Alena melebarkan senyuman saat sang photographer menyuruhnya tersenyum lebih lepas. Mengangkat tangannya ke rambut dan menyibaknya, kepalanya mengarah ke samping kanan agak diangkat.
“Okay! Satu kali lagi,” pinta sang photographer. “Ya. Bagus.”
Kaki Alena disilangkan, bersandar pada meja kayu di belakangnya. Tangannya menyentuh bibir sambil menatap kamera dengan wajah tenangnya.
“Selesai. Kerja bagus Leanne.” Laki-laki berbeda umur 10 tahun dari Alena tersenyum tipis. Meninggalkan kameranya sejenak sebelum melihat hasil fotonya.
“Terima kasih untuk hari ini,”
Sesi pemotretan terakhir yang dijalani oleh Alena telah selesai. Gadis itu berjalan menuju kursi lipat yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Seorang gadis berkacamata mendatanginya sambil membawakan air mineral padanya.
“Apa masih ada jadwal pemotretan lagi?” tanya Alena pada Tamara, sang manager.
Tamara membuka buku kegiatan yang selalu ia bawa. “Sepertinya tidak ada. Tersisa wawancara dengan salah satu majalah remaja. Dan setelah itu, kau bisa istirahat selama dua minggu,” jelasnya kemudian. Ia duduk di samping Alena.
“Majalah apa?” Alena meneguk air mineral di tangannya sambil memandang ke arah Tamara.
“Majalah Oricon. Hanya sekedar wawancara biasa untuk bahan majalah mereka.”
Alena menghela napas panjang. “Aku sangat lelah. Bisakah kita pulang sekarang?” Pinta Alena.
“Okay, aku akan berbicara dengan Curtis sebentar. Dia akan mengirimkan hasil foto lewat E-mail. Jika kau penasaran, kau bisa mengeceknya nanti.” Setelah mengatakan hal itu, Tamara pergi untuk menghampiri laki-laki berperawakan tinggi yang tengah berbicara dengan sang photographer.
Alena meneguk kembali air mineralnya, lalu merapikan rambutnya. Seorang lelaki menghampiri Alena, menyapanya. “Hay, Leann. Hari ini kau bekerja dengan bagus.”
“Terima kasih, Daniel.” Alena tersenyum tipis. “Mau duduk?”
Laki-laki yang dipanggil Daniel tertawa kecil. “Tidak. Tidak. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan.” Ia mengangkat dua kamera yang ada di tangannya, memperlihatkannya kepada Alena. “Semua ini harus segera dibereskan sebelum Derek memarahiku.”
“Derek tidak akan melakukan hal itu selama kau masih menjadi teman dekatnya, Daniel,” kata Alena. Ia melihat Tamara berjalan ke arahnya. “Sudah waktunya pulang.”
Daniel menatap ke arah Tamara. “Sampai ketemu nanti, Leann.”
“Sampai jumpa, Daniel.”
Di perjalanan di dalam mobil. Alena melepas wig rambutnya dan menaruhnya di kursi sampingnya. Mengeluarkan ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.
“Hari ini aku melihatmu mengobrol dengan Daniel lagi,” kata Tamara. Gadis itu duduk tepat di depan Alena. “Dan sepertinya, dia punya perasaan khusus kepadamu.”
“Apa?” Alena melongo. “Itu tidak mungkin. Kami hanya suka mengobrol. Itu saja.”
“Hey, kau cantik, bukan tidak mungkin jika Daniel menyukaimu.”
“Sebagai Leanne, ya. Tapi, sebagai Alena? Kurasa tidak.” Alena mendengus, lalu tersenyum seperti orang mengejek, lebih kepada untuk dirinya sendiri. “Menjadi Leanne atau menjadi Alena. Kurasa semua orang lebih menyukai Leanne ketimbang Alena,” komentarnya, kemudian.
“Itu karena Leanne gadis yang terbuka, sedangkan Alena cenderung pendiam. Bagaimana kau bisa menjalani dua kehidupan seperti itu? Apa sulit melakukannya?”
Mata biru terang itu hanya menatap Tamara tanpa membuka suara. Kembali pada ponsel yang sejak tadi dipegangnya. Hidup menjadi dua gadis yang berbeda memang menyulitkan. Gadis ceria, ramah, dan disukai banyak orang, Leanne. Dan gadis penyendiri, kutu buku, serta tak banyak diperhatikan orang, Alena. Bagi orang yang memiliki pilihan, pasti akan ada banyak yang memilih untuk menjadi Leanne.
Tapi, bagi Alena, menjadi Leanne hanyalah perannya sebagai model majalah remaja yang sudah ia geluti semenjak usianya 16 tahun. Tak banyak orang yang tahu jika Alena —gadis pendiam dan kutu buku— adalah sosok Leanne yang digemari oleh kalangan remaja laki-laki maupun perempuan.
Rahasia ini hanya diketahui oleh keluarga, serta Tamara yang selalu menjaganya setiap waktu. Dan untuk alasan yang sama, Alena tidak akan pernah mengatakan pada siapapun tentang kebenaran yang tersembunyi itu.
***
Mata Alena mengerjap beberapa kali saat sinar matahari masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia melihat ke arah jendela yang tak jauh dari tempat tidurnya. Wajahnya langsung ia tenggelamkan di bantalan yang empuk lalu kembali menatap jendela kamar. Ia menghela napas berat dengan mata sayunya.
Kegiatan yang tak akan pernah bisa Alena tinggalkan selama ia masih menjadi murid di salah satu sekolah di Houston, Amerika serikat. Menjadi murid dan gadis biasa tanpa sesuatu yang istimewa.
“Pagi, Moms.”
“Semangatlah! Hari ini tahun pelajaran baru. Adik-adikmu akan masuk sebagai murid baru di sekolahmu,” sang Ibu berujar lembut. Memperhatikan anak gadisnya yang semata wayang berwajah ngantuk.
“Itu bukan berita gembira,” Keane berujar ketus. “Satu sekolah dengan kakak culun bukanlah sesuatu yang menggembirakan. Haah, aku yakin, aku akan menjadi bahan olok-olok jika teman-temanku tahu, bahwa aku punya kakak kutu buku seperti dirimu.” Mata birunya menyipit tajam pada Alena yang duduk di depannya.
Alena mendengus kesal. “Kalau begitu carilah kakak impianmu itu di luar sana!” ujarnya tak kalah ketus.
Kacamata bulat, rambut yang diikat dikedua sisi, dan membawa buku ke mana-mana bukanlah trend masa kini. Terlebih kota besar seperti Houston. Semua orang akan berpikir bahwa hidup Alena sia-sia karena menjalani hidupnya seperti itu.
“Itu hanya kamuflase, Keane,” Keene berujar lembut. Tersenyum tipis pada Alena. Mereka saudara kembar, tapi Keene satu-satunya adik yang perhatian padanya, ketimbang Keane. “Alena cantik dalam segala hal,” lanjutnya memuji sang kakak. Alena membalas dengan senyum tipis.
“Jangan melindunginya, Keen.” Keane menatap tajam adiknya.
“Aku tidak, hanya berbicara fakta.”
“Terserah kalian saja. Yang jelas, jangan dekat-dekat denganku saat berada di sekolahan.”
***
Suasana di kelas ramai seperti biasanya, sibuk dengan majalah Oricon yang hari ini sudah terbit. Mereka berkumpul untuk melihat Leanne di sana. Wawancara eksklusif tentang kehidupan pribadi Leanne yang sangat dinantikan oleh para penggemarnya, terlebih para laki-laki.
“Cantik seperti biasanya,” gumam satu laki-laki berambut ikal.
“Kurasa kecantikannya tidak akan pernah pudar. Leann anugrah dari langit yang dikirimkan untukku. Malaikatku yang manis,” ucap laki-laki bek pirang.
Alena tertegun. Ia tak pernah merasa tak percaya setiap kali teman kelasnya memuji dirinya sebagai Leanne. Di mata mereka, Leanne adalah sosok gadis impian, malaikat, cantik, manis, dan sempurna. Banyak laki-laki yang mencintainya, dan banyak wanita yang mengidolakannya.
“Kalian bermimpi terlalu tinggi,” cetus Mika —teman sekelas Alena. “Leanne itu tidak selevel dengan kalian. Benar kan, Alena?” Kepalanya menoleh pada Alena yang tertunduk membaca buku di tangannya.
“Oh? Ya, tentu,” jawab Alena gagap. Tangannya menyentuh kacamata untuk membenarkan posisinya.
“Bagaimana menurutmu tentang Leanne? Di majalah dikatakan bahwa Leanne belum punya kekasih,” kata Mika, “mustahil kalau gadis cantik sepertinya belum punya kekasih.”
“Uhm, kupikir dia hanya belum menemukannya saja, atau belum ingin mencari?” Secara fakta, memang Alena mengatakan yang sebenarnya.
“Benarkah? Mungkin saja—”
“Itu karena Leann masih menungguku untuk jadi pacarnya. Itu fakta,” potong laki-laki berambut ikal tadi.
“Dasar, penghayal tinggi,” celetuk Mika. Ia merampas majalah miliknya dari tangan laki-laki berambut ikal. Mengangkatnya ke udara dan mengarahkannya pada satu laki-laki yang tengah tertidur di mejanya. “Hey, Ray! Menurutmu Leanne itu bagaimana?”
Laki-laki yang dipanggil Ray tadi lantas menoleh. Mengangkat kepalanya sedikit. Kedua tangannya berada di atas meja sebagai penyangga kepala. Mata coklatnya yang tenang namun tegas memperhatikan gambar Leanne yang duduk sambil tersenyum. “Biasa saja,” komentar Ray, kemudian. Tegas, jelas, dan tanpa basa-basi sama sekali. Ia kembali tiduran di atas lengannya.
“A-apa? Dia tadi bilang apa?” tanya laki-laki berambut ikal pada Mika. “Dia pasti sudah gila,” celetuknya kemudian.
“Percaya diri dan gila itu hampir tak bisa dibedakan,” sambung laki-laki di sampingnya.
Alena terdiam. Menatap Ray yang tiduran membelakanginya. Meja mereka berdampingan. Tapi tak pernah sekalipun, Alena berbicara dengan Ray. Bahkan untuk menyapa laki-laki pendiam dan dingin itu mustahil ia lakukan.
Ray terkenal sebagai laki-laki yang tak banyak bicara. Lebih suka menyendiri dan menghilang setiap kali ada kerumunan. Tak banyak teman yang ia miliki selain laki-laki bertubuh tinggi di kelas sebelah. Ia satu-satunya laki-laki yang terlihat tak tertarik dengan sosok Leanne. Model yang digemari oleh banyak pria. Dan itu membuat Alena merasa bertanya-tanya.
“Hey, Ray. Bukalah matamu dan lihat lebih jelas. Leanne itu gadis yang sempurna. Bodoh, kalau kau bilang Leanne itu biasa saja!” seru Mika, kesal.
Kepala Ray terangkat. Melotot pada Mika dan yang lainnya, termasuk Alena. “Tidak semua laki-laki harus menyukainya, bukan?” Sudut bibirnya membentuk senyuman mengejek. “Dia cantik karena wajahnya dipoles. Topeng saja.”
Alena berjengit mendengar pernyataan Ray. Tak pernah ia melihat wajah Ray yang marah seperti sekarang.
“Bocah sialan ini. Kalau kau tidak menyukainya, ya sudah! Jangan mengatainya seperti itu!” bentak laki-laki berambut ikal.
“Terserah,” ujarnya ketus. Ia berdiri dan mendorong kursinya dengan kaki hingga mengeluarkan bunyi ‘duk’ yang cukup keras.
“Apa-apaan dia itu. Menyebalkan sekali.”
Sementara Ray pergi, Alena hanya menatap kepergian laki-laki itu dalam diam.
Pelajaran terakhir selesai beberapa menit yang lalu. Beberapa dari murid telah meninggalkan kelas. Hanya tersisa beberapa orang yang sibuk berdandan atau mengobrolkan sesuatu.
“Hey, Alena. Teman-teman akan pergi untuk makan bersama. Kau mau ikut?” tanya Mika. Ia mengambil tas dari lacinya.
“Mungkin lain kali saja. Aku harus mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan,” kata Alena, memperlihatkan setumpuk buku di atas mejanya.
“Oh begitu, ya sudah, kami duluan ya.” Mika berlalu meninggalkan kelas bersama teman-temannya.
Hanya tinggal dirinya yang berada di kelas. Alena segera membawa buku-buku pelajaran yang ia pinjam beberapa waktu lalu untuk dikembalikan ke perpustakaan. Saat melewati lorong yang panjang, ia melihat adiknya Keane tengah menuruni tangga di lantai tiga.
“Keane? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa belum pulang?” tanya Alena. Keane hanya diam, menuruni dua anak tangga terakhir, dan berjalan mendekati Alena. “Keane?”
“Hanya mengantarkan Keene bertemu dengan seorang gadis. Kau sendiri sedang apa?” Seperti biasanya, Keane selalu berkata kasar pada Alena tanpa menggunakan kata-kata yang lembut.
“Mengembalikan buku-buku ini ke perpus—“
“Kemarikan. Biar aku yang bawa.” Keane mengambil semua buku yang dibawa Alena ke tangannya. Alena tersenyum tipis. “Berhentilah tersenyum, dan cepat pergi ke perpustakaan. Akan kubawakan buku-buku sialan ini ke sana.”
“Baiklah. Ngomong-ngomong, apa kau tidak mau ikutan kencan dengan Keene?” tanya Alena penasaran. Kedua saudara kembar itu memiliki wajah yang tampan, bukan hal mustahil jika tidak ada gadis yang menyukai mereka.
“Tidak perlu tahu urusanku, urus saja urusanmu sendiri,” jawab Keane, ketus.
Sambil tersenyum kecil, Alena menyenggol lengan Keane dengan lengannya. Laki-laki itu menggerutu tak suka. Dan itu malah membuat Alena ingin melakukannya lagi dan lagi, hingga membuat Keane berteriak kesal.
“Hentikan! Kau membuatku risih!” seru Keane. Alena tertawa kecil di sepanjang koridor kelas, menuju perpustakaan.
Ray keluar dari supermarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Menenteng satu kantung plastik warna putih. Ia berjalan melewati jalanan setapak di pinggir jalan besar. Jaket tebal membungkus tubuh tegapnya.
Malam menunjukkan pukul tujuh saat itu. Di belokan terakhir menuju rumahnya, Ray melihat seorang wanita, umur sekitar 30 sedang diganggu oleh beberapa anak nakal. Sambil mendengus kesal, ia menghampiri wanita tersebut.
“Hey! Carilah orang lain untuk kalian ganggu!” seru Ray, matanya berkilat kesal.
Salah satu dari anak-anak yang menganggu wanita tadi mengangkat kedua tangannya. Merasa bahwa Ray bersama wanita yang diganggunya, laki-laki itu lantas menyuruh para teman-temannya untuk pergi. Kembali bercanda dan mengobrol seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.
Ray menghampiri wanita tersebut. Tinggi dan memiliki bentuk tubuh yang ideal. Wajahnya yang cantik menandakan bahwa wanita tersebut memiliki otak yang pintar. “Anda baik-baik saja?” tanya Ray kemudian.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku.” Wanita cantik itu sempat menatap beberapa anak nakal yang tadi menganggunya. Lalu berpaling pada Ray. Bibirnya membentuk senyum lebar saat menatap Ray. “Kau punya wajah yang tampan,” komentarnya.
“Apa?” Alis Ray naik sebelah. Bingung dengan perkataan wanita tersebut yang terkesan terang-terangan.
“Iya, kau! Kau punya wajah yang tampan. Tubuh tinggi tegap dan penampilanmu juga lumayan.”
Ray terdiam, tidak mengerti.
Wanita itu tersenyum kecil. Mengerti dengan kebingungan Ray. Ia mengulurkan tanganya, memperkenalkan diri. “Namaku Susan Kaye.” Ray membalas uluran tangannya. Ia segera mengambil kartu nama di dalam dompetnya. “Ini kartu namaku. Aku sedang mencari wajah model baru untuk majalahku. Jika kau berminat, kau bisa menghubungiku.”
Ray mengambil kartu nama yang diberikan Susan. Menatapnya sejenak, lalu kembali menatap Susan. “Aku tidak tertarik dengan—”
“Pikiran saja dulu. Jika berminat, nanti bisa menghubungiku di nomor itu.” Susan tersenyum lembut. “Ah. Terima kasih lagi untuk yang barusan,” katanya, berlalu pergi.
Ray berbalik untuk melihat Susan berjalan pergi. Menatap kartu nama yang ada di tangannya. Model? Batinnya dalam hati.
Di dalam kamarnya, Ray duduk termenung di meja belajarnya. Memandangi kartu nama yang ada di atas meja. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja berulang-ulang hingga membentuk sebuah irama. Ia memikirkan sesuatu. Menatap kartu nama tersebut dan beralih pada ponselnya.
Menyambar ponsel, Ray menekan angka demi angka yang ada di kartu nama tersebut. Bunyi nada sambung terdengar di telinga Ray.
“Hallo, selamat malam. Dengan siapa ini?” Suara wanita terdengar dari seberang telepon.
Ray menghela napas panjang. “Maaf. Bisa bicara dengan Susan Kaye. Aku Ray Dixon, kami bertemu di jalan dan dia menyuruh—“
“Ah! Jadi kau yang tadi?” Suara Susan tampak girang saat tahu Ray menghubunginya. “Jadi, apa kau tertarik untuk menjadi model di majalahku? Aku bisa memberikan honor yang bagus untukmu, jika kau bersedia berkerjasama denganku.”
“Pekerjaan apa yang harus aku lakukan?” tanya Ray, langsung.
“Kau akan menjadi model di majalahku bersama dengan Leanne. Untuk tema majalah baru yang akan terbit nanti. Bagaimana? Apa kau setuju?” Susan terdiam sejenak, “Jika kau berminat, kita bisa bertemu di kantorku dan membicarakan semuanya.”
Kepala Ray terangkat, menatap langit-langit. Menjadi model dan berpose dengan model cantik Leanne yang tidak disukainya. “Maaf. Tidak jadi. Mungkin lain waktu saja,” katanya kemudian.
***
Ray menatap Alena yang duduk sendirian di kursi panjang taman. Membaca buku sendirian, seperti biasanya. Gadis itu lebih suka menyendiri dan membaca buku setiap kali ada waktu luang di sekolah. Berbeda dengan teman-teman lain yang justru sibuk mengobrol, bercanda, dan membicarakan banyak hal. Gadis itu unik, tapi banyak orang yang menyebutnya kutu buku, gadis naif yang tidak tahu apa-apa tentang trend masa kini. Seperti memiliki dunianya sendiri, dan tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya.
“Ray!”
Ray tersentak kaget, bebalik cepat ke samping dan mendapati Jill —teman dekatnya— sedang tersenyum jahil. “Apa yang kau lakukan di sini?” ketus Ray.
Jill tertawa renyah. Tangannya ia taruh di bahu Ray. “Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau terus saja menatap gadis kutu buku itu?” Matanya melirik Alena yang fokus pada bukunya. Kaca mata bertengger di wajahnya.
“Aku tidak melihatnya.” Ray membuang tangan Jill di bahunya dan berlalu pergi.
“Jangan melarikan diri, Ray!” seru Jill. Tawanya lebar saat mengikuti langkah kaki tegas Ray yang meninggalkan tempat itu.
“Pergilah. Aku tidak ingin diganggu,” kata Ray.
Jill mempercepat langkahnya. Merangkul pundak Ray hingga tubuh laki-laki itu terhuyung ke depan. “Mengaku saja, kau menyukai gadis kutu buku itu kan?” goda Jill.
“Bicara apa kau.” Ray menyingkirkan tangan Jill dari bahunya dan Jill kembali melakukannya lagi.
“Ayolah, aku tahu kau menyukainya.” Jill tertawa. “Sepertinya, seleramu terhadap wanita itu harus dirubah,” katanya mengejek, “kau benar-benar buruk dalam memilih wanita.”
Ray mendengus. Ia tak pernah menang melawan Jill dalam berdebat. “Terserah kau saja. Aku sedang tidak ingin bercanda.”
“Kenapa? Apa kau terlalu banyak memikirkan gadis itu, sampai-sampai kau tidak fokus melakukan segala sesuatu?”
“Bukan. Dua hari yang lalu, seseorang menawariku sebagai model.” Ray menatap Jill sejenak untuk membaca ekspresi wajah Jill.
“Oh, itu bagus—“ Jill melongo, menatap Ray tak percaya. “Apa?! Mo-model? Kau yakin?”
Ray memutar bola matanya, kesal. “Bicaralah lebih pelan, Jill. Aku tidak mau ada orang yang tahu soal ini,” ancam Ray.
Jill nyengir, tak berdosa. “Apa tadi itu sungguhan? Jika iya, kau harus menerimanya. Itu kesempatan yang bagus untuk lebih mendongkrak popularitasmu di kalangan para gadis. Aku yakin, mereka akan semakin menggilaimu.”
“Kau yang gila.”
“Aku serius, bodoh. Dengarkan perkataan temanmu ini. Kau harus menerimanya. Dan mungkin saja, kau bisa bertemu dengan model cantik Leanne. Malaikat yang sedang digandrungi para laki-laki.” Kepala Jill terangkat ke atas. Membayangkan wajah Leanne yang cantik. “Ya Tuhan. Leanne sungguh gadis yang sangat cantik.”
Ray menggelengkan kepalanya, berlalu meninggalkan Jill. Laki-laki berambut pirang itu mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya.
***
Di taman, Alena asik membaca buku, berjalan tanpa melihat ke sekeliling. Tiba-tiba seseorang berteriak menyerukan sesuatu. Dan di detik berikutnya, ia mendengar suara ‘duk’ tepat di depannya.
Alena melotot tak percaya. Ray, berdiri di depannya, tangannya terangkat ke udara, melindunginya dari bola yang hampir saja mengenai kepalanya. “R-ray?!”
“Perhatikan sekitarmu,” Ray berjongkok untuk mengambil bola. Melemparkannya ke lapangan. Salah seorang yang bermain bakset berteriak maaf padanya.
“Terima kasih, sudah— Ray, tanganmu!” Syok melihat tangan Ray memerah, Alena langsung melangkah maju. Hampir saja menyentuh tangan Ray kalau saja ia tak ingat siapa dirinya.
“Tanganku hanya memerah. Jangan khawatir.” Ray menyembunyikan tangannya ke belakang.
“Maafkan aku.”
“Sudah kubilang ini tidak apa-apa,” ucap Ray, kesal.
“Tapi….”
“Gadis keras kepala.”
Ray memperhatikan Alena yang mengambil dua kaleng soda di mesin minuman. Memberikan satu untuknya. Gadis itu duduk di sampingnya, memberi jarak. Pasrah saat gadis itu memaksa untuk membelikan kaleng soda sebagai rasa terima kasih.
Ray membuka kaleng soda miliknya, dan memberikannya pada Alena, mengambil kaleng soda Alena untuk dirinya.
“Terima kasih,” ujar Alena, malu.
Ray meneguk kaleng sodanya, memperhatikan Alena yang diam seribu bahasa. “Apa kau selalu seperti ini?”
“Apa?” Alena menoleh, bingung.
“Diam saat bersama seseorang.”
“Oh, aku....”
“Kau sadar, ini pertama kalinya kita berbicara setelah 3 tahun berada di kelas yang sama,” kata Ray.
Alena tersenyum samar dan menjawab. “Benar.”
Ray tertawa kecil, mendengar respon Alena yang singkat. Ia menaruh kaleng soda di samping tempat duduknya dan bersandar di dinding. “Benar?” tawanya renyah.
“Apa aku mengatakan hal yang salah?”
“Tidak, tidak juga. Hanya merasa kau terlalu pendiam. Membuatku bingung,” aku Ray.
Alena mendongak, menatap Ray yang memejamkan kedua matanya. Bulu mata Ray tebal dan hitam. Ia tertegun saat sebelah mata Ray terbuka secara tiba-tiba, menatapnya lurus.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Ray, “apa yang kau pikirkan saat ini?”
Alena segera menundukkan kepalanya, malu. “Aku tidak tahu. Hanya merasa kau terlalu sulit ditebak. Membuatku bingung.”
Tawa lepas Ray terdengar cukup keras. Laki-laki itu sampai membungkuk untuk menahan tawanya yang keluar tanpa mau berhenti. “Kau sedang mengejekku ya?”
Itu pertama kalinya Alena melihat tawa Ray. Tampan, terlihat seperti orang yang ramah.
“Tidak,” bantah Alena, “kau sendiri yang memulainya.”
“Ya, kau benar.” Ray tersenyum lagi. “Cukup untuk hari ini. Aku harus pergi. Terima kasih untuk minumannya.”
Sepulang sekolah, Jill berdiri tegak di ambang pintu kelas Ray. Menunggui Ray yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Matanya menangkap sosok Alena yang duduk bersebelahan dengan meja Ray.
“Lihat apa kau? Berubah pikiran untuk mengejarnya?” goda Ray, membalas apa yang dilakukan temannya itu kemaren. Ia berjalan melewati Jill, laki-laki itu mengikutinya dari belakang dan mensejajarkan langkah mereka.
“Mustahil. Dia bukan tipeku sama sekali.”
“Jadi, bagaimana tipe gadis yang kau sukai?”
Jill berpikir, tangannya berada di dagu. “Hmm ... Cantik dan seksi.” Bibirnya membentuk senyum lebar. “Yah, seperti Leanne kurasa.”
Ray tak mengacuhkan ucapan Jill, dan tersenyum mengejek.
“Hey. Bagaimana dengan tawaran menjadi model kemarin? Kau benar-benar menolaknya?” tanya Jill.
“Hmm.”
“Pertimbangkan lagi, sialan. Itu untuk kebaikanmu sendiri. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada di depan matamu,” gerutu Jill kesal. Jika ada pemukul baseball, mungkin, ia akan langsung memukulkannya ke kepala Ray agar kepala temannya itu sedikit waras.
Ray mendengus. Jill yang cerewet, seperti itulah. “Akan kupertimbangkan,” katanya kemudian.
“Kau yakin? Yah! Kenapa tidak melakukannya sejak kemarin.” Jill memukul punggung Ray pelan. Lalu merangkul pundak Ray, gembira. “Dengar, setelah ini hubungi orang itu dan katakan padanya kau bersedia menjadi model.”
“Akan aku lakukan kalau kau menutup mulutmu itu, Jill.”
***
Ray membuka ponselnya dan menghubungi Susan kembali. Menekankan ponsel ke telinga, suara nada tersambung berbunyi. Tak selang beberapa detik, suara Susan mulai terdengar dari seberang telepon.
Suara Susan terdengar tampak girang. “Well, apa kau berubah pikiran Ray?” tanya Susan secara langsung.
“Kurasa begitu. Aku bersedia melakukannya,” kata Ray.
“Bagus, sudah kuduga kau akan berminat dengan tawaranku. Kau punya wajah yang tampan untuk menjadi model, aku tidak pernah salah pilih.” Kata Susan percaya diri. Itu memang benar.
“Ya. Kapan aku mulai melakukannya?”
“Datanglah ke kantorku untuk membahasnya terlebih dahulu. Jika semuanya sudah sepakat, pihak kami akan menghubungimu untuk memberikan jadwal pemotretan yang akan kau lakukan. Oh, ya, bawalah satu wali untuk menemanimu saat kau menandatangani kontrak nanti.”
“Aku bisa membawa temanku ikut pergi?” tanya Ray, memikirkan wajah Jill yang muncul di pikirannya. “Dia sudah seperti saudara bagiku.”
“Ya, tentu. Apapun itu asalkan kau mau datang.”
Sekolah belum selesai dan Alena sudah mendapatkan telepon dari Tamara. Ia segera pergi ke toilet untuk mengangkat telepon. Menghindari seseorang yang mungkin saja mendengar percakapan mereka.
“Leanne, datanglah ke studio setelah sekolahmu berakhir.”
“Apa? Bukankah kau bilang aku libur dua minggu setelah wawancara terakhir kemarin?” sungut Alena kesal.
“Iya, itu benar. Tapi, semalam aku baru saja mendapatkan kabar kalau ada pemotretan dengan model baru,” jelas Tamara.
“Model baru? Kau bilang pemotretan itu dibatalkan,”
“Beberapa waktu lalu, model itu menolak tawaran Susan. Dan entah dapat angin apa, model baru itu menghubungi Susan lagi dan menerima tawarannya. Mereka sudah bertemu dan menandatangi kontrak kemarin siang.”
Alena mendengus kesal. “Aku punya firasat buruk kalau model baru itu menjengkelkan,” gumamnya pada diri sendiri.
“Leanne. Bagaimana?”
“Mau bagaiaman lagi. Aku harus tetap ke sana, meskipun tidak mau kan,”
Terdengar helaan napas panjang Tamara dari seberang telepon. “Oh, Syukurlah. Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputmu di tempat biasa.”
“Ya, baiklah. Sampai ketemu di sana, Tara.”
Alena mendesah. Ia keluar dari toilet dengan wajah ditekuk. Saat menuruni tangga, ia melihat Keane yang meniki tangga. Menatapnya seolah-olah baru saja menemukan barang yang hilang. Keane menaiki dua anak tangga sekaligus dan menghadang langkahnya.
“Ada apa?” tanyanya ketus, “bukannya tidak mau terlihat saling menyapa di sekolahan?”
“Diam. Aku ingin bicara.”
“Bicara saja,”
“Hari ini aku ada acara dengan teman sekelasku. Keene juga ikut.”
Alis Alena saling bertautan. “Lalu?”
“Jangan pura-pura bodoh! Tentu saja aku ingin kau mengijinkan kami keluar!” Tersulut rasa kesal dan malu. Keane berteriak tepat di depan Alena hingga membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh bingung.
Alena tersenyum kecil. Selalu begitu. Ia menuruni satu anak tangga dan berdiri tepat di depan Keane. Mencubit kedua pipi adiknya itu gemas. Keane menepis tangan Alena jengkel. “Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu aku sudah bisa mendengarnya, Keane. Hari ini aku juga ada jadwal pemotretan. Tara baru saja memberitahuku kalau ada model baru yang masuk agensi.”
“Jadi, kesimpulannya?”
“Kalian boleh pergi. Tapi ingat, tidak boleh minum tidak boleh pulang malam. Aku akan tahu kalau kalian melanggarnya.” Alena menjelaskan dengan gaya kakak yang berwibawa.
“Aku bukan anak kecil lagi,” ketus Keane.
“Aku juga tahu itu.” Alena tersenyum kecil. “Bawakan sesuatu saat kalian pulang.” Ia berjalan melewati Keane.
Ketika Alena sampai di tangga terakhir. Keane berbalik dan memanggil namanya. “Al,”
Alena menoleh ke belakang dan mendongak ke atas untuk melihat Keane. “Ya?”
“Lakukan yang terbaik,” ucapnya memberi semangat. Wajah Keane memerah saat mengucapkannya.
“Ya. Terima kasih, Keane” Alena tersenyum lembut. Ia bisa melihat wajah Keane semakin memerah.
Selalu begitu. Menjengkelkan, menyebalkan, tapi di balik semua itu. Keane punya kepedulian yang besar terhadap kakaknya.
Di balik sikap juteknya. Keane selalu saja menjadi pelindung bagi dirinya. Selalu membelanya dan juga bersikap layaknya kakak jika ada yang mengganggu dirinya. Bahkan Keane pernah berkelahi dengan teman sekelasnya saat Alena diejek gadis aneh oleh temannya. Berbeda dengan Keane. Keene cenderung membela Alena dengan kata-kata pedas yang bisa dia lontarkan pada siapa saja yang menyakitinya.
“Bagaimana?” tanya Keene, saat melihat saudara kembarnya itu kembali ke kelas.
“Sudah. Dia memperbolehkan kita pergi. Hari ini, dia juga ada pemotretan.” Keane mengecilkan suaranya saat mengatakan ‘pemotretan’.
“Benarkah? Tadi aku sempat melihat majalahnya. Dia sangat manis,” kata Keene. Ia sengaja menggodanya, menyadari wajah Keane yang memerah sejak kembalinya Keane ke kelas.
“Aku tahu itu,” ucap Keane ketus. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Mengalihkan wajahnya ke arah lain, selaian menatap Keene. Ia benci terlihat malu, ketahuan jika ia sebenarnya juga menyukai sosok Leanne sebagai model yang digandrungi banyak laki-laki.
***
Setelah pelajaran terakhir selesai, Alena segera meninggalkan sekolahan. Berjalan beberapa meter dari sekolahan, ia meihat satu mobil mewah berwarna abu-abu. Supir berdiri di samping mobil menunggui Alena. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil sebelum ada seseorang yang melihatnya.
Setengah jam kemudian, Alena sampai di studio pemotretan. Di dalam mobil, sebelumnya ia sudah melepas kaca mata dan memakai jaket. Tak lupa melepas karet yang mengikat rambutnya. Ia pergi ke ruang rias khusus wanita dan mendapati Tamara sudah siap di sana.
“Leanne!” panggil Tamara, menghampiri Leanne dan membawa gadis cantik itu ke meja rias.
“Apa aku terlambat?” tanya Leanne, melepas jaket yang dipakainya.
“Dia juga baru datang beberapa menit yang lalu. Sedang di rias di ruangan sebelah,” jelas Tamara. “Tolong ambilkan wig yang di sebelah tas itu. Nanti buat rambutnya bergelombang,” suruhnya pada petugas perias, sambil sibuk dengan ponsel di tangannya.
“Laki-laki atau perempuan?” tanya Leanne.
“Laki-laki. Dan yang lebih bagus, dia tampan, muda dan seumuran denganmu. Aku sempat ke ruangannya dan dia benar-benar seksi.” Tamara berujar penuh girang. Membayangkan wajah tampan model baru yang akan dipasangkan dengan Leanne.
“Oh, benarkah? Jadi dia juga masih sekolah,” gumam Leanne,“memangnya tema apa yang sedang kita pakai?”
“Sepasang kekasih yang tengah merajut cinta.” Tamara berujar sambil mengedipkan kedua matanya. “Terdengar romantis, bukan?”
“Jadi, aku akan berpose seperti kekasih yang sedang jatuh cinta begitu? Dengan model baru ini?”
“Ya, seperti itulah. Mungkin kita akan pulang malam.”
Pintu ruangan diketuk. Seorang petugas masuk ke dalam ruang rias Leanne dan mengatakan pada gadis itu, bahwa ia harus berfoto sendiri dulu sebelum berpasangan dengan model baru.
Setelah Leanne selesai dirias dan berubah menjadi Leanne. Ia keluar dari ruang rias, melirik ruang sebelahnya. Penasaran siapa model baru yang dibilang tampan oleh Tara.
“Hay, Leanne. Aku akan mengambil fotomu dulu sebelum sesi pemotretan yang selanjutnya,” kata Derek mulai bersiap-siap.
“Baiklah, Derek. Hay, Daniel,” sapa Leanne.
Daniel berdiri di samping Derek, tersenyum pada Leanne. “Kau tampak cantik seperti biasanya,”
Leanne tersipu malu. “Terima kasih, Daniel.”
Leanne mulai berjalan ke satu ruang yang terpisah. Ruangan yang sudah didesain seperti sebuah kafe. Terdapat kursi dan meja yang kosong. Leanne duduk di bagian tengah. Gaun selutut motis bunga yang dibalut jaket, rambut bergelombang, dan beanie. Ia duduk sambil bertopang dagu, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Tamara muncul bersama dengan model baru yang sudah siap. Memperhatikan Leanne yang sedang berpose dari jauh.
“Kau pasti sudah diberi tahu kalau kau akan berpasangan dengan Leanne, kan?” kata Tamara pada model baru tersebut. “Bukankah dia cantik?”
Model baru tersebut diam. Hanya menatap lurus sosok Leanne yang tengah berdiri di samping jendela dengan wajah sedih, seolah-olah tengah menunggu sesuatu.
“Okey! Cukup! Kerja bagus, Leanne!” Derek berseru, tanda sesi pemotretan Leanne berakhir. Gadis itu segera menghampiri Derek untuk melihat hasil fotonya.
“Bagaimana?” tanya Leanne.
“Sempurna seperti biasanya,” derek berujar lembut, “kau memang gadis yang berbakat.” Pujinya kemudian.
“Leann!” Seru Tamara memanggil Leanne.
Leanne menoleh ke belakang. Ia terkejut saat melihat Tamara berjalan menghampirinya dengan seseorang yang sangat ia kenal. Itu Ray! Teman satu kelasnya. Bagaimana bisa ini terjadi?
“Leanne, perkenalkan model baru yang akan dipasangkan denganmu. Dia Ray Dixon. Ray, kau pasti sudah tahu siapa Leanne bukan?”Tamara memperkelkan keduanya/
Leanne terdiam, membeku di tempatnya. Ray tampak tenang, seperti tak mengenali Leanne. Laki-laki itu mengulurkan tangan sembari memperkenalkan diri. “Ray Dixon,”
Dengan wajah kebingungan, tangan Leanne terangkat begitu saja. Membalas uluran tangan Ray. “Leanne.”
“Leann. Kau baik-baik saja?” tanya Tamara.
“Apa? Y-ya, aku baik-baik saja.” Leanne gelagapan. Menoleh pada Tamara dan Ray secara bergantian. “Oh, Ray, senang berkenalan denganmu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Katanya tersenyum tipis. Mencoba menyembunyikan rasa kagetnya.
“Tentu saja.”
Dalam hidup Leanne, ia tak pernah membayangkan jika dirinya bisa disandingkan dengan Ray Dixon sebagai model. Tidak jika melihat bagaimana sikap laki-laki yang terkesan acuh pada segala hal. Demi Tuhan, ia tak bisa melakukan apapun selain berusaha sebaik mungkin agar Ray tidak mencurigainya dan tahu kalau ia adalah Alena.
“Kau gugup,” gumam Ray. Tangannya menggenggam tangan Leanne tanpa ragu. Merasakan getaran kecil yang diakibatkan kegugupan Leanne.
“Aku tidak gugup,” kata Leanne. Ia membiarkan dirinya disentuh oleh Ray. Tangan dingin laki-laki itu merambat di wajahnya seperti sengatan listrik.
“Ya. Kau gugup,” bisik Ray.
“Bagus! Pertahankan seperti itu!” Derek berseru memberi perintah. Membiarkan pose di mana tangan kiri Ray menyentuh wajah Leanne, sedangkan tangan kanan mereka saling berpegangan.
“Kau model yang sangat buruk, Leanne.”
Leanne menepis tangan Ray, melangkah mundur menghindari laki-laki itu. Dengan gugup, ia meminta untuk memberi waktu jeda istirahat.
“Okay, istirahat 10 menit!” seru Derek.
Leanne segera menghindari Ray. Laki-laki itu menyeringai saat melihat Leanne pergi menghampiri Tamara. “Aku benci model baru itu. Sudah kuduga, kalau dia orang yang menyebalkan,” katanya menggerutu.
“Apa? Memangnya kenapa dengan dia?” Tamara melirik Ray yang duduk tak jauh darinya. Laki-laki itu menatap Leanne seperti harimau yang lapar. “Dia menatapmu terus. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?”
“Aku tidak tahu bagaimana Susan bisa mengenal Ray dan menyuruhnya menjadi model. Tapi, yang jelas, orang menyebalkan itu adalah teman sekelasku.” Leanne membuang muka. Berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Ray.
“Apa?!” seru Tamara, kaget. “J-jadi, Ray Dixon itu teman sekelasmu? Ya Tuhan, bagaimana ini.” Tangannya membekap mulutnya sendiri. Melirik Ray dari balik bahunya. Laki-laki itu masih menatap ke arahnya. Atau lebih tepatnya ke arah Leanne.
“Aku harap dia tidak menyadarinya, kalau aku ini Alena.”
“Dilihat dari sikapnya, kurasa dia tidak menyadarinya.” Tamara menatap Ray yang sudah tak menatap ke arahnya. “Oh, aku harap ini berakhir dengan cepat.”
10 menit berlalu. Derek memberi aba-aba agar Leanne dan Ray kembali berpose.
“Aku harus kembali,” gumam Leanne. Ia menghela napas panjang sebelum kembali ke pekerjaannya.
Satu jam berlalu dengan sangat lama. Leanne kembali ke ruang rias untuk mengganti pakaian dan memperbaik make-up-nya. Kali ini ia memakai gaun warna merah muda. Rambutnya tetap bergelombang dengan penjepit rambut berbentuk kupu-kupu, lensa kontak berwarna biru membuat Leanne terlihat begitu manis.
“Okay. Ini sesi pemotretan yang terakhir untuk malam ini,” Kata Derek, memberitahu.
Ayolah, Leanne. Kau bisa melakukannya, batin Alena dalam hati.
Adegan terakhir di mana Ray dan Leanne saling berciuman. Sebelumnya, Leanne selalu bisa melakukannya tanpa masalah apapun. Tapi, dengan Ray Dixon, apakah ia bisa melakukannya seperti yang selalu ia lakukan.
Jantung Leanne berdebar-debar saat Ray memperpendek jarak di antara mereka. Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggang Leanne. Menarik tubuh gadis itu mendekat padanya. Kedua tangan Leanne menekan dada Ray. Napasnya yang hangat menyapu wajah Leanne.
Ray memiringkan kepalanya, hendak mencium Leanne. Gadis itu langsung menutup kedua matanya gugup. “Kau gugup lagi,” ejeknya, tersenyum menyeringai.
Leanne membuka mata, kesal saat melihat Ray mengejeknya. “Aku tidak gugup,” tegasnya.
“Oh, benarkah?” Ray sengaja menarik tubuh Leanne lebih dekat hingga gadis itu memekik kaget.
“Berhentilah berbicara yang tidak—
Leanne membeku saat Ray menciumya secara tiba-tiba. Ia memejamkan matanya, reflek. Merasakan bibir hangat Ray yang menciumnya lembut. Pikiranya kosong, ia ingin mendorong Ray, tapi tubuhnya serasa kaku. Berusaha untuk berkata, tapi bibirnya kelu. Yang mampu ia rasakan hanyalah kelembutan bibir Ray yang menempel di bibirnya. Hingga ia merasa tubuhnya didorong secara paksa. Sebelum itu terjadi, ia seperti mendengar Ray membisikkan sesuatu yang tak jelas.
“Okay! Kerja bagus, untuk kalian berdua. Hari ini sudah cukup.” Seruan Derek membuat Leanne kembali sadar. Melangkah mundur, sekilas Leanne melihat Ray tersenyum menyeringai sebelum berjalan pergi.
Leanne mengangkat tangan, menyentuh bibirnya yang basah. Kepalanya menoleh ke arah Ray. Laki-laki itu baru saja menciumnya. Ray Dixon menciumnnya!