"Bu, tolong suruh dia keluar," pintaku pada bidan yang berada di sisiku.
Bidan itu menatapku. Mungkin dia heran karena aku mengusir suamiku. Ia tidak tahu, bahwa aku menderita apabila laki-laki bejat itu ada di sini.
"Bu, tolong usir dia dari sini," pintaku sekali lagi. Telunjuk ini mengacung lemah ke arah laki-laki berwajah tampan itu.
"Maaf, Bapak. Silakan keluar dulu," ucap bidan dengan sopan padanya.
"Tapi, Bu? Saya mau melihat anak saya lahir," ucapnya protes.
Aku berpaling, cih! Melihat anaknya? Bahkan dia tidak ada ketika aku membutuhkan dirinya. Ia justru sibuk bergoyang, naik turun di atas tubuh selingkuhannya. Cuih! Aku tidak sudi ia menyaksikan aku menderita. Aku tidak sudi ia mendengar erangan kesakitanku, ketika berjuang melahirkan.
"Saya tidak akan bisa melahirkan, Bu. Jika dia tidak keluar dari sini."
Wanita yang kebingungan itu, akhirnya memaksa suamiku keluar. Sebelum keluar, suamiku menatap tajam ke arahku. Aku balik menatapnya tajam tanpa berkedip. Tentu saja tatapanku penuh kebencian.
Rekaman adegan persetubuhannya masih berputar-putar dalam kepalaku. Betapa besar gairahnya malam itu. Membuat selingkuhannya mendesah-desah lepas tanpa malu. Mereka sangat menikmati pergumulan itu, tanpa sadar lupa merapatkan pintu.
Cih! Dua sejoli yang menjijikkan. Aku berjanji tidak akan membiarkan perbuatan mereka. Rasa sakit ini harus aku balas. Itu janjiku!
"Ayo, Bu. Tarik napas, keluarkan pelan-pelan. Jika kontraksinya muncul, barulah Ibu ngeden," ucap bidan yang ada di sampingku. Sementara bidan yang lain ada di bawah sana. Mengecek apakah bayiku sudah mulai turun atau belum.
Aku harus berhasil melahirkan anak ini dengan selamat. Tuhan ... tolong jangan cabut nyawaku dulu.
Peluh yang mengalir deras, terus dikeringkan oleh bidan yang ada di sampingku. Bidan-bidan di sini sangat ramah. Jadi, aku tidak butuh suamiku ada di ruangan ini.
Sakitnya kontraksi, tidak sebanding dengan sakitnya dikhianati. Aku masih bisa bertahan menahan sakit melahirkan daripada sakit dikhianati. Walaupun seluruh urat nadiku menjadi tegang menahan sakit ini. Aku akan berjuang melahirkanmu, Nak. Kuelus lembut perut buncit ini.
"Sayang, bantu Bunda ya, Nak. Kita sama-sama berjuang," ucapku lirih.
Dua bidan yang menemaniku ikut terharu dan tersenyum. Lagi-lagi, mereka menguatkan aku agar tetap tenang dan kuat.
Dorongan itu tiba-tiba muncul, sangat kuat. Aku mengeden sekuat yang aku bisa. Sambil terus melihat ke arah perutku.
"Ayo, Bu. Terus, yang kuat, Bu."
Aku merasakan sesuatu mengganjal di jalan lahirku. Semangat ini kembali bangkit, meskipun rasanya tenaga ini mulai melemah.
"Bagus, Bu. Rambutnya sudah kelihatan," ucap bidan yang memantau jalan lahirku.
Dorongan itu datang lagi. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Mencengkeram paha ini, aku mengeden sekuat yang aku bisa.
"Pelan, Bu ... yang lembut."
Setelah itu aku merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirku. Suara tangisan bayi langsung terdengar. Aku tersenyum sambil menangis. Kedua bidan itu langsung menyedot cairan, yang ada di dalam mulut dan hidung bagiku.
"Selamat ya, Bu. Bayinya laki-laki," ucap bidan menelungkupkan bayi merah itu di dadaku.
Kuelus pipinya. Wajahnya sangat mirip dengan suamiku. Hidungnya mancung dan bibirnya mungil. Aku berharap bayi kecil ini akan mempermudah jalanku. Rencana untuk menghancurkan ayahnya kelak.
Mamah dan papah mertuaku pasti sangat senang. Aku bisa memberikan cucu laki-laki pertama pada mereka. Aku akan memanfaatkan keadaan ini.
Aku janji, akan menghancurkan Punda--suamiku.
Bersambung ....
Mataku perlahan terbuka, melihat ke sekeliling. Aku sudah berada di ruangan yang berbeda. Dimana aku?
Terakhir yang aku ingat adalah menatap wajah mungil, dari bayi kecilku. Mengusap pipinya dan menikmati kebahagiaan yang membuncah bercampur haru.
Sekarang? Kenapa aku bisa ada di sini? Mana anakku?
Aku jadi gelisah, pikiranku jadi tak karuan. Bunyi pintu yang terbuka mencuri perhatianku.
Di ambang pintu aku melihat suamiku—Punda, melangkah masuk. Dia tersenyum. Senyuman yang dulu selalu aku rindukan. Jambang tipis yang membingkai sebagian wajahnya, mampu membuatku tergila-gila.
Akan tetapi, itu dulu. Sekarang aku jadi muak menatap wajahnya itu.
"Sayang, kamu sudah bangun? Aku kemarin khawatir, karena kamu pingsan setelah melahirkan. Terima kasih sudah melahirkan anak kita, Sayang."
Cup! Kecupan Punda mendarat di keningku. Sandiwaranya begitu sempurna. Setelah apa yang dia lakukan kemarin malam, dia masih bersikap seolah sangat peduli.
"Mana bayi ...."
"Punda di ruangan bayi, Sayang." Punda memotong pembicaraanku.
"Punda?"
"Ya, Punda kecil. Semua keluarga sudah sepakat, nama anak kita Punda."
Oh, God. Haruskah nama anakku sama dengan suamiku?
"Kenapa?"
"Kamu kenapa, Honey? Kamu tak suka?"
Cih! Honey? Panggilan menjijikkan itu, berani sekali kau lontarkan padaku. Cukup wanita tak berprasaan itu saja yang kau panggil begitu. Aku tak sudi!
"Aku akan minta Lisa kemari," ucapnya kemudian, setelah aku diam dalam kejengkelan ini.
"Lisa? Oh, nggak usah. Nanti, aku minta Dialin saja yang ke sini."
"Dia tidak kerja?" Alis Punda sedikit terangkat.
"Dia itu sahabatku. Aku yakin, dia akan datang ke sini."
"Bukankah Lisa juga sahabatmu, Sayang? Aku yakin Lisa lebih telaten mengurusmu." Punda masih mendebatku.
Sahabatku? Ya, tetapi itu dulu. Sebelum kau hangatkan tubuhmu dengan tubuhnya.
Mengurusku? Aku atau kamu? Ah, terlalu berhargakah dia untukmu? Seakan tak bisa jauh darinya.
Tiba-tiba luka hatiku kembali berdarah. Sayatan kemarin malam baru saja terobati, oleh kehadiran Punda kecil. Namun, kembali dibuka oleh laki-laki yang ada di depanku ini.
"Jadi, gimana, Sayang? Kasihan Lisa di rumah, bahkan dia tidak tahu aku di sini."
Kau pulang sana! Temui wanitamu itu. Wanita yang sudah merenggut hatimu dariku.
"Kamu pulang saja dulu, Mas. Aku akan hubungi Dialin. Boleh aku pinjam ponselmu?"
"Kamu masih lemah, Sayang. Biar aku yang hubungi Dialin."
"Oh, baiklah."
Aku memalingkan wajah ke sisi lain. Punda keluar dari ruangan hanya karena ingin menghubungi Dialin—sahabatku.
Entah, dia juga sekalian menghubungi Lisa—selingkuhannya itu.
Beberapa menit berlalu, Punda kembali masuk ke ruangan.
“Dialin akan ke sini setengah jam lagi, Sayang. Aku pulang dulu, kebetulan siang nanti aku ada rapat penting.”
“Ya. Aku akan tunggu Dialin, Mas.”
Punda langsung tersenyum. Mungkin dia senang, karena bisa bebas di rumah bersama Lisa.
Nikmati kebahagiaan kalian sebelum kehancuran datang menerpa. Kalian yang menancapkan bendera perang. Biarkan aku yang mencabik-cabiknya, untuk menyudahi kekalahan kalian.
Itulah balasan yang pantas, untuk kalian yang sudah mencabik gairah hidupku. Camkan itu!
***
Seperti yang dikatakan Punda. Dialin datang setelah setengah jam berlalu. Wanita berambut pendek itu langsung mendekat memelukku.
Ada rasa haru di kedua bola matanya. Manik hitam kecoklatan itu mulai berkaca-kaca. Tanpa terasa, aku pun ikut larut dalam suasana haru.
"Maaf ya, Zu. Gua nggak tahu kalau lu melahirkan," ucap Dialin menggenggam tanganku.
"Biasa ajalah, Lin. Gua senang lu udah datang. Lu adalah sahabat gua yang paling baik."
"Lisa nggak datang, Zu? Elu udah kabarin dia?" Dialin mengusap ujung matanya. Aku pikir wanita tomboy yang ada di depanku, akan sulit untuk menangis. Namun, ternyata dugaanku salah. Selama ini, Dialin-lah yang selalu memberikan semangat kepadaku.
"Lisa?" Aku menggeleng.
Sebenarnya aku ingin mengungkap semuanya. Namun, itu tidak aku lakukan.
"Si Punda ke mana, Zu? Perasaan dia deh yang nelpon gua tadi." Dialin menatap ke sekitar ruangan.
"Dia sudah pulang."
"Ya ampun, Zu. Harusnya kan dia nunggu gua datang dulu. Masa pangeran tampan lu tega ninggalin begitu saja?" Dialin protes.
Pangeran tampan? Ya, itu dulu. Akan tetapi, sekarang tidak lagi. Bagiku dia adalah malaikat maut, yang sudah mencabut semua cita-cita dalam hidupku.
Cita-cita membangun rumah tangga yang indah itu, kini telah sirna. Semua kepercayaanku terhadapnya sudah hilang.
"Zu, gua bukain buah ya," ucap Dialin. Dia segera mengambil buah apel lalu mengupasnya.
Aku perhatikan setiap gerakan lincah tangan Dialin, memainkan pisau. Entah kenapa luka kemarin malam kembali berdarah. Setiap sayatan pisau itu mengenai kulit apel, yang terasa perih adalah hatiku. Seakan-akan hatiku-lah yang sedang dikuliti.
Rasanya aku tidak percaya atas apa yang menimpaku. Akan tetapi, itulah kenyataan yang terjadi.
Bulir bening terasa hangat membasahi kedua pipi ini. Aku biarkan ia mengalir sejauh yang ia bisa. Ya, aku tak malu menampakkan kesedihan di depan Dialin.
"Nah, udah selesai. Gua suapin ya," ucap Dialin mengalihkan fokusnya padaku. Senyumannya yang tadi mekar seketika meredup. Mungkin karena dia melihat air mata ini jatuh.
"Lu nangis, Zu? Gua ada salah bicara?" Pertanyaan Dialin justru membuat tangisanku semakin dalam. Aku terisak, menahan sesak di dada.
Dialin kembali meletakkan pisau dan apel. Wanita yang ahli ilmu bela diri itu, lalu merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku semakin terisak dalam pelukan Dialin.
Rasa perih di bagian intimku tidak sebanding, jika kusandingkan dengan rasa perih hatiku.
"Zu, jangan nangis gini, dong. Lu kalau ada masalah cerita ke gua," ucap Dialin mengusap rambutku.
Aku masih terus terisak, hingga Dialin membiarkan aku menangis sepuasnya.
Aku meanangis dalam pelukan Dialin, sepuas yang aku inginkan. Rasa sesak di dada lumayan berkurang. Aku coba untuk kembali tersenyum.
Setidaknya aku masih punya sahabat, yang ada di sisiku. Walaupun, di satu sisi aku dikhianati oleh sahabatku yang lain.
Aku--Diana Zulia, tidak akan membiarkan dua sejoli itu hidup bahagia. Tekatku sudah bulat!
Bersambung ....
"Lin, apa yang akan lu lakukan? Jika melihat pasangan lu selingkuh di depan mata?" tanyaku masih dalam pelukan Dialin.
Dialin langsung menyentuh kedua pundakku, dia lepaskan dekapannya. Sorot matanya mengisyaratkan kebingungan sekaligus pertanyaan.
Aku pun menatap mata Dialin. Memberi tahu bahwa pertanyaanku serius.
"Zu, kenapa lu tiba-tiba nanya seperti itu. Jangan bilang kalau ...."
Dialin membuka lebar matanya. Mungkin dia sedang tegang, menanti kejelasan selanjutnya.
Aku menghela napas, lalu memalingkan wajah ke sisi lain.
Haruskah aku beritahu padanya saat ini juga? Bahwa, laki-laki yang sangat kucintai. Laki-laki yang dulu sangat memanjakanku, kini terbawa arus. Dimabuk cinta wanita lain.
Lebih menyakitkan lagi wanita itu adalah sahabatku sendiri. Setelah apa yang kami lewati bersama, justru itu yang dia lakukan.
Andai saja dulu, Lisa memang jujur menyukai Punda. Tentu aku lebih rela mengalah, tetapi tidak untuk saat ini.
Dia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, setelah aku merajut cinta dengan Punda. Itu benar-benar menyakitkan.
"Hei, Zu. Malah bengong. Jangan bikin gua penasaran kayak gini dong," ucap Dialin menyadarkan lamunanku.
Aku tersenyum. Aku pikir untuk saat ini, Dialin tidak perlu tahu mengenai semua itu.
"Bukan apa-apa, Lin. Gua cuma asal ucap saja tadi. Hmm, gua mau dong buahnya."
"Ish, hampir jantung gua copot," ucap Dialin kembali mengambil apel, yang sudah dikupasnya separuh.
"Makasih ya, Lin. Lu jadi repot-repot ngurusin gua."
"Hus, jangan bicara gitu, ah. Oh, iya, anak lu mana, Zu?" Dialin menyodorkan satu potong kecil ke mulutku.
"Masih di ruang bayi, Lin. Sebenarnya sih gua bisa pulang hari ini. Cuma ya, gitu deh. Kata Punda gua kemarin pingsan." Aku menjelaskan sambil mengunyah daging apel.
"What? Lu pingsan, Zu? Apakah melahirkan seserem itu?" Dialin membesarkan matanya. Mungkin dia ngeri membayangkan semuanya.
Bagiku sakit melahirkan tidak seseram dikhianati. Wanita di luar sana pun mungkin punya pemikiran yang sama. Namun, aku tak bisa membayangkan. Kenapa sebagian wanita tega menjadi pemisah? Apakah mereka tidak berpikir berkali-kali? Ada hati yang mereka sakiti.
Lalu, kenapa bisa laki-laki yang tadinya sangat mencintai. Kemudian, begitu mudah tergoda, terpedaya, dan berpaling.
Hukuman apa yang pantas mereka terima? Bukan hanya Si Penggoda, tetapi begitu juga dengan Si Tuan Rumah, yang begitu mudah membukakan pintu.
Tamu tak akan masuk, jika tidak dibukakan pintu. Dalam hal ini, aku pun turut andil. Ya, aku menyesal terlalu percaya pada Lisa, yang dulunya adalah sahabatku.
"Gua nanya loh, Zu. Malah bengong," Dialin ikut memasukkan potongan apel ke mulutnya.
"Eh, maaf Lin. Menurut gua sih tergantung, Lin. Buktinya banyak kan, para wanita yang pengen hamil dan melahirkan. Lu gimana?"
"Hmm, gua belum siap menikah, Zu. Boro-boro mikirin hamil. Handoko masih sabar kok nunggu gua siap."
"Hmm, menurut gua sih lu mantapkan dulu hati lu. Jangan sampai menyesal kayak ...."
"Kayak apa, Zu?"
Ups! Aku hampir keceplosan.
"Ya, kayak kebanyakan orang, Lin. Pas pacaran udah mantap. Eh, pas udah nikah malah memuakkan." Wajahku menegang kembali terbawa suasana.
"Eh, eh, ekspresi lu gitu amat. Hmm, gua jadi curiga nih. Apa jangan-jangan Punda selingkuh, Zu?"
Aku terkejut, jangan sampai Dialin mencium rahasia yang aku pendam. Ini terlalu awal untuk dia tahu. Aku takut dia tidak bisa menahan emosi. Bisa kacau semua rencanaku.
"Enggak, Lin. Bukan, kok, ya. Bukan," ucapku gugup menyembunyikan perasaanku.
Air mataku hampir jatuh sekali lagi. Jika Dialin mendesakku, mungkin pertahananku akan runtuh.
"Zu, kasih tahu gua," ucap Dialin mulai mendesakku.
"Nggak mungkin lu bahas itu. Punda selingkuh kan', Zu?" Dialin memegang kedua pundakku.
Aku sengaja tidak menatap mata Dialin. Akan tetapi, Dialin berusaha agar bisa melihat mata ini. Aku tidak tahan lagi, pertahananku runtuh. Air mata mengalir deras di pipi.
"Jadi, benar Punda selingkuh, Zu?"
Aku mengangguk pelan, dan kembali terisak.
"Berengsek!" cerca Dialin langsung memelukku.
"Nangislah, Zu. Menangislah sepuas yang lu mau. Gua akan ada untuk lu. Kapan pun lu minta."
Tepukan pelan penuh kasih sayang dari Dialin, membuat ketegaran ini bertambah. Dia sudah seperti ayah dan bundaku yang telah tiada. Kadang-kadang, seperti kakak laki-lakiku, Ardito--pemuda selengean yang kini satu-satunya kupunya.
Aku merasa Dialin-lah sahabat sejati yang sesungguhnya. Benar-benar ada setiap saat, dalam tangis ataupun tawa.
"Zu, lu tahu siapa wanita pelakor itu?" tanya Dialin mengakhiri tangisanku.
Aku melepaskan dekapannya, lalu mengusap air mata yang telah tumpah.
Kuperbaiki suasana hati ini dengan senyuman yang terpaksa. Setidaknya aku harus mengakhiri kebodohan ini.
Untuk apa aku terus menangisi orang, yang tidak bisa menghargai cintaku.
"Lu pasti sudah tahu kan, Zu? Siapa wanita gatal itu? Gua siap memberinya pelajaran."
"Ya, Lin. Gua tahu wanita itu."
"Kasih tahu gua, Zu. Gua siap mengirimnya ke neraka sana!" Sorot mata Dialin penuh amarah dan kebencian.
Kutatap lekat Dialin. Dia mengangguk dengan tegas. Tidak! Aku tidak mau membuatnya masuk penjara, hanya untuk menuntaskan sakit hati ini.
"Lu tau kan, Zu? Gua memang terkenal nakal. Tapi nakal gua nggak kayak wanita yang sudah melukai hati lu. Lu juga pasti masih ingat. Waktu gua masuk penjara cuma gara-gara membunuh bokap gua."
Aku mengangguk. Aku juga sangat tahu Dialin melakukan itu, karena ayahnya selingkuh.
Aku jadi ragu, haruskah aku katakan siapa wanita itu? Aku takut, Dialin bertindak gegabah dan menggagalkan semua rencanaku.
"Nggak, Lin." Aku menggeleng.
"Kenapa, Zu? Lu nggak mau kasih tahu ke gua?"
"Bukan gitu."
"Terus apa? Lu mulai nggak percaya sama gua? Lu sudah anggap gua orang lain?" Dialin terlihat kecewa.
"Tapi, Lin. Ini beda," ucapku tiba-tiba menjadi bingung.
"Masalah sahabat gua, adalah masalah gua juga, Zu. Kita itu ibarat satu tubuh. Lu yang dilukai, gua ikut merasakan perihnya."
"Gua takut lu nggak bisa nahan emosi. Gua juga takut lu terjerat masalah gua terlalu jauh, Lin."
"Kasih tahu gua, Zu. Gua janji nggak akan gegabah." Sorot mata Dialin penuh permohonan.
Haruskah aku beritahu nama wanita itu?
Aku tidak yakin Dialin bisa menahan diri, setelah tahu nama wanita itu. Aku menjadi bimbang dan ragu. Karena wanita itu adalah orang yang dekat dengan kami.
Bersambung ....