Bab 1

Suara rintihan yang tersendat-sendat memenuhi ruangan sempit yang dipenuhi bau besi dan darah. Pemuda itu tergeletak di lantai, tubuhnya berlumuran darah dan memar. Setiap gerakan kecil membuatnya mengerang kesakitan. Ia menggeliat, mencoba menghindari bayangan yang semakin mendekat, tetapi sia-sia.

"Aku mohon... cukup... jangan pukul aku lagi...sakit....," suaranya serak, nyaris tenggelam dalam deru napas yang terengah-engah.

Wanita itu berdiri di atasnya, matanya tajam menatap dengan kebencian yang tak bertepi. Tangannya menggenggam erat sebatang tongkat besi yang berkilauan oleh darah, jari-jarinya memutih karena tekanan yang begitu kuat. Bibirnya yang dulu lembut kini tertarik ke bawah, menunjukkan ekspresi yang dingin dan penuh dendam.

"Kenapa? Tak kuat menahan sakitnya?" suaranya rendah, hampir berbisik, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa berat ribuan ton kemarahan. "Dulu... saat anakku memohon... apakah kalian berhenti?"

Pemuda itu terisak, air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. "Aku... aku minta maaf... Kumohon, aku menyesal..."

Wanita itu mendekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Maaf? Kau pikir maafmu bisa menghapus apa yang telah kalian lakukan pada ankku? Bisa menghapus penderitaannya? Bisa membangkitkan anakku yang sudah mati?"

Pemuda itu menunduk, tubuhnya bergetar. "Aku... aku tidak tahu... aku hanya ikut ikutan... Aku hanya... aku hanya mengikuti yang lain..."

"Ah, begitu," wanita itu mengangguk, nadanya sarkastik. "Jadi Kau hanya mengikuti teman teman mu yang lain, ya? Seperti robot, yang tanpa perasaan, tanpa pikiran... Yang hanya bisa menikmati saat dia berteriak, saat dia memohon... Seperti kau sekarang ini."

"Ahk...sakit.....Tidak... tidak... kumohon... hentikan..jangan pukul aku lagi.," suara pemuda itu berubah menjadi jeritan putus asa ketika wanita itu mengangkat tongkat besi di tangannya.

Dia tidak langsung memukul. Wanita itu menatap pemuda itu dengan mata yang tajam, seolah mencari sesuatu-penyesalan, ketakutan, atau mungkin sekadar pengakuan. Tapi yang ia lihat hanyalah ketakutan. Tak ada penyesalan yang tulus, hanya keinginan untuk tetap hidup.

"Mengapa dulu kau tidak berhenti, saat melihat dia tidak berdaya?" wanita itu bertanya lagi, suaranya lebih pelan, hampir melankolis. "Mengapa kau tidak bisa merasakan ketakutan yang sama yang kau rasakan sekarang? Kenapa kau tidak bisa merasakan sakitnya, deritanya?"

Pemuda itu terdiam, tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya selain isakan yang semakin keras.

Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tak menunjukkan kebahagiaan. "Kau tak bisa menjawabnya, bukan?"

Dia mengangkat tongkat itu lebih tinggi, matanya berkedip sejenak, seakan bayangan wajah anak gadisnya yang penuh luka kembali menghantui pikirannya. "Anakku tidak bisa membalas. Tapi kau... kau akan merasakan semua yang telah dia rasakan... setiap detik penderitaannya yang kalian berikan padanya."

Pemuda itu menjerit, mencoba melindungi dirinya dengan kedua tangannya yang lemah, tetapi wanita itu tak peduli. Dengan kekuatan yang berasal dari seluruh kebencian dan sakit hati yang telah menumpuk selama ini, ia menghantamkan tongkat besi itu ke kepala pemuda tersebut.

Dentuman keras terdengar, dan tubuh pemuda itu terkulai ke lantai, tak bergerak. Ruangan itu sepi, hanya suara napas wanita itu yang terdengar, berat dan tersengal.

Wanita itu memandang tubuh tak bernyawa di depannya. Napasnya pelan-pelan mulai tenang, tapi hatinya tidak. Tidak ada perasaan puas, tidak ada kelegaan yang diharapkan, hanya kekosongan yang lebih besar dari sebelumnya. Dengan langkah lelah, dia berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan tubuh yang sudah tidak bernyawa di belakangnya.

Angin malam menerpa wajahnya ketika dia keluar dari bangunan tua itu. Matanya menatap kosong ke depan, seakan mencari sesuatu yang tidak pernah bisa dia temukan. Keadilan? Kepuasan? Atau mungkin hanya ketenangan yang telah lama hilang sejak hari itu.

Dia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan-bayangan itu, tetapi wajah anak gadisnya terus menghantui, dengan air mata yang mengalir, memohon... memohon pada ibunya yang kini tak bisa melakukan apa pun selain mengambil nyawa lain dalam upaya putus asa untuk merasakan sedikit keadilan. Tapi apa yang dia rasakan kini hanyalah kehampaan.

Dia sadar, tak ada yang bisa mengembalikan anaknya, tak ada yang bisa menyembuhkan luka di hatinya. Satu-satunya yang tersisa adalah bayangan-bayangan itu, dan malam yang semakin dingin, yang seakan menertawakan kesia-siaan tindakannya.

Namun, jauh di dalam hati, dia tahu bahwa keputusannya tidak bisa diubah. Keadilan telah diambil dengan caranya sendiri, meski harga yang harus dia bayar jauh lebih besar daripada yang pernah dia bayangkan.

Angin malam yang dingin menusuk tulang, merayap melalui celah-celah kecil di antara bangunan tua yang kini menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi. Maya melangkah keluar, wajahnya keras tanpa ekspresi. Napasnya berat, seolah-olah beban di dalam dadanya semakin berat setiap kali ia menarik napas. Darah di tangannya masih hangat, menempel seperti pengingat yang tak mungkin dihapus.

Di luar, kegelapan menyelimuti dunia, tapi tidak ada yang bisa menyelubungi rasa kosong yang semakin menggerogoti hatinya. Setiap langkah Maya terasa berat, seakan bayangan dosa mengikuti setiap gerakannya.

"Berhenti."

Suara itu menghentikan langkah Maya. Tubuhnya menegang, dan dia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya. Ia berdiri di tempat, membiarkan angin malam mengibarkan ujung jaketnya, tapi tak sedikit pun menunjukkan bahwa ia akan mematuhi panggilan itu.

Bab 2

"David," suara Maya rendah, hampir berbisik, tapi ada ketegasan dalam nada suaranya. "Kalau kau datang untuk menasihatiku agar berhenti, lebih baik kau pergi. Kau hanya membuang-buang waktu mu saja."

David, pria berusia lima puluhan dengan kerutan di wajah yang menceritakan kisah hidup penuh perjuangan, dan kehilangan berdiri tak jauh di belakangnya. Cahaya lampu jalan yang redup memperlihatkan siluet tubuhnya yang kokoh, meski ia tampak kelelahan, baik secara fisik maupun emosional. Mata David menatap punggung Maya dengan penuh rasa prihatin, tapi dia tahu tidak ada kata-kata yang bisa mengubah wanita ini.

"Aku tidak akan menasihatimu untuk berhenti, Maya" kata David, suaranya tenang namun sarat dengan beban yang tak terlihat. "Aku tahu rasa sakit yang kau rasakan, karena aku pernah mengalaminya juga. Aku tahu kata-kataku tidak akan pernah bisaa mengubah apa pun, tapi..." dia terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati, "aku ingin tahu... bagaimana perasaanmu sekarang, setelah membalas dendam pada salah satu dari mereka?"

Maya menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam hatinya. Pertanyaan itu bergaung di benaknya, menghantam setiap sudut jiwanya yang telah lama hancur. Ia ingin menjawab dengan cepat, ingin mengatakan bahwa ia merasa lega, bahwa semuanya kini terasa lebih baik. Namun, kenyataan selalu lebih rumit dari sekadar jawaban sederhana.

Dia terdiam beberapa saat, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. "Aku belum puas," jawabnya akhirnya, suaranya serak, seperti dipaksa keluar dari tenggorokannya. "Aku belum puas sampai semua orang yang terlibat mendapatkan pembalasan yang setimpal."

David menatap Maya dengan ekspresi yang sulit diartikan-ada kesedihan, ada simpati, namun juga ada rasa takut terhadap apa yang mungkin terjadi selanjutnya. "Dan siapa sekarang target selanjutnya?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan, seolah-olah takut jawabannya akan menghancurkannya.

Maya perlahan berbalik, wajahnya dingin dan tanpa emosi. Matanya yang dulu hangat kini hanya memancarkan kebencian yang dalam. Senyuman tipis, hampir seperti ejekan, terlukis di bibirnya. "Tony," katanya, dengan nada yang penuh tekad. "Dia targetku selanjutnya."

David terdiam, menahan napas sejenak. Nama itu membawa gelombang kenangan buruk, mengingatkannya pada malam yang tak ingin diingat oleh siapa pun yang mengetahuinya. "Tony...," dia mengulanginya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau sadar siapa dia, Maya? Dia bukan orang biasa. Dia anak pejabat tinggi kepoliasian di kota ini, yang punya kuasa di mana-mana."

"Dan kau pikir aku akan peduli, David?" Maya memotong, nadanya tajam seperti belati. "Aku tahu siapa dia. Tapi kau juga tahu, dia bagian dari ini semua. Dia ada di sana, tertawa saat anakku memohon...Saat melemparnya dengan batu, Saat darahnya mengalir di antara mereka, seperti hiburan murahan." Dia mendekat, wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah David. "Dia harus membayar... mereka semua harus membayar apa yang sudah mereka perbuat pada anakku."

David merasakan dadanya sesak oleh kata-kata Maya. Dia mengenal wanita ini, sangat mengenalnya-atau setidaknya, dulu. Sekarang, yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang telah hancur, seseorang yang telah kehilangan semua hal yang membuatnya manusiawi.

"Aku tidak akan menghentikanmu, Maya," kata David akhirnya, suaranya rendah namun penuh ketegasan. "Tapi aku ingin kau berpikir... sejenak saja, tentang apa yang akan kau dapatkan dari semua ini. Kau sudah membalas dendam pada satu orang, dan itu tidak memberimu kedamaian. Apa yang membuatmu berpikir bahwa membunuh Tony akan membuatmu merasa lebih baik?"

Maya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku tidak mencari kedamaian," katanya dingin. "Aku hanya ingin mencari keadilan."

"Keadilan?" David mengulanginya, ada nada sinis dalam suaranya. "Ini bukan keadilan, Maya. Ini pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam hanya akan menghancurkanmu lebih dalam."

"Biarkan aku yang menentukannya," balas Maya cepat. "Aku sudah sangat hancur, David. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat mereka semua membayar untuk apa yang telah mereka lakukan."

David menggeleng pelan, merasa tak berdaya menghadapi kebencian yang begitu mendalam. "Kau akan kehilangan dirimu sendiri, Maya. Dan aku takut... aku takut kau tidak akan pernah bisa kembali."

"Aku tidak peduli," jawab Maya dengan tegas. "Satu-satunya hal yang penting sekarang adalah memastikan mereka merasakan rasa sakit yang sama seperti yang anakku rasakan. Aku ingin mereka memohon, aku ingin mereka menangis, dan aku ingin mereka mengerti bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka lagi."

David menunduk, pandangannya tertuju pada tanah yang becek di bawah kakinya. Dia tahu bahwa kata-kata tidak akan mengubah apa pun. "Bagaimana kau akan melakukannya?" tanyanya, lebih kepada diri sendiri daripada kepada Maya.

Maya menatapnya dengan senyum tipis yang menakutkan. "Aku punya cara," katanya singkat. "Aku punya cara untuk memastikan dia merasakan ketakutan yang sama seperti yang anakku rasakan. Tapi aku tidak akan menceritakan rencanaku padamu, David. Ini urusanku, dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri."

David menatap Maya dengan kesedihan yang mendalam. "Tony adalah orang yang berbahaya, Maya. Ayah seorang polisi, dia punya uang, dan dia punya kekuasaan. Jika kau mencoba melawannya, kau mungkin tidak akan berhasil."

"Aku tidak peduli," kata Maya, suaranya dingin. "Aku tidak takut pada Tony. Aku tidak takut pada siapa pun. Satu-satunya hal yang aku takutkan adalah tidak bisa membalas dendam. Dan aku tidak akan membiarkan ketakutan itu menghalangiku."

David merasakan hatinya hancur mendengar kata-kata itu. Maya telah berubah menjadi seseorang yang tidak dia kenali lagi. "Kau tahu, Maya," katanya pelan, "aku pernah kehilangan seseorang yang sangat kucintai juga. Aku tahu bagaimana rasanya... keinginan untuk membalas dendam itu bisa begitu kuat, begitu memabukkan... Tapi itu tidak akan membawamu ke mana-mana."

Maya menatap David dengan pandangan dingin. "Kau tidak tahu apa yang aku rasakan, David. Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan anakmu dengan cara seperti ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat mayat anakmu tergeletak di rumah sakit, tubuhnya penuh luka, dan tahu bahwa mereka yang melakukan ini tertawa di balik jeruji besi yang mereka beli dengan uang. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar tawa mereka... tawa yang menghantuiku setiap malam."

David terdiam, tak ada yang bisa dia katakan untuk merespons. "Aku tahu," katanya akhirnya, "Aku tahu kau terluka, Maya. Dan aku tahu kau tidak akan berhenti. Tapi, apa yang akan kau lakukan setelah semuanya selesai? Setelah mereka semua mati? Apa yang akan tersisa darimu?"

Maya terdiam, pertanyaan itu menghantamnya seperti pukulan telak di perut. Tapi dia menepisnya. "Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak peduli apa yang tersisa dariku. Aku hanya peduli tentang keadilan bagi anakku."

"Ini bukan tentang keadilan lagi, Maya," David menegaskan. "Ini tentang pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam tidak pernah berakhir baik. Kau mungkin akan mendapatkan keinginanmu, tapi pada akhirnya... kau akan kehilangan segalanya."

"Aku sudah kehilangan segalanya," Maya balas, suaranya rendah namun penuh tekad. "Satu-satunya yang tersisa untukku sekarang adalah balas dendam. Dan aku akan menyelesaikan ini, David. Aku akan menyelesaikannya, tidak peduli dengan kekuatan orang tua mereka.."

Bab 3

David menatap Maya dengan tatapan penuh belas kasihan. Di tengah malam yang kelam, dia tahu bahwa wanita ini telah berada di ambang batas-batas antara kemanusiaan dan kebrutalan. Setiap kata yang diucapkannya, setiap langkah yang diambilnya, seakan mencerminkan tekad yang tak tertandingi.

"Baiklah," kata David akhirnya, suaranya berat dan penuh rasa putus asa. "Aku tidak akan menghalangimu lagi, Maya. Jika kau membutuhkan bantuanku, kau tahu di mana aku berada. Aku akan membantumu dengan cara apa pun yang aku bisa."

Maya menatap David, matanya kosong namun penuh dengan pengertian. Tidak ada rasa terima kasih yang tersisa dalam dirinya, hanya sebuah pemahaman bahwa meskipun dunia mungkin tidak membantunya, setidaknya ada satu orang yang tidak akan menilai tindakan-tindakannya.

"Terima kasih," kata Maya singkat, suaranya datar. "Aku akan mengingat tawaranmu ini. Selamat tinggal, David."

Dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan David dengan tatapan yang menembus kegelapan malam. David berdiri di tempatnya, merasakan beratnya keputusan yang baru saja dia ambil. Dia tahu bahwa Maya tidak akan kembali menjadi seperti sebelumnya. Dia juga tahu bahwa dia mungkin tidak akan pernah bisa mengubah keputusan wanita itu.

Maya melangkah pulang ke apartemennya, suasana malam semakin gelap saat ia memasuki ruangannya yang sepi. Lampu-apartemennya redup, memberi nuansa muram yang sejalan dengan suasana hati Maya. Dia membuka kunci pintu dengan gerakan otomatis, seakan pikirannya tertutup untuk segala sesuatu di luar dunia pembalasan dendam.

Langkah Maya berderak di atas lantai kayu, seiring ia mendekati kamar mandi dengan napas yang terengah-engah. Kegelapan di sekelilingnya terasa menekan, seperti bayangan masa lalu yang selalu mengikutinya, tak pernah melepaskan. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, dan begitu dia memasuki ruangan itu, Maya langsung merasakan dinginnya ubin yang menembus telapak kakinya, kontras dengan panasnya kebencian yang mendidih dalam dirinya.

Maya berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang tampak rapuh. Wajahnya terlihat lelah, penuh luka batin yang tak kasat mata. Bekas darah yang mengering di pipi dan lehernya mengingatkannya pada apa yang baru saja ia lakukan. Namun, yang lebih mengerikan dari noda darah itu adalah tatapan di matanya sendiri-tatapan kosong yang memancarkan kehampaan, seakan-akan jiwanya telah terkikis habis oleh dendam yang ia pelihara.

Ia menyalakan keran air dengan gerakan lambat, membiarkan air panas mengalir dan mengisi ruangan dengan uap tebal. Uap itu segera mengaburkan cermin di depannya, tetapi Maya tak peduli. Dia mulai melepas pakaiannya, satu per satu, melemparkan setiap helai dengan kegetiran yang tak terungkapkan. Pakaian yang berlumuran darah jatuh ke lantai, membentuk gumpalan merah yang kontras dengan putihnya ubin.

Maya melangkah ke dalam pancuran, membiarkan air panas membasahi tubuhnya. Tetesan air yang jatuh dari pancuran mengalir deras di sepanjang tubuhnya, tetapi bukannya memberikan kenyamanan, air itu hanya terasa seperti aliran air mata yang tak bisa ia tangisi. Dengan tangan yang gemetar, dia mengambil spons dan mulai menggosok kulitnya, mencoba menghapus noda darah yang menempel di sana.

Setiap gosokan yang ia lakukan semakin keras, penuh amarah dan keputusasaan. "Hilang... hilanglah..." bisiknya dengan suara bergetar, seakan-akan dia berbicara kepada rasa sakit yang membebani hatinya. Namun, tak peduli seberapa keras ia menggosok, noda itu tetap ada-seperti bayang-bayang dosa yang tak bisa ia hindari.

Air mulai membilas noda darah, membawanya turun ke lubang pembuangan, namun di mata Maya, noda itu tetap ada, mengotori jiwanya yang telah lama terkoyak. "Aku seharusnya tidak menjadi seperti ini," kata Maya dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya terpejam rapat menahan tangis. "Aku seharusnya tidak menjadi monster..."

Tapi, bayangan putrinya yang telah tiada muncul dalam benaknya, memotong setiap pemikiran lain. Bayangan itu menari di sekitar ingatannya, memamerkan senyumnya yang cerah dan tawa riangnya yang kini hanya tinggal kenangan. Maya teringat hari-hari bahagia yang dulu mereka habiskan bersama, saat putrinya masih hidup-sebuah kehidupan yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Sekarang, semua itu terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.

"Kenapa mereka harus merenggutmu dariku?" Maya bertanya kepada dirinya sendiri, suaranya penuh keputusasaan. "Kenapa mereka harus menghancurkan mu? Apa salahmu pada mereka...?"

Ia mulai menangis, tubuhnya yang lelah bergetar di bawah pancuran air yang terus mengalir.

Setiap tetes air yang jatuh ke tubuhnya terasa seperti jarum-jarum yang menusuk kulitnya, mengingatkannya pada setiap luka yang telah mereka ciptakan. "Aku tidak bisa memaafkan mereka," bisik Maya, suaranya tenggelam dalam isak tangis yang menyakitkan. "Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka..mereka semua harus mendapatkan balasan yang setimpal."

Maya berhenti menggosok tubuhnya, membiarkan air membasuhnya tanpa perlawanan. Dia menatap ke bawah, melihat aliran air yang kini berubah menjadi merah, seolah-olah darah yang baru saja ia tumpahkan kembali membanjiri tubuhnya. Tapi tidak ada yang bisa menghapus kebencian yang sudah terukir dalam jiwanya. Tidak ada air yang cukup untuk membersihkan dosa ini.

Dalam hatinya, Maya tahu bahwa dia telah berubah-bahwa dendam telah merubahnya menjadi seseorang yang dia sendiri tidak kenali. Tapi apa lagi yang bisa dia lakukan? Mereka yang telah mengambil putrinya tidak pantas hidup tanpa rasa takut, tanpa merasakan penderitaan yang mereka berikan.

"Lima orang lagi..." Maya bergumam, suaranya tenggelam di antara suara pancuran yang berderai. "Lima nyawa lagi yang harus kuambil..."

Setelah beberapa saat, Maya mematikan keran air dan keluar dari pancuran, meninggalkan tubuhnya yang basah tanpa niat untuk mengeringkannya. Dia berjalan ke depan cermin yang kini penuh embun, mengusapnya dengan tangan, memperlihatkan bayangannya yang kusut dan penuh luka.

Wajah di cermin itu bukan lagi wajah seorang ibu yang penuh cinta. Mata itu, yang dulu memancarkan kehangatan, kini hanya memantulkan kehampaan yang gelap dan tak berujung. "Aku akan membalasmu, Nak," bisiknya kepada bayangan putrinya yang samar di dalam cermin. "Aku akan membuat mereka membayar semua yang sudah dilakukan pada Liana.. dengan nyawa mereka."

Bayangan putrinya terlihat tersenyum-sebuah senyum yang hanya bisa Maya bayangkan dalam mimpinya. Senyum itu menghilang saat Maya menundukkan kepalanya, air mata kembali mengalir dari matanya yang merah.

Dia melangkah ke kamar tidur, tubuhnya terasa berat, seolah-olah seluruh dunia berada di atas bahunya. Setiap langkah terasa seperti pertempuran melawan dirinya sendiri, melawan amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan. Maya meraih ponsel yang tergeletak di meja, dan membuka daftar nama. Di sana, lima nama tertera dengan jelas, lima nama yang kini menjadi tujuannya.

Nama pertama muncul-Tony. "Kau selanjutnya," bisik Maya dengan senyum yang samar namun mengerikan di bibirnya. "Aku akan pastikan kau merasakan apa yang di rasakan anakku... Setiap detik dari penderitaannya itu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED