Bab 2

Menyiapkan makanan untuk Prima sebelum berangkat ke bandara, Ratih ingin sekali ikut hanya saja tidak bisa melakukannya dan mereka berpisah di rumah. Pakaian kebesaran yang biasanya digunakan adalah daster, seperti wanita pada umumnya yang memiliki anak suka lupa menggunakan pakaian dalam.

“Aku berangkat dulu,” ucap Prima yang diangguki Ratih.

Mencium bibir sebentar, sebelum akhirnya keluar dari rumah dengan membawa Chika yang masih menatap ayahnya pergi. Chika, bayi yang sangat tenang hanya saja beberapa hari selalu dekat dengan Prima seakan merasakan akan jauh darinya. Pandangan Ratih terus ke mobil sampai benar-benar hilang dari pandangannya.

“Mbak Ratih,” panggil suara yang berada disampingnya yang ternyata adalah istri Heru, Ayu. “Mas Prima sudah berangkat?” Ratih menganggukkan kepalanya “Oalah kesepian dan hanya berdua, kalau butuh apa-apa jangan takut bilang.”

“Siap, Mbak.” Ratih menjawab dengan senyum kecilnya. “Mbak, mau berangkat kerja? Mas Heru?”

“Mas Heru baru pulang, aku ini mau berangkat sama Mega. Kamu nggak ada jadwal kuliah?” tanya Ayu yang dijawab gelengan kepala “Ya udah aku berangkat itu Mega udah nungguin.”

“Mbak Ratih duluan,” teriak Mega yang membuat Ratih tersenyum kecil.

Ratih menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan kosong, hembusan nafas terdengar yang artinya dirinya hanya berdua dengan Chika. Menatap putrinya yang tenang dengan memainkan mainan yang ada di tangannya membuat Ratih gemas dengan sendirinya, mencium Chika dengan penuh perasaan membuatnya tertawa keras.

“Ratih,” panggil suara berat yang ada disampingnya.

“Pak Wira,” ucap Ratih dengan nada terkejutnya.

“Mau mengembalikan cangkir.” Wira memberikan cangkir yang telah bersih.

“Ooh...” Ratih hanya berkata singkat “Masuk aja kedalam, saya nggak bisa bawa.”

Wira mengikuti langkah Ratih, masuk kedalam rumah. Tidak lupa menutup pintunya saat mereka masuk kedalam, Ratih memberikan petunjuk untuk meletakkannya di meja. Suasana menjadi hening dan aneh diantara mereka berdua, tidak lama suara tangis Chika membuat mereka sadar. Sekali lagi Ratih tidak menyadari kehadiran Wira yang ada dihadapannya, mengeluarkan payudaranya dan mengarahkan putingnya ke bibir Chika. Berjalan menuju salah satu sofa yang ada di ruang tamu, menatap pemandangan dihadapannya yaitu suasana tempat tinggalnya.

“Kamu seksi,” bisik Wira tepat di telinga Ratih yang membuatnya langsung membeku.

“Pak Wira masih disini?” Ratih terkejut dengan keberadaan Wira.

“Kamu nggak sadar masih ada aku disini? Semalam juga kamu nggak sadar keluar telanjang dengan cairan yang keluar di paha.” Wira berkata tanpa menutupinya membuat wajah Ratih memerah “Kamu tahu siapa aku, kan? Status duda yang haus belaian dan kamu berpenampilan menggoda dihadapannku.”

“Maaf, Pak. Aku rasa Pak Wira akan menganggap aku sama kaya Mega.”

Wira tertawa mendengarnya “Kamu bukan anakku, Ratih,” ucap Wira dengan memasukkan helaian rambut kedalam telinga “Kita berdua beda jenis pastinya ada ketertarikan.”

“Kami seusia.” Ratih mencoba membuat Wira sadar.

“Chika sudah tidur,” ucap Wira langsung mengambil Chika dalam gendongannya.

Wira membawanya kedalam kamar membuat Ratih langsung mengikutinya, berhenti di pintu menatap apa yang Wira lakukan dengan meletakkan Chika pelan di ranjangnya. Melihat itu semua membuat Ratih langsung merindukan Prima, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berpisah.

“Prima jadi ke Kalimantan?” tanya Wira yang sudah berdiri dihadapannya.

“Tadi berangkatnya, Pak.” Ratih menjawab dengan jantungnya berdetak kencang.

“Wira, panggil Wira kalau kita hanya berdua.”

Wira memegang pipi Ratih, mengangkatnya dengan wajah Wira turun mendekati wajah Ratih, melihat itu membuat Ratih langsung memejamkan matanya. Wira meletakkan bibirnya di bibir Ratih, hanya sentuhan tanpa melakukan gerakan. Melepaskan ciuman singkat membuat mereka menatap satu sama lain, jantung Ratih berdetak sangat kencang saat mendapatkan hal gila dari Wira.

“Aku tidak akan berbuat lebih kalau kamu tidak menggodanya, keputusan ada di kamu sekarang melakukan hal lebih atau aku pulang,” ucap Wira membuat suasana mereka semakin panas.

Tangan Wira membelai wajah Ratih, belaiannya membuat Ratih memejamkan matanya. Perlahan Ratih bisa merasakan bibir Wira kembali, bibir yang pastinya berbeda dengan Prima. Wira memiliki bibir tebal, membuat bibir Ratih bisa masuk kedalam bibirnya dengan memberikan hisapan kecil. Melepaskan ciumannya kembali dan sekali lagi menatap satu sama lain, jantung Ratih benar-benar berdetak kencang.

“Bagaimana?” tanya Wira membuka suara kembali setelah keheningan mereka.

Ratih terdiam, mencoba menilai apa yang harus dilakukannya. Melakukan hal gila dengan berhubungan bersama Wira, itu artinya mengkhianati pernikahan mereka dan ini baru beberapa menit setelah kepergian Prima. Mereka saling menatap satu sama lain, mencoba membaca pikiran dari tatapan itu.

Ratih mendorong Wira pelan sambil menggelengkan kepalanya “Aku nggak mau mengkhianati pernikahan apalagi Mas Prima baru saja berangkat.”

Wira langsung menarik Ratih kedalam pelukannya dalam satu kali tarikan, membelai punggungnya pelan membuat nafasnya menjadi berbeda. Sentuhan Wira membuat hasratnya bangkit dan Ratih tidak tahu harus melakukan apa, memejamkan matanya menikmati sentuhan yang dilakukan Wira.

“Aku tidak akan mengeluarkannya didalam, kamu menggunakan kontrasepsi kan?” tanya Wira membuka pembicaraan yang dijawab dengan menganggukkan kepala. “Tidak akan tahu Prima selama kita bermain aman.”

Ratih langsung menggelengkan kepalanya, melepaskan pelukan dari Wira membuat mereka menjadi berjarak. Saling menatap satu sama lain, membuat Ratih dapat melihat tatapan penuh gairah pada dirinya.

“Kamu bisa menendang aku kalau menolak apa yang aku lakukan ini.”

Wira menarik Ratih kembali dalam pelukannya, melumat bibirnya kasar, tangannya membuka kancing baju membuat payudaranya keluar yang langsung diremas. Mendapatkan perlakuan secara tiba-tiba membuat Ratih mengeluarkan suara erangannya dalam ciuman yang dilakukan Wira, ciuman mereka semakin dalam dan tangan Ratih sudah melingkar di leher Wira dengan kakinya yang juga melingkar di pinggang Wira.

“Kita melanjutkan atau berhenti?”

Bab 3

Tatapan mereka bertemu, pikiran dan hati Ratih tidak menentu. Tangan dan kakinya masih melingkar di tubuh Wira, bisa merasakan sesuatu di bawah senang sudah berdiri tanda bahwa Wira siap memasukinya, hanya saja kalau Ratih melakukannya berarti mengkhianati perkawinannya.

“Bisakah kita berhenti?” tanya Ratih tapi tidak dengan hasrat dan hatinya.

“Apa kamu yakin?” tanya Wira tanpa melepaskan gendongan Ratih.

“MBAK RATIH!” Teriak Derry dari luar “MBAK RATIH! GOJEK NGGAK?”

“Aku temuin Derry dulu,” ucap Ratih tersadar membuat Wira melepaskannya dengan malas.

Menurunkan Ratih dalam gendongannya, membiarkan Ratih berjalan kearah luar. Wira langsung memegang tangan Ratih membuat langkahnya terhenti menatap bingung, Wira membelai wajah Ratih yang membuatnya terlena dan tanpa disadari Wira membuka kancing dasternya dengan membuat belahan payudaranya terlihat.

“Sudah temui Derry, setelah itu kesini lagi.” Wira mencium bibir Ratih lembut.

Ratih keluar dari rumah, membuka pintu berjalan kearah Derry yang memandangnya tanpa berkedip. Wira menatap dari balik jendela apa yang terjadi pada mereka berdua, dari dalam Wira yakin saat ini bocah itu sedang bergairah menatap Ratih, wanita yang menjadi tatapan semua pria di tempat ini.

“Nanti agak sorean ke kampus, kamu bisa?” Ratih berkata dengan menatap Derry yang menatap kearah belahan payudaranya “Derry.” Ratih menggerakkan tangannya depan mata Derry.

“Hah? Sore ya, Mbak? Nanti kabarin aja ya.” Derry berkata setelah menenangkan dirinya.

“Ya, Der.” Ratih menjawab dengan lembut “Aku tinggal ya kasihan Chika.”

Meninggalkan Derry yang masih menatap kearahnya, langkah Ratih terhenti menatap kesamping mendapati Heru yang sedang memberi makan hewan peliharaannya.

“Sudah bangun, Kang?” tanya Ratih membuat Heru menatap kearahnya.

“Eh...Mbak Ratih, sudah barusan. Mas Prima jadi berangkat?” tanya Heru menatap belahan payudara Ratih “Derry kagak ngojek lo?”

“Eh...berangkat dulu, nanti kesini lagi.” Derry terkejut dengan panggilan Heru.

Ratih mengalihkan pandangan kearah Derry yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, menatap Heru yang masih setia menatap dirinya. Tidak lama suara motor terdengar tanda bahwa Derry sudah menjauh dari rumahnya.

“Mas Prima udah berangkat tadi, Kang. Kang, nanti Mbak Ayu datang jam berapa?” tanya Ratih membuat Heru mengalihkan pandangan menatap matanya “Mau titip Chika, aku mau ke kampus.”

“Kalau belum datang nanti sama akang aja Chikanya.” Heru menawarkan diri.

Ratih tersenyum “Baiklah, akang sudah pengalaman juga sama anak-anak.”

“Kamu bisa aja.” Heru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Berpamitan pada Heru, masuk kedalam rumahnya dimana Wira sudah menunggunya dengan membelai penisnya. Ratih tidak menyadari Heru masih setia menatap kearah dirinya sampai benar-benar menghilang dari hadapan pria itu. Membuka pintu dan langsung menutupnya, seketika terkejut dengan tarikan tangan Wira yang langsung melumat bibirnya kasar.

“Jangan disini ada Kang Heru,” ucap Ratih mendorong tubuh Wira sedikit menjauh.

“Aku sudah nggak tahan,” erang Wira dengan suara desahannya.

Menatap kedua mata Wira yang sudah dipenuhi gairah, secara perlahan Ratih menundukkan kepalanya tepat dihadapan penis Wira. Membuka celananya secara keseluruhan membuat penisnya keluar, memejamkan matanya saat melihat penis Wira yang berbeda dengan Prima. Memegang penis Wira pelan dengan bergerak maju mundur, suara desahan keluar dari bibir Wira dan Ratih melihatnya dari bawah apa yang Wira rasakan.

“Shit! Lidahmu...oughh...” erang Wira saat merasakan lidah Ratih di kepala penisnya.

Mendengar reaksi Wira membuat Ratih semangat melakukannya, memasukkan penis Wira yang sedikit lebih besar dibandingkan Prima. Menggerakkan mulutnya maju mundur dengan penis Wira didalam, memberikan gerakan memutar pada lidahnya di penis Wira, tangan Ratih meremas buah zakarnya. Suara desahan terdengar dari bibirnya, tangan Wira memegang rambut Ratih mengikatnya menjadi satu dan menggerakkan naik turun untuk membuat penisnya merasakan kenikmatan.

Mendesah tertahan atas apa yang Wira lakukan pada dirinya, bibir Ratih semakin bergerak dengan lidahnya memberikan jilatan sekitar penis Wira, tangannya masih memainkan buah zakar yang membuat Wira mendesah semakin keras.

“Oughhh...kamu terbaik...ahhh...aku mau keluar.” Wira mengerang dan langsung mengeluarkan spermanya di mulut Ratih.

Ratih yang mengetahui Wira telah mencapai klimaks langsung menelan semuanya, dorongan penis yang Wira lakukan membuat spermanya masuk kedalam mulutnya. Melepaskan penis Wira dengan memberikan tatapan menggoda, melihat itu Wira langsung melumat bibir Ratih kasar membuat tangannya langsung melingkar di leher Wira.

“Apa ini jawaban kita akan melakukannya?” tanya Wira yang dijawab gelengan kepala Ratih “Kenapa? Kamu nggak kasihan sama penis aku yang ingin merasakan berada didalammu?”

“Beri waktu, Mas Prima baru saja berangkat tidak mungkin kita langsung melakukannya.” Ratih menjawab pertanyaan Wira. “Lagian, usia aku sama Mega nggak beda jauh. Masa mau sama aku?”

“Bukan masalah besar buatku, lagipula bagus kalau Mega punya ibu baru.” Wira berkata santai.

Ratih membelalakkan matanya “Aku nggak akan berpisah dari Mas Prima, jadi nggak akan terjadi itu semua.”

“Kita lihat aja nanti, kalau kamu hamil anakku maka harus berpisah dengan Prima.” Wira berkata dengan nada datar.

Suara tangisan Chika membuat Ratih langsung mendatanginya, meninggalkan Wira di ruang tamu. Membuka kancing bajunya dengan mengeluarkan payudaranya untuk menyusui Chika, menepuk bokong Chika pelan dengan menyanyikan lagu kesukaannya. Ratih tidak tahu Wira masih ada di ruang tamu atau tidak, tidak peduli dengan keberadaan Wira.

“Mbak Ratih,” ucap Heru yang membeku melihat Ratih menyusui Chika “Lagi menyusu ya?”

“Kang Heru kenapa bisa masuk?” tanya Ratih bingung.

“Tadi ketemu Pak Wira di depan rumahnya terus suruh langsung masuk aja,” jawab Heru menatap Chika atau tepatnya payudara Ratih “Sudah lama nggak lihat wanita menyusui, terakhir Mila sampai sekarang Ayu belum hamil juga.”

“Sabar, Kang.” Ratih menghibur Heru yang hanya mengangguk pelan “Kak Ayu istri ke berapa, Kang?”

“Istri kedua, kenapa?” tanya Heru penuh selidik.

“Memang akang nggak puas dengan satu istri?” tanya Ratih penasaran.

“Kamu mau menjadi istri ketiga aku?” tembak Heru langsung.

Ratih tertawa mendengarnya, “Akang bisa aja, lagian aku udah menikah juga sama Mas Prima. Chika juga udah ada, masa mau jadi istri ketiga akang.”

Heru mengangkat bahunya “Siapa tahu.”

“Akang shift malam?” Heru menganggukkan kepalanya “Jadwal sama Teh Mila kapan? Biar bisa women time sama Mbak Ayu.”

“Dua hari lagi kayaknya,” jawab Heru tidak yakin “Kalau kamu mau menggantikan posisi Mila juga boleh.”

“Akang bisa aja ngerayunya.” Ratih menggelengkan kepalanya.

“Kalian berdua tadi ngapain? Aku melihat Pak Wira keluar dari rumah ini, kalian melakukan hal gila?”

Ratih membeku mendengar pertanyaan Heru “Ada lampu mati tadi, Kang.”

Heru mendekati Ratih yang membuatnya otomatis mundur ke belakang, senyum kecil terlihat di wajah Heru yang membuat Ratih menjadi ketakutan.

“Mulut kamu tercium aroma sperma, apa itu milik Pak Wira? Kalau ya bagaimana jika aku meminta hal yang sama seperti Pak Wira?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED