Malam itu, langit Jakarta dipenuhi cahaya neon dan suara bising kendaraan yang tak kunjung sepi. Di sebuah jalanan sepi pinggiran kota, deru mesin motor saling bersahutan. Lampu-lampu kendaraan berjejer, membentuk garis panjang yang membelah kegelapan malam. Bau bensin bercampur asap knalpot memenuhi udara. Di antara kerumunan anak muda yang berkumpul, seorang perempuan dengan tampilan tomboy menyalakan rokoknya sambil bersandar pada motor sport hitam yang sudah dimodifikasi.
Dialah Raina, gadis yang terkenal bar-bar di kalangan pembalap liar. Rambut pendek sebahunya berantakan, jaket kulit hitam menempel di tubuh rampingnya, dan jeans belel yang robek di lutut membuatnya tampak semakin garang. Banyak cowok menatapnya kagum, ada juga yang meremehkan hanya karena dia perempuan. Tapi semua orang tahu, kalau sudah urusan balapan, Raina bukan tandingan yang mudah dikalahkan.
"Rain, lu beneran mau lawan dia malam ini?" suara sahabatnya, Naya, yang juga tomboy tapi tak segila Raina, terdengar khawatir.
Raina membuang abu rokoknya, matanya menatap ke depan. "Gue udah janji sama tuh cewek, Nay. Lagian gue paling nggak suka diremehin."
"Cewek licik itu emang bikin panas sih. Katanya dia sengaja ngajak lu balapan biar jatuhin nama lu," Naya berkomentar sambil melipat tangannya di dada.
Raina tertawa kecil, suaranya sinis. "Lucu ya? Kayak gue peduli sama omongan orang. Gue balapan bukan buat mereka. Gue balapan buat diri gue sendiri. Buat buktiin gue bisa."
Kerumunan makin riuh ketika sosok Melia muncul. Cewek itu dikenal licik, suka main curang dalam balapan. Penampilannya glamor, kontras dengan Raina. Rambut panjang terurai, jaket merah ketat membungkus tubuhnya. Senyum sinisnya membuat banyak orang ingin segera menyaksikan pertarungan mereka.
"Raina!" teriak Melia sambil menoleh penuh tantangan. "Siap kalah malam ini?"
Raina menjawab santai, "Daripada banyak bacot, mending kita gas. Gue males dengerin ocehan lo."
Orang-orang bersorak. Taruhan mulai dilakukan. Beberapa anak muda sudah menyiapkan kamera ponsel, siap merekam adu cepat dua perempuan yang sudah jadi legenda jalanan itu.
Mereka berdiri sejajar, masing-masing di atas motor sport. Mesin meraung, knalpot memuntahkan suara bising yang memekakkan telinga. Lampu-lampu sorot menyoroti jalanan lurus yang dijadikan arena balapan.
Seorang pria dengan bendera hitam berdiri di depan, mengangkat tangannya. Suara hitungan menggema.
"Satu!"
Raina menurunkan helmnya, menarik napas panjang.
"Dua!"
Tangannya menggenggam erat setang motor, jari-jarinya bersiap menekan gas.
"Tiga!"
Dalam sekejap, motor keduanya melesat bagai peluru. Angin malam menampar wajah mereka. Sorakan penonton semakin memanas. Raina mencondongkan tubuhnya ke depan, pandangan fokus lurus tanpa tergoyahkan.
Melia mencoba menyalip dari sisi kiri, tapi Raina sudah mengantisipasi. Ia memelintir gas lebih dalam, kecepatan motornya melampaui batas normal. Detik demi detik, jarak antara mereka semakin lebar.
Akhirnya garis finish mendekat. Raina menyalip dengan mudah, meninggalkan Melia di belakang. Sorakan membahana.
"RAINA MENANG!" teriak salah satu penonton sambil mengibarkan tangan.
Raina menghentikan motornya dengan rem mendadak yang membuat ban berdecit panjang. Ia melepas helm, rambutnya berantakan, wajahnya berkeringat tapi matanya berkilat penuh kepuasan.
Melia menghampirinya dengan wajah masam. "Lo menang kali ini, Rain. Tapi liat aja. Gue bakal bikin lo jatuh suatu hari nanti."
Raina hanya menatap dingin. "Silakan coba. Gue nggak pernah takut sama ancaman murahan kayak gitu."
Kerumunan belum bubar ketika tiba-tiba handphone Raina bergetar di dalam saku jaketnya. Ia mengernyit, menarik ponsel itu. Layar menyala, tertera nama Papa.
Deg.
Raina menelan ludah. Ia tahu kalau papahnya menelpon di jam segini, pasti bukan kabar baik. Dengan enggan, ia mengangkat.
"Halo, Pa..."
Suara berat dari seberang langsung menyambar penuh amarah. "RAINA! Kamu di mana?! Jangan bilang Papa harus cari kamu di jalanan lagi! Pulang sekarang juga!"
Raina menutup mata, berusaha tetap tenang. "Aku... aku bentar lagi pulang, Pa. Lagi sama temen-temen."
"Jangan bohong! Papa tahu kamu balapan lagi! Sudah berapa kali Papa bilang, kamu itu perempuan! Balapan liar itu bahaya! Kamu mau mati di jalan?!"
Nada suara papahnya menusuk, membuat dada Raina panas. Ia menggertakkan giginya. "Aku bisa jaga diri, Pa. Aku nggak selemah yang Papa pikir."
"Pokoknya sekarang juga pulang! Jangan bikin Papa tambah marah!"
Klik. Telepon terputus sepihak.
Raina menatap ponselnya dengan wajah kesal. "Sial..."
Naya menghampiri, wajahnya penuh cemas. "Papa lu lagi ya?"
"Iya, Nay. Kayaknya dia udah tahu gue balapan lagi. Gue pulang dulu, sebelum makin ribut," jawab Raina, lalu mengenakan helmnya lagi.
Rumah besar itu berdiri megah dengan pagar tinggi dan taman luas. Raina masuk dengan motor, deru knalpotnya memecah kesunyian malam. Begitu mesin dimatikan, suara berat terdengar dari ruang tamu.
"RAINA!"
Papahnya, seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan wajah keras, berdiri dengan wajah merah padam. Jas yang dikenakannya masih rapi, seolah baru pulang dari pertemuan bisnis.
"Aku pulang, Pa," kata Raina pelan.
"Pulang? Kamu kira Papa nggak tahu kamu habis dari mana?!" bentaknya.
Raina menahan diri. "Aku cuma... balapan sebentar. Aku menang, Pa. Aku selalu hati-hati."
"Hati-hati?!" Papahnya menatap tajam. "Raina, kamu itu perempuan! Kamu pikir hidup kamu mainan? Kalau kamu jatuh? Kalau kamu mati? Apa itu yang kamu mau?!"
Raina menegakkan tubuh, matanya melawan. "Aku cuma pengen bebas, Pa. Aku pengen hidup sesuai caraku sendiri! Papa sama Mama sibuk kerja terus, nggak pernah ada buat aku! Kenapa sekarang Papa tiba-tiba ngatur-ngatur?!"
"Raina!" suara papahnya meninggi. "Kamu nggak ngerti apa yang Papa lakukan semua demi kamu?! Dan lagi, Papa sudah putuskan sesuatu. Papa mau jodohkan kamu dengan anak sahabat Papa."
Raina terbelalak. "APA?!"
"Namanya Ardan. Dia anak sahabat Papa, baik, bertanggung jawab, punya masa depan. Papa yakin dia bisa jadi suami yang tepat buat kamu."
"Enggak!" Raina membanting helmnya ke sofa. "Aku nggak mau! Aku nggak akan pernah mau dijodohkan dengan siapapun! Aku nggak mau nikah, Pa! Nggak sekarang, nggak nanti, nggak pernah!"
"Jangan keras kepala, Raina! Kamu sudah cukup bikin Papa pusing dengan kelakuan kamu. Papa hanya ingin kamu ada yang jagain!"
"Aku bisa jaga diri aku sendiri!" Raina berteriak, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak butuh orang lain buat jagain aku!"
Tanpa menunggu jawaban, Raina berlari ke kamarnya. Pintu dibanting keras, meninggalkan papahnya berdiri di ruang tamu dengan napas memburu, wajahnya penuh amarah bercampur kecewa.
Di dalam kamar, Raina menutupi wajahnya dengan bantal. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Aku nggak akan pernah nurut, Pa..." bisiknya lirih. "Aku pengen hidup bebas, bukan dikurung dalam pernikahan yang nggak aku mau."
Beberapa hari telah berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Raina lebih banyak mengurung diri di kamar, enggan bertegur sapa dengan papahnya. Sesekali ia keluar hanya untuk makan atau sekadar mencari udara segar di balkon. Baginya, kata-kata papahnya malam itu-tentang perjodohan-masih menusuk seperti duri yang tak bisa dicabut.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Raina sedang asyik menyalakan musik keras-keras di kamarnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada kasur sambil memainkan gitar listrik kesayangannya. Dentingan suara gitar jadi pelarian dari semua tekanan yang menghimpitnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk keras.
"Raina... Nak, buka pintunya. Mama mau bicara," suara lembut mamanya terdengar dari luar.
Raina mendesah panjang, meletakkan gitarnya dengan malas. Ia berjalan ke pintu, membukanya setengah hati. "Apa lagi, Ma?"
Mamanya tersenyum kaku, meski terlihat jelas ada kegugupan di wajahnya. "Nak... malam ini keluarga sahabat Papa akan datang. Mereka ingin silaturahmi. Kamu... harus ikut duduk bersama."
"Silaturahmi?" Raina menaikkan alis. "Atau acara pamer calon menantu?"
"Raina..." suara mamanya melembut, mencoba meredakan tensi. "Dengar dulu. Tolong untuk kali ini saja, Nak. Demi kebaikan kamu juga. Mama mohon, berpakaianlah sopan. Pakailah gamis dan hijab. Tunjukkan kalau kamu bisa jadi perempuan baik-baik."
Raina menahan tawa sinis. "Gamis? Hijab? Ma, gue-eh, aku-nggak pernah nyaman pakai itu. Aku bukan cewek kayak gitu."
"Raina," mamanya mendekat, menggenggam tangan putrinya. "Kalau kamu tidak menurut, Papa akan mengambil semua aset yang selama ini dia berikan untukmu. Motor, tabungan, bahkan apartemen kecil yang sering kamu singgahi. Papa benar-benar serius, Nak. Mama nggak mau kamu semakin jauh dari keluarga."
Raina terdiam. Wajahnya tegang, matanya memerah karena kesal. "Jadi ini ancaman, Ma?"
Mamanya menggeleng cepat. "Bukan ancaman. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Sekali ini saja, tolong turuti. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu. Tapi tunjukkanlah kalau kamu bisa menghormati tamu."
Raina menatap lantai, giginya terkatup rapat. Hatinya panas, tapi ia tahu papahnya bisa saja benar-benar melaksanakan ancaman itu. Semua yang ia punya bisa hilang dalam sekejap. Ia menggenggam tangannya, lalu berkata dengan suara ketus, "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku nggak bisa pura-pura sopan di depan orang itu."
Mamanya tersenyum lega, mengusap kepala Raina. "Terima kasih, Nak. Mama tahu kamu bisa."
---
Setelah mamanya pergi, Raina menendang pintu kamarnya dengan kesal. Ia membuka lemari, menatap gamis yang sudah disiapkan mamanya. Gamis berwarna biru muda dengan hijab putih terlipat rapi di sampingnya.
"Gerah banget pasti pakai beginian..." gumam Raina sambil mendesah.
Namun dengan enggan, ia tetap mengenakannya. Saat hijab itu menutupi rambut pendeknya, Raina merasa seperti kehilangan jati dirinya. "Ini bukan aku... sama sekali bukan aku..." bisiknya getir.
Ia menatap cermin. Bayangan dirinya tampak asing. Gadis bar-bar dengan jaket kulit dan motor sport menghilang, diganti sosok perempuan anggun yang dipoles oleh pakaian.
"Aku kayak boneka," ucapnya sambil meremas ujung gamis.
---
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suara derap kaki dan salam terdengar di ruang tamu. Jantung Raina berdegup kencang.
"Rain, ayo keluar. Mereka sudah datang," suara mamanya memanggil lembut dari luar.
Dengan langkah berat, Raina keluar dari kamar. Hijabnya membuat ia merasa sesak, dan setiap langkah terasa seperti menuju ruang interogasi.
Saat sampai di ruang keluarga, matanya langsung menangkap sosok lelaki yang duduk dengan tenang. Wajahnya teduh, dagunya ditumbuhi sedikit janggut rapi, pakaiannya sederhana: koko putih dan celana hitam. Dari cara duduknya saja sudah terlihat bahwa ia orang yang teratur, terikat aturan agama.
Di sebelahnya duduk sepasang orang tua dengan wajah ramah. Wanita berjilbab besar tersenyum hangat, sedangkan suaminya menatap penuh wibawa.
"Assalamu'alaikum," sapa mamanya sambil menggandeng lengan Raina.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak.
Papah Raina berdiri dengan senyum lebar. "Ini dia, putri kami, Raina."
Wanita berjilbab itu menatap Raina dengan penuh kagum. "Masya Allah... cantik sekali anaknya, Bu. Sungguh anggun dengan hijabnya."
Raina hanya menunduk, hatinya berteriak tidak nyaman.
"Rain, ini Umi dan Abi dari calonmu," kata mamanya pelan. "Umi namanya **Umi Salma**, dan ini suaminya, **Abi Karim**."
Raina tersenyum tipis, lalu menyalami tangan Umi Salma dan Abi Karim dengan sopan. Mereka tersenyum semakin lebar, tampak puas.
"Dan ini..." suara papahnya terdengar tegas, penuh kebanggaan. "Namanya **Fahri Al-Hadi**. Dia ustadz di pesantren yang cukup terkenal, juga punya bisnis properti dan percetakan Islami yang berkembang pesat."
Raina terdiam, menatap lelaki itu. Jadi inikah calon suaminya?
Fahri mengangguk singkat, wajahnya datar tanpa senyum. Ketika Raina mengulurkan tangan untuk bersalaman, Fahri justru menangkupkan tangannya di dada, menunduk sedikit.
"Afwan," ucapnya tenang. "Saya tidak bersalaman dengan non-mahram."
Raina membeku. Matanya membelalak, wajahnya memerah karena kesal. Baginya, sikap itu terasa sombong. Seolah Fahri ingin menunjukkan betapa 'sucinya' dia dibandingkan dirinya.
"Baik..." gumam Raina dengan nada ketus, lalu menarik kembali tangannya.
Mamanya segera menyelamatkan keadaan. "Oh iya, silakan duduk dulu. Kita ngobrol santai saja."
Mereka pun duduk. Umi Salma terus menatap Raina dengan kagum, sesekali melontarkan pujian.
"Raina terlihat begitu sopan, Masya Allah. Jarang sekali anak muda zaman sekarang seperti ini. Kami sungguh senang kalau Raina bisa menjadi bagian keluarga kami," kata Umi Salma.
Raina tersenyum paksa. Dalam hatinya ia bergumam, *Kalau saja mereka tahu aku siapa sebenarnya, pasti langsung batalin acara ini.*
Papahnya lalu berbicara dengan suara mantap. "Karena waktu Papa terbatas-minggu depan Papa harus berangkat ke luar negeri lagi-Papa ingin pernikahan ini dilaksanakan secepatnya. Paling lambat satu minggu lagi."
Raina sontak menoleh dengan kaget. "APA?!"
Semua mata tertuju padanya. Raina berdiri dari kursi, wajahnya merah padam. "Aku nggak mau nikah! Nggak sekarang, nggak minggu depan, nggak kapanpun! Aku nggak siap, Pa!"
"Raina!" suara papahnya keras. "Duduk! Jangan mempermalukan keluarga di depan tamu!"
"Aku serius, Pa! Aku nggak mau dijodohkan! Aku bahkan baru ketemu orang ini sekarang!"
Fahri menoleh singkat, wajahnya tetap datar, seolah semua teriakan itu tidak mengganggunya sama sekali.
Abi Karim berdeham, mencoba menenangkan suasana. "Mungkin Raina masih kaget, Pak. Wajar saja. Kita beri waktu untuk berpikir."
Namun papahnya tak mau mundur. "Tidak! Keputusan sudah bulat. Raina harus menikah dengan Fahri. Itu final!"
Raina menatap papahnya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar, bibirnya bergetar. "Kenapa, Pa? Kenapa hidup aku harus Papa yang atur? Aku bukan boneka!"
Tanpa menunggu jawaban, Raina berlari meninggalkan ruang tamu. Gamis panjangnya terinjak, hijabnya hampir terlepas, tapi ia tak peduli. Ia berlari menuju kamar, membanting pintu, lalu menjatuhkan diri di ranjang.
Air mata mengalir deras.
"Aku nggak akan mau nikah sama orang itu... nggak akan pernah!"
Hari itu datang lebih cepat dari yang Raina bayangkan. Sepekan terasa seperti hanya satu tarikan napas. Ia masih mengutuk keputusan papahnya, tapi segala penolakan berujung pada tembok kokoh yang tak bisa ia robohkan.
Sejak pagi, rumah keluarga Raina sudah ramai. Tenda putih berdiri megah di halaman depan, dihiasi bunga segar dan lampu gantung kristal. Kursi berlapis kain satin berjajar rapi, menanti para tamu undangan. Wartawan dan fotografer sudah memenuhi halaman, kamera siap mengabadikan setiap momen.
"Astaga... ini bukan pernikahan, ini kayak konferensi pers," gerutu Raina dari balik pintu kamarnya. Ia duduk di depan meja rias, wajahnya dipoles tebal oleh perias profesional. Gamis putih dengan payet mewah melekat di tubuhnya, membuatnya tampak anggun-meski hatinya sama sekali tidak selaras dengan penampilannya.
Mamanya masuk pelan, tersenyum haru. "Nak... cantik sekali kamu hari ini."
"Aku nggak merasa cantik, Ma. Aku merasa kayak tawanan," sahut Raina dingin.
Mamanya terdiam sesaat, lalu mengusap pipi putrinya. "Percayalah, Nak. Kadang kita baru mengerti maksud orang tua setelah kita menjalaninya."
"Aku nggak butuh dimengerti, Ma. Aku cuma butuh bebas."
Mamanya hanya menghela napas panjang, memilih keluar sebelum air matanya jatuh.
Di bawah tenda, suasana semakin khidmat. Fahri duduk bersila di depan penghulu, mengenakan jas putih bersih dengan peci hitam. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar.
Saksi-saksi telah siap, begitu pula kedua orang tua. Abi Karim duduk dengan wibawa, Umi Salma berdoa sambil terus meneteskan air mata bahagia.
"Baiklah," suara penghulu lantang. "Kita mulai akad nikah ini."
Wartawan merapatkan kamera. Flash kamera berkilat-kilat, membuat suasana semakin tegang.
Papah Raina menyerahkan tangannya pada Fahri. "Saya nikahkan engkau, Fahri Al-Hadi bin Karim, dengan putri saya Raina binti Rasyid, dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."
Fahri menarik napas, lalu dengan suara lantang dan mantap ia mengucapkan, "Saya terima nikahnya Raina binti Rasyid dengan maskawin tersebut, tunai karena Allah ta'ala."
"SAH!" seru para saksi serempak.
Sorakan kecil terdengar, para tamu bertepuk tangan, meski tetap menjaga suasana religius. Wartawan langsung menyorot wajah Fahri yang tetap datar, lalu ke arah kursi kosong di mana Raina belum hadir di pelaminan.
Papahnya tersenyum puas. "Alhamdulillah. Akhirnya putriku resmi bersuami."
Sementara itu, di kamar, Raina menatap cermin. "Sah? Jadi gue sekarang udah istri orang? Gue gila!"
Ketukan pintu terdengar. Seorang panitia berkata, "Pak Ustadz mau menjemput mempelai wanita."
Raina menggertakkan gigi. Pak Ustadz... suami gue sekarang...
Pintu terbuka. Sosok Fahri muncul, wajahnya tetap teduh. "Assalamu'alaikum."
Raina mendengus, "Wa'alaikumussalam." Ia berdiri, mengibaskan gamis panjangnya. "Lu datang jemput gue?"
"Ya. Karena kamu sudah sah jadi istri saya," jawab Fahri tenang.
Raina menatapnya dengan mata menyipit. "Jangan so-so an deh. Gue cuma dipaksa."
Fahri menatap matanya dalam. "Saya tahu kamu terpaksa. Tapi izinkan saya jalankan kewajiban saya sebagai suami."
Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya. "Mari, saya tuntun kamu."
Raina mengerutkan dahi. "Tuntun? Gue bukan anak kecil."
Namun ia tetap berdiri. Saat itu Fahri membacakan doa dengan suara pelan namun jelas, penuh khidmat, "Allahumma barik lana, Allahumma barik 'alaina, wajma' bainana fii khair..."
Doa itu membuat Raina sempat terdiam sejenak. Ia tak mengerti kenapa suara itu membuat dadanya bergetar aneh, meski cepat-cepat ia menepis perasaan itu.
"Udah selesai? Ayo cepetan. Gue gerah di kamar ini," ucapnya ketus.
Fahri mengangguk, lalu berjalan di sampingnya. Mereka keluar menuju ruang tamu, di mana semua tamu sudah menanti.
Begitu Raina muncul di pelaminan, sorak sorai terdengar. Wartawan sibuk mengambil gambar. "Klik! Klik! Klik!"
"Masya Allah... pengantin wanita cantik sekali," bisik para tamu.
Raina hanya menunduk, wajahnya masam. Sementara Fahri tetap datar, hanya sesekali mengucap senyum tipis yang sopan.
Setelah prosesi selesai, mereka duduk berdua di pelaminan. Raina mencondongkan tubuhnya, berbisik kesal, "Lu tahu nggak? Gue benci semua ini. Gue benci jadi istri lu."
Fahri menoleh pelan, menatapnya tanpa emosi. "Saya tahu. Tapi saya tidak akan balas benci dengan benci. Saya hanya akan berusaha menjalankan kewajiban saya."
Raina mengepalkan tangan. "Kenapa lu sok banget jadi orang suci? Lu pikir gue bakal luluh?"
"Tidak. Saya tidak berpikir begitu. Saya hanya percaya waktu akan menjawab semuanya."
"Gue nggak butuh waktu. Gue cuma butuh kebebasan."
Fahri menarik napas panjang. "Kamu tetap bisa bebas, selama tidak melanggar aturan Allah."
Raina mendengus keras. "Ah, udah deh. Gue enek dengernya."
Setelah acara usai, para tamu pulang satu per satu. Wartawan bubar, meninggalkan halaman rumah yang mulai sepi. Malam menjelang, dan keduanya dipersilakan beristirahat.
Di kamar pengantin yang sudah dihias bunga mawar dan lilin aromaterapi, Raina duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedekap. Wajahnya masam, matanya menatap ke arah jendela.
Fahri masuk dengan langkah tenang, menutup pintu perlahan. "Kamu belum ganti pakaian? Pasti capek setelah seharian acara."
"Lu nggak usah sok peduli. Gue bisa urus diri gue sendiri," jawab Raina ketus.
Fahri tetap duduk di kursi, menjaga jarak. "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kamu tahu, saya akan tetap ada di sisi kamu. Meskipun kamu membenci saya."
Raina menoleh cepat, menatapnya tajam. "Lu denger ya. Gue nggak pernah minta nikah sama lu. Gue nggak akan pernah jadi istri baik yang lu harapin. Gue tetap akan jadi diri gue sendiri. Bar-bar, bebas, dan nggak peduli aturan-aturan lu."
Fahri mengangguk pelan, wajahnya tetap teduh. "Kalau itu pilihan kamu, saya tidak akan melarang. Saya hanya akan tetap menjalankan peran saya. Menjadi suami kamu, melindungi kamu."
Raina mendengus, membanting bantal ke arahnya. "Sok banget jadi pahlawan. Gue nggak butuh perlindungan lu."
Fahri tersenyum tipis, mengambil bantal itu tanpa marah. "Baik. Tapi saya tetap akan di sini."
Raina berbalik membelakangi, menutup wajah dengan bantal. Air matanya mengalir diam-diam, bercampur dengan rasa marah dan frustasi.
Kenapa hidup gue harus kayak gini?