Langit mendung menggantung di atas sekolah itu, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang belum selesai di tempat ini.
Aldian berdiri di luar pagar besi tua, menunggu momen yang tepat untuk masuk.
Bel pulang akan berbunyi sebentar lagi. Suara riuh para siswa di dalam mulai terdengar samar.
Ia memilih berdiri di bawah pohon ketapang, menyamar di balik bayangannya, topi hitam menutupi sebagian wajah.
Sudah hampir sebulan sejak ia terakhir ke sini.
Kali ini, ia tidak datang sebagai keluarga korban.
Ia datang sebagai penyidik- bukan polisi, bukan wartawan, hanya seorang kakak yang kehilangan, yang mencium bau kebohongan dari setiap kalimat yang diucapkan guru- guru itu saat pemakaman.
Ia membawa buku harian Aruna di dalam tas kecilnya.
Sudah dibacanya berulang kali.
Setiap kalimatnya membakar satu demi satu kepercayaan pada sistem yang katanya "melindungi siswa."
Dan hari ini... ia ingin mulai dari ruang guru.
Saat bel sekolah berbunyi, gerbang dibuka. Siswa- siswi keluar berbondong- bondong.
Ia menyelinap masuk, mengikuti arus, langkahnya ringan, matanya mengamati. Tidak ada guru yang memperhatikan- semua sibuk menertibkan barisan, mengawasi murid- murid.
Ruang guru berada di sayap kiri gedung.
Ia tahu jalan ke sana. Dirinya pernah ke sana dulu. Pernah duduk di kursi tunggu, menanti wali kelas Aruna keluar sambil tersenyum palsu, menyampaikan "tak ada yang perlu dikhawatirkan".
Hari ini, Aldian yakin senyum palsu itu akan mulai dikupas satu persatu.
Namun langkahnya terhenti sesaat.
Di ujung lorong, tepat di depan ruang guru.
Seseorang tengah berdiri membelakanginya.
Seorang gadis. Rambut di kuncir kuda dengan seragam rapi tanpa ada lipatan yang nampak pada seragamnya.
Punggungnya tegak seperti tiang bendera. Ia sedang berbicara dengan guru lain, entah tentang apa, suaranya pelan tapi tegas.
Dan saat guru itu pergi, gadis itu berbalik.
Matanya langsung bertemu dengan milik Aldian.
'Gadis itu tampaknya tak asing' Batin Aldian tanpa sadar.
Untuk sesaat, waktu seperti menahan napas Aldian.
Aldian terpaku. Dadanya bergetar pelan.
Dia tidak pernah bertemu langsung sebelumnya.
Aldian ingat pernah melihat foto gadis itu di dokumentasi sekolah, dan sekali dalam layar laptop saat mencari nama- nama guru.
Tapi melihatnya dari dekat... seperti ada sesuatu yang mengganggu.
Gadis itu tampak berbeda dari gadis kebanyakan.
Matanya tajam, tapi kosong.
Langkahnya rapi, tapi kaku.
Wajahnya cantik dalam cara yang kedinginan.
Seolah segala yang ada dalam dirinya sudah diprogram sejak kecil, belajar, les, prestasi, disiplin dan..... diam.
Mereka saling menatap dalam beberapa detik.
Aldian refleks menunduk, menyibak pandangan.
Tapi Gadis itu tetap memandangnya.
Seperti tahu, seperti curiga.
"Kakak siswa baru ya?" tanyanya.
Suaranya jernih. Netral. Tidak ramah, tapi tidak juga mengusir.
Aldian ragu sejenak.
"Iya... Aku cuma mau... cari ruang tata usaha," jawabnya cepat, berbohong sehalus mungkin.
Gadis itu mengangguk kecil.
"Dari gerbang, belok kanan. Ruang TU- nya di belakang perpustakaan."
Nada bicaranya seperti robot. Sopan. Efisien. Tidak ada emosi.
Seperti dilatih.
"Makasih," balas Aldian, menatap cepat lalu melangkah pergi.
Tapi di langkah ketiga, ia menoleh sekali lagi.
Gadis itu masih berdiri di tempat. Matanya masih memandang.
Tatapan yang kosong... tapi entah kenapa terasa familiar bagi Aldian
Tatapan seperti milik adiknya, di hari- hari terakhirnya.
Dan dalam hati Aldian seolah tahu.
Gadis itu... mungkin akan jadi kunci.
Entah sebagai korban...
...atau sebagai bagian dari kebenaran yang selama ini dikubur rapi.
Langkah Aldian menyusuri lorong menuju ruang tata usaha terasa sunyi dan berat.
Derap sepatunya nyaris tak terdengar di atas lantai keramik yang sudah sedikit kusam.
Jam menunjukkan hampir pukul delapan pagi, namun suasana sekolah belum terlalu ramai-hanya beberapa guru yang melintas cepat dan beberapa staf yang sibuk dengan dokumen.
Ia sempat berdiri di depan pintu ruang TU, berpura- pura menunggu seseorang sambil sesekali melirik ke dalam. Matanya seolah- olah mencari- cari seseorang.
Namun setelah beberapa menit berlalu, Aldian menghela napas.
Lelaki itu pun memutar arah, wajahnya menegang.
"Kalau nggak ada bukti di sini, aku bisa mulai dari area sekitar dulu," pikirnya cepat.
Tanpa membuang waktu, Aldian melangkah lebih dalam ke kompleks sekolah.
Menyusuri lorong- lorong belakang yang tampak jarang dilewati.
Ia melewati ruang guru, lalu menuju ke arah bangunan gudang tua yang berada di dekat taman belakang sekolah.
Pintu gudang itu sedikit terbuka, dan dengan sigap ia mendorongnya perlahan.
Dalam gelap dan debu, ia mengedarkan pandangan. Tumpukan alat peraga, kardus- kardus berlabel, dan bangku rusak memenuhi ruangan itu.
Tangannya menyibak tirai laba- laba di sudut atas kardus, mencari- cari-mungkin, petunjuk kecil, catatan, atau benda yang tertinggal dari masa adiknya. Tapi tidak ada apa- apa. Hanya debu dan kesunyian.
Saat ia hendak berbalik dan keluar, tiba- tiba terdengar suara langkah kaki cepat dan berat di luar gudang. Langkah yang tidak biasa. Langkah seorang pria dewasa- berat, dan tergesa.
Aldian membekukan diri.
"Siapa di dalam?" suara itu terdengar keras.
Seorang satpam.
Tanpa menunggu, Aldian langsung mencari tempat bersembunyi di balik tumpukan kardus tinggi.
Detak jantungnya memukul keras dadanya. Napasnya ditahan sedalam mungkin.
Pintu gudang terbuka lebar. Suara sepatu satpam menghantam lantai beton.
"Seperti aku tadi melihat ada bayangan masuk ke sini barusan," gumam sang satpam curiga.
Langkahnya semakin dekat.
Ia berhenti hanya beberapa meter dari tempat Aldian bersembunyi.
"Siapa pun kamu, ini area terlarang untuk murid. Kalau kamu bukan staf atau siswa, saya akan laporkan ke kepala sekolah," ucapnya tegas, sembari menyalakan senter dan menyorot ke segala penjuru.
Cahaya hampir mengenai wajah Aldian. Tangannya mengepal erat. Ia tahu satu gerakan salah saja bisa membuatnya ketahuan.
Namun tak lama kemudian, suara handy talky di sabuk satpam itu menyala.
"Pak Wawan, segera ke gerbang depan. Ada wali murid yang butuh bantuan."
Satpam itu mengumpat pelan, mematikan senternya.
"Huft... nanti balik lagi saja."
Langkahnya menjauh. Pintu gudang tertutup kembali dengan bunyi berderak.
Begitu suara itu hilang sepenuhnya, Aldian langsung keluar dari persembunyian, menarik napas berat yang sejak tadi ia tahan.
"Nyaris saja.." bisiknya pada dirinya sendiri, wajahnya masih tegang.
Aldian mengambil langkah cepat, menyelinap keluar gudang sekolah.
Melewati tembok- tembok tinggi di sisi selatan sekolah dan memanjat pagar kecil yang mengarah ke area kosong di samping kompleks.
Bajunya sedikit sobek, tapi itu tak penting bagi dirinya.
Untuk saat ini dia harus segera melarikan diri sebelum satpam tadi menemukan dirinya.
Dua hal yang pasti.
Hari ini ia nyaris tertangkap. Dan ia belum menemukan apa pun.
Namun tekadnya tak surut sedikit pun.
Langit malam menggantung kelam tanpa bintang.
Hanya sesekali bulan muncul malu- malu di balik awan tebal yang menggulung seperti arus ombak di lautan.
Angin malam berembus dingin, menyapu jalanan kota dan menyusup ke sela-sela jaket Aldian.
Namun tak ada sedikitpun raut gentar di wajahnya. Matanya justru tampak lebih tajam dari biasanya-seperti mata pemburu yang telah mengunci targetnya.
Dengan langkah tenang tapi mantap, ia berjalan menelusuri gang belakang sekolah, tempat di mana pagar besi setinggi dada tak terlalu sulit untuk dipanjat.
Tangannya cekatan menarik tubuhnya ke atas, lalu melompat masuk ke dalam area sekolah yang telah gelap dan sunyi total.
Tak ada suara selain derik ranting pohon dan suara gesekan daun kering yang terseret angin.
Gedung sekolah itu berdiri dalam diam, tampak seperti raksasa tua yang sedang tertidur lelap.
Aldian berjalan menyusuri sisi utara bangunan, melewati taman kecil yang penuh tanaman menjalar dan semak yang sudah tak terurus.
Tujuannya kali ini jelas, ruang guru di sayap kiri gedung.
Bangunan itu biasanya ramai di pagi dan siang hari, tapi malam ini sepi seperti kuburan.
Tidak ada lampu yang menyala di koridor. Bahkan suara langkahnya yang pelan sekalipun terdengar menggema menampar dinding lorong dengan tajam.
Sayap kiri gedung terletak agak terpisah dari ruang kelas utama.
Jalur menuju ke sana melewati sebuah jembatan kecil di atas kolam hias yang sekarang airnya kotor dan nyaris tak bergerak.
Aldian melangkah melewatinya tanpa ragu, bahkan ketika kayu lantai jembatan itu berderit lirih dibawah telapak sepatunya.
Ia tiba di depan pintu kaca ruang guru. Terkunci, seperti dugaannya.
Namun Aldian tak kehabisan akal. Ia mengeluarkan pin kecil dari saku jaketnya-alat seadanya yang biasa dipakai gengnya untuk hal-hal seperti ini.
Dengan keahlian yang telah diasah sejak remaja, hanya butuh beberapa menit sebelum kunci itu berdecit dan pintu terbuka perlahan.
Aroma ruangan yang tertutup lama menyeruak keluar- perpaduan kertas lama, tinta, dan jejak parfum yang tersisa di udara.
Tak ada rasa takut dalam diri Aldian.
Yang ada hanya tatapan tajam, dan dorongan dalam hati yang semakin membara.
Aldian melangkah masuk, membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya.
Jari- jarinya menyusuri setiap meja, membuka laci demi laci, membaca setiap kertas yang menurutnya mencurigakan.
Malam ini bukan hanya tentang pencarian bukti.
Ini tentang kebenaran yang harus digali dari tempat paling gelap- tanpa peduli seberapa dalam ia harus masuk, dan seberapa gelap malam yang mengelilinginya.
Aldian menghela napas kasar, keringat dingin mengalir dari pelipisnya meski udara malam begitu menggigit.
Tangannya yang cekatan sudah mengobrak-abrik hampir semua laci, lemari, dan tumpukan berkas di ruang guru itu- tapi hasilnya nihil.
Tak ada dokumen mencurigakan. Tak ada catatan jadwal yang terlihat janggal. Tak ada surat.
Bahkan tidak satu foto pun yang bisa membuka sedikit celah atas apa yang ia curigai selama ini.
"Sial..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, tapi nadanya penuh kejengkelan.
Kepalanya tertunduk sejenak, tangan mengepal kuat di sisi meja.
"Seberapa rapih mereka menyembunyikan semuanya? Kenapa gak ada jejak sama sekali?" Kata Aldian dengan penuh kemarahan.
Kemarahan menyesak di dadanya. Ia ingin menghancurkan sesuatu- melempar kursi, menjungkirkan meja- tapi dia tahu, satu suara saja bisa membongkar kehadirannya di tempat ini.
Lalu...
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki. Berat. Teratur. Mendekat.
Aldian reflek membeku. Napasnya terhenti sepersekian detik. Ia menajamkan telinga, memastikan suara itu bukan hanya ilusi. Tapi langkah itu semakin dekat- dan berhenti tepat di depan pintu ruang guru.
Satpam.
Tanpa membuang waktu, Aldian bergerak cepat.
Ia melompat ke balik lemari arsip yang sedikit terbuka dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya. Nafasnya tertahan, jantung berdetak kencang tak terkendali.
Ceklek.
Gagang pintu dicoba. Terkunci.
Tok. Tok. Tok.
"...Ada orang?" suara berat satpam memecah keheningan. Tak ada jawaban.
"Baru aja tadi aku liat kayak ada bayangan masuk..." gumamnya pada dirinya sendiri.
Satpam itu menempelkan wajah ke kaca pintu, mengintip ke dalam ruangan. Mata tuanya menyipit, mencoba menerobos gelapnya interior ruang guru.
Tapi tak ada gerakan. Tak ada bayangan. Tak ada suara.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya bagi Aldian, langkah kaki itu menjauh, kembali menyusuri lorong.
Satpam itu tampaknya menyerah dan melanjutkan patroli malamnya.
Begitu suara langkah menghilang, Aldian keluar perlahan dari tempat persembunyiannya.
Dengan cekatan dan penuh kehati- hatian, ia menutup kembali laci- laci yang sempat ia buka, merapikan sedikit agar tak meninggalkan jejak yang mencolok.
Dia tahu betul, satu ketidakteraturan bisa menimbulkan kecurigaan.
Dalam diam, ia meninggalkan ruang guru, menyelinap kembali melewati lorong gelap, menyeberangi jembatan kecil, dan keluar dari pagar sekolah yang tadi ia panjat.
Semua dilakukan dalam senyap, seolah angin malam sendiri yang membawanya pergi.
Meski tidak menemukan bukti apa- apa, malam itu justru semakin membakar tekad Aldian.
"Mereka pikir bisa sembunyi selamanya? Kita lihat saja..."
Langkah kaki Aldian terdengar lemah saat ia mendorong pintu rumahnya yang sederhana.
Kunci pintu bergemerincing sebelum akhirnya mengatup rapat di belakangnya. Malam sudah larut, tetapi mata lelaki itu masih menyala-bukan karena kantuk, tapi karena bara dalam hatinya yang belum juga padam.
Ia berjalan tanpa suara menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan diri di kursi kayu panjang yang menghadap jendela.
Udara malam masih tersisa, dingin merambat masuk lewat celah ventilasi.
Aldian memejamkan mata, mencoba meredakan denyut sakit di lengannya yang terbalut perban.
Namun seketika, dalam gulita itu.
Wajah gadis berkuncir kuda, muncul begitu jelas.
Wajah yang lembut, polos... tapi juga penuh kepedulian.
Senyum sederhana yang muncul ketika gadis itu menjelaskan letak ruang Tatap Usaha.
Senyum yang tidak seharusnya mengganggu pikiran Aldian sekarang.
Aldian mendengus, mengusap wajahnya kasar dengan tangan satunya.
"Kenapa sekarang malah dia yang muncul di kepala gue..." gumamnya rendah, hampir seperti gerutuan.
Bayangan wajah gadis itu menari dalam pikirannya, mengaburkan batas antara kenyataan dan niat dendamnya yang telah lama ia pelihara.
Tapi ia menepis perasaan itu.
"Enggak... ini bukan waktunya goyah," bisiknya pada diri sendiri, tajam.
"Gue harus balas semua yang mereka lakuin ke adik gue... Harus."
Ia membuka matanya perlahan, menatap kosong ke langit- langit rumah. Matanya tak menyala karena emosi, melainkan penuh dengan tekad dingin.
"Sekalipun, Ratih dan keluarganya harus ngerasain luka yang sama..."
Aldian menggenggam ujung sandaran kursi kuat- kuat, hingga sendi- sendi jarinya memutih.
" Kalau perlu- gue akan pastikan mereka semua ngerasain yang adik gue rasain."
Udara malam makin menusuk, tapi tubuh Aldian tetap tak bergerak. Dingin tak mempan untuk membekukan dendam yang mulai mendidih lagi dalam nadinya.
Dan di tengah keheningan itu, hanya ada satu yang tersisa yaitu niat untuk menghancurkan.