Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali.
Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini. Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju puncak gedung selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa.
Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat. Ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Namun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja.
Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini.
Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan.
Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak kecil.
" Jadi ini kerjaan lo?" Hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
" Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?" kesalnya dengan tatapan marah.
" Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?"
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
" Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun."
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
" Pada ngapain?" tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekat miliknya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
" Kak Adam," seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget.
Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu.
Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat.
Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
" Medina. Pulang," Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya," Ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar," sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. " Dia tu...," Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
" Iya...iya...aku pulang."
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya.
Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
" Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu," rengek Medina.
" Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari."
" Kak...,"
" Diam."
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu.
Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
" Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya."
" Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin," tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
" Bukannya gitu, aku cuma-," ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
" Kak, Nando itu emang rese'. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera," Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
" Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu."
" Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri."
" Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese'."
" Tapi, Kak-,"
" Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu."
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing. Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak.
Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapi percuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
" Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi," tegas Adam dengan tatapan dingin.
" Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang."
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
" Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang," titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan.
Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
" Baru tahu gue, kalau 'macan kampus' punya pawang."
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
" Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?" tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
" Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah." Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina," Nando!!"
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi.
Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
***
"Harusnya lo tu bersyukur punya saudara kayak kak Adam, Na." Komentar Nina langsung menembus pendengaran Medina usai dia mengakhiri ceritanya tentang kejadian kemarin sore.
Bahkan ia juga masih merasa kesal karena tidak berhasil membalas perlakuan Nando semalam, karena entah ada angin apa, Adam kembali ke rusun dan menyeretnya pulang.
Hari masih sangat pagi untuk kedua anak manusia ini menampakkan diri di kampus. Jika bukan karena sudah mendapat surat peringatan lantaran selalu bolos kuliah. Dua gadis berambut panjang beda karakter ini pasti lebih memilih bertahan dibawah selimut hingga siang bolong.
Nina itu sahabat Medina sejak SMP, dia feminim. Kemana – mana selalu mengenakan minidress, bahkan itu juga jadi outfit andalannya saat ke kampus, walau sudah berkali – kali di tegur pihak kampus untuk mengenakan pakaian yang lebih santun, gadis berkulit putih pucat itu tak kunjung menurut.
Pada dasarnya gadis yang lahir dari keluaga kaya raya ini punya tingkat kebandelan yang sama dengan Medina. Mungkin...itu yang membuat mereka bisa menjadi sahabat cukup lama. Entahlah.
" Kak Adam itu, udah ganteng, baik, pinter, shalatnya rajin, dan tipe cowok yang ngejaga adeknya banget. Pokoknya kak Adam itu kalau menurut gue-,"
" Manusia tanpa cela," sela Medina yang sudah hafal dengan kata – kata Nina jika sedang memuji kakak semata wayangnya itu.
Ya, bukan hanya Nina bahkan seantero kampus menyebut Adam sebagai mahasiswa terbaik dan terpopuler yang pernah ada.
Apa Medina bangga? Tentu. Tapi ia juga sedikit kesal, kenapa dirinya tidak bisa jadi seperti kakaknya? Kenapa tidak ada satupun sifat baik dan secuil kecerdasan kakaknya yang menempel padanya?
Padahal umur mereka hanya terpaut 2 tahun. Tapi kenapa tak ada satupun sifat kakaknya yang menurun padanya? Apa Medina anak pungut? Ah...tidak. Tidak. Semua orang bilang jika wajah mereka mirip, Apalagi iris mata hitam dan sorot mata teduh yang mereka miliki. Sungguh mirip.
" Kak Medina ya?" panggilan seseorang memecah lamunan Medina.
Bukan Nina melainkan cewek berpakaian putih abu – abu, berwajah imut dengan rambut tergerai indah kini berdiri tepat di sisi meja yang ia dan Nina tempati.
" Lo siapa?" tanya Medina dengan alis bertaut. Heran, kenapa remaja SMA ini bisa ada di kantin kampusnya.
" Aku, Lia kak. Aku mau nitip ini buat kak Adam," ungkap gadis berponi ini sambil menyodorkan coklat berbentuk hati yang sudah di bungkus rapi bahkan di ikat dengan pita berwarna pink terang.
" Woah...nggak nyangka ternyata kepopuleran kak Adam tersebar hingga ke luar kampus," seru Nina kegirangan sendiri. Medina yang melihat hanya memutar bola matanya malas.
" Kakak adiknya kak Adam kan? Aku titip ini buat dia, hari inikan valentine. Aku mau kak Adam tahu perasaan aku di hari kasih sayang ini," papar Lia dengan senyum semringah.
Bukannya senang mendapati kakaknya punya penggemar cantik dan di beri coklat di hari valentine, Medina malah berdecih dengan wajah kesal," Eh dengar ya adek manis nan unyu, kakak gue nggak ngerayain valentine, dan dia nggak suka coklat," beber Medina sambil mengambil coklat yang tadi Lia sodorkan.
" Tapi kenapa coklatnya tetap di ambil, kak?" tanya Lia takut – takut.
" Kakak gue nggak suka coklat. Tapi gue suka. Terima kasih ya." Medina dengan santainya membuka bungkus coklat dan kemudian memakannya. Jangan lupakan Nina si penggila coklat yang juga turut larut menikmati coklat bermerk mahal itu.
" Ta – tapikan kak, itu buat Kak Adam." Lia tampak hampir menangis gara – gara ulah Medina yang seenaknya.
" Gue Medina. Gue adiknya. Anggap aja lo udah ngasih coklatnya ke Kak Adam. Toh...kalau lo kasih dia, ujung – ujungnya bakal di makan sama gue juga." Medina bersikap semakin menyebalkan.
" Tahu nih, lo bawel banget sih. Pulang sono," usir Nina terang - terangan, sebenarmya ia bukan tipe cewek yang kasar. Hanya saja jika itu berkaitan dengan merebut perhatian Adam, ia tidak suka.
Sekedar informasi Nina memang sudah menyukai Adam sejak ia mengenal Medina, tapi ia tak pernah punya kesempatan mendekati laki – laki itu lantaran kegalakan Medina yang berusaha melindungi kakaknya dari cewek – cewek genit nan menyebalkan. Menurut Medina, Nina salah satunya.
Remaja SMA berwajah manis itu, beranjak pergi dengan perasaan kesal. Reputasi Medina yang terkenal biang rusuh dan seganas macan, membuatnya urung memperpanjang masalah.
" Happy Valentine macanku sayang." Kehadiran Nando dengan coklat berrpita merah di tangannya semakin merusak mood baik Medina hari ini. Belum juga kemarahan dengan Lia hilang, Nando sudah nongol dengan wajah menyebalkannya.
" Harus berapa kali gue bilang? Gue nggak ngerayain Valentine. Pergi Lo!" Bentak Medina dengan mata melotot.
" Ya elah, masih kecut aja tu muka. Masih kesel soal kemaren?" papar Nando dengan tersenyum jahil. " Gue itu cuma iseng Na. Lagian lo gampang banget di bohongin, mana ada penerbit besar yang ngajakin ketemu di rusun."
Lelah mendengar celotehan Nando yang kembali menguras emosinya, Medina melayangkan tatapan dingin pada cowok berkacamata itu," Lo bisa jauh – jauh nggak dari gue? Dari kehidupan gue. Kalo perlu lo transmigrasi aja ke Merkurius sana." Raut wajah dan ucapan Medina terdengar datar.
Hening sesaat, Nina yang biasanya heboh mendapati kedatangan Nando kini terlihat lebih sibuk dengan ponselnya.
" Nggak," jawab Nando pada akhirnya dengan senyum semringah. Bukan Nando namanya jika tidak membuat kesal Medina dengan segala tingkahnya.
" Erghh...lo tu ya-," Medina bersiap ingin mencakar wajah menyebalkan itu, tapi kemudian pergerakannya terhenti saat suara Nina mengisi ruang di antara keduanya.
" Na, gue punya berita penting!!"
" Berita apa'an?" kesal Medina karena kembali gagal membalas Nando. Sementara Nando mengelus dada, lega karena wajah tampannya selamat dari cakaran macan ngamuk.
" Kak Adam nolak beasiswa S2 yang di tawarin profesor," ungkap Nina usai membaca obrolan grup chat kampus yang memenuhi ponselnya.
" Apa? Beasiswa?" Air muka Medina seketika berubah kaget.
" Lo tahu kenapa kak Adam nolak beasiswa ke Amerika itu?"
Medina menggeleng pelan, wajah cemas menyelimutinya saat ini. Jangankan alasan Adam menolak beasiswa. Perihal Adam di tawari beasiswapun dia tak tahu menahu. Bagaimana mungkin kakaknya itu tidak menceritakan apapun padanya?
Nina dan Nando yang bisa membaca kecemasan pada wajah Medina hanya diam dan saling berpandangan, saling menuntut penjelasan tentang kegelisahan gadis berlesung pipi itu. Dan hanya berakhir saling mengangkat bahu, pertanda keduanya tak mengetahui apapun yang ada di pikiran Medina saat ini.
" Gue cabut dulu," Medina memanggul ranselnya dan membenahi posisi topinya.
" Lo mau kemana?" tanya Nina heran.
" Tahu nih, gue juga baru nyampe. Sodorin minum dulu kek," timpal Nando tak tahu diri toh tidak ada yang mengundangnya datang.
" Ndo lo sayangkan sama gue?" tanya Medina bernada serius. Nando mengangguk cepat dengan tersenyum manis. " Kalau gitu bayarin makanan gue. Bye."
Senyum manis Nando berubah kecut mengiringi kepergian Medina dari kantin. Sementara Nina adalah orang yang paling puas tertawa memandangi wajah BT Nando.
" MPOK LEHA, Berapa'an nih makannya tu bocah?" seru Nando memanggil nama si empunya kaantin masih dengan wajah cemberut.
Sementara Nina masih tertawa geli melihat wajah kecut Nando sekaligus nasib Nando yang selalu kebagian jatah membayar semua makanan yaang Medina pesan setiap ke kantin.
" Sabar ya Ndo, anggap aja ini pengorbanan lo buat ngedapetin hatinya Medina," dukung Nina dengan terkikik geli.
" Untung aja sayang. Kalau nggak ogah deh gue ngebayarin dia makan, yang porsinya kayak kudanil itu."
Nina kian tergelak mendengar celotehan Nando. Suasana kantin yang sepi kini hanya di dominasi oleh gelak tawa Nina yang seakan tak mau berhenti.
***
Medina nyaris putus asa, karena tak menemukan kakaknya di manapun. Ia sudah menjelajah hampir seluruh lorong dan ruangan yang ada di kampus, tapi ia masih tak menemukan tanda Adam di sana.
" Hadeuh...kak Adam kemana sih? Dia nggak mungkin bolos. Bakal jadi sejarah baru kalau dia bolos," rungut Medina yang mulai kesal karena tak kunjung menemukan kakaknya.
Ia menghempaskan tubuhnya di kursi yang di letakkan memanjang mengisi setiap lorong kampus. Ia berniat tidur sebelum kelasnya di mulai. Tapi belum juga matanya terpejam pekikan seorang perempuan yang meneriakkan namanya membuatnya terperanjat.
" MEDINA!!"
Dentuman sepatu hak tinggi yang beradu pada lantai kian mengganggu ketenangannya. Ia mengusap wajahnya kasar, mendapati seorang perempuan dengan rambut blonde dan pakaian serba minimalisnya datang mendekat kearahnya. Dan suara teriakan persis kucing kejepit itu adalah suaranya.
Dia Tasya, seniornya di kampus, mahasiswi tingkat akhir, satu angkatan dengan Adam, yang sudah mengincar Adam sejak jaman mereka ospek tapi tak pernah berhasil mendekati Adam.
" Apa'an sih? Nggak bisa apa kasih gue waktu buat tenang sedikit?" omel Medina dengan wajah masam.
" Nih." Cewek cantik yang populer di semua angkatan itu menyodorkan coklat berpita pink terang dan kotak berbentuk persegi panjang yang telah di bungkus rapi pada Medina.
Medina tak langsung menerimanya, ia memandangi wajah tirus dihadapannya dengan seksama," Lo nggak pikun kan? Perasaan saban tahun udah gue kasih tahu. Kak Adam nggak ngerayain valentine. Dan dia nggak suka cokelat. Bandel amat sih," sungut Medina yang selalu kehabisan cara menghadapi para fans Adam yang selalu datang menemuinya.
Wajar mereka terus mendatangi Medina, karena Adam bukan tipe cowok yang sering berinteraksi dengan lawan jenis untuk hal yang tidak penting. Kakaknya yang taat agama itu tentu lebih memilih mendekam di masjid sambil tilawah ketimbang bertemu dengan cewek – cewek kurang belaian yang pakaiannya serba kurang bahan itu. Bisa rusak mata kakak gue, kalau ketemu sama yang model begini. Begitulah yang selalu muncul dalam pikiran Medina saat bertemu dengan para penggemar kakaknya.
" Gue nggak pikun. Coklatnya buat lo. Kadonya buat Adam. Dan ini cuma kado biasa bukan kado valentine. Nih," terang Tasya hingga akhirnya meletakkan kedua barang itu di pangkuan Medina.
" Tapi lo ngasihnya di hari ini. Itu sama aja-" Medina ingin melayangkan protes tapi ucapannya tertahan saat namanya kembali di teriakan oleh beberapa mahasiswi yang berlari kecil ke arahnya sambil menenteng coklat dan kado.
Medina meringis, ia mengusap wajahnya kasar dan kemudian menghempaskan punggungnya di tembok, ia lelah jika harus menghadapi hal seperti tahun – tahun sebelumnya. Membawa pulang tumpukan kado dan mati – matian menghabiskan coklat yang berjibun.
Punya kakak populer apa harus serumit ini hidup gue?
***
" Aku pulang!!" seruan Medina menghentikan pergerakan Adam yang sedang membaca buku diruang tamu.
Mata teduhnya langsung memandangi jam dinding yang menggantung di tembok rumah sederhana yang mereka tempati. Jam persis menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Medina masuk ke rumah dan duduk di kursi rotan yang mengisi ruang tamu dengan wajah lelah. Plastik hitam besar yang sejak tadi ia tenteng, ia letakkan begitu saja di atas meja. Tapi tak sedikitpun menarik perhatian Adam, ia lebih tertarik pada buku yang ia baca daripada plastik hitam besar yang sudah bisa ia tebak apa isinya.
" Sudah berapa kali kakak bilang, kalau masuk ke rumah ucapin assalammualaikum," nasehat Adam dengan nada datar.
" Iya...iya...maaf."
" Ulangi," tegas Adam tak terbantah. Tatapannya masih terfokus pada deretan tulisan di buku.
Dengan langkah berat, Medina kembali melangkah keluar rumah," Assalammualaikum!!" seru Medina dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatuh," sahut Adam sambil menutup bukunya. " Jam segini udah pulang, kuliah kamu udah kelar?"
" Kakak sendiri kenapa ngilang dari kampus?"
" Jawab dulu pertanyaan kakak," pinta Adam masih bersikap tenang.
" Gimana bisa aku tenang kuliah, kalau fans alay kakak nguber aku terus," keluh Medina karena memang selama di kampus tadi ia tidak di berikan kesempatan masuk kelas, kehadiran para penggemar Adam yang mengerumuninya menahan pergerakannya. Menyebalkan.
" Tuh liat, kakak tahukan isinya apa? Coklat dan kado buat kakak. Aku udah berkali – kali bilang kalau kita nggak ngerayain valentine, tapi mereka ngotot pengen ngasih kakak dengan alasan itu 'kado biasa'. Kalau nggak ingat itu amanah yang harus aku sampaikan, udah dari tadi aku buang ke tempat sampah."
" Gimana dengan coklat dari anak SMA yang tadi pagi nemuin kamu? Apa itu bukan amanah juga?" tanya Adam berusaha mengingatkan Medina kejadian yang tak sengaja ia lihat di kantin pagi tadi.
" Kakak liat dia nyamperin aku?" tanya Medina dengan nada terkejut yang hanya di tanggapi anggukan kecil dari Adam. " Hm...kalau itu, karena aku lagi pengen makan coklatnya." Aku Medina cengengesan.
Adam hanya bisa geleng – geleng kepala mendengar pengakuan sang adik, jika sudah urusan makan, nasehat dan penjelasan apapun tak akan ada gunanya.
" Kakak sendiri kenapa pulang? Mau belajar bolos ya?" selidik Medina dengan mata memicing.
" Lagi nggak ada kelas," jawab Adam dan kembali membaca bukunya.
" Kalau nggak ada, kenapa pagi tadi ke kampus?"
" Lagi ada urusan sedikit."
" Urusan apa? Soal beasiswa itu ya?" tanya Medina cepat. Karena memang pertanyaan itu yang ingin ia utarakan sejak tadi.
Adam sedikit kaget ditanyai hal seperti itu. Tapi...bukan Adam namanya jika tidak bisa mengontrol situasi. Ia memilih untuk tetap tenang dan bersikap sewajarnya saja.
" Urusan kampus. Kamu nggak perlu tahu."
" Kenapa kakak nolak beasiswa itu? Bukannya sekolah di Amerika itu impian kakak dari dulu? Kenapa kakak buang kesempatan emas itu?" tanya Medina runtun, ia merasa kesal kenapa kakaknya dengan begitu mudah menolak tawaran itu.
Adam kembali menutup bukunya," Kamu udah makan?" Alih – alih menjawab Adam malah mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat Medina berdecak sebal.
" Jawab dulu pertanyaan aku apa susahnya sih?" kesal Medina dengan tangan terlipat didada.
" Nggak ada tawaran beasiswa apapun Medina," kilah Adam semakin membuat marah Medina. Sejak kapan kakaknya pandai berbohong seperti itu.
" Harusnya kakak itu bersyukur di kasih kesempatan kayak gitu. Jarang - jarang profesor nawarin beasiswa penuh sama mahasiswanya. Kenapa kakak tolak? Nggak enak sama aku yang terkenal punya nilai terjelek di kampus?" Medina terus mengoceh tanpa memberi Adam kesempatan untuk membuka suara.
" Kita cari makan dulu yuk," Adam kembali mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin memperkeruh keadaan.
" Aku nggak laper," ketus Medina dan berjalan masuk ke kamar. Bantingan pintu yang ia ciptakan sudah cukup menyadarkan Adam jika Medina sedang kesal saat ini.
Adam menghela nafas panjang memandangi adiknya yang telah menghilang di balik pintu kamar. Bagaimana mungkin ia menerima beasiswa itu? Bagaimana bisa ia pergi dan meninggalkan adiknya seorang diri di sini? Medina itu satu – satunya yang ia punya sekarang, ia tak mungkin meninggalkannya hanya untuk mengejar mimpinya sendiri. Bagi Adam, itu gila.
***
Rentetan notifikasi aplikasi terus menghiasi ponsel Medina sejak satu jam yang lalu. Jika saja ia tidak ingat kalau ponsel itu di belikan Adam dari gaji pertama kerja part time di cafe, sudah sejak tadi ia ingin melempar benda pipih berwarna hitam itu.
Bukan apa – apa, ia merasa kesal karena tak ada satupun notifikasi yang berisikan pemberitahuan tentang vote atau komentar pada cerita yang sudah satu bulan lalu ia publish di akun nya. Bahkan cerita itu hanya mempunyai satu viewers untuk 10 bab cerita. Menyedihkan.
Lama mendekam didalam kamar membuat Medina nyaris mati bosan, ia terlalu gengsi untuk menyapa kakaknya duluan setelah tadi marah – marah tidak jelas.
Medina mendongak memandangi jam dinding yang menggantung di tembok kamar, jarum jam mengarah tepat pada angka 8. Itu artinya, kakaknya masih belum pulang dari kerja part timenya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah atap kamar yang tidak di tutupi plafon atau semacamnya. Tatapannya menerawang, tubuh mungilnya masih betah terbaring di atas kasur kapuk yang tidak lagi terasa empuk. Heningnya keadaan rumah kian membawanya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
" Kok kak Adam nggak pamit ya, waktu pergi tadi?"
" Apa dia marah?"
" Gue keterlaluan ya?"
Medina bermonolog, sesal melingkupinya tanpa ampun saat ini.
Mengingat bagaimana kakaknya terus bekerja di luar jam kuliah untuk membiayai kehidupan mereka, Medina jadi malu dan merasa jadi adik yang tidak tahu diri karena selalu melawan perkataan kakaknya. Belum lagi ia sering melempar kekesalan tidak jelasnya pada Adam.
Nina benar, anak – anak kampus benar, Adam itu kakak yang baik, sangat baik, dan teramat baik. Ia rela bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi semua kebutuhan adiknya.
Mulai dari bekerja di cafe hingga tengah malam sebagai coffee maker, hingga menjadi buruh cuci di rumah susun yang kemarin ia kunjungi.
Bahkan sewaktu kecil, Adam rela panas – panasan ngamen di perempatan lampu merah hanya untuk membelikan boneka teddybear di hari ulang tahun Medina.
Lantas apa balasan Medina? Hal baik apa yang sudah ia lakukan untuk membuat kakaknya bahagia? Tidak ada.
Dia hanya gadis bodoh, bandel, kelakuan bak preman yang selalu membuat susah kakaknya. Medina bahkan tidak tahu apa yang bisa membuat kakaknya bahagia, ia terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Seketika cairan bening dan hangat yang sejak tadi bersarang di pelupuk matanya, luruh tanpa di perintah membasahi pipi mulusnya. Medina menyesal karena telah bersikap kurang ajar pada seseorang yang selalu menjaganya sejak kecil itu.
Ia tidak boleh terus – terusan seperti ini, kakaknya juga harus bahagia. Ia tidak boleh egois.
Buru – buru Medina beranjak meninggalkan kamarnya, ada hal yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu persis, alasan macam apa yang membuat Adam menolak tawaran beasiswa itu.
Karena dirinya, karena Medina.
***