Bab 1

Summer magic

Banjjagin geu Ocean wiro

Nan beolsseo nara

Go go airplane beongaecheoreom narara

Kauai pado sok nareul deonjeo beorige

Yeah yeah, yeah yeah yeah yeah

Let's power up kkamage da tabeoril kkeoyeyo

Ba-banana ba-ba-banana-nana

Ba-banana ba-ba-banana-nana

Ba-banana ba-ba-banana-nana ba

Let's power up nol ttae jeil shinnanikkayo

Aku mendengar suara Red Velvet sedang bernyanyi pada hari pernikahanku dengan Evan. Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah Marry Your Daughter atau Beautiful in White lebih cocok? Tunggu … kenapa pandanganku menjadi kabur, berputar dan gelap. Mataku terbuka sambil menghela napas panjang. "Sial, ternyata hanya mimpi," umpatku pada mimpi yang menerbangkan ke atas langit, lalu menghempaskan seketika pada pagi hari ini.

Brak!

Belum sempat aku berdamai dengan alam bawah sadarku, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan keras. Menampilkan sosok Kanaya Erika Tanaka—kakak perempuanku yang telah berpakaian rapi layaknya siap ke kampus seperti biasanya.

"Kiran! Sudah kubilang untuk bangun pagi-pagi, hari ini aku ada kuis kelas mata kuliah pertama!" seru Kanaya dengan suara lantangnya.

Aku memutar bola mataku, lalu bangkit dari tempat tidur. "Kak Naya berangkat duluan saja. Aku naik taksi saja." Kurasa aku perlu lebih banyak waktu untuk mendinginkan kepala untuk membuat mimpi yang tadi terasa begitu nyata untuk kembali menjadi kenyataan mutlak.

"Kau pikir aku akan mempertaruhkan nilai semesterku untuk menunggumu?" ujar Kanaya membuatku yang awalnya berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarku, menjadi berbalik badan sejenak memandang kakak perempuanku itu.

"Lalu?"

Kanaya menarik napas dalam. "Kak Evan ada di bawah untuk sarapan sama kita. Katanya dia akan mengantarmu sekalian ke sekolah. Tahu kan, mobil Ayah sedang di bengkel," ujarnya membuat mataku melebar.

"Aku mengerti." Tanpa membuang waktu lagi, aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Jika biasanya, aku akan membutuhkan minimal tiga puluh menit untuk bersiap ke sekolah, maka saat ini hanya membutuhkan setengah waktu tersebut.

Aku sedikit bersyukur dengan mobil Tanaka—ayahku yang sedang berada di bengkel, menjadikan Evan yang kebetulan tinggal di depan rumahku dengan sukarela mengantar ayahku bekerja di rumah sakit sekaligus diriku untuk ke sekolah.

Bicara tentang Evan, akan kuceritakan nanti bagaimana pria itu bisa tiba-tiba pindah ke rumah yang sudah tiga tahun tidak berpenghuni itu. Rumah yang berada persis berada di depan rumahku.

"Kak Evan tahu tidak mimpi Kiran semalam?" tanyaku kepada Evan yang duduk di sebelahku. Yah, aku telah duduk manis di dalam mobil pria itu. Sedangkan pemilik mobil hanya fokus menyetir.

Beberapa menit yang lalu ayahku telah sampai di rumah sakit yang kebetulan ikut menumpang di mobil Evan, sehingga aku yang semula berada di bangku belakang kini pindah ke depan. Tidak mungkin aku menjadikan Evan sebagai sopir! Bisa, tapi nanti setelah jadi suami.

"Bagaimana aku bisa tahu Kiran," balas Evan tanpa menoleh atau bahkan melirik ke arahku.

Aku berdecak pelan. "Ish, coba tebak dong. Mimpinya bagus loh."

Kulihat dahi Evan tampak berkerut, seolah sedang memikirkan mimpiku. "Hm … kau mendapat peringkat pertama semester ini? Oh bukan, kau tidak akan mengulang Matematika lagi?"

Aku mendengkus kesal. Bagaimana Evan bisa mengetahui tentang remedial ujian Matematikaku semester lalu? Pasti Kanaya yang bercerita sambil membuat candaan seperti itu.

"Bukan!"

"Lalu?" Evan masih fokus menatap ke depan sambil melirik kaca spion sesekali.

"Aku bermimpi menikah dengan Kak Evan loh," balasku dengan sedikit tersipu malu. Aku bahkan menangkupkan kedua telapak tanganku untuk memegang pipiku saat ini. Merasakan dadaku berdebar membayangkan mimpiku kembali sambil tersenyum lebar saat ini.

Kulihat Evan tersenyum menyeringai. "Kalau begitu biarkan itu tetap menjadi mimpi."

Senyum pada bibirku seketika tersapu pergi melihat reaksi Evan yang hanya menganggapnya sebagai candaan, atau sudah termasuk penolakan halus?

"Nah sudah sampai," ujar pria itu menghentikan mobilnya dan kini menoleh ke arahku.

Aku menatapnya tajam untuk sesaat. "Lihat saja nanti, Kak Evan akan menjadi suami Kiran suatu hari nanti!" seruku kemudian membuka pintu mobil dan keluar dengan mata berkaca.

Ternyata beginilah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Namun bukan seorang Kiran jika tidak memperjuangkan cintanya.

Seperti itulah impian sederhana seorang Kiran Naomi Tanaka, menjadi istri dari Evan Davaro Saga.

***

Bab 2

"Kiran!"

Seruan lekingan seseorang ketika aku baru saja berjalan melewati gedung perpustakaan membuat langkahku terhenti. Aku menarik napas sejenak, mengetahui siapa itu tanpa harus berbalik badan.

"Aduh Kiran, aku panggil kenapa nggak nyahut sih," ujar Ruri kini berdiri di hadapanku.

Aku berkacak pinggang menatapnya. "Apa Ruri sayang?"

Ruri mendengkus pelan. "Pasti kau belum cek Instagram kan hari ini?" tanyanya dengan mata menyipit.

Aku menggelengkan kepala. "Kuotaku habis pagi ini. Ada apa?" Mataku sedikit melebar membayangkan sesuatu hal. "Ada berita dating dari anggota BTS?"

Ruri telah memutar bola matanya. "Aduh bukan itu, tapi Soraya dan Fahmi baru saja posting foto yang sama."

Aku mengangkat sebelah alis. "Terus?"

Entah melihatku kesal atau apa, tiba-tiba Ruri maju selangkah dan memukul pelan lenganku. "Artinya mereka pacaran! Mantanmu Fahmi yang baru putus bulan lalu," tandasnya menegaskan setiap kata dalam ucapannya.

"Aku tahu, kau tidak perlu heboh seperti itu," balasku melanjutkan langkah kakiku.

Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang kabar kencan antara Soraya yang merupakan anak ekstrakulikuler tari yang terkenal dengan Fahmi yang anak basket sekaligus mantan pacarku.

Fahmi tiga hari lalu mengajakku untuk balikan dengannya, namun kutolak mentah-mentah. Alasan kami putus pun, karena aku mendapatinya berbohong, di mana dia berkata sedang nongkrong bersama temannya. Namun ternyata jalan bersama Soraya.

"Kiran, hampir seluruh teman angkatan dan junior satu tingkat di bawah kita membicarakan ini. Katanya kau telah dicampakkan," kata Ruri mengikutiku, mencoba mensejajarkan dirinya.

"Biarkanlah, mati satu tumbuh seribu."

Akhirnya kami sampai di depan kelas, Ilmu Alam tiga. Begitu aku melangkah masuk, bisa kulihat pandangan teman sekelasku, terutama para murid perempuan dan sekarang aku mengerti maksud Ruri tadi.

"Apakan yang kubilang," bisik Ruri kemudian berjalan duluan menuju bangku kami.

Aku hanya memandang datar sekeliling dengan tidak peduli, lalu ikut duduk di sebelah Ruri yang adalah teman sebangkuku juga. Masih ada waktu sebelum waktu istirahat berakhir. Lalu ketika aku mulai membenahi rambutku melalui kamera depan ponselku, suara berbisik teman satu kelasku menggema.

"Ini buku catatan Fisikanya."

Jreng! Tiba-tiba sebuah buku tulis di mana bagian depannya terdapat nama Deril di sana. Aku mendongak mendapati pemilik buku tersebut menatapku datar.

Siapa yang tidak mengenal Deril. Anak Ilmu Alam satu yang pintarnya tiada dua dalam sekolah kami, SMA Nusantara Semesta. Juara lomba Sains, Matematika hingga debat bahasa Inggris. Belum lagi kenyataan bahwa dia anak orang kaya.

"Oh oke, makasih," balasku mengambil buku tersebut dan memasukkannya ke dalam tasku. Sedangkan Deril hanya membalas dengan anggukkan kepala, lalu keluar dari kelasku.

Seketika murid perempuan heboh mengobrol satu sama lain. Termasuk Ruri kini mulai mendekatkan dirinya padaku.

"Ki, apa itu tadi?" tanya Ruri yang sepertinya sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"See? Mati satu tumbuh seribu," jawabku dengan nada sombong sambil mengendikkan bahu acuh tak acuh.

Padahal kedatangan Deril adalah sesuatu yang sangat terencana. Hal itu bermula ketika aku masuk ke ruang guru untuk mengumpulkan LKS Biologi, lalu tanpa sengaja melihat Deril salah mengumpulkan buku tugas. Ketika lelaki keluar dari ruang guru, dia menjatuhkan kunci mobilnya dan beruntung aku yang menemukannya. Kami pun membuat kesepakatan, bahwa aku akan mengembalikan kunci mobilnya sepulang sekolah nanti apabila Deril datang membawakanku buku catatan yang salah itu. Dan aku berkata akan mengembalikannya besok.

Tujuan kulakukan hal itu adalah untuk meredam gosip tentang bagaimana diriku yang dicampakkan oleh Fahmi. Padahal para murid tidak tahu yang sebenarnya. Entah Deril terlalu tidak peka atau bermasa bodoh, sehingga menuruti permintaanku itu.

Bel terakhir berbunyi, setelah dua jam aku harus menonton film dokumenter sebagai pengganti kelas mata pelajaran sejarah. Aku meraih tas ransel pada sandaran bangku, namun langkahku tertahan oleh tangan Ruri yang terlentang lebar di depanku.

"Ada apa lagi?" tanyaku malas. Aku yang sudah lelah hari ini, ditambah cuaca yang begitu terasa panas. Membuatku ingin segera masuk ke dalam menyalakan AC sambil berbaring.

"Kau belum jelasin tentang bagaimana Deril dengan gagahnya masuk dan menghampirimu serta memberikan buku catatannya itu."

"Bagaimana mungkin kami tidak saling kenal? Aku dan dia satu kelas sewaktu kelas satu, kemudian … kami satu angkatan dan jurusan juga," balasku memberi penjelasan yang masuk akal.

Ruri berdecak lidah. "Tapi kita bicara tentang Deril, lelaki yang selama ini lebih suka sendiri ke mana-mana dan menyendiri di perpustakaan. Bahkan teman laki-lakinya pun hanya dihitung jari, dan … seorang Kiran murid perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantin daripada di perpustakaan, kenal dengan sang jenius SMA ini?"

Entah mengapa ucapan Ruri sedikit membuatku tersinggung. Aku mengakui, dibandingkan nilai dan prestasiku daripada Deril, tentu kami jauh berbeda. Deril bukanlah jenis murid cupu yang menghabiskan waktunya di perpustakaan, karena tidak punya teman, tetapi memang lelaki itu saja begitu adanya. Namun bukan mustahil juga bagiku dengan Deril untuk kenal satu sama lain bukan?

"Sudah, sudah. Aku capek, kau perlu menunggu Reni bukan?" ujarku membahas tentang adik perempuan Ruri yang juga bersekolah di sini. Reni sendiri masih kelas satu SMA.

Ruri mendesah. "Ah benar, padahal aku ingin segera pulang melihat serial Teenwolf yang baru rilis season terbarunya.

"Baiklah, aku duluan ya," balasku menepuk bahu Ruri sebelum berjalan menuju gerbang sekolah.

Namun langkahku kembali tertahan begitu sebuah tangan memegang tanganku dari arah belakang. Aku berbalik badan dan terkejut menyadari bahwa itu adalah Deril. Yang lebih mengejutkan lagi, karena sedang jam pulang sekolah, sehingga banyak murid yang melihat kami. Oh tidak, ini terlalu menarik perhatian.

"Mana kunci mobilku?"

Mataku menatap tajam lelaki itu. "Kenapa harus di sini?" Aku sedikit mendesis.

"Kau bukannya mau pulang bukan? Jika lupa, aku yang tidak bisa pulang," balasnya santai.

Aku baru menyadari tanganku masih dipegangnya ketika akan merogoh isi tasku untuk mengambil kunci mobilnya.

Deril reflek melepas tanganku yang mungkin baru menyadarinya juga. Setelah memberikan kunci mobilnya, lelaki itu mulai berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah dia kembali ke arahku.

"Nggak mau sekalian aku antar?" tanyanya membuat mataku membulat.

Aku tersenyum kikuk. "Nggak deh, aku pakai taksi daring saja."

Kulihat Deril tampak berpikir sambil menatapku. "Yakin? Nantikan rumor bahwa kau dicampakkan kedua kalinya akan kembali terdengar."

Aku melongo tidak percaya mendengar ucapan Deril. Apakah gosip dicampakkannya diriku begitu terkenal hingga sosok seperti Deril saja tahu? Lelaki itu bahkan tersenyum tipis setelah mengatakannya.

"Ayo," ajaknya berjalan duluan.

Aku memerhatikan sekitarku, di mana masih banyak teman angkatanku yang melihat ke arahku dan Defil. Namun ketika mataku menangkap sosok Fahmi yang berjalan bergandengan dengan Soraya, membuatku pada akhirnya mengikuti Deril menuju parkiran.

"Makasih tumpangannya," ujarku menoleh menatap Deril, setelah mobilnya berhenti tepat di depan gerbang rumahku.

Lelaki itu hanya mengangguk singkat. "Jadi bukuku mau kau kembalikan besok atau sekarang?"

"Oh iya ya, aku berkata untuk besok karena kupikir tidak akan bertemu denganmu lagi tadi," balasku kemudian mengeluarkan buku catatan miliki lelaki itu.

"Ternyata rumahmu dekat dengan rumahku," ujar Deril setelah melempar bukunya ke kursi belakang.

Aku mendengkus pelan, lalu tersenyum. "Kenapa? Mau jemput besok?" tanyaku bercanda.

"Mau?"

Aku yang sudah memegang pegangan pintu mobil kembali berbalik menatap kaget Deril atas balasan ucapanku. Kulihat dia malah tertawa pelan, membuatku ikut tertawa. Tidak kusangka lelaki itu bisa bercanda juga, padahal selama ini terlihat dingin.

***

Bab 3

Rumah sepi hanya menyisakan aku seorang diri. Renata—ibuku sedang pergi arisan, ayah belum pulang bekerja dan Kanaya sudah pasti sibuk dengan organisasi kampusnya. Berbagai hal kulakukan untuk mengisi kekosongan, mulai menonton drama, membuat dalgona coffee yang sedang tren atau membaca thread di Twitter yang sedang heboh lalu akan terlupakan dalam beberapa hari.

Matahari mulai terbenam ketika tanpa sengaja kudengar suara mobil. Sepertinya ayahku baru saja pulang dari bekerja, aku segera menuju pintu depan. Biasanya ayah akan pulang sambil membawa makanan atau camilan enak yang dibelinya di pinggir jalan.

Namun langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu, bagaimana tidak, ayah ternyata tidak sedang sendiri. Dia berjalan dari mobil dengan seorang lelaki. Bukan, tapi seorang pria yang kelihatan sudah dewasa dan pria tersebut sangatlah tampan.

Rasanya aku ingin berteriak melihat ketampanan pria tersebut. Tatapan mata tajam, hidung mancung, alis tebal dan rahang yang tercetak tajam membuat dadaku seketika berdebar .

"Oh Kiran," panggil ayah membuat kesadaranku kembali.

"Ayah, siapa dia?" tanyaku pada pria yang kini berdiri di hadapanku.

Ayah tertawa sekilas. "Dia anak sahabat ayah, namanya Evan. Ternyata akan pindah ke depan rumah selama setahun untuk urusan pekerjaan."

Pria bernama Evan itu mengulum senyum tipis ke arahku sambil mengulurkan tangannya. "Evan Davaro Saga. Panggil saja Evan."

Aku tersenyum membalas. "Kiran Naomi Tanaka. Kak Evan bisa panggil Kiran," balasku bisa merasakan sentuhan pertama kami.

Ketika Evan akan menarik tangannya, mata kami bertemu untuk beberapa saat. Tepat pada saat itu seolah aku bisa melihat masa depanku dengannya. Apakah mungkin Evan adalah jodohku?

Satu tahun? Kurasa cukup untuk menjawab setiap tanya atas debaran dada yang kini kurasakan.

***

Aku membuka mataku dengan sebuah senyuman lebar. Bagaimana tidak, bertemu dengan Evan dan mengetahui kepindahan lelaki itu ke depan rumahku adalah salah satu kejutan terbesar tahun ini. Aku menaruh tangan di atas dada sebelah kiriku dan merasakan degupan jantungku kala membayangkan kembali suara, tatapan dan senyuman Evan kemarin.

"Sungguh indah ciptaanmu Tuhan," gumamku menggambarkan sosok Evan.

Aku segera bangkit dari tempat tidur. Biasanya untuk hari senin, selasa dan rabu, diriku merasa tidak terlalu bersemangat. Selain akhir pekan yang masih lama, pelajaran pada hari-hari itu juga berat. Namun melihat tanggal di kalender yang menunjukkan hari rabu, rasanya tidak semengerikan minggu-minggu kemarin.

Setelah mandi dan berpakaian lengkap, aku mengambil tas ransel berwarna merah polos yang semalam kuganti dengan tas ransel dengan motif bunga. Rutin kulakukan setiap minggunya. Paling tidak memakai dua tas berbeda dalam satu minggu. Tidak ada alasan khusus.

"Selamat pagi," sapaku kepada ayah dan Kanaya yang telah berada di meja makan.

"Kiran, cepetan duduk. Ayahmu bisa terlambat ke rumah sakit," ujar ibu membuatku segera melakukannya.

Kanaya mulai memakan nasi goreng dengan sebelah tangan masih sibuk memegang ponsel. Aku bisa melihat bagaimana perempuan itu begitu terburu-buru seperti biasanya.

"Oh sudah ada teman di luar." Kanaya bangkit, lalu meminum segelas air putih. "Aku pergi duluan," ujarnya sambil berjalan cepat menuju pintu depan.

Aku hanya menggelengkan kepala, kulirik ayahku yang tampak berusaha menghabiskan nasi goreng di piringnya. "Ayah, jadi Kak Evan sudah ada di rumah depan?" tanyaku pelan.

Tanaka—ayahku menatapku sekilas. "Belum, nanti sore baru datang beserta perabotan rumahnya."

Ibuku menggantikan Kanaya untuk duduk. "Kalau begitu kita undang saja Evan untuk makan malam bersama," ujarnya membuat mataku melebar antusias.

"Benar, benar. Pasti Kak Evan lelah habis berbenah," tambahku kemudian melanjutkan makanku seolah sekadar mendukung usulan ibu.

Kulirik ayah tampak berpikir sejenak. "Baiklah, nanti aku coba hubungi dia."

Yes! Sorakan dalam diriku tidak terbendung lagi.

Kak Evan bakal datang ke rumah. Pikiran itu terus bersarang dalam kepalaku, bahkan hingga aku telah sampai di sekolah.

"Daritadi senyum sendiri, lagi bahagia ya?" Ruri datang sambil mengemut permen kaki setelah masuk ke kelas.

Aku yang begitu tiba di sekolah hanya duduk bertopang dagu di dalam kelas. "Nggak, kulihat tasmu sudah ada. Darimana aja?"

Ruri yang berdiri di depan mejaku mengubah posisinya dengan duduk di sebelahku. "Oh itu, bahas serial drama terbaru."

"Drama Korea?" tanyaku memastikan.

"Bukan, bukan. Tapi drama TV Amerika gitu, entar malam nonton yuk di rumahku, sekalian kerja tugas matematika," ajak Ruri menyenggol lenganku.

Aku menoleh menatapnya sambil tersenyun lebar. "Nggak bisa, nanti malam ada tamu spesial."

Alis Ruri terangkat bingung. "Siapa? Keluarga jauh?"

"Ada deh," balasku sok misterius. Aku belum ingin cerita apa-apa soal Evan kepada Ruri. Nanti setelah aku dan Evan telah bersama, eh kenal maksudnya untuk beberapa waktu.

Bel tanda apel pagi kemudian membuat mood-ku sedikit terganggu. Pasalnya rutinitas setiap pagi itu hampir sama halnya dengan upacara. Bedanya aku masih bisa memaklumi upacara yang diadakan satu kali seminggu sebagai tanda penghormatan kepada pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. Namun apel pagi berbeda, kegiatan itu seolah menguras setengah dari tenaga tubuhku selama berada di sekolah..

"Eh, eh tahu nggak Tia? Katanya pacaran sama mahasiswa semester lima loh."

Barisan antar kelas yang berdempet menjadikanku dengan mudah mendengar obrolan dari murid kelas lain. Terutama para murid perempuan yang senang berbisik-bisik bahkan ketika seorang guru sedang memberikan petuahnya.

"Gila, itu sih sudah tahun ketiga kuliah. Nggak ketuaan buat Tia?"

"Aku juga pernah bilang gitu sama dia. Tapi katanya Tia pacaran sama yang lebih dewasa itu bikin nyaman. Lebih perhatian, pengertian dan kalau cemburu katanya gemesin gitu."

Aku tersenyum diam-diam mendengarkan percakapan mereka. Tanpa sadar, aku mulai membayangkan bagaimana jika berpacaran dengan Evan nantinya. Apakah lelaki itu juga akan bersikap seperti itu juga padaku?

Akhirnya sepanjang apel pagi hari itu, aku hanya bisa memasang kuping agar bisa mendengar obrolan mereka dengan jelas. Terutama fakta bahwa Tia duluan yang berjuang untuk bisa pacaran dengan mahasiswa tersebut. Belum sempat mereka bicara tentang cara Tia menaklukkan lelaki itu, namun apel pagi telah selesai dilakukan.

Aku pun langsung mengeluarkan ponselku dan menuju ke aplikasi laman pencarian dan mengetikkan sesuatu di sana.

Cara membuat pria yang lebih tua jatuh cinta.

Bibirku tak henti-hentinya melengkung ke atas, mana kala mulai membaca satu per satu artikel yang ada.

"Hei."

Namun hal tersebut harus terusik oleh seruan seseorang yang membuatku hampir masuk ke dalam kelas, menjadi terhenti dan memandang ke depan.

"Deril?" seruku mengernyit melihatnya berjalan ke arahku. Perhatian teman satu kelasku, maupun murid lain yang lewat menjadi tertumpu memandangku ataupun Deril.

"Ada apa?"

Deril menghela napas singkat. "Buku catatan Fisikaku," ujarnya membuka telapak tanganku.

Sebelah tanganku menutup mulut, sedangkan satunya lagi masih memegang ponsel. "Aku lupa. Bukan, ketinggalan di tasku yang satunya. Semalam aku mengganti tas," balasku berkata jujur sekaligus mengingat buku milik Deril tersebut.

Aku memang tidak lagi mengeluarkan barang-barang dari tasku yang satunya. Selain mata pelajaran yang berbeda, aku juga memiliki tempat pensil cadangan yang selalu siap di atas meja belajarku. Tinggal ambil kalau butuh.

Mata Deril terbelalak. "Apa? Kau bilang akan membawanya hari ini."

Aku mendengkus pelan. "Ya namanya juga lupa. Terus gimana dong?"

Deril menyeringai sesaat, membuat perasaanku seketika tidak nyaman. "Kalau begitu aku akan mencatatnya pada kertas biasa, jadi … kau akan mencatat ulang ke buku catatanku padamu."

"Apa!"

Suaraku sedikit keras saat memprotes ucapan Deril. Aku saja kadang terlalu malas untuk mencatat contoh soal pada papan tulis, apalagi menuliskan catatan orang lain. Mataku kemudian melebar begitu Ruri berjalan ke arah kami.

"Kau harus bertanggungjawab atas apa yang kau katakan kemarin, ingat janjimu," ujar Deril yang mungkin telah didengar oleh Ruri.

Aku memasang senyuman palsu. "Okay, aku akan melakukan. Kau boleh kembali ke kelasmu, karena sebentar guru juga akan datang," balasku lalu menarik tangan Ruri.

Dan bisa dibayangkan bagaimana hariku selama di kelas yang selalu dilempar pertanyaan oleh Ruri seputar hubunganku dengan Deril. Berapa kali pun aku menjelaskan bahwa hubungan kami hanya sebatas kenal karena ada masalah kecil, Ruri tetap tidak percaya.

Setelah jam mata pelajaran selesai, aku mengira ucapan Deril hanya isapan jempol belaka. Namun ternyata aku salah, lelaki itu kini berdiri di depan kelasku dengan wajah datarnya. Sepertinya kelasnya selesai terlebih dahulu. Yang menjadikanku kini menghela napas panjang adalah lirikan teman satu kelasku yang seolah menegaskan bahwa aku dan Deril memiliki semacam hubungan spesial.

Begitu bel pulang berbunyi dan guru keluar dari kelas. Segera aku berjalan keluar menuju Deril, sebelum teman satu kelasku, utamanya yang laki-laki akan bersiul menggoda kami.

"Mana kertasnya?" Aku membuka telapak tanganku terburu-buru.

"Kau tidak ingin kuantar pulang lagi?" balasnya sambil mengeluarkan tiga lembar penuh catatan.

Aku merebut kertas itu dari tangan Deril dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam tasku.

"Tidak, makasih ajakannya. Besok akan aku kembalikan, bye."

Aku berjalan dengan cepat sebelum Ruri akan mencecarku dengan pertanyaan lagi. Taksi daring menjadi pilihanku untuk pulang sekolah. Untung saja bayangan wajah Evan membuat pikiranku teralihkan sejenak. Aku segera melanjutkan membaca artikel yang sempat kutinggalkan tadi, karena kedatangan Deril. Waktu pun berlalu tanpa terasa, hingga aku telah sampai di depan rumah.

***

Pukul tiga sore, aku melirik sekilas rumah yang berada persis di depan rumahku yang tampak masih kosong, berarti Evan belum datang berbenah. Tidak ingin lelaki itu melihatku dalam keadaan kucel sepulang sekolah seperti sekarang, aku pun segera masuk ke dalam rumah.

Aku yang biasanya akan mandi sore pada sekitar jam lima, kini telah menuju kamar mandi. Salah satu tips dari artikel yang kubaca adalah bahwa pria yang sudah dewasa akan menyukai perempuan yang bersih dan wangi. Meski kuyakin, semua lelaki akan menyukainya. Namun aku memilih mengikuti pola dari artikel itu.

"Loh?" Ibuku bahkan heran melihatku telah berganti pakaian dengan wajah cerah sehabis mandi.

"Kiran mandi cepat, soalnya gerah banget. Ibu lagi masak?" ujarku dengan sebuah alasan klasik.

Aku berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air dingin.

"Iya lagi persiapin bahannya, kan mau undang Evan nanti buat makan malam bareng. Ayahmu juga mau ajak dia ngopi dan cerita tentang sahabatnya," balas ibuku menjelaskan.

Aku tersenyum mendengarnya. Namun bayangan Deril melintas dalam pikiranku mengenai kertas yang diberikannya tadi membuatku menggerutu dalam hati. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakan catatan Deril sambil menunggu datangnya makan malam.

Mengapa hal tersebut kulakukan? Karena aku tidak ingin melewatkan momen sedikit pun dengan Evan dengan harus mengerjakan catatan Deril pada malam hari nanti. Untuk mempermudah pemantauanku terhadap kedatangan Evan di rumah depan, aku bahkan membawa kertas, buku catatan Deril dan tempat pensilku ke ruang tamu.

Ketika aku melihat kertas yang berisikan tulisan Deril, seketika diriku terdiam sesaat. Kenapa tulisan lelaki itu begitu bagus? Seolah seperti hasil ketika font yang terdapat pada aplikasi pengolah kata. Namun aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh untuk bisa segera menuntaskannya.

Tepat hampir sejam setelah aku menulis, namun catatan yang sebagian besar berisikan rumus dan angka tersebut, belum juga selesai. Aku bahkan lupa untuk mengintip melalui jendela ruang tamu untuk melihat apakah rumah depan sudah kedatangan Evan atau belum.

Cklek!

Aku mendengar suara pintu terbuka. Ah, pasti ayah baru saja pulang. Aku segera bangkit dan berdiri akan menyambutnya. Namun mataku melebar begitu melihat sosok Evan yang datang. Aku melirik jam dinding dan masih menunjukkan pukul lima sore lewat beberapa menit, apa ini? Bahkan masih ada dua jam sebelum makan malam.

"Kak Evan," seruku pelan.

Evan tersenyum singkat. "Tadi Om Tanaka menghubungiku untuk bisa menunggu di sini, lagipula rumah masih kotor. Rencana nanti mau panggil orang buat bersihin dulu."

"Oh, kalau begitu silakan duduk di sini." Aku menunjuk pada sofa depanku. Namun Evan malah duduk di sofa bagian belakangku. Sofa yang kubelakangi ketika duduk melantai sambil mencatat tadi.

"Lagi belajar ya?" komentarnya melihat buku di atas meja.

Aku hanya tersenyum kikuk, lalu menutup buku catatan. Namun tersadar akan sesuatu, nama Deril terlihat dan kulihat Evan telah membacanya!

Tangan Evan bergerak mengambil selebaran kertas berisi tulisan Deril. "Pindahin?" ujarnya melirikku. "Nama pacarnya Deril? Baik sekali mau mencatatkannya."

Aku meneguk saliva. "Tidak, bukan. Aku … hanya membantu. Soalnya aku lupa kembaliin bukunya jadi dia catat di kertas itu," balasku membantah.

Namun Evan hanya terkekeh pelan. "Indah ya masa SMA? Kapan jadiannya?"

Eh, kok malah begini sih? Kenapa juga Evan harus datangnya sekarang, belum jam makan malam juga.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED