Bab 2

Aluna Adijaya POV

"Aku tidak bisa makan ini." Suaraku datar, tapi penuh penolakan. Aku mendorong piring berisi hidangan laut yang mengepul di depanku. Aroma amisnya membuat perutku mual.

Dian menatapku dengan kening berkerut. "Kenapa, Aluna? Ini makanan kesukaanmu dulu."

"Dulu," kataku tajam. "Dulu itu sebelum aku alergi udang dan kerang. Kau lupa?"

Wajah Dian menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Oh, astaga, aku benar-benar lupa. Maafkan aku, sayang. Aku terlalu sibuk."

Ratnasari di seberang meja tersenyum manis, senyum palsu yang membuatku ingin muntah. "Tidak apa-apa, Dian. Mungkin kita harus mencari restoran lain? Aku tahu tempat yang menyajikan makanan Italia yang lezat. Aluna pasti suka."

Dia melirikku sekilas, matanya berkilat licik. Dia tahu aku membenci makanan Italia.

Dian tampak bingung, matanya bolak-balik antara aku dan Ratnasari. Dia tidak tahu harus memilih siapa. Aku hanya duduk diam, mengawasinya. Biarkan dia menunjukkan prioritasnya.

Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit. Dian masih belum bisa membuat keputusan. Dia hanya menggaruk tengkuknya, tampak tidak nyaman. Kesabaranku habis.

"Tidak perlu," kataku, berdiri dari kursi. "Aku tidak lapar lagi."

Dian mendongak, matanya terkejut. "Aluna, tunggu! Mau ke mana?"

"Pulang," jawabku dingin. "Kau bisa melanjutkan makan malammu dengan wanita itu."

"Aluna, jangan kekanak-kanakan!" teriak Dian, suaranya mulai meninggi. "Kita perlu bicara."

Aku tidak menoleh. Aku hanya melangkah keluar dari restoran, memanggil taksi yang lewat. Sebelum masuk ke mobil, aku menoleh ke arah Dian yang masih berdiri di depan restoran, terpaku. "Kuharap kau menikmati makan malammu, Dian. Karena ini akan menjadi makan malam terakhir kita."

Aku tidak menoleh lagi. Aku hanya masuk ke taksi dan pergi. Aku menatap ke belakang, berharap Dian akan mengejarku. Berharap dia akan menunjukkan sedikit pun penyesalan atau kekhawatiran. Tapi dia tidak ada. Dia tetap berdiri di sana, seperti patung.

Hatiku terasa remuk. Aku menyadari bahwa aku tidak lagi penting baginya. Aku hanyalah beban. Aku hanyalah sebuah alat. Anak yang ada dalam diriku ini... apakah aku benar-benar menginginkannya? Apakah aku ingin membawa anak ini ke dunia yang penuh kepalsuan dan pengkhianatan ini?

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, dan berpikir. Apakah aku harus menyerah pada anak ini? Apakah lebih baik dia tidak pernah lahir daripada harus merasakan sakitnya dunia ini?

Pukul dua pagi, pintu kamarku terbuka. Dian masuk, wajahnya lelah dan kusut. Dia berlutut di samping tempat tidur, tangannya menggenggam tanganku.

"Maafkan aku, Aluna," bisiknya. "Aku tahu aku salah. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Ratnasari itu... dia menjebakku. Dia mengancam akan bunuh diri jika aku meninggalkannya. Keluarganya juga mengancam karier politikku."

Aku menarik tanganku. "Jadi kau mengorbankan aku dan anak kita demi karier politikmu? Demi seorang wanita yang kau bilang menjebakmu?"

"Tidak, Aluna! Aku mencintaimu! Aku mencintai anak kita!" Dia mencoba memelukku, tapi aku mendorongnya lagi. "Aku hanya butuh waktu. Setelah dia sembuh, semuanya akan kembali normal. Aku janji, aku akan mengakui anak ini."

"Dan bagaimana dengan sekarang?" tanyaku, suaraku parau. "Sekarang, aku ingin menggugurkan anak ini."

Mata Dian melebar. Dia bangkit berdiri, wajahnya merah padam. "Apa katamu? Kau gila? Itu anak kita, Aluna! Kau tidak boleh melakukan itu!"

"Anak kita?" kataku sinis. "Anak yang kau berikan pada wanita lain? Anak yang tidak kau akui? Untuk apa aku melahirkannya jika hanya untuk menderita?"

"Kau egois, Aluna!" Dian berteriak. "Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau tidak memikirkan anak ini!"

Dia berbalik dan meninggalkan kamar, membanting pintu di belakangnya. Aku terdiam, air mataku mengalir deras. Dia menyebutku egois? Setelah semua yang dia lakukan?

Keesokan harinya, aku menyadari bahwa aku tidak bisa keluar dari rumah. Penjaga yang biasanya ramah kini menatapku dengan tatapan dingin. Ponselku diambil. Aku terisolasi.

Dian Soegiharto bukan hanya seorang politisi. Dia adalah seorang tiran. Dia mengurungku di rumahku sendiri. Dia menghentikan semua aksesku ke dunia luar. Dia ingin aku tetap diam, tetap patuh, sampai dia berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Ratnasari.

Tapi dia salah. Aku bukan lagi Aluna yang lemah dan patuh. Aku bukan lagi Aluna yang akan diam saja saat dihancurkan. Aku akan berjuang. Aku akan mencari jalan keluar. Aku akan melindungi anakku.

Bab 3

Aluna Adijaya POV

Hari-hariku berlalu dalam kesunyian yang mencekik. Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas. Rumah besar ini, yang dulunya adalah tempat perlindungan dan kebahagiaan, kini terasa seperti penjara. Aku mencoba mencari celah, apa pun, untuk menghubungi dunia luar, tapi semua usahaku sia-sia. Setiap sudut rumah diawasi, setiap gerak-gerikku dicatat.

Suatu sore, aku sedang membaca buku di ruang keluarga ketika pintu depan terbuka. Ratnasari masuk, bukan sendirian. Di sampingnya, ada seorang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok dan tatapan angkuh. Matanya langsung tertuju padaku, seolah aku adalah kotoran yang harus disingkirkan.

"Jadi ini wanita yang mencoba menjebak putraku?" kata wanita itu, suaranya nyaring dan penuh penghinaan. "Tidak tahu malu!"

Aku menatapnya tajam. Aku tahu siapa dia. Ibu Ratnasari, wanita yang sangat dihormati di kalangan sosialita karena kekayaannya yang melimpah dan koneksi politiknya yang kuat. Wanita yang mengancam karier Dian jika dia tidak bertanggung jawab atas Ratnasari.

Ratnasari tersenyum sinis, mengabaikan tatapan marahku. Dia memberi isyarat kepada beberapa pelayan yang mengikutinya masuk membawa koper-koper mewah. "Pindahkan semua barangku ke kamar utama. Mulai sekarang, aku yang akan tinggal di sana."

"Kamar utama itu kamarku," kataku, suaraku rendah dan penuh peringatan.

Ratnasari tertawa, tawa yang penuh ejekan. "Oh, Aluna sayang. Kau tidak mengerti, ya? Kau sudah tidak punya tempat di sini. Kau hanya ibu pengganti untuk anak Dian. Dan setelah anak itu lahir, kau tidak akan berguna lagi."

Amarahku meledak. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Darahku mendidih, dan aku merasa seluruh tubuhku gemetar. Aku melangkah maju, tanganku melayang, menampar pipi Ratnasari sekuat tenaga.

"Jangan pernah berani bicara seperti itu!" teriakku.

Ratnasari jatuh tersungkur, pipinya langsung memerah. Dia memekik kesakitan, tapi ada kilatan kemenangan di matanya. Tepat pada saat itu, pintu depan terbuka lagi. Dian masuk, wajahnya terkejut melihat kekacauan di ruang keluarga.

Aku masih berdiri di sana, tanganku gemetar, siap untuk menampar Ratnasari lagi. Tapi Dian segera berlari ke arahku, menahan tanganku di udara.

"Aluna, hentikan! Apa yang kau lakukan?" teriaknya.

Ratnasari merangkak bangun, memegangi pipinya, air mata palsu mulai mengalir di matanya. "Dian... dia... dia menamparku... dia ingin melukaiku dan anakmu."

Aku menatap Dian, mataku memohon agar dia melihat kebenaran. "Dia berbohong, Dian! Dia yang memulai! Dia menghinaku, dia mengusirku dari kamarku sendiri!"

Dian menatap Ratnasari, lalu menatapku. Keraguan terpancar jelas di matanya. Aku berharap dia akan mengusir Ratnasari, mengembalikan semua ke tempatnya semula.

"Dian, aku tidak bisa tinggal di sini jika dia terus melukaiku," kata Ratnasari, suaranya lemah dan penuh kepura-puraan. "Aku akan pergi saja. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu."

Aku melihat Dian ragu-ragu. Sebuah harapan kecil menyelinap di hatiku. Mungkin dia akan mengusirnya. Mungkin dia akan memilihku.

Tapi harapan itu pupus saat Ratnasari tiba-tiba memegang perutnya dan berpura-pura kesakitan. "Ah! Perutku... Dian, aku tidak enak badan."

Dian langsung panik. Dia memeluk Ratnasari, menatapku dengan tatapan marah. "Aluna, lihat apa yang sudah kau lakukan! Kalau terjadi sesuatu pada Ratnasari atau anakku, aku tidak akan memaafkanmu!"

Aku merasa mual. Dia begitu mudah termanipulasi. Begitu mudah percaya pada kebohongan wanita ini. Aku menatapnya dengan jijik.

Pemandangan itu membuatku ingin muntah. Dia memeluk Ratnasari, mengabaikan aku yang berdiri di sana, terluka dan hancur. Ibu Ratnasari tersenyum puas. Aku tahu, aku kalah. Untuk saat ini.

Malam itu, aku terpaksa pindah ke kamar tamu yang kecil dan pengap. Barang-barangku dilemparkan begitu saja. Kamar utama, kamarku dan Dian, kini ditempati oleh Ratnasari. Dian datang kepadaku, mencoba menenangkanku dengan janji-janji kosong.

"Bersabarlah, Aluna. Ini hanya sementara. Setelah Ratnasari melahirkan, semuanya akan kembali normal. Aku janji."

Aku menatapnya, mataku kosong. Aku tidak percaya padanya. Aku tidak ingin percaya padanya lagi. Aku tidak menginginkan anak ini lagi. Apa gunanya memiliki anak jika dia harus lahir dalam keluarga yang hancur seperti ini? Apa gunanya memiliki anak jika dia harus merasakan sakitnya pengkhianatan?

Aku tidak akan membiarkan anakku menderita. Lebih baik dia tidak pernah ada.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED