*"Maaf, no comment ya."
Zeta menghentikan kunyahannya saat mendengar suara itu. Suara seseorang yang pernah singgah di hatinya.
Tapi itu dulu...
Dulu sekali, saat pertama kali Zeta mengenal apa itu cinta.
Sekarang, hanya mendengar nama pria itu saja, Zeta pasti sudah kegerahan.
*"Apakah Anda akan kembali bersama Rebecca Wiryawan?"
*"Bagaimana dengan pernyataan cinta Rebecca Wiryawan yang mengatakan masih mencintai Anda?"
*"Tidakkah Anda ingin kembali bersama dengan Mantan Istri Anda?"
*"Maaf, ada hal penting yang harus saya kerjakan. Terima kasih."
Zeta menatap senyum menawan yang keluar dari bibir pria itu, pria yang dikejar-kejar wartawan karena pernyataan cinta mantan istrinya beberapa hari yang lalu di depan media, Rebecca Wiryawan, yang adalah salah satu top model di negara ini. Pria itu terlihat berjalan dengan gagahnya menuju sebuah mobil mewah. Pakaian formal yang dipakainya saat ini, membuat penampilan Andaru Ansel Bratadikara lebih dari kata sempurna. Apalagi wajahnya yang tampan luar biasa, yang selalu jadi perbincangan berbagai media.
*"Sepertinya jika dilihat dari reaksi Andaru Ansel Bratadikara, tidak akan ada kata rujuk di antara dirinya dan Rebecca Wiryawan. P—"
Klik!
Zeta segera mematikan televisinya yang tadi menyiarkan acara infotainment, lalu melempar asal remote televisi itu ke atas sofa panjang yang saat ini dia duduki. Wajah wanita dua puluh tujuh tahun ini langsung terlihat masam. Tangannya segera sibuk menutup wadah beling berisi keripik kentang yang tadi dimakannya, lalu meletakkannya ke atas meja di depannya.
Zeta meraih ponselnya, lalu mulai berselancar di dunia maya. Tak berapa lama, Zeta sudah asyik membaca salah satu artikel yang entah mengapa menarik perhatiannya walaupun hatinya enggan.
*"Saya berharap kami dapat kembali seperti dulu. Apalagi Evan sudah mulai besar, dan sudah bertanya kenapa kami tidak tinggal bersama."
*Setelah bercerai lebih dari tiga tahun, Rebecca Wiryawan membuat pernyataan yang mengejutkan media. Wanita itu berharap dapat kembali bersama dengan Andaru Ansel Bratadikara, sang CEO stasiun televisi swasta LION TV.
*Tapi sepertinya keinginan itu tidak akan terwujud, mengingat Andaru selalu saja enggan membicarakan hubungannya dan Rebecca Wiryawan.
"Dasar sok ganteng! Dia gak mikirin anaknya kali ya?! Punya mantan istri secantik Rebecca, bukannya bersyukur diajak balikan, malah sok jual mahal! Cowok berengsek gitu tuh, habis manis sepah dibuang!" omel Zeta seolah berbicara pada orang lain. Padahal di ruangan ini hanya ada dirinya sendiri. Wanita ini melempar asal ponselnya, yang langsung tergeletak tak jauh dari remote televisi yang sebelumnya dia lempar.
Wanita ini mengedarkan pandangan, sampai matanya berhenti pada sebuah foto. Bibirnya tersenyum kecut melihat fotonya sendiri yang sedang memakai seragam SMA. Pikirannya melayang pada kejadian hampir sepuluh tahun yang lalu, tepat saat dia berusia tujuh belas tahun.
Kejadian yang tak bisa dilupakannya sampai sekarang.
*Flashback On*
"A-apa? Pu-putus?" tanya seorang gadis dengan jantung berdetak kencang.
Seorang pemuda berusia delapan belas tahun menganggukkan kepala mantap. Wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun.
"Kenapa?"
>"Aku kayaknya gak bisa lagi hubungan jarak jauh kayak gini."
"Tapi kamu kemarin-kemarin bilang kalau kita pasti sanggup jalanin ini semua!"
>"Maaf..." Pemuda ini menunduk dalam, tanpa sanggup menatap layar ponselnya lagi yang saat ini sedang melangsungkan panggilan video dengan sang gadis.
"Hiks... ka-kamu udah punya... pa-pacar baru di sana?" tanya sang gadis dengan suara bergetar.
Hening beberapa saat, sang gadis masih menatap pemuda yang betah menunduk itu lewat layar ponselnya.
>"Maaf, Aya..."
Gadis yang dipanggil Aya oleh si pemuda mencoba menahan isakan yang terus mencoba untuk keluar. Jawaban sang kekasih, bukan, calon mantan kekasihnya, membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Jarak dan waktu yang mampu mereka lalui baru beberapa bulan ini ternyata hanya sampai di sini saja. Kesetiaan kekasihnya sepertinya sedang teruji. Dan ternyata, pemuda itu tergoda oleh cinta lain di sana, di negara orang, tempat si pemuda menuntut ilmu.
Jalinan kasih yang berjalan dari sejak Aya duduk di bangku kelas satu SMA, sepertinya harus kandas saat ini juga. Padahal masih segar di ingatan, bagaimana kakak kelas beda satu tingkat dengannya itu menyatakan cinta. Pemuda itu malu-malu menyatakan cinta di perpustakaan sekolah mereka, karena mereka sering bertemu di sana sebelumnya, dan menimbulkan ketertarikan satu sama lain. Tapi kini, si pemuda pemalu itu malah membuatnya patah hati.
"Hiks... ak-aku sekarang lagi ulang tahun yang ke tujuh belas... dan... dan... hiks... ternyata aku... dapat kado terburuk... sepanjang hidup aku, Ansel..." ucap Aya terbata di sela isakannya yang tak bisa lagi ditahan gadis ini. Sementara itu, pemuda yang dipanggil Ansel masih betah menunduk. Sepertinya Ansel tak mampu memperlihatkan wajahnya.
"Kamu... yang yakinin aku kalau... kalau hubungan kita akan selamanya... tapi... hiks... kamu juga yang menghancurkan... keyakinan itu! Hiks... hiks... a-aku benci kamu... A-aku berharap... kita gak pernah ketemu lagi... hiks..." Aya berusaha menekan isakannya, lalu kembali bersuara. "Seperti yang... kamu mau, hubungan kita... cukup sampai di sini... Selamat tinggal, Ansel..." Setelah mengatakan hal itu, sang gadis langsung mematikan sambungan video-nya.
Gadis ini menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Namun dengan menutup mulutnya dengan bantal agar keluarganya tak curiga.
"Kamu berengsek, Ansel! Aku benci kamu!! Hiks... Benci!!!" bisik Aya tajam di sela isakan yang terus lolos dari mulutnya.
Di dalam hati, Aya benar-benar berharap tidak akan bertemu lagi dengan Ansel... Andaru Ansel... Sang cinta pertama. Kekasih yang beberapa menit yang lalu berubah status menjadi mantan...
*Flashback off*
"Mama!"
Zeta tersadar dari lamunan, lalu segera menghapus air mata yang dengan kurang ajarnya keluar setiap kali wanita ini mengingat kejadian di hari itu, saat terakhir kali dirinya berhubungan dengan Andaru. Ya, Andaru Ansel Bratadikara. Pria yang tadi dilihatnya di layar televisi adalah mantan kekasih berengseknya. Pria pertama yang membuat Zeta merasakan apa itu jatuh cinta dan patah hati.
Zeta memasang senyum semringah saat seorang bocah perempuan berlari ke arahnya. Wanita ini merentangkan tangan siap menyambut tubuh mungil itu, yang kini sudah ada di dalam pelukannya secepat kilat. Zeta mengusap sayang punggung bocah perempuan ini, lalu mencium puncak kepalanya sayang.
Sang bocah mengurai pelukannya, lalu langsung saja menyusupkan tubuhnya untuk masuk ke dalam pangkuan Zeta, dengan tubuh depan berhadapan dengan wanita ini.
Zeta masih memasang senyum lembut, lalu mengusap sayang rambut panjang bocah yang ada di pangkuannya ini.
"Misha tadi ke mana aja sama Ayah?"
"Akuh makan ayam gorreeeng besaar, Ma... Terrus aku main lemparrr bolaa... Terrus Ayah ajak akuh…”
Bocah perempuan ini terus saja bercerita kegiatannya hari ini bersama sang ayah. Zeta sesekali tertawa melihat ekspresi lucu yang dikeluarkan sang bocah saat bercerita.
Misha Purwadiningrat... Anaknya...
Zeta bersyukur atas kehadiran Misha di hidupnya. Anak yang saat ini berusia lima tahun itu, adalah cahaya di kehidupannya.
Walaupun Zeta sudah berpisah dengan Fahri Purwadiningrat, yang dua tahun yang lalu resmi bercerai dengannya, tapi Misha tak kekurangan kasih sayang dari mereka berdua selaku orang tua anak ini.
"Misha, ayah pulang ya."
Zeta langsung menggendong sang anak menuju ke arah seorang pria yang berjalan ke arah mereka. Setelah mereka berhadapan, pria ini langsung mencium pipi Misha, lalu mengusap sayang puncak kepala sang anak. Pandangan pria ini beralih ke arah Zeta.
"Saya pulang ya."
"Iya, Mas Fahri. Hati-hati di jalan."
Sang pria menganggukkan kepala sambil tersenyum lembut, lalu berubah tersenyum geli saat pandangannya kembali ke arah sang anak yang sudah menempelkan kepalanya di ceruk leher Zeta. Mata sang anak sudah hampir menutup.
"Kayaknya dia capek banget," bisik Zeta yang ikut tersenyum geli, karena melihat mata Misha yang sebentar lagi benar-benar tertutup sempurna.
"Dia tidak berhenti main sejak siang tadi," balas Fahri mengingat kebersamaannya dengan sang anak seharian ini. Memang setelah berpisah dengan Zeta, Fahri selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama sang anak minimal dua kali dalam satu minggu, dan melakukan panggilan video setidaknya satu kali sehari. Sehingga membuat hubungannya dan sang anak berjalan sangat lancar walaupun tak tinggal satu rumah lagi.
Zeta dan Fahri ingin anak mereka tetap mendapatkan kasih sayang yang berlimpah walaupun mereka sudah tidak bersama.
"Ya sudah, saya pulang dulu ya," ucap Fahri kembali. Pria ini kembali mencium pipi anaknya, lalu setelah itu berbalik untuk pulang.
Zeta memperhatikan punggung mantan suaminya, lalu menghela napas berat. Pandangannya beralih ke arah wajah sang anak yang benar-benar sudah tertidur pulas.
Zeta mengusap sayang pipi sang anak. "Misha harus ingat, mama dan Ayah gak akan buat Misha jadi anak broken home, Sayang... Mama sayang banget sama Misha..." bisik Zeta lirih dengan mata berkaca-kaca. Wanita ini memeluk erat tubuh anaknya yang saat ini menggeliat, lalu mengecup puncak kepala sang anak. "Tidur nyenyak ya, Nak..."
***
Daru memijat pangkal hidungnya lelah. Pemberitaan tentang dirinya dan sang mantan istri masih terus ramai diperbincangkan media.
Apa sih mau mantan istrinya itu?? Bukankah mereka sudah sepakat untuk berpisah? Mengapa kini malah bikin heboh khalayak luas?! Terlebih dirinya yang dicap jelek orang-orang karena tidak mau berkorban demi kebahagiaan anak mereka.
Evan Rahadian Bratadikara... Anak lucunya yang berusia lima tahun itu.
Bukannya Daru ingin egois, tapi untuk apa pernikahan dipertahankan jika tak ada cinta untuk Rebecca. Bukankah anaknya akan lebih kasihan lagi jika hidup di dalam kepura-puraan?
"Papa!"
Daru langsung menjauhkan tangannya dari pangkal hidung yang sejak tadi dipijatnya itu. Wajahnya semringah saat sang jagoan menghampirinya dengan membawa mainan robot-robotan di tangannya.
"Hai, Boy!" Daru langsung menangkap tubuh mungil itu, lalu memangku anak tersayangnya, kebanggaannya.
Daru memperhatikan wajah sang anak yang duduk menyamping di pangkuannya. Hidung dan bibir sang anak sangat mirip dengannya. Terima kasih untuk Rebecca, yang telah melahirkan anak setampan ini.
Pria ini mengusap sayang rambut tebal Evan. "Kenapa bangun?"
"Papanya enggak ada!"
Daru tertawa renyah melihat wajah merajuk anak manjanya ini. Anaknya selalu seperti ini, akan terbangun dari tidur jika Daru tak ada di sampingnya dalam waktu yang lama. Makanya sebisa mungkin, Daru akan tiba di rumah tidak lebih dari pukul delapan malam, kecuali jika ada pekerjaan yang mau tak mau membuatnya lembur bahkan sampai pagi.
"Ya udah, sekarang tidur lagi ya, Boy... Papa juga mau tidur. Lagian juga besok Evan sekolah kan?" Daru langsung bangkit dari duduk, lalu menggendong sang anak menuju kamar pribadinya. Walaupun Evan sudah punya kamarnya sendiri yang berada tepat di samping kamar Daru, tapi anak itu lebih sering tidur bersama sang papa.
"He em... Papa sama Mami yang anterin aku ya?" tanya sang anak yang sudah merangkul leher Daru dengan mainan robot yang masih berada di tangannya.
Daru berhenti melangkah. Senyum yang tadi terbit luntur seketika. Apakah anaknya sekeras ini ingin agar Daru dan Rebecca kembali bersama?
Daru meredakan tenggorokan yang tak gatal, lalu kembali melangkah. Pria ini kembali memasang senyum, kali ini senyum dipaksakan.
"Mami lagi banyak kerjaan. Mungkin, besok Mami ikut papa jemput Evan pulang."
"Yeyyy!! Kita jallan-jallan dullu ya, Papa, besok pas aku pullang sekollah!" Semringah Evan, yang dibalas Daru tawa geli dan anggukan kepala.
Dalam hati, Daru merasa enggan menghubungi Rebecca. Pria ini masih kesal oleh ulah Rebecca yang menurutnya sembarangan itu. Tapi kalau tidak, kasihan anaknya yang sudah berharap lebih.
***
"Mama!"
Zeta melambaikan tangan sambil tersenyum lebar saat sang anak berlari ke arahnya sambil menggendong tas punggung bergambar barbie. Setelah sang anak sampai di depannya, Zeta menumpukan lutut di atas tanah, lalu mengusap sayang keringat yang membanjiri dahi sang anak.
"Maaf mama telat."
"Enggak apa-apa. Aku ditemenin sama temen akuh." Misha menunjuk bocah laki-laki yang berjalan menghampiri mereka dengan seorang pria dewasa di sebelah bocah itu yang menggandeng tangan sang bocah laki-laki.
Zeta mengulas senyum lembut ke arah sang bocah, lalu mengalihkan pandangan ke arah pria di samping teman anaknya itu.
Deg...
Senyum Zeta luntur seketika saat melihat wajah itu. Wajah yang semalam menjadi pemberitaan hangat di mana-mana bahkan sampai sekarang. Jantung Zeta berdetak sangat kencang seperti habis mengikuti lomba lari maraton. Pria itu... pria yang tak pernah dilihatnya selama hampir sepuluh tahun, kini berdiri di hadapannya?
Terlihat sang pria pun terkejut luar biasa. Tatapan mereka bertemu.
"Misha, kamu mau ikut aku enggak?" tanya sang bocah laki-laki pada anak Zeta, yang membuat Zeta tersadar, lalu memutuskan tatapannya dan sang pria terlebih dahulu.
Zeta kembali berdiri, lalu memegang kedua bahu sang anak dari belakang, karena anaknya kini berhadapan dengan bocah laki-laki yang bisa Zeta yakini adalah anak dari mantannya yang berengsek ini.
"Ke mana?"
"Aku mau jallan-jallan sama Papa dan Mamiku!" seru sang bocah laki-laki heboh.
"Wahh!!! Enak!!!" Misha membalikkan tubuh ke arah Zeta, lalu menengadahkan kepala untuk menatap sang mama, tatapan penuh harap. "Boleh ikut sama Epan enggak, Ma?"
Zeta terdiam kaku beberapa saat ketika mendengar pertanyaan sang anak. Lalu tak berapa lama, Zeta tersenyum lembut sambil mengusap rambut Misha yang diikat dua itu dengan lembut.
"Ehm... Sayang, Misha lupa ya, kalau Ayah udah nunggu mau makan siang bareng kita?"
Misha langsung membolakan matanya terkejut, karena sepertinya teringat atas apa yang baru saja Zeta katakan. Bocah perempuan ini kembali berbalik, lalu menatap temannya. "Maaf, akuh lupa mau makan sama Ayahkuh di kape Mama."
"Yaaa...” seru bocah laki-laki itu terlihat kecewa.“Ya udah, llain kalli kita jallan-jallan sama Papa Mami aku ya," ucap sang bocah kembali, yang langsung diangguki Misha.
"Ehm, nama kamu siapa?" tanya Zeta pada teman sang anak, tanpa peduli pria yang sejak tadi berdiri di samping bocah laki-laki itu menatapnya tak berkedip.
"Evvan, Tante."
"Wah, namanya bagus banget!" seru Zeta heboh seolah mendapat jackpot, yang dibalas Evan tawa renyah. "Makasih ya, Evan udah mau nemenin Misha sampai tante datang."
"Sama-sama, Tante. Evvan juga llagi tunggu Mami, iya kan Pa?" tanya Evan pada sang papa yang masih betah menatap Zeta yang kali ini memasang wajah tak suka ke arahnya.
Apa-apaan mantannya ini?! Menatapnya seperti tak pernah melihat wanita saja!
"Pa~" rengek Evan yang akhirnya menyadarkan Daru.
"E-eh ya, kenapa, Boy?" tanya Daru gelagapan.
Sial!
Dia terlalu terkejut namun terpesona secara bersamaan, saat kembali menatap wajah itu, wajah manis dengan rambut merah seperti dulu, rambut merah alami yang dimiliki mantan kekasihnya itu. Wajah sang mantan kekasih, terlihat jauh lebih dewasa dan semakin bersinar. Pakaian sederhana yang dipakai sang mantan, kaos lengan tujuh per delapan berwarna merah jambu serta celana jeans pas body, malah membuat penampilan sang mantan persis seperti anak muda yang belum mempunyai anak.
Double sial! Mengapa dia seperti pria keganjenan yang naksir sama istri orang?! Sadarlah, Daru, mantanmu sudah menikah dan punya anak!
"Tadi aku billang, kallau kita llagi tunggu Mami."
Daru kembali ke alam nyata, saat sang anak mengingatkan mengapa mereka masih ada di sekolah sang anak sejak setengah jam yang lalu.
"Mami jadi datang kan, Pa?" tanya sang anak kembali.
"Ehm... Ya—"
"Sayang~ maaf mami telat!"
Wajah Daru langsung berubah datar saat tiba-tiba sang mantan istri sudah berada di depannya, lalu memeluk tubuh anak mereka. Daru berdecak kesal karena pakaian Rebecca yang terbuka di mana-mana. Apakah wanita ini tak bisa berpakaian sopan saat bersama anak mereka?!
"Maaf aku telat, Pa..." ucap Rebecca lembut sambil menatap Daru penuh cinta.
Ingin sekali Daru mendengus kasar. Namun ditahannya karena ada anak mereka.
"Ya udah ayo jalan," balas Daru datar. Namun tiba-tiba, tubuh pria ini menegang karena baru teringat jika masih ada Zetaya dan anaknya di depan mereka.
"Ehm... Ma-Mamanya Misha, saya... saya permisi dulu ya," ucap Daru canggung, yang hanya dibalas sang mantan anggukan singkat dengan wajah datar. Daru mengalihkan pandangan ke arah bocah perempuan berambut merah, rambut yang mirip dengan mantannya. Sebenarnya sejak tadi Daru sudah memperhatikan rambut teman anaknya itu. Rambut merah yang sangat jarang dimiliki penduduk asli negara ini. Rambut yang mengingatkannya pada sang mantan kekasih. Dan benar saja, ternyata teman anaknya adalah anak dari mantan kekasih yang pernah disakitinya itu.
"Om pulang dulu ya," ucap Daru sambil tersenyum lembut, lalu mengusap sayang rambut anak mantan kekasihnya ini.
"Makassihh ya, Om, udah temenin akuh."
"Sama-sama, Sayang."
"Pa, ayo, sepertinya Evan sudah tidak sabar ingin bermain dengan kita~" ucap Rebecca dengan nada manja. Wanita ini menatap penampilan Zeta dari atas sampai bawah, lalu senyum meremehkan terbit dari bibirnya. "Saya pikir tadi Anda itu baby sitter temannya Evan. Ternyata mamany—"
"Kamu sebaiknya ajak Evan ke mobil lebih dulu, Becca!" sentak Daru tak suka. Mantan istrinya ini masih saja suka menghina orang terang-terangan sejak dulu.
Rebecca melebarkan matanya tak terima. Namun langsung mengikuti ucapan mantan suaminya itu, karena wajah Daru terlihat tak bersahabat saat ini.
Setelah kepergian Rebecca dan Evan, Daru kembali menatap Zeta, kali ini dengan tatapan permohonan maaf.
"Maaf, Becca gak berma—"
"Gak masalah, Papanya Evan. Saya sudah biasa dibilang seperti ini hanya karena saya tidak suka pakai pakaian mewah untuk menjemput anak saya. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, karena Ayahnya Misha sepertinya sudah menunggu kami. Terima kasih karena sudah menemani anak saya. Selamat siang, Papanya Evan," ucap Zeta panjang lebar sambil menyunggingkan senyum formal walaupun hatinya kesal bukan main karena ucapan sinis mantan istri dari mantan kekasihnya ini. Wanita ini segera berbalik menuju ke arah parkiran motor sambil menggandeng tangan anaknya.
"Sialan tuh cewek! Apa salahnya aku pakai baju seadanya kayak gini?! Mentang-mentang ini sekolah mahal, terus aku harus banget jemput anakku pakai baju kebaya dan rambut disanggul kayak mau kondangan? Atau aku harus pakai baju kurang bahan kayak dia tadi? Cih! Aku nyesel semalem puji-puji dia cantik! Gak taunya, muka gak sebanding sama hati dia yang busuk!" gerutu Zeta di sela langkah kakinya.
"Apa, Ma?"
Zeta langsung menghentikan langkah dan gerutuannya, karena tersadar jika dirinya tidak sedang sendiri. Bodoh! Mengapa dia lupa kalau anaknya ada di sini.
"Ma-mama gak ngomong apa-apa kok, Sayang. Ya udah yuk, Nak, Ayah pasti udah nunggu." Zeta kembali melanjutkan langkahnya, kali ini sambil menanyakan berbagai kegiatan yang dilakukan anaknya di sekolah, berusaha melupakan kekesalannya pada Rebecca.
Sementara itu, Daru menatap punggung indah wanita itu yang semakin menjauh dari pandangan. Pria ini menghela napas berat.
"Aku senang kamu baik-baik aja, Aya..." lirih Daru dengan jantung berdetak kencang. "Semoga kamu bahagia..." lirih Daru kembali, kali ini dengan hati yang nyeri.
"Shit!" umpat Daru tiba-tiba. Mengapa dia harus merasa nyeri melihat Zeta bahagia bahkan sudah berkeluarga? Bukankah dia yang salah karena dulu melepas Zeta?
"Berengsek!" umpat Daru kembali sambil menyugar rambutnya frustasi.
***
"Menunggu lama?"
"Ah tidak juga. Silakan duduk."
"Terima kasih."
Daru langsung duduk di depan seorang pengacara sekaligus seniornya di salah satu kampus terkenal di Australia. Pria ini memperhatikan sekeliling kafe yang lumayan besar yang didatanginya saat ini. Hanya ada beberapa pengunjung yang sekedar memesan cake dan kopi.
"Kafenya bagus dan nyaman, Bang."
Seniornya hanya memasang senyum kecil sebagai jawaban.
"Tapi apa selalu sesepi ini?"
"Kalau saat makan siang dan mulai jam lima sore, biasanya akan kembali ramai."
Daru ber-o ria sambil melihat arlojinya yang menunjukkan hampir pukul dua siang.
"Abang suka ke sini?"
"Hampir setiap hari."
Daru bersiul, lalu memajukan tubuhnya ke arah sang kakak senior. "Ada yang Abang incer ya di sini?" tanya Daru menggoda. Pasalnya, saat di negara orang dulu, teman-teman mereka sering kali melakukan hal konyol jika ada wanita yang mereka incar. Contohnya sahabat sang senior yang sempat kepincut dengan pelayan kafe di dekat kampus mereka dulu, yang setiap hari mengajak para sahabatnya mampir hanya untuk melihat pelayan kafe itu.
Sang senior tersenyum, namun senyum sendu. "Kafe ini milik mantan istri saya."
Daru langsung terdiam kaku dengan mata berkedip tak percaya. Pria ini sudah lama tak pernah bertemu dengan kakak seniornya setelah sang senior pulang terlebih dahulu ke negara ini, dan tak tahu menahu jika senior beda tiga tahun dengannya ini ternyata sudah pernah menikah. Mereka kembali bertemu beberapa hari yang lalu tanpa sengaja di sebuah mall di kota ini, lalu janjian bertemu kembali untuk sekedar berbincang-bincang.
Daru memundurkan kembali tubuhnya. "Ehm, ma-mantan istri Abang?"
Sang senior menjawab dengan anggukan.
Mereka terdiam beberapa saat karena pikiran masing-masing.
"Abang sepertinya masih menjalin hubungan baik dengan mantan istri Abang," ucap Daru kembali. Daru juga berpikir, mungkin sang senior masih mencintai mantan istrinya. Terlihat tadi tatapan sendu kakak seniornya ini waktu menyebut sang mantan istri.
Sang senior tersenyum kecil. "Tentu saja kami harus menjalin hubungan baik, terlebih ada anak di antara kami. Sama seperti kamu dan mantan istri kamu itu kan?" tanya sang kakak senior karena sepertinya kakak seniornya ini tahu tentang dirinya dari pemberitaan media.
Wajah Daru langsung berubah datar. Pembahasan tentang mantan istrinya tak pernah menarik minat pria ini. "Ya begitulah," balas Daru dengan senyum masam. "Oh iya, mengenai yang kemarin, Abang bersedia jadi pengacara saya kan, kalau suatu saat saya butuh pengacara?"
"Tentu saja, Daru. Saya malah senang bukan main karena bisa dipercaya anak pemilik stasiun televisi terbesar di negara ini."
"Apa sih, Bang," seru Daru tak terima, yang menimbulkan tawa renyah seniornya ini. Sang senior baru tahu jika Daru adalah anak pemilik stasiun televisi terbesar di negara ini, karena saat kuliah dulu, Daru tak pernah menunjukkan jika dirinya adalah anak orang berada. Daru memilih hidup sederhana di sana, dan memilih tinggal di sebuah asrama pria ketimbang menyewa apartemen mahal. Pria tampan ini bahkan bekerja paruh waktu menjadi buruh cuci piring di salah satu rumah makan di sana.
Tak berapa lama, suara gemerincing lonteng terdengar, yang menandakan ada pengunjung masuk ke dalam kafe ini. Daru dan seniornya masih terus berbincang, mengingat masa kuliah mereka dulu.
"Ah sebentar," ucap sang senior menghentikan pembicaraan mereka. Sang senior mengalihkan pandangan ke samping. "Zetaya!"
Tubuh Daru mendadak kaku saat seniornya menyebut nama itu. Nama wanita yang dilihatnya kembali setelah bertahun-tahun. Ada berapa orang yang memiliki nama itu di negara ini? Tak mungkin itu mantan kekasihnya kan?
Daru mendengar derap langkah kaki mendekat ke arah meja tempatnya berada.
"Loh, Mas, di sini?"
Suara itu... Daru menelan saliva susah payah. Suara itu kan suara mantan kekasihnya. Sang senior mengenal mantan kekasihnya???
"Iya. Kamu habis pulang?"
"Iya, aku habis anter Misha pulang. Aku pikir Mas gak ke sini, jadinya Misha aku bawa pulang."
"Tidak apa-apa. Biar nanti saya yang ke sana."
"Ya udah. Mas udah minta Sapta bikinin Mas kopi?"
"Saya tunggu kamu."
"Ck! Kebiasaan."
Tawa renyah keluar dari mulut sang senior karena balasan Zetaya. Daru hanya mampu memperhatikan interaksi sang senior dan mantan kekasihnya, tanpa sanggup menggerakkan kepala ke samping, ke arah sang mantan kekasih yang berdiri tepat di samping mejanya. Tiba-tiba saja hatinya cenat-cenut merasakan nyeri melihat keakraban mereka. Ada hubungan apa sang mantan dengan seniornya?
"Oh iya, buatkan teman saya minuman juga ya. Tangan kamu kan tangan Dewi."
Terdengar dengusan kesal keluar dari bibir wanita ini, yang membuat senior Daru kembali tertawa.
"Kamu mau minum apa, Daru?" tanya sang senior, menyadarkan Daru dari lamunannya.
Sementara itu, tubuh wanita yang bernama Zetaya ini mendadak kaku mendengar nama itu. Segera saja pandangannya beralih ke arah seseorang yang duduk di depan mantan suaminya, seseorang yang baru disadari keberadaannya. Mata Zetaya membola sempurna. Pria ini lagi??? Aish!! Mengapa dia kembali bertemu dengan pria ini?! Membuat mood-nya anjlok saja! Padahal Zetaya sudah sangat senang mereka tak kembali bertemu selama hampir satu minggu ini di sekolah anaknya saat Zetaya menjemput Misha.
Tatapan mereka bertemu saat Daru memalingkan wajah ke arahnya.
"Ha-hai Mamanya Misha," ucap Daru gugup. Sial! Dia selalu gugup jika berada di depan wanita ini. Wanita yang semakin mempesona.
"Kamu kenal anak saya?"
Daru mengalihkan pandangan ke arah sang senior dengan pandangan terkejut. "Misha anak Abang?" tanya Daru tak percaya. Jantungnya loncat-loncatan tak jelas, seperti kodok sedang lomba. Kalau Misha adalah anak sang senior, bukankah itu berarti__
"Iya, Misha anak saya. Jadi kamu—"
"Anak saya sekolah di tempat yang sama dengan Misha."
"Wah, suatu kebetulan ya!" Sang senior terlihat semringah, sementara Daru hanya tersenyum kecil, senyum yang terlihat ogah-ogahan.
Pikirannya jadi kacau saat ini.
"Ehm, Papanya Evan mau minum apa?" tanya wanita yang menjadi sumber pikiran kacaunya ini datar.
Pria ini kembali menatap Zetaya, Aya-nya... tapi itu dulu. Kini wanita ini bukan Aya-nya lagi. Tak ada senyum di wajah sang wanita. Daru juga tak berharap minta disenyumi. Dia tahu penyebabnya.
"Saya—"
"Cappuccino buatan Zetaya juara di sini. Kamu harus coba," ucap sang senior heboh seperti seorang sales yang menawarkan produk dagangannya, yang entah mengapa membuat darah Daru mendidih.
Ada apa dengannya? Sial!
"Ehm... ka-kalau begitu, saya mau coba cappuccino buatan Mamanya Misha," ucap Daru sambil memaksakan senyum, padahal hatinya sudah kebakaran.
Zetanya mengangguk singkat, lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah pria di depan Daru. "Aku buatin minumannya dulu ya, Mas Fahri," ucap Zetaya lembut sambil tersenyum manis, lalu berlalu dari hadapan dua orang pria itu, dua pria yang pernah singgah di hidupnya.
Daru mendengus kesal karena melihat senyum Zetaya yang ditujukan ke arah seniornya, Fahri Purwadiningrat. Seharusnya Zetaya bisa memberikan senyuman itu juga untuknya.
‘Seharusnya? Mimpi saja kau, Berengsek! Wanita itu pasti masih sakit hati atas perbuatanmu dulu,’ maki Daru pada diri sendiri.
"Kenapa?" tanya sang senior karena mendengar dengusannya yang sepertinya kencang itu.
"Ah? Eng... enggak ada apa-apa, Bang," balas Daru salah tingkah. Daru kembali terdiam, lalu tak berapa lama, pria ini kembali membuka suara. "Ehm, Bang, wanita itu... jangan-jangan mantan istri Abang?" tanya Daru akhirnya. Rasa penasarannya harus segera dituntaskan seperti orang kehausan yang butuh segera minum. Daru bahkan tak peduli jika dia dianggap kepo urusan orang lain.
"Iya, dia mantan istri saya," jawab sang senior sambil tersenyum kecil.
Jawaban sang senior, malah membuat Daru sesak napas. Dugaannya sejak tadi ternyata benar. Mengapa dunia sesempit ini?
Tapi tunggu, mantan istri? Itu berarti, mantan kekasihnya itu sekarang single?
Senyum semringah segera terbit dari bibirnya. Aya-nya single? Pria ini mendadak ingin kembali mengejar wanita itu. Sang cinta pertama.
Namun tak berapa lama, senyum itu luntur seketika. Daru mengingat jelas senyum sendu sang senior saat pertama kali Daru bertanya tentang kafe ini. Apakah seniornya masih mencintai sang mantan istri? Itukah sebabnya sang senior sering berkunjung ke kafe ini?
Kalau iya, itu berarti dia harus bersaing dengan seniornya sendiri untuk mendapatkan hati Aya-nya kembali? Sial! Daru tak suka situasi ini! Mengapa juga harus Fahri Purwadiningrat yang menjadi mantan suami Zetaya?! Pria di depannya ini punya karakter yang sempurna. Alim dan dewasa. Pasti Daru akan kalah sebelum berperang. Terlebih sepertinya Zetaya juga masih memiliki rasa pada mantan suaminya itu, mengingat senyum lembut Zeyata yang diberikan untuk Fahri tadi. Tapi... kalau mereka masing saling mencintai, mengapa mereka berpisah?
"Abang udah lama berpisah sama Mamanya Misha?" tanya Daru kembali. Mulutnya ini benar-benar tidak bisa direm.
"Dua tahun yang lalu. Ada apa?"
"Ah... gak ada, Bang. Saya cuma kaget aja. Hubungan kalian terlihat baik-baik aja, tapi kenapa berpisah?" tanya Daru kembali. Sepertinya mulutnya ini minta dijempret pakai karet ketoprak, karena terlihat terlalu kepo.
Sang senior terdiam mendengar pertanyaan Daru, membuat Daru tak enak hati sendiri.
"Ehm... maaf, Bang, saya gak bermaksud mau tahu urusan Ab—"
"Karena memang seharusnya kami berpisah..." balas sang senior ambigu dengan tatapan kosong, yang membuat Daru malah semakin bertanya-tanya di dalam hati.
Ada apa dengan mantan suami istri itu?
***