Malam itu, aroma whisky mahal bercampur keringat memenuhi ruang penthouse Arya Adhitama. Jantungnya berdebar, bukan karena adrenalin bisnis yang biasa ia rasakan, melainkan sensasi panas membakar yang merayapi setiap inci kulitnya. Matanya berkabut, fokusnya buyar. Ruangan mewah yang biasanya menjadi singgasananya kini terasa seperti oven.
"Sialan!" desis Arya, mencengkeram erat kerah kemejanya yang terasa mencekik.
Beberapa jam sebelumnya, Clara-gadis yang didorong mati-matian oleh Kakeknya untuk menjadi menantu-memberinya minuman 'selamat datang' di acara makan malam kecil. Arya sudah curiga, tapi ia terlalu lelah untuk berdebat. Sekarang, panas ini bukan sekadar efek lelah. Ini lebih ke arah neraka.
Ia bergegas ke kamar mandi, mengguyur wajahnya berulang kali di bawah kran wastafel marmer. Air dingin hanya memberikan kelegaan sesaat, setelah itu sensasi mendesak itu kembali, menuntut pemuasan yang brutal. Otaknya memerintahkan logis, menyuruhnya menelepon Dokter pribadi, atau setidaknya pengawal. Tapi tubuhnya... tubuhnya memberontak.
Di sayap kamar tamu yang terpisah, Alana Shafira baru saja menyelesaikan rutinitas malamnya: memastikan Kakek Adhitama sudah tidur pulas, mematikan lampu baca, dan mencatat jadwal pemberian obat besok pagi. Alana adalah perawat pribadi Kakek Adhitama. Tugasnya, dan juga hidupnya, sangat sederhana. Berasal dari keluarga biasa di pelosok Jawa Tengah, Alana datang ke Jakarta hanya untuk satu tujuan: bekerja keras demi menyekolahkan adiknya. Statusnya di rumah megah ini hanyalah bayangan; dilihat sebelah mata oleh nyonya rumah, dianggap angin lalu oleh Tuan muda Arya.
Saat ia berjalan pelan menuju kamar perawatnya, langkah kakinya terhenti. Ada suara gaduh dari arah lorong utama, lorong yang seharusnya sepi setelah jam 10 malam. Jantung Alana berdegup kencang. Ia tahu ini tidak baik.
"Tolong... siapa pun..."
Suara itu serak dan berat, bukan seperti suara Arya yang selalu angkuh dan tegas. Alana ragu. Ia harusnya mengabaikan dan kembali ke kamarnya. Arya Adhitama adalah zona terlarang. Tapi ia perawat. Dan ada orang yang terdengar kesakitan.
Ia memajukan langkah, perlahan mengintip ke arah ruang tamu keluarga yang luas. Sosok Arya berdiri membelakanginya, memukul dinding kaca dengan tinjunya hingga terdengar bunyi samar retakan. Pria itu tampak seperti hewan yang terluka dan terperangkap. Punggungnya naik turun dengan napas yang memburu.
"Tuan Arya?" panggil Alana pelan, suaranya nyaris berbisik.
Arya berbalik. Matanya merah menyala, bukan karena marah, tapi karena kebutuhan yang tak tertahankan. Saat pandangan matanya jatuh pada Alana, pada sosok polos berbaju piyama katun tipis yang berdiri kaku di ambang pintu, rasionalitasnya benar-benar hancur. Obat itu telah mengambil alih sepenuhnya.
Di mata Arya yang dikuasai nafsu, Alana bukan lagi perawat pribadi Kakeknya. Dia adalah penyelamat, satu-satunya jalan keluar dari siksaan yang menghanguskan.
"Kamu..." kata Arya, suaranya berubah menjadi geraman.
Alana mundur selangkah, nalurinya menjerit bahaya. "Tuan, Tuan baik-baik saja? Saya akan panggil Dokter Haikal..."
Ia bahkan belum sempat mengeluarkan ponselnya ketika Arya bergerak. Cepat, brutal, dan tanpa peringatan. Dalam hitungan detik, tubuh kekar Arya sudah menjebaknya di antara dinding dan lengan kokohnya. Aroma whisky, parfum mahal, dan sesuatu yang pahit menyeruak.
"Jangan pergi..." pintanya, tapi cara ia memohon terdengar seperti perintah mutlak.
Alana panik. Ia mendorong dada Arya sekuat tenaga. "Lepaskan! Tuan, apa yang Tuan lakukan!?"
"Panas... tolong... aku panas..." desah Arya, dan cengkeramannya menguat.
Ketakutan mencekik Alana. Ini bukan lagi Arya yang dikenalnya, si CEO angkuh yang acuh tak acuh. Ini adalah orang asing yang dikuasai kegelapan. Ia berjuang, menggigit bahunya, menendang kakinya, tapi Arya terlalu kuat. Kekuatan seorang perawat kecil tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuatan CEO yang kehilangan akal sehatnya.
Perlawanan Alana hanya memicu reaksi yang lebih keras. Kepanikan Arya berubah menjadi kebutaan. Pria itu mengangkat tubuh Alana, mengabaikan rontaan kecilnya, dan membawanya menuju kamar tidur tamu terdekat-kamar tempat semuanya seharusnya tetap menjadi rahasia, kamar yang kini menjadi saksi bisu kehancuran.
Pagi datang membawa cahaya yang brutal. Sinar matahari pagi menembus tirai sutra tebal, memotong kegelapan dengan kejam.
Kepala Arya berdenyut hebat. Ia membuka mata dan menemukan dirinya terbaring di kasur yang tidak ia kenali, di sebelah wanita yang seharusnya tidak ada di sana.
Alana.
Ia terbaring meringkuk, memunggunginya. Rambutnya berantakan, dan punggung piyama katunnya robek di bahu. Selimut menutupi sebagian besar tubuhnya, tapi pemandangan itu sudah cukup untuk membuat perut Arya mual.
Kilasan ingatan malam tadi datang menghantamnya. Panas yang membakar, rasa putus asa, siluet tubuh yang melawan, teriakan yang tercekat... Ia memegang kepalanya, seolah ingin meredam suara-suara di kepalanya. Itu bukan mimpi. Itu nyata.
Dia, Arya Adhitama, baru saja merenggut sesuatu yang tak ternilai harganya dari perawat pribadi Kakeknya, seorang wanita polos yang selama ini nyaris tak pernah ia sapa.
Arya bangkit cepat, rasa sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan rasa jijik pada dirinya sendiri. Ia menyambar celana panjangnya dan berdiri di tepi tempat tidur, melihat ke bawah pada sosok yang masih diam itu.
"Alana," panggilnya, suaranya serak dan dingin, seperti baru saja keluar dari kawah es.
Alana tidak bergerak.
Arya mendekat, menjulurkan tangan untuk menyentuhnya, tapi ia menarik tangannya kembali sebelum sempat menyentuh kulitnya. Sentuhan yang tak disengaja malam tadi sudah membawa konsekuensi bencana. Ia tak sanggup menyentuhnya lagi.
"Bangun," perintah Arya, kali ini lebih keras, kembali ke persona angkuh yang ia kenakan setiap hari. Itu satu-satunya cara ia bisa menghadapi situasi ini tanpa ambruk.
Alana perlahan bergerak. Ia tidak membuka mata, tapi tangannya yang gemetar menarik selimut lebih tinggi, seolah selimut itu benteng terakhirnya.
"Alana, lihat aku!"
Alana membuka mata, dan pandangan mata itu langsung menghancurkan pertahanan Arya. Matanya bengkak, merah, tapi yang paling menyakitkan adalah kekosongan yang ada di sana. Tidak ada amarah. Tidak ada air mata. Hanya kehampaan yang mematikan.
"Sudah bangun, Tuan?" tanyanya, suaranya sangat pelan, tanpa emosi, seolah ia hanya menanyakan kondisi cuaca.
Arya tersentak. "Jangan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa!"
Alana akhirnya duduk, menjauhkan selimut dari tubuhnya. Ia merasakan setiap ototnya menjerit sakit. Ia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, menghindari pandangan Arya, dan menatap ke depan.
"Memang tidak terjadi apa-apa, Tuan," katanya lirih. "Kecelakaan. Kelalaian. Kesalahan yang harus dibayar."
Arya merasa terhina dengan ketenangan Alana. Dia mengharapkan jeritan, tamparan, atau setidaknya air mata. Bukan penerimaan yang mati rasa ini.
"Dengar," kata Arya, suaranya berubah menjadi nada bisnis yang tajam. "Aku minta maaf. Aku tidak sadar. Aku dijebak, aku..."
"Saya tahu, Tuan," potong Alana. "Saya mendengar pertengkaran Tuan di telepon semalam dengan Clara. Saya tahu Tuan tidak sengaja."
Pengakuan itu semakin menyulitkan Arya. Rasa bersalahnya berlipat ganda. Alana tahu, tapi dia tidak berteriak menyalahkan.
"Aku akan bertanggung jawab," janji Arya, memaksakan kata-kata itu keluar. "Aku akan berikan kamu apa pun yang kamu mau. Uang. Berapa pun. Aku akan pastikan kamu dan keluargamu hidup nyaman seumur hidup."
Mata Alana akhirnya bertemu dengan mata Arya, dan di sana, muncul sepercik api yang tidak bisa ditutupi.
"Tuan pikir saya akan menjual kehormatan saya dengan uang?" tanya Alana, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Saya datang ke sini untuk bekerja, Tuan. Harga diri saya tidak bisa dibeli dengan kekayaan Tuan."
Arya terdiam. Dia sudah memperkirakan penolakan, tapi bukan dengan nada setulus ini.
"Lalu, apa maumu?" tanya Arya, frustrasi dan terdesak. "Kita tidak bisa membiarkan ini. Jika Kakek tahu..."
Saat nama Kakek disebut, raut wajah Alana berubah menjadi ketakutan. Kakek Adhitama adalah satu-satunya pelindungnya di rumah itu. Jika Kakek tahu, seluruh rumah akan gempar, dan Alana pasti yang akan menanggung malu terbesar. Statusnya sebagai perawat akan hancur, dan yang lebih parah, ia akan diusir, dan masa depan adiknya akan terancam.
"Tolong, Tuan," kata Alana, suaranya kembali memohon dan rendah. "Jangan biarkan Kakek tahu. Saya mohon. Jika Kakek tahu, saya akan diusir. Hidup saya-"
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," sela Arya. "Aku akan melindungimu. Tapi kita harus menikah."
Alana menatapnya, seolah Arya baru saja mengucapkan bahasa asing. "Menikah?"
"Ya. Menikah," ulang Arya, memaksakan diri untuk menerima ide yang baru muncul ini. "Itu satu-satunya cara untuk membungkam semua orang, termasuk Kakek, dan juga diriku sendiri. Kita menikah. Aku bertanggung jawab penuh. Dan setelah beberapa saat, kita akan bercerai baik-baik dengan kompensasi yang layak."
Alana menggeleng, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir. "Tidak, Tuan. Saya tidak mau menikah dengan Tuan. Saya tidak cinta. Dan Tuan... Tuan membenci saya. Saya tidak mau terikat seumur hidup karena satu malam yang kelam."
"Ini bukan soal cinta!" bentak Arya, kembali ke mode dominasinya. "Ini soal tanggung jawab, Alana! Ini soal image keluargaku dan masa depanmu yang akan hancur jika Kakek tahu! Kamu pikir kamu bisa kembali ke kampungmu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Kamu akan dicap kotor!"
Kata-kata Arya menusuk tepat di ulu hati Alana. Dia benar. Dunia tempatnya berasal akan menghakiminya dengan kejam. Ia tidak hanya akan menghancurkan masa depannya, tapi juga menghancurkan mimpi adiknya.
Ia menarik napas panjang, menelan pil pahit takdirnya. Pandangannya yang kosong kembali menatap Arya.
"Baik," kata Alana, nadanya pasrah. "Saya akan menikah dengan Tuan. Tapi ada satu syarat."
Arya menatapnya tajam. "Apa?"
"Setelah kita menikah, Tuan harus berjanji," jeda Alana, menatap matanya dalam-dalam. "Tuan harus berjanji, bahwa Tuan tidak akan pernah menyentuh saya lagi. Pernikahan ini hanya kontrak dan nama. Tidak lebih."
Arya mengangguk kaku, tanpa ragu. Itu janji yang mudah ia berikan. Menyentuh Alana lagi, setelah bencana ini, adalah hal terakhir yang ia inginkan.
"Janji."
Saat janji itu terucap, segel takdir Alana dan Arya telah terpatri. Mereka baru saja sepakat untuk memulai pernikahan terpaksa yang didasari rasa bersalah dan kehancuran, jauh dari kata cinta.
Suasana di kediaman Adhitama pagi itu jauh lebih mencekam daripada badai manapun. Pagi yang seharusnya diisi dengan bau kopi pahit dan laporan bisnis harian, kini digantikan oleh ketegangan akut di ruang kerja Kakek Adhitama, atau yang akrab dipanggil Eyang.
Arya berdiri kaku, sementara Alana duduk di sofa sudut dengan wajah pucat. Mereka baru saja menceritakan, atau lebih tepatnya, mengakui bencana yang terjadi semalam, tentu saja dengan versi yang sudah disaring; Arya mengaku bahwa ia mabuk berat dan salah masuk kamar, mengabaikan fakta obat perangsang dan jebakan Clara.
Eyang Adhitama, seorang pria tua yang selama ini dipandang sebagai tiang utama keluarga, kini tampak jauh lebih menyeramkan daripada bad mood-nya yang biasa. Tangannya yang dipenuhi urat tampak gemetar saat menunjuk Arya.
"Mabuk? Salah masuk kamar?" Suara Eyang rendah, tapi mengandung ancaman yang mematikan. "Kamu pikir Kakek ini sudah pikun, Arya? Kakek tahu persis kamar mana yang kamu tempati. Dan Kakek tahu Alana ini seperti apa. Dia bukan wanita yang akan main-main dengan aib dan kehormatan!"
Arya menelan ludah. Eyang memang tahu segalanya, berkat pengawal dan pengawasan ketatnya.
"Kakek, dengarkan aku," ujar Arya, berusaha menahan emosinya. "Aku sudah bertanggung jawab. Kami sudah sepakat. Aku akan memberikan dia kompensasi yang layak-"
"Tutup mulutmu, Arya!" potong Eyang tajam. Teriakan itu membuat Alana tersentak di kursinya.
"Kamu pikir kehormatan seorang wanita bisa kamu beli dengan uangmu yang kotor itu?" Eyang bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Arya dengan langkah yang lambat namun penuh otoritas. "Kakek mendidikmu untuk menjadi pria terhormat, bukan bajingan kelas kakap yang merusak hidup orang lain lalu membayar kerusakannya dengan segepok kertas!"
Eyang berhenti tepat di depan Alana, wajahnya melembut sedikit. "Alana, cucuku," katanya lembut. "Apa kamu benar-benar yakin dengan tawaran Arya itu? Katakan pada Kakek, apa maumu?"
Alana mengangkat wajahnya yang basah. Ia tahu, saat ini adalah kesempatan emas baginya untuk terbebas dari mimpi buruk ini, menerima uang, dan pergi. Tapi, sorot mata Eyang penuh harapan, seperti mencari keadilan terakhir.
"Eyang," bisik Alana. "Saya... saya hanya ingin masalah ini selesai tanpa ada yang tahu. Saya tidak ingin merusak nama baik siapapun."
Eyang menghela napas panjang. Ia kembali menoleh ke Arya dengan keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
"Tidak ada kompensasi. Tidak ada uang tutup mulut," putus Eyang. "Hanya ada satu jalan, Arya Adhitama. Kamu nikahi Alana."
Arya terperanjat. "Apa!? Kakek tidak serius! Menikah? Kami tidak saling kenal, Kakek! Kami tidak punya perasaan apapun!"
"Perasaan? Cinta?" Eyang tertawa sumbang. "Apa kamu pikir pernikahan di keluarga ini dibangun di atas cinta, Arya? Itu dibangun di atas tanggung jawab dan nama baik. Jika kamu tidak menikahinya, Kakek akan mencoret namamu dari daftar waris, dan kamu akan dicabut dari jabatan CEO. Dan Kakek tidak main-main."
Ancaman itu menghantam Arya tepat di titik vitalnya. Jabatan CEO, kekuasaan, dan kendali atas perusahaan adalah harga diri dan hidupnya. Melepaskan itu demi mempertahankan egonya adalah hal yang mustahil. Tapi menikahi Alana? Perawat yang dianggapnya tak lebih dari pengasuh tua? Itu sama saja menghancurkan masa depannya yang sudah terencana sempurna.
"Kakek tidak bisa melakukan ini padaku!" protes Arya.
"Oh, Kakek bisa," balas Eyang dingin. "Pernikahan harus dilangsungkan minggu ini. Resmi. Secara agama dan hukum. Ini demi menjaga kehormatan Alana dan kehormatan keluarga kita. Kakek tidak ingin ada orang di luar sana, apalagi Clara, yang memanfaatkan kesalahanmu ini untuk merusak reputasimu."
Arya mengepalkan tangannya. Ia tahu Eyang sudah memikirkan semua konsekuensinya. Pernikahan ini bukan hanya hukuman untuknya, tetapi juga tameng.
"Baik," ucap Arya, kata itu keluar seperti racun dari mulutnya. "Aku akan menikahinya. Tapi ini adalah pernikahan kontrak. Kakek harus tahu itu. Kami menikah di mata hukum, tapi kami akan hidup terpisah. Dan aku akan pastikan kami bercerai setelah masa yang ditentukan."
"Terserah padamu bagaimana kalian akan menjalaninya," kata Eyang, kembali duduk dan mengambil tongkatnya. "Yang Kakek tahu, Alana akan menjadi nyonya Adhitama di mata semua orang. Sekarang, kalian berdua keluar. Kakek sudah memanggil penghulu dan notaris untuk hari Rabu. Jangan membantah lagi."
Keputusan Eyang adalah palu godam. Alana dan Arya keluar dari ruang kerja itu dengan beban yang berbeda. Alana merasakan beban takdir yang tak terhindarkan, sementara Arya merasakan beban kebencian yang mendidih.
Begitu pintu ruang kerja tertutup, Arya mencengkeram lengan Alana. "Dengarkan aku baik-baik," desisnya, mata birunya tajam menusuk.
"Aku menikahimu karena Eyang. Hanya karena ancaman Eyang. Kamu tidak lebih dari penyelamat yang tidak kusukai. Jangan pernah berpikir kamu bisa memanfaatkan status barumu ini untuk mencampuri hidupku, apalagi perusahaanku."
Alana menarik tangannya dengan cepat. Ia merasakan sakit di pergelangannya, tapi sakit di hatinya jauh lebih besar.
"Saya tidak pernah meminta semua ini, Tuan," balas Alana, ia menahan air mata yang akan tumpah. "Saya hanya ingin kembali ke hidup saya yang tenang. Tuan yang menghancurkannya. Dan janji saya tetap sama: pernikahan ini hanya di atas kertas. Saya tidak akan pernah mengganggu hidup Tuan, asalkan Tuan juga tidak mengganggu saya."
"Bagus," cibir Arya. "Kau ingat janjimu itu. Aku tidak ingin melihat wajahmu kecuali saat di depan Kakek atau saat kita harus pura-pura di depan umum."
Arya berjalan menjauh, meninggalkan Alana berdiri sendirian di lorong mewah yang terasa dingin.
Konflik belum berakhir. Di ruang makan, Ratih Adhitama-Ibu Arya-sudah menunggu. Wanita elegan itu sudah mendengar kabar burung dari para pelayan yang selalu ingin tahu.
"Jadi, benar?" tanya Ratih dengan nada yang menusuk, menatap Alana dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu berhasil?"
Alana menunduk, tidak berani membalas tatapan Ibu mertuanya itu. "Nyonya, saya tidak-"
"Tidak usah berpura-pura polos," potong Ratih sinis. "Kamu pikir saya tidak tahu niatmu, hah? Gadis miskin dari kampung tiba-tiba menjadi perawat pribadi. Sekarang, memanfaatkan kemabukan anak saya untuk menjeratnya menjadi suamimu? Modus lama, Alana."
"Ibu!" Arya muncul, wajahnya tegang. Ia memang membenci Alana, tapi ia tidak suka Ibunya mempermalukan wanita di depannya. Bagaimanapun, Alana adalah tanggung jawabnya sekarang.
"Jangan ikut campur, Arya," ujar Ratih. "Ibu sedang bicara dengan wanita yang berhasil menjebakmu dengan harga diri palsu. Kamu sudah gila, Nak. Menikahi seorang perawat? Apa kata relasi bisnis kita? Apa kata socialite Jakarta?"
"Ini keputusan Kakek, Bu," kata Arya dingin. "Dan ini adalah tanggung jawabku. Ibu jangan khawatir, pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Setelah semuanya tenang, kami akan bercerai."
Ratih tampak sedikit lega mendengar kata 'cerai', tetapi wajahnya masih menyimpan kebencian. "Baik. Tapi kamu harus tahu, Alana. Kamu mungkin menyandang nama Adhitama di KTP-mu, tapi kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Jangan pernah bermimpi untuk menguasai harta atau posisi anak saya."
Alana hanya bisa diam, membiarkan semua hinaan itu menghantamnya. Ia sudah terbiasa dengan pandangan meremehkan dari Ratih. Yang ia rasakan hanyalah kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri, karena ia tidak punya pilihan lain selain menerima nasib ini.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang tegang. Persiapan pernikahan dilakukan dengan sangat tertutup, hanya melibatkan pihak keluarga inti dan notaris. Alana dipaksa mencoba gaun yang dipersiapkan oleh asisten Arya-gaun mahal yang terasa asing dan dingin di kulitnya.
Di hari H, suasana semakin mencekam.
Saat akad nikah berlangsung, wajah Arya datar, tanpa ekspresi kebahagiaan. Ia mengucapkan janji suci itu dengan nada mekanis, seolah sedang membaca kontrak bisnis. Alana sendiri hanya bisa menatap lantai marmer, berusaha keras untuk tidak menangis di depan saksi-saksi.
Ijab kabul selesai. Secara sah, Alana Shafira kini menjadi Nyonya Aryan Adhitama.
Setelah acara yang sangat singkat dan dingin itu, Arya menyerahkan sebuah map tebal kepada Alana.
"Ini," kata Arya, wajahnya keras. "Kontrak pernikahan kita. Bacalah. Semua sudah tertulis jelas di sana. Mulai dari batasan fisik, batasan privasi, hingga pasal-pasal yang mengatur perceraian kita nanti."
Alana menerima map itu dengan tangan gemetar. Belum sempat ia membuka, Arya sudah melanjutkan.
"Mulai malam ini, kamu akan menempati kamar di lantai dua. Itu kamar sebelah kamarku. Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa seizinku. Jangan pernah menyentuh barang-barang pribadiku. Tugas utamamu tetap merawat Kakek. Di depan Kakek, bersikaplah seperti istri yang manis. Di belakang Kakek, kita adalah orang asing."
Arya menatap matanya dalam-dalam. "Aku tidak ingin ada kecelakaan lagi, Alana. Ingat janjimu. Dan aku akan ingat janjiku untuk menjamin keamanan dan kenyamanan hidupmu selama pernikahan kontrak ini berjalan."
Alana mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia memeluk map tebal itu erat-erat, seolah map itu adalah simbol rantai yang kini mengikatnya pada pria yang telah merenggut segalanya darinya.
Malam itu, Alana memasuki kamar barunya. Kamar yang mewah, luas, dengan balkon menghadap kota. Ia menutup pintu, menguncinya, dan akhirnya membiarkan air mata yang ia tahan selama tiga hari mengalir deras. Ia sudah menjadi Nyonya Adhitama, tapi ia merasa lebih miskin dan kesepian daripada saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Sementara itu, di kamar sebelah, Arya menenggak whisky dalam sekali tegukan. Ia menatap ke luar jendela. Ia sudah kehilangan kontrol atas hidupnya. Ia membenci dirinya sendiri, dan ia membenci wanita di kamar sebelah yang kini menjadi istrinya. Ia bertekad, pernikahan ini harus menjadi neraka bagi mereka berdua.
Tiga hari setelah pernikahan paksa itu, rumah tangga Arya Adhitama dan Alana Shafira berjalan layaknya dua kutub magnet yang sama-sama menolak. Mereka adalah suami istri di depan publik dan Eyang, tetapi mereka adalah orang asing yang berbagi alamat di belakang pintu tertutup.
Arya menjalankan rutinitasnya dengan lebih gila. Ia berangkat subuh, pulang lewat tengah malam, sengaja menghindari interaksi. Jika terpaksa harus bertemu di ruang makan atau saat menjenguk Eyang, suasana akan kaku, diisi oleh formalitas yang dingin.
Namun, ketenangan semu ini tidak bertahan lama. Arya merasa tercekik. Kontrak pernikahan yang ia buat sendiri kini terasa seperti borgol emas.
Siang itu, Arya kembali ke penthouse lebih awal dari biasanya. Ia tidak sanggup lagi. Pikirannya dipenuhi kebencian pada keadaan dan pada wanita yang kini resmi menyandang namanya. Ia harus mengakhiri sandiwara ini sebelum ia benar-benar gila.
Ia menemukan Alana di ruang santai, sedang membaca buku tentang herbal di sudut yang terang. Pemandangan itu, ketenangan Alana yang kontras dengan badai di hatinya, memicu kemarahan Arya.
Arya melempar kunci mobilnya ke atas meja kopi marmer, menimbulkan bunyi nyaring yang mengejutkan Alana.
"Kita perlu bicara," kata Arya, suaranya tajam dan tidak memberi ruang untuk penolakan.
Alana meletakkan bukunya, pandangannya tenang. "Ada apa, Tuan?"
"Jangan panggil aku Tuan. Itu menjijikkan," cibir Arya, langsung menusuk. "Panggil aku Arya, setidaknya saat kita hanya berdua. Itu bagian dari sandiwara."
"Baik, Arya," balas Alana, nada suaranya tetap datar.
Arya duduk di hadapannya, menjulurkan sebuah amplop cokelat tebal ke meja. Amplop itu tampak penuh dan berat.
"Apa ini?" tanya Alana, tidak menyentuhnya.
"Ini adalah jalan keluar kita," ujar Arya. Ia mencondongkan tubuhnya, matanya menatap Alana dengan intimidasi penuh. "Aku sudah menimbang ulang. Pernikahan ini tidak akan berhasil, Alana. Tidak akan pernah. Kita hanya akan menyiksa diri kita sendiri dan membuat Kakek senang sebentar."
Ia menarik napas. "Di dalam amplop itu ada cek senilai sepuluh miliar rupiah. Angka itu akan bertambah jika kamu mau menandatangani surat cerai hari ini juga."
Alana menatap amplop itu, lalu menatap Arya. Ia tidak terkejut, tapi ada rasa sakit yang terselip di sudut hatinya. Ia tahu, bagi Arya, ia hanyalah masalah yang harus diselesaikan dengan nilai uang tertentu.
"Itu uang yang sangat banyak, Arya," kata Alana pelan. "Lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga saya seumur hidup, bahkan menyekolahkan adik saya sampai menjadi profesor."
"Tepat," ujar Arya, suaranya terdengar lega. Ia mengira Alana akan goyah. "Ambil uang ini, dan pergilah dari rumah ini hari ini. Aku akan mengurus Kakek. Aku akan bilang kamu selingkuh, atau apa pun. Aku akan pastikan namamu bersih, dan kamu bisa memulai hidup baru."
Alana menggeleng, sebuah senyum tipis-bukan senyum bahagia, tapi senyum lelah-tersungging di bibirnya.
"Saya tidak akan mengambilnya," jawab Alana, mendorong amplop itu kembali ke hadapan Arya.
Reaksi itu mengejutkan Arya. Ekspresi lega di wajahnya lenyap, digantikan oleh kemarahan yang membingungkan.
"Apa maksudmu tidak akan mengambilnya? Itu sepuluh miliar! Kamu tidak tahu betapa berharganya uang itu!" bentak Arya. "Kenapa? Apa kamu sedang bermain-main? Ingin menaikkan harga tawar? Aku bisa tambah lima miliar lagi!"
Alana bangkit berdiri, berjalan menjauh dari Arya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah taman luas yang tampak seperti ironi di tengah kekacauan hidupnya.
"Bukan soal harga, Arya," ucap Alana. "Saya sudah bilang, harga diri saya tidak bisa dibeli. Dan saya tidak mau. Saya tidak mau menerima uang tutup mulut, uang ganti rugi, atau apa pun namanya. Saya mau menikah denganmu karena Eyang yang memintanya. Saya mau bertanggung jawab atas peran saya."
"Bertanggung jawab? Omong kosong!" Arya ikut berdiri. "Kamu bicara tentang tanggung jawab? Aku yang menghancurkanmu, dan aku yang bertanggung jawab dengan uang. Bukan dengan ikatan palsu ini!"
"Ikatan palsu ini adalah satu-satunya yang tersisa dari kehormatan saya," balas Alana, berbalik menghadapnya. Matanya kini menunjukkan tekad yang kuat, bukan lagi kepasrahan.
"Jika saya mengambil uang itu, saya akan sama saja dengan wanita simpanan yang dibayar. Saya akan dicap sebagai wanita matre yang berhasil menjebak seorang CEO, lalu menerima uang diam-diam dan pergi. Saya tidak mau, Arya. Saya tidak butuh harta, saya hanya butuh harga diri saya kembali."
Arya menertawakan pengakuan Alana. Tawa yang pahit dan meremehkan.
"Harga diri? Kamu bicara tentang harga diri setelah apa yang terjadi? Kamu pikir kamu akan mendapatkan harga dirimu dengan menjadi istri kontrakku? Kamu akan dicap lebih parah, Alana! Kamu akan dicap sebagai parasit yang menempel pada kekayaan Adhitama!"
"Biarkan saja mereka bilang begitu!" seru Alana. Suaranya pecah, emosinya tak lagi bisa ia tahan. "Setidaknya, saya akan tahu di hati saya bahwa saya tidak menjual diri saya. Setidaknya, Eyang akan tenang karena tahu saya tidak kabur. Dan setidaknya, adik saya tidak akan mendengar desas-desus bahwa saya menerima uang haram dari orang kaya yang meniduri saya!"
Alana mendekati Arya, air mata mengalir di pipinya, tapi matanya tetap menantang.
"Tugas saya di rumah ini masih merawat Eyang. Sampai Eyang sendiri yang bilang saya boleh pergi, atau sampai kontrak perceraian kita selesai, saya akan tetap di sini. Saya bukan pengemis, Arya. Saya bukan wanita bayaran. Simpan uang itu. Gunakan untuk membeli hati wanita yang benar-benar kamu cintai, bukan untuk membeli kebebasan saya."
Arya membeku. Ia tidak siap menghadapi Alana yang ini. Alana yang keras kepala, yang lebih peduli pada kehormatan yang tak terlihat daripada pada tumpukan uang yang nyata. Semua rencana dan logikanya hancur berantakan di hadapan ketulusan dan idealismenya yang tak masuk akal.
"Kamu gila," bisik Arya. "Kamu benar-benar gila."
"Mungkin," jawab Alana, menyeka air matanya kasar. "Tapi saya bukan orang yang merenggut kesucian orang lain dan mencoba membayarnya dengan uang receh."
Kata-kata itu menghantam Arya seperti tamparan fisik. Ia mundur selangkah, rasa bersalah kembali menyergap, mengalahkan kemarahannya. Ia tahu, apa pun yang ia lakukan, ia adalah pihak yang salah.
Arya mengambil amplop itu kembali, meremasnya kuat-kuat hingga kertas-kertas di dalamnya terasa remuk.
"Baik," katanya, suaranya berat, penuh frustrasi. "Kalau kamu mau neraka, aku akan berikan neraka. Kamu mau bertahan? Silakan bertahan. Tapi jangan pernah menyesali keputusanmu ini, Alana. Jangan pernah datang padaku dan meminta belas kasihan."
"Saya tidak akan pernah meminta belas kasihan," kata Alana. "Saya hanya meminta Tuan menepati janji Tuan di kontrak. Jangan sentuh saya. Jangan ganggu saya. Dan mari kita jalani sandiwara ini dengan baik, demi Eyang."
Arya menatap Alana untuk beberapa saat, mencoba mencari celah, mencari kepalsuan di matanya. Tapi ia hanya menemukan kejujuran yang menyakitkan.
Ia berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah cepat. Begitu ia keluar, ia menutup pintu kamar itu dengan bantingan keras, suara yang menggetarkan seluruh ruangan, seolah meluapkan semua kemarahan yang tidak bisa ia tumpahkan pada Alana.
Alana ambruk di sofa begitu pintu tertutup, tubuhnya gemetar hebat. Ia menangis, bukan karena Arya, tapi karena keputusan yang baru saja ia ambil. Ia telah menolak kebebasan finansial demi menjaga sisa harga dirinya. Ia tahu, jalan yang ia pilih akan sangat panjang, penuh dengan penghinaan dan kesendirian, di samping pria yang terang-terangan membencinya.
Di kamar Arya, beberapa jam kemudian, suara pecahan kaca terdengar. Arya menghancurkan botol whisky mahalnya, melampiaskan kekesalan. Ia tidak pernah gagal. Ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi kali ini, seorang perawat sederhana telah menolak kekuasaannya, menolak uangnya, dan memaksanya tetap terikat dalam ikatan yang paling ia benci.
Ia menghubungi salah satu asisten kepercayaannya.
"Cari tahu semua tentang Alana Shafira," perintah Arya dengan suara tajam. "Setiap detail kecil. Keluarganya, teman-temannya, impiannya. Aku ingin tahu kenapa dia menolak uang sebanyak itu. Aku ingin tahu apa kelemahannya yang sebenarnya."
Arya Adhitama tidak akan pernah membiarkan dirinya kalah. Ia akan menemukan cara untuk memaksa Alana keluar dari hidupnya. Dan untuk itu, ia harus tahu persis siapa musuh barunya ini.