Bab 1

Udara Jakarta di suatu sore bulan Maret selalu terasa berat, sarat dengan kelembaban yang memeluk dan polusi yang menyesakkan paru-paru. Bagi Lia, lima tahun terakhir, udara itu terasa lebih berat lagi. Setiap napas yang diambil adalah pengingat akan hari kelabu itu, hari di mana hidupnya terbagi menjadi "sebelum" dan "sesudah". Hari di mana Anya, sepupu sekaligus sahabat terbaiknya, direnggut paksa oleh takdir yang kejam.

Lia duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, menyesap latte dingin yang mulai kehilangan esnya. Jendela kafe yang besar menampilkan hiruk pikuk jalanan Jakarta, namun pandangannya kosong, menembus keramaian itu, kembali pada memori lima tahun silam. Seharusnya ia tidak berada di sini. Seharusnya ia ada di rumah, membenamkan diri dalam buku-buku kuliahnya, melarikan diri dari dunia yang terus-menerus menghakiminya. Namun, janji pertemuan dengan seorang teman lama, yang tanpa sepengetahuannya membawa serta bayangan masa lalu, telah menyeretnya kembali ke pusaran luka.

Pintu kafe terbuka, denting bel kecil di atasnya mengumumkan kedatangan seseorang. Lia tidak menoleh. Ia terlalu sibuk dengan hantu-hantu di benaknya. Namun, getaran di udara, perubahan kecil dalam atmosfer ruangan, membuat hatinya mencelos. Aroma maskulin yang familier, yang dulu selalu ia kaitkan dengan kebahagiaan Anya, kini menusuknya seperti belati berkarat.

"Lia?"

Suara itu. Dingin, berjarak, namun memiliki resonansi yang familiar, sebuah gema dari tawa riang yang pernah ia kenal. Lia mendongak. Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi dengan rahang tegas dan mata setajam elang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menambah kesan karismatik yang dulu begitu memikat banyak orang. Namun, kini, mata itu tidak memancarkan kehangatan yang dulu ia kenal. Mata itu dipenuhi kegelapan, sebuah jurang kebencian yang dalam.

Rizky.

Jantung Lia berpacu. Napasnya tercekat. Nama itu, dulu sering terucap dengan nada ceria dari bibir Anya, kini hanya membangkitkan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya. Lima tahun. Lima tahun ia berhasil menghindari pertemuan ini. Lima tahun ia hidup dalam bayangan, berharap tidak pernah lagi berhadapan dengan pria di hadapannya.

Rizky tidak tersenyum. Bibirnya membentuk garis tipis, ekspresi yang Lia kenal sebagai pertanda kemarahan yang tertahan. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa seperti palu godam yang menghantam dada Lia. Teman Lia, seorang gadis bernama Maya yang memperkenalkan mereka, tampak canggung di antara aura tegang yang tiba-tiba menyelimuti meja mereka.

"Apa kabar, Lia?" Suara Rizky rendah, nyaris berbisik, namun setiap kata mengandung beban ribuan ton.

Lia mencoba menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "Baik, Rizky. Kamu?"

"Baik?" Rizky mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Tentu saja. Mengapa tidak? Hidup berjalan terus, bukan? Untuk sebagian orang." Tatapannya menajam, menembus hingga ke dasar jiwa Lia. "Terutama untuk mereka yang selamat."

Maya, menyadari suasana yang tidak nyaman, mencoba mencairkan ketegangan. "Uhm, aku ke toilet sebentar, ya. Kalian ngobrol saja dulu." Ia beranjak pergi, meninggalkan Lia sendirian di hadapan badai yang siap menerjang.

Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya diisi oleh suara bising kafe yang tiba-tiba terasa jauh. Lia memilin-milin tepi serbetnya. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku di lantai.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Rizky, suaranya kini lebih keras, nyaris mengejek. "Senang bisa melanjutkan hidup, membangun masa depan, ya?"

Lia mengangkat kepalanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Aku... aku tidak pernah melupakan apa yang terjadi, Rizky."

"Melupakan?" Rizky tertawa, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Tentu saja tidak. Mana bisa melupakan sesuatu yang kau sebabkan, bukan?"

Kata-kata itu menghantam Lia seperti pukulan keras. Ia tahu akan datang. Ia sudah bersiap. Namun, tetap saja, rasa sakitnya tidak berkurang sedikit pun. "Aku tidak... aku tidak menyebabkannya."

"Oh, ya?" Rizky mendekat, membungkuk sedikit di atas meja, membuat Lia harus mendongak untuk menatapnya. Matanya yang gelap memancarkan amarah yang membara. "Kalau begitu, jelaskan padaku, Lia. Jelaskan bagaimana kau bisa selamat dari mobil yang ringsek itu, sementara Anya..." Suaranya tercekat. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menguasai emosinya. "Sementara Anya tidak."

Lia menutup matanya sejenak, kenangan pahit itu kembali menyeruak.

Malam Nahas Lima Tahun Lalu

Malam itu, lima tahun yang lalu, adalah malam Jumat yang cerah. Langit Jakarta dipenuhi bintang, dan udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Anya dan Lia baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman mereka. Anya, yang baru mendapatkan SIM dan mobil baru, mengemudi dengan semangat. Lia duduk di kursi penumpang, sesekali memutar musik dan ikut bernyanyi. Suasana di dalam mobil ceria, penuh tawa dan obrolan remaja.

"Aduh, seru banget pestanya!" seru Anya, memukul setir dengan gembira. "Aku suka vibe-nya."

"Iya, tapi capek juga, Ny," balas Lia, menguap. "Besok kuliah pagi."

"Santai aja kali, besok kan Sabtu," Anya terkikik. "Kita mampir dulu deh ke Indomaret, mau beli snack."

"Ide bagus!" Lia setuju.

Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Sepupu yang dibesarkan seperti saudara kandung, Anya dan Lia memiliki ikatan yang luar biasa kuat. Anya yang selalu ceria dan penuh semangat, seringkali menjadi pendorong Lia yang lebih pendiam dan hati-hati. Mereka berbagi mimpi, rahasia, dan setiap momen penting dalam hidup mereka.

Mobil melaju di jalanan yang agak lengang. Anya mengemudi dengan hati-hati, mengikuti batas kecepatan. Lia mengamati jalanan di luar, sesekali membalas pesan di ponselnya. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyorot dari arah berlawanan. Lia mendongak, merasakan firasat buruk. Sebuah truk besar, melaju kencang, menyalip kendaraan lain di depannya dengan sembrono. Lampunya menyilaukan mata, dan klaksonnya berbunyi memekakkan telinga.

"Anya, awas!" seru Lia panik.

Anya membanting setir ke kanan, mencoba menghindari tabrakan. Rem berdecit nyaring, memekakkan telinga. Tubuh mereka terlempar ke depan saat mobil oleng. Lia menjerit, mencengkeram dasbor erat-erat. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Lia melihat wajah Anya. Wajah sepupunya itu memucat pasi, matanya membelalak ketakutan.

BRAAKKKK!

Suara benturan logam yang mengerikan membelah keheningan malam. Mobil Anya berputar beberapa kali, menghantam pembatas jalan, lalu terlempar ke sisi lain. Kaca-kaca pecah berhamburan, dan bau bensin memenuhi udara. Gelap. Hening. Hanya suara dengungan di telinga Lia, dan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya.

Lia membuka matanya perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya pusing, dan darah mengalir di pelipisnya. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa remuk. Yang pertama kali ia rasakan adalah hawa dingin yang menusuk dari sisi sebelahnya. Lia menoleh, dan dunianya runtuh.

Anya.

Tubuh Anya tergeletak tak berdaya, terjepit di antara reruntuhan mobil. Kepalanya terkulai dengan posisi yang tidak wajar. Matanya terpejam, dan wajahnya pucat pasi, tanpa sedikit pun warna. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas. Hanya keheningan yang mematikan.

"Anya... Anya!" Lia meronta, mencoba meraih sepupunya. Namun, sabuk pengaman dan puing-puing mobil menahannya. Air mata membanjiri wajahnya, bercampur dengan darah. "Anya, bangun! Anya!"

Suara klakson mobil dan teriakan orang-orang mulai terdengar dari kejauhan. Warga berdatangan, panik. Beberapa orang mencoba membantu, sementara yang lain menelepon polisi dan ambulans. Lia terus berteriak memanggil nama Anya, suaranya serak dan putus asa.

Petugas medis tiba tak lama kemudian. Mereka bergerak cepat, mengeluarkan Lia dari mobil yang ringsek. Lia menolak untuk pergi, meronta, terus-menerus menunjuk ke arah Anya.

"Sepupuku! Dia di dalam! Tolong dia!" Lia menjerit, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan.

Seorang petugas medis memeriksa Anya. Raut wajahnya berubah. Ia menggelengkan kepala perlahan, sorot matanya menyampaikan kabar terburuk yang bisa Lia bayangkan.

"Maaf, Nak," katanya pelan. "Kami sudah berusaha, tapi... dia sudah tiada."

Dunia Lia runtuh total. Kabar itu menghancurkan setiap sel dalam tubuhnya. Anya sudah tiada. Sepupunya. Sahabatnya. Sumber kebahagiaannya. Meninggalkannya sendiri di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin dan kejam.

Kembali ke kafe, Lia membuka matanya. Air mata telah membentuk jejak di pipinya. "Aku... aku tidak ingat banyak, Rizky," ucapnya lirih. "Yang aku ingat hanyalah... Anya mencoba menghindar. Dan truk itu... truk itu datang begitu cepat."

Rizky mendengus lagi. "Tentu saja. Mengapa kau tidak ingat? Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan ponselmu, bukan? Atau kau mengganggu konsentrasinya?"

Kata-kata Rizky menusuk telak. Tuduhan itu, yang selama ini bergaung di kepalanya sendiri, kini keluar dari bibir Rizky, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Lia. Ia tahu, sejak hari itu, banyak yang berpikir demikian. Bahwa ia, Lia, yang seharusnya mati, bukan Anya. Bahwa ia adalah penyebabnya.

"Aku tidak... aku tidak mengganggu Anya," Lia membela diri, suaranya bergetar. "Aku sedang membalas pesan. Anya yang mengemudi."

"Dan kau tidak melihat truk itu lebih dulu?" Rizky mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala-nyala. "Kau di kursi penumpang, Lia! Kau seharusnya melihatnya! Kau seharusnya mengingatkannya lebih awal!"

"Aku sudah memperingatkan dia!" Lia meninggikan suaranya, emosinya memuncak. "Aku sudah bilang 'Anya, awas!' Tapi semuanya terjadi begitu cepat! Anya sudah mencoba menghindar!"

"Cukup cepat untuk menyelamatkanmu, tapi tidak cukup cepat untuk Anya?" Rizky menyeringai pahit. "Ironis sekali, bukan?"

Lia merasa mual. Kata-kata Rizky adalah cerminan dari suara hati banyak orang yang menyayangi Anya. Ibu Anya, ayah Anya, teman-teman Anya... mereka semua menatapnya dengan pandangan yang sama, pandangan penuh tuduhan, penyesalan, dan rasa kehilangan yang tak terukur. Ia menjadi pengingat yang menyakitkan akan apa yang telah mereka hilangkan.

"Aku juga terluka, Rizky!" Lia membalas, air mata membanjiri wajahnya lagi. "Aku juga kehilangan Anya! Kau pikir bagaimana perasaanku hidup dengan semua ini? Dengan tahu bahwa aku selamat dan dia tidak? Aku hidup setiap hari dengan rasa bersalah ini!"

"Rasa bersalah?" Rizky tertawa hampa. "Rasa bersalahmu tidak sebanding dengan rasa sakit kami. Kau masih bisa bernapas. Kau masih bisa tertawa. Kau masih bisa melanjutkan hidup." Matanya kembali dipenuhi kebencian yang mendalam. "Sementara Anya... Anya sudah tiada. Dan kau, Lia, kau adalah satu-satunya orang yang bersamanya saat itu. Kau adalah penyebabnya."

"Aku bukan penyebabnya!" Lia berteriak, menarik perhatian beberapa pelanggan kafe lainnya. "Itu kecelakaan! Kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi truk gila itu!"

"Pengemudi truk itu sudah dihukum, Lia," Rizky berkata, suaranya datar, tanpa emosi. "Tapi itu tidak mengembalikan Anya. Dan bagiku, kau adalah bagian dari tragedi itu. Kau ada di sana. Dan kau selamat."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali ini, Lia tidak berusaha memecahkannya. Ia merasa lelah, lelah dengan semua tuduhan, lelah dengan rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Rizky menatapnya untuk beberapa saat, tatapannya membakar Lia hingga ke tulang sumsum.

Akhirnya, Rizky berdiri. "Aku datang kemari bukan untuk berdebat denganmu, Lia," katanya, suaranya kini dingin seperti es. "Aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi. Dan aku tidak akan pernah memaafkanmu."

Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Lia sendirian di meja kafe itu, dengan bayangan masa lalu yang menghantuinya. Air mata Lia tumpah ruah, membasahi pipinya. Kata-kata Rizky menancap di hatinya, mengkonfirmasi ketakutan terbesarnya: ia akan selalu menjadi Lia, sang "penyebab," sang "yang selamat," sang "luka" bagi orang-orang yang menyayangi Anya. Dan ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Bab 2

Sore itu di kafe berakhir dengan menyisakan jejak pahit di lidah Lia. Kata-kata Rizky mengikis lapisan tipis ketenangan yang susah payah ia bangun selama lima tahun terakhir. Ia pulang ke apartemennya dengan langkah gontai, otaknya dipenuhi gema tuduhan yang tak henti-hentinya. Setiap sudut ruangan terasa dingin, seperti pantulan dari hatinya yang membeku.

Lia melemparkan tasnya ke sofa, lalu menjatuhkan diri di atasnya. Ia meraih bantal, memeluknya erat, dan membiarkan isakan yang telah ia tahan sejak di kafe itu tumpah ruah. Ini bukan hal baru baginya. Malam-malam seperti ini, di mana bayangan Anya dan kecelakaan itu kembali menghantuinya, adalah rutinitas yang menyakitkan. Namun, kehadiran Rizky, dan kebencian yang terpancar jelas dari matanya, telah membuka kembali luka yang belum juga sembuh.

"Aku bukan penyebabnya..." bisik Lia di antara isaknya. "Aku tidak pernah menginginkan ini terjadi."

Tapi siapa yang akan percaya padanya? Keluarga Anya? Teman-teman Anya? Bahkan dirinya sendiri, di saat-saat tergelapnya, seringkali meragukan dirinya sendiri. Mengapa ia selamat? Mengapa bukan Anya? Pertanyaan itu adalah beban yang lebih berat daripada puing-puing mobil yang ringsek lima tahun lalu.

Lia teringat pemakaman Anya. Hujan turun rintik-rintik, seolah langit pun ikut berduka. Ia berdiri di sana, di samping kedua orang tua Anya yang hancur, merasakan tatapan menghakimi dari setiap pasang mata. Bibi Mira, ibu Anya, memeluknya erat, namun di balik pelukan itu, Lia bisa merasakan ketegangan, duka yang bercampur dengan pertanyaan tak terucap. Paman Hadi, ayah Anya, lebih parah lagi. Pria tegar itu tampak rapuh, dan setiap kali pandangannya bertemu dengan Lia, ada sorot kesedihan yang mendalam, seolah melihat dirinya adalah melihat pengingat akan kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Rizky hadir di sana. Ia berdiri di sisi lain kuburan, jauh dari Lia, namun tatapan matanya yang kosong dan penuh amarah tak pernah lepas dari Lia. Saat itu, Lia tahu, dendam telah berakar di hati Rizky. Cinta mereka terlalu besar, terlalu dalam, untuk tidak berubah menjadi kebencian yang sama besarnya. Anya adalah dunia Rizky, dan dunia itu hancur berkeping-keping di hari nahas itu.

Sejak hari itu, Lia memilih untuk mengasingkan diri. Ia pindah dari rumah orang tuanya yang berada dekat dengan rumah Bibi Mira dan Paman Hadi. Ia kuliah di universitas yang berbeda, di kota yang berbeda, mencoba membangun kembali hidupnya, sepotong demi sepotong. Ia memutus kontak dengan hampir semua teman lamanya, terutama mereka yang dekat dengan Anya dan Rizky. Ia ingin menghilang, menjadi tidak terlihat, agar tidak lagi menjadi pengingat yang menyakitkan bagi siapa pun.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Pertemuan tak sengaja dengan Maya, teman kuliah lama mereka, yang berujung pada janji di kafe itu, adalah sebuah jebakan. Lia tahu, Maya tidak bermaksud buruk. Ia hanya ingin mereka kembali berteman, menyatukan kembali kepingan masa lalu yang indah. Tetapi Maya tidak tahu, bahwa bagi Lia, masa lalu itu adalah luka yang menganga.

Lia meraih ponselnya, mencari foto lama. Jemarinya gemetar saat menemukan folder yang ia sembunyikan jauh di dalam galeri. Foto-foto Anya. Anya yang tersenyum ceria, Anya yang sedang memeluknya, Anya yang sedang tertawa lepas bersama Rizky. Senyum Anya, yang dulu adalah penyejuk hati Lia, kini terasa seperti bara api yang membakar jiwanya.

"Maafkan aku, Anya," bisik Lia, air mata membasahi layar ponselnya. "Maafkan aku karena aku masih hidup."

Keesokan harinya, Lia mencoba menjalani hari seperti biasa. Ia pergi ke kampus, duduk di kelas, mencoba fokus pada materi kuliah. Namun, pikiran Rizky dan kata-katanya terus-menerus berputar di benaknya. Sulit sekali untuk berkonsentrasi.

Setelah kuliah, Lia memutuskan untuk berjalan kaki pulang. Udara yang terik tidak mengurangi kebutuhan Lia untuk bergerak, untuk menguras energi yang menumpuk akibat emosi semalam. Ia berjalan tanpa tujuan, melewati jalanan ramai, menembus kerumunan orang. Ia berharap bisa menghilang dalam keramaian itu, melarikan diri dari bayangan masa lalu yang terus mengejarnya.

Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil namanya.

"Lia!"

Jantung Lia berpacu. Suara itu bukan suara Rizky, tapi suara yang ia kenali dengan baik. Lia menoleh, dan melihat sosok David, teman lama mereka, yang dulu juga dekat dengan Anya dan Rizky. David berlari kecil mengejarnya, wajahnya dipenuhi senyum ramah.

David. Lia mengenalnya sejak SMP. David adalah tipe pria yang selalu ceria, memiliki selera humor yang bagus, dan selalu bisa membuat suasana hati orang lain membaik. Ia juga salah satu orang yang ada di pesta ulang tahun teman mereka malam itu. Setelah kecelakaan, David adalah salah satu dari sedikit orang yang masih mencoba menghubunginya, namun Lia selalu menghindar.

"Lia, akhirnya ketemu juga!" David tersenyum lebar. "Aku sering lihat kamu di kampus, tapi kok susah banget diajak ngobrol?"

Lia merasa canggung. "David... hai. Maaf, aku... aku agak sibuk belakangan ini."

"Sibuk banget sampai nggak bisa balas chat atau angkat telepon?" David mengangkat alisnya, nada suaranya berubah menjadi lebih serius. "Lia, jujur aja. Kenapa sih kamu menghilang gitu aja? Kita semua khawatir sama kamu."

Lia menunduk. "Aku... aku cuma butuh waktu sendiri."

"Waktu sendiri lima tahun, Lia?" David mendesah. "Dengar, aku tahu kamu pasti berat banget. Kita semua juga. Kehilangan Anya itu pukulan telak buat kita semua. Tapi kamu nggak harus sendirian nanggung ini semua."

Lia diam. Ia tahu David tulus. David adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak menyalahkannya secara terang-terangan. Namun, tetap saja, kehadiran David mengingatkannya pada masa lalu, pada Anya, pada Rizky.

"Ngomong-ngomong soal itu," David melanjutkan, suaranya sedikit ragu. "Aku dengar kamu ketemu Rizky kemarin?"

Lia tersentak. Jadi, kabar sudah menyebar. Tentu saja, Maya pasti menceritakannya pada David. Dunia mereka memang sekecil itu.

"Iya," jawab Lia singkat.

David menatapnya lekat. "Bagaimana pertemuannya?"

Lia mengangkat bahu. "Tidak baik."

"Aku sudah menduganya," David menghela napas. "Rizky... dia berubah drastis setelah Anya tiada. Dia jadi sangat tertutup, penuh amarah. Aku mencoba mendekatinya, tapi dia selalu menjauh."

"Dia menyalahkanku, David," Lia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

David menatapnya dengan sorot iba. "Aku tahu, Lia. Dan itu tidak adil."

"Tidak adil?" Lia tertawa pahit. "Bagaimana bisa tidak adil? Aku yang selamat. Dia yang meninggal. Aku yang seharusnya mati, David!"

"Jangan bicara begitu!" David mencengkeram bahu Lia, sorot matanya tegas. "Itu kecelakaan, Lia! Bukan salahmu! Kamu di sana, kamu mencoba menolong. Anya... Anya hanya tidak seberuntung kamu."

"Tapi Rizky tidak berpikir begitu," kata Lia, air mata kembali menggenang di matanya. "Dan aku mengerti dia. Aku juga benci diriku sendiri karena selamat."

"Itu omong kosong!" David mengerutkan kening. "Dengar, aku tahu Rizky sedang sangat terluka. Dia melampiaskannya padamu. Tapi kamu harus tahu, Lia, bahwa itu bukan cerminan dari kebenaran. Kamu juga korban di sini. Kamu juga kehilangan Anya."

Lia hanya bisa mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat. Kata-kata David menghangatkan hatinya sedikit, namun rasa bersalah itu terlalu dalam, terlalu mengakar, untuk bisa lenyap begitu saja.

"Bagaimana dengan Rizky sekarang?" Lia memberanikan diri bertanya. "Apa... apa yang dia lakukan?"

David menghela napas. "Dia mengambil alih bisnis ayahnya. Dia jadi sangat sibuk, fokus ke pekerjaan. Tapi aku tahu, di balik semua kesibukan itu, dia masih membawa luka yang sama." David menatap Lia dengan sorot yang lebih lembut. "Dia sangat mencintai Anya, Lia. Kamu tahu itu."

Tentu saja Lia tahu. Rizky dan Anya adalah pasangan yang sempurna. Mereka bertemu di bangku SMA, cinta pertama yang bersemi indah. Anya selalu bercerita tentang betapa Rizky adalah dunianya, dan Lia seringkali menjadi pendengar setia dari kisah cinta mereka. Mereka memiliki rencana masa depan bersama, impian untuk membangun keluarga. Semua itu hancur dalam sekejap.

"Aku tahu," kata Lia pelan. "Aku tahu betul."

"Itu sebabnya dia bereaksi begitu padamu," David melanjutkan. "Bukan karena dia benar-benar membencimu, Lia. Tapi karena dia terlalu sakit. Dan kamu adalah pengingat paling nyata dari rasa sakitnya."

Kata-kata David membuat Lia berpikir. Apakah benar begitu? Apakah kebencian Rizky adalah manifestasi dari rasa sakitnya yang terlalu besar? Ataukah memang ada kemarahan yang tulus di sana, karena ia, Lia, adalah penyebab tragedi itu? Lia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa pertemuannya dengan Rizky telah merenggut kembali sedikit demi sedikit ketenangan yang telah ia usahakan.

"Aku harus pergi, David," kata Lia, merasa semakin tidak nyaman. "Aku ada urusan."

"Tunggu, Lia," David menahan lengannya. "Bisakah kita... bisa kita bertemu lagi? Aku ingin ngobrol banyak sama kamu. Aku kangen sama kamu."

Lia ragu. Ia ingin menolak, kembali ke isolasi yang nyaman. Namun, sorot mata David yang tulus membuatnya sulit untuk berkata tidak. David adalah jembatan ke masa lalunya, masa lalu yang indah, sebelum semua kehancuran ini terjadi.

"Baiklah," Lia setuju, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan menghubungimu."

David tersenyum lega. "Oke! Jangan cuma janji ya! Aku tunggu!"

Lia mengangguk, lalu bergegas pergi, meninggalkan David sendirian. Ia tahu, bertemu dengan David akan membuka lebih banyak lagi kenangan. Namun, ia juga sadar, ia tidak bisa lari selamanya. Bayangan Anya akan selalu ada. Rizky, dengan kebenciannya, juga akan selalu ada. Dan ia, Lia, harus belajar hidup dengan semua itu.

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Rizky dan David, hidup Lia terasa lebih berat. Ia mencoba tenggelam dalam kuliahnya, tetapi setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah Anya yang pucat, dan mendengar decitan ban mobil yang mengerikan. Ia juga teringat ekspresi mata Rizky yang dingin, penuh kebencian.

Suatu malam, Lia sedang belajar di perpustakaan kampus. Suasana sepi, hanya terdengar suara buku yang dibalik dan ketikan keyboard. Lia mencoba membaca jurnal penelitian, tetapi setiap kalimat terasa kabur. Ia tidak bisa fokus.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi media sosial. Lia jarang membukanya, terutama setelah insiden kecelakaan itu. Ia hanya menggunakan akunnya untuk keperluan kuliah. Namun, entah mengapa, malam itu ia merasa ingin membukanya.

Ia melihat sebuah postingan baru dari akun Rizky Julian. Jantungnya berdebar kencang. Rizky jarang sekali mengunggah apapun di media sosial. Lia membuka postingan itu dengan jari gemetar.

Itu adalah foto. Foto Anya. Anya yang sedang tersenyum lebar, memegang buket bunga mawar merah. Foto itu diambil di taman belakang rumah Anya, di hari ulang tahun Anya beberapa tahun lalu. Lia ingat hari itu. Mereka semua tertawa, makan kue, dan Anya sangat bahagia.

Di bawah foto itu, Rizky menuliskan sebuah caption:

"Lima tahun. Rasanya seperti baru kemarin kau di sini, di sampingku, membawa kebahagiaan. Setiap hari tanpamu adalah siksaan. Aku merindukanmu, Sayang. Selamanya di hatiku. Dan aku tidak akan pernah melupakan siapa yang membuatmu pergi."

Kalimat terakhir itu. Jelas sekali itu ditujukan padanya. Lia merasakan sengatan rasa sakit yang tajam di dadanya. Rizky tidak pernah berhenti menyalahkannya. Ia tidak akan pernah memaafkannya. Pesan itu, yang dibaca oleh ratusan orang, adalah pengingat publik akan statusnya sebagai "penyebab" di mata Rizky.

Lia menutup aplikasi itu dengan cepat, napasnya tersengal. Air mata kembali mengalir. Ia tidak bisa lari dari bayangan ini. Bahkan di dunia maya, di mana ia mencoba melarikan diri, Rizky masih bisa menjangkaunya, melemparkan tuduhannya, dan mengukuhkan perannya sebagai penjahat dalam kisah hidup Anya.

Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan buku-bukunya yang berserakan. Lia berjalan keluar dari perpustakaan, menembus malam yang dingin. Ia merasa sendirian, lebih sendirian dari sebelumnya. Ia adalah Lia, korban selamat yang terkutuk, luka yang tak kunjung sembuh bagi orang-orang yang menyayangi Anya. Dan malam itu, ia tidak tahu bagaimana ia akan bisa melanjutkan hidup dengan beban seberat ini.

Bagaimana Lia akan menghadapi bayangan Rizky yang terus-menerus menghantuinya, dan bagaimana ia akan mencari pengampunan, baik dari Rizky maupun dari dirinya sendiri, adalah pertanyaan yang menggantung di udara malam Jakarta.

Bab 3

Beberapa bulan berlalu sejak pertemuan pahit Lia dengan Rizky di kafe, dan unggahan Rizky di media sosial menjadi paku terakhir yang menancapkan Lia pada dinding rasa bersalah. Lia mencoba bangkit, fokus pada sisa masa kuliahnya. Ia tahu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus melangkah maju, bahkan jika setiap langkah terasa berat. Ia lulus dengan predikat cum laude, prestasi yang seharusnya membanggakan, namun terasa hampa di tengah badai emosi yang tak berkesudahan.

Dunia kerja menanti. Lia memutuskan untuk tidak kembali ke kota asalnya. Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, adalah tempat pelarian yang sempurna. Ia mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, berharap bisa menemukan tempat di mana ia bisa memulai lembaran baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu. Beberapa kali ia mendapatkan panggilan wawancara, namun entah mengapa, setiap kali ia nyaris mendapatkan pekerjaan, ada saja kendala. Seolah takdir sedang mempermainkannya.

Hingga suatu hari, sebuah email masuk. Lamaran yang ia kirimkan ke Nusa Abadi Group, sebuah konglomerat besar yang bergerak di berbagai sektor-mulai dari properti, teknologi, hingga media-mendapatkan respons positif. Lia diundang untuk wawancara tahap akhir. Perasaan cemas bercampur dengan sedikit harapan menyelimuti hatinya. Nusa Abadi Group adalah salah satu perusahaan impian banyak lulusan baru, terkenal dengan lingkungan kerja yang dinamis dan peluang karir yang menjanjikan.

Wawancara berjalan lancar. Lia, dengan segala keterbatasan emosionalnya, mampu menunjukkan kemampuannya dalam bidang manajemen dan strategi. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan lugas dan percaya diri, mengesankan para pewawancara. Seminggu kemudian, telepon berdering. Lia diterima. Ia akan bekerja sebagai asisten manajer proyek di divisi pengembangan bisnis, sebuah posisi yang cukup strategis untuk seorang fresh graduate.

Hati Lia berdesir. Ini adalah kesempatan baru, sebuah awal. Mungkin, di sinilah ia bisa melarikan diri dari masa lalu yang terus menghantuinya. Dengan tekad bulat, Lia menyiapkan diri untuk hari pertamanya.

Pagi itu, Lia tiba di gedung Nusa Abadi Group yang menjulang tinggi di pusat kota Jakarta. Kaca-kaca modern memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan siluet megah yang memesona. Lia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia melangkah masuk, melewati pintu putar otomatis, menuju lobi yang luas dan mewah. Aroma kopi dan parfum mahal menyelimuti indranya.

Ia melapor ke resepsionis, yang dengan ramah mengarahkannya ke lantai 25, divisi pengembangan bisnis. Lia naik lift, menekan angka 25. Di dalam lift, ia mematut diri di pantulan cermin. Gaun formal berwarna abu-abu, rambut yang diikat rapi, dan wajah yang berusaha menampilkan profesionalisme. Ia ingin meninggalkan semua masa lalu di luar gedung ini, menjadi Lia yang baru.

Pintu lift terbuka. Lia melangkah keluar, disambut suasana kantor yang sibuk namun teratur. Kubikel-kubikel modern, suara ketikan keyboard, dan obrolan samar-samar. Seorang wanita muda dengan rambut bob rapi menyambutnya di depan pintu kaca bertuliskan "Divisi Pengembangan Bisnis".

"Selamat pagi, Anda Lia Paramitha, kan?" tanya wanita itu dengan senyum ramah. "Saya Sarah, asisten manajer divisi. Selamat datang di Nusa Abadi Group."

"Selamat pagi, Sarah. Terima kasih." Lia tersenyum tipis.

"Mari saya antar ke ruangan Anda, dan saya akan perkenalkan Anda pada tim," kata Sarah, memimpin Lia menyusuri lorong. "Omong-omong, Anda sangat beruntung diterima di sini. Posisi ini sangat diincar."

Lia hanya mengangguk, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Mereka melewati beberapa ruangan dan kubikel. Beberapa karyawan menoleh dan tersenyum padanya. Lia merasa sedikit lebih lega. Mungkin ini akan baik-baik saja.

"Baiklah, Lia," Sarah berhenti di depan sebuah kubikel kosong. "Ini tempat Anda. Anda akan bekerja di bawah Pak Adrian, kepala divisi."

"Terima kasih, Sarah," Lia mulai meletakkan tasnya.

"Sama-sama. Oh, ya," Sarah teringat sesuatu. "Nanti jam 10 pagi, ada rapat rutin divisi di ruang meeting utama. Anda akan diperkenalkan secara resmi di sana. Sekalian, Anda akan bertemu dengan CEO."

Jantung Lia berdesir lagi. CEO? Sejak kapan seorang CEO ikut serta dalam rapat rutin divisi? Biasanya, itu hanya dihadiri oleh kepala divisi atau manajer senior. Namun, Lia mengabaikan firasatnya. Mungkin CEO perusahaan ini memang sangat aktif dan terlibat dalam setiap kegiatan.

"Baik, Sarah. Terima kasih informasinya," kata Lia.

Sarah mengangguk. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bertanya. Saya ada di kubikel ujung sana."

Lia mengangguk dan mulai menata mejanya. Ia mencoba menghirup aroma kantor yang baru, menenangkan pikirannya. Ini adalah babak baru. Ia harus fokus. Ia harus melupakan semua yang terjadi.

Jam menunjukkan pukul 09:55. Lia merasa gugup. Ia membenahi pakaiannya sekali lagi, merapikan rambutnya, lalu berjalan menuju ruang meeting utama yang ditunjukkan Sarah. Pintu ruang meeting terbuka lebar. Beberapa orang sudah duduk di dalam, sebagian besar adalah wajah-wajah baru yang belum ia kenal.

Ia melangkah masuk, mencari kursi kosong. Sebuah kursi di pojok, agak tersembunyi, tampak menarik. Lia berjalan ke arah sana. Saat ia hendak duduk, suara pintu meeting yang bergeser menarik perhatian semua orang.

Semua mata tertuju pada pintu. Dan Lia, saat ia menoleh, dunianya kembali berputar.

Seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam yang rapi melangkah masuk. Aura dominan terpancar kuat darinya. Rambut hitamnya tertata rapi, rahangnya tegas, dan mata itu... mata yang Lia kenali dengan sangat baik. Mata yang dulu memancarkan kehangatan dan cinta, kini dipenuhi oleh bayangan kelam yang tak terlukiskan.

Rizky.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap semua orang dengan sorot mata yang dingin. Kemudian, pandangannya menyapu ruangan, dan berhenti tepat pada Lia.

Waktu terasa berhenti. Udara di dalam ruangan tiba-tiba menjadi tipis. Lia merasakan darahnya berdesir, lalu mengalir deras ke seluruh tubuhnya, meninggalkan rasa dingin yang membekukan. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Ia hanya bisa menatap mata Rizky, yang kini membelalak sedikit, menunjukkan ekspresi terkejut yang samar, sebelum kembali mengeras, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.

Rizky. CEO Nusa Abadi Group. Bagaimana mungkin? Ia tidak pernah tahu. Lia tidak pernah mencari tahu siapa pemilik perusahaan itu. Ia hanya melihat nama "Nusa Abadi Group" di iklan lowongan kerja, dan melamar begitu saja. Takdir. Ya, ini pasti takdir yang kejam.

"Selamat pagi semuanya," suara Rizky terdengar, dalam dan berwibawa, namun di telinga Lia, suara itu seperti gema dari neraka. "Maaf sedikit terlambat."

Tidak ada yang menjawab. Semua orang masih terpaku pada kehadiran Rizky. Ia melangkah menuju kursi di ujung meja, kursi kepala. Tatapannya sesekali melirik Lia, tatapan yang membuat Lia merinding.

Adrian, kepala divisi pengembangan bisnis, yang baru saja diperkenalkan Lia pagi itu, berdeham. "Baik, Pak Rizky sudah hadir. Mari kita mulai rapatnya."

Lia masih berdiri kaku, kakinya terasa seperti jeli. Ia ingin lari, ingin menghilang, ingin menembus lantai dan lenyap dari hadapan Rizky. Namun, ia tidak bisa. Ia harus tetap di sana, harus menghadapi ini.

Adrian memulai presentasinya tentang kinerja divisi. Lia mencoba mendengarkan, namun semua kata-kata Adrian terasa seperti dengungan jauh. Ia hanya bisa merasakan tatapan Rizky yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tatapan itu adalah pisau yang mengiris-iris pertahanannya.

Setelah Adrian selesai, giliran beberapa manajer lain yang menyampaikan laporan. Suasana rapat formal dan serius. Sampai akhirnya, Adrian berdeham lagi.

"Baiklah, sebelum kita melanjutkan ke agenda berikutnya," Adrian tersenyum ramah ke arah Lia, "Saya ingin memperkenalkan anggota baru kita. Lia Paramitha."

Semua mata kini tertuju pada Lia. Lia memaksa dirinya untuk tersenyum, senyum kaku yang tidak sampai ke matanya. Ia merasakan tatapan Rizky yang tak berkedip, menelanjanginya.

"Lia akan mengisi posisi asisten manajer proyek di tim kami. Dia lulusan terbaik dari universitasnya, dan kami sangat antusias menyambutnya," Adrian menambahkan.

Tepuk tangan samar terdengar dari beberapa rekan kerja. Lia mengangguk, mencoba terlihat tenang. Namun, di dalam hatinya, badai telah pecah.

Rizky, yang tadinya hanya menyimak, kini mengangkat tangan. "Selamat datang, Lia Paramitha."

Suara Rizky itu, yang dulu dipenuhi kelembutan saat memanggil namanya, kini terdengar dingin, penuh penekanan, seolah setiap suku kata adalah sebuah tuduhan.

"Saya harap Anda bisa beradaptasi dengan cepat di sini," Rizky melanjutkan, suaranya tenang namun memiliki nada yang mengintimidasi. "Terutama karena kita sudah memiliki sejarah panjang, bukan begitu?"

Kalimat itu, yang diucapkan dengan senyum tipis yang bukan senyum, membuat Lia merasakan hawa dingin merambat di tulang punggungnya. Semua orang di ruangan itu saling berpandangan, bingung dengan komentar Rizky. Mereka tidak tahu apa-apa tentang "sejarah panjang" yang dimaksud. Hanya Lia yang mengerti. Itu adalah sebuah peringatan, sebuah ancaman terselubung.

Lia mencoba membalas tatapan Rizky, namun ia tidak sanggup. Ia hanya bisa menunduk, merasakan pipinya memanas.

"Baiklah," Rizky melanjutkan, suaranya kembali datar. "Saya rasa cukup perkenalannya. Mari kita lanjutkan rapat."

Rapat berlanjut, namun bagi Lia, waktu terasa berjalan sangat lambat. Ia tidak bisa fokus sama sekali. Setiap kali ia melirik ke arah Rizky, pria itu selalu menatapnya, sorot matanya yang tajam menembus jiwanya. Lia tahu, ini bukan kebetulan. Ini adalah perangkap. Takdir memang kejam.

Rapat berakhir. Para karyawan mulai beranjak dari tempat duduk mereka, sebagian saling berbincang. Lia buru-buru membereskan barang-barangnya, berharap bisa segera keluar dari ruangan itu sebelum Rizky mendekatinya. Namun, ia kalah cepat.

"Lia Paramitha," suara Rizky memanggil, menusuk telinganya.

Lia berhenti, memejamkan mata sesaat, lalu berbalik. Rizky berdiri di dekat meja, menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Hanya mereka berdua dan Adrian yang masih tersisa di ruangan itu.

"Ya, Pak Rizky?" Lia mencoba bersikap formal, meski suaranya bergetar.

Rizky berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa mengancam. "Saya tidak menyangka akan melihatmu di sini."

"Saya juga, Pak," jawab Lia, berusaha terdengar tenang. "Saya melamar karena saya melihat lowongan dan mengira ini adalah kesempatan yang bagus."

Rizky mendengus. "Kesempatan bagus? Atau kesempatan untuk kembali menghantui hidupku?"

Adrian, yang berdiri di samping Rizky, tampaknya merasa tidak nyaman dengan suasana yang tegang. "Uhm, Pak Rizky, apa ada yang perlu saya siapkan lagi?"

Rizky melambaikan tangannya tanpa menoleh dari Lia. "Tidak, Adrian. Kau boleh pergi. Aku perlu bicara sebentar dengan Lia."

Adrian mengangguk canggung, lalu bergegas keluar, meninggalkan Lia sendirian di hadapan Rizky.

"Apa maksudmu dengan menghantui hidupmu?" Lia bertanya, mengumpulkan keberaniannya.

Rizky menyeringai pahit. "Kau tahu betul maksudku, Lia. Setelah semua yang terjadi, kau berani muncul di perusahaanku? Di tempat kerjaku? Apakah kau sengaja melakukan ini?"

"Tentu saja tidak!" Lia membantah, suaranya meninggi. "Aku tidak tahu ini perusahaanmu! Aku hanya melamar pekerjaan! Aku butuh pekerjaan!"

"Butuh pekerjaan?" Rizky mengangkat alisnya. "Atau kau ingin melihat seberapa jauh kau bisa masuk ke dalam hidupku lagi?"

"Aku tidak sejahat itu, Rizky!" Lia membalas, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Aku tidak pernah berniat... membuat Anya pergi."

Mendengar nama Anya, Rizky tersentak. Ekspresi wajahnya berubah dari amarah menjadi kesedihan yang mendalam. Namun, kesedihan itu cepat digantikan oleh kemarahan yang membara.

"Jangan pernah sebut namanya!" Rizky membentak, suaranya menggelegar di ruang meeting yang sepi. "Kau tidak punya hak untuk menyebut namanya setelah semua yang kau lakukan!"

"Aku tidak melakukan apa-apa!" Lia membalas, suaranya bergetar karena emosi. "Itu kecelakaan! Kecelakaan! Apakah kau tidak mengerti itu? Apakah kau pikir aku tidak menderita karena ini? Aku juga kehilangan Anya!"

"Kau kehilangan Anya?" Rizky tertawa hampa. "Kau masih hidup, Lia! Kau masih bisa menghirup udara ini, melihat matahari terbit dan terbenam! Anya tidak bisa! Dan itu karena kau!"

"Aku bukan penyebabnya!" Lia membantah lagi, kali ini dengan suara lebih keras. "Aku di sana, Rizky! Aku melihat semuanya! Truk itu! Sopirnya yang ugal-ugalan! Aku berteriak pada Anya, aku melihat dia membanting setir! Dia mencoba menghindar! Tapi tidak cukup cepat! Kenapa kau tidak mau percaya padaku?!"

Rizky menatapnya tajam, matanya memancarkan rasa sakit yang dalam. "Aku melihatmu di samping Anya malam itu, Lia. Aku melihatmu selamat. Aku melihat Anya... terbaring tak bernyawa. Dan aku melihatmu hidup. Itu cukup bagiku."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Udara terasa berat, penuh dengan tuduhan tak terucap dan rasa sakit yang tak terlukiskan. Lia menatap Rizky, pria yang dulu sangat ia hormati, pria yang dulu adalah separuh jiwa Anya. Kini, ia hanya melihat sosok yang hancur, yang dibakar oleh dendam, dan ia menjadi sasarannya.

"Kau tidak bisa bekerja di sini, Lia," kata Rizky akhirnya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja di perusahaanku."

Lia merasa jantungnya mencelos. "Apa maksudmu?"

"Aku akan meminta HR untuk membatalkan tawaran kerjamu," kata Rizky, ekspresinya datar. "Kau tidak bisa menjadi bagian dari Nusa Abadi Group. Tidak saat aku yang memimpin."

"Kau tidak bisa melakukan itu!" Lia terkesiap. "Aku sudah diterima! Aku sudah menandatangani kontrak!"

"Tentu saja bisa," Rizky menyeringai tipis. "Aku pemiliknya, Lia. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Termasuk memastikan kau tidak akan pernah bekerja di bawah atap yang sama denganku."

Air mata Lia tumpah lagi. Mimpi yang baru saja ia bangun, harapan untuk memulai kembali, hancur berkeping-keping di hadapan Rizky. Ini bukan hanya tentang pekerjaan, ini tentang martabatnya, tentang usahanya untuk bangkit.

"Kau... kau sangat kejam, Rizky," Lia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

Rizky menatapnya, matanya tanpa emosi. "Kejam? Kau ingin tahu apa itu kejam, Lia? Kejam itu adalah bangun setiap pagi dan tahu bahwa wanita yang kucintai tidak lagi bernapas, sementara orang yang terakhir bersamanya masih hidup dan menghirup udara yang sama." Ia menunjuk Lia dengan jari telunjuknya. "Itu kejam. Dan kau adalah alasan mengapa aku merasakan kekejaman itu setiap hari."

Lia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Rizky, merasakan hancurnya harapannya, diinjak-injak oleh kebencian pria itu. Ia tahu, di mata Rizky, ia akan selalu menjadi Lia, sang "penyebab", yang "mengambil" Anya dari dunia ini. Dan di kantor barunya ini, di mana ia berharap bisa memulai hidup baru, ia justru bertemu kembali dengan bayangan tergelap dari masa lalunya.

"Pergilah, Lia," kata Rizky, suaranya final. "Dan jangan pernah kembali."

Lia tidak menunggu lagi. Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang meeting dengan langkah gontai, meninggalkan Rizky dan sisa-sisa mimpinya yang hancur di belakangnya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, harus berbuat apa. Jakarta yang luas tiba-tiba terasa begitu sempit, dan Lia tahu, ia tidak akan pernah bisa lari dari takdir yang terus-menerus mempermainkannya.

Bagaimana Lia akan menghadapi pemecatan yang tidak adil ini, dan apakah ada cara baginya untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah kepada Rizky?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED