"Jika aku sampai mati, maka bisa kupastikan Ayah dan Kakakmu juga akan segera menyusul. Kalau memang begitu maumu, banyak orang di luar sana yang bisa mengabulkan."
Gadis dengan celana jeans hitam ternganga, setelah mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di depannya saat ini.
Rafaele Jefferie. Kuat, berwibawa, tidak terkalahkan. Siapa sangka, laki-laki yang tak lain adalah pemimpin klan mafia dari keluarga Jeffie itu, segera akan menjadi suami dari Belleza Chiara Steel. Gadis manis, yang menghabiskan hampir separuh umurnya menjadi seorang kasir supermarket.
Bukan inginnya seperti itu. Semua terjadi, imbas dari perang antar klan yang pernah terjadi puluhan tahun silam. Membuat Bella, terpaksa harus diungsikan jauh.
Alaric Steel. Ayah kandung dari Bella, merupakan seorang pemimpin klan dari keluarga Steel. Ia kehilangan sang istri, dan juga sebelah kaki kirinya atas peperangan brutal tersebut. Demi melindungi hidup Bella, yang mana kala itu masih seorang balita, Alaric kemudian mengirim sang putri untuk dititipkan kepada adik angkatnya.
Dirawat dan diasuh oleh sang paman, Bella pun tumbuh menjadi seorang gadis manis, cerdas, mandiri. Dan satu lagi, tangguh. Ya, meskipun benar selama ini dia hidup tanpa mengetahui siapa Ayahnya yang sesungguhnya, tapi darah petarung senantiasa mengalir dalam diri gadis berusia 22 tahun tersebut. Sejak berumur 10 tahun, Bella memang sudah diajari keterampilan bela diri oleh sang paman. Tidak tanggung-tanggung, beberapa medali dan penghargaan pun berhasil Bella sabet dari hasil kejuaraan bela diri yang diikutinya setiap beberapa tahun sekali. Membuktikan, bahwa kemampuan Bella tidak bisa dibilang remeh. Dia berbakat. Secara alami.
Dan kini, ketika tiba-tiba Bella diambil kembali oleh Alaric, dia dihadapkan pada sebuh kenyataan paling konyol. Perjodohan.
"Sialan! Kau pikir aku datang jauh-jauh dari Thailand hanya untuk menyerahkan diri padamu, hah!" Bella berseru sengit. Matanya menajam pada wajah yang kini masih berdiri penuh wibawa di hadapan. Ia lantas maju beberapa langkah, berhenti tepat di depan tubuh tinggi dengan balutan kemeja putih itu.
Rafaele hanya tersenyum singkat, ketika melihat wajah cantik yang kini tengah mendongak. Harus begitu, sebab Rafaele memang memiliki postur tinggi yang cukup jauh dengan Bella. Walau dalam posisi berdiri, kepala Bella saja hanya setinggi dada Rafaele.
"Kupikir kau sudah tahu semuanya. Tapi mungkin aku salah. Apa harus aku yang menjelaskannya dari awal?" balas Rafaele. Suara berat itu baru saja mendorong Bella mundur selangkah ke belakang. Mendadak ia merasa baru saja diancam, hanya dengan aksi Rafaele mengembangkan senyuman.
Ya Tuhan, senyum itu benar-benar terlihat sempurna. Garis bibir, bentuk alis, rahang yang tegas, serta sepasang manik hitamnya, menjadi perpaduan terbaik dari wajah sang pangeran mafia. Satu-satunya putra yang dimiliki oleh Henry Jefferie. Sayang sekali, Henry harus wafat dua bulan sebelum kembalinya Bella ke Sisilia. Sebuah pulau indah di selatan Italia. Terletak di laut tengah. Menjadi asal-muasal lahirnya mafia dan gengster. Tak sedikit di antaranya, yang berhasil menguasai kota-kota besar di Amerika Serikat dan Eropa.
Termasuk juga Henry. Ia menjadi generasi penerus dari pemimpin mafia terdahulu, dan secara otomatis juga telah diturunkan kepada Rafaele. Putra tunggalnya.
Manusia tetaplah manusia, tidak peduli seberapa berkuasa dia ketika di dunia. Sehebat apa Henry, nyatanya ia harus kalah oleh jantung koroner. Penyakit yang menggerogoti kesehatannya selama ini. Ia dinyatakan meninggal setelah perjuangan selama setengah tahun terakhir. Menyisakan Rafaele, pangeran dari keluarga Jeffie, yang kini resmi menjadi pemimpin penerus dari keluarga Jeffie.
"Jika harus jujur, aku pun tidak ingin menikah denganmu. Tidak juga wanita lain. Hidupku milik klan Jeffie. Banyak beban dan musuh yang otomatis akan menjadi milik istriku juga, jika aku menikah." Rafaele melanjutkan. Ia menggulung kedua lengan kemeja hingga sebatas siku. Lantas mendekat pada sofa berbentuk leter L di samping kanan. Menjatuhkan tubuhnya duduk di atas sana. Menyandarkan punggung dengan nyaman, diakhiri mengepang kaki ke atas meja. Meja kayu bulat, yang terletak persis di depannya berada.
Sampai detik itu, diam masih menjadi pilihan terbaik bagi Bella. Meski dadanya penuh dengan rasa marah, tapi entah kenapa dia masih ingin mendengar Rafaele bicara. Gadis itu berkedip kecil, sekilas mengagumi betapa aura seorang Rafaele sangatlah kuat dan mengintimidasi. Dua lengan kokoh yang baru saja Rafaele rentangkan. Ia letakkan pada masing-masing sisi tempatnya duduk. Bagai sebuah tanda, bahwa dirinya lah yang berkuasa. Dan Bella? Dia hanya seorang pendatang. Sama sekali tak memiliki effort apa pun di sana.
"Tapi, aku bukan orang yang bisa memilih, saat yang menjadi jaminannya adalah klan. Juga, kau," imbuh Rafaele lagi. Mengacungkan satu telunjuknya ke arah Bella berdiri. Hanya sekilas, kemudian tangan itu kembali ke atas pangkuannya.
Bella mengernyit. Wajahnya melengos ke samping, meninggalkan tatapan mata Rafaele yang sedari tadi tak mau lepas darinya. Sadar, apa yang dikatakan laki-laki itu memang tidak salah. Bella masih ingat jelas, apa saja yang sudah dikatakan oleh Alaric padanya tentang pernikahan. Sebuah bentuk lain dari persekutuan antar dua klan. Ya, pernikahan yang harus dilakukan oleh Rafaele dan Bella, tak lebih hanyalah jalan pintas untuk menguatkan klan Steel dan Jeffie.
Apa lagi setelah Henry jatuh sakit, banyak pihak yang mengincar wilayah dan kekuasaan milik keluarga Jeffie. Maka, sebelum Henry meninggal, dia pun melakukan negosiasi dengan Alaric untuk menjadi sekutu. Tidak ada cara lain, selain menikahkan putra-putri mereka. Dengan bersatunya dua keluarga, maka dapat dipastikan segala kekuatan dan kekuasaan menjadi dua kali lipat lebih besar. Hal tersebut tentu sangat mampu meminimalisir kemungkinan buruk yang akan mendatangi mereka. Dalam bisnis ini, apa pun bisa saja terjadi. Dan yang harus dilakukan adalah; bersiasat. Bertarung antar klan, hanya akan mendatangkan perang lagi. Dan itu merupakan sesuatu yang harus dihindari.
"Kau mungkin tidak tahu, bahwa sepersekian wilayah operasi milik Kakakmu, sebagian besar masih berada di dalam teritoriku. Sekali aku mencabut izinnya, Kakakmu bisa mati kapan pun, oleh senjata orang-orangku yang ada di sana." Dan demikian kalimat dari Rafaele, yang sukses mengusik seorang Bella.
Gadis itu menegang. Dua telapak tangannya mengepal erat. Netra dengan bulu mata lentik itu kian sengit menatapi Rafaele. Sama sekali tidak pernah menduga, jika sekembalinya ia ke Sisilia, hanya dipergunakan untuk memperkuat bisnis sang ayah. Lebih dari itu, Bella pun dipaksa harus menikahi laki-laki yang bahkan baru ditemuinya hari ini. Gila!
"Kau mengancamku." Bella berdesis geram. Dia paling tidak suka diancam. Apa lagi oleh seseorang seperti Rafaele.
"It's your choise. Aku tidak mengancam. Tapi hanya mengingatkan. Kau menolak pernikahan ini, sama saja dengan mendekatkan maut untuk Ayah dan Kakakmu. Pikirkan itu, Belleza." Rafaele menjawab begitu santai dan tenang. Kini ia terlihat mengambil gelas kristal berisikan minuman anggur dari atas meja. Meneguknya sedikit, masih dengan mata yang berpusat pada sosok cantik berambut pendek di sebelah sana.
Topi yang Bella kenakan mungkin membuat wajah itu sedikit terhalang. Tapi tidak menyulitkan Rafaele, melihat bibir pink Bella yang merapat ketat. Ekspresi menahan diri. Rafaele bisa membaca hal tersebut.
"Aku bersumpah, begitu kita menikah … kau benar-benar akan mendapatkan seorang istri yang sangat buruk, Mr.Jeffie." Kali ini Bella akhirnya angkat suara. Membalas cukup berani, atas kalimat Rafaele yang sudah ia anggap sebagai sebuah ancaman.
Gadis yang gamblang. Kesan pertama Rafaele, untuk perjumpaan perdananya dengan Belleza hari ini. Gadis yang sejak kecil hidup di Thailand bersama pamannya itu, memang sudah terlihat tegas. Dari saat kedatangannya ke istana Jeffie.
Namun, Rafaele harus jujur. Bella benar-benar bukan tipe wanita yang bisa ia sebut idaman. Jauh. Dan sangat bertolak-belakang dengan kriteria wanita yang Rafaele suka. Tepatnya, kriteria wanita yang terkadang turut menghangatkan ranjang agung milik sang putra mafia.
“Untuk seorang gadis Asia, kau cukup sombong, Belleza. Tapi kesombongan, tidak akan membuat bisnis Ayahmu menjadi kuat. Jangan hanya mengandalkan emosi. Tapi ....” Kemudian Rafaele menempatkan ujung jari telunjuk dan jari tengah, tepat pada pelipis kanannya, “gunakan juga otakmu,” pungkasnya diakhiri selarik senyum singkat.
Bella tidak terlahir menjadi seorang anak perempuan yang manis dan penyabar. Tidak mengherankan, jika ia pun lantas merasa tersulut kesal ketika mendapat kalimat sekasar itu dari Rafaele.
Ingin rasanya Bella melayangkan tinjunya. Atau sedikit tendangan telak, tepat di mulut besar Rafaele. Tapi, Bella masih sadar diri. Dia datang sebagai tamu di sana. Mana etis, bertingkah semau sendiri. Terlebih di hadapan sang putra mafia yang berkuasa.
Ada rasa senang, saat Rafaele melihat kilat keputus-asaan bersembunyi di balik sepasang iris hitam milik Bella. Tapi, itu saja belum cukup untuk menenangkan sesuatu yang begitu panas. Membara di dalam dadanya.
“Di dalam tubuhku juga mengalir darah seorang wanita Asia. Tapi pola pikirku, laki-laki Italia seutuhnya. So, kau bisa menjadikanku sebagai teladan, Belleza. Kau ingin bertahan di dunia kita ini, maka segeralah menyesuaikan diri. Mereka tidak akan melepasmu, hanya karena kau seorang wanita.” Kembali Rafaele berkata. Sebelah alisnya tampak ia naikkan sekilas. Memberi kesan sombong pada ekspresi wajahnya kala itu.
Bella sempat akan terpengaruh, ketika Rafaele menyinggung perihal dirinya merupakan seorang perpaduan Italia dan Thailand.
Tentu saja, Alaric juga sudah bercerita pada Bella. Rafaele lahir dari rahim seorang wanita Asia. Wanita malang yang terpaksa harus menikah dengan Henry Jefferie. Mendiang ayah Rafaele.
Rasa ingin Bella tertawa. Bukankah kisah itu juga akan segera menjadi kisahnya bersama Rafaele? Barangkali, Rafaele pun akan mengulang cerita antara kedua orang tuanya dulu. Miris. Bisa Bella bayangkan, betapa bencinya ibu dari Rafaele, karena harus menikah dengan seorang pemimpin mafia.
Sebab, bengis dan kejam, bukan hanya karakter yang dimiliki oleh Rafaele saja. Ia telah menuruni ke-dua hal tersebut dari ayahnya.
Sebelum ambruk karena jantung koroner yang kian merongrong jiwanya, mendiang Henry dikenal sebagai seorang pemimpin klan yang nyaris tak memiliki belas kasih. Bukan hanya pada musuh. Tapi juga pada anggota keluarga yang tak patuh pada setiap aturannya. Bisa jadi, itu pula yang telah membuat Stevanny Maurer (ibu Rafaele) memutuskan untuk bunuh diri.
Bella tersenyum datar, “Kau tidak perlu mengguruiku, Mr.Jeffie. Mungkin kau tidak tahu ... tapi aku tidak selemah yang kau pikirkan. Meski selama ini aku berada jauh di pengasingan, aku tetaplah seorang nona Steel. Sejak pertama kali aku mengenal tentang siapa Ayahku, mulai dari saat itu juga aku sudah dipersiapkan untuk hari ini,” paparnya menaikkan nilai untuk dirinya sendiri.
Di sebelah sana, Rafaele tampak tersenyum tipis. Sembari meneguk lagi anggur dari gelas kristal yang masih ia pegangi. Meski hanya sesaat, tapi ia sempat terkesan atas kalimat dari Bella tadi. Gadis itu punya tekad dan nyali. Pikir Rafaele.
“Terima kasih untuk perkenalan dirimu, Nona Steel. Aku terkesan.” Kemudian Rafaele menyahut datar. Kini ia menatapi lagi sosok yang baru saja melepaskan topi dari kepalanya.
Wow. Tidak dipungkiri. Bella memiliki kecantikan itu. Kecantikan khas wanita Asia yang berpadu dengan darah Italia dari Alaric—ayahnya. Andai saja bibir tipisnya mau sedikit saja tersenyum, sudah pasti akan menyempurnakan kecantikan di wajah Bella meski tanpa riasan make-up sekalipun.
Kembali Rafaele tersenyum, tatkala kini Bella tengah berjalan menghampiri dirinya. Lalu, ia menurunkan kedua kaki dari atas meja. Menarik punggungnya dari sandaran sofa, lantas termangu dengan satu tangan yang bertumpu di atas paha. Menengadahkan wajah sedikit, membalas lekat tatapan mata Bella kepadanya.
“Sampai bertemu lagi di altar pernikahan, Mr.Jeffie.” Hanya sesingkat itu kalimat yang keluar dari mulut Bella, ketika dia sudah berdiri beberapa jengkal di hadapan Rafaele.
Rafaele kira Bella akan mengatakan hal-hal tidak berguna seperti saat awal kedatangannya tadi. Namun, ternyata? Gadis itu akhirnya sepakat dengan pernikahan. Cukup menghibur. Sebentar lagi Rafaele akan memiliki mainan baru. Dan untuk yang satu ini, tak akan selesai hanya dalam satu malam saja. Tentu Rafaele amat menantikan hari pernikahan itu tiba.
“Tentu saja, Nona Steel.” Rafaele menyahut, disusul menempelkan lagi bibirnya pada gelas kristal. Menenggak habis, sisa minuman yang masih ada di sana.
Sejurus kemudian, seorang anak buah Rafaele datang ke ruangan itu. Berdiri di dekat pintu masuk. Membungkuk sekilas, memberi salam hormat pada sang putra agung klan Jeffie.
Sebagai tanggapan, Rafaele tersenyum singkat pada laki-laki dengan setelan kemeja hitam tersebut.
“Jerome, tolong kau antarkan calon istriku pulang. Aku tidak ingin dia menyetir sendiri. Di luar sana, banyak sekali mata yang penasaran dengan putri dari keluarga Steel. Kau harus pastikan dia sampai di rumah dengan aman,” cetus Rafaele memberikan mandatnya pada sang ajudan. Jerome.
Di tempatnya berdiri, Jerome mengangguk patuh atas perintah yang telah diterima. Sementara Bella menoleh sekilas ke arah Jerome. Bahkan ajudan itu juga tampak begitu segan pada seorang Rafaele.
“Aku bisa pulang sendiri.” Bella kembali lagi pada wajah Rafaele dan menjawab.
“Mulai saat ini, nyawamu juga menjadi sesuatu yang berada di bawah tanggung-jawabku. Akan lebih baik jika kau menurut. Atau, aku terpaksa harus memaksa.” Rafaele bangkit berdiri dan menegaskan perintahnya kepada Bella.
Bella diam. Belum apa-apa saja, Rafaele sudah berani mengatur dan mendikte. Bagaimana nanti, saat mereka benar-benar telah menikah.
“Tunggu apa lagi, Jerome? Siapkan mobilnya sekarang.” Rafaele menekankan titahnya sekali lagi pada si anak buah.
Tak banyak kata, Jerome hanya segera mengangguk dan pergi dari ruangan untuk menyiapkan kendaraan seperti perintah Rafaele. Sampai saat itu, Bella masih diam dengan mata sinisnya yang mengarah tepat ke wajah sang calon suami. Seberkuasa itulah seorang Rafaele. Tak ada satu pun mata yang berani menatap wibawa laki-laki berusia 32 tahun tersebut. Semua dari mereka tunduk, patuh pada apa pun yang Rafaele katakan. Terkecuali Belleza Steel. Sejak hari ini, ia bersumpah. Jika pun harus menerima pernikahan, namun hidup seorang Bella tetap milik Bella. Tak akan Bella biarkan, dirinya menjadi seperti salah satu dari anak buah Rafaele.
***
Di depan pintu istana Jeffie, tersaji hamparan pepohonan tinggi nan menghijau rimbun. Tak berada jauh dari sana, terdapat pula pantai dengan airnya yang biru jernih. Sementara luas pekarangan istana Jeffie sendiri, hampir mencapai seperempat dari lokasi pulau pribadi itu berada.
Butuh waktu berjam-jam, saat Bella berkendara menuju tempat tinggal Rafaele tersebut. Lokasi yang terbilang cukup terisolir dari ramainya aktifitas pusat kota Sisilia. Sedikit heran memang, mengapa seorang mafia seperti Rafaele menyukai tipe hunian yang cukup dekat bersinggungan dengan pantai. Jauh dari hingar-bingar tengah kota.
“Jerome sudah menunggumu di bawah. Sayang sekali aku tidak bisa ikut mengantarmu pulang, Belleza,” ucap Rafaele yang tengah berdiri berdampingan dengan Bella.
Bella menoleh pada Rafaele, “Panggil saja, Bella. Dan aku merasa lebih baik, karena kau tidak ikut mengantarku pulang. Aku belum terbiasa dengan bau asap cerutu dan mesiu di tubuhmu,” jawabnya menunjuk dengan tatapan mata ke arah dada sang putra mafia.
Mendengar kalimat Bella, Rafaele tersenyum kecil, “Ah, ya. Ini adalah bau kekuasaan seorang pemimpin keluarga. Kelak, kau akan terbiasa, ketika bau ini juga menempel di tubuhmu,” timpalnya ditutup kedipan sebelah matanya pada Bella.
Cih! Muak sekali Bella melihat dan mendengar kalimat Rafaele. Tanpa menjawab lagi, dia hanya segera melangkah pergi meninggalkan laki-laki itu. Menuruni anak tangga outdoor yang akan mengantarnya pada Jerome. Rafaele hanya tersenyum, menyaksikan kaki-kaki jenjang Bella bergerak cepet berlalu dari pandangannya.
Sampai di pelataran istana, tampak Jerome sudah menunggu dengan mobil Limousine hitam yang akan mengantar Bella pulang.
“Silakan, Nona.” Jerome membukakan pintu mobil untuk Bella. Mempersilahkan wanita itu masuk.
Tak ada jawaban. Bella hanya segera beringsut masuk ke dalam sana.
***
“Kita percepat acara pernikahannya. Sudah terlalu banyak mata yang melihat wajah Bella. Aku tidak ingin mengambil risiko.” Kalimat itu terlontar dari mulut seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi besar berwarna cokelat gelap.
Asap cerutu mengepul ke udara, saat laki-laki yang tak lain adalah Alaric itu menghembuskannya bebas.
Sementara di seberang meja panjang yang berada tepat di depannya, juga berdiri seorang laki-laki muda.
“Aku baru saja berkumpul dengan Adikku. Cepat sekali kau akan menyerahkannya pada si brengsek itu, Ayah?”
“Jangan bodoh, Damian. Untuk saat ini, Rafaele adalah senjata paling berguna untuk kita. Apa kau tak lihat bagaimana diriku sekarang?” Alaric menyahut. “Kita membutuhkan dia. Tidak peduli meski seberapa brengsek laki-laki itu,” imbuhnya menegaskan.
Mata biru itu menyorot tajam ke arah pria muda di hadapan. Damian Steel. Kakak dari Belleza. Sekaligus putra mahkota dari keluarga Steel.
Menguasai beberapa wilayah besar pasar gelap di Italia. Pemasok senjata ilegal antar Negara. Juga, menjadi penyuplai berbagai macam obat terlarang hampir ke semua Negara tetangga. Dengan kuasa sebanyak itu dalam genggaman, sosok Damian pun menjadi dijunjung-hormat oleh para klan lain. Beberapa kelompok Gangster, bahkan sudah tunduk di bawah komando sang Damian. Oleh semua keberkahan itu, Damian pun kemudian dijuluki sebagai The Master. Disegani karena trik dan intriknya ketika menghadapi musuh.
Jika kebanyakan mafia akan lebih memilih senjata api untuk mengambil nyawa dari lawannya. Namun, tidak dengan Damian. Selain petarung andal. Damian adalah tipe yang lebih suka menggunakan pisau, pedang, atau benda-benda tajam lainnya. Walau tetap, pertahanan terakhirnya adalah senjata api.
Akan tetapi, semua kekuasaan itu bahkan belum cukup sepadan dengan Rafaele Jefferie. Status keluarga Steel, masih berada di bawah keluarga Jeffie.
Mau seluas apa wilayah bisnis Damian, jika untuk sebuah izin operasi harus menunduk di hadapan seorang Rafaele, itu berarti Damian tak ubahnya kartel yang hidup dengan bergantung dari perlindungan sang Rafaele agung. Atas alasan itu pula, Damian pun tak bisa menolak, ketika mendiang Henry melamar sang adik untuk dijadikan menantu di dalam istana Jeffie.
Alih-alih lamaran. Kedatangan Henry beberapa bulan lalu ke kediaman keluarga Steel, lebih layak jika disebut sebagai perundingan.
Pernikahan antara Rafaele dan Belleza, tak ubahnya seperti sebuah bentuk persekutuan berkedok penyatuan keluarga dari kedua mempelai. Kenyataannya, sebelum kedatangan Henry, Damian dan Rafaele adalah dua kubu yang sering terlibat sengketa. Damian memiliki wilayah, namun Rafaele menggenggam perizinannya. Menjadikan dua laki-laki itu terus mencari celah. Titik lemah dari masing-masing pihak. Tidak ada alasan lain. Mereka sama-sama ingin menjadi yang teratas.
Akan tetapi, ambisi rupanya tak sejalan dengan realita. Henry sakit keras. Sementara Alaric hanya seorang pemimpin klan yang telah cacat. Hanya memiliki satu kaki, imbas dari perang antar klan puluhan tahun silam.
“Kau tidak memercayaiku, Ayah.” Suara berat Damian tertahan. Memunculkan urat-urat lehernya hingga tampak menegang. Mata dengan warna yang sama milik Alaric itu, kini pun tengah menatap tajam ke arah sang ayah.
Berulang kali Damian coba membujuk Alaric, agak mempertimbangkan kembali perihal pernikahan Rafaele dan Belleza. Akan tetapi, sia-sia saja. Alaric tak akan bisa digoyahkan lagi, ketika dia sudah mengambil keputusan. Menjadikan Damian harus bergumul dengan emosi yang ia pendam sendiri.
Bertahun lamanya harus hidup terpisah dengan Belleza, dan kini ketika Belleza telah kembali, tiba-tiba dia pun akan dijadikan sebagai alat penguat bisnis Alaric. Sebagai seorang kakak, tentu Damian tak rela hati. Apa lagi, mengetahui Belleza akan dinikahi oleh seorang laki-laki iblis seperti Rafaele.
“Aku memercayaimu. Lebih dari diriku sendiri. Dan kau tahu itu, Dam. Tapi kita berdua saja tidak cukup kuat untuk bertahan di bisnis ini. Kita butuh Rafaele. Suka, atau tidak suka.” Tegas cara Alaric mematahkan kalimat dari Damian tadi.
Asap cerutu kemudian tak lagi berpesta di udara. Alaric telah mematikan arang api pada ujung benda berukuran 17cm tersebut. Meninggalkannya terbaring di atas cohiba asbak berwarna hitam. Lantas menjatuhkan punggungnya pada sandaran tinggi tempat duduk.
“Dan mengumpankan Adikku pada iblis itu? It's not my plan, Dad! But you!” Kali ini Damian mengecam ayahnya sendiri.
Mulai tak tahan melihat gelagat pria tinggi di depannya, Alaric kemudian bangkit berdiri. Meraih tongkat yang selama ini sudah seperti kaki kirinya. Membuat langkah tetap berjalan, meski nyatanya dia kini adalah seorang manusia dengan sebelah kaki kanan saja.
Tok... Tok... Tok...
Suara tongkat yang beriringan dengan sepatu pantofel, mengetuk permukaan lantai parket dari ruangan kerja Alaric. Membawa paruh baya itu semakin mendekat pada Damian.
Sampai ketika posisi ayah dan putranya itu telah sejajar, keduanya intens menatapi masing-masing. Alaric bisa melihat jelas tulang rahang Damian yang sengaja dikeraskan. Menjadi tanda, jika saat itu Damian masih menahan diri.
“Putraku.” Alaric menyentuh salah satu bahu Damian. “Di dalam dunia kita, hidup dan nyawa kita adalah milik keluarga. Milik klan. Aturan itu juga berlaku untuk Adikmu. Selama ini dia sudah sangat cukup menikmati kebebasan di luar sana. Dan sekarang, waktunya dia kembali. Mengabdikan diri dan hidupnya untuk keluarga. Bukankah kau pun juga mengetahui ini sejak lama?” paparnya mengingatkan sekali pada Damian. Tentang bagaimana cara kerja hidup mereka yang telah berlangsung sedari mereka belum lahir.
Dan bertepatan dengan itu, sosok yang sedang menjadi topik perbincangan terlihat datang melewati daun pintu ruangan yang terbuka lebar. Dengan ekspresi wajah dingin, gadis muda berusia 22 tahun tersebut menghampiri dua laki-laki di depan meja kebesaran sang pemimpin keluarga Steel. Jadilah Alaric dan Damian menoleh bersamaan pada Belleza.
“Dari mana saja, kau, Bella?” Pertanyaan segera datang dari Alaric. Wajah separuh abad itu terlihat makin tua, manakala dahinya menciptakan kerutan saat menanyai sang putri.
“Menemui calon suamiku,” jawab Bella enteng.
Kontan, Damian pun melebarkan matanya. Kaget.
“Apa? Jadi kau diam-diam pergi keluar, hanya untuk datang pada si brengsek itu?” reaksi Damian tampak tak suka. Kedua alis tebalnya menukik tajam. Memasang ekspresi kesal.
“Setidaknya aku ingin lihat, seburuk apa orang yang akan melalap tubuh dan hidupku kelak.” Bella menyahut dengan senyuman smirk. Menoleh pada wajah Alaric, “dan terima kasih, Ayah. Kau sudah memberiku iblis paling sempurna,” tandasnya menyindir.
Mendengar perkataan Bella, sontak membuat dada Damian kian bergemuruh. Laki-laki itu kembali menatap wajah Alaric, setelah tadi teralihkan pada sosok sang adik.
“Kau dengar sendiri, Ayah. Apa kau benar-benar serius akan melakukan ini?” Untuk ke sekian kali, Damian kembali mendesak Alaric.
Di hadapannya, Alaric tampak sudah membuka mulut untuk menjawab. Akan tetapi, kalah cepat dari Bella. Gadis itu yang lebih dulu menyahut.
“Tapi, baiklah. Aku akan menikahinya. Lagi pula, aku memang tidak bisa menolak hal ini. Benar begitu, ‘kan, Ayah?” Bella tersenyum devil. Bergantian memandangi wajah ayah dan kakak lelakinya sekilas, sebelum kemudian berbalik badan. Menarik dirinya hengkang meninggalkan ruangan sang ayah. Langkahnya sangat cepat, hingga tak mungkin bagi Alaric untuk mengejar.
Alaric hanya bisa memanggil-manggil nama Bella. Memanggil tanpa mendapat jawaban. Bella tetap melangkah pergi, sampai benar-benar tidak terlihat lagi oleh mata Alaric dan Damian.
***
Malam hari di istana Jeffie.
Rafaele tengah asyik bercumbu dengan seorang wanita di dalam sebuah ruangan khusus. Ruangan yang biasa disebut sebagai arena bermain oleh si empunya. Di ruangan dengan dinding kaca itu, Rafaele menghibur kesepiannya selama ini.
Duduk di sofa hitam panjang, sang wanita tampak begitu menikmati mulut Rafaele yang tengah menjelajahi kulit lehernya.
“Aaah, Raf ... aku dengar kau akan segera menikah. Apakah itu benar, atau hanya kabar burung saja?” Di tengah cumbuan, wanita dengan gaun merah panjang itu bersuara. Menanyakan tentang pernikahan Rafaele dan Belleza yang akan segera digelar.
Rafaele menjeda pergerakan bibirnya. Namun, sama sekali tak mengangkat dirinya yang tengah asyik bermanja dalam dekapan sang wanita. Bibir merah sensual itu pun tersenyum, ketika mendongakkan kepala menatap wajah lawan bicara.
“Ya ... itu memang benar. Aku akan menikah. Apa itu membuatmu kecewa?” Jawaban dari Rafaele.