Bab 1

"Pergi! Ayo cepat pergi!"

Radit melempar tas ransel berisi pakaian ke arah Dian dengan wajah memerah. Wanita yang baru saja datang itu heran dengan perlakuan suaminya yang seketika berubah.

Di ambang pintu telah berdiri seorang wanita dengan pakaian kurang bahannya, ia menatap sinis dengan bibir menyeringai.

"Mas, kamu tega usir aku yang lagi hamil anak kamu?"

Dian mengiba, berharap masih ada secercah rasa kasihan di hati suaminya, setidaknya untuk calon anak mereka yang saat ini berusia delapan bulan di kandungan.

"Aku gak peduli, dia bukan anakku, dia anak hasil perselingkuhan kamu sama laki-laki itu, cih! Tak sudi memungut anak haram itu."

Radit murka lalu masuk ke dalam rumah membuat mata Dian membulat seketika lantaran ketidakpedulian suaminya.

Radit nampak marah besar, urat-urat di lehernya menonjol, bahkan sebelum pergi ia tega meludahi Dian. Sementara Raya dan ibunya menatap sinis ke arah Dian, mereka tersenyum menyeringai melihat penderitaan wanita hamil itu.

Dada Dian terasa sesak diperlakukan hina oleh suaminya sendiri, suami yang dulu berjanji akan selalu melindungi dan mencintai sepenuh jiwa.

"Silakan pergi, jangan ganggu suamiku lagi!"

Kali ini Raya bicara sembari menyilangkan kedua tangan di dada.

"Dian, anak haram kayak kamu itu cuma bisa jadi ibu dari anak haram juga."

Indira ikut menimpali, Ibu kandung Raya itu tersenyum sinis.

"Kalian dengar, saya bukan anak haram. Satu lagi, anak yang saya kandung ini anak biologis Mas Radit," sergah Dian membela diri, "justru anak di dalam kandungan Raya yang entah siapa ayahnya," balas Dian sinis.

"kamu!"

Raya mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke arah pipi Dian.

"Apa? Mau tampar, tampar silakan!"

Dian mengancam, ia sama sekali tak gentar oleh layangan tangan sepupu pengkhianat itu, justru Dian mendekatkan pipinya ke arah Raya untuk menantang emosinya. Wanita itu sudah muak dengan semua keangkuhan mereka.

Dian melangkah pergi meninggalkan rumah dan suami yang selama ini menemani, wanita itu berjanji akan mengambil semua hak-haknya, tak mau lagi diinjak-injak oleh mereka, Dian tak boleh terus mengalah, ini saatnya Dian harus bahagia, catatan kelam kehidupan harus berganti dengan catatan kebahagiaan.

Raya adalah sepupu Dian dan Indira adalah adik kandung dari ibunya, tetapi dari dulu mereka tak pernah menyayangi Dian laksana keluarga.

Bahkan saat Nenek Dian masih ada pun wanita malang itu selalu dibedakan oleh mereka. Sementara ibunya lebih memilih menjadi istri kedua laki-laki lain dan meninggalkan Dian, sedangkan ayahnya entah siapa. Ibu kandung Dian melahirkan tanpa ikatan pernikahan dengan lelaki manapun. Membuat hidup Dian terhina dan tak punya harga diri.

Dian berjuang menempuh pendidikan tinggi lalu dipersunting oleh Radit, pemilik perusahaan material bangunan yang memiliki beberapa cabang di negeri ini. Hidup keduanya rukun dan bahagia, tetapi semua berubah saat Raya dan Indira kembali hadir dalam kehidupan Dian.

Nasi sudah menjadi bubur, kebaikan Dian pada Raya dan Indira tak pernah berarti di matanya, mereka bak singa peliharaan yang memangsa tuannya. Kini Dian tak lagi mau dibodohi mereka, pengusiran ini sudah cukup menjadi penghinaan perih yang menghunus jiwanya.

Dengan berat hati Dian melanjutkan perjalanan sambil mengelus perut yang semakin membuncit, berjalan tak memiliki tujuan, seketika bayangan kelam masa kecil berkelebat di benaknya bagaikan slide film yang tengah dipertontonkan.

"Nek, tadi Dian dikasih sate sama Om Damar," ucapnya dengan mata berbinar.

Dian bahagia karena bisa menikmati makanan mewah bersama-sama dengan orang yang ia sayang.

"Wah, wanginya enak banget," ucap Raya yang tengah asyik menonton TV, ia segera berlari ke arah Dian lalu mengambil satu tusuk sate dan memakannya dengan lahap.

"Raya, aku juga belum makan, kita barengan ih," kata Dian pada Raya saat ia mengambil lagi satu tusuk padahal di tangannya sudah habis satu tusuk.

"Pelit amat sih kamu Dian, timbang makanan begini doang, Ayah sama Bunda aku juga bisa beliin banyak kalau mereka pulang nanti," balas Raya kecil dengan sombongnya.

"Iya kamu ini Dian, begitu saja pelit, barengan lah makan itu."

Nenek menimpali tanpa melihat wajah Dian. Bukannya membela, wanita tua itu pun malah ikut menyalahkannya.

Nenek Dian berjalan mendekati mereka yang tengah rebutan sate, lalu Nenek memberikan dua tusuk sate pada Dian, sisanya sang Nenek berikan pada Raya.

"Sudah, kamu dua saja, sisanya buat Raya."

Nenek memberikan sisa sate yang Dian hitung masih delapan tusuk itu pada Raya.

Hati Dian kecil sangat sedih, padahal Om Damar memberikan sate itu untuknya, tapi saat dibawa pulang Dian hanya boleh makan dua tusuk saja.

Dian tak berani melawan meski ia ingin melawan, gadis kecil itu membawa dua tusuk sate dan piring nasi ke dapur, hatinya kian sakit karena selalu dibedakan oleh Nenek.

Dian menyuap nasi dan sate ke dalam mulutnya dengan air mata yang tak mampu terbendung, bukan karena sate yang diberikan kurang, melainkan karena perlakuan sang Nenek yang kerap pilih kasih.

Setiap hari pun Dian tak pernah diberi jajan oleh sang Nenek, sedih rasanya jika waktu istirahat di sekolah semua temannya jajan, sedangkan Dian hanya minum air putih yang dibawa dari rumah menggunakan botol bekas air mineral.

Tapi Dian cukup tahu diri, ia tak pernah meminta uang jajan pada Neneknya saat wanita tua itu memberi uang jajan pada Raya, karena Dian sadar tak memiliki orang tua yang menitipkan uang jajan pada sang Nenek. Kadang sesekali ada orang baik yang memberinya uang sehingga bisa jajan es atau cilok seperti teman lainnya.

"Dian, nih cuci piringnya."

Raya melempar piring plastik bekas makannya ke arah Dian.

Sang Nenek hanya melirik sekilas saat Raya memperlakukan Dian bagai pembantu, tak menegurnya atau membelanya. Dian tahu, Neneknya pasti tak berani menegur Raya, karena pasti sang Nenek akan dimarahi habis-habisan oleh Indira. Ibu kandung Indira itu tak berani menegur anak keduanya karena hidupnya ditanggung oleh Indira.

Pembagian raport kenaikan kelas enam masih setengah jam lagi, Dian bermain dengan temannya yang lain, tapi lagi-lagi gadis kecil itu memilih bermain sendiri saat temannya hendak jajan. Malu jika ikut mereka sedangkan Dian tak punya uang, takut disangka celamitan.

"Ma, baksonya enak banget, terima kasih ya sudah belikan Raya sama teman-teman bakso, Mama baik deh."

Sepupu Dian itu bergelayut manja di pundak ibunya. Sementara Dian menoleh ke arah pedagang bakso keliling saat mendengar sumber suara yang tak asing di telinga, ternyata di sana ada Indira yang sedang membelikan Raya dan teman-temannya semangkuk bakso, Raya dan teman-temannya terlihat begitu bahagia.

"Kok Tante Indira gak beliin aku ya, padahal aku keponakannya sendiri," gumam Dian pelan, hatinya sakit melihat Tante sendiri mentraktir orang lain, sedangkan dirinya tak dihiraukan, padahal Indira melihat Dian mematung seorang diri saat ditinggal teman-temannya jajan tadi.

"Dian, sini!"

Indira memanggil, gadis kecil itu segera berlari ke arahnya yang masih menikmati semangkuk bakso, mungkinkah Dian hanya terlalu terbawa perasaan, pasti Indira kasihan melihat keponakannya tak jajan, wanita itu pasti akan membelikan Dian semangkuk bakso juga. Dengan perasaan bahagia gadis kecil itu menghampiri mereka sambil berlari.

"Iya Tan, kenapa?" tanya Dian dengan wajah berbinar, berharap Indira akan memesankan bakso untuknya.

"Kamu mau?" tanya Indira, membuat mata Dian semakin berbinar bahagia.

"Iya mau, Tan." Dian mengangguk cepat.

"Nih...." Indira menyodorkan mangkuk yang hanya tersisa kuahnya saja.

"Apa ini, Tan?" tanyanya heran.

"Katanya mau, nih makan."

Indira menaruh mangkuk berisi kuah ke atas tanah, kebetulan mereka makan bakso dengan duduk di atas matras, karena matras itu penuh oleh teman-teman Raya, maka Indira menaruh mangkuknya di atas tanah.

"Tapi ini tinggal kuahnya saja Tan."

Dian protes sambil menatap mangkuk berisi kuah.

"Iya memang, tapi kuah juga enak kok, bisa makan kuah bakso saja harusnya kamu bersyukur, jarang kan makan bakso?"

Meski bertanya, tetapi perkataan Indira terdengar seperti ledekan di telinga Dian. Karena rasa lapar yang mendera, terpaksa Dian menerima pemberian dari Indira.

"I_iya Tan, terima kasih ya," balas Dian lalu melahap kuah bakso, dengan sekuat tenaga menahan air mata agar tak tumpah.

Beeeepp ... beepp....

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Dian tentang kepedihan masa kecilnya bersama dua mahluk berhati iblis. Hampir saja wanita hamil itu terjungkal saking kagetnya.

"Eh Bu, jalan jangan ke tengah-tengah dong, mau mati apa?" hardik pemilik mobil itu.

"I_iya, maaf Pak," jawab Dian dengan perasaan bersalah.

'Ya Allah, aku harus ke mana sekarang?'

Dian bergumam dalam hati sembari menatap langit yang kian gelap, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

"Kenapa Raya dan Tante Indira selalu jahat dan tak pernah bisa melihatku bahagia? Kenapa mereka selalu menghancurkan kebahagiaanku? Aku sudah berjuang keras untuk mendapatkan kebahagiaan dengan bersekolah tinggi dan mendapatkan suami yang mapan, tapi lagi-lagi Raya datang menghancurkan semuanya dengan memfitnahku. Kenapa harus kamu, Raya?"

Dian berbicara sendiri sambil menangis.

"Mungkin saat ini kita kalah Nak, tapi kita gak boleh menyerah, kita harus membalas semua perbuatan mereka, mereka harus membayar luka masa kecil Mama, juga membayar luka karena telah merebut hak yang seharusnya milikmu."

Dian mengelus perut dengan lembut lalu menatap langit yang kian mendung laksana hati dan kehidupannya.

Meskipun perih, tetapi dia yakin akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada bahagia setelah air mata, badai akan sirna dan langit cerah akan membentang, wanita dengan perut buncit itu terus memberikan energi positif pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan dan bangkit.

"Lihat saja Raya, jika kamu anggap aku sebagai musuh, mari kita mulai permainan ini dan lihatlah siapa yang akan menangis nantinya."

Dian tersenyum sinis membayangkan rencana demi rencana yang akan ia jalankan untuk memberi pelajaran pada Raya dan Indira. Sementara tangannya mengepal kuat hingga uratnya menonjol.

Bersambung.

Bab 2

"Dian apa yang terjadi?" 

Meskipun bisa menginap di hotel, tetapi Dian lebih memilih pergi ke rumah Damar sebab masih ada hubungan kekerabatan dari jalur nenek. 

"Aku diusir Mas Radit, ternyata dia sudah menikah sama Raya, Om."

Dian menangis, sementara Nurul memeluknya erat dengan air mata mengalir. Istrinya Damar itu tak tega melihat Dian terluka. 

"Om gak ngerti, tolong ceritakan semuanya pelan-pelan, ya," titah Damar kemudian dijawab dengan anggukan oleh Dian. 

Beberapa bulan sebelumnya.... 

"Dian, tolong Tante sama Raya ya, kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi," rengek Indira dengan wajah memelas pada keponakannya. Pasalnya, rumah yang mereka tempati terbakar, entah apa penyebabnya. 

Indira dan suaminya yang bernama Adi juga sudah bercerai, ia tak kuat hidup susah karena menurut wanita itu tak ada kemajuan dalam bidang ekonomi. 

Pekerjaan Adi berjualan ketoprak, menurut Dian warung ketoprak mereka sering terlihat ramai, tetapi Indira seringkali merasa kekurangan karena gaya hidupnya terlalu tinggi, terobsesi menjadi ibu-ibu sosialita membuatnya kufur nikmat pada suami.

"Gimana ya Tan, bukannya Dian gak mau nolong Tante, tapi Dian gak bisa kalau Tante sama Raya tinggal di rumah ini, " jawab Dian sopan.

Setelah belasan tahun terlewati, wanita itu berusaha memaafkan kesalahan Indira. Namun, sebagai manusia biasa, Dian yang pernah sakit hati atas perbuatan Indira dan Raya merasa puas karena akhirnya mereka berdua membutuhkan pertolongannya. Dian yang sejak dulu selalu dihina oleh mereka, Dian yang katanya si anak haram dan tak berguna akhirnya menjadi tempat mengadu kala susah. 

"Di mana saja Dian, yang penting Tante sama Raya bisa berteduh," paksa Indira dengan wajah sedih.

Jauh dalam hati Dian ingin tak peduli pada mereka, tetapi walau bagaimanapun Indira adalah Tante kandungnya. Wanita itu juga pernah merawatnya meski dengan keterpaksaan atas wasiat Neneknya dulu. 

"Ya sudah Tan, aku cari kontrakan yang layak buat Tante sama Raya aja, gimana?" Dian memberi solusi.

"Kok kontrakan sih Dian? Kenapa gak tinggal di rumah kamu saja, kan rumah kamu besar, luas, mewah lagi."

Raya menimpali, wajahnya menampakkan raut kecewa. 

"Kamu mau aku tolong enggak?" tanya Dian sinis.

Kalau bukan karena menghormati Indira, Dian tak ingin membantu Raya yang di matanya tak tahu diri.

Hati Dian kesal, bukannya berterima kasih karena telah ditolong, Raya justru meminta tinggal di rumahnya. Bukannya apa-apa, hanya saja ia risih jika membawa Raya ke rumah, karena Dian dan Radit hanya tinggal berdua di sana, asisten rumah tangga hanya datang pagi dan pulang sore hari saja. 

"Gak apa-apa Dian, yang penting kami punya tempat tinggal, terima kasih sudah menolong kami ya." Indira melotot ke arah Raya, sepupu Dian itu menciut seketika. 

Satu bulan setelah menyewa kontrakan untuk Tante dan sepupunya, Dian berniat membawakan makanan untuk Indira, tetapi di perjalan terjadi insiden mengerikan.

Sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh Dian yang hendak menyebrang, akibat kecelakaan itu ia mengalami patah tulang di tangan dan kedua kaki, untung saja kehamilannya yang baru berusia tiga Minggu bisa diselamatkan.

Sejak kecelakaan itu, Dian dirawat dengan cekatan oleh Indira dan Raya, karena kasihan jika sepupu dan Tantenya harus pulang pergi untuk merawatnya, maka Dian meminta mereka untuk tinggal di rumahnya saja, terlebih sikap keduanya sangat manis dan membuat hati Dian terharu. 

Indira juga membantu membersihkan kotoran Dian yang kesulitan jika ingin buang air besar, wanita itu juga membantu merawat Dian yang tengah mabuk karena hamil muda. Patah kaki benar-benar membuatnya sulit beraktivitas.

Hati Dian luluh, dia menganggap mereka sudah berubah dan menolongnya dengan sangat tulus.

Tujuh bulan sudah masa-masa sulit terlewati, hanya saja kini Dian merasa Radit mulai berubah, lelaki itu sudah tak sehangat dulu, suaminya pun sudah jarang menemuinya di kamar meski hanya sekadar menanyakan kabar.

Selama tujuh bulan Dian tak pernah ke manapun dan hanya berdiam diri di dalam kamar. Beberapa bulan pertama Radit begitu perhatian, bahkan ia mendatangkan dokter untuk membantunya terapi, tetapi dua bulan belakangan ini Radit  jarang sekali ada waktu untuk Dian.

Sikap Radit berubah dingin, Dian berpikir apakah mungkin karena dirinya tak lagi mampu memberi nafkah batin? Radit seorang laki-laki, Dian sadar kalau lelaki memiliki kebutuhan yang harus disalurkan. Seketika hatinya tersayat ngilu membayangkan sesuatu hal buruk yang mungkin saja terjadi. 

Indira pun kini sudah tak perhatian seperti dulu dengan alasan mulai sibuk, bahkan yang mengurus Dian beberapa bulan terakhir adalah Bi Imah, pembantu baru yang dibayar oleh Radit untuk mengurusnya.

"Hati-hati Bu, pelan-pelan takut jatuh."

Bi Imah selalu membantunya untuk berjalan hingga kini mampu berdiri meski dengan tongkat penyangga di ketiak.

"Gak apa-apa Bi, aku sudah bisa jalan kok, aku kangen sama Mas Radit, aku mau ke bawah dulu ya, sudah lama sekali gak pernah ke bawah," ucap Dian dengan mata berbinar.

Dian bahagia kakinya sudah bisa digerakkan dan berjalan perlahan meski menggunakan tongkat penyangga. Wanita itu tak sabar ingin kembali menikmati udara segar setelah sekian lama terkurung di kamar, kamarnya berada di lantai atas dan selama sakit Dian tak pernah turun ke lantai bawah. Bahkan untuk sekadar duduk di kursi roda pun wanita itu tak kuat.

"Jangan Bu, jangan ke bawah," cegah Bi Imah, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. Wanita itu juga menautkan jemarinya penuh kegelisahan. 

"Kenapa Bi? Aku mau nyiapin sarapan buat Mas Radit, tolong bantu ya."

Dian berusaha berjalan mendekati anak tangga. 

"Tapi Bu...," sergah Bi Imah dengan wajah pucat.

Belum sempat Bi Imah melanjutkan perkataannya, Dian melihat sebuah adegan yang membuat dadanya kian terbakar di lantai bawah, Raya merapikan kerah baju Radit kemudian lelaki itu mencium kening sepupunya dengan lembut, sungguh pemandangan yang membuat hati Dian mendidih. 

"Apa-apaan mereka?"

Hati Dian dipenuh amarah. Sesak memenuhi rongga dada, jiwanya runtuh seketika, hatinya hancur lebur bagai dipukul palu godam.

Ingin rasanya wanita itu turun dan menghardik keduanya, tetapi sayang ia tak mampu, saat ini dirinya tak berdaya. Tak ingin dimarahi, Bi Imah segera membawa Dian ke dalam kamar. 

"Bi, kenapa mereka begitu dekat?" tanya Dian pada Bi Imah. Netra Dian memanas, tak terasa butiran kristal itu menitik di pelupuk mata lentiknya.

"Maafkan Bibi Bu, Bibi gak berani bilang sama ibu, sebenarnya Bu Raya dan Pak Radit sudah menikah dua bulan yang lalu," jelas Bi Imah sambil menunduk, raut wajahnya menyiratkan penyesalan.

Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Dian  terasa ngilu, tubuhnya limbung seketika, tak percaya jika lelaki yang selama ini begitu perhatian padanya dengan mudah meninggalkannya di saat terpuruk seperti ini. 

Baru saja kebahagiaan itu seperti membentang, kini kesedihan kembali menghalang. 

"Menikah?" tanya Dian lirih.

Pantas saja Indira sudah tidak mengurusnya lagi, atau jangan-jangan sedari awal ini memang rencana Indira dan Raya untuk merebut Radit darinya, pikir Dian.

Dian masih pura-pura sakit, hati wanita itu kian perih saat tiba-tiba saja Radit membuka pintu lalu mencium keningnya yang tengah berbaring. Dadanya bergemuruh hebat atas pengkhianatan yang dilakukan suaminya. 

"Mas, ke mana aja?" tanya Dian pura-pura tak tahu apapun.

"Aku sibuk sayang, maaf ya."

Radit mengecup jemari tangan Dian lalu mengusapnya, jika dulu Dian selalu bahagia diperlakukan seperti itu, tetapi kali ini perlakuan Radit laksana sembilu yang terus menguliti hatinya.

***

Hari terus berlalu, kini Dian sudah benar-benar sembuh. Pukul sepuluh pagi ia duduk di sofa, rumahnya nampak sepi karena Radit tengah keluar kota. Hari ini dirinya akan menunjukan bahwa ia sudah kembali sehat seperti semula.

Di waktu yang bersamaan, Raya dan Indira baru saja pulang joging sambil tertawa bahagia, di tangan keduanya penuh dengan barang belanjaan yang dibeli di taman.

Prok ... prok ... prok.... 

Dian bertepuk tangan lalu kembali menyilangkan tangan di dada saat mereka menyadari keberadaannya.

"Rupanya memang ini akal-akalan kalian untuk merebut hartaku?" tanya Dian sambil berdiri, kini dirinya sudah sehat sempurna dan tampil anggun.

"Dian?" gumam Indira dan anaknya berbarengan. Wajah mereka terlihat syok. 

"Kenapa Tante, kaget lihat aku sudah sehat?" tanya Dian dengan senyum menyeringai, wanita itu berpikir hari ini adalah mimpi buruk untuk manusia iblis itu, tanpa dia tahu hal buruk pun akan terjadi padanya.

"Bagus lah kalau kamu sudah sembuh, berarti kamu tinggal pergi dari rumah ini."

Bukannya malu, justru Raya bersikap sombong dan arogan. 

"Rumah ini milikku, jadi harusnya kamu yang pergi dari sini, benalu!"

Dian menatap nyalang dua wanita di hadapannya. 

"Kamu salah Dian, kamu sedang berhadapan dengan Raya, kamu yang akan keluar dari rumah ini, sebentar lagi Mas Radit akan usir kamu."

Bukannya takut dan merasa bersalah, wanita itu justru berbalik mengancam Dian.

"Mana mungkin Mas Radit usir aku?"

Dian melengos dan penuh percaya diri.

Raya dan Indira hanya tersenyum sinis, keduanya saling berpandangan setelah melihat roti dan susu yang tergeletak di meja makan sudah kosong. Entah kejahatan apa yang sedang mereka rencanakan.

Seketika kepala Dian terasa sangat berat, seingatnya tak salah makan apapun. Sejak sarapan tadi ia hanya minum susu dan roti saja. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka tahu Dian sudah sehat dan merencanakan sesuatu? Ah, dasar licik. Sedetik kemudian tubuh Dian limbung dan tak sadar apapun. 

Dian terbangun dan mengerjap-ngerjapkan mata agar pandangan terlihat jelas, namun betapa terkejutnya saat ada seorang laki-laki asing yang tidur di sebelahnya dengan hanya bertelanjang dada.

"Apa-apaan ini Dian."

Saat tersadar suara Radit mengejutkannya yang masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mata Radit memerah dengan tangan mengepal. 

"Jadi begitu ceritanya, Om benar-benar gak nyangka Indira segitu tega sama kamu Dian, kamu yang sabar ya," ucap istrinya Damar setelah mendengar semua cerita Dian. 

"Sebaiknya kamu tinggal saja di sini Dian, Om gak keberatan kok, sekalian nemenin Tante Nurul, kasihan sendirian terus karena Riri di luar kota," usul Damar.

"Andai saja dulu Dian gak nolong Tante Indira sama Raya, mungkin rumah tangga Dian masih baik-baik saja Om." Dian berkata lirih sembari menatap langit-langit.

"Iya Dian, yang berlalu biarlah berlalu, Gusti Allah enggak tidur, orang jahat mah insyaallah nanti juga dapat balasannya, dapat karma-nya," timpal Nurul sambil mengelus Dian.

***

Pagi sekali Dian pergi ke rumah Radit, ada barang berharga yang tertinggal di sana, kebetulan hanya tinggal mengambil saja karena sudah disiapkan oleh Bi Imah.

Bi Imah lebih memihak pada Dian, ia juga dengan suka rela membantunya mengumpulkan bukti kejahatan Indira dan Raya tanpa sepengetahuan mereka. Karena benar saja, fitnah terhadap Dian sudah mereka siapkan dengan sempurna waktu itu dengan cara menaruh obat di sarapannya.

Bi Imah juga bilang, kemarin ada tamu mencurigakan bertemu dengan Raya, Dian harus buktikan bahwa anak yang dikandung Raya bukanlah anak Radit karena ia sangat yakin Raya hanya menjebaknya. 

Sesampainya di rumah Radit, Dian melihat Raya sedang berbincang dengan seorang laki-laki, nampaknya mereka membicarakan sesuatu yang sangat serius.

Dian berusaha mendekati dan mendengar pembicaraan mereka dengan bersembunyi di bawah pohon rimbun yang menjadi pagar taman, namun pembicaraan mereka masih sulit untuk didengar dengan jelas sehingga Dian harus benar-benar fokus.

"Tenang Bu, kasus ini aman selagi ibu masih menuruti kemauan saya, saya sudah mahir menutupi kasus pembunuhan," ucap lelaki itu, ia mencium amplop coklat tebal yang diberikan Raya sambil berlalu.

"Apa pembunuhan? Astaghfirullah jadi Raya terlibat kasus pembunuhan? Siapa yang Raya bunuh?"

Mata Dian melebar, tangannya refleks menutup mulut lantaran tak habis pikir dengan apa yang barusan didengar, hatinya semakin tak karuan. Sebegitu jahat kah Raya sehingga terlibat sebuah kasus kriminal? 

Bersambung.

Bab 3

Raya berjalan memasuki rumah setelah seorang laki-laki misterius itu pergi, wajahnya terlihat seperti kebingungan dan tengah merencanakan sesuatu.

Dian gegas beranjak pergi agar Raya dan Indira tak melihatnya berada di sana, tetapi saat berdiri hendak meninggalkan tempat itu, seseorang justru mengejutkannya.

"Lagi apa kamu ngumpet di sini?"

Dian yang tengah berjongkok di antara pepohonan itu terkejut dengan pertanyaan Radit yang tiba-tiba.

"M_mm, a_aku cuma mau ambil dompet yang jatuh, Mas."

Dian melihat dompetnya terjatuh dan mengambil benda berwarna biru yang berada di atas tanah, dengan susah payah wanita itu  meraihnya sebab perutnya sudah semakin besar.

"Ya sudah, aku buru-buru mau mengambil berkas yang tertinggal."

Radit kian dingin dan tak peduli, meski Dian masih berstatus sebagai istri tetapi Radit sama sekali tak menghiraukannya, dia justru meninggalkan Dian begitu saja. 

"Mas, aku mau kita bicara."

Dian dengan cepat membuka suara, ia berharap Radit menghentikan langkah. Benar saja, lelaki itu berhenti dan berbalik ke arah Dian yang tengah berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tanpa malu Dian berusaha meraih tangan suaminya, ia ingin menjelaskan bahwa dirinya memang tak bersalah.

Namun, dengan tegas Radit melepaskan genggaman Dian di tangannya. Seketika rasa perih menjalari rongga hati Dian. Kini, di mata wanita itu Radit sudah benar-benar berubah, bahkan cintanya sudah hilang sehingga dengan mudah memercayai ucapan Raya dibanding penjelasan darinya.

Padahal, betapa Dian begitu mencintainya, bahkan ketika banyak laki-laki mendekatinya dulu, Dian tak pernah meladeni mereka demi Radit, demi setia padanya dan dia tahu itu.

Namun, Dian heran mengapa justru kini Radit dengan mudah percaya begitu saja pada ucapan Raya yang jelas-jelas hanya fitnah.

"Mas, tapi semua gak seperti yang kamu bayangkan, aku dijebak dan difitnah."

Dian berusaha terus menjelaskan kebenaran, tetapi Radit sudah terlanjur kecewa mengingat istrinya tidur dengan lelaki lain di rumahnya.

"Hebat kamu ya Dian, jelas-jelas kamu tidur bersama laki-laki itu dan sudah sering melakukannya, tapi  masih bisa mengelak ya."

Tiba-tiba Indira datang dan memperkeruh suasana, membuat Dian yang tak lagi dipercaya semakin tersudutkan. Hati Dian semakin jengkel dan benci pada Tantenya yang sama sekali tak berperasaan.

"Sudah Dian, aku buru-buru, hubungan kita akan berakhir di pengadilan," kata Radit sembari meninggalkan Dian.

Mendengar kata pengadilan hati Dian serasa hancur, wanita itu menatap nanar kepergian Radit.

"semudah itu kepercayaan hilang darimu, Mas?" bisik Dian pelan sembari menyeka butiran bening yang terus berjatuhan di pelupuk mata.

"Dian, masih berani kamu datang ke sini dan bertemu dengan menantu saya."

Indira berkata sinis sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Semua yang Tante dan Raya nikmati dari hasil curang gak akan berkah, akan ada saatnya kebohongan kalian terungkap."

Dian menarik napas dalam sembari menatap tajam manik hitam Tantenya.

Setelah melakukan perdebatan alot dengan Indira dan Raya, akhirnya Dian diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya, tetapi dengan waktu sepuluh menit saja.

Setelah selesai mengambil beberapa barang yang tertinggal, Dian pergi menutup pintu kamarnya, kamar yang penuh dengan kenangan indah bersama Radit. Kamar yang sebelumnya bagai surga yang menaungi cinta suci antara dia dengan suami tercintanya. Kamar yang menjadi saksi gelora asmaranya. Dian mengembuskan napas berat untuk menetralkan rasa perih di hatinya.

"Bi, ingat pesan aku ya, terus beri kabar apapun yang Bibi tahu tentang Raya."

Dian berbisik untuk memberikan pesan pada Bi Imah lalu dijawab anggukan olehnya.

"Sudah belum, jangan sampai ada barang-barang yang hilang ya."

Indira dan Raya berteriak keras dari lantai bawah. Sambil dituntun perlahan oleh Bi Imah Dian menuruni tangga dengan sangat hati-hati.

'Lihat saja Raya, kamu gak akan bisa terus menerus bahagia di atas penderitaan aku, perbuatan curang tidak akan pernah menang.'

Dian bergumam dalam hati saat meninggalkan halaman rumahnya yang diambil dengan cara curang oleh Raya. 

***

"Eh Dian sudah pulang, makan dulu yuk," ajak Nurul yang sedang menyiapkan makan siang.

Dian begitu terharu dengan perlakuan Damar dan Nurul yang begitu baik, sedangkan Indira dan Raya, keluarga kandungnya sendiri justru memperlakukannya laksana seorang musuh, tega merebut suaminya padahal kondisinya sedang hamil tua.

"Dian."

Nurul melambaikan tangan ke arah wajah Dian sehingga menyadarkannya dari lamunan.

"Eh, iya Tante, nanti Dian makan," jawabnya sembari memaksakan senyum.

"Kamu kenapa Dian?" tanya Nurul saat melihat wajah wanita itu nampak lesu.

"Tadi Dian ke rumah Mas Radit, terus gak sengaja dengar Raya lagi ngobrol sama laki-laki tentang pembunuhan," jawab Dian.

"Apa pembunuhan?" tanya Nurul kaget, matanya membulat saking terkejutnya.

"Iya, apa sebelumnya Tante Nurul pernah dengar kabar Raya dekat sama siapa, gitu?"

Dian sangat penasaran, ia berharap Nurul tahu informasi tentang Raya selama dirinya sakit atau bahkan mengenai masa lalu sepupunya itu.

"O ya, Tante pernah dengar kalau Raya pacaran sama bapak-bapak gitu, katanya sih pengusaha pabrik garmen di luar kota," jawab Nurul sembari mengingat-ingat informasi yang ia tahu.

"Bapak-bapak, maksudnya om-om suami orang kah?" tanya Dian memastikan.

"Tante gak tahu persis sih, soalnya cuma dengar gosip dari Bu Mirna yang punya warung di ujung gang sana saja, memang kenapa sih Dian, apakah ada hubungannya?" tanyanya lagi.

"Gak tahu sih, tapi Dian curiga dia membunuh ayah dari anak yang dikandungnya," kata Dian sembari terus berpikir tentang Raya dan ucapan lelaki itu.

"Apa yang membuat kamu begitu yakin?" tanya Nurul kemudian.

"Dulu aku pernah melihat testpack dari kontrakan yang Tante Indira dan Raya tempati sebelum terjadi kecelakaan. Saat aku sehat, Raya bilang sudah menikah dan hamil anak Mas Radit, aku gak yakin anak itu anak Mas Radit karena perutnya sudah membesar untuk ukuran hamil lima bulan." 

Dian berpikir tentang kronologi dan kemungkinan yang sebenarnya terjadi, sementara Nurul menyimak perkataan Dian dengan saksama lalu mengangguk tanda mengerti.

"Berarti Raya ngaku-ngaku hamil anak Radit biar dia bisa menikmati hartanya." Nurul menimpali.

"Bisa jadi iya, bisa jadi juga karena ada alasan lain," jawab Dian.

Suasana kini hening seketika, Dian dan Nurul hanyut dalam pikiran dan persepsi masing-masing.

"Tante, Dian pergi dulu ya."

Seketika Dian mengejutkan Nurul yang sedang tenggelam dalam pertanyaan demi pertanyaan di benaknya, tanpa menunggu persetujuannya Dian segera mencium punggung tangan Nurul lalu bergegas keluar rumah, membuat istri Damar itu semaki kebingungan.

"Kamu mau ke mana Dian?" tanya Nurul saat Dian sudah berada di ambang pintu.

"Mencari informasi tentang Raya, Tan."

Dian tersenyum lalu menutup pintu. Meskipun khawatir tetapi Nurul membalas senyuman itu dengan penuh keyakinan.

Tak lupa Nurul juga merapalkan do'a agar Dian baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Tuhan karena ia tahu lawannya adalah sepupu yang kini menjelma menjadi manusia berdarah dingin.

**

"Assalamu'alaikum, Bu."

Dian menyapa ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung sembako Mirna.

"Wa'alaikumsalam Neng, mau beli apa, ya?" tanya Mirna yang sudah lupa dengan Dian.

"Ini Dian Bu, cucunya almarhumah Nenek Khadijah," jawab Dian mengenalkan diri.

"Ya Allah Dian, kamu cantik banget sekarang sampai saya pangling lho," jawab Mirna dan ibu-ibu yang berada di warung berbarengan. Mereka menatap Dian yang memang sudah berubah menjadi wanita cantik dan elegan itu dari atas hingga bawah. Sementara Dian hanya tersenyum mendengar pujian mereka.

"Lagi hamil, suaminya gak ikut pulang?" tanya Mirna saat melihat perut Dian, tiba-tiba hatinya terasa sakit mengingat Radit yang sudah bahagia dengan Raya.

"Iya, suami Dian sibuk, Bu," jawabnya sembari tersenyum.

"Dengar-dengar suami Dian pengusaha sukses ya, Ibu bangga sama kamu, jangan kayak si Raya tuh mau aja jadi simpanan suami orang."

Mirna terkenal tukang gosip, terlebih hubungannya sejak dulu dengan ibunya Raya tak baik, sehingga senang sekali membicarakan aib keluarga Indira.

'Ini dia yang aku tunggu.'

Dian bergumam dalam hati, memang tujuan utamanya adalah menguak informasi tentang Raya dari Mirna tanpa dicurigai kalau sedang mencari bukti kejahatan Raya dan ibunya.

"Ah masa sih Raya jadi wanita simpanan Bu?" tanya Dian memastikan.

"Iya Dian, anak ibu yang kerja di hotel bilang kalau dia sering ketemu Raya, tidur bareng di hotel sama om-om itu," kata Mirna dengan gaya khasnya saat ghibah.

Dian hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Mirna yang menggebu-gebu dan penuh kebencian. 

"Tapi kata anak ibu beberapa bulan ini Raya gak pernah datang lagi, katanya sih pacarnya meninggal dibunuh selingkuhannya, terus parahnya lagi istri dari si laki-laki itu sekarang gila," jelas Mirna lagi.

"Hah? Kok begitu amat ya kelakuan Raya."

Dian terkejut kemudian tersenyum sinis, ia tak menyangka jika sepupunya memang sudah tak bermoral sejak lama.

"Ibu juga gak habis pikir Dian," balasnya lagi.

"Aku boleh minta nomor handphone anak ibu, gak?" tanya Dian kemudian.

"Boleh," jawabnya lalu mencatat nomor anaknya di ponsel Dian.

Dian membeli sekarung beras, minyak, telur dan beberapa camilan agar tak terlalu kentara bahwa kedatangannya hanya untuk menggali informasi, suami Mirna yang akan mengantarkan ke rumah Damar nanti.

"Totalnya tiga ratus lima puluh ribu, Dian," kata Mirna sembari meletakkan kalkulatornya.

Dian memberinya lima lembar pecahan seratus ribuan pada Mirna.

"Kembaliannya buat ibu saja ya," jawab Dian sembari meninggalkan warung sembakonya, Mirna menatap Dian tak percaya, Dian yang dulu sering ia hina kini sudah menjadi wanita yang tidak lagi kekurangan uang.

Meski Radit mengusirnya dari rumah, tetapi Dian sama sekali tidak kekurangan uang. Wanita itu masih memiliki tabungan di bank dan juga kontrakan yang ia bangun dengan hasil kerja kerasnya saat masih gadis. 

Dian selalu menyisihkan sedikit demi sedikit gaji dari kantor untuk diinvestasikan, selain itu ia juga pernah berbisnis skincare dan sukses sebelum akhirnya berhenti untuk mengabdi pada suami, karena ia tahu betul hidup kekurangan selalu dipandang sebelah mata.

***

Malam sudah semakin larut, tetapi mata Dian masih belum bisa terpejam, otaknya masih terus berkelana mencari cara untuk membalas semua perbuatan Raya dan Indira.

"Nak, maafkan Mama kalau nanti kamu lahir tanpa ada Papa di samping kamu ya,  Tante Raya jahat karena telah memfitnah dan menjauhkan kamu dari Papa."

Dian mengelus perut yang berdenyut lantaran ditendang begitu kuat oleh janin dalam rahimnya.

Dian tak mengapa jika Radit sudah tak peduli lagi padanya dan anaknya. Meski berat tetapi ia yakin akan mampu melewati semua ujian ini, ia juga bertekad untuk bisa hidup tanpanya, kesulitan hidup sedari kecil sudah membuat mentalnya matang.

Tuduhan Radit yang keji dan sikapnya yang acuh membuat cinta dalam hati Dian mati, harusnya lelaki itu mendengar penjelasan darinya jika memang masih mencintainya, seharusnya lelaki itu menjaganya saat ia sakit dan tak berdaya bukan malah selingkuh lalu menikah diam-diam dengan sepupunya.

Dian ingin membalas dendam pada Raya bukan semata-mata ingin Radit kembali. Namun, karena sudah banyak luka yang Raya dan ibunya torehkan dalam hati. Setidaknya Dian ingin memberikan pelajaran dan membuka kedok jahat mereka agar tak selalu mengusik hidupnya.

"Raya, saat ini kamu boleh tertawa bahagia, tapi aku akan mengatur strategi untuk menyibak semua kebusukan kamu. Aku bukan Dian yang dulu, bukan Dian yang selalu diam saat kau injak-injak," gumam Dian saat melihat foto mesra Raya bersama Radit yang diupload di sosial media.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED