“Apa kamu datang ke sini hanya untuk mengamati wajahku?” Suara berat pria itu menyentak Krystal. Membuyarkan lamunan gadis itu. Krystal langsung menundukan kepalanya. Raut wajah gadis itu semakin ketakutan.
Krystal menelan salivanya ketika pria itu mendekat padanya. Aroma parfume citrus menyeruak ke indra penciumannya. Sorot mata tegas pria itu membuat Krystal rasanya ingin berlari, tetapi ingatannya berputar tentang tujuannya berada di sini. Tubuh Krystal seolah melemah ketika pria itu semakin mendekat padanya. Jantungnya berpacu semakin keras. Ketakutan menjalar ke dalam tubuh Krystal.
“M-Maaf, T-Tuan Kaivan,” ucap Krystal dengan gugup dan wajah yang kian memucat. Kepalanya masih tertunduk dan tak berani melihat pada pria itu.
Kaivan menatap lekat Krystal. Memperhatikan gadis di hadapannya dengan seksama. “Angkat wajahmu. Bagaimana aku bisa berbicara denganmu jika kamu menunduk seperti itu?” ucapnya dingin dan tatapan dingin.
Perlahan Krystal mengangkat wajahnya dan kembali melihat wajah Kaivan. Hal yang membuat degup jantung Krystal berpacu adalah sorot mata tajam pria itu. Nyali Krystal menciut. Rasa takut menelusup ke dalam dirinya. Tetapi, Krystal tak mungkin hanya diam. Karena untuk bertemu dengan sosok Kaivan membutuhkan sebuah pengorbanan. Berkali-kali Krystal mendapatkan penolakan dari asisten Kaivan kala dirinya ingin bertemu dengan pria di hadapannya ini. Kini Krystal mengatur napasnya, menguatkan hati dan menyakinkan dirinya sendiri.
“Maaf saya mengganggu waktu Anda, Tuan,” ucap Krystal dengan sopan.
Kaivan memasukan tangannya ke saku celana. Tatapan matanya tak lepas menatap Krystal. “Terakhir aku melihatmu saat aku menghadiri pemakaman kedua orang tuamu lima tahun lalu. Apa yang membuatmu sekarang memaksa bertemu denganku?”
Ya, Kaivan Bastian Mahendra adalah mantan boss dari ayah Krystal yang telah tiada. Tepatnya lima tahun lalu Krystal harus menelan pil pahit kecelakaan yang menimpa ayah dan ibunya membuat kedua orang tuanya meninggal di tempat kejadian. Hidup Krystal terpuruk kala kehilangan kedua orang tuanya. Berjuang hanya dengan adiknya membuat Krystal menjadi gadis yang lebih tangguh. Dan setelah sekian lama Krystal kembali bertemu lagi dengan sosok Kaivan. Pria yang terkenal memiliki sejuta pesona. Namun pria yang juga terkenal dengan sifatnya yang arogan.
“T-Tujuan saya ke sini ingin meminta bantuan pada Anda, Tuan,” ucap Krystal yang memberanikan diri. Meski gugup tapi kenyataanya dia mampu mengucapkan itu.
“Langsung saja pada intinya. Bantuan apa yang kamu maksud?” jawab Kaivan dingin dengan nada tegas. Dia tak suka berbasa-basi.
“Maaf karena saya lancang berani meminta mengatakan ini, Tuan. Tapi sungguh saya tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Adik saya mengalami kecelakaan, Tuan. Dan kecelakaan yang menimpa adik saya telah menewaskan tiga orang yang tidak bersalah. Saya pun harus menanggung biaya ketiga korban, Tuan. Sedangkan sekarang, adik saya membutuhkan uang untuk operasi.” Krystal berucap dengan nada yang takut. Gadis itu terlihat berusaha untuk memberanikan diri.
Kaivan tak mengidahkan ucapan Krystal. Pria itu malah sejak tadi memperhatikan setiap gerak tubuh gadis yang ada di hadapannya ini. Terutama kala Krystal memainkan kukunya. Wajah panik, cemas, dan ketakutan yang ditunjukan oleh gadis di hadapannya itu membuat Kaivan tertarik. Sepasang iris mata cokelat terang Krystal terlihat menunjukan rasa putus asa.
“Sebenarnya saya ingin meminjam L-Lima ratus juta, Tuan,” ucap Krystal lagi seraya menggigit bibir bawahnya kuat. Dia langsung menundukan kepalanya. Tidak berani menatap Kaivan kala menyebutkan nominal yang ingin dia pinjam pada pria itu.
“Apa pekerjaanmu, Krystal?” Kaivan seolah mengabaikan permintaan Krystal. Pria itu malah mengamati seksama penampilan Krystal dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis yang ada di hadapannya itu.
“Ballerina. Saya seorang Ballerina, Tuan,” jawab Krystal pelan.
“Well… Lima ratus juta tidak akan cukup jika adikmu benar dalam kondisi yang parah. Pemulihan paska operasi akan panjang. Bahkan kamu membutuhkan banyak biaya untuk adikmu itu setelah dia selesai operasi.” Kaivan berucap dengan nada dingin dan tatapan tak lepas menatap Krystal.
Krystal pun diam kala mendengar ucapan Kaivan. Ya, Krystal mengakui untuk seorang yang mengalami kecelakaan parah. Tentu nominal lima ratus juta tidaklah cukup. Pemulihan paska operasi akan jauh lebih lama. Namun, jika meminjam lebih banyak lagi tentu Krystal cukup tahu diri. Tidak mungkin Kaivan mau meminjamkan banyak uang untuknya.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya tidak mungkin bisa mengganti uang Anda kalau lebih dari lima ratus juta. Saya mohon bantuan Anda, Tuan. Saya berjanji akan segera mengganti uang Anda secepatnya,” ucap Krystal dengan nada penuh permohonan. Tatapan gadis itu menatap Kaivan penu harap. Berharap Kaivan akan membantunya. Karena jika bukan Kaivan, maka Krystal tidak tahu lagi siapa yang akan bisa membantunya dalam keadaan seperti ini.
“Memangnya semudah itu kamu meminta uang padaku? Apa yang kamu bisa janjikan?” Suara Kaivan bertanya dengan nada yang terdengar menusuk ke indra pendengaran Stella.
Wajah Krystal semakin pucat. Pancaran mata Krystal menunjukan rasa takut yang kian menelusup dalam dirinya. “S-Saya akan memberikan lebih dari uang yang Anda pinjamkan, Tuan. Saya berjanji, Tuan.”
Kaivan masih diam ketika mendengar ucapan Krystal. Dia mengamati penampilan gadis yang ada di hadapannya. Balutan dress sederhana nyatanya membuat gadis itu sangat cantik. Kulit putih seperti susu. Rambut cokelat tebal serta manik mata cokelat yang sama dengan rambut yang dimiliki gadis di hadapannya ini. Sesaat Kaivan sekelabat sesuatu muncul dalam benak Kaivan. Ya, gadis di hadapannya ini adalah gadis yang sangat cocok dengan apa yang dia inginkan.
“Aku bisa saja memfasilitasi adikmu sampai benar-benar pulih. Lima ratus juta bukan nominal yang besar untukku. Adikmu pun bisa mendapatkan fasilitas terbaik di rumah sakit,” jawab Kaivan dengan nada arogan. “Tapi, aku tidak membutuhkan uangmu untuk mengganti pinjamanmu itu, Krystal.”
Raut wajah Krystal tampak bingung mendengar Kaivan tidak membutuhkan uangnya. “Lalu bagaimana cara saya mengganti uang Anda, Tuan?” tanyanya tak mengerti.
Kaivan kembali melihat seluruh penampilan gadis yang telah berhasil membuat daya tarik dimatanya. “Mudah saja. Kamu cukup menyetujui persyaratan dariku.”
Krystal terdiam sejenak. Dia memberanikan diri menatap wajah Kaivan. “Persyaratan apa yang Anda inginkan, Tuan?”
Kaivan menyeringai dengan misterius sambil menatap Krystal tajam, serta melihat gadis yang ada di hadapannya itu dari atas sampai bawah. Didetik selanjutnya, Kaivan berjalan lebih dekat ke arah Krystal, hingga membuat Krystal langsung mundur dan menabrak dinding di belakangnya. Kini jarak mereka hanya tiga cm jauhnya, mereka dapat merasakan deru napas masing-masing. Kaivan mendekatkan bibirnya ke telinga Krystal dan berbisik, “Tidur denganku.”
“Tidur denganku.”
Raut wajah Krystal terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Kaivan. Seketika mata Krystal memanas. Menatap Kaivan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
“Apa Anda sudah kehilangan akal sehat Anda, Tuan Kaivan! Saya menemui Anda karena ingin meminjam uang! Bukan untuk menjual diri!” seru Krystal dengan nada tinggi. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Harga dirinya benar-benar direndahkan.
Kaivan sedikit melangkah mundur. Dengan santai Kaivan memasukan tangan ke saku celananya. Menatap Krystal yang terlihat begitu marah padanya.
“Bukankah kita sama-sama diuntungkan dalam hal ini, Nona Krystal?” Kaivan tersenyum misterius. “Kamu bisa membiayai adikmu yang sakit. Bahkan kamu bisa memberikan fasilitas yang terbaik agar adikmu itu bisa pulih. Tapi tentu kamu harus menuruti persyaratan dariku.”
Krystal menggeram. Manik mata cokelat terangnya terhunus kian tajam pada Kaivan. “Anda memang sudah tidak waras, Tuan! Lebih baik Anda cari saja wanita bayaran yang bisa Anda ajak tidur!” Dengan raut wajah penuh emosi, Krystal langsung melangkah pergi. Namun tiba-tiba…
“Jika kamu pergi dari sini, ke mana lagi tujuanmu, Krystal? Apa akan ada orang yang meminjamkanmu uang sebanyak itu? Kecuali memang kamu sudah menyerah dan membiarkan adikmu untuk tidak selamat maka kamu bisa pergi dari sini.” Kaivan berucap dengan nada arogan. Tatapannya tak lepas menatap punggung Krystal.
Ya, perkataan Kaivan sukses membuat langkah kaki Krystal terhenti. Tampak raut wajah Krystal menjadi muram dan ketakutan yang melanda dirinya. Pasalnya Krystal tahu tidak akan ada orang yang mau meminjamkan uang dengan jumlah sebesar yang dia minta. Hingga tanpa sadar, bulir air mara Krystal mulai menetes. Bayangan Krystal memikirkan sang adik yang tergeletak tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Kaivan tersenyum penuh arti melihat tubuh Krystal yang mematung dan masih memunggunginya. Dia menatap gadis itu dengan seksama.
“Aku sudah menikah, Krystal.” Kaivan berucap sontak membuat Krystal terkejut. Gadis itu membalikan tubuhnya, menatap Kaivan dingin.
“A-Anda sudah menikah? Lalu—”
“Sepertinya kamu tidak pernah melihat berita tentangku di media.” Kaivan menatap manik mata cokelat terang Krystal. Menyela ucapan gadis itu. Kemudian melanjutkan dengan nada tegas, “Ya, aku sudah menikah. Tapi hingga detik ini aku masih belum memiliki keturunan. Aku rasa kamu sangat tahu, aku tentu dituntut oleh keluargaku untuk memiliki anak. Sebelum kamu datang menghampiriku, aku memang sedang mencari wanita yang tepat untuk mengandung anakku. Dan kebetulan sekali kamu datang padaku. Jadi aku tidak perlu bersusah payah mencarikan wanita yang siap mengandung anakku. Tugasmu sangat mudah, Krystal. Kamu hanya cukup mengandung dan melahirkan anakku. Kita akan menikah diam-diam. Tidak akan ada yang tahu pernikahan kita. Setelah anakku lahir maka kita akan bercerai. Kamu bisa menjalani lagi kehidupanmu bersama dengan adikmu. Tenang saja, setelah bercerai nanti aku akan memberikan tunjangan untukmu agar bisa hidup lebih baik.”
Krystal terdiam mendengar ucapan Kaivan. Tampak raut wajah Krystal begitu terkejut dengan semua perkataan Kaivan. Pria itu ternyata sudah menikah dan tengah mencari wanita yang siap mengandung anaknya. Sorot mata Krystal terlihat tengah memikirkan sesuatu. Di sisi lain, menjadi ibu pengganti apa bedanya dengan menjual diri? Hanya berbeda dirinya akan menikah dengan Kaivan. Meski itu hanyalah diam-diam. Lalu di sisi lainnya, Krystal memikirkan keadaan sang adik yang tengah kritis. Terakhir dokter mengatakan tak ada waktu lagi. Jika dirinya terlambat memberikan uang maka adiknya itu tidak akan mungkin bisa selamat.
“B-Bagaimana dengan perasaan istri Anda, Tuan? Apa Anda tidak memikirkan sama sekali perasaan istri Anda? Dia tentu akan terluka dengan ini semua,” ucap Krystal dengan bibir bergetar. Krystal membayangkan jika ada di dalam posisi istri sah Kaivan. Hati wanita mana yang tidak hancur jika sang suami mencari wanita lain demi mengandung anaknya?
“Aku menikah dengan istriku sudah empat tahun. Hingga detik ini dia tidak bisa hamil karena ada masalah dengan rahimnya. Dokter sudah memvonis istriku tidak bisa mengandung. Kamu tidak perlu memikirkan perasaannya. Dia tentu tahu tentang hal ini. Hanya saja, keluargaku tidak ada yang tahu. Kamu tidak perlu khawatir. Kehidupan pribadimu akan terjaga selama kita menikah. Begitu pun setelah kita bercerai nanti. Tidak akan ada yang tahu kamu pernah menikah denganku.” Kaivan berucap dengan nada arogan dan tatapan yang tak lepas melihat mata Krystal.
Lagi dan lagi Krystal bungkam. Semua persyaratan dari Kaivan mungkin akan merugikan diri Krystal. Namun, tak dipungkiri kehidupan Krystal dan adiknya akan jauh lebih terjamin. Hanya melahirkan satu anak dan memberikannya pada Kaivan setelah itu dirinya akan bebas. Tetapi jujur yang ada dalam benak Krystal mampukah dirinya melakukan itu? Krystal hanya takut dirinya terjatuh pada sebuah jurang yang dirinya buat sendiri.
Krystal bisa saja menolak persyaratan Kaivan, namun bagaimana nasib adiknya yang tengah dalam keadaan kritis? Kini Krystal memejamkan matanya. Bulir air mata menetes membasahi pipinya. Krystal tidak bisa egois. Dia membutuhkan uang. Pemulihan adiknya akan panjang. Hanya adiknya yang Krystal miliki saat ini. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Krystal hanya hidup berdua dengan sang adik. Pun Krystal sudah berjanji pada kedua orang tuanya akan menjaga adiknya.
“T-Tuan Kaivan boleh saya bertanya?” tanya Krystal seraya menelan salivanya susah payah. Raut wajahnya terlihat begitu pucat.
“Silahkan, Apa yang ingin kamu tanyakan?” Kaivan menatap lekat wajah Krystal yang tampak terlihat pucat.
“A-Apa nanti setelah menikah, Anda tetap membebaskan saya beraktivitas? Maksud saya apa saya masih tetap bisa bekerja?” Suara Krystal bertanya dengan suara parau. Tenggorokannya tercekat. Bayangan dalam pikirannya memikirkan kehidupannya setelah menjadi istri Kaivan. Meski itu sama saja dengan istri simpanan.
“Aku tidak akan pernah melarang aktivitasmu. Kecuali jika kamu sudah hamil tidak mungkin kamu masih menari. Mengingat pekerjaanmu adalah seorang Ballerina.” Kaivan melangkah mendekat pada Krystal. Kemudian menarik dagu Krystal dengan telunjuknya. “Apa ini artinya kamu menyetujui persyaratan yang aku berikan padamu, Krystal Munela?”
Krystal menelan salivanya susah payah. Hati dan pikiran Krystal berkecamuk. Hati Krystal ingin menolak. Tetapi pikiran Krystal mendorong dirinya untuk menerima. Sesaat Krystal mengatur napasnya. Menguatkan diri atas apa yang akan dia pilih.
“Ya, Tuan Kaivan. Saya menyetujui persyaratan yang Anda berikan pada saya. Saya akan mengandung anak Anda. Dan kita akan bercerai setelah anak Anda lahir.” Krystal berucap dengan mata yang nyaris berkaca-kaca. Hatinya begitu hancur kala mengatakan itu.
Seringai di wajah Kaivan terlukis kala mendengar Krystal menyetujui persayaratannya. Kini Kaivan membelai sedikit kasar pipi Krystal dan berbisik tajam, “Good. Pilihan yang sangat tepat, Krystal. Aku menyukai caramu berpikir.”
Resmi menjadi istri kedua Kaivan Bastian Mahendra adalah suatu hal yang menjadi mimpi buruk bagi Krystal. Di dunia ini tidak ada yang menginginkan menjadi istri kedua. Tidak. Tepatnya Krystal hanya menjadi istri simpanan sampai dirinya bisa hamil dan melahirkan anak untuk Kaivan. Setelah Krystal melahirkan anak maka kesepakatan antara dirinya dan Kaivan berakhir. Ya, hari ini Krystal dan Kaivan telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sungguh, air mata Krystal tak mampu tertahan kala dirinya sah menjadi istri Kaivan. Tentu Krystal menangis bukanlah air mata kebahagiaan.
Hal yang membuat Krystal tidak mampu menahan air matanya kala di ujung sana, Krystal melihat seorang wanita yang sangat cantik dengan balutan gaun berwarna maroon terus menatapnya. Sepanjang proses pernikahan wanita itu tidak henti melihat dirinya dan Kaivan. Pernikahan yang hanya disaksikan tidak lebih dari lima orang.
“Krystal, ikut aku. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang.” Kaivan berucap tegas sontak membuat Krystal yang melamun sedikit terkejut.
Krystal menganggukan kepalanya pelan seraya menghapus sisa air matanya. Dia tidak ingin menunjukan wajah kerapuhannya pada orang lain. Sejak tadi Krystal tidak mau berucap sepatah kata pun. Dia melangkah mengikuti Kaivan. Balutan kebaya putih dengan sanggul sederhana yang Krystal kenakan tetap membuatnya terlihat sangat cantik dan anggun. Sama halnya dengan Kaivan—pria itu memakai jas formal berwarna hitam, membuat pria itu terlihat gagah dan mempesona.
“Krystal kenalkan dia Livia, istri pertamaku.” Kaivan berucap memperkenalkan sosok wanita cantik yang ada di hadapannya. Tampak raut wajah Kaivan tetap dingin dan datar kala memperkenalkan istri pertamanya.
Seketika Krystal membeku kala diperkenalkan langsung oleh istri pertama Kaivan. Tenggorokannya tercekat. Lidahnya begitu kelu. Rasanya Krystal tidak mampu berucap sedikit pun. Tampak wajah Krystal begitu gugup. Kini Krystal saling beradu pandang pada Livia. Ya, Krystal mengakui Livia, istri Kaivan sangatlah cantik. Wajahnya anggun dan begitu berkelas.
“Livia Mahendra.” Livia mengulurkan tangannya pada Krystal. Wanita itu memperkenalkan diri dengan suara yang lembut namun tersirat tegas. Pun Krystal akhirnya menyambut jabatan tangan Livia. Krystal tetap berusaha untuk memberikan sebuah senyuman.
“Krystal.” Krystal berucap pelan kala memperkenalkan dirinya. Dia hanya menyebutkan nama depannya. Meski sekarang sudah resmi menjadi istri kedua Kaivan, rasanya Krystal merasa tidak pantas jika menyebutkan nama “Mahendra” di belakang namanya. Terlebih Krystal berkenalan langsung dengan istri pertama Kaivan.
Livia tersenyum. “Terima kasih kamu menerima kesepakatan dari suamiku. Aku sangat menghargai keputusanmu, Krystal.”
Krystal terdiam sejenak mendengar kata-kata lembut Livia. Dari cara bicaranya Livia adalah wanita yang lembut dan baik. Rasanya dirinya begitu berdosa. Tentu Krystal tahu, Livia sangat terluka pada dirinya yang telah menjadi istri kedua Kaivan. Walau itu hanya demi sebuah kesepakatan. Mulut mungkin bisa berbohong mengatakan baik-baik saja. Sayangnya mata tidak pernah bisa berbohong. Krystal bisa melihat tatapan kesedihan di mata Livia. Sejak selama proses pernikahan berlangsung, Livia terus memberikan tatapan penuh arti padanya dan Kaivan.
Hingga kemudian, Krystal hanya memberikan senyuman hangat merespon ucapan Livia. Dia tidak tahu harus menjawab apa ucapan Livia.
“Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kamu pulanglah, Livia. Sopir akan mengantarmu,” ucap Kaivan dingin dengan raut wajah tanpa ekpresi pada Livia.
Setelah mengatakan itu, Kaivan langsung merengkuh bahu Krystal membawanya meninggalkan Livia yang masih bergeming dari tempatnya. Tatapan Livia terus menatap punggung Kaivan yang mulai menghilang dari pandangannya.
***
Krystal melangkahkan kakinya memasuki sebuah kamar megah. Kamar yang bahkan sepuluh kali lipat lebih besar dari kamar pribadinya di rumahnya. Sesaat raut wajah Krystal tampak begitu gugup. Beberapa kali Krystal menelan salivanya susah payah kala memasuki kamar itu.
Kaivan membuka jasnya, dan dengan santai Kaivan meletakan jas yang tadi dia pakai ke sofa yang tak jauh dari mereka. “Apa kamu tidak mau ganti pakaianmu?” tanyanya dingin dengan raut wajah datar.
“T-Tuan, saya—”
“Tuan?” Alis Kaivan terangkat kala Krystal memanggilnya masih dengan sebutan “Tuan” Gadis di hadapannya itu bahkan telah resmi menjadi istrinya, tapi masih saja memanggilnya dengan sebutan itu. “Kenapa kamu masih berbicara formal denganku? Aku rasa kamu tidak lupa ingatan. Kita telah resmi menjadi suami istri. Kamu cukup panggil namaku. Dan berhenti berbicara formal denganku.”
Krystal menelan salivanya susah payah. “Iya, Tuan. M-Maaf. Maksudku Kaivan,” ucapnya terbata-bata. Ini pertama kali Krystal memanggil nama Kaivan hanya dengan sebutan nama. Rasanya sangat aneh. Dia belum terbiasa akan itu.
Kaivan membuka kancing kemeja di pergelangan tangannya. Dia melangkah mendekat pada Krystal yang wajahnya tampak pucat itu. “Kamu gugup karena ini malam pertama kita?” tanyanya dengan tatapan tak lepas menatap mata Krystal.
Wajah Krystal kian pucat kala Kaivan kembali mengingatkan dirinya bahwa malam ini adalah malam pertamanya. Degup jantung Krystal berpacu kencang saat Kaivan melangkah mendekat ke arahnya.
“A-Aku—”
“Rileks, Krystal.” Kaivan membelai sedikit kasar pipi Krystal. Membuat Krystal semakin gugup. “Kapan terakhir kamu tidur dengan mantan pacarmu?” tanyanya yang sontak membuat Krystal terkejut.
Raut wajah Krystal tampak kian gugup dan bingung menjawab pertanyaan Kaivan. Didetik selanjutnya, Krystal menggelengkan kepalanya dan menjawab pelan, “A-Aku belum pernah.”
Alis Kaivan bertautan, menatap lekat Krystal. Wajah dingin dan arogannya tetap diam, namun tersirat keterkejutan. “Apa maksudmu belum pernah?”
Krystal menelan salivanya susah payah. “Aku belum pernah melakukannya.”
Sepasang iris mata cokelat gelap Kaivan tampak semakin terkejut. Dia tetap diam, menatap lekat Krystal. Tersirat mata Kaivan menunjukan tatapan tak percaya. Pasalnya, Krystal sudah lebih dari 20 tahun. Bahkan saat dulu Kaivan menikah dengan Livia, istri pertamanya itu sudah tidak lagi perawan. Bagaimana mungkin di jaman seperti ini masih ada wanita yang perawan? Rasanya itu benar-benar mustahil.
“Maksudmu, kamu masih perawan?” Kaivan bertanya dengan nada dingin dan tatapan yang tak lepas menatap Krystal. Dia mulai melangkahkan kakinya mendekat pada Krystal.
Krystal mengangguk dalam wajah yang panik kala Kaivan semakin mendekat padanya. Dengan pelan, Krystal melangkahkan kakinya mundur ketika Kaivan terus mendekat ke arahnya.
Seringai di wajah Kaivan terlukis melihat anggukan kepala Krystal. Dia langsung mendorong tubuh Krystal ke ranjang luas. “Kalau begitu aku akan menunjukannya padamu, Krystal.”
Wajah Krystal semakin pucat. Dia mencengkram kuat sprei. Berkali-kali Krystal menelan salivanya susah payah saat dirinya sudah terbaring di ranjang megah itu.
“Rileks, Krystal. Aku tidak akan menyakitimu.” Kaivan berbisik kala dirinya sudah memenjarakan Krystal di bawah tubuhnya, di atas hamparan ranjang yang megah itu.
Sudut mata Krystal mengeluarkan air matanya. Dia hendak membuang wajahnya kala Kaivan mulai melucuti pakaiannya. Sayangnya, Kaivan tidak membiarkan itu. Pria itu menarik dagu Krystal memaksa gadis itu untuk melihatnya.
Hingga saat tubuh keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun, terdengar suara jeritan Krystal memenuhi kamar megah itu. Krystal merasakan pusat tubuhnya terbelah. Dia mencengkram kuat sprei. Bulir air matanya tak henti berlinang.
Ya, pada akhirnya Krystal menjatuhkan dirinya pada sosok pria yang memberikan sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang Krystal tahu kelak dirinya akan menyesali semua ini. Namun, Krystal menyadari tidak ada jalan untuknya kembali.
“Kaivan…” Suara Krystal begitu lembut di telinga Kaivan. Pria itu hanya tersenyum samar melihat gadis yang ada di bawahnya hanya pasrah dan tak berdaya.