Di sebuah ruang pertemuan yang megah dan gelap, seorang anak berlutut di hadapan ayahnya. "Kau memanggilku?" tanyanya, meski anak itu sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan bersama ayahnya.
Momen ini selalu menandakan masalah besar, atau lebih buruk-rencana licik yang melibatkan dirinya.
"Waktunya sudah tiba. Kau harus menikahi Elara, putri Dewan Menteri. Aliansi ini akan memperkuat kekuasaan kita dan menjaga dominasi keluarga Thorn."
Zane Alexander Thorn mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menahan gejolak perasaan yang membakar di dadanya. "Aku tidak akan melakukannya," jawabnya tegas, suaranya tenang namun penuh tekad.
The Dominion berdiri megah di atas perbukitan, menjulang sebagai simbol kekuasaan dan kendali di tengah kekacauan dunia luar. Dinding dan pintunya terbuat dari batu dengan teknologi tinggi. Gerbangnya tidak dapat ditembus, dan dijaga oleh pasukan bersenjata dengan armor canggih.
Markas ini berada di bawah kekuasaan Marcus Thorn, Panglima Tertinggi yang memerintah dengan tangan besi. Marcus mengontrol setiap aspek kehidupan rakyatnya, termasuk keputusan pernikahan politik untuk putranya, Zane Thorn.
Marcus mengangkat alis, terlihat terkejut dengan penolakan itu. "Ini bukan permintaan, Zane. Ini perintah. Sebagai penerusku, kau harus melakukan apa yang diperlukan untuk kekuatan Dominion."
Ya, disanalah, pria yang mengajarinya segala sesuatu tentang perang dan kekuasaan, menatapnya dari ujung meja panjang itu. Mata sang Panglima Tertinggi menyipit, penuh dengan harapan dingin dan rencana yang sudah ia atur sejak lama.
Zane berdiri di ruang konferensi besar, mengenakan seragam Phantom Vanguard, pasukan elit yang ia pimpin. Wajahnya keras, matanya penuh bayangan kelam dari bertahun-tahun pertempuran. Tidak ada satu pun emosi yang terlihat di balik matanya yang tajam, kecuali amarah yang tersembunyi di balik ketenangan luar biasa.
Zane menatap langsung ke mata ayahnya, tak gentar sedikit pun.
"Aku sudah menjalani hidupku sesuai perintahmu, memerangi musuh-musuhmu, membalas dendam atas kematian yang kau anggap penting. Tapi pernikahan ini?" Zane berhenti sejenak, mengambil napas panjang.
"Aku bersumpah, aku tidak akan menikahi siapapun kecuali orang yang aku cintai."
Marcus berdiri dari kursinya, dia tertawa. Tertawa kecil bahagia, seperti ratusan lonceng, menular sekaligus menakutkan. Namun, wajahnya dengan cepat berubah gelap.
"Cinta?" ejeknya. "Cinta adalah kelemahan, Zane. Tidak ada tempat untuk itu di dunia ini. Kau akan mematuhi, atau kau akan hancur."
Zane mengepalkan tinjunya, merasakan kemarahan yang mendidih di dadanya. Hanya untuk kali ini, Zane menolak dikendalikan.
Marcus tertawa lagi. Kali ini sangat keras. "Ya ampun." Dia tersenyum, cerah, hangat dan sangat tulus. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Lihatlah dirimu," katanya berteriak sambil menyeringai.
"Kau seorang pembunuh yang sempurna.. Kau tidak butuh cinta, Zane-kau butuh kekuasaan. Dan pernikahan ini adalah jalan menuju kekuasaan yang lebih besar."
"Aku tidak akan tunduk pada perintah ini," tegas Zane. "Jika kau ingin menikahkan Elara, carilah orang lain. Aku punya takdir sendiri."
Marcus menatap putranya dengan dingin, seolah-olah dia melihat seorang pemberontak, bukan darah dagingnya.
"Jika kau menolak, maka kau akan melawan lebih dari sekadar musuh di luar sana. Kau akan melawan aku."
Zane merasa udara di dalam ruangan menjadi berat, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulut Marcus adalah batu yang menghempaskannya ke dasar laut. Dia tahu bahwa penolakan ini bukan hanya sebuah pernyataan; itu adalah deklarasi perang terhadap ayahnya.
"Aku tidak akan menjadi alatmu lagi," kata Zane, suaranya tegas dan tak terbantahkan. Dia berbalik, bersiap meninggalkan ruangan, tetapi Marcus memanggilnya dengan nada yang penuh ancaman.
"Kau kira kau bisa melarikan diri dari tanggung jawabmu? Setiap langkah yang kau ambil, setiap pertempuran yang kau menangkan, semuanya untukku. Kau tidak akan pernah bisa membebaskan diri dari bayang-bayangku."
Zane berhenti sejenak, menyentuh pintu kayu yang berat sebelum berbalik.
"Mungkin, tapi aku akan berjuang untuk menjadi diriku sendiri. Dan jika itu berarti menentangmu, maka aku akan melakukannya."
Zane melangkah keluar, meninggalkan ruang konferensi. Meninggalkan Marcus yang masih berdiri dengan ekspresi marah dan terkejut. Dia bisa merasakan tatapan ayahnya membakar punggungnya, tetapi dia tidak peduli.
Di luar, seseorang sudah berdiri menunggunya. Seseorang yang sangat disukai Zane. "Mari, Tuan.."
Zane mengangguk singkat dan berkata. "Mantel ku, Reed."
Reed menunduk, tidak berani menatap atasannya alih-alih memberikan mantelnya. Kemudian ia mengikuti Zane dari belakang.
Saat tiba di ruang kerjanya, kepala Zane merasa berat. Ia mengusap tengkuknya yang kaku, beban yang tak tertahankan mendorongnya untuk mencari jalan keluar. Pikirannya pun berputar, lumayan lama, dan tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.
"Siapkan kendaraan."
"Tapi.. Tuan," Reed terlihat panik, hendak mengutarakan sesuatu.
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang, pergi!"
"B...baik," katanya ragu-ragu. Reed segera melemparkan hormatnya kemudian melesat pergi.
Hari ini juga Zane memutuskan untuk kembali ke pangkalan militernya. Ia tidak akan membiarkan tubuhnya tidur dibawah atap terkutuk ini. Tidak sebelum ayahnya menangkapnya, mengurungnya dan memberikan siksaan tanpa ampun.
Zane berdiri dari kursi, menatap prajurit-prajurit yang masih tegang.
Begitu mereka melangkah keluar, Zane memutuskan untuk mengambil jalur belakang markas, menghindari jalan utama di mana pengawal ayahnya mungkin berkumpul. Dia bergerak cepat, berusaha menyembunyikan diri di balik bayangan dan sudut-sudut gelap bangunan.
Jantungnya berdegup kencang saat dia berlari, membayangkan wajah marah Marcus ketika dia tahu anaknya telah melarikan diri. Zane menekan pikirannya tentang konsekuensi, hanya fokus pada satu tujuan: keluar.
Sesampainya di pintu belakang, Zane mengintip sekeliling. Tidak ada tanda-tanda pengawal, tapi dia tahu waktu tidak berpihak padanya. Dia melangkah keluar, berlari menyusuri koridor yang sepi.
Begitu dia mencapai gerbang keluar, Zane merasakan getaran dalam dirinya, gelombang otoritas yang tak terhindarkan muncul. Dia bisa merasakan ketegangan di udara, seolah-olah para prajurit yang menjaga gerbang dapat merasakan kehadirannya. "Jangan berhenti," bisiknya pada dirinya sendiri.
Dengan sekali langkah, dia berteriak, "Kau semua akan menghormati keputusanku! Beri aku jalan!"
Seketika, para prajurit yang mengawasi gerbang menundukkan kepala, terpaksa mengikuti perintah yang datang begitu kuat. Mereka terdiam, terperangkap antara rasa hormat dan kebencian. Mengutuk diri mereka sendiri, karena setelah ini akan dihabisi oleh Marcus karena tak becus menangkap Zane.
Zane berlari secepat mungkin, melewati batas markas. Lalu saat ia sampai di pintu belakang, Zane melihat Reed yang sudah menunggu di dekat kendaraan. Wajahnya memancarkan kelegaan.
"Tuan!" seru Reed, menyambut Zane dengan penuh rasa hormat. "Kita harus pergi sebelum mereka kembali menghadangmu."
Zane melangkah ke kendaraan, sambil mendengar bisikan prajurit di belakangnya. Reed membuka pintu, dan Zane melangkah masuk dengan cepat, memeriksa sekelilingnya, memastikan tidak ada ancaman.
"Sekarang!" Zane memerintah, dan Reed segera menginjak gas.
Kendaraan melaju, meninggalkan markas dengan beberapa pengawal yang mengejarnya. Dari dalam mobil, Zane bisa mendengar prajurit-prajurit itu mengumpat.
Sesampainya di pangkalan militer miliknya, Zane disambut oleh prajurit-prajuritnya yang sudah berbaris rapi.
Tubuh mereka tegang namun wajah mereka datar, seolah-olah sudah terbiasa dengan situasi ini. Zane, pemimpin mereka yang tak kenal ampun, berjalan bolak-balik di hadapan mereka dengan langkah berat, tatapan matanya dingin menembus barisan, meneliti setiap wajah. Keheningan yang menakutkan memenuhi udara. Mereka tahu apa yang akan datang.
Zane berhenti tiba-tiba, lalu dengan gerakan tenang, ia mengeluarkan pistol dari sarung di pinggangnya.
"Siapa pun berdiri. Jadilah sasaran." suaranya begitu tenang namun menggema, memecah keheningan.
Tidak ada satu pun yang bergerak. Zane, merasakan kemarahan yang membakar dalam dirinya. Ia sangat lelah, melewati satu hari saja seperti neraka.
"Kalian prajurit pengecut! Tak tahu malu!" teriaknya, suaranya bagaikan petir di langit cerah.
"Tidak ada yang berani?" suaranya rendah. Marah melihat ketidakberanian mereka, Zane mengangkat suaranya lagi.
"Apakah kalian semua ingin mati dalam ketakutan?!" Suaranya menggema, membuat semua orang merinding.
"Siap, tidak. Tuan!"
"Di medan perang, hanya keberanian yang akan membawa kita hidup. Apa kalian ingin mati di tempat tanpa berjuang?!"
"SIAP TIDAK TUAN!"
Akhirnya salah satu prajurit mengangkat tangannya, wajahnya pucat, maju dengan ragu. Zane mengangkat alis, memperhatikan sikapnya dengan tajam.
"Bagus," katanya, senyumnya tidak menjangkau matanya. Zane mengarahkan laras ke arah prajurit yang berdiri kaku.
Suara pelatuk berbunyi, mengisi udara dengan ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau.
DUARRRRR
DUARRRRR
DUARRRRRRR
Setiap peluru meleset dengan tepat, menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga.
Melihat prajurit tersebut berdiri tanpa cedera, Zane merasa sangat puas.
Di saat ia menembak peluru terakhir, seolah waktu berhenti. Dalam keheningan yang menyakitkan, Zane menatap kosong ke depan, menyadari bahwa ia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia perjuangkan.
Segalanya terasa hampa, dan dengan satu langkah mundur, ia merasakan sesuatu dalam dirinya pecah.
Tiba-tiba kegelapan menyelimutinya, dan seseorang memanggil namanya.
Zane terbangun dengan perasaan berat di kepalanya. Suara yang memanggilnya semakin jelas, dan saat ia membuka matanya, ia melihat wajah khawatir Reed yang terlihat sangat cemas. "Tuan, bangunlah!" ucap Reed dengan nada panik.
Pemandangan di sekelilingnya tampak samar, cahaya putih terang membuatnya sedikit silau. Dia berusaha duduk, namun rasanya tubuhnya sangat lemah.
Zane mencoba mengingat peristiwa yang membawa dirinya ke titik ini, tetapi pikirannya masih kabur. Ia merasa terjebak dalam kekosongan, dan pertanyaan besar menggantung di benaknya.
"Apa yang terjadi?"
Reed menarik napas dalam-dalam, terlihat lega saat mendengar suara Zane.
"Anda pingsan, Tuan. Ini pertama kalinya dalam 19 tahun hidupmu. Mereka membawamu ke sini untuk perawatan."
Zane berusaha untuk duduk, melihat para prajurit yang mondar-mandir diluar, menunggu panggilan.
"Aku tahu aku pingsan, Reed." katanya, dengan nada lembut sedikit ditekan.
"Aku tidak amnesia."
Seketika kebisingan pun menghilang. Semua prajurit tutup mulut.
Reed menatapnya dengan prihatin. "Tuan, bahkan, pria terkuat pun bisa terjatuh. Tapi ini mungkin lebih dari sekadar kelelahan fisik. Terkadang, tekanan emosional bisa sangat mempengaruhi tubuh."
Zane menggigit bibirnya, merasakan kepahitan dalam hatinya. Dia merasa Reed kali ini berkata benar.
Zane tidak pernah merasa lemah seperti ini sebelumnya. Hanya menembakkan peluru saja bisa membuatnya pingsan?
"Itu karena Anda kelelahan. Stres yang Anda alami.."
Zane melihat ke atas, matanya dingin. Memberi Reed tanda untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
"...sangat berat, Tuan" jawab Reed ragu-ragu. Tangannya bergetar menyodorkan nampan yang berisi pil berbentuk oval dan segelas air kepada Zane.
"Saya kira.. Anda harus meminum ini, Tuan. Dua butir dalam dua puluh empat jam."
Zane langsung meraihnya lalu memakan pil itu. Ia tidak perlu minum, bahkan langsung mengunyahnya dengan cepat.
Setelah rasa sakitnya sudah sedikit hilang, Zane kembali menyenderkan kepalanya ke ranjang. Ia benci kelemahan, ia benci merasa kotor. Ia perlu membersihkan diri.
"Aku tak bisa berada disini," ujarnya, lebih pada dirinya sendiri. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. "Aku akan berada di kamarku dan menemuimu di ruang pertemuan dalam waktu empat jam."
"Tapi Tuan," katanya, mata Reed tertuju padaku, "Disini medis akan membantumu. Anda juga harus memberi diri sendiri sedikit waktu untuk pulih. Ini adalah-"
"Komando selesai."
Dia ragu-ragu.
Lalu, "Baik, Tuan."
Reed membantu Zane untuk berdiri dan mengantarnya ke keluar dari ruang perawatan.
Pintu terbuka, dan aroma dingin menyapa wajahnya.
Zane akhirnya sampai di kamarnya yang luas dan megah.
Nuansa didalamnya hitam legam, dan ada beberapa perabotan seperti meja besar dari kayu eboni berdiri di tengah, dikelilingi layar monitor dan rak buku strategi yang tampak tak tersentuh. Ranjang hitam rapi di sudut ruangan yang terasa asing, seolah tak pernah digunakan untuk beristirahat.
Kamar itu sangat dingin. Mencerminkan hati pemiliknya yang kosong dan hampa, seolah-olah kebesaran jabatannya tidak mampu mengisi kehampaan yang ada dalam dirinya.
Zane masuk ke kamar mandi, menyalakan shower. Ia mengusap wajah, dan menggosok lehernya, melawan kelemahan yang ia rasakan di tiap tulangnya.
Mandi selalu menjadi ritual Zane, saat di mana ia merasa bisa membersihkan semua kotoran dan dosa yang mengikutinya. Saat air hangat mengalir, Zane merasakan beban di bahunya sedikit berkurang.
Setiap tetes air seolah menghapus jejak-jejak kejahatan yang telah ia lakukan. Ia mengingat wajah-wajah orang yang ia bunuh, dan rasa bersalah itu membanjiri pikirannya. Zane menutup matanya, membiarkan air menutupi wajahnya, berharap bisa melupakan semua yang telah terjadi.
Tetapi tiba-tiba, shower yang ia gunakan macet, dan lampu di kamarnya padam, Zane menarik napas dalam-dalam, baru saja ingin mengumpat akan tetapi..
KRINGGGGG
Ia mendengar interkom berbunyi.
"Demi tuhan.."
Dengan kasar Zane menutup handuk di pinggangnya dan bergegas keluar, air masih menetes dari rambutnya.
"Ya?"
"Tuan,"
"Katakan padaku, kau belum memanggil teknisi untuk memperbaiki saluran air di kamarku," suaranya terdengar tegas meski baru selesai mandi.
"Tuan, maaf... Kita butuh Anda sekarang," kata Reed, suaranya terdengar mendesak. Jantung Zane mulai berdegup. "Ada laporan penting. Sepertinya sesuatu baru saja terjadi."
Reed selalu tahu bahwa jam-jam ini adalah jam privat untuk Zane. Semua orang disini tidak akan ada yang berani menggangu, terkecuali jika ada panggilan seperti ini. Bisa berarti sesuatu yang serius.
"Aku akan segera datang," jawabnya sebelum meletakkan gagang interkom.
Saat keluar dari kamar Reed ternyata sudah menjemputnya, mereka berdua bergegas menuju lokasi tim yang memberi laporan. Ternyata laporan itu berasal dari ruang intel. Reed membukakan pintu, suasana kacau langsung menyambutnya.
"Apa yang terjadi... hingga aku harus mengorbankan waktu mandiku yang berharga?"
Tatapan Zane menyapu seluruh ruangan.
Tak bisa disembunyikan lagi jika semua orang disana langsung terpaku. Zane berkacak pinggang di depan pintu dengan ekspresinya yang begitu tenang.
"Lanjutkan pekerjaan kalian! Aku hanya butuh seseorang yang bertanggung jawab disini datang padaku!" bentaknya, suaranya dalam dan tegas.
Mereka kembali bekerja. Telepon berdering tiada henti, suara teriakan dan perintah saling tumpang tindih, menciptakan simfoni panik yang mengerikan.
Di tengah semua itu, Dr. Asher yang sedang berdiri di depan monitor, langsung kaget dan berlari ke arahnya, wajahnya tampak sangat ketakutan.
"Pak.., mohon..mohon maafkan saya!" serunya, suaranya serak. Napasnya ngos-ngosan.
"Ada sinyal energi yang mengacaukan sistem kami."
Zane mengangguk, matanya tajam meneliti situasi. "Kumpulkan semua data yang bisa kita dapatkan. Kita butuh informasi yang jelas."
Dr. Asher mengangguk, segera memerintahkan anggota timnya untuk bekerja. Zane bisa merasakan ketegangan di udara, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan.
Finn, salah satu anggota tim, melangkah maju. "Kami tidak tahu, Pak. Tetapi setengah jam yang lalu ledakan terdengar dari luar. Tim patroli terputus dari komunikasi."
"Sistem komunikasi kami lumpuh total," lanjut Dr. Asher, nada suaranya penuh kecemasan.
"Ledakan kedua terjadi lagi tidak jauh dari pangkalan, dan itu membuat semua terputus. Kami bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan tim patroli!" Seseorang menambahkan.
Satu per satu, anggota tim berusaha menanggapi telepon yang terus berbunyi. Zane merasakan ketidakberdayaan mulai menjalar di dalam dirinya.
"Panik bukanlah pilihan! Kita harus segera ke lokasi ledakan. Tim ini membutuhkan pemimpin, bukan ketakutan."
Zane merasakan ketidakpastian mengintai. Ini sangat aneh.
Dia pun memandang Reed. "Tetap di sini dan awasi komunikasi. Jika ada yang mencurigakan, laporkan segera."
Reed mengangguk, sementara Zane berlari keluar dari ruangan. Setiap langkahnya penuh ketegasan, mengabaikan rasa cemas yang merayapi pikirannya.
Suara sirene yang menggema. Asap hitam membubung, dan api berkobar. Terlihat lima orang prajurit membidik senjatanya dari kejauhan. Dan prajurit lainnya berusaha mengatur diri, mereka berjalan pelan menuju sumber cahaya yang misterius.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Ketika Zane berusaha menstabilkan situasi, cahaya itu semakin terang di kejauhan. Tiba-tiba sebuah getaran mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Zane merasakan dorongan energi yang kuat, dan seketika, rasa was-was membanjirinya..
"Tank baja!"
"Bersiaplah!" teriaknya, meskipun suara itu tenggelam dalam keributan.
BAMMMMM!
Ledakan kecil mengguncang tanah, dan debu menyelimuti sekeliling. Zane hampir terjatuh, berjuang untuk stabil. Ia melihat sekelebat bayangan bergerak menuju mereka dari arah cahaya.
Zane mengambil langkah maju. "Siapa disana?!" teriaknya, tidak ada jawaban yang datang.
Malam itu masih diselimuti ketegangan saat Zane menatap sosok yang baru saja muncul. Reed melangkah maju, siap untuk bereaksi jika sesuatu terjadi. Namun, Zane mengangkat tangannya, menghentikan mereka.
Ada kilatan di matanya, tanda bahwa sosok ini bukanlah ancaman langsung-setidaknya, bukan untuk saat ini.
Sosok itu mendekat, wajahnya kini terlihat jelas. Dengan rambut yang berantakan dan senyuman licik, siapakah dia?
Dalam hening yang menyelimuti, rasa cemas terus menyergapnya, ia merasakan ancaman yang lebih besar semakin mendekat. Dengan perasaan terombang-ambing, Zane tahu satu hal: semua ini baru permulaan, dan ancaman yang mengintai di balik bayang-bayang belum terungkap.
"Kau masih hidup ternyata," kata Zane sambil menjatuhkan senjatanya. Ia menyilangkan tangan di dadanya, suaranya dingin namun ada kehangatan samar di baliknya.
Itu adalah sahabatnya, Kai. Yang tampak lebih ceria dari yang Zane ingat. Meskipun aura liciknya tak pernah hilang, dia selalu berhasil dengan ide-idenya yang brilian.
Kai menyeringai lebar. Ia berjalan mendekati Zane sambil tangan terangkat keatas.
"Sial, Zane! Kalian benar-benar ketinggalan berita. Aku baru saja menghabiskan waktu di tempat yang lebih menarik daripada markas kakekmu itu. Sungguh, suasananya membosankan!"
Reed menodongkan pistolnya ke arah kepala Kai. "Maaf, Tuan. Dia adalah orang yang menyebabkan semua ini terjadi. Apa kau mengenalnya?"
"Singkirkan tanganmu sekarang, Reed," potong Zane, tanpa meninggalkan ruang untuk penolakan.
Kai hanya menyeringai lebar, mata hitamnya berkilau nakal. "Oh, aku hanya ingin memastikan kau masih ingat bagaimana caranya menghindar dari ledakan tank."
Zane mendengus, tidak bisa menahan senyum yang perlahan muncul di wajahnya.
"Dasar, bajingan," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Aku seharusnya tahu ini kerjaanmu."
Reed, yang masih menodongkan senjata, tampak bingung. "Tuan, orang ini... dia-"
"Turunkan senjatamu, Reed," Zane memotong tegas, sambil melangkah maju. "Dia temanku... meski menyebalkan setengah mati."
Reed menurunkan pistolnya perlahan, masih dengan raut wajah tak percaya. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau dia-"
"Tinggalkan kami," Zane menyuruhnya dengan nada dingin, meski tidak ada kemarahan dalam suaranya. "Aku akan bicara dengan si bajingan ini sendiri."
Reed dengan cepat menyelipkan senjatanya kembali, menunduk hormat, dan pergi dengan cepat, begitu pula para prajurit lainnya meninggalkan Zane dan Kai sendiri di tempat itu.
"Hei, bisakah kau membawaku ke dalam? Atau kau akan kehilangan sahabatmu yang berharga ini karena mati membeku."
Zane memandang Kai seperti orang itu adalah serangga. Ia pun mengajak Kai kembali, auranya dingin namun ada kehangatan samar di baliknya.
"Jadi, apa yang kau dengar kali ini?" tanya Zane, menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap sahabat lamanya.
Kai berdiri sambil membersihkan debu yang jelas-jelas tidak ada dari pakaiannya. "Cukup untuk tahu kalau kau masih suka bermain api, Zane. Tapi tenang saja, rahasiamu aman bersamaku... seperti biasa."
Kai meraih satu kursi dan duduk dengan kedua tangan dibelakang kepalanya. "Jadi, maafkan aku jika sebenarnya, aku hanya mencari kesenangan di istana kecilmu tadi." Kai terkekeh, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
Tanpa peringatan, Zane melesat maju, mencengkeram kerah baju Kai dan mengangkatnya dengan mudah. Tubuh Kai yang ramping terangkat dari kursi, sementara senyum di wajahnya masih belum luntur.
"Kau mengganggu waktuku yang paling berharga," gumam Zane, matanya menyala penuh kemarahan.
"Listrik dan air mati, seluruh pangkalan berantakan, dan kau di sini tersenyum seperti tidak ada yang salah!"
"Tunggu, apa maksudnya?-" Kai menatap bingung sahabatnya itu. Dia memang menembak tank itu, tapi kalau soal mematikan seluruh sumber daya, itu bukan gaya bercandanya.
Kai terbatuk-batuk, lehernya mulai sesak. "Hei, hei! Itu... bukan aku!" Kai menepuk-nepuk tangan Zane yang semakin mencengkramnya hingga ia sulit bernapas.
"Turunkan aku, oke? Jangan langsung menyalahkanku!"
Zane menatapnya tajam, melepaskan cengkramannya, emosinya melonjak. "Kau yakin? Kau selalu punya cara membuat segalanya jadi berantakan. Apa kali ini ulahmu juga?"
Kai mengangkat kedua tangannya yang masih bebas, ekspresinya mendadak serius meski sedikit bingung. "Serius, Zane. Kali ini bukan aku. Maksudku, aku bersumpah aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu."
Zane mengernyit. Ada sesuatu yang aneh dalam situasi ini. Kai memang terkenal usil, tetapi mematikan seluruh sistem pangkalan? Itu bukan sifat Kai. "Jadi kau bilang, semua ini kebetulan?"
Kai mengangguk cepat, meski masih tergantung di udara. "Aku bahkan merasa aneh. Sumpah, aku hanya iseng membuat ledakan di hutan. Tiba-tiba, semuanya kacau balau begini."
Zane melepaskan genggamannya perlahan, membiarkan Kai kembali berdiri di tanah. Emosinya mulai mereda, tetapi kecurigaannya belum hilang sepenuhnya. "Kalau bukan kau, lalu siapa? Apa ada sabotase?"
Kai menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah bajunya yang kusut. "Itu pertanyaan bagus."
"Dan kalau aku boleh jujur, ini mulai bikin bulu kudukku merinding... Aku merasa ada yang aneh di sini, lebih dari sekadar lelucon kecilku."
Zane memandang ke sekitar, memikirkan kemungkinan lain. Kalau ada yang mencoba sabotase markas, ini jauh lebih serius. Zane harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini.
Kai menyenggol tangan Zane, seakan tahu apa yang sedang dipikirkannya. Kali ini tanpa senyuman tengil.
"Aku ikut. Meski aku usil, aku tidak ingin kita kena serangan dari dalam."
Zane mengangguk, meski dalam hati masih setengah ragu. Tapi satu hal pasti: ada ancaman yang lebih besar dari sekadar ulah Kai yang biasanya.
Kai mengerutkan kening, lalu sebuah pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya. "Zane... apa mungkin ini ulah ayahmu?"
Zane tampak bingung sejenak, tetapi cepat-cepat menepis pikiran itu. "Marcus? Untuk apa dia melakukan hal semacam ini?"
Kai menyeringai. "Yah, kau menolak perjodohan yang dia atur, kan? Mungkin dia sedikit... kesal dengan keputusanmu?"
Pembicaraan pun tiba-tiba teralihkan. Zane membuang wajahnya dari Kai dan menatap jauh ke depan, menyadari bahwa mungkin saja ia punya titik terang di sini.
Perjodohan dengan Elara, putri Dewan Menteri, adalah hal yang dipaksakan oleh ayahnya, dan Zane telah menentangnya habis-habisan. Marcus bukan tipe orang yang akan diam saja jika kehendaknya tidak diikuti.
"Dia tidak akan sampai sejauh ini..." gumam Zane pelan, tetapi dalam hatinya, ia tahu betapa keras kepala ayahnya bisa menjadi.
Kai menyilangkan tangan di dadanya, sekarang mulai menikmati situasi ini. "Well, kalau kau bisa menentang Marcus Thorn, aku yakin dia bisa mematikan listrik dan air hanya untuk mengganggu hari-harimu."
Zane menghela napas panjang, masih kesal, tetapi sekarang amarahnya teralihkan. "Ini tidak masuk akal. Ayahku menginginkan kekuasaan, bukan balas dendam kecil seperti ini."
Kai tertawa kecil. "Ayolah, Zane. Kau tahu, ayahmu yang menyebalkan itu. Aku nggak pernah suka dia. Dan kau melawan dia, kan? Baginya, ini mungkin hanya cara halus untuk mengingatkanmu tentang siapa yang sebenarnya berkuasa. Dan jangan lupa, dia masih ingin kau menikah dengan Sersan Elara."
Zane menggertakkan giginya, pikirannya bercampur aduk antara kemarahan pada ayahnya dan ketidaknyamanan tentang situasi perjodohan itu. "Aku sudah bilang, aku tidak akan menikahi seseorang yang tidak kucintai. Aku bukan lagi pion yang bisa diatur begitu saja."
Kai terdiam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak sampai bahunya bergetar.
"Ini benar-benar konyol." Kai menggelengkan kepala. Zane memutar matanya, menyesali kata-kata yang telah keluar dari mulutnya.
"Seharusnya aku yang dijodohkan dengan seseorang yang lebih menarik, bukan dirimu."
"Ini bukan lelucon," Zane menjawab dengan nada serius. "Dia menganggap cinta adalah kelemahan. Dia hanya memikirkan kekuasaan dan kontrol."
Kai tersenyum sinis. "Kau tahu, Zane, aku tidak menyangka kau bisa memahami cinta. Bukankah itu hanya untuk orang-orang lemah? Seperti, ya, katakanlah, manusia biasa?"
Zane menatapnya tajam. "Cinta bukan kelemahan. Aku ingin hidupku sendiri, bukan hanya menjadi pion dalam permainan ayahku."
"Aku mengerti," kata Kai, mengangguk. "Tapi, apakah kamu akan melawan seluruh sistem hanya untuk seorang sersan?"
Zane menggelengkan kepala, ekspresinya menunjukkan rasa frustasi. "Sebenarnya aku tidak ingin berperang melawan dia. Ini bukan hidup yang kuinginkan. Aku harus menemukan cara untuk membatalkan perjodohan ini, tanpa membuatnya semakin marah."
Kai berpikir sejenak, bibirnya tersenyum tipis. "Kau selalu terlalu baik, Zane. Baiklah, aku punya satu ide." Dia mendekatkan wajahnya ke arah Zane, matanya berkilau penuh misteri. "Tapi kali ini... ideku ini benar-benar jenius."
Zane mengangkat alis, menatap Kai penuh tanya, menunggu penjelasan lebih lanjut.
Namun sebelum Kai sempat membuka mulut, suara pintu berderit terdengar dari luar, dan langkah-langkah kaki mendekat.
Kreeekkk..
Tok, tok, tok.
Zane dengan cepat meluruskan postur tubuhnya, bersiap menghadapi orang yang masuk.
Kai, dengan senyum penuh teka-teki, hanya berkata, "Kau akan berterima kasih padaku nanti, Zane. Tapi untuk sekarang... kita biarkan ini jadi rahasia kecil kita."