“Bu, memangnya ibu mau mengajakku ke mana?”
“Nanti juga kamu tahu. Yang terpenting sekarang, kamu tampil cantik dengan senyuman indah di wajahmu yang tidak boleh kamu kurangi sedikit pun untuk ditunjukkan pada seseorang.”
“Untuk seseorang? Apa jangan-jangan ibu mau memperkenalkan aku dengan seorang pria?”
“Tepat sekali.”
“Ya ampun, bu. Sofia kan masih sangat muda. Aku masih mau mencari pengalaman bekerja dulu dan belum kepikiran untuk menikah.”
“Sudah, jangan banyak bicara. Pokoknya kamu nurut saja sama ibu. Toh ini demi kebaikanmu.”
“Kenapa tidak kak Anya saja yang ibu kenalkan dengan pria itu? Usia kak Anya kan sudah seperempat abad.”
“Anya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Lagipula, dia sudah punya kekasih yang akan segera melamarnya. Sedangkan kamu kan masih jomblo.”
“Ibu ini. Terlalu memanfaatkan status singleku.”
“Ayo, cepat kita berangkat sekarang. Jangan sampai kita datang terlambat, agar dia tidak menunggu kita terlalu lama.”
“Tapi bu, aku benar-benar belum mau menikah. Aku masih mau kuliah dulu.”
“Kuliah kan masih tetap bisa kamu lakukan setelah kamu sudah menikah nanti.”
Biar Sofia mau beralasan seperti apapun, Sari tetap mendesaknya untuk menuruti perintahnya. Sofia pun terpaksa menuruti perintah ibu tirinya. Dia akan melihat dulu pria yang akan dijodohkan dengannya nanti, urusan menerima atau tidaknya perjodohan itu akan dia pikirkan kembali. Sofia berpikir seperti itu.
Akhirnya, Sofia dan Sari tiba di tempat tujuan. Mereka tiba di sebuah hotel bintang 5 yang berada di pusat ibu kota.
Kedua mata Sofia meluruh panjang menatap bangunan tinggi di depannya. Hatinya mulai berdebar ketakutan ketika dia mengetahui tempat pertemuan dia dengan pria itu.
“Bu, kenapa bertemunya harus di hotel sih? Biasanya kan kalau bertemu itu di Restaurant, sekalian makan malam.” Bisik Sofia, sambil melirik ketakutan karena feeling yang tak enak.
“Urusan makan gampang. Sekarang, kita bertemu dulu dengan pria itu. Dia ingin sekali melihatmu.”
Sofia mendungus kesal. Tangan kanannya ditarik paksa oleh Sari untuk memasuki hotel tersebut. Mereka menaiki lift bersama dan pintu lift terbuka di lantai 5.
Sepanjang berjalan di koridor hotel menuju ke sebuah kamar, Sofia terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sari. Tapi, Sari malah semakin memegang erat tangan Sofia karena dia tahu kalau anak tirinya itu berniat kabur.
Kamar 505.
Sari menekan bel kamar tersebut.
Ting tong... ting tong...
Pintu kamar itu langsung dibuka oleh seorang pria berjas. Di telinga pria itu ada kabel spiral yang pria itu gunakan sebagai alat berkomunikasi.
“Silahkan masuk.”
Sofia dan Sari diminta untuk masuk ke dalam. Hawa menyeramkan semakin Sofia rasakan ketika dia melihat ada banyak pengawal yang berdiri mendampingi seorang pria tua yang duduk di atas kursi putar. Dinginnya dari ruangan AC bersuhu tinggi juga membuat sekujur tubuh Sofia bergidik, apalagi dia mengenakan gaun yang menampilkan seluruh bagian bahunya yang mulus dan putih bersih.
Langkah kaki Sari berhenti di depan seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi kerja. Pria itu memutar kursi yang didudukinya untuk melihat sosok seorang perempuan muda yang dibawa oleh Sari kepadanya.
“Ini tuan, perempuan yang bernama Sofia.”
“Oh. Jadi, ini anaknya Budi? Cantik juga.” Seringai dari senyuman menyudut tajam terukir di wajah pria tua yang sedang memegang rokok elektrik.
Sofia semakin ketakutan saat melihat sosok pria tua di depannya. Dia meremas kuat pakaian Sari dengan tangan gemetar.
Yang Sofia pikirkan saat ini adalah tentang perjodohannya dengan pria tua di depannya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ibu tirinya akan setega ini untuk menyerahkan dirinya pada pria tua bangka yang bertubuh kurus dan hitam.
“Hutang Budi memang hanya 200 juta saja. Tapi, aku akan memberimu lebih dari sejumlah hutang yang Budi punya padaku, atas kecantikan putri Budi yang akan kamu serahkan kepadaku.”
“A-apa?” kedua mata Sofia langsung membeliak membesar begitu dia mendengar ucapan pria tua itu. “Diserahkan?” gumamnya dalam hati. “Apa aku akan benar-benar dijual oleh ibu? Tidak. Tidak mungkin ibu akan setega itu menjualku.” Sofia melirikkan matanya ke arah Sari dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih, tuan.”
“Pernikahan itu akan segera dilangsungkan besok pada pukul 4 sore. Aku tidak ingin kamu dan putrimu ini sampai datang terlambat. Kalau lima menit saja kalian sampai datang terlambat, maka perjanjian kita akan batal dan semua hutang Budi tidak pernah lunas sampai kapanpun.”
“Baik, tuan.”
“Sekarang kalian boleh pergi. Aku sudah cukup puas setelah melihat sosok putri dari Budi.”
Sari segera menarik tangan Sofia untuk keluar dari kamar itu.
Tapi, Sofia begitu ingin mengatakan penolakannya pada pria tua itu soal pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan. Namun, mulutnya begitu sulit untuk dia buka, walau hanya sedikit saja. Mendadak mulutnya seperti terkunci rapat dengan sendirinya.
Deras air mata langsung mengalir di seluruh wajahnya. Tubuhnya dia ringkuk karena gaun mini yang dia kenakan membuatnya merasa tidak nyaman.
Sari baru melepaskan tangan Sofia setelah mereka keluar dari hotel itu.
“Ayo, kita cari makan. Kamu pasti sudah lapar, kan?”
“Sofia tidak mau makan.”
“Kenapa? Apa kamu marah sama ibu?”
Sofia tidak menjawab pertanyaan Sari. Dia langsung pada pertanyaan inti yang sejak tadi bergemuruh di dalam hatinya.
“Kenapa ibu tega sekali menjualku pada pria hidung belang itu?”
“Siapa yang menjualmu? Bukankah yang berhutang itu bapakmu? Jadi, sudah jelas kalau yang menjualmu adalah bapakmu bukan aku.”
“Tapi, tidak seharusnya ibu melakukan ini padaku!”
“Kalau bukan dengan cara ini, lalu dengan cara apa lagi agar kita bisa terbebas dari semua hutang bapakmu yang dia tinggal mati!? Bahkan, uang gajimu selama 10 tahun bekerja saja belum tentu bisa untuk melunasi semua hutang itu, karena pria tua itu sengaja memberi bunga pada hutang bapakmu setiap harinya.”
“Lalu, bagaimana dengan nasib Sofia setelah menikah dengan pria tua itu nanti? Sofia takut, bu...”
“Ibu tidak peduli. Yang membuat hidupmu menjadi seperti ini kan bukan ibu, melainkan bapakmu. Karena saat dia masih hidup dulu, dia pernah membuat kesepakatan pada pria tua tadi untuk menjadikan kamu jaminan jika dia tidak mampu membayar semua hutangnya.”
“Bapak itu bisa sampai berhutang banyak karena dia harus memenuhi semua keinginan ibu yang terlalu konsumtif. Sebelum bapak menikah dengan ibu, hidup bapak dan aku baik-baik saja. Kami hidup dalam kesederhanaan sepeninggalan dari kepergian mamaku. Tapi, sejak bapak menikah sama ibu, bapak harus bekerja keras demi keinginan ibu dan kak Anya yang selalu ingin hidup mewah. Seharusnya, bukan aku yang dikorbankan untuk menikah dengan pria itu, melainkan kak Anya. Karena dialah yang pantas untuk dijadikan jaminan, bukan aku!!!”
PLAK!!!
Sari langsung menampar kencang wajah Sofia saking dia geramnya karena terus disudutkan oleh anak tirinya.
“Awas saja kalau sampai kamu berani kabur sebelum pernikahanmu dilakukan, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!”
***
Rasanya Sofia mau bunuh diri saja, dengan cara melompatkan tubuhnya dari atas gedung tinggi yang sedang dia pijak saat ini. Tapi, saat dia akan menerjunkan bebas tubuhnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara bisikkan dari almarhumah mamanya yang sudah tiada.
Dalam halusinasinya saat ini, mamanya mengatakan padanya agar dia tetap bertahan pada kehidupannya saat ini dan selanjutnya. Ketika dia mendengar suara itu, niatnya untuk bunuh diri akhirnya dia urungkan
**
“Saya terima nikah dan kawinnya Sofia Savanna binti almarhum Budi Sutanto dengan mas kawin yang tersebut tunai.”
Sah!
Pernikahan itu akhirnya benar-benar terjadi, betapa hancurnya hati Sofia setelah dia dipinang oleh pria tua yang tidak dia sukai sama sekali. Untuk membayangkan akan disentuh oleh pria tua itu saja sudah membuatnya menangis deras, apalagi kalau dia benar-benar akan disentuh seluruh tubuhnya hingga yang terinti dari mahkotanya malam ini juga. Sofia merasa tidak sanggup lagi.
Tapi, tubuhnya dan hidupnya sudah dibayar mahal oleh pria itu. Hutang bapaknya yang sudah tiada pun telah lunas. Namun, sisa uang yang pria tua itu berikan pada Sari, sama sekali tidak Sari berikan pada Sofia walau hanya sepeser pun. Semua uang itu Sari pakai bersama dengan Anya untuk melanjutkan hidup mereka yang selama ini hidup dalam kemiskinan.
Usai pernikahan yang dilangsungkan di tempat berbeda dari keberadaan Sofia yang tetap diam di rumahnya. Dua pria berjas hitam rapih langsung menjemputnya ke rumah dan membawa Sofia ke sebuah Apartement mewah, tempat pria yang kini sudah berstatus suaminya berada.
Sofia bersama dua pria itu memasuki Apartement mewah yang berada di kawasan lingkungan elit. Sofia mengabaikan semua fasilitas mewah yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dia lebih fokus pada dirinya sendiri, yang sebentar lagi harus melayani suami tuanya itu.
Saat Sofia dan dua pria berjas hitam tiba di depan pintu Apartement, Sofia langsung dibawa masuk ke dalam untuk diserahkan pada suaminya, lalu dia ditinggal pergi sendirian oleh dua pria itu.
Sofia tak sanggup untuk mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk ketakutan. Wajahnya sudah bersimbah air mata dan tubuhnya gemetaran tanpa bisa dia kontrol dengan baik.
Sofia berdiri di belakang pria itu setelah ditinggalkan oleh dua pria tadi, dan kini dia hanya berdua saja bersama suaminya di dalam Apartement.
“Pernikahan kita bukanlah pernikahan sungguhan. Aku akan menceraikanmu setelah satu bulan pernikahan ini dilakukan.” Ucap pria itu.
Suara yang berbeda dari suara seorang pria muda yang ada di depan Sofia saat ini, membuat Sofia merasa ada yang aneh. Karena dia masih ingat betul seperti apa suara pria tua yang dia temui di hotel beberapa waktu yang lalu. Tapi, suara pria yang ada di depannya saat ini jauh lebih terdengar ringan daripada suara yang sebelumnya.
“Ayo. Kita lakukan dengan cepat, agar tujuan pernikahan ini bisa segera diwujudkan.” Kata pria itu, yang kemudian memutar tubuhnya perlahan untuk menghadap ke arah Sofia.
Bersamaan dengan pria itu memutar tubuhnya, Sofia pun mengangkat wajahnya dengan hati-hati dari rasa ketakutannya saat ini.
Betapa terkejutnya Sofia ketika yang dia lihat di depannya saat ini bukanlah pria tua yang dia temui bersama Sari waktu itu, melainkan seorang pria muda bertubuh atletis dan berwajah manis.
Netra di antara mereka pun bertemu. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling diam sambil menatap satu sama lain.
Tak bisa dipungkiri, Yesaya memiliki getaran menggebu untuk melakukan satu aktifitas yang kini hadir dalam dirinya, yaitu bercinta.
Tak ingin melamun terlalu lama, Yesaya segera berjalan cepat menghampiri Sofia. Dia langsung meraih tubuh Sofia dan mencium Sofia dengan liar. Tak ada sedikit pun tubuh Sofia yang tidak Yesaya sentuh, entah dengan jari jemarinya maupun dengan lidahnya yang menjilati seluruh bagian tubuh Sofia.
Sofia berusaha mendorong kuat tubuh suaminya agar dia bisa lepas dari kebrutalan suaminya sebelum suaminya sampai menyentuh area intinya. Tapi, tubuh Yesaya terlalu kuat hingga cengkramannya membuat Sofia kesakitan dan Sofia akhirnya pasrah.
Peluh keringat mulai keluar dari setiap celah wajah Sofia dan air mata pun tidak berhenti mengalir deras. Tapi, Yesaya tidak berhenti sedikit pun menyusuri seluruh bagian tubuh Sofia yang sudah dia lucuti tanpa sehelai pakaian yang menutupi tubuhnya lagi.
Yesaya menghempaskan tubuh Sofia di atas lantai tanpa alas. Terasa dingin dari suhu AC yang membuat tubuh Sofia kedinginan. Dia harus menahannya, apalagi saat Yesaya berhasil menyentuh area intinya. Tubuh Sofia langsung lemas tidak berdaya. Dia seperti boneka yang mematungkan tubuhnya dan membiarkan Yesaya berperan sendiri dalam aktifitas yang terasa nikmat namun sangat menyakitkan perasaannya.
Saat berada di puncak klimaks, Yesaya mengeluarkannya di dalam area inti Sofia dan aktifitas intim itu pun berakhir. Dia merasa puas dan langsung menelentangkan tubuhnya di atas lantai di samping Sofia.
Nafasnya terengah-engah. Dia berusaha mengabaikan air mata Sofia yang tak kunjung berhenti meski aktifitas itu sudah berakhir.
“Berhentilah menangis. Aku tidak sedang menyiksamu, aku hanya melakukan nafkah batin padamu. Jadi, jangan membuat aku terkesan seperti orang yang jahat padamu.” Ucap Yesaya dengan kesal.
Biar sudah dikatakan seperti itu, isakan tangis Sofia tetap tidak berhenti. Dia hanya mengurangi tangisannya, bukan mengurangi air matanya.
Yesaya pun membangunkan tubuhnya dari atas lantai. Dia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, lalu melihat ke arah Sofia.
“Tenang saja. Aku tidak akan membuatmu hamil, karena tujuan pernikahan ini bukan untuk membuatmu hamil, melainkan untuk melepaskan keperwananmu saja.”
“A-aku pikir, pria yang menikahi aku adalah pria tua yang aku temui waktu itu.”
“Dia adalah pamanku. Dia orang yang memilki kuasa setelah—“ Yesaya langsung berhenti bicara saat dia hampir saja kelepasan bicara. “Sudahlah. Jangan pikirkan soal itu. Tugasmu akan selesai dalam waktu satu bulan ke depan, karena setelah kita bercerai nanti kita tidak perlu saling bertemu lagi.” Ucap Yesaya, lalu melepaskan tatapan matanya dari wajah memelas Sofia.
Dia segera bangkit dari lantai. Tapi, sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dia meminta Sofia untuk segera bangun terlebih dahulu dari atas lantai yang terasa sangat dingin.
“Aku tidak suka merawat orang sakit, jadi cepatlah bangun agar kamu tidak sampai sakit karena terlalu lama berbaring di lantai.” Ucapnya, tanpa melihat ke arah Sofia.
Kemudian, dia meninggalkan Sofia yang masih tergeletak di lantai untuk berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Yesaya menyalahkan keran shower untuk membasahi seluruh tubuhnya dari atas. Dia mengusap seluruh kepala hingga wajahnya dengan derasnya air yang membasahi tubuhnya.
“Aku memang sudah gila!”
***
8 bulan kemudian...
“Ambil uang ini.” Miya memberikan sebuah amplop putih berisi uang miliknya.
“Kenapa uang bonus bulan ini kamu berikan padaku?”
“Usia kandunganmu sudah memasuki bulan ke delapan dan sudah waktunya kamu melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui perkembangan bayimu. Di zaman sekarang, hanya dengan memeriksakan kandungan tanpa USG sangatlah rentan, apalagi kamu bekerja terlalu berat selama masa kehamilanmu. Jadi, terimalah uang ini. Aku ikhlas, tanpa harus kamu menggantinya.”
“Tapi...”
“Aku tahu dengan kesulitan finansialmu. Tapi kamu tetap bertahan mengandung bayimu tanpa seorang suami yang mendampingimu selama kehamilanmu. Anggap saja uang ini sebagai hadiah untuk kelahiranmu nanti. Asalkan tidak minta double saja saat kamu melahirkan nanti.” Canda Miya, teman kerja sekaligus teman satu kosan Sofia.
Kebaikan Miya membuat Sofia sedih dan menitikan air matanya. “Terima kasih Miya, kamu selalu baik padaku. Entah dengan cara apa aku bisa membalas kebaikanmu ini.”
“Biar Allah saja yang membalas kebaikanku nanti. Fokusmu sekarang adalah kesehatanmu dan juga calon bayimu. Aku dengar, bayimu kembar ya?”
“Iya. Bidan memberitahuku tiga bulan yang lalu, kalau bayiku kembar.” Sofia menyeka air matanya. Kini senyuman bahagia hadir kembali di wajah kalemnya.
“Kamu hebat Sofia. Kamu sama sekali tidak berniat untuk menggugurkan kandunganmu apalagi sampai ingin mengakhiri hidupmu. Kalau aku yang berada diposisi kamu, bisa-bisa aku stres berat.”
“Aku bisa bertahan sampai sejauh ini karena bayi ini. Setiap gerakan mereka di dalam perutku seperti mereka sedang bicara padaku, supaya aku tidak menghilangkan mereka dari hidupku. Makanya, aku mau mempertahankan bayi ini meski awalnya aku menolak mereka.”
Miya tersenyum mendengarnya. Setidaknya, dia bisa merasa lega karena selama ini Sofia selalu berusaha tidak merepotkannya dengan melakukan apapun sendirian.
“Ayo, kita kembali bekerja. Biar bos tidak sampai memecatku karena kandunganku yang sudah besar.”
Miya mengangguk. Mereka pun kembali ke tempat kerja mereka usai makan siang mereka selesai.
Mereka kembali ke tempat kerja dengan berjalan kaki. Saat di tengah perjalan menuju ke sebuah Mall, tanpa sengaja Sofia bertemu kembali dengan orang yang paling tidak ingin dia temui selama ini. Orang itu adalah Yesaya.
“Sofia?!!!” Yesaya langsung mendelik kuat ketika dia bisa bertemu dengan Sofia kembali.
Sofia langsung menghindari Yesaya dengan berlari ketika Yesaya ingin mengejarnya. Akan tetapi perutnya yang sudah sangat besar membuat Sofia tidak mampu berlari dengan baik, yang terjadi justru dia tersungkur di atas aspal.
Saat itu juga rintihan kesakitan langsung terdengar dari suara Sofia sambil memegangi perutnya. Dia tidak mampu lagi menghindari Yesaya saat Yesaya sudah berada di dekatnya.
“Aku mohon, kamu menjauh dariku!” Sofia langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah Yesaya ketika Yesaya ingin menyentuhnya.
“Sofia?”
“Aku... aku...” tiba-tiba saja Sofia kehilangan kesadarannya. Dia pun pingsan dan menjatuhkan kepalanya di atas tangan Yesaya.
Yesaya melihat ada banyak darah yang keluar dari kaki Sofia. Dia pun bergegas membawa Sofia ke rumah sakit terdekat.
**
Hari itu...
Dooorrr!!
Sofia mendengar suara tembakan ketika sebuah peluru menembus tubuh seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah pistol di tangan Yesaya.
Tubuh Sofia langsung terasa lemas seketika, saat melihat kejadian tidak terduga dengan mata telanjang olehnya. Sofia syok bukan main, melihat Yesaya yang tampak biasa ketika membunuh seorang pria hingga pria itu dibiarkan tergeletak begitu saja sampai sekarat dan mati.
“Siapa Yesaya yang sebenarnya? Kenapa dia begitu mudah membunuh orang tanpa ada rasa takut sedikit pun? Seminggu menikah dengannya, dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kalau dia orang yang jahat. Apa mungkin, satu buan yang dia maksudkan dari perceraian kami adalah bagian dari rencananya untuk menghabisi nyawaku?”
Rasa ketakutannya melebihi rasa pedulinya pada Yesaya. Dia langsung kabur dan pergi dari kehidupan Yesaya setelah kejadian di hari itu. Hanya membawa beberapa helai pakaian di dalam kopernya dan juga uang simpanan yang dia miliki, Sofia menghilang dari Yesaya.
Tidak ada satu pun anak buah Yesaya yang berhasil menemukannya, karena Sofia membuat identitas baru agar dirinya tidak sampai ditemukan oleh siapapun yang berhubungan dengan Yesaya.
**
Rumah Sakit
Miya memberikan secangkir teh hangat untuk Yesaya, saat sedang menunggu Sofia yang masih berada dalam penanganan dokter di ruang IGD.
“Terima kasih.” Ucap Yesaya sambil menerima minuman itu.
Miya duduk di samping Yesaya sambil sesekali menegukkan minumannya. “Siapa kamu?”
“Aku suaminya.” Jawab Yesaya, singkat.
“Sofia sudah tidak ingin bertemu lagi denganmu. Dia ingin menghilang dari hidupmu.”
“Bukan urusanmu jika dia ingin melakukan itu padaku.” Ucap Yesaya ketus.
Dia bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan Miya.
Yesaya menghubungi anak buahnya yang sejak tadi terus menghubunginya.
“Ada apa kamu menelponku?”
“[Ronald ingin bertemu dengan anda malam ini juga.]”
“Aku tidak bisa.”
“[Tapi dia memaksa bos. Dia mengancam akan menghabisi anggota geng kita kalau bos tidak mau menemuinya malam ini juga.]”
“Apa dia mengatakan padamu alasan dia ingin menemuiku?”
“[Katanya, dia ingin melakukan gencatan senjata dengan menawarkan sebuah kerja sama pada anda.]”
“Mustahil dia ingin melakukan gencatan senjata denganku. Yang dia inginkan selama ini adalah menghabisi nyawaku.”
“[Aku juga tidak percaya itu, bos. Tapi dia mengatakan itu dan dia memaksa.]”
“Baiklah. Aku akan menemuinya jam 12 malam nanti. Katakan padanya, kalau kita akan bertemu di tempat biasa.”
“[Baik, bos.]”
Satu masalah belum selesai, Yesaya sudah harus menghadapi masalah yang lainnya.
Tak lama telpon dengan anak buahnya berakhir. Retha, mamanya, juga menghubunginya. Untuk panggilan telpon yang satu ini, Yesaya tidak pernah bisa menolaknya. Dia terpaksa menerima telpon dari mamanya di saat dia dalam kondisi yang tidak stabil.
“Halo, ma.”
“[Kapan kamu akan pulang?]” Retha langsung menodongnya dengan pertanyaan itu.
“Aku masih ada banyak pekerjaan di Kantor.”
“[Bohong. Niko bilang, kalau kamu sudah meninggalkan Kantor dari siang. Sekarang, kamu ada di mana?]”
Yesaya kesulitan untuk beralasan pada mamanya. [I-itu. Aku...]”
Saat Yesaya ingin memberitahu keberadaannya pada mamanya, Miya datang memanggilnya dengan suara kencang.
“Yesaya! Dokter suah keluar. Dia ingin bicara denganmu mengenai kondisi Sofia.”
“[Yesaya. Siapa yang sedang bicara denganmu itu? Lalu, siapa Sofia?]”
Saat itu juga, Yesaya langsung memutus panggilan telpon dari mamanya. Dia tidak bisa mengatakan apapun pada mamanya saat ini tentang persoalan yang dia sembunyikan dari mamanya selama ini.
Yesaya bergegas menemui dokter yang sedang menangani Sofia.
“Apa anda adalah suami dari ibu Sofia?”
“Iya, dokter.”
“Istri anda harus melahirkan sekarang juga. Kami akan segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi kembar anda, melihat dari kondisi ibu dan bayinya yang harus segera dilakukan tindakan secepatnya. Kalau tidak segera dilahirkan, maka resiko kematian akan bisa terjadi pada bayi kembar anda.”
***