vania. Ternyata apa yang Anthony infokan kepadanya tadi, begitu mudah dan gampang ia kerjakan. Hanya dengan menunjukkan hasil transaksi Edgar dan hotel tersebut, mereka Langsung dibawah oleh petugas hotelnya dan petugas itu juga yang menunjukkan letak kamar yang telah Edgar booking sebelumnya.
Vania dan sopir taksi online itu meletakkan Edgar pada tempat tidur yang ada di kamar tersebut, lalu Driver itu pergi setelah Vania mengucapkan terima kasih kepadanya.
Akan tetapi saat berada hanya berdua dengan Edgar di kamar hotel tersebut, Vania tiba-tiba merasa bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus meninggalkan Edgar sendirian di kamar hotel tersebut atau dia harus menunggu sampai Edgar terbangun.
Di tengah lamunannya tiba-tiba Vania tersentak kaget karena mendengar suara Edgar yang sedang meracau.
"Lu nggak usah ke mana-mana, temenin gue di sini. Kalau lu pergi, siapa yang bakal nemenin gue di sini? Gue nggak mau sendirian, gue mau lo selalu ada di samping gue."
Vania merasa heran saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Edgar. Vania sempat berpikir, apa mungkin ucapan yang dikatakan tadi itu benar untuk dirinya? Atau mungkin saat itu Edgar sedang mengigau dan bermimpi sedang bersama dengan salah satu gadis teman kencannya?
"Ah, nggak mungkin Edgar sedang bicara sama gue. Dia 'kan sedang tidur. Bisa saja dia sedang bermimpi," gumam Vania sembari mendekat ke arah tempat tidur yang saat ini sedang Edgar tempati.
Vania tersenyum. Ia merasa bahagia karena malam itu ia bisa memperhatikan wajah Edgar dari jarak yang begitu dekat. Bahkan saat itu, Vania juga bisa melihat pesona seorang Edgar yang semakin terlihat tampan saat sedang tertidur.
Perlahan Vania memberanikan diri untuk duduk di pnggiran kasur tempat Edgar berbaring saat itu, dan ia pun memberanikan diri menyentuh wajah Edgar dengan perlahan dan lembut.
Bagai sedang memilah sebuah kaca, Vania dengan penuh kehati-hatian mulai menyentuh alis yang ditumbuhi dengan bulu yang lebat. Lalu jemari lentik Vania erpindah pada hidung mancung yang tampak seperti menara Eiffel itu, dan jemari Vania terus ia gerakan hingga menyentuh bibir tipis Edgar.
Pesona seorang Edgar benar-benar membuat Vania lupa akan segalanya. Ia seolah terbius akan ketampanan yang Edgar miliki.
Sembari terus memperhatikan wajah Edgar yang sedang tertidur pulas, bibir Vania terus melengkungkan senyum karena saking bahagianya bisa menatap wajah sang pujaan hati dari jarak yang begitu dekat dan dalam durasi waktu yang cukup lama.
"Lo memang tampan, Edgar. Tidak salah kalau hati gue terpaut pada paras indah yang lo miliki. Seandainya, gue adalah wanita pilihan lo, pasti gue akan sangat bahagia karena bisa menjadi wanita yang ada di hati lo. Tapi sayangnya, lo terlalu angkuh sehingga, lo nggak akan pernah mau dekat bahkan menoleh pun enggan dengan wanita yang menurut lo bukanlah selera diri lo," gumam Vania sembari terus menatap wajah Edgar sambil tersenyum miris.
Tanpa diduga oleh Vania sebelumnya. Tiba-tiba mata Edgar terbuka lebar dan menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Bahkan seketika Edgar menarik tubuh Vania hingga kini posisinya Vania telah berada di bawah kukungan tubuh Edgar.
Tanpa bisa menguasai diri sendiri akhirnya Vania pasrah dan ikut terhanyut dalam permainan yang Eiger berikan pada tubuhnya Vania terhanyut dalam kelembutan belaian yang Edgar lakukan pada dirinya. Hingga pada titik penyatuan terjadi, beberapa detik Vania tersadar dan berusaha menolak dan melepaskan diri dari Edgar.
Akan tetapi, rayuan dan kelembutan Edgar kembali melemahkan hatinya hingga terjadilah malam panas dan menggairahkan antara keduanya.
Edgar dan Vania telah menyatu dalam satu aliran keringat yang sama-sama telah membasahi tubuh mereka. Hingga akhir dari puncak pergulatan itu Edgar dengan lantang menyuarakan nama seorang gadis yang sangat Vania kenali.
"Aahhh ... Amira!" teriak Edgar sembari menuntaskan hasrat yang saat itu siap meledak. Bahkan benih-benih itu bertaburan dengan suka cita dan penuh kehangatan pada rahim Vania.
Seketika tubuh Edgar terkulai lemas dan tak berdaya tepat di samping Vania.
Namun, berbeda halnya dengan Vania. Ia kini tengah mematung, terlentang dengan perasaan yang begitu menyesakkan hati dan perasaannya. Di mana ialah yang telah rela menyerahkan diri dan mengorbankan kehormatannya untuk seorang predator seperti Edgar Emiliano malam itu, tetapi justru nama salah seorang temannya-lah yang Edgar gaungkan.
Seketika tubuh Vania berasa remuk, seremuk hatinya yang kini merasakan penyesalan akan kebodohan dirinya.
Berjam-jam Vania hanya bisa terdiam sembari menatap kosong pasa hamparan plafon yang ada di dalam kamar itu. Tanpa ada pergerakan sedikitpun dan hanya suara dengkuran halus dari Edgar yang kini kembali terlelap di sampingnya.
Hingga akhirnya, Vania pun ikut tertidur karena lelah dan letih yang dirasakan oleh batin dan fisiknya malam itu. Lelah dan letih setelah melalui malam panjang, yang merupakan malam penuh kehancuran untuk dirinya.