Bab 1

Eleonore Duvall berdiri di balkon kamar tidurnya, memandangi kota Paris yang sibuk, kota yang kini menjadi rumahnya meski hatinya tak pernah benar-benar menganggapnya demikian. Lantai bawah, suara kaca-kaca kristal berbunyi, dan tertawa samar terdengar dari ruang makan besar di bawah. Segala sesuatu yang ada di sini milik keluarganya-semua yang dulu menjadi miliknya. Tapi kini, setelah dua tahun pernikahan yang dipaksakan, setiap sudut rumah ini terasa seperti sebuah ruang penjara yang penuh dengan kenangan yang seharusnya tak ada.

Tangan Eleonore menggenggam erat gelas wine merah di tangannya, seakan ingin menghancurkannya. Pikirannya melayang kembali pada malam itu-malam yang mengubah segalanya. Malam yang membuatnya terjebak dalam pernikahan ini, terjerat dalam perasaan yang menggerogoti hatinya, kebencian yang semakin mendalam.

Kaelan Ravenswood, nama itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya berdebar dalam perasaan yang tak bisa dia kendalikan. Kaelan, suaminya yang terikat dalam takdir ini, adalah pria yang seharusnya tidak ada dalam hidupnya. Bukan karena dia tidak berhak atau tidak layak, tetapi karena dia adalah pria yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya yang telah meninggal, Madeleine.

Tapi takdir berkata lain.

Setelah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa keluarganya, Eleonore menjadi pewaris tunggal dari Duvall Enterprises. Dan seiring dengan itu, dia terikat dalam pernikahan dengan Kaelan-bukan karena cinta, tetapi karena alasan yang jauh lebih rumit. Pernikahan ini adalah jalan pintas untuk mengamankan masa depan perusahaan dan juga membayar hutang keluarga besar Ravenswood yang membebani nama besar keluarganya.

"Eleonore?" Suara Kaelan terdengar dari belakangnya. Eleonore menghela napas berat dan berbalik, matanya bertemu dengan sosok pria yang berdiri di ambang pintu. Kaelan mengenakan setelan hitam elegan, penampilannya tetap menawan, seperti biasa. Namun, di balik penampilannya yang dingin dan terkontrol, Eleonore tahu ada sesuatu yang lebih gelap.

"Kaelan," jawab Eleonore dengan nada datar. "Apa yang kamu inginkan?" Suaranya tak bergetar, meski hatinya seperti terguncang setiap kali berhadapan dengan pria itu.

Kaelan mengangkat alis, seolah tak terpengaruh oleh nada dingin dalam suara istrinya. "Tampaknya kamu tidak terlalu senang melihatku."

"Seharusnya kamu sudah tahu jawabannya," balas Eleonore. Dia menatapnya tajam, seolah ingin menembus kedalaman jiwa pria itu dan menemukan kebohongan-kebohongan yang dia sembunyikan. "Aku tidak ingin pernikahan ini. Dan kamu tahu itu."

Kaelan mendekat, tubuhnya tinggi dan tegap, aura misterius yang selalu mengelilinginya semakin terasa kuat. Dia berhenti tepat di depan Eleonore, hanya beberapa inci memisahkan mereka. Eleonore bisa merasakan pernapasan Kaelan yang hangat menyentuh kulitnya, namun dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketegangan yang mulai menjalar di tubuhnya.

"Kalau begitu," Kaelan berkata, suaranya lebih lembut dari yang biasa dia dengar, "mengapa kamu tidak pernah berusaha untuk melawan? Mengapa kamu tidak pernah melawan takdir ini?"

"Takdir?" Eleonore tersenyum pahit. "Takdir tidak bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain, Kaelan. Kau adalah bagian dari kehancuran keluargaku. Kau adalah salah satu alasan kenapa aku terjebak dalam pernikahan ini."

Kaelan menatapnya dalam-dalam, seperti sedang mencari sesuatu di balik kata-katanya yang tajam. "Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan nada yang sulit dipahami. "Apa yang terjadi pada keluargamu... itu bukan salahku. Kamu pikir aku akan membiarkan mereka menghancurkan segala yang aku punya?"

Eleonore menggigit bibirnya, menahan amarah yang semakin meluap. "Jangan berpura-pura tidak tahu. Keluarga Ravenswood punya hutang yang besar pada keluarga kami. Dan kamu tahu, pernikahan ini adalah cara untuk membayar hutang-hutang itu. Jangan coba bermain dengan kata-kata."

Kaelan diam, tetapi tatapannya menjadi lebih tajam. "Kau masih belum mengerti, bukan? Kamu tidak tahu betapa rumitnya ini semua. Aku tidak bisa hanya membiarkan segala sesuatunya hancur begitu saja."

Eleonore merasakan emosi yang tak bisa ia kendalikan. "Rumit? Kamu membuat segalanya rumit. Dan aku tidak akan terus-menerus terjebak dalam permainan ini."

Suaranya naik, namun Kaelan tetap tenang. "Kau lupa siapa yang berkuasa di sini, Eleonore."

Sekilas, ada kilatan tajam dalam matanya, tapi hanya sesaat. "Kau bisa terus mencoba melawan, tapi aku akan melakukan apapun untuk memastikan kita tidak berpisah." Suaranya bergetar dengan tekad yang tidak bisa disembunyikan.

Tiba-tiba, Eleonore teringat pada malam itu-malam sebelum pernikahan mereka. Sebelum segalanya berubah, sebelum mereka terjebak dalam permainan ini. Mereka berbagi malam yang penuh gairah, sebuah malam yang seharusnya tidak terjadi. Itu adalah malam yang mengubah segalanya, mengikat mereka dalam cara yang tidak bisa mereka lupakan.

Eleonore mengalihkan pandangannya, tidak ingin Kaelan melihat keraguan yang mulai muncul di dalam dirinya. "Aku tidak ingin ada yang mengikat kita. Aku hanya ingin keluar dari sini," katanya dengan suara yang rendah, namun penuh keteguhan.

Kaelan menghela napas, meski matanya tidak melepas tatapan tajam Eleonore. "Kau masih tidak mengerti, Eleonore," katanya, suaranya lebih serius, "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Bahkan jika itu berarti aku harus mengorbankan segala sesuatu untukmu."

Eleonore merasa hatinya berdebar keras. Ada sesuatu dalam kata-kata Kaelan yang membuatnya merasa terperangkap. Keputusan untuk melawan pernikahan ini semakin sulit, karena semakin dia mencoba menjauh, semakin Kaelan berusaha menariknya kembali.

Namun, ada sesuatu yang lebih besar dari perasaan yang mulai mengganggunya-sesuatu yang harus diungkapkan. Sesuatu yang menyimpan rahasia yang begitu gelap dan dalam. Eleonore tahu ada sesuatu yang Kaelan sembunyikan, rahasia yang mungkin akan meruntuhkan segala yang dia tahu tentang keluarga dan hidupnya.

"Tunggu," Eleonore tiba-tiba berkata, suaranya berubah. "Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, Kaelan? Siapa kamu sebenarnya?"

Kaelan hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa dipahami Eleonore. "Semua akan terungkap pada waktunya, Eleonore," jawabnya pelan, "Tapi tidak sekarang."

Sebelum Eleonore bisa berkata lebih lanjut, Kaelan mundur dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah tenang. Eleonore hanya bisa berdiri di sana, memandangi pintu yang tertutup, hati yang terombang-ambing antara kebencian dan... keinginan untuk tahu lebih banyak.

Dua tahun lamanya mereka hidup dalam pernikahan tanpa cinta, terperangkap dalam kebencian yang saling mengikat. Namun, sekarang Eleonore merasakan perubahan yang aneh dalam dirinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, yang sepertinya berasal dari kedekatannya dengan Kaelan. Perasaan yang ia simpan begitu lama mulai mengancam untuk meledak.

Dia harus mencari kebenaran. Tidak hanya untuk membuktikan dirinya benar, tetapi juga untuk membebaskan dirinya dari perasaan yang semakin menggerogoti hatinya.

Akan tetapi, bagaimana jika kebenaran yang terungkap tidak akan seperti yang dia harapkan?

Bab 2

Eleonore tidak bisa tidur malam itu. Meski tubuhnya lelah, pikirannya terus berputar, mengitari sosok Kaelan yang tak kunjung keluar dari benaknya. Setiap kata yang dia ucapkan, setiap tatapan yang dia lemparkan, seolah menyusup ke dalam setiap sudut pikiran Eleonore. Ada yang tidak beres. Itu yang dirasakannya. Ada sesuatu yang Kaelan sembunyikan. Sesuatu yang bahkan mungkin jauh lebih gelap dari yang dia bayangkan.

Di luar jendela, langit sudah mulai berubah. Fajar perlahan menyusup masuk ke kamar, memecah kesunyian yang terjalin sejak malam. Eleonore menatap ke luar jendela, merasakan angin pagi yang lembut menyentuh wajahnya. Dia ingin kabur, ingin lari dari semuanya. Tapi dia tahu itu bukanlah solusi. Dia tidak bisa bersembunyi selamanya.

Tidak ada yang bisa dia percayai lagi. Keluarganya sudah tiada, dan yang tersisa hanya kekayaan yang semakin banyak, yang semakin membuatnya terbelenggu. Dalam keadaan seperti ini, dia tak pernah merasa lebih kesepian.

Di saat seperti ini, Eleonore tahu dia harus mencari jawaban. Pencarian ini lebih dari sekadar mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas kematian keluarganya. Ini tentang menemukan siapa dirinya di dunia yang tidak lagi mengenalinya. Tentang siapa Kaelan yang sebenarnya.

Eleonore menyadari satu hal yang tak bisa ia hindari. Kaelan memiliki kekuatan. Bukan hanya kekayaan yang melimpah dari keluarga Ravenswood, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang membuatnya begitu berpengaruh, begitu memikat, dan sekaligus menakutkan.

Setelah berjam-jam berpikir dan merencanakan langkahnya, Eleonore memutuskan untuk mencari informasi lebih dalam. Dia perlu menggali lebih banyak tentang Kaelan dan hubungan keluarga mereka. Tetapi, mengetahui bahwa segala gerak-geriknya diawasi ketat, dia harus hati-hati. Segala sesuatunya harus direncanakan dengan sempurna, tanpa jejak.

Dia memasuki kantor pribadi ayahnya, ruangan yang selalu terasa seperti tempat yang penuh dengan kenangan pahit. Meja kayu besar yang dahulu menjadi tempat ayahnya bekerja kini terlihat sepi, dengan hanya tumpukan dokumen dan arsip yang tertinggal. Eleonore membuka laci meja ayahnya, mencoba mencari sesuatu yang bisa membantunya.

Matanya terhenti pada sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Eleonore merasa ada yang aneh, ada sesuatu yang misterius di dalam kotak itu. Tanpa pikir panjang, dia membuka laci tempat kotak itu disimpan dan mengeluarkannya. Guncangan yang dia rasakan hampir membuatnya ragu, tapi rasa ingin tahu yang menguasai dirinya membuatnya mengabaikan rasa takut itu.

Dengan hati-hati, dia mencoba membuka kotak itu. Kunci itu ternyata tersimpan di dalam laci sebelahnya, seolah sudah dipersiapkan untuknya. Eleonore membuka kotak itu, dan di dalamnya terdapat serangkaian dokumen yang usang, foto-foto lama, dan surat-surat yang sepertinya tidak pernah sampai ke tujuannya.

Namun, satu foto di antara semuanya menarik perhatiannya. Foto itu memperlihatkan ayahnya, yang tampak jauh lebih muda, sedang berdiri di samping seorang pria yang tak dikenal, dengan senyuman tipis yang menggelikan. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kaelan, dan tanpa ragu, Eleonore dapat merasakan bahwa pria itu adalah Kaelan, meskipun foto itu diambil bertahun-tahun yang lalu.

"Kenapa foto ini ada di sini?" gumam Eleonore, merasakan kegelisahan merayap di dalam dirinya.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan suara keras, dan Eleonore terlonjak kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara itu begitu dalam dan dingin, suara Kaelan.

Eleonore berbalik, dan sosok Kaelan berdiri di ambang pintu, matanya tajam menatapnya. Eleonore tak bisa mengelak. Dia tahu, dia sudah terperangkap.

"Kaelan," suara Eleonore bergetar sedikit, meski dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahannya. "Ada sesuatu yang harus aku ketahui."

Kaelan tidak bergerak, tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan tajam. "Apa yang kau cari, Eleonore?" tanyanya, nada suaranya begitu tenang, bahkan menakutkan. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Kamu sedang menggali sesuatu yang seharusnya tidak perlu kamu ketahui."

Eleonore mencoba menenangkan dirinya. "Aku hanya ingin tahu siapa kamu sebenarnya," jawabnya pelan. "Dan apa yang terjadi pada keluargaku. Kenapa ayahku menyimpan foto ini? Apa hubunganmu dengan mereka, Kaelan?"

Kaelan tidak langsung menjawab. Dia maju selangkah, dan Eleonore merasa dadanya semakin sesak. "Keluargamu... mereka terjebak dalam dunia yang lebih gelap daripada yang kau bayangkan, Eleonore. Semua yang terjadi pada mereka, dan apa yang terjadi padamu, itu bukan kebetulan."

Eleonore merasa darahnya berdesir. "Jadi, apa yang kamu katakan? Kau terlibat dalam semuanya?" Suaranya mulai meninggi, mengungkapkan ketegangan yang semakin memuncak dalam dirinya.

Kaelan menghela napas. "Aku terlibat, ya. Tapi itu bukan seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ingin kau terjebak dalam permainan ini, Eleonore." Tatapannya tajam, namun ada kesedihan dalam matanya yang sulit dia pahami. "Tapi, jika kamu terus menggali, kamu akan menemukan lebih dari yang kau inginkan. Tidak ada jalan keluar lagi."

Tiba-tiba, Eleonore merasa dunia sekelilingnya seperti berputar. Semua yang dia percayai-semua yang dia anggap benar-ternyata hanyalah lapisan tipis yang menutupi kebenaran yang jauh lebih kelam. Semua yang dia pikirkan tentang Kaelan mungkin hanya sebagian dari cerita yang jauh lebih besar.

"Kaelan," ucapnya, suara itu hampir seperti bisikan. "Apa yang terjadi pada keluarga kami? Apa yang kau sembunyikan dariku?"

Kaelan hanya diam sejenak, lalu berkata dengan nada yang lebih dalam, "Suatu saat, kau akan tahu jawabannya. Tapi tidak hari ini, Eleonore."

Eleonore ingin membalas, tetapi kata-kata itu terhenti di bibirnya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini, dan dia tahu bahwa mengungkapnya tidak akan mudah. Tapi kini, lebih dari sebelumnya, dia merasa tak ada pilihan selain terus menggali, terus mencari jawaban.

Tetapi, satu pertanyaan yang menggantung di benaknya adalah: apakah dia siap untuk menghadapi kebenaran yang akan datang, yang mungkin akan merobek segalanya yang dia percayai?

Bab 3

Eleonore tidak tidur sama sekali malam itu. Bahkan, saat pagi menyapa dengan kehangatan yang penuh janji, pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Kaelan, yang menembus kesunyian ruangan itu dengan tajam. "Tidak ada jalan keluar lagi." Kalimat itu terngiang-ngiang dalam benaknya, membangkitkan rasa takut yang sulit dijelaskan. Apakah kata-kata Kaelan itu berarti bahwa ia terjebak dalam lingkaran tak terhindarkan? Atau, mungkin lebih buruk lagi, adakah dia telah menarik dirinya ke dalam perangkap yang lebih dalam dari yang dia bayangkan?

Setelah pertemuan mereka yang tegang di ruang kerja ayahnya, Eleonore tahu bahwa ia tidak bisa duduk diam. Kaelan telah memberinya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Itu adalah strategi yang sering dia pakai, membuat lawannya terpojok, namun tetap tidak memberi petunjuk tentang langkah selanjutnya. Tapi untuk Eleonore, tidak ada lagi jalan mundur. Jika ia ingin bertahan, jika ia ingin mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup rapat, maka ia harus terus maju.

Pagi itu, ia memutuskan untuk mencari lebih banyak petunjuk tentang hubungan ayahnya dengan Kaelan. Ada lebih banyak yang harus dia gali, lebih dalam lagi. Keputusan itu membuatnya merasa seperti berada di dalam labirin gelap tanpa ujung. Tapi ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa.

Setelah beberapa jam di ruang arsip keluarga, Eleonore akhirnya menemukan dokumen yang tampaknya berhubungan langsung dengan Kaelan. Di antara tumpukan kertas-kertas yang berdebu dan rapuh, ia menemukan sebuah surat yang ditulis dengan tangan, yang ternyata berasal dari ayahnya. Surat itu ditujukan kepada seseorang yang hanya tertulis dengan inisial "K.W." Eleonore merasa jantungnya berhenti sejenak. Siapa lagi yang bisa dimaksud dengan "K.W." selain Kaelan Wilder?

Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu dan mulai membacanya. Tulisan di atas kertas itu memberi tahu banyak hal-lebih banyak dari yang bisa ia terima dalam satu waktu.

"K.W.,

Jika kamu benar-benar ingin melanjutkan ini, kamu harus berhati-hati. Aku tahu persis apa yang kamu rencanakan, dan aku tahu betul bahwa langkahmu akan membahayakan lebih banyak dari yang kamu pikirkan. Jika kamu benar-benar ingin membuat keputusan ini, kamu tidak hanya bermain dengan api, tapi dengan seluruh dunia yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan."

Surat itu berlanjut, tetapi kata-kata itu begitu kabur dan sulit dimengerti. Eleonore tidak bisa menahan diri untuk merasakan beban yang mendalam saat membaca setiap kata. Ayahnya-sosok yang selalu tampak tak tergoyahkan dan penuh kuasa-ternyata telah terlibat dalam sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih berbahaya daripada yang bisa dia pahami. Apakah Kaelan mengetahui ini semua? Apakah itu bagian dari alasan di balik kematian keluarganya?

Tiba-tiba, pintu ruang arsip terbuka dengan keras, membuat Eleonore terlonjak. Ia menoleh, dan di ambang pintu berdiri sosok yang sudah tidak asing lagi: Kaelan.

"Sekali lagi, Eleonore," Kaelan berkata dengan nada datar, "Kau harus berhenti menggali hal-hal yang seharusnya tidak kau ketahui." Tatapannya penuh peringatan, namun ada kesan bahwa ia tidak sepenuhnya serius. Seolah ada bagian dari dirinya yang ingin melihat apakah Eleonore akan melanjutkan pencariannya.

Eleonore merasa darahnya berdesir. "Kau tahu apa yang ada di sini, kan?" tanyanya dengan suara bergetar, memegang surat yang baru saja dia temukan. "Apa yang kau sembunyikan, Kaelan? Apa yang ayahku tulis tentangmu? Ini lebih dari sekadar pertemuan bisnis, bukan? Apa yang terjadi di masa lalu? Apa yang terjadi dengan keluargaku?"

Kaelan menghela napas, berjalan mendekat dengan langkah tenang, seolah segala ketegangan yang ada di antara mereka hanya hal yang sepele. "Terkadang, Eleonore, lebih baik tidak tahu. Ada kebenaran yang lebih buruk daripada yang bisa kau bayangkan."

Eleonore menatapnya tajam. "Aku harus tahu, Kaelan. Aku berhak tahu apa yang terjadi pada keluargaku. Aku berhak tahu siapa yang bertanggung jawab atas semuanya!"

Kaelan berhenti tepat di depan Eleonore, dan dalam sekejap, atmosfer di antara mereka berubah. "Apa yang kau cari, Eleonore, bukanlah jawaban yang kau inginkan. Tidak ada jalan kembali setelah ini. Apa yang terjadi pada keluargamu-semua itu adalah bagian dari permainan yang lebih besar, permainan yang telah dimulai jauh sebelum kau tahu apa-apa. Kalau kau terus menggali, mungkin kau akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kau tanggung."

Kaelan melangkah mundur, namun tatapannya tetap mengunci Eleonore. "Kau harus memutuskan sendiri, Eleonore. Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau harus siap untuk membayar harga yang sangat mahal."

Eleonore berdiri di tempat, tubuhnya seolah membeku. Kata-kata Kaelan menggema di dalam pikirannya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang nyata. Ini bukan sekadar pencarian untuk kebenaran. Ini adalah perang yang melibatkan lebih dari sekadar keluarga dan harta, tetapi kehidupan dan kematian. Ia harus berpikir dua kali, tetapi dia tahu-tidak ada jalan mundur.

Sejak pertemuan itu, Eleonore merasa seperti hidup di tepi jurang. Setiap langkah yang dia ambil, setiap keputusan yang dia buat, bisa saja menjadi langkah terakhirnya dalam pencarian ini. Namun, meski rasa takut itu terus membayangi setiap detik hidupnya, Eleonore tidak bisa berhenti.

Dia tahu bahwa untuk mendapatkan jawaban, dia harus melawan. Melawan Kaelan, melawan masa lalu, dan mungkin, bahkan melawan dirinya sendiri.

Satu hal yang dia pahami sekarang adalah: Kaelan bukan hanya seorang pria yang terjebak dalam skema yang lebih besar. Dia adalah bagian dari sistem yang telah menghancurkan segalanya yang Eleonore percayai. Tetapi apakah itu berarti dia bisa percaya padanya? Apakah ada kesempatan bagi mereka berdua untuk keluar dari permainan ini hidup-hidup?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED