Bab 1

Wanita berpenampilan sederhana namun tetap tak bisa menyembunyikan paras cantiknya terlihat menunggu lampu hijau berganti merah. Wanita itu dengan tak sabar ingin segera berlari menemui seseorang. Dengan amplop putih di tangannya. Wanita itu terus memandangnya dengan penuh kebahagiaan. Sebentar lagi ia akan mendapatkan impiannya. Ini seperti mimpi baginya. Sedikit lagi ia mampu menggenggamnya.

“Aku tidak sabar ingin memberitahunya.” Wanita itu berbicara dengan dirinya sendiri sambil menatap amplop putih di tangannya.

Waktu telah menghitung mundur. Lampu hijau kini berubah menjadi merah. Banyak pejalan kaki yang berdesakan untuk berebut berjalan di zona Zebra Cross. Tubuhnya yang kurus membuatnya terpontang-panting. Amplop putih yang dipegangnya tanpa sengaja terjatuh. Amplop putih yang sangat berarti untuknya. Wanita itu terlihat menunduk mencarinya. Desakan pejalan kaki membuat amplop putih terus berpindah tempat. Wanita itu terlihat kesulitan mengambilnya. Saat sudah tak terlalu banyak pejalan kaki. Wanita itu akhirnya mendapatkan amplop putihnya.

Amplop putih yang tadinya bersih menjadi kotor. Bukannya langsung menyeberang. Wanita itu terlihat membersihkan amplop putih miliknya dengan mimik sedih. Tanpa ia sadari lampu lalu lintas telah berubah hijau. Ia yang masih berdiri di tengah jalan membuat banyak kendaraan membunyikan klakson.

Setelah menyadari kesalahannya. Wanita itu segera menunduk meminta maaf sebelum akhirnya berjalan meninggalkan jalan raya.

Tanpa wanita itu sadari. Dari tadi terdapat pria misterius yang mengamatinya. Kaca mobilnya yang gelap membuatnya tak terlihat dari luar.

“Kau masih orang yang sama. Hatimu sangat lembut,” ucap pria itu dengan mata yang memandang kepergiannya.

Sudah sangat lama ia tidak tahu kabar wanita itu. Semenjak kematian saudaranya ia harus pindah ke luar negeri. Siapa yang akan mengira. Takdir mempertemukannya kembali meski ia tak yakin wanita itu masih mengenalinya.

“Jalan, Pak.”

*****

Mimik wajah wanita itu masih terlihat sedih saat melihat amplop putihnya yang tak bisa sebersih awal. Ia menyesali kecerobohannya. Untung saja lembaran di dalamnya masih baik-baik saja.

“Kenapa aku ceroboh sekali. Untung saja aku tidak kehilanganmu,” ungkapnya dengan penuh penyesalan.

Setelah memastikan amplop putihnya masih aman. Wanita itu melanjutkan kembali langkahnya. Dengan penuh keyakinan wanita itu memasuki sebuah Cafe. Baru ia membuka pintu Cafe. Ia langsung disambut lambaian tangan seorang pria yang sangat ia cintai. Semenjak kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan. Wanita itu hidup sebatang kara. Saat ini ia hanya memiliki pria itu sebagai keluarganya.

“Vyora!” seru pria itu sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Ya, wanita itu bernama Vyora Arabelle. Ia tersenyum dan membalas lambaian pria itu dengan ekspresi bahagianya.

“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Vyora.

“Tidak, aku baru saja datang,” ucapnya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa semua baik-baik saja, Vin?” tanya Vyora khawatir pada sosok kekasihnya yang sering dipanggilnya Kevin Diaskara.

Wajah Kevin terlihat murung. Semenjak kedatangannya. Kevin terus menekuk wajahnya.

Vyora memegang lengannya. “Vin, aku sedang bertanya padamu. Apa semuanya baik-baik saja?”

Kevin menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.

“Aku habis bertengkar dengan papa,” ucapnya.

Saat Kevin mengatakannya. Vyora merasa bersalah padanya. Ini pasti karenanya. Dari dulu orang tua Kevin tak pernah merestui hubungannya. Vyora sempat ingin menyerah. Vyora yang tak ingin memisahkan anak dan orang tuanya. Vyora mengalah. Namun, karena keyakinan dan keteguhan hati Kevin. Akhirnya Vyora tak menyerah begitu saja. Kevin memberinya keyakinan jika nantinya orang tuanya pasti merestuinya.

“Apa karena hubungan kita lagi?” tanya Vyora sedih.

Melihat kesedihan di mata Vyora membuatnya tak tega. Kevin yang sangat mencintainya. Tak mungkin ia ingin melepaskannya begitu saja. Tak ingin membuatnya sedih. Kevin mencoba mengelak. Melihat amplop putih yang dipegangnya. Kevin tampak penasaran.

“Amplop apa itu?” tanya Kevin.

Vyora yang tadinya penuh semangat ingin memberitahunya. Melihat situasi yang tidak baik-baik saja. Tiba-tiba ia ingin mengurungkannya. Ia pikir ini bukan waktu yang tepat memberitahunya. Mungkin ia bisa memberitahunya di lain waktu.

“Ah, ini. Tidak, ini bukan apa-apa. Itu tidak penting.” Vyora segera menyembunyikan amplop putih miliknya di dalam tasnya.

“Kamu tadi belum menjawabku. Apa benar kau bertengkar karena hubungan kita?” Kevin yang tak menjawab membuatnya harus bertanya lagi.

“Kau tidak perlu memikirkannya. Lebih baik kita pesan makanan. Aku sangat lapar.” Tak ingin Vyora yang ke pikiran. Kevin tak ingin membahas lagi permasalahannya.

Mereka memutuskan menyudahi pembicaraannya. Keduanya menikmati makanannya dengan penuh bahagia. Meski di wajah keduanya tak dapat menampik jika mereka masih memikirkannya.

*****

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.” Kevin sangat menyesali tak bisa mengantar Vyora pulang. Karena dirinya yang tiba-tiba mendapat telepon dari sekretarisnya. Terpaksa ia harus kembali ke perusahaan.

“Tidak apa, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa memesan Taksi,” ucap Vyora.

“Tetap saja aku merasa bersalah padamu. Aku yang mengajakmu bertemu. Tapi, aku harus segera pergi,” sesalnya.

Karena kesibukannya di perusahaan. Membuat Kevin jarang dapat bertemu dengan Vyora. Entah kenapa Kevin mencurigai ayahnya. Bisa saja ayahnya sengaja membuatnya sibuk agar tidak bisa menemui Vyora.

“Aku masih sangat merindukanmu,” ucap Kevin.

Mendengar itu Vyora tersenyum. Tidak hanya Kevin yang merindukannya. Begitu pula dengan dirinya. Ia juga sangat merindukannya. Namun, karena kesibukan sang kekasih. Vyora tak ingin menambah bebannya. Vyora harus bisa memahaminya.

“Beri aku pelukan.” Vyora merentangkan kedua tangannya. Tak lama Kevin datang memeluknya. Keduanya yang merasakan kenyamanan. Mereka terlihat saling tak ingin melepaskan pelukan.

“Kau harus segera pergi,” ucap Vyora meski keduanya masih saling berpelukan. Mereka tampak tak rela melepaskannya.

“Lima menit lagi,” ucap Kevin menenggelamkan pelukannya di leher Vyora.

“Tidak, nanti kau terlambat. Jangan buat papamu marah lagi padamu.”

Mendengar kata yang keluar dari mulut Vyora membuatnya melepaskan pelukannya.

“Baiklah.” Kevin melepaskan pelukannya dengan perasaan berat.

Seperti masih sulit melepaskannya. Perlahan Kevin melepaskan genggaman tangannya padanya.

“Aku pergi?!”

“Ya, hati-hati. Jangan ngebut,” ucap Vyora.

“Em.”

Kevin melambaikan tangannya. Setelah kepergian Kevin. Vyora tampak menekuk wajahnya menyesal. Ia yang tadinya ingin memberitahu kabar baik padanya. Karena waktunya yang tak tepat ia harus mengurungkannya.

Dengan memaksa dirinya tersenyum. “Masih banyak waktu. Aku masih bisa memberitahunya lain kali.”

*****

Waktu kepergiannya ke Jerman tinggal tiga hari lagi. Kesibukan Kevin membuatnya kesulitan mencari waktu yang tepat. Ia tak tahu ekspresi apa yang akan ditunjukkan Kevin nantinya.

“Vyora, maaf aku terlambat.” Vyora membalas dengan senyuman.

Melihatnya yang tampak kelelahan membuatnya kasihan. Kevin pasti banyak pekerjaan. Karena pertemuannya, Kevin harus meninggalkan pekerjaannya. Vyora tampak menyesalinya.

“Tidak apa, kau pasti sangat capek. Maaf, tak seharusnya aku mengganggumu,” ucap Vyora.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Vio. Lagian, aku juga ingin membicarakan suatu yang penting padamu,” kata Kevin.

Kevin yang mengingat tujuan awal bertemu dengan Vyora. “Bukankah kau ingin bertemu denganku karena ingin membicarakan sesuatu juga?”

“Benar, tapi kau bisa memberitahuku terlebih dulu. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Vin. Sepertinya itu sangat penting,” ucap Vyora penasaran.

“Ya, ini sangat penting. Tapi kau bisa memberitahuku dulu. Sebenarnya ada apa tiba-tiba ingin bertemu denganku.”

Vyora dengan ragu mengambil amplop putih di tasnya. Tak langsung menyerahkannya.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu. Namun, aku rasa ini waktu yang paling tepat.”

Kevin menatap amplop putih. Itu sebuah amplop yang sama saat dilihatnya waktu itu. Dengan perlahan Vyora menyerahkan amplop putih itu padanya.

“Sebenarnya apa ini?” tanya Kevin penasaran. Di luar amplop putih tertulis nama salah satu Universitas terbaik di Jerman. Kevin tahu negara Jerman terkenal dengan kampus seni. Terutama musiknya.

“Kau bisa membukanya,” ujar Vyora.

Dengan perlahan Kevin mulai membuka lembaran di dalamnya. Dan benar saja. Sesuai dugaannya. Kevin sangat tahu menjadi pianis merupakan cita-cita terbesarnya. Tapi, kenapa harus sekarang. Kenapa di saat ia telah mengambil keputusan besar justru Vyora akan meninggalkannya.

“Tiga hari lagi?” Kevin menyipitkan matanya.

“I—iya,” jawabnya.

“Kenapa baru memberitahuku sekarang?” ucap Kevin kecewa.

“Maaf, aku sudah ingin memberitahumu dari lama. Tapi, selalu saja waktunya tak tepat.” Vyora mencoba menjelaskannya.

“Lalu, apa kau pikir sekarang waktu yang tepat untuk memberitahuku?” Suara Kevin agak mengeras.

“Ma—maaf.” Vyora tidak tahu harus berkata apa selain meminta maaf.

“Kau tahu apa yang ingin aku katakan padamu?”

Vyora yang tak tahu hanya menunduk dan menggeleng.

“Orang tuaku ingin menjodohkanku dengan rekan bisnisnya,” ungkap Kevin.

Vyora yang tadinya menunduk berganti menatapnya.

“A—apa?”

“Ya, mereka ingin menjodohkanku. Dan kau tahu apa yang aku katakan padanya?” Sekali lagi Kevin mengajukan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.

“Aku menolaknya, Vyora. Bukan hanya itu. Aku bahkan rela meninggalkan semuanya demi mempertahankan hubungan kita.” Kevin mengusap wajahnya kecewa. Vyora tak tahu harus berkata apa. Vyora hanya menangis.

“Dan tinggal tiga hari lagi kau baru mengatakannya,” lanjut Kevin dengan penuh kekecewaan.

“Kalau begitu, kau bisa pergi bersamaku.” Entah kenapa Vyora tiba-tiba ke pikiran ingin mengajak pergi bersamanya.

Masalahnya, itu bukan solusi yang mudah. Jika saja Vyora memberitahunya dari awal Kevin bisa menyiapkannya. Namun, saat ia benar-benar telah menyerahkan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya padanya. Itu tidak memungkinkan.

“Jika saja kau mengatakannya dari awal. Mungkin aku bisa memikirkannya. Orang tuaku telah memblokir semua kartu kreditku. Aku bahkan tak yakin uang tabunganku cukup untuk mencukupi kehidupanku.”

Vyora sangat ingin pergi ke Jerman. Impiannya yang sudah di depan mata tak mungkin ia melepaskannya begitu saja.

“Kalau kau berpikir ingin menjalin hubungan jarak jauh. Maaf, Vyora. Aku tidak bisa. Lebih baik aku melepaskanmu daripada tetap berhubungan tapi kita berjauhan,” ucap Kevin.

“Jika kau ingin tetap mempertahankan hubungan kita. Lepaskan impianmu. Dan menikahlah denganku,” lanjutnya.

“Jika kau memilihku. Temui aku.”

Kevin meninggalkannya begitu saja. Vyora tak bisa menahan lagi tangisnya. Kevin sangat penting baginya. Tapi impiannya juga sangat penting untuknya. Seandainya ia bisa memilih. Vyora ingin memiliki keduanya. Mungkin itu terdengar egois. Tapi, kalau disuruh memilih salah satu. Ia tidak bisa. Keduanya sangat penting untuknya.

Dengan sisa air matanya. Vyora dengan terburu-buru mengambil amplop putihnya dan memasukkannya asal ke dalam tas. Saat dalam perjalanan pergi. Tanpa sengaja Vyora menabrak seseorang.

“Maaf.” Vyora menunduk meminta maaf tanpa melihatnya. Dengan terburu-buru Vyora pergi. Tanpa ia sadari amplop putihnya yang dimasukkan asal ke dalam tasnya terjatuh.

Pria itu yang menyadari amplop putih terjatuh di depannya ia mengambilnya. Itu pasti milik wanita yang menabraknya. Pria itu segera memanggilnya.

“Tunggu!”

Mendengar suara pria itu memanggilnya. Vyora berhenti. Pikiran negatif tiba-tiba terlintas di benaknya. Vyora menghapus sisa air matanya. Ia terlalu malu untuk memperlihatkan air matanya di depan orang tak dikenalnya.

“Iya.”

Pria itu menghampirinya dan memberikan kembali amplop putih miliknya.

“Kau menjatuhkannya.”

Vyora menerimanya. “Terima kasih.”

Setelah menerima kembali amplop putihnya. Vyora melangkah pergi meninggalkannya.

“Dia benar-benar tidak mengenalku,” ucap pria itu dengan sendu.

“Jerman? Apa dia akan pergi ke Jerman?” Pria itu terlihat tersenyum miris. Baru saja takdir mempertemukannya kembali. Tapi, karena takdir pula ia harus mengetahui fakta jika wanita yang diam-diam ia kagumi akan pergi ke Jerman. Sungguh sangat menyakitkan takdir yang harus ia terima.

Bab 2

Dengan uang tabungan yang ia punya. Kevin hanya mampu menyewa rumah kecil untuk ia tinggali bersama Vyora yang telah berubah status menjadi istrinya. Vyora tampak mengamati sekeliling rumah.

“Bagaimana? Apa kau suka? Maaf aku hanya mampu menyewa rumah kecil,” ucap Kevin menyesal.

“Ini cukup bagus. Kau tidak perlu khawatir. Aku menyukainya.” Vyora membalasnya dengan senyuman.

Kevin membawa koper masuk ke dalam rumah. Vyora hanya mengikutinya di belakang sambil terus mengamati sekeliling. Ini sudah tiga hari berlalu. Seharusnya hari ini menjadi hari keberangkatannya ke Jerman. Di wajahnya masih ada sedikit penyesalan. Vyora berharap ini menjadi keputusan yang terbaik.

“Ini kamar kita.” Kevin meletakkan kopernya di dalam kamar.

Kevin mengamati gerak-gerik Vyora. Dari tadi Kevin dapat menangkap jika Vyora terus menghembuskan napas berat.

“Ada apa? Apa kau tidak suka kamarnya? Aku janji, nanti saat aku telah mendapatkan pekerjaan. Aku akan menyewa rumah lebih besar dari ini,” ujar Kevin.

Vyora menghampirinya dan memeluknya. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Semenjak aku hidup sebatang kara. Aku sudah terbiasa tinggal di tempat yang lebih kecil dari ini. Justru aku mengkhawatirkanmu. Kau terbiasa hidup mewah. Apa bisa kamu tinggal di tempat seperti ini bersamaku?!”

Mendengar kekhawatiran Vyora. Kevin mengurai pelukannya. Ia memegang kedua pundak Vyora dan menatapnya penuh yakin.

“Kenapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja aku bisa. Di mana pun kita tinggal jika itu bersamamu, pasti akan aku lakukan. Bahkan di kolom jembatan pun akan aku lakukan jika itu bersamamu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Vyora.” Kevin membawa Vyora dalam pelukannya. Begitu pula dengan Vyora. Vyora terlihat nyaman berada dalam pelukan Kevin.

Keputusan yang diambil Vyora menjadi keputusan sangat besar. Vyora harus merelakan impian terbesarnya demi Kevin. Jika saja orang tuanya tidak meninggal dalam kecelakaan. Mungkin sudah dari lama Vyora dapat mewujudkan impiannya.

Semenjak kematian kedua orang tuanya. Vyora memenuhi hidupnya dari uang pensiun yang ditinggalkan orang tuanya untuknya. Mungkin itu tak seberapa. Tapi itu cukup untuk memenuhi sehari-harinya.

Beruntung Vyora tumbuh menjadi wanita yang cerdas. Karena prestasinya ia selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya. Namun, saat ia ingin kuliah. Vyora harus menunggu dua tahun untuk mendapatkan beasiswa. Saat impiannya telah berada di depannya. Ia melepaskannya begitu saja.

“Vyora, terima kasih kau sudah memilihku. Aku tidak pernah menyangka kau melepaskan impian terbesarmu demi hidup bersama denganku,” ujar Kevin.

Meski ada sedikit menyesal. Vyora harus terima dengan pilihannya. “Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya memilikimu di hidupku. Tentu saja aku lebih memilihmu. Untuk apa aku mendapatkan impianku tapi harus kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kevin.”

“Apa kau pernah menyesali keputusanmu? Sedikit ... saja.”

Kalau dibilang menyesal. Vyora pasti menyesal. Bohong jika ia berkata tidak menyesal. Namun, tak ingin Kevin sedih. Vyora harus membohonginya.

Vyora menggeleng dalam pelukannya. “Tidak.”

“Untunglah, kalau tidak, sampai kapan pun aku akan merasa bersalah padamu.”

*****

“Pa, Papa!”

Anak laki-laki yang sedang bermain mainan menyusun balok, harus menghentikan permainannya saat tak juga mendapatkan respons dari ayahnya.

“Papa Axel!” seru anak kecil itu.

“Ya, sayang.” Pria yang di panggil Axel oleh anak kecil itu akhirnya meresponsnya.

“Dari tadi Isaac terus memanggil, Papa. Tapi papa Axel hanya diam saja. Apa papa Axel tidak sayang lagi dengan Isaac,” ujar Isaac Maverick yang menyandang nama belakang keluarga Axel.

Isaac seorang anak kecil yang baru menginjak usia lima tahun. Namun, anak kecil itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Meskipun ia hanya seorang anak kecil. Tapi ia mampu membaca situasi di sekitarnya.

Isaac tampak telah berkaca-kaca memandang Axel. Tak mendapatkan respons darinya membuat anak kecil itu tersinggung. Dengan gemas Axel mengacak-acak rambutnya. Isaac tampak kesal saat Axel memperlakukannya seperti anak kecil.

“Maaf, sayang. Papa tidak mendengarmu. Ada apa? Apa kau membutuhkan bantuan Papa untuk menyusun rumah.” Axel menatap mainan yang tersebar di ruang kerjanya. Mendengar Axel yang seperti meremehkannya. Isaac bersedekap tangan dan menatapnya.

“Isaac tidak membutuhkan bantuan, Papa. Isaac bisa membuatnya sendiri.”

“Baiklah, lalu apa yang kau inginkan dari Papa?” Axel harus bersabar dengan putranya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kadang Axel merasa takut. Putranya tumbuh lebih cepat tak sesuai dengan usianya.

“Isaac sudah bosan bermain. Isaac mengantuk. Isaac ingin tidur siang,” ujar putranya hampir menangis.

Axel menatap arlojinya. Benar saja ini sudah waktunya Isaac tidur siang. Axel yang dari tadi melamun membuatnya melupakannya.

“Sebelum kau tidur siang, kembalikan dulu mainanmu ke dalam tempatnya. Bukankah Papa sudah bilang. Jika Isaac yang membuatnya berantakan. Maka Isaac yang harus bertanggung jawab,” ujar Axel mengingatkan.

Seperti orang dewasa yang mengerti. Isaac hanya mengangguk dan segera berlari untuk membersihkan mainannya. Isaac menata kembali mainannya sesuai dengan tempatnya. Tak lama anak kecil itu kembali mendekati Axel.

“Sudah, Papa.”

Axel menatap hasil tatanan Isaac. Benar-benar bersih seperti sedia kala.

“Anak pintar,” ujar Alex sambil mengelus Isaac dengan sayang.

“Baiklah, kalau begitu papa panggilkan Tante Dona—“

Sebelum menyelesaikan ucapannya. Putranya memotongnya begitu saja.

“Tidak, Isaac tidak mau dengannya. Isaac ingin tidur siang dengan Papa.”

Axel tahu tak akan bisa menolak putranya. Axel selalu memanjakannya. Karena itu Isaac terbiasa mendapatkan apa pun sesuai keinginannya.

“Baiklah, ayo!” Axel membawa putranya dalam gendongannya. Ia membawa Isaac menuju kamar yang berada di ruangannya. Di dalam ruang kerjanya sengaja di desain dengan satu kamar. Axel yang sangat sibuk. Jika ia lelah, Axel bisa beristirahat.

“Sekarang, tidurlah!” Axel menutupi tubuh mungil putranya dengan selimut. Axel menunggunya hingga Isaac memejamkan matanya. Axel tersenyum menatap kedamaian di wajah Isaac. Axel mencium keningnya dengan sayang sebelum akhirnya keluar dari kamar.

Saat Axel menutup pintu kamar. Bersamaan dengan Dona sekretarisnya memasuki ruangannya.

“Maaf, pak. Saya masuk begitu saja. Dari tadi saya memanggil ba—“

Dona yang terus berbicara tanpa henti. Tak ingin putranya terganggu dari tidur siangnya. Axel memberikan aba-aba padanya dengan menaruh satu jari telunjuknya di bibirnya. Dona yang mengerti dengan maksud Axel langsung memelankan suaranya.

“Ada apa?” tanya Axel setelah terduduk di kursi kerjanya.

Dona memberikan berkas pada Axel. “Ada beberapa berkas yang perlu bapak tanda tangani.”

Setelah membacanya singkat. Axel memberikan tanda tangan pada berkas yang di bawa sekretarisnya.

“Terima kasih, kalau begitu, saya permisi dulu.”

Setelah kepergian sekretarisnya. Axel kembali melamun.

“Apa dia benar-benar telah pergi?!”

*****

Kehidupan pernikahannya yang baru seumur jagung. Vyora terlihat menikmati perannya sebagai istri Kevin. Hari ini Kevin yang akan mencari pekerjaan. Vyora sengaja bangun pagi sekali untuk memasak.

Tiba-tiba Kevin memeluknya dari belakang. Wangi sabun mandi tercium jelas dari tubuh Kevin. Vyora tampak tersenyum bahagia menatap sang suami dengan setelan kerjanya.

“Kau sudah bersiap?!” ujarnya pada Kevin.

Masih memeluknya dari belakang. “Em.”

“Duduklah, kau harus sarapan terlebih dulu.”

Kevin dan Vyora untuk pertama kalinya melakukan sarapan bersama dengan statusnya yang berbeda. Vyora terlihat melayani Kevin dengan baik. Ia memberikan nasi di atas piring milik Kevin sebelum ke piringnya.

“Maaf, kita harus berhemat hingga kamu mendapatkan pekerjaan baru. Aku hanya bisa masak seadanya,” ucap Vyora.

“Tidak apa, sayang. Aku janji akan segera mendapatkan pekerjaan agar bisa memenuhi kebutuhan kita nanti.”

Setelah menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Kevin terlihat menatap arlojinya. Kevin beranjak dari kursinya dan meminum air yang telah disiapkan Vyora untuknya.

“Aku harus pergi. Tidak baik menunda-nunda. Bukankah rezeki akan mudah dicari di pagi hari?!”

Vyora mendekati suaminya. Sebelum kepergian Kevin. Ia merapikan dasi milik Kevin. Kevin tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari istrinya. Dari dulu ini yang diinginkan Kevin.

“Aku berangkat dulu,” pamit Kevin.

“Em.” Vyora mencium tangan Kevin. “Hati-hati.”

“Doakan aku agar segera mendapatkan pekerjaan,” ucap Kevin.

“Tentu, doaku selalu menyertaimu.”

Kevin mencium kening istrinya dengan begitu lama. Setelah puas menciumnya. Kevin pamit pergi.

*****

Sekarang bukan hanya ada dirinya. Dengan uang pensiun peninggalan orang tuanya. Tidak mungkin cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Harus menyewa rumah yang lebih besar dari sebelumnya. Banyak pengeluaran yang harus ia keluarkan. Mengandalkan uang tabungan Kevin pun ia tak yakin itu akan cukup.

Dengan sisa uang pensiun di bulan ini. Untuk membantu agar ada masukkan uang. Vyora sengaja membuat kue yang dulu pernah diajarkan almarhum ibunya. Ia akan menitipkan kue-kuenya di warung terdekat.

“Akhirnya jadi juga. Tidak sia-sia aku dulu pernah belajar membuat kue dengan mama.” Vyora yang awalnya tersenyum menatap kue-kue cantiknya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi murung.

“Aku merindukan kalian,” ujarnya.

Sudah bertahun-tahun lamanya semenjak kepergian kedua orang tuanya. Saat mengingatnya. Tiba-tiba Vyora merindukan kehadirannya.

“Tidak, aku tidak boleh sedih. Kalian sudah bahagia di sana.” Tangannya yang kotor. Vyora mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

*****

Seusai menitipkan kuenya di warung. Vyora menghabiskan waktunya di pasar. Ia sengaja mampir ke pasar untuk memenuhi kebutuhannya besok. Setelah selesai berbelanja. Vyora terlihat berdiri di dekat trotoar untuk menunggu angkot.

Tanpa ia sadari di kejauhan terdapat mobil mewah yang melewatinya. Seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Pria itu menghentikan mobilnya.

“Pak, berhenti.”

“Ada apa, Tuan?” Tuannya yang tiba-tiba ingin menghentikan mobilnya membuat sopir itu bingung.

“Aku bilang berhenti,” tandasnya.

Sopir itu segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Dengan tergesa-gesa tuannya keluar dari mobil dan seperti terlihat mencari seseorang. Sopir itu yang khawatir, segera keluar dan bertanya pada tuannya.

“Apa semuanya baik-baik saja, Tuan.”

Saat tak menemukan apa yang ia inginkan. Pria itu memutuskan kembali ke dalam mobilnya. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia sudah salah mengenali seseorang.

“Tidak ada, aku hanya salah mengenali seseorang,” ucap pria itu. “Jalan, Pak.”

Saat ia tak sengaja melihatnya. Ia telah terlambat melihatnya karena seseorang yang dilihatnya telah masuk ke dalam angkot dan berlalu pergi.

Bab 3

Cuaca yang sangat panas membuat Vyora menatap sedih. Hari ini menjadi hari pertama Kevin mencari pekerjaan baru. Vyora tak bisa membayangkan dengan cuaca yang panas suaminya harus berpindah-pindah tempat mencari pekerjaan.

Hanya duduk di sebuah angkot saja Vyora tak bisa membayangkannya. Bagaimana seandainya Kevin tak juga mendapatkan pekerjaan. Dengan panas-panasan Kevin harus mendatangi satu per satu perusahaan. Vyora terus berdoa agar suaminya segera mendapatkan pekerjaan.

Tak membutuhkan waktu lama ia telah sampai di tempat pemberhentian.

“Terima kasih,” ucap Vyora memberikan upah pada sopir angkot.

Rumahnya yang terletak di gang sempit membuatnya harus berjalan lagi. Waktu yang telah menunjukkan siang hari. Vyora tampak mengusap keringat yang membasahi dahinya.

“Berjalan kembali ke rumah saja membuatku lelah. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa semuanya baik-baik saja?” bisiknya. Saat ini Vyora mengkhawatirkan keadaan Kevin.

Dengan keringat yang membasahi kemeja putihnya. Kevin tampak mengibaskan kemejanya untuk sekedar mendapatkan angin yang tak seberapa. Kevin sudah mendatangi beberapa perusahaan yang dulunya pernah bekerja sama dengannya. Namun, semuanya menolaknya. Bohong jika ia tak lelah. Mengingat Vyora yang sedang menunggunya di rumah. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang.

“Tidak, aku tidak boleh lelah. Aku harus semangat.”

Kevin kembali melangkahkan kakinya penuh semangat. Ia terus menyusuri jalanan untuk mendatangi perusahaan lain. Kevin yakin dari banyaknya perusahaan. Berkat pengalamannya sebelumnya. Pasti ada salah satu perusahaan yang akan menerimanya.

Kali ini Kevin mendatangi perusahaan yang dikelola teman dekatnya. Kevin memasuki perusahaan dengan penuh keyakinan. Kevin terlihat mendatangi resepsionis untuk bertanya.

“Pak Ethannya ada?” tanya Kevin.

“Maaf, apa Anda sebelumnya sudah membuat janji dengan pak Ethan?” tanya resepsionis.

“Aku teman dekatnya. Bisakah kau bertanya padanya jika Kevin Diaskara ingin bertemu dengannya?”

Setelah mempertimbangkannya. Resepsionis itu mengangguk. Melihat itu Kevin bisa bernapas lega. Resepsionis itu segera menyambungkan teleponnya ke sekretaris Ethan.

“Halo! Ada seseorang yang mencari pak Ethan. Dia bilang...”

Resepsionis itu menatapnya. Sepertinya wanita itu lupa namanya. Kevin akhirnya menyebutkan kembali namanya.

“Kevin Diaskara,” ucap Kevin.

Resepsionis itu mengangguk mengerti. “...Kevin Diaskara.”

Tak lama resepsionis itu menutup teleponnya.

“Bagaimana?” tanya Kevin segera.

“Pak Ethan bisa bertemu dengan Anda. Apa Anda sudah tahu ruangan pak Ethan?” tanya resepsionis yang diberinya anggukan.

“Baiklah, kalau begitu Anda bisa langsung pergi ke ruangannya. Nanti akan ada sekretarisnya yang menyambutmu.”

Dengan perasaan senang Kevin melangkahkan kakinya. Saat ini perusahaan Ethan menjadi harapan terbesarnya. Kevin yang telah berteman lama dengan Ethan. Ia yakin Ethan akan menerimanya.

“Silakan.” Saat Kevin baru keluar dari lift. Benar saja sekretaris Ethan langsung menyambutnya.

“Pak Kevin sudah datang,” ujar Sekretaris Ethan yang berbicara dengan Ethan.

“Suruh dia masuk.” Kevin mendengar Ethan yang mempersilahkannya masuk. Merasa kehadirannya yang disambut. Membuat Kevin tersenyum senang.

“Anda bisa masuk.” Kevin tersenyum tulus pada sekretaris Ethan.

Kevin memasuki ruang Ethan. Saat pertama masuk. Ia melihat Ethan yang berdiri menyambutnya.

“Hai, Teman. Sudah sangat lama aku tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu? Aku mendengar berita katanya kau baru saja menikah. Aku ucapkan selamat, Teman.”

Seperti biasa seorang pria yang bertemu teman lama. Mereka saling melakukan High Five sebagai penyambutan.

“Terima kasih, Ethan. Seperti yang kau lihat. Aku sedang tidak baik-baik saja,” ucap Kevin.

Ethan tampak mengamati Kevin dengan saksama. “Apa maksudmu, Vin? Duduklah, kau harus menjelaskannya padaku. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu. Bukankah kau sedang menikmati pernikahan barumu?”

Ethan membawa Kevin untuk duduk di tempat yang sudah ia sediakan.

“Sekarang, katakan padaku. Apa yang bisa aku bantu,” ujar Ethan.

“Ah, aku hampir lupa. Akan aku suruh sekretarisku membawakanmu kopi.” Ethan yang baru saja akan berdiri di cegahnya.

“Tidak perlu, Than. Lagian aku hanya sebentar saja,” ucap Kevin.

Ethan kembali duduk di tempatnya. “Baiklah.”

Dengan tak enak hati. Kevin harus mengungkapkan tujuannya mendatangi temannya.

“Sebenarnya aku membutuhkan bantuanmu, Than.”

Ethan menatapnya seolah tak mengerti. “Bantuan? Katakan padaku. Apa yang perlu aku bantu.”

“Sebenarnya aku meninggalkan rumah. Keluargaku yang tak pernah merestui hubunganku dengan istriku saat ini. Aku memutuskan meninggalkan semua termasuk menyerahkan kembali fasilitas yang diberikan papa.” Ethan hanya mendengarkannya.

“Karena itu, tujuanku kemari ingin meminta pekerjaan padamu.”

Mendengar itu Ethan mengelus dagunya berpikir. Kevin tampak berharap cemas. Saat ini hanya Ethan menjadi tujuan terakhirnya.

“Sebelumnya aku minta maaf padamu, Vin. Bukannya aku tidak mau memberikan pekerjaan padamu. Tapi, keadaan perusahaan yang tidak baik-baik saja. Aku bahkan harus mengurangi karyawan.”

Lagi-lagi Kevin mendapatkan penolakan. Ia yang merupakan lulusan luar negeri. Dengan pengalaman pekerjaan sebelumnya. Ia pikir itu akan memudahkan mendapatkan pekerjaan. Ternyata semuanya salah.

“Tidak apa, Than. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Setelah kepergian Kevin. Tak lama Ethan mendapatkan telepon dari seseorang.

“Tenang, Om David. Semuanya berjalan lancar. Aku pastikan Kevin tidak akan mendapatkan pekerjaan.”

*****

Waktu telah menunjukkan sore hari. Kevin yang tak kunjung kembali membuat Vyora khawatir. Vyora tampak mondar-mandir di luar rumah menunggu kedatangan suaminya.

Saat melihat kehadiran Kevin. Senyum bahagia menyambut kedatangannya. Namun, senyumnya berubah sendu saat menatap keadaan Kevin. Kemejanya yang tadinya rapi. Kini telah berubah menjadi kucel.

Vyora menyambutnya dengan mencium tangannya. “Kau pasti sangat lelah.”

Tak ingin bertanya tentang pekerjaannya terlebih dulu. Vyora mempersilahkan Kevin masuk terlebih dulu.

“Duduklah,” ucap Vyora.

Kevin yang kelelahan hanya menuruti perintah Vyora. Vyora seorang istri yang sangat berbakti. Beruntung sekali ia memiliki Vyora sebagai istrinya. Sungguh orang tuanya akan menyesal telah menyiakan menantu sebaik Vyora.

Vyora melepaskan sepatu Kevin lalu memijat kakinya sejenak. “Kau pasti sangat kelelahan.”

Tiba-tiba air matanya menetes tak tega menatap Kevin yang menderita karenanya. Melihat air mata di pelupuk mata Vyora. Kevin menyeka dengan tangannya.

“Sayang, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menangisiku,” ucap Kevin.

“Aku tak tega melihatmu menderita seperti ini. Seandainya saja kau masih tinggal dengan keluargamu. Pasti ini semua tidak akan terjadi padamu,” ujar Vyora dengan tangisnya.

“Husst...” Kevin menutup mulut Vyora dengan jari telunjuknya. “...ini sudah menjadi keputusanku. Kita sudah berjanji apa pun yang terjadi kita akan tetap bersama. Jadi, aku mohon jangan salahkan dirimu. Apa kau mengerti?”

Vyora mengangguk mengerti. “Em.”

“Aku akan membawanya ke dalam. Lebih baik sekarang kau mandi setelah itu kita makan malam bersama,” ucap Vyora yang diberi anggukan oleh Kevin.

Setelah Kevin masuk ke dalam kamarnya. Vyora membawa tas dan sepatu kerja Kevin untuk diletakkannya pada tempatnya. Sambil menunggu Kevin selesai mandi. Vyora mempersiapkan untuk makan malamnya.

*****

“Papa!” seru Isaac menyambut kedatangan Axel.

Melihat Isaac yang berlari padanya. Axel segera meletakkan tas kerjanya dan menggendong putranya dalam pelukannya.

“Ada apa? Sepertinya hari ini anak papa sangat senang. Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Axel.

“Semuanya baik-baik saja. Papa tahu? Hari ini ada murid baru yang baru saja pindah ke sekolahanku,” ujar Isaac dengan semangat.

“Benarkah? Apa dia anak laki-laki?”

Isaac menggeleng. “Bukan, Papa. Dia anak perempuan.”

Axel mengangguk berkali-kali mengerti. “Oh... Apa dia anak perempuan yang cantik?”

Dengan malu-malu Isaac mengangguk. Melihat itu Axel tersenyum.

‘Sangat seperti ayahnya. Masih kecil sudah pintar menggoda,’ batinnya.

“Papa, Papa,” panggil Isaac.

“Iya, sayang.” Axel menjawab dengan sabar.

“Isaac ingin belajar piano, Papa.” Isaac yang tiba-tiba ingin belajar piano membuatnya menatap heran putranya. Isaac dari kecil tak pernah suka bermain musik. Entah kenapa hari ini tiba-tiba Isaac ingin belajar piano.

Tiba-tiba Axel mengingat masa sekolahnya dulu. Terdapat sosok pemuda dengan tubuh gempal dan berkaca mata. Baju yang di masukkan ke dalam celananya dengan sangat rapi. Pemuda itu terlihat mengintip perempuan seusianya yang sedang bermain piano di dalam kelas musik.

Tuts yang di mainkan oleh jari-jemari lentiknya menghasilkan melodi nan indah. Pemuda itu tampak menikmati alunan melodi yang dimainkannya. Tiba-tiba seperti merasakan ada seseorang yang mengintipnya. Perempuan itu menghentikan jari-jemarinya dan menatap ke arah pemuda yang mengintipnya. Ketahuan mengintip. Pemuda itu segera bersembunyi.

“Papa, apa kamu mendengarku?” suara Isaac membuyarkan lamunannya.

“Iya, sayang. Papa mendengarmu,” ujar Axel.

“Apa papa boleh bertanya padamu?” lanjut Axel.

Isaac menatap Axel dengan penuh tanda tanya. “Apa yang ingin Papa Axel tanyakan pada Isaac?”

“Bukankah kamu tidak menyukai musik. Lalu, kenapa tiba-tiba kau ingin belajar piano?”

Isaac tersenyum lebar. “Karena Allea suka bermain piano.”

Kini giliran Axel yang menatap putranya penuh tanda tanya. “Allea? Siapa Allea?”

“Itu, murid baru yang Isaac ceritakan pada papa.”

Axel tak bisa berkata-kata mendengar pengakuan Isaac putranya. Bagaimana bisa anak kecil sepertinya ingin belajar piano hanya agar bisa dekat dengan murid baru itu. Axel hanya menggeleng tak percaya.

“Baiklah, Papa akan mencarikan guru les untukmu.”

“Yeah... Terima kasih, Papa.”

Axel tertawa melihat kebahagiaan sederhana putranya. Isaac yang senang langsung memeluk ayahnya penuh dengan kebahagiaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED