"Sekarang, buka baju kamu."
Perempuan itu terperangah, menggenggam erat ujung rok yang dikenakan. Dia hanya menunduk saat pria di depannya itu terus memperhatikannya.
"Kenapa masih diam?"
Perlahan, dia melirik. Mata yang menyorot tajam itu terlihat sangat menakutkan. Ingin lari, tapi dia sudah terlanjur berikrar. Jika kabur pun percuma. Dia sekarang hanya binatang buruan. Tak akan bisa lepas dari belenggu orang-orang berkuasa ini.
"Nurut? Atau aku paksa pakai kekerasan?"
Dia adalah Diandra. Seorang gadis miskin yang harus bekerja di cafe resto setelah lulus SMA. Dia hidup dengan seorang ibu yang sakit-sakitan dan gadis itu terpaksa bekerja keras untuk menghidupi ibunya, sedangkan ayahnya lebih memilih pergi bersama perempuan lain.
Dia baru genap dua puluh tahun dan sekarang dia harus dihadapkan oleh masalah yang lebih rumit lagi.
Menikah dengan Dave Airlangga. Anak dari seorang pengusaha sukses. Perusahaan ayahnya telah menggurita dan merajai seluruh negeri.
Pernikahan yang diharapkan menjadi sebuah kebahagiaan bagi Diandra, ternyata salah. Dave hanya menjadikannya budak nafsu sang tuan muda.
Menyesal? Percuma. Diandra telah berjanji dan gadis itu tak bisa melarikan diri. Jalan satu-satunya, menuruti sang tuan muda daripada hilang nyawa.
"Nggak dengar aku ngomong?" Suara Dave terdengar begitu menggema di ruangan yang hanya ada mereka berdua itu.
Diandra mengembuskan napas berat. Dengan tangan gemetar, dia melepas satu per satu kancing bajunya.
Dave Airlangga menyeringai. Kilatan nafsu di matanya membuat si gadis semakin bergidik.
Kemeja juga rok yang dikenakan Diandra telah luruh ke lantai.
"Cepat! Aku nggak bisa nunggu lagi!"
Memejamkan mata, napas tersengal, juga air mata yang menetes, Diandra menegarkan dirinya.
Tubuh yang menegang itu tiba-tiba saja telah berpindah di atas ranjang.
Tak berani membuka matanya, Diandra dapat merasakan jika tubuhnya digerayangi. Pasrah. Karena memohon pun percuma.
"Oh shit! My fucking bitch!"
Kecupan demi kecupan, Diandra rasakan di seluruh permukaan kulitnya. Dia masih memejamkan mata. Rasanya, tak sanggup membayangkan kejadian selanjutnya.
"You are mine, Bitch!"
Berusaha menerobos, Dave merasa ada yang janggal. Dia menautkan alisnya.
"Are you virgin, hah!"
"Oh, shit! What the hell!"
Sudah terlanjur, Dave tidak bisa mundur.
"Who are you?"
Diandra diam. Dia tidak membantah atau pun menanggapi Dave. Tidak hanya menahan sakit, tapi hatinya begitu hancur. Murahan! Ya, itu gelar barunya sekarang.
**
Gadis dengan senyum merekah itu berjalan dengan sangat riang menuju cafe tempatnya bekerja. Sesekali dia menyapa para ojol yang sedang mangkal, juga pedagang kaki lima yang kebetulan ada di sekitarnya.
Masuk ke cafe, Diandra disambut oleh temannya yang lain.
"Ceria banget." Tasya, sahabat Diandra yang juga bekerja sebagai pelayan di cafe itu tak kalah berseri.
"Iya, dong. Hari ini kita gajian."
Mereka berdua pun terkikik.
Tawa mereka berhenti saat ada pelanggan masuk. Pria tua dengan setelan jas mahal, sudah pasti dia seorang pengusaha kaya raya. Tapi, wajahnya tidak mendukung penampilannya. Dia terlihat sangat lelah, juga murung.
Diandra membawa buku dan pena mendekati pria tua itu. Dia siap mencatat pesanannya.
"Bisa saya bantu, Tuan? Anda mau pesan apa?"
Pria pertengahan lima puluh itu mendongak melihat Diandra, memperhatikan, memindai penampilan, juga mengamati dengan teliti. Diandra merasa risih dengan semua itu, tapi dia harus profesional.
"Tuan?"
"Ah, sarapan apa yang enak di sini?"
"Kami punya sandwich isi tuna, pancake strawberry, atau mashed potatoes?"
"Pancake saja."
"Oke."
"Juga espreso."
"Baik, Tuan."
Saat Diandra akan berbalik, dia melihat sekilas orang tua itu meremas dadanya.
Diandra urung meninggalkan, tapi pesanan harus segera dibuat. Dengan langkah perlahan, Diandra meninggalkan meja orang itu.
"Aaahhh!"
Diandra berbalik kembali. "Ada apa, Tuan?" Gadis itu bingung.
Suasana cafe yang masih sepi dan pria tua itu adalah satu-satunya pelanggan yang baru datang, membuat Diandra semakin panik.
Tasya? Entahlah di mana temannya itu. Karyawan yang lain? Pasti mereka sibuk di dapur.
"Tolong bawa saya ke rumah sakit."
Wajah pria tua itu semakin pucat. Diandra tidak tega, dia pun memanggil Tasya dan yang lain di dapur.
"Bagaimana ini?"
"Cepat, Di, bawa dia ke rumah sakit."
"Pakai apa?"
"Taksi!"
Dan di sinilah Diandra, menunggu orang yang tidak dia kenal. Dokter sedang memeriksa pria tadi di dalam ruang ICU.
Gadis itu mondar-mandir, ketakutan jika dijadikan tersangka pembunuhan mengingat kondisi pria tadi yang lemah.
Pintu terbuka. Dokter berkacamata mendekatinya.
"Untung saja kamu cepat membawa Tuan Adrian ke sini."
Diandra masih bengong. Dilihatnya dokter dan suster yang berlalu begitu saja.
Ragu, Diandra masuk ke ruang ICU. Dia mengintip di pintu yang sedikit terbuka.
"Permisi, Tuan." Diandra memberanikan diri masuk ke dalam.
"Hai, aku belum tau siapa nama kamu?"
Gadis itu menunduk untuk menghormati. "Saya Diandra, Tuan."
"Diandra, terimakasih."
Gadis itu bingung bagaimana harus bereaksi. Dia hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
Tiba-tiba, ada seorang wanita berpakaian modis datang dengan tergesa-gesa. Dia menerobos pintu dan menubruk pria bernama Adrian itu.
"Papa nggak apa-apa, kan?"
Air mata wanita yang dipastikan istrinya itu mengalir deras.
"Lain kali nggak usah keluar rumah dulu."
"Aku harus kerja, Ma."
Wanita itu semakin tersedu.
Diandra yang mendengar percakapan suami istri itu hanya bisa diam. Canggung, gadis itu berniat keluar ruangan, tapi suara Adrian menghentikannya.
"Dia Diandra yang menolongku."
Wanita tadi memasang wajah lemah lembut. Dia mendekati Diandra. "Terimakasih, Diandra. Gimana kami harus balas ini. Terimakasih karena sudah peduli dengan suami saya dan bawa dia ke sini."
Diandra hanya tersenyum menanggapi. Dia bingung bagaimana harus bereaksi.
**
Di ruang kerjanya, Adrian merenung. Sakit jantung yang dideritanya, bisa kambuh kapan saja. Dia harus segera bicara dengan putranya
"Saatnya Dave mengurus perusahaan." Namun, wajah Adrian kembali murung.
"Harus. Bagaimana pun caranya, harus!"
Dan akhirnya, malam itu, ketika makan malam usai, Adrian menghentikan Dave yang akan pergi.
"Papa mau bicara!" Dengan pembawaan tegas dan berwibawa, Adrian menghentikan gerakan Dave.
Dave tahu apa yang akan dibicarakan orang tuanya. Dia hanya bersikap biasa saja.
"Tinggalkan hobi kamu dan kembali ke perusahaan!"
Dave berdecak. "Papa sudah janji."
"Omong kosong!"
"Papa jangan mengingkari janji!"
"Tidak ada perjanjian!" Adrian berteriak. Hingga membuat Agatha istrinya, menenangkan.
Dave menyeringai. Tak taukah anak ini jika ayahnya hampir koma beberapa hari yang lalu. Tapi ini Dave dengan segala keras kepalanya, dia tak terbantahkan meskipun itu sang ayah.
"Perjanjian batal jika kamu berulah!"
Akhirnya, Adrian menyerah. Meski dia tahu perusahaan Aerles Corporation yang menjadi taruhannya.
**
Dave masuk ke sebuah diskotik. Teman-temannya sudah menunggu di sana.
Ingar bingar musik membuat Dave semakin bersemangat. Dia duduk di meja bar dan memesan wiski.
"Dave, gimana? Jadi ke London?"
"Hem."
"Sip. Sebelum berangkat seneng-seneng dulu. Terakhir pakai cewek indo sebelum dapat bule."
Dave hanya tersenyum.
"Dave, liat cewek depan tu."
Pria itu melihat seorang perempuan yang terlihat begitu menonjol di tempat ini. Bukan karena seksi atau berpenampilan menarik, tapi sikap lugu dan polosnya.
Dave mengernyitkan dahi. "Cewek model gitu kayaknya salah masuk."
"Sikat, Bro!"
Dave mendekati perempuan itu dan menariknya ke tempat parkir.
Di mobil, Dave yang mabuk, ditambah masalah di rumah, membuatnya hilang pikiran, apalagi perempuan yang bersamanya, begitu menggoda.
Berpindah di kursi belakang, Dave menarik pakaian gadis itu.
Mata polos si gadis menyiratkan ketakutan, tapi itu membuat Dave semakin bernafsu. Dia melepas kemeja yang dipakai dan bersiap.
"Buka!"
Gedoran pintu mobilnya membuat Dave berang dan matanya semakin melotot saat melihat kerumunan orang di luar mobilnya.
"Memalukan!"
Gebrakan meja membuat suasana di ruang kerja itu semakin menegangkan. Adrian Airlangga, seorang yang kaku dan otoriter telah menerima kabar tentang kelakuan sang putra.
"Kamu tau, kan, jika melanggar peraturan?"
Dave menatap tajam sang ayah. Tangannya mengepal. Di lubuk hatinya, Dave mengutuk diri, bagaimana bisa dia seceroboh ini?
Dave tahu bagaimana konsekuensi jika melanggar aturan yang dibuat sang ayah. Jadi, di ruangan itu, Dave hanya bisa pasrah.
"Pa, udah. Orang tuanya udah datang." Mata Agatha menyiratkan ketegangan. Dilihatnya Dave sekilas, rasanya sangat tidak tega dengan putranya itu.
Adrian bergegas ke ruang tamu. Seorang wanita berpakaian lusuh duduk sambil meremas kedua jarinya.
Saat Adrian datang, dia segera memberi hormat.
"Sebelumnya, saya minta maaf. Saya baru mendengar berita itu pagi ini. Saya di sini tidak menyalahkan putra Bapak, bisa jadi semua juga ada andil dari putri saya."
Terlihat wajah Agatha begitu menegang, ada perasaan tidak tega. Ingin dia menjelaskan, tapi sang suami melarangnya.
"Pak, dengan segala hormat, saya ingin masalah ini sampai di sini saja."
Adrian yang akan berkata lain, sungguh tersentak dengan penuturan sang wanita itu.
"Bu, apa Anda berpikir jika keluarga kami adalah keluarga yang tidak menjunjung tinggi kemanusiaan? Bukan seperti ini kemauan kami. Kami akan bertanggung jawab."
Dave terperangah. Apa yang dimaksud tanggung jawab? Kenapa ayahnya berkata demikian? Bukankah tidak terjadi apa-apa? Dave juga tidak mengenal wanita itu.
"Saya mengundang Anda ke rumah kami untuk membicarakan pernikahan anak kita."
Mata yang menyorot tajam itu dapat dilihat keterkejutannya. Belum lagi masalah perusahaan, dia juga harus menikah. Mau membantah, Dave sudah berjanji dan akan menerima segala konsekuensinya.
"Dave akan menerima pernikahan ini, iya, kan, Dave? Kita harus membicarakan ini lebih lanjut."
Terlihat wanita tua itu kebingungan. Tapi ini adalah keluarga Airlangga, mereka tidak bisa dibantah.
"Setelah ini kita bicara lagi, Dave! Kita belum selesai!"
**
Dave kembali ke ruang kerja sang ayah. Yang awalnya tadi dia masih menerima hukuman atas perbuatannya, tapi untuk kali ini, Dave tidak terima.
Oke, dia akan kembali ke perusahaan dan mengurusnya, tapi untuk menikah, ini berlebihan. Dave harus menolaknya.
"Aku nggak bisa, Pa."
"Keluarga Airlangga mendidik keturunan mereka untuk bertanggung jawab, Dave! Bukan melarikan diri!"
"Tidak terjadi apa-apa!" Dave meremas rambutnya. Dia ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi rasa malu itu lebih mendominasi.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri."
"Bahkan aku tidak mengenalnya."
Adrian mengembuskan napas berat. "Ini pelajaran buat kamu lain kali. Jangan pernah bermain dengan wanita!"
Dave tidak bergeming.
"Media sudah dibungkam, tapi Papa nggak jamin kalau wanita itu tetap akan tutup mulut."
Tangan Dave mengepal. Matanya menyorot tajam. Dendam dalam dirinya begitu berkobar.
Karena wanita itu, cita-citanya terkubur. Menjadi musisi dan belajar musik ke London adalah keinginannya dari dulu. Tapi satu kesalahan membuat Dave harus merelakan semuanya.
Berjalan bagai serigala yang akan mengincar buruan, Dave tahu ke mana dia harus pergi. Dia sudah tahu data diri perempuan itu dari sang ayah. Dia harus membicarakan ini padanya.
**
Pukul sepuluh malam, cafe tempat Diandra bekerja telah tutup. Gadis itu bersiap akan pulang.
Tadi sore, Tasya harus kembali lebih dulu karena shift-nya telah selesai. Sedangkan Diandra, harus bekerja sampai malam karena ini gilirannya.
Diandra sebenarnya sangat tidak nyaman harus pulang malam karena halte di sekitar situ terkadang sepi. Tapi Diandra lebih tergoda dengan bonus yang diterima jika dia lembur.
Gadis itu berjalan menuju halte dengan langkah cepat. Sial, malam ini dia harus menunggu bus sendiri.
Diandra meremas tangannya dan berharap ada orang lain di sini menunggu bus. Tapi sudah sepuluh menit dan Diandra hanya sendiri.
Tiba-tiba, seorang laki-laki datang dari arah belakang. Dia duduk begitu saja di samping Diandra. Embusan napasnya membuat bulu kuduk Diandra semakin meremang. Dia tahu aroma parfum ini. Tamat! Dalam hati, Diandra merutuki nasibnya.
Melirik ke samping dengan perlahan, Diandra memastikan dugaannya dan ternyata memang dia. Tangannya gemetar, dan saat dia akan lari, tangan yang lebih besar darinya itu menarik kembali dan membuat Diandra duduk.
"Jangan pernah lari!"
Pria itu menatap lurus ke depan sambil menggenggam erat lengan Diandra.
"Kita harus meluruskan ini."
Diandra diam dan menunduk. Tidak ada keberanian untuk melihat wajah laki-laki itu.
"Bukankah tidak ada yang memaksamu saat itu?"
Diandra semakin menunduk. Bukan hanya tangannya saja yang gemetar, tapi seluruh badannya juga menggigil.
"Kamu juga kebetulan di tempat itu, kan?"
"Sadar dirilah! Semua yang ada di tempat itu berjiwa bebas. Kamu menggoda dan aku menerima, bukankah itu adil!" Suara tegas itu menusuk hingga jantung Diandra.
Melihat perempuan itu diam saja, Dave menarik tangan Diandra sehingga mereka saling berhadapan.
"Batalkan pernikahan itu!"
Diandra gemetar. Tapi, dia telah berjanji. Tidak mungkin dia mengingkari.
Diandra menggeleng. "Ti-tidak."
Dave memiringkan kepalanya, mencerna setiap huruf yang keluar dari mulut Diandra.
Geram. Pria itu meremas dagu Diandra hingga gadis itu terpekik.
"Jadi, mau coba-coba. Mau masuk keluarga Airlangga dengan mudah?"
Diandra terus memejamkan matanya, yang terpenting tidak melihat tatapan yang mengerikan itu.
"Oke. Kalau kamu mau uji nyali denganku!" Dave semakin meremas dagu Diandra dengan kuat.
"Jangan pernah bisa lari setelah kamu masuk!"
Dave melepaskan tangannya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Diandra yang masih gemetar hebat.
Mengatur napas dan meraup udara sebanyak-banyaknya, Diandra berusaha mencari air minum di tasnya. Kejadian tadi membuatnya syok. Tidak disangka jika tuan muda Airlangga begitu kejam. Parahnya, dia akan menjadi suaminya kelak. Diandra ingin menyerah saja, tapi tidak mungkin. Dia harus tetap maju.
**
Pernikahan itu pun tiba. Tidak ada kerabat atau sanak saudara yang hadir. Hanya keluarga inti saja.
Ayah dan ibu Dave, juga adik perempuannya.
Biar bagaimanapun, pernikahan itu adalah neraka bagi Diandra. Sang ibu yang tahu kejadian sebenarnya, menolak untuk hadir. Jadi, Diandra hanya sendiri. Tanpa siapa pun mendampingi di acara sakralnya.
Acara pemberkatan selesai, dan Diandra, dianggap Dave hanya sebuah manekin, tidak ada interaksi sama sekali di antara mereka.
Begitu acara selesai, Dave pergi begitu saja, meninggalkan Diandra berhari-hari di apartemennya tanpa kejelasan.
Sehari, dua hari, hingga satu Minggu Dave tidak datang menemuinya. Entah harus bereaksi seperti apa, Diandra pun bingung.
Istri? Apa benar dia pantas disebut istri? Bahkan Dave tidak mengajaknya bicara sama sekali.
Hingga pukul dua dini hari, Diandra belum bisa memejamkan matanya. Mencoba menunggu Dave, siapa tahu malam ini dia akan pulang.
Pucuk dicinta, lima menit berselang, pintu kamar dibuka, Dave datang dengan wajah kusut dan terlihat pucat, apalagi aroma badannya sangat menyengat karena alkohol.
"Mau makan, Dave?" Diandra berusaha bicara. Tapi Dave bungkam.
"Atau mau mandi pakai air hangat?" Biar bagaimanapun Dave suaminya. Dia harus menaruh hormat.
Dave duduk di sofa, mengamati Diandra yang duduk di atas ranjang.
"Oke, kita perjelas di sini."
Tatapan Dave membuat Diandra bergidik.
"Hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme saja. Aku berikan apa yang kamu mau, uang, liburan, barang mewah. Dan kamu bertindak sebagai pemuasku. Tidak lebih dan jangan meminta lebih!"
Terperangah, Diandra tidak bisa membantah, meskipun dalam perjanjian bukan seperti ini.
"Sekarang, lepas baju kamu!"
Dave memandang perempuan yang terbaring lemah di atas ranjangnya. Dia mengusap dagu, terus berpikir.
"Siapa dia?"
"Kenapa mau masuk ke kehidupanku?"
Berbagai pertanyaan berputar di benak Dave.
Bahkan, rintihan dan juga tangisan gadis itu masih terngiang di telinga Dave.
"Siapa pun dia, tetaplah gadis naif yang mengincar harta keluarga Airlangga."
Dave terkekeh. Bangkit dari duduknya, dia masuk ke kamar mandi. Pekerjaan barunya menumpuk, dia harus berangkat lebih awal ke rutinitas yang memuakkan baginya.
**
Diandra mengerjabkan matanya. Sorot sinar matahari menembus gorden hingga membuatnya silau.
Merasakan tubuhnya yang remuk, Diandra berusaha bangkit. Dilihatnya badan yang hanya terbalut selimut. Mengusap kasar wajahnya, Diandra ingat dengan kejadian semalam.
"Aku kotor!" Menahan air matanya. Diandra tidak ingin menangis demi laki-laki kejam itu.
Perlahan, dia memindahkan kakinya ke lantai. Perih, Diandra memegang perutnya.
Alis Diandra tertaut saat melihat sebuah kartu berwarna hitam di nakasnya. Dia meraih dan memperhatikan dengan teliti.
"Dia benar-benar menjadikanku pelacur!"
Kali ini, Diandra tak tahan lagi menumpahkan air matanya. Dalam benak, Diandra mempertanyakan keputusannya?
"Apa aku salah?"
"Apa aku ceroboh?"
"Apa aku terlalu naif?"
Diandra mengusap kasar air matanya, meraup napas dalam dan mengembuskan.
"Tapi aku niat menolong."
**
Diandra sangat suntuk dan dia memutuskan untuk bertemu temannya, Tasya, di cafe.
Keputusan mendadaknya untuk berhenti bekerja di cafe, membuat sang owner kelabakan. Dia harus mencari pengganti Diandra saat itu juga, yang menjadi masalah, tidak ada yang serajin dan seteliti Diandra, hingga membuat semua kelimpungan.
Tasya pun sama, bukan hanya terkejut, menghilangnya Diandra membuat pertanyaan besar di otaknya. Sahabatnya tidak pernah seperti itu dan jika Diandra keluar dari kebiasaannya berarti ada masalah yang dihadapi.
Dan siang ini, Diandra datang. Mengejutkan Tasya juga yang lainnya.
"Wah, lo benar-benar!" Tasya menunjuk-nunjuk muka Diandra yang bingung.
"Napa lo risen gitu aja?"
"Maaf, Tasya. Aku ada urusan."
"Urusan apa sampai sahabat sendiri ngga dikasih tau?"
Diandra mengajak Tasya duduk. Tapi suasana cafe di siang hari yang ramai membuat Tasya harus meninggalkan Diandra untuk bekerja.
"Tunggu, Beb. Aku kerja dulu!"
Diandra tersenyum menanggapi.
Hingga pukul setengah tiga siang, Tasya bisa bernapas lega.
"Capek gila! Kalau gue punya modal mending kerja ndiri."
"Aku dukung kamu."
Duduk di depan Diandra, Tasya memandang temannya itu dengan tatapan selidik.
"Jadi?" Tasya mengerutkan keningnya.
"Aku udah nikah."
Tasya menutup mulutnya supaya tidak memaki.
"Maaf, nggak kasih tau. Ini dadakan."
"Lu baru dua puluh tahun! Cita-cita punya cafe ndiri gimana?"
Diandra diam, kuku jarinya sibuk mengelupas kutikula hingga tak terasa mengeluarkan darah. Tapi Diandra biarkan itu dan menutupinya supaya Tasya tidak melihat.
Diandra sangat gugup, ditatap Tasya seperti ini. Belum saatnya temannya itu tahu yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin Tasya menganggapnya sebagai perempuan materialistis yang mengincar harta. Bukan! Sekali lagi bukan itu yang Diandra mau.
"Nikah ma siapa emangnya?" Tasya sangat ingin tahu.
"Dave Airlangga."
"Anjir! Keluarga Airlangga! What the fuck, Diandra! Lu udah gila atau gimana!"
Sekali lagi Tasya melihat Diandra. "Ini beneran Dave Airlangga yang orang kaya itu?"
Diandra panik dengan reaksi Tasya yang berlebihan.
"Kamu diam, ya. Jangan bilang siapa-siapa."
"Bisa kenal gimana?"
Diandra masih menyusun kata untuk menjelaskan dengan penjelasan yang tepat dan masuk akal.
"Bahkan media nggak bisa sentuh keluarga itu dan lo, anjir, Di! Daebak!"
Diandra menutup mulut Tasya yang semakin menjadi.
Suara panggilan dari manager cafe membuat Tasya terperangah. Dia harus kembali bekerja.
"Kita lanjut abis ini."
Diandra menolak. Dia harus cepat kembali ke apartemen, takut jika Dave tiba-tiba kembali dan dia tidak ada di rumah.
"Besok aku balik."
Setidaknya, Diandra masih ada waktu untuk mengarang cerita atau tidak bercerita sama sekali dengan Tasya mengenai pernikahan mendadaknya.
**
Sudah lima belas hari Diandra menikah dan selama itu juga Dave selalu pulang larut dalam keadaan mabuk.
Sialnya, dia selalu membuat Diandra sibuk di malam hari. Rutinitas yang memuakkan bagi Diandra pada awalnya, tapi makin hari, dia semakin menikmati pergumulannya dengan Dave.
Tidak hanya memberikan sesuatu yang baru bagi Diandra, tapi Dave memberikan kenyamanan juga kenikmatan yang tidak pernah Diandra terima.
"Dd-Dave, u–udah."
Malam yang kesekian kalinya Diandra merintih dalam kenikmatan. Dave memberikan segalanya.
Tapi, Diandra sadar diri. Mereka tak lebih dari sekedar tuan dan pemuas nafsu belaka. Diandra tidak pernah berharap lebih, sakit memang. Tapi ini konsekuensi yang harus diterimanya.
"Apa kamu bilang tadi?"
"Udah? Cuma aku yang bisa menentukan kapan ini berakhir!"
Diandra terdiam, memejamkan matanya dan membayangkan sesuatu yang indah daripada mendengarkan cacian, juga makian Dave di telinganya.
"My bitch you are so hot."
Risih. Ingin Diandra menyumpal mulut laki-laki itu. Dia juga ingin menegaskan, jika dia bukan pelacur! Tapi pada kenyataannya, dia memang terlihat seperti itu.
Selesai dengan kebutuhannya, Dave menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dibiarkan Diandra begitu saja dan terkesan tidak peduli.
"Kamu semakin pucat, Bitch!"
"Bisa nggak, nggak panggil aku dengan itu, Dave."
Dave terbahak. "Terus apa?"
Tawa itu sangat menusuk hati Diandra. Ingin menangis, tapi untuk apa? Ini semua juga ada andil darinya.
"Lain kali pakailah makeup supaya wajahmu lebih baik. Aku tidak tidur dengan mayat!"
"Kamu datang terlalu malam dan aku tidak sempat istirahat. Wajar kalau pucat."
"Siang waktumu tidur dan malam waktumu bersamaku. Tidak ada bantahan!"
Dave membalikkan badannya dan beberapa saat terdengar dengkuran halus darinya.
Mengembuskan napas berat, Diandra hanya bisa menahan segala sesak di dadanya.
"Sabar, Diandra. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi!"
Dan seperti hari sebelumnya, Dave datang dini hari dan pergi pagi-pagi sekali.
"Dia ke sini hanya untuk memuaskan nafsunya, bahkan dia tidak pernah sarapan."
Selepas mandi, Diandra merebahkan dirinya di sofa, menonton acara televisi.
Headline news pagi ini membuat Diandra tersenyum puas. Presenter itu menjelaskan tentang perkembangan perusahaan Airlangga juga pergantian pimpinan utama dari Adrian Airlangga ke anak laki-lakinya, Dave Airlangga.
Diandra menyaksikan pelantikan itu. Terlihat jelas jika suaminya tersenyum dengan terpaksa, hanya untuk menghindari pertanyaan mendesak dari wartawan yang memuakkan.
Namun, dalam hatinya Diandra sangat bahagia, meski dia tidak mendampingi sang suami.
Diandra berpikir ulang. Memangnya, siapa dia? Mendampingi Dave? Setelah ini, dia akan pergi. Untuk apa berharap lebih?
Diandra tertawa sumbang. Meratapi nasibnya yang ternyata mengenaskan.
**
Malam Minggu ini, Dave datang lebih awal. Meminta Diandra membuat makan malam romantis dan berakhir dengan kegiatan ranjang yang brutal. Memang terlihat aneh, tapi Diandra hanya mengikuti perintah saja. Perempuan itu tak pernah berpikir jika makan malam ini untuk perayaan atau untuk dirinya, tapi kejadian setelah itu yang terpenting untuk Dave. Kegiatan ranjang yang panas.
Dan pagi harinya, ada yang berbeda. Dave menetap hingga pukul delapan pagi, bahkan dia mengundang temannya untuk datang ke apartemen.
Bahan makanan yang habis, membuat Diandra harus berbelanja.
Hingga setengah jam kemudian, dia kembali dari minimarket yang dekat dengan apartemennya.
Suara berisik, Diandra dengar dari balkon, ternyata teman-teman Dave sudah datang.
Samar-samar, Diandra mendengar namanya disebut.
"Enak lu tinggal ma jalang itu!"
Terdengar suara tawa menggelar.
"Padahal tiap malam jajan, ini masih tidurin juga si jalang itu."
"Emang anjir Dave. Kuat banget."
Dave tidak menanggapi. Dia terlihat hanya mengisap rokok dan tersenyum. Terkesan membenarkan perkataan teman-temannya.
"Sampai kapan pelihara jalang itu?"
Pertanyaan dari salah satu teman Dave membuat Diandra berang. Apalagi dia mendapatkan fakta jika Dave tidur dengan perempuan lain selain dirinya.
Baiklah, untuk peraturan Dave dan sikap dinginnya, Diandra bisa menerima. Tapi untuk perselingkuhan? Tidak! Masa lalu Diandra yang kelam bergelayut di kepalanya. Dia benci pengkhianatan! Sangat benci!
"Nanti kalau gue dah puas, baru lepasin!" Dave kembali sibuk dengan nikotinnya.
Diandra melempar belanjaan di sembarang tempat. Mendekati Dave dengan langkah gontai juga menahan air mata, Diandra menegarkan dirinya.
"Nggak usah nunggu nanti. Kita akan cerai sekarang, Dave! Detik ini juga!"
Semua terkejut dengan kedatangan Diandra. Termasuk Dave.
Dave tertawa meremehkan. "Baiklah, Diandra Natasha. Aku kabulkan permintaan kamu. Kita cerai sekarang!"