“Tidak pernah kusangka. Rupanya kamu memang senikmat ini.” Suara berat yang tengah mendorong lebih dalam tubuh Indi menggeram karena nikmat yang tiada kentara.
Damian Kusuma—pria tampan, pengusaha muda yang usianya baru menginjak dua puluh delapan tahun tengah menggerayangi tubuh Indira Pramesti—perempuan cantik berusia dua puluh enam tahun yang sudah lama ia kagumi sejak masih duduk di bangku kuliah.
Sudah lama menjadi duda membuatnya bersemangat menyetubuhi tubuh wanita yang dia kagumi itu. Tidak peduli bila nanti Ind—sapaan perempuan itu mencaci makinya setelah sadar dari mabuknya kelak.
“Arrgghh!” pekik Indi kala pria itu kembali mendorong dirinya di bawah sana. Desahan dan erangan terdengar dengan jelas di kamar tersebut.
Dalam keadaan teler, tidak tahu siapa yang sedang menyetubuhinya, Indi hanya menikmati sentuhan nikmat itu. Damian yang sudah tergila-gila sejak lama kepada perempuan itu lantas menghantamnya tanpa ampun. Peluh keringat pun sudah bercucuran membasahi kain sprei yang menjadi alas senggama kedua insan itu.
Damian yang sudah merindukan bercinta itu lantas sangat menikmati seruan akan desahan yang dikeluarkan oleh Indi.
“Kapan selesainya ini, huh?! Aku sudah tidak tahan lagi,” pekik Indi dengan suara beratnya. “Tubuh ini .. eemmpt …!” Indi tak kuasa menahan permainan panas yang dibuat oleh Damian kepadanya.
“Kamu sudah sampai, heum?” tanya Damian dengan suara lembutnya.
Indi hanya mengangguk. Sementara Damian kembali mendorong tubuhnya hingga suara percikan percintaan itu terdengar begitu jelas. Tubuhnya mengejang seketika bersamaan dengan keluarnya peluh nikmat itu di bawah sana.
“Capek!” keluh Indi seraya mengatur napasnya. Kemudian tak sadarkan diri sebab mabuk yang masih terasa dalam dirinya.
“So beautiful. Akhirnya, kita bertemu kembali, Indi. Sudah sejak lama kita tidak pernah bertemu, akhirnya kembali bertemu sekaligus mendapat tubuh indahmu ini,” ucapnya seraya menyentuh kulit putih yang masih polos tersebut.
“Jangan takut, Indi. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menunggumu sampai sadar, dan mengatakan kalau kita baru saja tidur bersama. Membelah malam dengan suara teriakan dan desahan yang kamu keluarkan.”
Damian memilih untuk istirahat di samping Indi yang sudah terlelap dalam tidurnya.
**
Waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi. Pengar itu masih sangat terasa di kepalanya sebab mabuk semalam.
“Arrgh! Tubuh gue kenapa pegal-pegal. Mimpi apa gue, semalam,” gumamnya seraya menyibakkan rambutnya dengan pelan. “Heeuuh!”
Indi baru sadar. Ini bukan kamar tidurnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan cepat.
“Di mana ini?” tanyanya panik. Lalu, tersadar juga bila dirinya tidak mengenakan apa pun. “Kenapa gue nggak pake baju. Pusaka gue juga sakit banget.” Indi benar-benar tak sadar apa yang telah dia lakukan semalam.
“Morning!” Damian menyapa perempuan itu dengan tubuh yang hanya dililit handuk sepinggang.
Indi mengerutkan keningnya. “Da … mian?” gumamnya seraya mengucek matanya. Lalu membolakan matanya karena terkejut. “Damian … ngapain lo di sini?” teriaknya kemudian.
Damian mengendikan bahunya. “It’s my room. Masih belum ingat, kejadian semalam?” tanyanya seraya menatap mata itu dengan lekat.
“Jangan mendekat!” seru Indi seraya menatap tajam wajah tampan milik lelaki itu. “Kenapa gue ada di kamar elo? Apa yang terjadi kemarin malam? Kita ….” Indi tak mampu meneruskan ucapannya itu.
Damian mengangguk santai. “Semalam kamu mabuk. Ngoceh nggak jelas, karena nggak ada temen yang nungguin kamu, akhirnya aku bawa aja ke apartemenku,” tuturnya menjelaskan.
“Apartemen? Di sini?” tanya Indi sembari menjambak rambutnya kemudian segera mengambil pakaiannya dan bergegas mengenakannya kembali.
Pria itu mengangguk. “Iyalah. Di mana lagi kalau bukan di sini. And thank, untuk semuanya. Kamu memang sangat luar biasa.”
“Sshhhiitt!” pekik Indi seraya menatap nyalang wajah Damian. “Gilak lo, Damian! Gilaaak! Menyetubuhi gue tanpa izin dan sekarang bilang terima kasih?! Sialan, lo!” pekiknya kesal. Kebenciannya semakin besar terhadap lelaki itu sebab telah memperkosanya. Ya. Dia anggap Damian telah memperkosanya karena ia tidak tahu dan tidak mengiayakan ajakan Damian untuk bercinta dengannya.
“Mandi dulu, Indi. Aku nggak akan macem-macem lagi. Cukup semalam saja,” ucapnya kemudian menyunggingkan senyumnya.
Indi melirik malas kepada pria itu. “Gak perlu. Mandi di rumah aja. Gue ada urusan!” ucapnya kemudian mengambil pakaian tersebut dan segera memakainya.
“Mobil gue di mana? Jangan bilang ….” Indi membolakan matanya.
“Di bar. Aku nggak tahu, mobil kamu yang mana. By the way, apa kabar?”
“Gak usah basa-basi, lo. Pertemuan kita cukup sampai di sini aja. Gue nggak mau ketemu sama elo lagi dan lupakan semuanya! Kalau ketemu di jalan, jangan nyapa gue atau apa pun itu!” ucapnya dengan mata menatap nanar wajah Damian penuh amarah.
Damian kembali menyunggingkan senyumnya. “Sampai jumpa lagi, Indi. Aku pastikan, kita akan bertemu lagi, tidak akan lama setelah kamu pulang,” ucapnya kemudian tersenyum menyeringai.
Setibanya di rumah. Dengan langkah yang mengendap-endap, takut ketahuan oleh sang papa karena baru pulang. Ia kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan membuka seluruh pakaiannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Namun, langkahnya terhenti kala melihat tanda merah di dadanya. Cukup banyak hingga membuatnya memekik hebat.
“Damian sialan! Gila bener ini orang! Arrgghh!” Indi menjambak rambutnya kemudian menghentakkan kakinya hingga masuk ke dalam kamar mandi. Memutar kran shower dan mengguyur tubuhnya.
“Kenapa gue harus ketemu sama dia? Tidur dengan cowok gila macam Damian merupakan mimpi paling buruk yang pernah gue alami,” ucapnya lirih. Sungguh, ia sangat menyesali semuanya lantaran harus melayani pria aneh seperti Damian. Lebih tepatnya diperkosa karena Indi tidak tahu menahu bila dirinya tidur dengan lelaki itu.
“Jangan sampai gue ketemu sama elo lagi, anak sialan!” pekiknya seraya membersihkan tubuhnya dengan sabun agar sisa-sisa sentuhan Damian hilang di tubuhnya.
“Bisa-bisanya dia ninggalin jejak banyak banget di sini.” Indi terus menerus menggerutu kesal kepada Damian.
“Nyesel banget gue mabuk nggak ditemenin, hanya sendirian. Jadinya gini, kan.” Indi mengeluh lesu. Damian merupakan pria yang tidak masuk dalam kategorinya. Jelas sangat membenci dan menyesali kejadian semalam.
Meskipun dia sudah merelakan dan masa bodoh, tetap saja bila meninggalkan jejaknya di tubuhnya membuatnya kesal bukan main.
“Indi?” Panggilan dari Wijaya—sang papa membuat Indi harus menyelesaikan acara mandinya.
Ia kemudian segera menggunakan bathrobe dan menghampiri papanya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya.
“Iya, Pa?” tanyanya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Hari ini, yaa. Kita bertemu dengan keluarga teman Papa.”
“Heuh? Hari ini? Harus hari ini banget ya, Pa?” tanya Indi panik.
Nasib sial benar-benar sedang menghampirinya. Tidur dengan musuh bebuyutannya, dan sekarang harus bertemu dengan calon yang sudah dipilihkan oleh Wijaya untuknya.
“Iya. Sudah saatnya kamu dan dia bertemu kemudian merencanakan pernikahan ini. Sudahi main sana main sininya, Indi. Kamu sudah dewasa, ingat umur.” Wijaya berucap dengan pelan.
Indi menghela napas kasar. “Tapi, Pa … terlalu dini dan aku belum siap ketemu sama dia. Belum tentu juga dia pria baik-baik. Emangnya Papa yakin, kalau dia jodoh terbaik buat aku?” Indi masih mencoba menolak permintaan papanya itu.
“Ini yang terbaik. Papa yakin dan kamu pasti akan bahagia bersamanya!” ucapnya penuh percaya diri.
Indi menghela napas pelan. ‘Kalau emang dia pria baik-baik, dia yang akan menyesal karena gue baru aja tidur sama Damian, si cowok aneh yang main perkosa gue aja. Duh! Gini amat nasib gue,’ ucapnya dalam hati kemudian menggaruk dengan pelan rambutnya.
“Papa. Kalau nanti dia nggak terima dengan kondisi aku yang tukang mabuk dan segala macamnya, yang malu Papa. Mending aku cari jodoh sendiri deh, Pa. Ya, Pa, yaaa?” Indi memohon agar perjodohan itu dibatalkan saja.
“Dia sudah tahu dunia kamu seperti apa. Makanya Papa sangat senang karena ada pria yang mau menerima kamu apa adanya.”
“Haaah?” Indi terkejut bukan main. ‘Ada yaa, cowok modelan dia?’ ucapnya dalam hati.
Indi kembali menghela napas pelan. “Ya udah, Papa tunggu di luar aja. Aku pakai baju dulu,” ucapnya lemas. Mau tak mau, dia harus menerima perjodohan itu.
“Iya, Nak.” Wijaya menerbitkan senyumnya.
Lima belas menit kemudian, Indi keluar dari kamarnya dan menghampiri sang papa yang sudah menunggunya di ruang tengah. Keduanya langsung keluar dari rumah tersebut dan Wijaya melajukan mobilnya menuju rumah temannya.
“Orangnya kayak gimana sih, Pa?” tanya Indi kemudian.
“Nanti juga kamu tahu.” Hanya itu yang diucapkan oleh sang papa kepadanya.
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, mereka akhirnya tiba di rumah tersebut. Indi kembali menghela napasnya dengan pelan. Lalu keluar dari mobil bersama sang papa.
“Bung!” Wijaya memeluk Pradipta—sahabatnya.
“Apa kabar, Wijaya? Hari ini, yaa? Dia sudah tahu?”
Wijaya mengendikan bahunya. “Nggak perlu dikasih tahu, dia sudah paham sendiri.”
“Wow! Good! Baiklah kalau begitu. Aku panggilkan anakku dulu.” Pradipta memanggil sang anak yang baru kembali ke rumah.
Sementara Indi dan Wijaya duduk di sofa ruang tengah. Perempuan itu kembali menghela napasnya seraya melihat-lihat rumah megah tersebut.
“Orang kaya, rupanya,” gumamnya kemudian.
“Hei!”
Suara lembut itu sangat tidak asing di telinga Indi. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Mulutnya menganga, matanya melotot menatap orang yang akan menjadi suami dan katanya sangat menerima dia apa adanya.
“Kenapa harus ketemua sama dia lagi?! Astaga, dunia sempit banget,” gerutu Indi dengan pelan agar Wijaya ataupun orang yang ada di sana tidak mendengarnya.
“Indi. Ini, Damian. Katanya kalian sudah saling kenal,” kata Pradipta kepada Indi.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Ng—nggak, Om. Aku nggak kenal sama dia.” Indi meringis pelan seraya melirik Damian.
“Walaah. Kata Damian, kalian satu kampus dulu?”
Indi terdiam dan hanya memberikan cengiran kepada calon mertuanya itu.
Sementara Damian hanya menyunggingkan senyum. Tidak ingin membahas dengan detail, bila mereka memang sudah saling kenal bahkan satu kampus di dua tahun yang lalu.
“Jadi begini, Indi. Damian ini, anak bungsu saya. Saya dan papa kamu sudah merencanakan perjodohan ini enam bulan yang lalu setelah Damian ditinggal pergi oleh istrinya.”
“Heeuhh?” Indi menoleh ke arah Satya. “Duda?” tanyanya kemudian. “Sial! Gue … nikah sama duda?” Indi meringis lemas.
“Di mana, istri elo? Kenapa harus nikah sama gue? Kenapa nggak coba balik lagi sama istri elo?” Indi bertanya dengan nada sinisnya.
“Indi.” Wijaya berucap dengan pelan. “Istri Damian sudah meninggal dunia karena kecelakaan satu tahun yang lalu.”
Indi mengatup bibirnya setelah mendengar penjelasan sang papa. “Ooh!” ucapnya pelan.
“Kalian bisa saling mengenal satu sama lain setelah menikah nanti. Kalau bisa, bulan depan langsung menikah saja,” ucap Pradipta yang sepertinya sudah tidak sabar ingin menikahkan anaknya dengan Indi.
Perempuan itu kemudian menolehkan kepalanya pada Pradipta. “What? Bulan depan? Cepet amat!” ucapnya terkejut.
“Kita bisa siapkan dari sekarang, Indi. Usia kamu juga sudah cukup matang. Apa lagi yang kamu cari, Indi? Sudahlah, berhenti foya-foya, pergi ke bar, mabuk dan lainnya. Sudah waktunya kamu membina rumah tangga. Papa sudah tua, Papa hanya ingin melihat kamu menikah. Sudah … itu saja.”
Wijaya berucap dengan sangat pelan. Memelas, supaya Indi mau menerima perjodohan itu. Benar-benar jodoh yang dipilihkan oleh sang papa untuknya. Tidak pernah ia sangka, rupanya Wijaya berhasil menjodohkannya dengan pria pilihan lelaki itu.
**
Satu bulan berlalu ….
Pernikahan itu benar-benar terjadi. Keduanya telah mengikat janji suci setelah Indi ‘terpaksa’ menerima perjodohan itu. Bukan karena dia ingin apalagi ingat umur, hanya karena tidak enak hati kepada sang papa yang memohon-mohon agar mau menerima perjodohan itu.
Di malam itu pula, Indi pindah ke rumah yang sudah disediakan oleh Pradipta sebagai hadiah pernikahan dan juga ucapan terima kasih kepada perempuan itu karena mau menikah dengan Damian—anak bungsu harapan satu-satunya Pradipta yang akhirnya senang melihat Damian mau menikah lagi setelah melepas kepergian Rachel.
“Sialan! Ini mimpi buruk bukan sih? Gue, nikah sama dugong satu itu? Astaga! Kenal dari mana sih, papa gue sama keluarganya Damian. Aah! Bikin hidup gue nggak tenang kalau begini ceritanya,” gerutu Indi yang masih belum menerima takdirnya harus berjodoh dengan Damian.
“Mana kejadian di malam itu bikin gue shock juga.” Indi mengeluh lesu. Sungguh, nasib seperti ini benar-benar membuatnya tak karuan dan malu sendiri menghadapinya.
Tak lama kemudian, Damian masuk ke dalam kamar itu lalu mengulas senyum kepada sang istri yang tengah berdiri di tepi tempat tidur.
“Ma—mau ngapain lo, ke sini?” tanya Indi gugup.
Selama satu bulan lamanya Indi berpikir dengan keras dan masih belum bisa menerima kenyataan bila dirinya akan menjadi istri Damian Kusuma—seorang duda ditinggal pergi selamanya oleh istrinya itu.
Keadaan seperti ini membuatnya canggung bahkan tidak mau menartap Damian sekali pun. Ia benar-benar seperti terjebak dalam situasi yang amat rumit ini.
“Damian … lebih baik elo tidur. Gu—gue nggak … gue belum siap,” ucap Indi memohon kepada Damian agar jangan menyentuhnya di malam itu.
Damian mengenyitkan dahi. “Kenapa? Kalau alasannya karena datang bulan, aku akan memaklumi. Tapi, kalau alasannya karena capek, itu bukan alasan. Aku juga sama capek! So, kamu mau pakai alasan yang mana?” tanyanya ingin tahu.
‘Gue nggak mau Damian tahu kalau gue punya kelainan juga. Hormon gue akan naik drastis kalau disentuh Damian. Ini nggak boleh terjadi. Dia nggak boleh tahu kalau gue lihai dalam segalanya,’ ucapnya dalam hati.
Bahkan, ia tidak mampu menatap tubuh kekar Damian yang sengaja tidak mengenakan apa pun, bertelanjang dada dan itu membuat Indi risi dibuatnya.
“Dulu, kamu terkenal binal dan tidur dengan berbagai pria adalah salah satu hobi kamu. Lantas, kenapa tidur denganku malah tidak mau?” tanya Damian meminta penjelasan kepada Indi yang terus menolaknya.
Indi menelan salivanya dengan pelan. “Tahu dari mana? Hoax itu, Damian. Mana ada! Nggak … gue nggak pernah tidur dengan berbagai pria!” ucapnya menyangkal ucapan Damian.
Pria itu tersenyum miring. “Lantas, kenapa sudah longgar saat kita bercinta satu bulan yang lalu? Siapa yang sudah merenggut kesucian kamu?” tanya Damian mendesak Indi agar jujur saja kepadanya.
Indi menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya lagi. ‘Makin malu deh gue! Kenapa juga gue oon, dia kan udah tahu dan udah ngerasain. Ketahuan bohong kan, gue.’ Indi menggerutu dalam hati.
Sungguh, perempuan itu tengah dibuat malu oleh suaminya sendiri. Seraya mengembuskan napas panjang, Indi menatap Damian dengan tatapan dalamnya.
“Oke! Tapi, kalau elo kalah sebelum perang, jangan pernah minta itu lagi ke gue!” tantangnya kemudian.
“Apa yang kamu katakan, Indi? Bukankan kamu sudah pernah merasakan keperkasaanku?”
“Saat itu gue lagi mabuk, Damian. Mana tahu rasanya kayak gimana. Nggak usah aneh-aneh deh, lo!” ucapnya menyangkal dan memang kenyataanya Indi hanya merasakan tubuhnya remuk seperti baru kerja rodi tujuh hari tujuh malam saat bangun dari tidurnya kala itu.
Damian terkekeh pelan. “Baiklah. Kita mulai saja sekarang. Agar kamu tahu, bagaimana permainanku yang akan membuatmu lemah tak berdaya.”
Indi mengendikan bahunya. “Silakan! Gue nggak takut tuh!” ucapnya menantang dengan mata menatap wajah Damian yang terlihat begitu tenang akan tetapi menyimpan banyak kekesalan kepada istrinya itu.
“Shit!” Damian lantas meraup bibir perempuan itu dengan penuh. Ingin memperlihatkan kalau dirinya bisa menjadi suami yang mampu memberikan hasrat yang ada di dalam diri perempuan itu.
“Ready to our first night?” bisik Damian dengan suara halus nan menggoda.
Usai puas menciumi bibirnya, bibir itu turun ke bawah. Menikmati setiap jengkal demi jengkal kulit putih milik sang istri.
“Damian … oh my God!” raung Indi sembari meremas sprei lantaran sentuhan Damian yang begitu panas dan membuatnya bergairah hebat.
Damian tersenyum menyeringai. “Satu tahun sudah, aku tidak pernah menyentuh perempuan. Akhirnya bisa menyentuh lagi dan tentunya istriku sendiri.”
“Oh, yaa? Kenapa nggak nyari perempuan lain di luaran sana? Lemah!” ledeknya kemudian.
Damian tersenyum tipis. “Terserah, mau bilang apa, i don’t care! Yang penting saat ini, kamu menjadi milikku dan aku tidak akan pernah melepasmu!” ucapnya kemudian mengisap pucuk dada perempuan itu penuh nafsu.
“Arrghh!” pekik Indi seraya membusungkan dadanya dengan spontan.
Damian benar-benar membuatnya menggila. Lelaki itu memang hebat hingga berhasil membuatnya mabuk kepayang. Indi sudah masuk dalam perangkap lelaki yang berhasil membuat hasratnya menggila.
Lima belas menit melakukan pemanasan, Damian mulai menyatukan dirinya dengan Indi. Membalikkan tubuh perempuan itu dan melajukan temponya dengan alunan yang cukup keras.
Pekikan dan raungan berpadu menjadi satu di sudut kamar itu. Peluh keringat bercucuran dengan irama suara desahan saling beradu.
“Damian … you! Arggh!” Indi meraung tak karuan.
“Bagaimana? Masih kurang, heum?” tanyanya dengan tubuh yang tak jera memompa tubuh Indi.
“No! Enough.”
Damian terkekeh pelan. “Berjanjilah padaku, jangan main di belakangku. Atau aku akan menghukum kamu!” ancamnya kemudian.
Damian kemudian mendudukkan perempuan itu di atas pahanya dan mengusap surai rambut yang berantakan karena ulahnya.
“Kalau berani bermain di belakang?” tanyanya menantang lelaki itu lagi.
“Aku tidak akan segan-segan menghukum kamu dengan berbagai jenis gaya dan penyiksaan yang akan aku lakukan padamu. Jangan menyesal dan jangan pula marah. Karena kamu yang sudah memulai.”
Indi mendengus sembari menatap datar wajah suaminya itu. “Dan kalau elo yang kayak gitu, gue nggak akan segan-segan buat ceraikan elo!”
Damian manggut-manggut patuh. “Silakan cari kesalahanku untuk kamu jadikan sebagai alasan agar bisa bercerai denganku. Silakan cari sepuasmu. Kalau memang buktinya kuat, aku akan meminta maaf pada papa kamu karena sudah gagal menjadi suami yang baik untukmu.”
Damian kembali menyatukan dirinya karena belum sampai puncak. Indi kembali memekik. Namun, pikirannya terus tertuju pada ucapan Damian tadi.
Hampir satu jam lamanya mereka bercinta. Damian akhirnya melepaskan pelepasannya. Melaju dengan sangat cepat agar peluh itu segera keluar.
“Damian …!” pekik Indi sembari meremas bahu kokoh suaminya yang tengah terengah-engah.
Mata penuh kabut dan sayu saling tatap.
“Elo … cinta, sama gue? Bisa-bisanya melakukan itu—“
“Cinta. Aku cinta sama kamu dan memang inginku menikah denganmu. Enam bulan yang lalu, Papa memintaku agar menikahi anak satu-satunya Papa Wijaya. Namanya Indira Pramesti,” ucapnya menjelaskan.
Indi menghela napas pelan. “Cepet banget move on-nya. Nggak cinta atau emang elo tukang ngumbar janji?” tanyanya seraya beranjak dari tempat tidur kemudian menggulung rambut panjang kecokelatan itu.
Damian menatap Indi yang masih bertelanjang tak mengenakan apa pun. “Mungkin karena dia akan pergi meninggalkanku selamanya.”
Indi menghela napas kasar. “Aneh, jawaban elo. Seolah tahu, kalau dia bakalan mati. Sengaja elo bunuh, kan?” tuduhnya kemudian.
Damian menggeleng pelan. “No! Untuk apa, aku membunuh istriku sendiri. Saksinya Pak Sudira. Sopir yang udah bawa kami tapi masih hidup. Ada di penjara. Kamu bisa tanyakan hal itu kepadanya.”
Perempuan itu hanya diam. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan miliknya yang terasa lengket akibat hujaman yang dilakukan sebagai malam pertama dengan Damian.
Meski bukan lagi gadis pada umumnya, akan tetapi Damian begitu bahagia dan menyukainya. Sebab orang yang kini menjadi istrinya adalah orang yang dia inginkan sejak masih kuliah dulu. Hanya saja, rupanya sulit menaklukan hati Indi yang mungkin masih mencintai mantan kekasih yang sudah meninggalkannya.
Waktu sudah menunjuk angka dua belas malam. Kedua insan itu masih terjaga dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kenapa belum tidur?” tanya Damian kemudian menghampiri Indi yang hanya mengenakan panty dan bra bermotif.
Indi kemudian menoleh kepada suaminya itu. “Perlu elo ketahui, gue biasanya tidur jam dua sampai jam tiga pagi. Tapi, jangan khawatir gue nggak bisa bangun di pagi hari. Jam tujuh gue pasti udah bangun. Karena besok masih cuti, jangan ganggu gue bangun di jam segitu.”
Damian tersenyum tipis. “Tidak akan. Aku tidak akan mengganggu tidur nyenyak istriku yang seksi ini. Jangan khawatir, Honey!”
“Honey, Honey! Jijik, Damian! Nggak usah manggil gue dengan panggilan itu!” seru Indi memperingati Damian agar jangan memanggilnya dengan sebutan yang membuatnya tak nyaman bahkan membencinya.
“Baiklah. Memanggilmu dengan sebutan nama saja sudah buat aku bahagia,” ucapnya kemudian mengulas senyum hangat pada sang istri.
Indi menjauh sedikit sembari menatap aneh wajah suaminya itu. “Nafsuan lo!” sengalnya kemudian.
“Nafsuan pada istri sendiri, kenapa tidak?” tanyanya seraya mengangkat kedua alisnya.
Indi lantas menyunggingkan bibirnya. “Aneh, lo!”
Pria itu menatap Indi dengan tatapan lekatnya. “Sekarang, aku mau nanya sesuatu sama kamu.”
“Heung?” ucapnya singkat tanpa menoleh sedikit pun kepada Damian.
Damian menyunggingkan senyum seraya menatap Indi dengan lekat. “Sudah berapa pria, yang tidur dengan kamu?” tanyanya pelan.
“Kenapa, nanya kayak gitu?” Indi balik bertanya dengan nada ketusnya.
“Hanya ingin tahu saja. Sudah berapa banyak, pria yang mengenal tubuh indah istriku ini,” ucapnya seraya merayapkan tangannya di paha mulus perempuan itu.
“Damian, don’t!” Indi menyingkirkan tangan lelaki itu. Namun, rupanya tak berhasil. Tentu saja tenaga lelaki lebih banyak dari tenaga perempuan.
“Jawab, Indi. Sudah berapa banyak? Aku hanya ingin tahu saja. Dan … heran juga, kenapa kamu nggak hamil?”
“Mainnya hebat lah. Nggak akan kebobolan, walau sudah tidur dengan berbagai pria manapun. Dan elo, cowok paling gila karena mau-maunya sama cewek yang udah dijamah oleh banyak pria!” Indi menyunggingkan bibirnya.
Damian tersenyum pasi. Rasanya, ia tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk menyentuh tubuh mulus yang kini sudah halal ia sentuh. Dengan sekali cengkeraman, lelaki itu berhasil menarik wajah Indi kemudian meraup bibir perempuan itu dengan penuh nafsu.
“Jangan lakukan itu lagi. Sudah ada aku yang akan memuaskan kamu. Saling terpuaskan,” bisik Damian dan itu berhasil membuat darah Indi berdesir hebat. “Dan … belajarlah mencintaiku agar kita bisa menjalani rumah tangga ini dengan bahagia,” sambungnya kemudian menatap lekat wajah cantik istrinya itu.
Indi menelan salivanya dengan pelan sembari menatap Damian dengan lekat. “Nggak janji.”
“Kenapa? Karena masih mencintai Rangga, yang jelas-jelas sudah mengkhianati kamu?”