Bab 1

“Orang miskin tidak perlu kuliah! Cukup kerja jadi kuli harusnya sudah bersyukur!”

Hahahaha!!!

Umpatan kasar dari segerombolan mahasiswa yang terkenal sebagai geng anak kaya tampak menertawai Adit; lelaki berumur 21 tahun yang mengenakan kemeja polos, hoodie berwarna biru muda dan celana denim lusuh. 

Puluhan pasang mata tampak menatapnya dengan hina. Ia disudutkan di depan kedai bakso yang ada di kantin salah satu fakultas dengan wajah penuh bekas pukulan. Tidak sedikit juga yang mengabadikan gambarnya melalui kamera yang mereka bawa sambil menertawai betapa konyolnya Adit menjadi badut anak-anak kaya. 

“Jangan berlagak sok pintar di kelas. Sudah kubilang untuk mengerjakan tugasku, tapi kau menolak. Dasar bedebah konyol! Kau pikir punya kesempatan untuk menolakku?” Sena tampak mencengkeram erat dagu Adit dengan satu tangannya. Matanya membulat tajam ke arah lelaki itu. 

“Bos, hajar lagi saja. Biar dia tahu siapa yang berkuasa di sini! Ini bukan kampus pemerintah. Ini kampus milik anggota keluarga Aswatama. Siapapun yang kuliah di sini harus tunduk sama Sena Aswatama! Ngerti?!” Daniel, selaku teman dari Sena berteriak ke seluruh mahasiswa yang hadir di sekitar situ.

Sena pun menyeret leher Adit dan menyuruhnya berdiri. Ia kembali memukul perut lelaki itu berulang kali hingga Adit jatuh terduduk. Kali ini darah segar keluar dari mulutnya. Ia juga merasakan perutnya begitu nyeri. 

“Wah-wah-wah! Ini dia si kutu buku yang katanya mau dapat IPK cumlaude. Mau pamer di tahun terakhir atau bertingkah bodoh? Bila sebelumnya kau membantu Sena mengerjakan tugas besarnya, kau tidak akan menderita seperti ini!” ucap Anna; kekasih dari Adit. 

“Ke … kenapa kau bersamanya?” Adit tampak bingung. Anna bahkan membelai rambut Sena dan duduk di pangkuan lelaki bedebah itu. 

“Oh, lihat! Ada yang mengeluh di sini. Kau yakin bertanya kenapa aku bersamanya? Jawabannya jelas, bukan? Karena dia adalah Sena Aswatama, salah satu anggota keluarga terkaya dan terpandang di negeri ini. Sedangkan kau? Kau itu cuma tikus di sampahan!” sindir Anna. 

“Ta–tapi kita sudah bersama selama satu tahun. Apa itu tidak ada artinya untukmu?” tanya Adit dengan mata berbinar. 

“Satu tahun ke belakang aku hanya memanfaatkanmu. Aku dekat denganmu hanya untuk mendapatkan bantuanmu mengerjakan tugas-tugasku. Dan aku tertolong. Terima kasih. Tapi sekarang, lebih baik kita putus saja. Lagipula, aku sudah bersama dengan Sena,” jelas Anna sambil mengecup pipi lelaki yang sedang memangkunya. 

Di saat itu, amarah Adit tidak lagi bisa terbendung. Kedua tangannya tampak mengepal erat. Dan urat-urat di lehernya terlihat begitu jelas. Dalam kepalanya, ia mengutuk Sena dan anak buahnya dengan 1001 keburukan di dunia ini. 

“Kurang ajar!” 

Dan ia pun meledak. Adit maju menghampiri Sena dan mengayunkan satu tinjunya ke arah wajah si ketua geng. Tapi Daniel menghentikan mahasiswa menyedihkan itu dengan menendang perutnya hingga membuat Adit terhempas ke belakang dan membentur kuali bakso besar. Semua yang ada di atas meja kedai bakso itu berjatuhan ke lantai dan mengguyur tubuh Adit. Untungnya si pedagang bakso baru saja ingin buka. Bila tidak, kuah panas bakso pasti sudah melepuhkan kulit lelaki itu. 

“Lihat! Betapa konyolnya sampah ini! Hei, Bung! Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku benar-benar memiliki niat untuk membunuhmu!” Sena tertawa kembali bersama teman-temannya. Tak lupa, para penonton lainnya juga ikut menertawai mahasiswa miskin itu. 

“Sial! Kenapa jadi begini!” ujar Adit dalam hati. 

Sekujur tubuhnya tampak sakit. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menerima penghinaan ini. Dengan wajah menunduk ke bawah, ia pun berdiri dan meninggalkan kantin fakultas dengan tubuh basah kuyup. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan ranselnya yang telah diacak-acak oleh anak geng itu. 

Dengan langkah tertatih-tatih, ia menyusuri lorong fakultas dengan air mata yang tertumpah di pipi. Sungguh ia menyesal telah berkuliah di kampus itu. Namun ia lebih menyesal karena telah dibohongi oleh perempuan yang menurutnya spesial. 

“Apa kau puas sudah mengacak-acak harga diri seekor tikus?” Tiba-tiba ada yang bicara dengan Sena dari arah mahasiswa yang berkumpul. 

“Oh, hai, sepupu. Kau baru mau masuk kelas? Kau pasti ketinggalan momen menyenangkannya. Salah satu temanku bisa mengirimkan video full-nya padamu.” Sena menyapa sepupunya yang sedari tadi menyaksikan dengan wajah gusar setiap detik apa yang dilakukan olehnya. 

“Jangan memegangku dengan tangan kotormu! Kau lebih hina dari kotoran itu sendiri!” Ucapan Hito Aswatama tampak menusuk. 

“Kau bilang apa?! Kau menyebutku seperti kotoran?!” Sena mulai gusar. Ia menarik kedua kerah kemeja Hito hingga lelaki berusia 21 tahun terangkat sedikit ke atas. 

Sayangnya, Hito tidak tinggal diam. Ia menendang perut Sena hingga lelaki itu melepaskan genggamannya. Hito juga mencekik leher Sena dan membantingnya ke arah kiri hingga lelaki itu terhempas di lantai. Sayangnya, Daniel, Anna dan beberapa anggota geng Sena tidak berkutik. Hito dikenal sebagai pewaris utama dari keluarga Aswatama. Ia disebut sebagai pangeran berdarah dingin di kampus. Tidak ada yang berani macam-macam padanya. Itu karena ia memiliki bodyguard setia yang selalu hadir di jarak aman untuk melindunginya. 

Dan kali ini, bodyguard milik Hito berada begitu dekat dengannya. Ia sama sekali tidak gentar dengan sepupunya beserta geng bodoh yang dibentuk Sena. 

“Hi–Hito! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” Sena mengulurkan tangannya ke depan seraya memohon agar sepupunya menghentikan hal itu. 

“Kau memukuli seorang mahasiswa sampai harga dirinya hancur. Dan sekarang aku akan mengajarkanmu bagaimana keluarga kita memberikan pelajaran bagi anggota keluarga yang telah mempermalukan keluarga besarnya!” Hito meminta kepada bodyguard-nya untuk memberikan pistol yang terselip di pinggang sang bodyguard. 

Hito mengokang pistol tersebut dan mengarahkan ujungnya ke wajah Sena. Sontak saja lelaki itu ketakutan hingga memohon kepada Hito. Seluruh anggota gengnya pun ikut bersujud di belakang Sena seraya memohon. 

“Ampun, Hito! Ampun!” Sena menutup kedua matanya seraya memohon. 

Ia tahu benar tentang Hito. Ia jauh lebih labil dibandingkan dirinya. Sena pernah sekali beradu tembak di lapangan tembak keluarga besar Aswatama yang ada di luar kota. Dan lawannya adalah Hito. Lelaki itu tak bergeming dalam adu tembak itu hingga ia mengalahkan Sena dengan skor yang tak masuk akal. Jadi, Sena tahu benar kalau Hito marah, ia pasti akan membunuhnya. 

“Bos, tolong hentikan. Banyak mahasiswa yang melihat. Bila berita ini sampai ke telinga Kakek Anda, maka Anda akan dalam bahaya,” ungkap John; bodyguard kepercayaan Hito. 

Dar!

Sebuah tembakan telah dilepaskan. Tapi tidak mengenai Sena atau teman-temannya. Hito sengaja melesetkan tembakannya ke arah pohon di belakang sepupunya.

“Ini adalah ultimatum untukmu. Bila kau masih bertingkah seolah memiliki kampus ini, aku tidak akan segan meminta Kakek untuk menutup tempat ini. Dan setelah itu, kau bebas berteriak-teriak di koridor kampus sepuasnya. Mengerti?!” teriak Hito. 

“Ba … baik, Pak!” jawab Sena dan para temannya. 

Setelah itu, Hito memberikan kembali pistol itu ke John. Ia pun segera mengambil ransel milik Adit yang tergeletak di lantai bersama barang-barang lainnya. 

Lalu Hito segera berlari meninggalkan John dan seluruh orang-orang di kantin untuk menyusul Adit yang saat ini tampak sedang berjalan sendirian di jalan utama kampus. Ia benar-benar hancur sekali lagi ketika banyak orang yang menghinanya di sepanjang jalan. 

Dan ketika ia hendak menyeberang jalan, Hito memanggilnya dari belakang. 

“Hei! Bocah kuah bakso!” teriaknya. 

Adit pun menoleh ke belakang. Ia tak tahu kalau yang memanggilnya adalah Hito Aswatama. 

“K–Kau?! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Adit. Matanya membulat besar. 

“Mengembalikan ranselmu. Apa perlu kuantar ke rumah sakit?” tanya Hito sambil memberikan ransel di tangannya. 

“Tidak perlu. Aku pakai obat warung saja.” Adit tahu siapa Hito Aswatama. Tapi ia memilih untuk menghiraukannya dan kembali berjalan. 

“Kuharap kita bisa jadi teman di tahun terakhir ini!” teriak Hito. Ia tersenyum kecil dan berharap ucapannya di terima oleh Adit. 

Di lain sisi, Sena yang mendapatkan hinaan luar biasa tampak menelepon teman-teman geng kenalannya. Ia meminta kepada mereka untuk membunuh Hito malam ini juga. 

“Buang jauh-jauh jasadnya ke tengah laut! Sisakan saja tangan atau kepalanya! Mengerti?!” teriak Sena di ujung telepon.

Bab 2

“Apa agenda kita malam ini?” tanya Hito.

Ia tampak sibuk dengan tabletnya sambil duduk di bangku belakang sebuah mobil super mewah.

“Tidak ada. Mungkin kau hanya mengerjakan tugas kuliah dan bersantai-santai sejenak sebelum sibuk dengan skripsi,” pikir John.

“Apa kau bisa memberitahukanku di mana rumah Adit? Aku merasa berutang padanya. Mungkin besok aku bisa mengunjunginya,” pikir Hito.

“Baiklah, aku akan mencarinya,” jawab John.

Setelah pulang dari kampus sore tadi, Hito masih saja teringat dengan kejadian di kantin fakultas yang terjadi paginya. Rasa bersalah masih menghinggapi dirinya yang hanya bisa menyaksikan Adit di olok-olok oleh sepupu dan gengnya. Padahal ia bisa saja maju dan menghentikan aksi bodoh Sena karena ia berada di sana sejak awal kejadian.

Namun Hito tidak bisa berbuat banyak karena sejujurnya ia sama sekali tidak ingin ikut campur dalam urusan sepupunya. Saat itu sebenarnya ia ingin segera masuk ke kelas bersama John, tapi saat melihat Sena menarik Adit hingga memukulinya di kantin, ia pun mengurungkan niatnya untuk ke kelas.

“Bos, sepertinya ada yang membuntuti kita,” ungkap John ketika ia mengintip dari balik spion.

“Membuntuti? Siapa?” tanya Hito. Ia pun melirik ke kaca belakang.

Tapi ketika sedang mengintip, kaca mobilnya tampak retak oleh tembakan. Sontak saja John segera menyuruh bosnya untuk duduk merunduk agar tidak terkena tembakan. Untungnya kaca mobil super mewah milik Hito dibuat tahan peluru. Tapi mobil yang membuntuti mereka tidak semudah itu melepaskan Hito dan John.

“John! Cepat kabur!” teriak Hito.

Mobil dipacu cepat di jalan tol yang tampak sepi. John terus mencoba melarikan diri dari kejaran mobil Van hitam yang terus mengejar. Tapi ketika sampai di jalan keluar tol, tiba-tiba ada beberapa mobil lagi yang mendekat dan menghimpit tubuh mobil Hito.

“Siapa mereka?!” Hito tampak terguncang. Ia berupaya keras untuk tetap sadar di tengah-tengah kekacauan.

“Bos, bantu aku! Tembak mereka!” John menyuruh Hito mengambil pistolnya.

“Aku tahu! Jangan memerintahku!” Hito segera menembaki kedua mobil di sisi kanan dan kiri mobilnya.

Sayangnya, ujung dari jalan itu adalah perbatasan sebuah dataran tinggi. Mobil Hito terus digiring menuju ke pinggir jalan hingga kedua mobil itu berhenti dan membiarkan mobil yang ditumpangi Hito melesak menuruni dataran tinggi yang kira-kira setinggi sepuluh meter itu.

“John! Awas!” Hito melihat ada pagar pembatas.

Mobilnya tak kuasa menabrak pagar beton dan terus melesak turun ke bawah. Hingga akhirnya mobil itu terbalik berkali-kali di perkebunan singkong.

Untungnya, John masih bisa sadarkan diri karena mengenakan sabuk pengaman. Tapi bosnya tampak tergeletak tidak berdaya di kursi belakang.

“Bos!” John berusaha merangkak keluar dari dalam mobil. Ia melewati jendela yang pecah. Tampak wajahnya babak belur oleh serpihan kaca yang beterbangan saat mobil terbalik berkali-kali.

“Api?” Ia melihat adanya api yang berkobar tepat di atas mobil yang terbalik. Sepertinya itu berasal dari saluran bensin yang bocor.

“Gawat! Aku harus segera mengeluarkannya!” John berusaha kembali untuk Hito. Tapi sayangnya, tubuh bosnya terperangkap. Jendela belakang tidak hancur. Alhasil, John harus memukulnya berkali-kali.

“Ayo, hancurlah!” teriak John.

Duk! Duk! Duk!

Pukulan demi pukulan ia kerahkan hingga kepalan tangannya berdarah. Tapi karena jendela itu begitu keras, John tidak punya pilihan lain selain terus berusaha. Ditambah lagi, api kian membesar dan menjalar ke tempat lain. Kala itu, tidak ada seorang pun yang membantu karena hari sudah agak malam. Ia pun menggunakan cara lain dengan menarik tubuh Hito yang tak sadarkan diri melalui jendela tempatnya melarikan diri.

“Sial! Ini tidak akan berhasil!” pikir John yang kembali masuk ke dalam.

Di lain tempat, Adit tampak menaiki kursi plastik di ruang tengah kontrakannya. Dengan tali tambang yang menggantung di langit-langit, ia memasukkan tali yang telah dibentuk melingkar itu ke kepalanya. Derai air mata Adit tampak tumpah hingga menetes ke bajunya. Matanya terlihat berkaca-kaca dan hendak melupakan semua kejadian di pagi tadi.

“Maaf, mungkin ini akhirnya.” Adit menggeser bangku yang menjadi pijakannya hingga ia terjerat oleh tali tambang dan membuat lehernya terikat kencang.

Ia kesulitan bernapas hingga tubuhnya meronta-ronta tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Yang bisa ia rasakan hanyalah napasnya yang kian pendek. Dan lama-kelamaan kedua matanya tampak membayang dan pandangannya kian menggelap. Terlihat pupil hitam di matanya naik hingga menghilang ke atas dan hanya menyisakan putih saja.

“Maaf … Ayah, Ibu.” Dalam beberapa menit terakhirnya, Adit berimajinasi bila dirinya berada di sebuah taman luas yang begitu sejuk. Di sana ia bisa melihat kedua orang tuanya yang sedang menunggu dengan senyuman.

Tak lama kemudian, ia pun meregang nyawa di jerat tambang itu.

***

Di sisi lain, John mengetahui kalau api telah membakar separuh mobil. Ia pun tidak bisa berbuat banyak kecuali mengurungkan niatnya menyelamatkan Hito yang terjebak di bangku belakang. Ia tidak memiliki waktu lagi. John segera keluar secepatnya dari mobil dan menjauh.

DUAR!

Ledakan hebat tampak memporak-porandakan seisi mobil. Terlihat api yang berkobar sampai mengepul ke atas dan menciptakan bunyi bising yang luar biasa.

“Bos!” John berteriak sejadi-jadinya.

Tangisnya pecah di tengah kebakaran hebat itu. Pikirnya, tidak mungkin Hito bisa selamat dari sana. John pun berkali-kali berteriak meluapkan gusar hatinya dengan memukul tanah berbatu berulang kali.

“Sial! Sial! Sial!”

Di lain tempat, Sena yang berada di klub malam bersama gengnya baru saja mendapatkan kabar dari anak buah geng kenalannya. Kabar gembira kematian Hito itu langsung disambut dengan meriah oleh satu gengnya.

“Akhirnya anak sok kaya itu mampus!” ucap Daniel.

“Sepertinya besok aku akan menghadiri pemakaman sepupuku. Aku harus balik cepat untuk menyiapkan setelan jas hitam,” sindir Sena.

Di lain sisi, tali tambang yang menjerat leher Adit tiba-tiba terlepas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia yang sudah mati tampak bernapas kembali dan membuka kedua matanya dengan menjerit tak karuan.

“John, tolong!”

Ia pun berusaha bangun. Tapi ia merasakan sakit yang luar biasa di sekitar leher.

“Apa ini? Ke … kenapa ada tali tambang yang mengikat leherku?”

Ia pun melepaskan tambang itu dari lehernya. Dengan kedua tangannya ia merasakan kalau lehernya tampak lebam dan bengkak sedikit. Lalu ketika ia berusaha berdiri dan berjalan menuju ke cermin di lemari pakaian, ia tampak bingung dengan suasana di sekitarnya.

“Ada apa ini? Ini bukan kamar atau rumahku? Di mana ini?” pikirnya.

Dan saat ia melihat dirinya di cermin, ia pun berteriak sangat keras.

“Aaaargh!”

“Kenapa wajahku berubah menjadi … Adit?!”

“Ada apa ini?! Kenapa aku ada di dalam tubuhnya?!”

Hito terus bicara dan bertanya pada keadaan. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskannya lagi. Saat ini yang ia tahu dan ia rasakan adalah dirinya yang merasuk ke dalam tubuh Adit; si mahasiswa yatim-piatu yang miskin.

“Ini mustahil! Kenapa bisa jadi begini?!”

Bab 3

“Tidak mungkin cucuku mati!” Basudewa Aswatama; kepala keluarga dari Aswatama dan sekaligus kakek dari Hito tampak terpukul di depan makam sang cucu yang tewas mengenaskan malam tadi.

Beserta dengan para keluarga dan koleganya, ia memimpin upacara pemakaman yang disambut oleh guyuran hujan deras di tengah-tengah prosesi pemakaman. Payung-payung hitam tampak melindungi para tamu yang hadir di sana. Tidak lupa, Sena, selaku otak pembunuhan sepupunya pun hadir dengan setelan jas hitam.

Hito Aswatama meninggal muda di usia 21 tahun. Dan ia tidak memiliki pendamping di hari terakhirnya selain sang kakek dan John; bodyguard-nya. Kedua orang tuanya tewas dengan cara yang sama sepertinya, yaitu kecelakaan mobil. Tapi anehnya, setelah sepuluh tahun kecelakaan maut itu terjadi, tidak satu pun tersangka yang membuat Hito yakin bahwa mereka adalah pembunuh orang tuanya.

Tapi sekarang, Hito tidak bisa melakukan apa-apa selain terbaring di pemakaman. Tampak beberapa paman dan bibinya seraya tersenyum kecil atas kematian keponakan mereka. Mereka berpikir ini adalah saat yang tepat untuk membujuk sang ayah; Basudewa Aswatama, untuk menulis ulang wasiatnya.

Posisi dari pewaris utama keluarga Aswatama saat ini pun sedang kosong. Dan seluruh anggota keluarga lainnya pasti akan berebut untuk menduduki posisi itu. Terutama Sena; si bajingan yang haus akan kekuasaan.

Di lain sisi, John yang menjadi saksi atas kematian bosnya tampak ditangkap oleh polisi. Basudewa tampaknya tidak percaya lagi pada bodyguard itu. Ia meminta polisi untuk memeriksa kesaksiannya dan memutuskan apa ia adalah tersangka atau hanya saksi dari pembunuhan itu.

Di tempat lain, Hito yang terbangun di tubuh Adit masih mencoba menerka-nerka alasan kenapa ia bisa berada di tubuh orang yang paling dihina satu kampus.

“Apa yang terjadi? Apa ini semacam reinkarnasi?” Ia mencari informasi tentang kelahiran kembali, reinkarnasi, atau pun inkarnasi di halaman website.

Saat ingin membuka lebih banyak jendela web, ia terhenti pada berita pemakaman pewaris utama keluarga Aswatama. Sebuah video yang ditampilkan di situs daring video tampak memperlihatkan prosesi pemakamannya sendiri.

“Kakek? Aku lupa. Aku sebenarnya sudah mati malam tadi. Tapi sekarang aku berada di tubuh ini. Dan … apa Adit mati saat gantung diri, lalu digantikan oleh diriku?” pikir Hito.

“Aku harus bertemu dengan kakek. Aku harus menceritakan semuanya!” Hito merasa harus pergi ke rumah besar kakeknya. Tapi bekas jerat di leher dan penampilannya saat ini menjadi masalah.

“Masa bodoh! Aku harus bertemu dengannya!” Ia pun berganti pakaian.

Saat Hito hendak membuka lemari pakaian, ia menatap cermin kembali. Dalam tatapan itu, ia merenung. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah.

“Hei! Ke–kenapa kau ada di dalam tubuhku?”

“A … Adit?”

“Iya, ini aku, Adit. Kau siapa?!”

“Ma … maaf. Aku tidak harus menjelaskannya bagaimana. Mungkin kau bisa bertanya langsung ke Tuhan?”

“Siapa kau?! Kenapa kau berada di tubuhku?”

Adit semakin emosi. Pembicaraan mereka berdua di depan cermin semakin panas saat Hito memberitahukan kalau saat ini ia adalah pemilik tubuh itu.

“Hito? Apa itu kau? Ta … tapi bagaimana mungkin?”

“Aku juga tak tahu. Tapi sepertinya kita hanya bisa saling mengobrol dengan menggunakan cermin.”

Banyak hal yang diceritakan Adit soal kejadian malam tadi. Begitu juga dengan Hito yang menceritakan tentang kematiannya pada kecelakaan maut. Mereka pun berpikir sejenak.

“Kau tahu. Kita seperti kepribadian bipolar atau dua orang dalam satu tubuh. Tapi masalahnya, kau tidak bisa kembali ke tubuh ini. Dan hanya bisa berkomunikasi dengan media cermin,” pikir Hito.

“Kau benar. Aku akhirnya mati. Lalu selanjutnya bagaimana? Kau tidak mungkin mengatakan ke keluargamu bahwa kau adalah Hito Aswatama dengan menggunakan tubuhku. Apalagi pembunuhmu masih berkeliaran,” pikir Adit.

“Kau benar. Hito sudah mati. Tapi tidak dengan Adit. Oh, ya, siapa nama panjangmu?” tanya Hito.

“Adit Handoko,” balasnya.

“Ya, Adit Handoko. Aku bisa menjadi dirimu dan mencari pembunuhku. Dan tentu saja, aku harus melakukan sesuatu pada kakek. Dia pasti sangat terpukul dengan kematianku.” Wajah si pewaris itu menunduk ke bawah. Tatapannya tampak kosong.

“Kalau begitu, kau harus bersiap-siap ke kampus. Hari ini ada ujian mekanika teknik. Aku berharap mendapatkan nilai A+ di ujian itu. Kau bisa mengerjakannya, ‘kan?” tanya Adit.

“Kau sudah mati. Tidak perlu memikirkan ujian lagi. Dan kau harus tahu satu hal. Aku adalah peringkat dua mahasiswa tercerdas di kampus. Jadi jangan meremehkanku.” Hito menghentikan obrolan aneh mereka. Ia segera mencari pakaian untuk pergi ke kampus. Saat ini, hanya berkuliah saja yang bisa dipikirkan olehnya. Selebihnya, mungkin ia akan berimprovisasi pada tubuh barunya.

Dengan mengenakan setelan pakaian milik Adit, ia pun segera pergi menuju kampus yang letaknya lumayan dekat dengan kontrakan. Ini baru pertama kalinya Hito melewati lingkungan situ. Ia tidak tahu bila Adit memiliki kehidupan yang begitu sederhana seperti ini.

“Adit! Hei!” Tiba-tiba ada yang memanggil.

Hito tidak menoleh. Ia lupa kalau dirinya saat ini berada di dalam tubuh Adit.

“Dit! Hei!” teriak seseorang lagi.

Hito pun baru sadar kalau panggilan itu untuknya. Ia pun menoleh ke belakang.

“Eee … hai?” sapanya dengan canggung.

“Sini! Ibu punya nasi uduk sisa. Kamu belum sarapan, ‘kan?” ucap penjual nasi uduk langganan Adit.

“Hah?! I … ini gratis untuk saya?” Hito tampak tak percaya.

“Iya, ambil saja. Ibu tahu kamu kekurangan uang. Kemarin kamu mengeluh kalau uang hasil kerjamu di minimarket untuk print buku & keperluan kampus, ‘kan?” jelas si penjual itu.

Hito sama sekali tidak tahu tentang kisah hidup Adit. Ia bahkan baru tahu kalau Adit bekerja di minimarket dan sedang kesulitan uang. Tapi ia sangat berterima kasih karena sudah diberikan nasi uduk secara gratis.

“Lumayan untuk sarapan. Tapi nasi uduk rasanya seperti apa?” pikir Hito yang baru pertama kali melihat bungkus nasi uduk.

Di lain tempat, Basudewa Aswatama memanggil John ke ruangannya. Bodyguard itu lolos dari dakwaan polisi. Ia akhirnya ditetapkan sebagai saksi dari pembunuhan cucunya. Di dalam ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua saja, Basudewa tampak berbicara dengan nada keras ke arah bodyguard itu.

“Kenapa kau bodoh sekali?! Aku membayarmu mahal untuk menjaganya! Kau harus bertanggung jawab! Temukan pembunuh cucuku!” teriak Basudewa.

“Ba … baik, Tuan. Saya mengerti. Saya juga merasa sedih dan terpukul seperti Anda. Tuan Hito sudah saya anggap seperti adik sendiri. Saya tidak mungkin dengan sengaja untuk membunuh atau lalai dalam menjaganya.” John berlutut di hadapan pria tua itu.

“Cari dan temukan pelakunya! Bawa bukti sebanyak-banyaknya padaku! Aku tidak akan segan untuk membunuhnya!” Nada bicara Basudewa tampak naik. Ini kedua kalinya ia marah sebesar itu sejak anak pertamanya; orang tua dari Hito, tewas sekitar sepuluh tahun yang lalu.

“Baik, Tuan! Saya akan mencarinya hingga dapat!” Janji dan sumpah John kepada Basudewa menjadi kontrak mati untuknya.

Basudewa juga memberikan akses harta Hito yang di simpan oleh cucunya. Ia juga memberikan sedikit tambahan untuk John agar bodyguard itu bisa mencari semua bukti sebelum dirinya mengangkat pewaris utama selanjutnya.

“Waktumu dua Minggu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anak-anakku yang lain pasti akan mendorongku untuk memilih pewaris Aswatama Group yang selanjutnya. Ingat, John. Jangan kecewakan aku untuk yang kedua kalinya,” pinta Basudewa Aswatama.

Di lain tempat, Hito alias Adit memasuki ruang kelas sambil menutupi bekas lebam karena jerat tambang menggunakan Hoodie lusuh miliknya. Adit tidak sekelas dengan Hito sebelumnya, tapi ia sekelas dengan Sena, Anna dan gengnya.

“Masih hidup?” sapa Sena yang tampak sumringah. Suasana hatinya saat ini sedang begitu berbunga karena kematian sepupunya.

“Kuharap aku mati saja. Tapi sepertinya aku harus tetap hidup untuk menjadi mahasiswa paling berprestasi di kampus ini,” sindir Adit dengan nada angkuh.

Brak!

Sena menggebrak meja tepat di hadapan Adit. Ia belum tahu kalau yang sedang diajak bicara olehnya adalah sepupunya sendiri, yaitu Hito.

“Jangan sok angkuh! Kau itu cuma sampah! Jangan sombong ingin menjadi mahasiswa paling berprestasi!” Sena mengayunkan tangannya ke pipi Adit.

Plak!

“Apa itu sakit?” Sena tertawa bersama gengnya. Sedangkan mahasiswa lain di kelas itu hanya terdiam di tempatnya. Mereka tidak berani menolong.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED