Bab 1

Di tengah malam yang kelam, jalanan sempit ini tampak seperti lorong menuju ke dunia gelap yang tidak berujung. Pohon-pohon tinggi menyerupai jembatan raksasa yang terjulur ke atas, melengkapi kesan rimbun yang seperti pembatas antara dunia nyata dengan kegelapan yang menakutkan. Dedalu semak-semak di sepanjang jalan terlihat seperti tangan-tangan tenggelam yang siap menjebak siapa saja yang melewati jalanan ini.

Waktu berhenti seolah-olah menanti sesuatu yang mengerikan. Hanya keheningan yang mendalam yang mengisi udara malam ini, dihiasi dengan cahaya bulan yang samar-samar menembus celah-celah pohon. Udara terasa tegang, dan setiap suara mesin mobil yang berdentum seperti dengungan serangga raksasa, menambah ketegangan yang melanda.

Dan di tengah keheningan yang menakutkan, mobil sport mewah berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi, seakan-akan membawa maut bersamanya.

Aurelia, seorang gadis cantik berusia 15 tahun dengan rambut panjang bergelombang, nekat mengemudikan mobilnya. Keputusannya untuk berkendara di malam yang gelap adalah tindakan nekat, tetapi sepertinya dendam yang membara membakar dalam dirinya.

"Apa-apaan dia itu! Dia pikir dia siapa? Dendam dengan kakakku, malah aku yang dijadikan pelampiasan!" desisnya dengan nada geram saat mengendalikan mobil dengan kecepatan yang semakin tinggi.

Namun, di tengah jalan yang sempit dan kelam, mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah taruhan yang sangat berbahaya. Dan seperti yang sering terjadi, nasib buruk bisa datang tanpa aba-aba.

"Awas!" teriak Aurel, berusaha mengerem mobilnya dan menghindari tiga pengendara sepeda motor yang tiba-tiba muncul dari semak-semak.

Brak!

Namun, tabrakan tak terhindarkan. Tiga motor hancur di bawah mobil mewah Aurel, menghasilkan suara gemuruh yang menakutkan. Pohon besar di depan mereka menjadi saksi bisu saat mobil berhenti dengan keras.

"Aduh!" jerit Aurel ketika kepalanya terbentur dengan keras di kemudi. Darah segera mengalir dari lukanya. Mobilnya juga mengalami kerusakan yang serius akibat menabrak tiga pengendara motor dan pohon besar.

"Apa aku baru saja menabrak seseorang?" gumam Aurel dengan panik, tangannya gemetar saat membersihkan darah yang mengalir di kepalanya. Ia melihat keluar melalui pintu mobil, ngeri dengan pemandangan yang menanti di luar.

Aurel bergegas keluar, terguncang oleh bau darah dan asap bensin yang menyengat. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan tangan, berusaha untuk tidak muntah. Namun, saat ia mencapai korban-korban tabrakan...

"Ti- tidak mungkin! A- aku baru saja menabrak tiga orang pengendara motor?" bisik Aurel dengan mata penuh ketakutan. Di hadapannya, tiga motor rusak parah, dan tiga korban tergeletak dalam genangan darah yang mengerikan, cahaya senter motor masih menerangi luka-luka mereka yang mengerikan.

"To... Tolong! Tolong aku!" pinta salah satu pengendara motor, suaranya lemah karena luka-lukanya. Ia meraih tangan Aurel yang gemetar.

"Kyaaa!" Aurel terduduk di tanah, matanya terbelalak, ketika ia melihat seorang pria muncul di antara bayangan gelap.

"Tolong! Tolong kami!" pinta pengendara motor lainnya, menarik tubuhnya yang terluka parah.

"Tidak! Aku tidak bersalah! Aku tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini!" Aurel berteriak, ketakutan, dan bergegas kembali ke mobilnya.

"Jangan pergi! Tolong kami dulu!" pinta salah satu korban yang lainnya, mencoba meraih Aurel dengan tangan berlumuran darah.

Namun, ketakutan membuat Aurel melarikan diri lebih dulu. Ia memundurkan mobilnya, berusaha melarikan diri dari tempat kejadian, meninggalkan korban-korban menderita di belakang.

"Tidak! Aku tidak akan dipenjara, kan? Ayahku akan mengurus semu—kyaaa!" Aurel tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. Tubuhnya terhuyung maju, hampir membenturkan kepalanya lagi pada stir.

"Kali ini aku tidak akan menabrak orang lain lagi, kan?" Aurel bertanya dengan gemetar, mata cemasnya menatap jalanan yang sunyi.

"Ke- kenapa? Kau... Tidak menolong kami?" desis seorang pria berwajah hancur dengan suara serak yang menembus tulang belakang. Ia muncul seperti bayangan dari kegelapan, menempelkan wajahnya yang penuh luka pada kaca depan mobil Aurel.

"Kyaaaaa!" jerit histeris pecah dari bibir Aurel, ketika melihat wajah pria itu yang teramat mengerikan. Dengan kecepatan refleks, ia menundukkan kepalanya seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangan, berusaha mengusir gambaran yang menghantui pikirannya. Namun, aura kegelapan dan kengerian terus mengelilingi mereka.

Dengan keberanian yang tersisa dalam dirinya, mendorong Aurel untuk perlahan mengangkat kepalanya dan memeriksa kaca mobilnya.

"O- orang tadi... Menghilang?" desis Aurel, dengan kebingungan melanda, karena orang yang baru saja ia lihat tiba-tiba lenyap begitu saja, tanpa jejak.

"Apa aku berhalusinasi?" lanjutnya, suaranya gemetar, membuatnya ragu untuk melanjutkan perjalanan yang semakin terasa mencekam.

"Ta- tapi... Noda darah ini..." Aurel menatap noda darah yang menempel di kaca mobilnya dengan ngeri. Noda itu tampak seperti pertanda kejahatan mengerikan yang terjadi di tempat itu, mengirimkan gelombang ketakutan yang semakin merayap di dalam mobil.

"Kau takut dipenjara?" Terdengar suara yang mengerikan bergaung dari arah kiri. Mendadak, Aurel terperanjat dan dengan cepat menoleh ke sumber suara itu.

"Kyaaaa!" Teriakan histeris meledak dari bibir Aurel, saat melihat sosok pria menyeramkan dengan wajah yang hampir terbelah menjadi dua, dan luka panjang yang terbuka seperti ban mobil yang robek.

Ketakutan yang mendalam memenuhi dirinya, dan tanpa pikir panjang, Aurel langsung berlari keluar dari mobil yang terasa semakin seperti perangkap mengerikan.

"Ayah! Ayah! Di mana nomor ayah?" Aurel mencoba menekan tombol ponsel pintarnya dengan panik, seraya berusaha berlari tanpa henti.

"Ketem- kyaaa!" Teriakan tiba-tiba meletus dari bibir Aurel ketika ia tiba-tiba tersandung sesuatu dan terjatuh ke tanah dengan keras.

Saat tubuhnya tersungkur, ponselnya terlempar beberapa inci dari tempat ia jatuh. Aura kegelapan semakin menghantui, dan keberadaan misterius yang mengintai Aurel semakin mendekat, membuatnya merasakan kehadiran yang mengerikan di sekelilingnya.

"Aurel, mengapa kamu menelepon ayah?" tanya sebuah suara, yang ternyata adalah suara Andra, ayah kandung Aurel, terdengar dari ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempat Aurel tersungkur saat ini.

"Ayah!" Aurel berusaha meraih ponselnya dengan gemetar. Namun... "Kyaaa!"

Saat ia hampir menyentuh ponselnya, tiba-tiba Aurel ditarik dengan kasar oleh sosok pria yang telah membuatnya terjatuh.

"Meminta tolong pada ayah? Sungguh pengecut!" gumam sosok itu dengan suara yang membuat bulu kuduk Aurel merinding, sementara bayangan kegelapan semakin menyelimuti Aurel dalam ketakutan yang semakin dalam dan mengerikan.

"Aurel! Ada apa?" Andra yang terdengar sangat panik bertanya dari ponsel.

"Ayah! Tolong aku!" teriak Aurel sambil berusaha meraih ponselnya dengan gemetar, berusaha melonggarkan cengkeraman pria misterius yang masih menahannya.

"Sekarang kau di mana?" Andra berteriak melalui ponsel, rasa paniknya semakin terasa.

"A- aku ada... Aku ada di... Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan keras, sebelum akhirnya terhenti oleh suatu kejadian yang lebih mengerikan.

"Aurel!" Andra memekik dengan penuh kekhawatiran, merasa putrinya berada dalam bahaya yang tak terbayangkan. Suasana semakin mencekam dan misterius, kegelapan sepertinya semakin mengintai untuk menghantui mereka.

Krak!

Ponsel Aurel hancur berkeping-keping ketika sebuah kaki yang penuh darah menginjaknya, lalu ponsel itu digesek-gesekkan ke tanah berkali-kali oleh kaki tersebut.

Pemilik kaki menurunkan tubuhnya, berjongkok di hadapan Aurel yang terbaring tersungkur. Dengan cengkeraman yang mencekam, ia meraih rahang Aurel dan memaksanya untuk menatap wajahnya yang penuh kekejaman. Dengan suara yang mengerikan, ia berkata, "Inilah akibatnya jika kau berusaha melarikan diri dari tanggung jawab!"

Bayangan mengerikan ini memenuhi setiap sudut pikiran Aurel, menciptakan ketakutan yang begitu mendalam sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bab 2

Tiga mobil sedan berwarna hitam melaju perlahan menuju lokasi tabrak lari. Dari salah satu mobil sedan yang berada di tengah, turun seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam dengan tegas.

Pria paruh baya ini adalah Andra, seorang CEO kaya dari industri mobil terkenal di seluruh dunia. Ditemani oleh beberapa pria lain yang mengenakan pakaian serba hitam dan putih, mereka bergerak perlahan menuju bangkai motor dan para korban tabrak lari.

Andra memberikan instruksi dengan suara yang tegas dan memerintah. "Temukan para korban! Lacak identitas mereka dan hilangkan semua bukti yang ada!"

"Baik!" jawab semua anggota pasukan dengan patuh, sementara mereka bergerak cepat menuju lokasi para korban.

Andra melanjutkan dengan otoritas yang kuat. "Pastikan tidak ada satupun bukti yang tertinggal! Putriku tidak boleh terlibat dalam masalah ini!" Dengan ketegasan yang mendominasi, ia bergerak menuju mobilnya untuk mengawasi proses ini.

Andra adalah seorang pria yang memerintahkan dengan kebijakan dan tidak mentolerir kesalahan dalam operasinya.

👻👻👻👻👻👻👻

Di sebuah kamar dengan warna dominan merah muda, terlihat dua orang pria dan wanita yang sedang berpelukan di atas ranjang.

"Kakak! Aku takut! Hiks..." ucap Aurel dengan terisak. Ia memeluk tubuh seorang pria yang duduk di sisinya dengan sangat erat.

"Tidak perlu takut, adikku! Ada kakak disini," jawab seorang pria yang duduk di sisi Aurel seraya menepuk punggungnya dengan lembut.

Pria tersebut bernama Audrey, kakak laki-laki pertama dari Aurel. Ia adalah seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Indonesia.

Brak!

Terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Terlihat sesosok pria berlari ke arah Aurel dan Audrey.

Pria tersebut bernama Aron. Kakak kedua Aurel. Sama seperti adiknya, Aron masih berada di bangku Sekolah Menengah Atas.

"Kakak! Adik! Apa berita itu benar? Aurel baru saja membunuh tiga or-" Belum selesai Aron melanjutkan kata-katanya, Audrey langsung memotongnya.

"Ya! Dan itu semua karena dirimu!" bentak Audrey seraya menatap adiknya dengan tatapan membunuh.

"Apa salahku kakak? Aku baru saja pulang da-" Lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.

"Dari merayu teman-teman wanitamu? Bagus!" ujar Audrey seraya memutar bola matanya dengan malas.

"Kak-" Seolah tidak diizinkan untuk menyampaikan isi pikirannya, lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.

"Merayu para gadis dengan kata-kata manis, berjanji setia seraya mengucap sumpah, namun nyatanya... Kau hanya menganggap mereka semua sebagai mainan," ucap Audrey dengan tegas.

"Tidak kakak! Itu tidak benar! Aku hanya..." Audrey menghentikan perkataannya sesaat.

"Hanya menganggap mereka semua sebagai karakter di game gacha! Setelah dapat, akan dimainkan sebentar lalu dibuang ketika bosan!" seru Audrey sedikit berteriak. Ia terlihat sudah sangat muak dengan sifat dan kelakuan adiknya tersebut.

"Kak-" Aron memanggil kakaknya dengan suara lirih, terlihat matanya berkaca-kaca mendengar semua perkataan sang kakak.

"Kau memang seperti itu Aron! Tidak perlu mengelak!" tegas Audrey seraya memalingkan wajahnya kepada gadis malang yang sedang memeluknya erat.

"Huft..." Audrey menghela napas panjang seraya membenamkan wajahnya di balik rambut sang adik. "Sekarang, adikmu yang menuai semua yang telah kau tanam."

"Aurel..." Aron memanggil nama adiknya dengan sangat lembut. Ketika sang adik menoleh kepadanya, ia bertanya, "Apakah..."

"Itu benar, kak!" Seolah mengetahui isi pertanyaan sang kakak, Aurel langsung menjawabnya. "Kak Rain adalah kakaknya kak Rani. Mantan kekasih kakak. Sekarang, dia memutuskan hubungan denganku agar aku merasakan apa yang adiknya rasakan."

"Kau sudah mengerti sekarang?" tanya Audrey seraya menatap ke arah Aron, tanpa mengubah posisi kepalanya.

"Ma- maafkan aku..." ucap Aron seraya menundukkan kepalanya.

"Keluar! Jangan membuat adikmu semakin trauma." suruh Audrey dengan suara lantang.

Aron merasa sangat bersalah. Ia ingin sekali memperbaiki kesalahannya. Dengan lirih, ia berkata, "Aku tahu itu. Tapi..."

"Apa kau tidak mendengar perintahku barusan?" tanya Audrey dengan tatapan sinis.

"Ba- baiklah kak..." Akhirnya dengan sangat terpaksa, Aron pergi meninggalkan kamar Aurel.

"Kakak, apa kakak tidak terlalu kasar padanya?" tanya Aurel yang merasa sedikit khawatir pada kesehatan mental kakaknya.

"Tentu tidak. Dia harus merenungi semua perbuatannya," balas Audrey seraya semakin memeluk adiknya dengan erat.

"Dan kau juga sama!" Audrey melepas pelukannya. Ia kini menatap Aurel dengan tajam seraya berkata, "Bukan berarti karena kau adalah adik perempuan yang aku miliki satu-satunya, aku akan memanjakan dirimu secara berlebihan."

"Setelah kau sembuh dari trauma, aku juga akan mulai memarahi dirimu! Karena kau sudah terlalu sering melanggar peraturan!" ujar Audrey. Setelahnya, ia bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Aurel.

"Kakak, tunggu!" Aurel meraih tangan Audrey. Dengan lirih, ia bertanya, "Bisakah kakak tetap menemaniku di sini?"

"Ada apa adikku, kau sudah terlalu besar untuk aku temani tidur. Tidurlah sendiri, ya! Jika ada apa-apa, aku akan kembali lagi kesini," jawab Audrey seraya mengusap rambut kepala Aurel dengan lembut.

"Ba- baik kak..." ujar Aurel seraya melepaskan genggaman tangannya dari sang kakak.

"Adik pintar!" seru Audrey ketika sang adik sudah melepaskan tangannya. Sebelahnya, ia berjalan perlahan menuju pintu dan mulai pergi meninggalkan kamar Aurel.

Aurel dengan cepat berbaring di atas ranjangnya seraya menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Dengan masih sangat ketakutan, ia bergumam, "Sepertinya masih belum aman jika aku tidur dalam keadaan gelap. Aku tidak akan mematikan lampunya!"

Aurel menutup seluruh tubuh dan wajahnya menggunakan selimut. Ia sedikit menggigil karena masih terbayang-bayang para makhluk tak kasat mata yang menghantuinya beberapa waktu lalu.

"Panas!" Aurel menarik selimutnya dan membiarkan tubuhnya tidak terbalut selimut.

Aurel menatap langit-langit kamar sesaat tanpa berkedip. Setelah beberapa saat, matanya terasa pedih dan meneteskan air.

"Baiklah, saatnya tidur!" ujar Aurel seraya menutup kedua matanya dan bersiap untuk tidur nyenyak. Namun...

Tes... Tes... Tes...

Aurel merasa ada tetesan demi tetesan benda cair yang membasahi wajahnya, menyebabkan sensasi dingin yang menusuk tulang. Sontak Aurel langsung membuka kedua matanya dengan cepat. Ia terbelalak ketika menatap langit-langit kamar yang terasa semakin mendekat, seolah-olah mengerut dan mengancam.

"Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan suara terputus-putus, getaran ketakutan merayap di setiap serat tubuhnya. Di atas langit-langit kamar, ada sesosok pria yang merayap dengan gerakan aneh, seperti cicak yang melintasi dinding. Wajahnya hancur, penuh dengan luka-luka yang berlumuran darah segar. Bekas-bekas luka itu tampak mengerikan, seolah-olah terulang tanpa henti.

Darah segar mengalir deras di setiap inci tubuh pria itu, menetes ke bawah dan membasahi ranjang Aurel, menciptakan coretan merah yang mengerikan di linen putih.

Dengan suaranya yang sangat berat dan mengerikan, sesosok manusia merayap itu berkata dengan nada yang sangat mencekam. "Kau harus hidup menderita!" Suaranya terdengar seperti gemuruh kematian yang mendekati, menghantui ruangan dengan ketakutan yang tak terbayangkan.

Bab 3

"Kyaaaa!" Aurel berteriak histeris saat ia melihat apa yang ada di atasnya. Dengan cepat, ia turun dari ranjangnya. Namun...

Bruk!

"Aarrgh!" Aurel terjatuh dengan sangat keras karena ada seseorang yang menarik kakinya.

Sontak Aurel langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat ke kolong ranjangnya. Terlihat sebuah tangan penuh darah yang menggenggam kaki Aurel dengan sangat erat.

Dalam kegelapan yang menyelimuti kamar, terdengar suara mendesir dan seram seperti bisikan hantu. "Rasakan itu! Pembunuh!"

"Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan sangat keras karena kakinya terasa sangat sakit akibat dicengkeram dengan sangat erat oleh tangan itu.

Tes! Tes!

Aurel merasa ada tetesan demi tetesan benda cair membasahi kepalanya. Ia kemudian menengadah ke langit-langit kamarnya. Rupanya pria yang merayap tadi, kini sudah berada tepat di atasnya.

"Kyaaaa!" Karena ketakutan, Aurel menunduk dan tidak berani menatap langit-langit kamarnya lagi.

"Ekkhh!" Aurel terpaksa sedikit menengadahkan kepalanya, lantaran ada sebuah pisau yang hampir bersentuhan dengan leher mulusnya, cahaya samar mengkilat di mata pisau tersebut.

Kini Aurel sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kakinya dicengkeram dengan erat oleh pria di kolong ranjang, tubuhnya didekap oleh pria yang juga mengacungkan pisau itu ke leher Aurel.

Dan... Jangan lupakan pria merayap di atas sana. Ia pasti akan langsung turun dan menangkap Aurel jika sampai ia berhasil lolos.

Brak! Brak!

Terdengar suara pintu kamar Aurel di dorong dengan keras berkali-kali. Dari balik pintu, terdengarlah suara seorang pria yang merupakan suara dari Audrey. "Aurel! Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi di dalam sana?"

👻👻👻👻👻👻

"Kakak! Menyingkir dari sana! Aku akan mendobrak pintu itu!" seru Aron dengan mata penuh tekad, bersiap mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang mengurung adiknya.

"Ba- baik!" jawab Audrey dengan gemetar, berjalan menjauhi pintu untuk membiarkan Aron melakukan aksinya.

"Jangan sakiti adikku!" teriak Aron dengan suara getar yang memotivasi, lalu berlari secepat kilat untuk menabrak pintu yang entah bagaimana bisa terkunci.

Brak!

Pintu kamar akhirnya terbuka dengan kekuatan besar yang menggetarkan seluruh tubuh Aron. Namun...

"Aaarrgghhh!" Aron berteriak histeris, berbaring di lantai dengan bahunya yang tertusuk pisau, mengeluarkan darah segar yang mengalir dengan deras.

Kengerian pun menghantui ruangan yang telah terbuka, menciptakan ketidakpastian yang lebih dalam daripada yang pernah mereka bayangkan.

"Kakak!" Aurel berteriak histeris, matanya dipenuhi ketakutan, melihat kakaknya terluka parah akibat berusaha menyelamatkannya.

"Lepas! Lepaskan aku! Aku ingin melihat kakakku!" teriak Aurel sambil menghentakkan kakinya berulang kali, berusaha keras untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman misterius itu.

Setelah upaya keras yang menguras tenaganya, akhirnya Aurel merasakan sentuhan misterius itu menghilang. Tanpa ragu, ia berlari menuju kakaknya yang terluka. Namun...

Barang-barang di kamar Aurel tiba-tiba berjatuhan dengan keras, terutama barang-barang yang mudah pecah seperti cermin, botol kaca, dan lainnya.

"Kyaaaa!" Aurel berteriak ketika pecahan barang-barang itu berhamburan, menutupi lantai kamar dengan fragmen yang tajam dan berbahaya. Ia berusaha melindungi dirinya sendiri, tetapi ketakutan dan kekacauan semakin merasuk ke dalam ruangan, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.

"Aurel!" Audrey berteriak panik sambil mengamankan Aron di tempat yang lebih aman. Dengan cepat, dia meraih sapu ijuk yang berada dekatnya.

"Kakak, apa yang ingin kau lakukan? Apakah ini saat yang tepat untuk bersih-bersih?" tanya Aron yang keheranan melihat kakaknya.

"Maksudku... Apa yang dilakukan pengidap OCD ini disaat genting seperti ini?" tanya Aron dalam hati. Karena jika ia mengatakannya langsung, ia akan langsung ditebas menggunakan sapu yang digenggam kakaknya. "Tunggu! apakah kak Audrey punya rencana?"

"Kau tunggu dulu di sini! Dan jangan coba-coba untuk mencabut pisaunya!" suruh Audrey dengan tegas, memperingatkan betapa bahanya bertindak gegabah.

"Aurel! Tunggu! Kakak akan segera menyelamatkanmu!" Audrey berteriak, berlari masuk ke dalam kamar Aurel dengan sapu ijuk yang dipegang teguh.

Wush! Wush!

Audrey dengan cepat menyapu semua barang-barang yang berserakan di kamar Aurel menggunakan sapu ijuk yang dibawanya. Kedua matanya penuh dengan tekad dan kekhawatiran untuk saudara perempuannya.

"Apa yang aku harapkan dari tukang bersih-bersih itu?" tanya Aron yang memerhatikan kakaknya dari kejauhan dengan tatapan malas. Menunjukkan kekecewaannya atas aksi kakaknya yang tidak sesuai harapan.

Wung...

Sebuah lampu tiba-tiba terjatuh tepat di atas kepala Audrey, mengeluarkan suara gemerincing yang mengancam.

"Kakak! Awas!" teriak Aurel dan Aron secara bersamaan, suara mereka penuh kepanikan dan kekhawatiran. Aurel dan Aron merasa panik karena melihat kakak mereka dalam bahaya.

Prang!

Audrey merespons cepat dengan menangkis lampu bohlam yang hampir mengenainya menggunakan sapu yang ia genggam. Dengan gerakan refleks, lampu bohlam itu terpental ke arah kiri dan hancur berkeping-keping.

"Keren!" seru Aurel dan Aron secara bersamaan dengan antusiasme yang menyala di mata mereka.

Mereka merasa sangat kagum dengan aksi heroik kakak mereka yang melindungi mereka dari bahaya, dan perasaan bangga serta rasa aman mulai menggantikan ketegangan sebelumnya.

"Jangan dulu senang, semua!" seru Audrey dengan nada serius, ingin memperingati adik-adiknya bahwa bahaya belum sepenuhnya berakhir.

Namun, mereka mendapat kejutan yang tak terduga. Pecahan-pecahan kaca dan barang-barang hancur di kamar Aurel tiba-tiba melayang secara bersamaan. Semua ujung yang tajam dari pecahan-pecahan itu tampaknya memiliki satu tujuan, yaitu mengarahkan diri mereka kepada Audrey.

"Apa... Apa-apaan ini?" Audrey bertanya dengan suara gemetar, matanya terbelalak saat melihat pecahan-pecahan tersebut yang mengancam. Rasa takut merasuki tubuhnya, dan dalam kepanikan, ia tanpa sadar menjatuhkan senjata satu-satunya yang ia punya, yaitu sapu ijuk.

"Kakak!" Aurel merapatkan dirinya dengan kakaknya, dan keduanya terjatuh bersama saat pecahan-pecahan tajam itu mengancam untuk melukai Audrey. Rasa panik dan kekhawatiran meliputi mereka berdua.

"Kita harus keluar dari sini!" seru Aurel, sambil mencoba membantu kakaknya yang masih gemetar untuk bangkit. Kemudian, dengan penuh tekad, Aurel membopong kakaknya untuk berusaha keluar dari kamar yang semakin terasa seperti perangkap mengerikan.

Namun...

Brak!

Pintu kamar yang sebelumnya berhasil Aron buka, tiba-tiba kembali tertutup dengan keras, menghasilkan suara yang menggelegar. Mata kunci pintu berputar sendiri dengan aneh, lalu terlempar keluar jendela dan jatuh ke tanah.

"Sial!" umpat Audrey dengan suara penuh frustrasi, merasa terjebak dalam situasi yang semakin mencekam dan misterius.

"Bagaimana ini, kak? Kita tidak bisa keluar dari sini!" ujar Aurel dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca oleh rasa takut yang mendalam.

Audrey merasa bertanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada adiknya dalam situasi yang semakin mencekam. "Masih terlalu dini untuk menyerah! Kita pasti bisa—"

Namun, sebelum Audrey sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah gunting melayang dengan sangat cepat tepat ke arah wajah Aurel.

"Kyaaaa!" Aurel berteriak histeris, refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, takut akan bahaya yang mengintai.

Grep!

Dengan sigap, Audrey langsung menangkap gunting yang hendak melukai wajah cantik adiknya. Ekspresi Audrey mencerminkan keteguhan dan rasa perlindungan terhadap adiknya di tengah bahaya yang tak terduga.

"Ka- kakak..." Dengan perlahan, Aurel membuka matanya. Ia melihat gunting yang hampir melukainya berhasil ditangkap oleh kakaknya.

Kaki Aurel terasa sangat lemas, dan akhirnya ia terduduk di lantai karena tidak mampu berdiri lagi. Dengan segenap perasaannya yang terombang-ambing, Aurel membiarkan air mata mengalir bebas, mengekspresikan semua rasa takut dan kengerian yang dialaminya. "Huwaaaaa!"

"Tenanglah! Kita akan segera keluar dari sini!" ucap Audrey dengan suara lembut sambil berjongkok di dekat adiknya dan memeluknya untuk memberikan dukungan dan kenyamanan.

Namun, situasi mereka masih sangat berbahaya. Benda-benda tajam kembali melayang mendekati mereka satu-persatu, mengancam keselamatan kakak beradik ini.

"Masih belum selesai!" Audrey merasa ketakutan, tetapi juga bertekad untuk melindungi adiknya. Ia menggendong Aurel yang masih sangat ketakutan, berlari menghindari serangan demi serangan dari makhluk gaib yang misterius.

Akhirnya, Audrey sampai di depan brankas besi tempat Aurel menyimpan uang dan emas miliknya.

"Tunggu sebentar!" Audrey meminta adiknya turun dengan lembut, lalu dengan tenaga penuh, ia memutar gagang brankas dengan tekad yang kuat.

Wung... Wung... Wung...

Di tengah malam yang mencekam, keenam pecahan kaca melayang menuju mereka dengan kecepatan mematikan, memancarkan ancaman yang tak terduga dalam malam yang gelap dan mengerikan. Mereka berdua terjebak dalam situasi yang semakin mengancam, tetapi tetap bersatu untuk bertahan hidup.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED