Bab 2

"Tinggal 2 hari lagi, Bu? Kalau mau melahirkan secara normal, perbanyak jalan kaki sama sering-sering dijengukin Papanya ya, Bu." Jelas Dokter padaku.

"Dijengukin gimana maksudnya, Dok?" Tanyaku yang memang tidak paham dengan apa yang dimaksud Dokter obygn langgananku.

"Ya, Masak Ibu gak paham sih? Begituan lah, Bu." Ucap Dokter sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kata-kata Dokter barusan masih terngiang-ngiang ditelingaku. Bisa terhitung berapa kali Mas Juan mencumbuku, apalagi sejak hamil kami tidak lagi semesra awal pernikahan. Mas Juan berkata jika dia takut menyakiti anaknya jika ia menuntaskan hasratnya padaku, ia juga berkata bahwa lebih baik menahan diri dari selama beberapa bulan demi keselamatan anaknya.

Padahal sudah ku katakan saran Dokter sejak minggu-minggu sebelumnya saat usia kandunganku memasuki trimester ke tiga ini. Agak malu rasanya saat aku meminta nafkah batin pada suami, tapi mau bagaimana lagi. Sebagai seorang istri aku juga butuh nafkah batin.

"Lokasi berikutnya kemana, mbak?? Atau langsung pulang saja?"

"Ah iya, Pak. Saya lupa kalau hari ini mau berkunjung ke rumah Ibu Mertua saya, ke jalan jingga no. 5 ya, Pak." Jelasku pada supir taksi online yang biasa ku pesan untuk mengantarku ke rumah sakit.

"Baik, Mbak."

Setelah kontrol, Ibu menelponku untuk berkunjung sebentar ke rumahnya. Karena memang sudah lama sekali aku tidak mengunjunginya.

***

Sampai didepan rumah, pintu utama terbuka. Ku fikir Ibu sudah pulang, jadi tanpa ragu aku pun melangkah menjauh dari taksi online yang baru saja mengantarku.

"Assala ..."

"Huwekk ... Huwekk ..."

Belum tuntas aku mengucap salam, terdengar orang yang sedang muntah-muntah didalam rumah. Tanpa fikir panjang aku pun memasuki rumah Ibu tanpa mengucap salam terlebih dahulu.

"Huwekk... Huwekk..."

"Loh, Rea. Kamu kenapa?"

"Huwekk... Huwekk..."

Tak ada jawaban dari Rea adik dari suamiku, ia terus mengeluarkan isi perutnya yang hanya tersisa air saja. Wajahnya pucat dan lagi, bukannya tadi Mas Juan bilang ingin membeli keperluan sekolah Rea? Tapi kenapa Rea tetap disini, dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kemana Mas Juan sebenarnya?

Ku raba kening Rea, memastikan bahwa dia sedang demam atau tidak. Tidak panas sama sekali bahkan Rea seperti mengeluarkan banyak peluh dari tubuhnya.

"Kok bisa begini sih, Re? Ayo mbak bantu kerokin ya!" Ujarku sambil memegang pundaknya, tapi beberapa detik kemudian Rea menghempas tanganku.

"Gak usah," jawabnya ketus.

Ya, sikap Rea memang sering acuh padaku. Bahkan cenderung tidak suka, sejak aku menikah dengan Mas Juan tak pernah sedikitpun aku dekat dengan Rea. Padahal aku tidak pernah berbuat salah padanya.

"Mas mu kemana, Re? Katanya mau anter kamu beli Hp baru?" Tanyaku penuh selidik, siapa tau dia tau kemana Mas Juan pergi. Sebab dia lebih dekat dengan Mas Juan dari pada aku istrinya.

"Gak tau, udah mbak pergi aja sana."

Huh, andai saja bukan Adik ipar mungkin aku sudah bersikap tidak sopan pada Rea, niat hati ingin membantu jawabannya malah begini. Padahal keadaannya saja sudah lemas begitu tetap saja angkuh dan tak mau menerima bantuan dariku.

"Huwekk.... Huwekk..."

Bruak ... Tubuh Rea ambruk, peluh makin membanjiri wajahnya. Tanngannya pun dingin sedingin es, sedang kepalanya kini ia sandarkan pada toilet.

"Duh, Re. Kamu sih gak mau mba bantu dari tadi. Jadi lemes gini, Kan?" Ku pegang pundak Rea perlahan, pikirku mungkin bisa membantunya duduk dengan benar. Tapi nihil, perutku yang sudah sangat buncit ini menghalangiku untuk bergerak.

Brak...

"Astaga, Rea." Sontak aku menoleh ke asal suara.

"Ah ..." Badanku tersungkur hingga hampir terjatuh akibat dorongan yang sedikit kasar dari Mas Juan.

"Kamu gimana sih, Ra. Bukannya nolongin Rea, malah ngeliatin doang." Bentak Mas Juan saat setelah meletakkan tubuh Rea diatas kasur.

"Aku udah berusaha nolongin, Mas. Tapi Rea nya aja yang gak mau dari tadi." Jelasku pada Mas Juan, tak ku sangka dia malah menodongko seperti itu. Apa dia tidak menyadari bahwa anaknya hampir celaka gara-gara ulahnya barusan.

"Kamu dari mana aja, katanya mau nganterin Rea beli Hp? Kok nyampek sini malah Rea keadaannya begini." Tanyaku dengan nada ketus.

"Aku ketemu temen dulu, ada urusan." Jawabnya ketus dan tanpa melihat ke arahku.

Mas Juan merapikan rambut Rea dengan telaten, bahkan Mas Juan memijit kaki Rea secara perlahan. Layaknya kasih sayang seorang Kakak kepada Adiknya, tapi aku merasa ini sangat berlebihan. Dan tak terasa pula sepertinya aku cemburu melihat perhatian Mas Juan pada Rea.

Dia memang tipikal pria perhatian, tapi aku tidak pernah mendapatkan perhatian yang begitu dalam seperti yang ku lihat didepan mataku saat ini.

"Re, Mas udah bawa obatnya. Kamu minum lagi ya, biar cepet keluar." Ucapnya dengan lembut sambil mengusap anak rambut Rea perlahan.

Rea sedikit menbuka mata dan melirik Mas Juan, namun yang membuatku janggal adalah, apanya yang cepat keluar?

"Aku takut kak, kita pertahanin ya" sangat tampak jelas Rea meneteskan air mata.

Aku semakin bingung dengan percakapan dua orang kakak beradik ini, sebenarnya apa yang mereka perbincangkan ini.

Mas Juan menggelengkan kepala seraya berkata, "Nggak bisa, Re. Terlalu banyak dampak negatifnya buat hidup kita,"

"Kakak jahat, kakak gak sayang sama Rea."

Rea memalingkan wajahnya dan juga tubuhnya membelakangi Mas Juan, drama apalagi ini. Aku sebagai istri Mas Juan malah seperti obat nyamuk bagi sepasang kekasih yang tengah berseteru.

"Justru karena Kakak sayang sama kamu, Re. Makanya Kakak gak mau kamu kehilangan masa depan kamu."

"Masa depan? Bukankah sejak lama masa depan Rea udah suram ya, Kak!"

"Mas, ada apa ini? Apa yang kalian bicarakan? Ada apa dengan, Rea." Ujarku menengahi, karena aku benar-benar dibuat penasaran dengan arah topik pembicaraan mereka. Aku istri Mas Juan, tapi tidak tau apa-apa tentang keluarga suamiku.

"Dan ... Apa hubungannya dengan masa depan Rea, Mas?"

Mas Juan menoleh ke arahku, yang masih berdiri terpaku agak jauh dari tempat tidur Rea. Seolah ia tidak menyadari keberadaanku.

"Diam, Nara. Jangan terlalu ikut campur," Lagi-lagi, amarah yang ku dapatkan dari sosok suamiku itu.

"Lagi pula, untuk apa kamu kesini? Bukankah sudah ku katakan, kamu bisa pergi sendiri jika mau ke Dokter. Bahkan sudah ku berikan uang tambahan sebagai rasa permintaan maafku karena tidak bisa mengantarmu, atau ..."

"Kamu tidak mempercayai ku dan memilih memeriksan kesini, benar atau tidaknya aku pergi dengan Rea? Iya!"

Degh ...

Sakit dan takut, itu yang aku rasakan saat ini. Pertama kalinya dalam sejarah pernikahanku, Mas Juan membentakku dengan sangat kasar atas tuduhan yang tidak berdasar itu.

"Nggak, Mas. Aku sama sekali tidak memiliki niatan seperti itu, kenapa kamu tega nuduh aku kayak gitu. Aku kesini, karena Ibu yang menyuruh. Beliau bilang ..."

"Cukup, Ra. Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Lebih baik kamu pulang sekarang juga."

"Akhhh sakit. Perutku sakit, Kak." Sontak aku dan Mas Juan menoleh ke arah Rea yang berteriak kesakitan.

Bab 3

"Re, kenapa? Apa mungkin akan ..." Ucap Mas Juan menggantung. Seolah ia kini menjaga ucapannya karena menyadari keberadaanku.

"Nggak, Kak. Gak mungkin, ini pasti karena aku belum makan apa pun sejak pagi tadi." Elak Rea pada Mas Juan.

Wajahnya bertambah pucat, menyiratkan tubuh yang sedang tidak fit. Ah, mungkin saja aku terlalu berlebihan atas sakit yang dialami Rea, muntah dan mualnya barusan mungkin saja karena asam lambungnya naik, apalagi dia sudah mengatakan kalau dari pagi belum masak makanan apa pun.

"Kakak ambil makanan dulu, setelah itu kamu minum obat ini ya!" Jelas Mas Juan sambil mengeluarkan obat dari dalam tasnya.

Obatnya kecil dan hanya sebiji saja, Bahkan tidak tampak seperti obat lambung.

Aku hanya diam termangu, tidak berani ikut dalam perbincangan kedua kakak beradik didepan ku ini. Ingin bertanya lebih banyak, aku takut malah yang kudapatkan adalah bentakan seperti tadi.

Diam sambil mengelus perut yang sudah besar seperti buah semangka, berharap bayiku bisa lebih tenang setelah mendapatkan bentakan dari Ayahnya.

Tak perlu waktu cukup lama, Mas Juan kembali dengan sepiring nasi dengan beberapa lauk dipinggirnya.

Lagi-lagi aku dibuat cemburu dengan adegan romantis didepanku, Aku tau Rea adalah Mas juan. Namun, salahkah bila aku sebagai istrinya cemburu melihat Mas Juan begitu perhatian pada Rea, caranya menyuapi Rea terlihat begitu tulus, sedang aku? Kapan terakhir kalinya Mas Juan memberikan perhatian begitu padaku?

Ah, sudahlah. Aku harus menepis rasa cemburuku ini, aku tidak boleh menjadi istri yang baperan. Toh mereka bersaudara? Aku yakin, rasa baper ini pasti bawaan karena aku sedang hamil.

"Ini, Re. Diminum," Mas Juan menyuguhkan obat yang ia bawa pada Rea. Namun anehnya, ada keraguan yang tersirat dari mimik wajah Rea. Seperti, ia enggan untuk meminum obat pemberian Mas Juan.

"Ayok, Re. Ini demi kebaikan kamu juga loh!"

"Tapi, Kak. Aku ..."

Rea termangu, seolah pilihan yang ada didepannya sangat berat. Padahal hanya meminum obat saja.

"Ya sudah, kamu pilih minum obat ini atau kamu kehilangan masa depan kamu."

Masa depan? Apa hubungannya, hanya sebiji obat saja tapi berpengaruh besar pada masa depan Rea. Aku benar-benar bingung, tapi sulit untuk ku utarakan kebingungan ku ini.

"Ya sudah kalau kamu gak mau, tapi kedepannya jangan salahkan Kakak jika tidak bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi pada hidupmu." Mas Juan bersiap membuang obat yang ada digenggamannya.

"Kak... Aku minum obat itu," Rea mengambil obat itu dan langsung melahap habis obat sebesar biji jagung itu.

"Bagus, sekarang kamu istirahat. Kalo udah baikan, kita berangkat beli Handphone."

Rea mengangguk tersenyum, wajahnya sudah tidak sepucat barusan. Mungkin hanya karena dia tidak makan, makanya sampai lemas dan muntah-muntah begitu. Tidak mau memecah keheningan aku hanya bisa berdiam diri, menunggu Mas Juan selesai mengurusi Rea. Baru setelah itu, aku akan menanyakan semua kegundahan yang mengganggu isi pikiranku.

Mulai dari tespack yang ku pungut saat terjatuh dari dalam tasnya, sampai semua perbincangan antara dia dan Rea. Bukankah aku juga berhak tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Rea? Aku Kakak iparnya dan juga bagian dari keluarga ini. Ya, meskipun hubunganku dengan Rea tidak begitu baik.

"Nara, kamu masih disini?" Tanya Mas Juan saat menoleh ke arah belakang dengan tatapan yang sinis.

"I...iya, Mas." Aku masih takut bersuara mengingat kejadin yang membuatku sedikit terkejut saat aku dibentak oleh Mas Juan.

Tak ayal, sedari kecil aku memang tidak pernah dikasari oleh Papa maupun Mama ku. Jadi, saat ada orang yang bersikap maupun berkata kasar, aku jadi takut dan gampang trauma.

"Mau ngapain? Aku kan sudah menyurumu untuk pulang!"

Mas Juan tak lagi menyebut dirinya dengan sebutan "Mas" saat berbicara padaku, apakah harus semarah itu dia padaku? Padahal aku datang karena kemauan dari ibunya.

"Aku mau ketemu Ibu, Mas. Beliau menyuruhku untuk berkunjung setelah selesai cek kandungan dari Dokter." Jelasku singkat.

"Untuk apa? Toh Ibu juga gak ada kan!"

"Apa salah, jika seorang mertua ingin bertemu dengan menantunya, Mas? Apalagi aku memang jarang berkunjung kesini sejak memasuki trimester ketiga." Mas Juan menghela nafas dan menatapku lekat-lekat tanpa sepatah kata pun.

"Dan juga, Rea sedang keadaan tidak sehat. Apa salah aku sebagai Kakak Iparnya sekalian menjeguk, dan tau Rea sebenarnya sakit apa, Mas?"

"Mbak gak usah sok peduli deh, mending pergi aja dari sini. Aku gak butuh dijengukin sama mbak." Entah kenapa, dalam keadaan sakit pun Rea sangat membenciku. Niat baikku saja tak pernah terlihat sedikit pun dimatanya.

Dan Mas Juan, harusnya dia bisa menjadi penengah. Sebagai seorang Kakak, dia tidak boleh membiarkan Adiknya bersikap tidak sopan padaku. Layaknya Rea  yang selalu menghormati dirinya sebagai Kakak, padaku juga harus demikian. Ini malah tidak menegur sama sekali, padahal sudah berkali-kali aku mengingatkan Mas Juan soal hubunganku yang tidak sehangat dengan dirinya.

Mas Juan hanya berkata, "Dia gak pernah punya Kakak perempuan, jadi ya maklumi saja. Suatu saat pasti dia akan bersikap baik padamu, Ra. Atau saat anak kita lahir, dia pasti akan sangat senang."

Tidak pernah ada jalan atau solusi dari keambiguan hubungan ku dengan Rea, dan aku juga tidak ingin mengambil pusing dan mungkin saja apa yang dikatakan Mas Juan asa benarnya. Tapi sayangnya, sampai aku hamil besar pun dia tetap tidak bisa menghormatiku sebagai Kakak iparnya.

"Baik, kalau memang kamu gak sudi mbak peduli dan pengen jengukin kamu, gak papa. Mbak disini karena Ibu, bukan kamu."

"Ibu kemana, Re? Apa beliau tau kamu sedang tidak enak badan?" Tanyaku memastikan keberadaan Ibu. Karena tidak mungkin Ibu menyuruhku kemari sedang dia sedang berada jauh dari rumah.

"Arisan di rumah Bu Rt. Jadi mending mbak pulang aja, jangan buang-buang waktu disini."

"Ra, ikut Mas sekarang." Dengan sedikit kasar Mas Juan menarikku keluar dari kamar Rea, sedang Rea berbalik dari posisi telentang ke posisi miring sambil menarik selimutnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED