Duniaku runtuh saat aku melihat suamiku, Dian, menggenggam erat tangan cinta masa lalunya, Ratnasari, di rumah sakit. Padahal, aku di sana untuk program bayi tabung kami yang sudah berjalan lima tahun.
Dia bilang ada rapat penting, ternyata rapatnya adalah menemani Ratnasari yang sakit kanker dan memohon untuk dijadikan prioritas. Lebih parahnya, Ratnasari mengklaim dia hamil anak Dian.
Aku dikurung di rumah, ponselku disita, dan dipaksa pindah ke kamar tamu yang kotor sementara Ratnasari menempati kamar utama kami. Bahkan ayah angkatku sendiri berpihak pada mereka, memaksaku menandatangani surat cerai dan menggugurkan kandunganku.
Mereka menyeretku ke rumah sakit, menyuntikkan obat, dan aku kehilangan anakku. Aku baru tahu, obat bayi tabungku selama ini sudah ditukar dengan obat perusak janin.
"Anakmu... dia tidak bisa diselamatkan," isak ibu kandungku saat aku sadar.
Ya, aku adalah Aluna Adijaya, putri konglomerat media terbesar di Asia Tenggara yang diculik saat bayi. Kini, aku kembali. Aku akan menghancurkan mereka semua.
Bab 1
Aluna Adijaya POV
Duniaku runtuh saat aku melihat suamiku, Dian, berdiri di samping Ratnasari di rumah sakit, tangannya menggenggam erat wanita itu, sementara aku di sana untuk program bayi tabung kami. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Jantungku berdebar kencang, memukul-mukul dadaku seperti ingin keluar.
"Dian?" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Dian dan Ratnasari sedang berbicara dengan seorang dokter onkologi. Mereka tampak begitu akrab, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Ratnasari terlihat pucat dan kurus, tapi ada senyum licik di bibirnya saat dia menatap Dian.
"Stres karena tidak diakui akan memperburuk kankernya, Dian," kata Ratnasari, suaranya lemah tapi penuh desakan. "Kumohon, jadikan aku prioritasmu. Hanya sampai aku sembuh."
Aku melihat Dian mengangguk, matanya dipenuhi rasa bersalah. Kata-kata itu menusuk hatiku, lebih tajam dari pisau. Prioritas? Bagaimana dengan program bayi tabung kami yang sudah lima tahun kulakukan? Bagaimana dengan diriku?
Darahku mendidih. Dadaku terasa sesak. Aku ingin berteriak, ingin memaki, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Ini bukan mimpi buruk, ini kenyataan. Kenyataan pahit yang menghancurkan semua harapanku.
"Aluna!" Suara suster memanggilku, menarikku dari lamunanku. "Giliran Anda untuk konsultasi."
Suara itu cukup keras untuk mengalihkan perhatian Dian dan Ratnasari. Mata Dian melebar saat melihatku berdiri di sana, hanya beberapa langkah dari mereka. Wajahnya langsung pucat pasi. Ratnasari ikut menoleh, dan senyum liciknya menghilang diganti ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
Dian tidak bisa berkata-kata. Matanya bertemu denganku, dipenuhi kepanikan dan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan. Aku melihat kebingungan di sana, tapi tidak ada penyesalan. Hanya rasa takut ketahuan.
Lima tahun. Aku telah menghabiskan lima tahun hidupku untuk program bayi tabung ini. Setiap suntikan, setiap pil, setiap kunjungan dokter, setiap harapan yang pupus, semua kulalui sendiri. Dian selalu bilang dia sibuk. Sibuk dengan pekerjaan politiknya.
Sekarang aku tahu kesibukan macam apa itu. Dia sibuk membiayai pengobatan cinta masa lalunya. Air mata mulai menggenang di mataku, tapi aku memaksanya kembali. Aku tidak akan menangis di depan mereka.
Aku melangkah maju, setiap langkah terasa berat, tapi tekadku menguat. Aku harus tahu. Aku harus mengakhiri semua ini.
"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanyaku, suaraku bergetar tapi penuh amarah. "Kau bilang ada rapat penting. Ternyata rapatmu di sini, dengan dia?"
Wajah Dian semakin pucat. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya. Amarahku meluap.
"Kau pembohong!" teriakku, dan tanpa pikir panjang, tanganku melayang, menampar pipinya keras.
Suara tamparan itu bergema di koridor rumah sakit yang sepi. Dian terdiam, menunduk, tidak membalas. Dia hanya mengusap pipinya yang memerah, matanya menghindari tatapanku. Sikapnya membuatku semakin marah.
"Jelaskan!" desakku. "Sekarang! Jelaskan semua ini!"
Ratnasari, yang tadinya hanya diam, tiba-tiba maju selangkah, meletakkan tangannya di lengan Dian. "Aluna, jangan begitu. Dian tidak bersalah. Aku yang memintanya datang. Aku hamil anaknya."
Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Aku merasa seluruh duniaku hancur berkeping-keping. Hamil? Anak? Lalu bagaimana dengan anakku? Anak yang sedang kami perjuangkan mati-matian?
Aku tertawa, tawa yang penuh kepedihan dan sarkasme. "Hamil? Selamat, Ratnasari. Kau berhasil. Kau berhasil menghancurkan hidupku, menghancurkan harapanku."
Air mata yang tadi kutahan akhirnya tumpah ruah. Mereka mengalir deras di pipiku, panas dan pahit. Aku menatap Dian, mataku memohon penjelasan.
Dian mencoba memelukku, tapi aku mendorongnya menjauh. "Jangan sentuh aku! Apa maksudnya ini, Dian? Apa yang dikatakan wanita ini benar?"
Ratnasari memotongnya, suaranya terdengar picik. "Dia berjanji padaku. Dia bilang dia akan menceraikanmu dan kita akan bersama. Dia bahkan berjanji untuk mengadopsi anakmu jika kau berhasil hamil. Dia bilang kau hanya alat untuk mendapatkan anak yang sehat untuknya. Tapi aku yang akan menjadi ibunya."
Aku menatap Dian. Matanya menghindari tatapanku, wajahnya kaku. Dia tidak menyangkal.
"Dian?" suaraku bergetar, hampir tidak terdengar. "Apa yang dia katakan benar? Kau akan mengadopsi anakku? Anak yang kuperjuangkan mati-matian ini? Kau akan memberikannya pada wanita ini?"
Dian akhirnya mendongak, matanya penuh penyesalan yang terlambat. "Maafkan aku, Aluna. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... aku terjebak. Keluargaku... keluarga Ratnasari sangat berpengaruh. Mereka mengancam akan menghancurkan karier politikku jika aku tidak bertanggung jawab."
"Jadi anak ini, anak yang ada di dalam diriku sekarang, anak yang kami perjuangkan, kau berencana untuk memberikannya padanya?" Nada suaraku datar, tapi di dalamnya ada badai yang mengamuk.
"Tidak, Aluna. Tidak seperti itu," kata Dian, mencoba membela diri. "Aku tidak akan memberikannya padanya. Aku hanya... aku hanya perlu waktu. Aku akan menebus semuanya setelah Ratnasari sembuh. Kita bisa tetap bersama, aku janji."
Aku menatapnya dengan jijik. Bagaimana bisa dia begitu egois? Begitu buta? Dia adalah seorang politisi. Dia memiliki kekuasaan, pengaruh, dan uang. Dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Tapi dia memilih untuk mengorbankan aku, mengorbankan anakku, demi kariernya.
Aku ingat saat kami menikah. Aku hanyalah pengusaha kuliner sederhana. Dia adalah politisi muda yang sedang naik daun. Keluargaku, keluarga Chandra, adalah keluarga biasa. Kami tidak memiliki kekuasaan atau pengaruh seperti keluarga Soegiharto.
"Aku akan menyiapkan makan malam di rumah kita malam ini," kata Dian, suaranya mencoba terdengar meyakinkan. "Kau dan Ratnasari bisa saling mengenal lebih baik. Aku akan menjelaskan semuanya secara detail."
Aku menatapnya, bibirku mengatup rapat. Aku tidak bisa memercayai dia lagi. Tapi aku ingin melihat sejauh mana drama ini akan berlanjut.
Ratnasari tersenyum manis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tentu, Aluna. Aku senang bisa mengenalmu lebih jauh. Aku akan mengurusnya. Bagaimana kalau kita ke butik dulu untuk memilih gaun? Kebetulan ada koleksi baru yang bagus."
Aku hanya menatapnya dingin. "Tidak perlu. Aku akan mengurusnya sendiri. Aku tidak ingin menghabiskan waktu denganmu lebih lama lagi."
Aku berbalik dan meninggalkan mereka berdua di sana, hatiku hancur, tapi tekadku untuk bertahan hidup semakin kuat. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanku.
Di dalam mobil taksi yang membawaku pulang, aku menyentuh perutku yang rata. Ada kehidupan di sana, kehidupan yang kuperjuangkan mati-mati. Anak ini adalah bagian dariku, dan tidak ada yang bisa mengambilnya dariku.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan.
Aluna Adijaya POV
"Aku tidak bisa makan ini." Suaraku datar, tapi penuh penolakan. Aku mendorong piring berisi hidangan laut yang mengepul di depanku. Aroma amisnya membuat perutku mual.
Dian menatapku dengan kening berkerut. "Kenapa, Aluna? Ini makanan kesukaanmu dulu."
"Dulu," kataku tajam. "Dulu itu sebelum aku alergi udang dan kerang. Kau lupa?"
Wajah Dian menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Oh, astaga, aku benar-benar lupa. Maafkan aku, sayang. Aku terlalu sibuk."
Ratnasari di seberang meja tersenyum manis, senyum palsu yang membuatku ingin muntah. "Tidak apa-apa, Dian. Mungkin kita harus mencari restoran lain? Aku tahu tempat yang menyajikan makanan Italia yang lezat. Aluna pasti suka."
Dia melirikku sekilas, matanya berkilat licik. Dia tahu aku membenci makanan Italia.
Dian tampak bingung, matanya bolak-balik antara aku dan Ratnasari. Dia tidak tahu harus memilih siapa. Aku hanya duduk diam, mengawasinya. Biarkan dia menunjukkan prioritasnya.
Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit. Dian masih belum bisa membuat keputusan. Dia hanya menggaruk tengkuknya, tampak tidak nyaman. Kesabaranku habis.
"Tidak perlu," kataku, berdiri dari kursi. "Aku tidak lapar lagi."
Dian mendongak, matanya terkejut. "Aluna, tunggu! Mau ke mana?"
"Pulang," jawabku dingin. "Kau bisa melanjutkan makan malammu dengan wanita itu."
"Aluna, jangan kekanak-kanakan!" teriak Dian, suaranya mulai meninggi. "Kita perlu bicara."
Aku tidak menoleh. Aku hanya melangkah keluar dari restoran, memanggil taksi yang lewat. Sebelum masuk ke mobil, aku menoleh ke arah Dian yang masih berdiri di depan restoran, terpaku. "Kuharap kau menikmati makan malammu, Dian. Karena ini akan menjadi makan malam terakhir kita."
Aku tidak menoleh lagi. Aku hanya masuk ke taksi dan pergi. Aku menatap ke belakang, berharap Dian akan mengejarku. Berharap dia akan menunjukkan sedikit pun penyesalan atau kekhawatiran. Tapi dia tidak ada. Dia tetap berdiri di sana, seperti patung.
Hatiku terasa remuk. Aku menyadari bahwa aku tidak lagi penting baginya. Aku hanyalah beban. Aku hanyalah sebuah alat. Anak yang ada dalam diriku ini... apakah aku benar-benar menginginkannya? Apakah aku ingin membawa anak ini ke dunia yang penuh kepalsuan dan pengkhianatan ini?
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, dan berpikir. Apakah aku harus menyerah pada anak ini? Apakah lebih baik dia tidak pernah lahir daripada harus merasakan sakitnya dunia ini?
Pukul dua pagi, pintu kamarku terbuka. Dian masuk, wajahnya lelah dan kusut. Dia berlutut di samping tempat tidur, tangannya menggenggam tanganku.
"Maafkan aku, Aluna," bisiknya. "Aku tahu aku salah. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Ratnasari itu... dia menjebakku. Dia mengancam akan bunuh diri jika aku meninggalkannya. Keluarganya juga mengancam karier politikku."
Aku menarik tanganku. "Jadi kau mengorbankan aku dan anak kita demi karier politikmu? Demi seorang wanita yang kau bilang menjebakmu?"
"Tidak, Aluna! Aku mencintaimu! Aku mencintai anak kita!" Dia mencoba memelukku, tapi aku mendorongnya lagi. "Aku hanya butuh waktu. Setelah dia sembuh, semuanya akan kembali normal. Aku janji, aku akan mengakui anak ini."
"Dan bagaimana dengan sekarang?" tanyaku, suaraku parau. "Sekarang, aku ingin menggugurkan anak ini."
Mata Dian melebar. Dia bangkit berdiri, wajahnya merah padam. "Apa katamu? Kau gila? Itu anak kita, Aluna! Kau tidak boleh melakukan itu!"
"Anak kita?" kataku sinis. "Anak yang kau berikan pada wanita lain? Anak yang tidak kau akui? Untuk apa aku melahirkannya jika hanya untuk menderita?"
"Kau egois, Aluna!" Dian berteriak. "Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau tidak memikirkan anak ini!"
Dia berbalik dan meninggalkan kamar, membanting pintu di belakangnya. Aku terdiam, air mataku mengalir deras. Dia menyebutku egois? Setelah semua yang dia lakukan?
Keesokan harinya, aku menyadari bahwa aku tidak bisa keluar dari rumah. Penjaga yang biasanya ramah kini menatapku dengan tatapan dingin. Ponselku diambil. Aku terisolasi.
Dian Soegiharto bukan hanya seorang politisi. Dia adalah seorang tiran. Dia mengurungku di rumahku sendiri. Dia menghentikan semua aksesku ke dunia luar. Dia ingin aku tetap diam, tetap patuh, sampai dia berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Ratnasari.
Tapi dia salah. Aku bukan lagi Aluna yang lemah dan patuh. Aku bukan lagi Aluna yang akan diam saja saat dihancurkan. Aku akan berjuang. Aku akan mencari jalan keluar. Aku akan melindungi anakku.
Aluna Adijaya POV
Hari-hariku berlalu dalam kesunyian yang mencekik. Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas. Rumah besar ini, yang dulunya adalah tempat perlindungan dan kebahagiaan, kini terasa seperti penjara. Aku mencoba mencari celah, apa pun, untuk menghubungi dunia luar, tapi semua usahaku sia-sia. Setiap sudut rumah diawasi, setiap gerak-gerikku dicatat.
Suatu sore, aku sedang membaca buku di ruang keluarga ketika pintu depan terbuka. Ratnasari masuk, bukan sendirian. Di sampingnya, ada seorang wanita paruh baya dengan dandanan mencolok dan tatapan angkuh. Matanya langsung tertuju padaku, seolah aku adalah kotoran yang harus disingkirkan.
"Jadi ini wanita yang mencoba menjebak putraku?" kata wanita itu, suaranya nyaring dan penuh penghinaan. "Tidak tahu malu!"
Aku menatapnya tajam. Aku tahu siapa dia. Ibu Ratnasari, wanita yang sangat dihormati di kalangan sosialita karena kekayaannya yang melimpah dan koneksi politiknya yang kuat. Wanita yang mengancam karier Dian jika dia tidak bertanggung jawab atas Ratnasari.
Ratnasari tersenyum sinis, mengabaikan tatapan marahku. Dia memberi isyarat kepada beberapa pelayan yang mengikutinya masuk membawa koper-koper mewah. "Pindahkan semua barangku ke kamar utama. Mulai sekarang, aku yang akan tinggal di sana."
"Kamar utama itu kamarku," kataku, suaraku rendah dan penuh peringatan.
Ratnasari tertawa, tawa yang penuh ejekan. "Oh, Aluna sayang. Kau tidak mengerti, ya? Kau sudah tidak punya tempat di sini. Kau hanya ibu pengganti untuk anak Dian. Dan setelah anak itu lahir, kau tidak akan berguna lagi."
Amarahku meledak. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Darahku mendidih, dan aku merasa seluruh tubuhku gemetar. Aku melangkah maju, tanganku melayang, menampar pipi Ratnasari sekuat tenaga.
"Jangan pernah berani bicara seperti itu!" teriakku.
Ratnasari jatuh tersungkur, pipinya langsung memerah. Dia memekik kesakitan, tapi ada kilatan kemenangan di matanya. Tepat pada saat itu, pintu depan terbuka lagi. Dian masuk, wajahnya terkejut melihat kekacauan di ruang keluarga.
Aku masih berdiri di sana, tanganku gemetar, siap untuk menampar Ratnasari lagi. Tapi Dian segera berlari ke arahku, menahan tanganku di udara.
"Aluna, hentikan! Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
Ratnasari merangkak bangun, memegangi pipinya, air mata palsu mulai mengalir di matanya. "Dian... dia... dia menamparku... dia ingin melukaiku dan anakmu."
Aku menatap Dian, mataku memohon agar dia melihat kebenaran. "Dia berbohong, Dian! Dia yang memulai! Dia menghinaku, dia mengusirku dari kamarku sendiri!"
Dian menatap Ratnasari, lalu menatapku. Keraguan terpancar jelas di matanya. Aku berharap dia akan mengusir Ratnasari, mengembalikan semua ke tempatnya semula.
"Dian, aku tidak bisa tinggal di sini jika dia terus melukaiku," kata Ratnasari, suaranya lemah dan penuh kepura-puraan. "Aku akan pergi saja. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu."
Aku melihat Dian ragu-ragu. Sebuah harapan kecil menyelinap di hatiku. Mungkin dia akan mengusirnya. Mungkin dia akan memilihku.
Tapi harapan itu pupus saat Ratnasari tiba-tiba memegang perutnya dan berpura-pura kesakitan. "Ah! Perutku... Dian, aku tidak enak badan."
Dian langsung panik. Dia memeluk Ratnasari, menatapku dengan tatapan marah. "Aluna, lihat apa yang sudah kau lakukan! Kalau terjadi sesuatu pada Ratnasari atau anakku, aku tidak akan memaafkanmu!"
Aku merasa mual. Dia begitu mudah termanipulasi. Begitu mudah percaya pada kebohongan wanita ini. Aku menatapnya dengan jijik.
Pemandangan itu membuatku ingin muntah. Dia memeluk Ratnasari, mengabaikan aku yang berdiri di sana, terluka dan hancur. Ibu Ratnasari tersenyum puas. Aku tahu, aku kalah. Untuk saat ini.
Malam itu, aku terpaksa pindah ke kamar tamu yang kecil dan pengap. Barang-barangku dilemparkan begitu saja. Kamar utama, kamarku dan Dian, kini ditempati oleh Ratnasari. Dian datang kepadaku, mencoba menenangkanku dengan janji-janji kosong.
"Bersabarlah, Aluna. Ini hanya sementara. Setelah Ratnasari melahirkan, semuanya akan kembali normal. Aku janji."
Aku menatapnya, mataku kosong. Aku tidak percaya padanya. Aku tidak ingin percaya padanya lagi. Aku tidak menginginkan anak ini lagi. Apa gunanya memiliki anak jika dia harus lahir dalam keluarga yang hancur seperti ini? Apa gunanya memiliki anak jika dia harus merasakan sakitnya pengkhianatan?
Aku tidak akan membiarkan anakku menderita. Lebih baik dia tidak pernah ada.