“Gilaa! Sudah miring ni orang otaknya!” umpat Andre dalam hatinya, saat mendengar usul yang ditawarkan oleh Ricko, salah seorang rekan kerjanya.
Usul super gila yang dengan cepat disetujui oleh Pak Nelwan, atasannya. Juga disetujui dua rekan yang memegang jabatan manager seperti dirinya.
Hari itu, kantor tempat Andre bekerja, menerima kunjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya sebagai cabang perusahaan dengan kinerja terbaik.
Mereka diberikan bonus liburan dan berhak untuk menggunakan cottage milik perusahaan di salah satu Pesisir Pulau Jawa. Tentunya ditambah dengan bonus akomodasi lain dan sejumlah uang saku.
Namun demikian diantara semua berita gembira itu, justru Andre lah orang yang paling beruntung dan berhak untuk merasa paling bahagia.
Bagaimana tidak?
Karena prestasi kantornya itu, Pak Nelwan dipromosi dan dialih tugaskan ke kantor pusat, kemudian orang yang menggantikan Pak Nelwan adalah Andre. Seluruh rekan dan college memang sudah menduga jika posisi Pak Nelwan akan digantikan Andre.
Setelah rombongan dari kantor pusat meninggalkan ruangan, Pak Nelwan langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral. Dia mengajak semua bawahannya untuk bersulang dan bertoast ria.
Biar bagaimanapun ada kebanggaan atas penghargaan yang diberikan oleh kantor pusat kepada kantor yang dipimpinanya. Pak Nelwan sangat menyadarinya jika semua pencapaian prestasinya tak lepas dari kerja dan kerja sama yang sinergis bersama seluruh anak buahnya.
Namun Pak Nelwan dengan berat hati menyampaikan bahwa dirinya tidak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janji tersendiri dengan istrinya untuk sebuah liburan di Pulau Dewata.
Andre sendiri tidak begitu peduli dengan keabsenan Pak Nelwan. Toh dirinya tetap dapat mengikuti liburan dengan rombongan kantor itu bersama istrinya. Ini dapat menjadi kado bulan madu bagi istrinya yang baru dinikahinya tiga bulan lalu.
“Tapi apakah Pak Nelwan tetap tidak mau ikut rombongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah game dengan perjanjian yang menarik,” celetuk Ricko.
“Perjanjian? Emang kalian sudah bikin perjanjian apa?” tanya Pak Nelwan sambil menatap Ricko dan Andre bergantian.
Seperti halnya Pak Nelwan, Andre yang tidak pernah membuat perjanjian apapun tentang liburan pada Ricko, pun dibuat bingung.
“Ya, sebagai ucapan terima kasih, saya dan Andre ingin mengusulkan sebuah permainan, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan di sana kita membebaskan pasangan kita untuk dirayu oleh sesama kita,” papar Ricko
“Maksudmu?” tanya Pak Nelwan meminta penjelasan yang lebih mendetail.
“Ya, bagi mereka yang beruntung, mungkin dapat dilanjutkan dengan rayuan di atas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak boleh melarang untuk ‘penuntasan akhir’ atas usaha kawan kita,” jelas Ricko.
“Saya pikir permainan ini bisa menjadi referensi kepuasan bagi kita. Satau saya kita semua selalu setia dengan istri kita masing-masing. Ini hanya murni tentang ‘cita rasa’ dan ‘varian kenikmatan’ dari wanita selain istri kita,” tambahnya.
‘Gila! Bagaimana mungkin usul itu meluncur dengan lancar dari mulut Ricko, apalagi dengan membawa-bawa namaku!’ Andre kembali mengumpat dalam hati. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Ricko, Andre melihat wajah Pak Nelwan seketika berbinar sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.
‘Lagian, Kenapa perjanjian ini harus mengatasnamakan balas budi, sialan!’ Hati Andre kembali mengumpat ketika menyadari sulit baginya untuk mengelak dari permainan gila yang sepertinya sudah sangat disetujui Pak Nelwan. Dan dengan sendirinya, semua peserta pasti tidak akan ada yang bisa menolaknya.
“Yang bener Men! pastinya lu juga ngajak istri lu yang alim itu kan?” seru Yudis tiba-tiba. Dia ingin memastikan Ricko mengajak istrinya yang biasa menggunakan busana tertutup lengkap dengan penutup kepalanya.
“Yoi!” balas Ricko ditambah anggukan pasti.
Sesaat Andre terdiam. Clara istri sahabat karibnya itu memang memiliki daya tarik tersendiri dari tubuhnya yang selalu tertutup, wajah putih bersih, dagu lancip dan hidungnya yang mancung.
‘Uuuuh, benar-benar tawaran yang menggiurkan, terlalu sayang untuk dilewatkan, tapi…’ seru Andre dalam hati namun setelah itu dia mendadak bingung.
Mungkinkah, dalam liburan ini dirinya dapat mencumbu tubuh Clara, atau bahkan kalau memungkinkan dapat sedikit berkenalan dengan selangkangan wanita yang selalu menjadi fantasi seksnya sebelum dirinya menikah dengan Nadia.
“Tapi, agar permainan ini semakin seru, kita tidak boleh memberi tahukan istri-istri kita tentang permainan ini. Di samping untuk menghindari timbulnya pertengkaran suami istri, saya rasa ada tantangan tersendiri bagi kita untuk dapat menikmati tubuh target kita,” ucap Ricko dengan tatapan tajam ke arah Andre, dihias senyum penuh misteri.
Andre bingung dengan tatapan itu, muncul pertanyaan besar di kepalanya. Apakah Ricko yang menjadi temannya sejak bangku SMP itu memang menjadikan istrinya sebagai target utama dalam permainan ini.
Sekilas Andre teringat pernyataan Ricko di hari pernikahannya beberapa waktu lalu, dia mengakui keindahan tubuh istrinya, saat memelototi tubuh Nadia yang dibalut kebaya transparan yang sangat ketat dengan puring tipis yang hanya menutupi bagian dada.
“Untuk Pak Nelwan, sepertinya kita harus memberikan persyaratan tambahan. Bapak hanya boleh mengajak simpanan Bapak saja.”
“Hahahaha.”
Celetukan dari Yudis, kontan membuat Pak Nelwan terbahak tertawa, Andre pun tersenyum kecut mengingat istri sah Pak Nelwan, Bu Sofia yang merupakan aktifis arisan ibu-ibu pejabat.
Sebenarnya, Bu Sofia, istri Pak Nelwan yang telah memasuki umur 45-an, masih terbilang cantik dan selalu tampil seksi dengan pakaiannya yang selalu mengekspos daerah terlarang, dan pastinya masih sangat layak pakai. Hanya saja yang membuat tidak kuat adalah mulutnya yang selalu aktif mengkritik setiap sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Alias cerewet dan super ember.
Mungkin itulah sebabnya Pak Nelwan memilih sebuah hubungan rahasia dengan Angel. Resepsionis kantor yang terkenal montok dan murah hati kepada kamum lelaki dalam hal berpakaian, dan tentunya lebih enak dinikmnati dan penurut dibandingkan Bu Sofia.
“Tidak. Tidak. Pak Nelwan silakan saja mengajak kedua istrinya, dengan tetap merahasiakan hubungannya dengan Angel. Bukankah kita melakukan permainan ini dengan diam-diam? Bisa saja saya berhasil mendapatkan tubuh Bu Sofia dengan meminjam kamar kalian. Dan pastinya Pak Nelwan tidak bisa melarang saya untuk melakukan itu, bukan begitu, Pak Nelwan?” protes Ricko.
Pernyataan Ricko sontak membuat Andre, Yudis dan Aditya terkejut, kata-kata Ricko sudah kelewat batas, meskipun dirinya memang memiliki hasrat yang sama untuk menunggangi tubuh montok istri Pak Nelwan itu, tapi tidak selayaknya hal itu diungkapkan langsung di hadapan Pak Nelwan, yang nota bene adalah atasannya.
“Wuahahaha, saya selalu suka dengan ide gilamu, Ricko! Silakan nikmati Sofia sepuasmu bahkan kalau kamu juga ingin mencicipi Angel silakan saja. Tapi jangan salahkan saya bila nanti membuat istrimu yang alim itu terkapar olehku, hahahaha,” jawaban Pak Nelwan membuat Ricko tersenyum kecut.
Ternyata tidak hanya Ricko yang tersenyum menyambut tawaran Pak Nelwan tetapi juga Aditya, Yudis dan tentu saja Andre.
“Ok, jika semua telah sepakat, ada baiknya kita mempersiapkan istri-istri kita untuk menyambut pertempuran yang panjang besok lusa!” Pak Nelwan menyudahi rapat tambahan para pimpinan itu dan tentu saja disambut tertawa terbahak oleh semua.
“Tunggu Pak! Saya hanya ingin memastikan, perjanjian ini hanya berlaku saat liburan saja kan?” Semua tersenyum dengan pertanyaan Aditya yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya mengangguk-agukkan kepala.
Diana, wanita muda yang dinikahi Aditya hampir berbarengan dengan hari pernikahan Andre itu memang seorang wanita lugu yang dinikahinya satu bulan setelah lulus dari bangku SMA. Pastinya Adit tidak berbeda dengan Andre yang merasa keberatan dengan permainan yang diusulkan Ricko, karena mereka sendiri masih belum puas mengayuh tubuh istrinya masing-masing.
“Itu Pasti. Permainan kita ini cukuplah menjadi skandal saat liburan saja. Karena tentunya kita tidak ingin rumah tangga kita atau pun rumah tangga rekan kita berantakan,” pungkas Ricko sambil merapikan beberapa berkas yang ada di hadapannya.
^^^
Andre kini sudah duduk santai di depan di rumahnya. Sesekali menatap Nadia, istrinya yang tengah menyiapkan makan malam mereka.
“Ada-ada saja permintaan Pak Egar itu, komentar dan sikapnya selalu saja bikin orang emosi,” keluh Nadia istrinya sambil meletakkan piring berisi ikan nila yang baru digorengnya.
“Ada apalagi dengan Pak Egar. Dia masih sering menggodamu?” Andre memandangi tubuh semampai yang berjalan menuju freezer di sampingnya. Tubuh Nadia masih terbilang langsing dengan pinggul yang bertaut serasi dengan bongkahan pantat montok yang selalu bergetar mengiringi tiap langkah kakinya.
“Sungguh aku gak relaaa!” Bibir Andre mendesah pelan ketika teringat obrolan di kantornya tadi siang. Bagaimana mungkin dirinya membiarkan tubuh indah istrinya ditunggangi oleh lelaki lain atau bahkan teman-teman sekantornya.
“Apa? Bicaramu selalu saja pelan, bagaimana mungkin aku bisa mendengar, Ndre?” tanya Nadia.
“Oh, tidak. Aku hanya memanggilmu.” Andre memeluk istrinya dari belakang, membaui rambut tergerai yang masih sedikit basah. Tangannya mengelus lembut bongkahan pantat Nadia yang selalu saja membuatnya bergaiirah.
Telah sering Andre ingin mencoba lubang bagian belakang yang ada di tengah-tengah pantat istrinya itu. Tapi Nadia selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Jijik, jorok, takut sakit, dan puluhan alasan lainnya.
“Sayang, aku masih terlalu capek hari ini. Aku tidak yakin dapat melayanimu malam ini. Bahkan mungkin aku akan langsung tertidur ketika menyentuh kasur,” keluh Nadia saat Andre meremasi pantat dan payu daranya.
“Hahaha, tenang sayang. Aku hanya ingin menawarkan sebuah liburan kepadamu. Apakah kamu bisa mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan? Bukankah kamu belum mengambil cutimu tahun ini?” Andre mencoba mengingat-ingat, bahkan pada saat perkawinan mereka tiga bulan yang lalu, Nadia tidak dapat mengambil jatah cutinya. Semua gara-gara ulah Pak Egar, manager personalia salah satu bank swasta tempat Nadia bekerja.
“Liburan? Kemana? Kapan?” Wajah Nadia langsung berbinar. Mungkin inilah kesempatan untuk sesaat melepas semua rutinitas yang melelahkannya. “Aku yakin kali ini pasti bisa mendapatkan jatah cutiku!” sambungnya cepat, seakan takut suaminya menarik kembali tawaran yang sangat menggiurkannya itu.
“Besok lusa, kantorku mengadakan liburan ke salah satu villa di pesisir pantai. Rasanya sangat sayang bila kita melewatkan kesempatan itu. Hitung-hitung kita berbulan madu dengan gratis,” ucap Andre dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
“Bersama rombongan kantormu?” tanya Nadia lengkap dengan dahinya yang mengkerut.
Nadia memang telah lama ingin berlibur dan berbulan madu. Tapi hanya berdua dengan suaminya. Dia sangat ingin mencoba beberapa busananya yang menantang. Berbagai busana yang memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya dalam berbagai balutan. Sengaja dia membelinya untuk bulan madu. Tapi..
Andre membaca rona kecewa pada wajah cantik itu.
“Kamu boleh mengenakan apapun yang kamu mau. Bahkan kamu boleh melakukan apa saja di sana.” Andre bingung sendiri dengan kalimat yang dilontarkannya. Kenapa dia justru begitu takut Nadia tidak bisa ikut dalam liburan kantornya kali ini.
“Tapi aku malu, di sana banyak teman-temanmu,” sergah Nadia ragu.
“Kenapa harus malu? Mereka hanya teman-teman sekantorku, bahkan beberapa dari mereka sudah pernah menginap di rumah kita. Ayolah sayang!” rayu Andre yang jantungnya mulai dag-dig-dug. Tak bisa dibayangkan jika Nadia benar-benar tak bisa ikut dalam permainan gila yang telah disusun Ricko dan disepakati bersama.
“Tapi, apakah nanti aku boleh mengenakan hadiah yang diberikan Angel pada saat perkawinan kita?” Nadia bertanya dengan pelan, takut mengundang kemarahan suaminya.
“Hadiah dari Angel?” tanya Andre sambil mencoba mengingat-ingat hadiah apa yang telah diberikan oleh staff yang menjadi istri simpanan atasannya itu.
‘Oh, dua lembar pakaian renang one Piece dan two piece, kenapa pula Angel menghadiahkan pakaian semacam itu di acara pernikahannya?’ Andre mengumpat dalam hati.
Dia sudah sangat yakin, jika istrinya mengenakan pakaian itu, maka tak ubah dirinya dengan sangat sengaja menjajakan dan mempersilakan tubuh istrinya untuk dijamah dan dilahap habis-habisan oleh semua teman-temannya.
“Ya, mungkin kamu bisa menggunakan salah satunya. Dan menurutku one piece tidak terlalu jelek untukmu,” timpal Andre cepat.
One piece adalah pilihan terbaik dari yang terburuk. Andre bahkan merinding ketika Nadia menyambut usulnya dengan wajah yang sumringah dan tersenyum bahagia.
Ruangan makan itu seketika menjadi senyap. Pasangan suami istri muda itu sibuk dengan pemikiran dan imajinasi masing-masing.
Tidak ada lagi percakapan serius hingga mereka selesai makan dan beranjak ke tempat tidur untuk menenangkan dan menyimpan semua imajinasi yang sempat memenuhi ruang kosong dalam diri mereka.
Pagi itu Andre melahap roti selai kacang dengan perasaan yang sedikit malas. Matanya terus memandangi tubuh Nadia yang dibalut seragam biru muda dengan list putih di setiap sisinya. Sungguh tubuh yang mempesona. Apalagi seragam itu melekat ketat di tubuh istrinya. Sangat wajar bila banyak lelaki yang tergoda dan menggodanya. Tidak terkecuali tua bangka Egar!
Tapi, heeyy, kenapa Nadia mengenakan seragam yang lebih ketat dari hari-hari biasanya? Tidak salah lagi. Itu adalah seragam yang telah lama dikeluhkannya karena sudah terlalu kecil untuk membalut tubuhnya yang semakin montok. Seragam itu bahkan telah lama tidak dia pakai untuk berangkat ke kantornya.
Rok span yang sudah terlalu kecil itu berhasil mencetak dengan indah segitiga celana dalam yang membalut bongkahan pantatnya yang padat. Lebih tinggi beberapa sentimeter dari rok yang biasa dikenakannya.
“Sebenarnya aku tidak yakin bisa mendapatkan cuti untuk liburan besok.” Suara Nadia mengagetkan lamunan Andre.
“Memangnya kenapa, Sayang?” tanya Andre sedikit gelagapan.
“Ya, kamu tahu sendiri bagaimana sikap dan tingkah laku Pak Egar. Aku tidak mau dia mengambil kesempatan atas permohonan cutiku nanti,” ucap Nadia sambil mengangkat roknya lebih tinggi saat mengenakan stockingnya. Andre bahkan dapat melihat celana dalam yang dikenakan istrinya. Dan dengan sangat cepat birahi Andre meletup dan terbakar.
“Ayolah Sayang, aku rasa kamu bisa sedikit menggoda Pak Egar untuk mendapatkan izin itu. Dan aku yakin kamu dapat melakukannya dengan sempurna.” Kalimat itu mengalir dari mulut Andre dengan dada yang bergemuruh.
Paha jenjang yang mulus terpampang di depannya, siapa yang tidak tergiur bila kaki indah itu melenggang dengan seksinya. Andre bingung dengan perasaan yang menyesak di dadanya. Entah kenapa dia kini justru ingin sekali memamerkan keindahan yang telah dia miliki itu kepada teman-temannya.
“Baiklah sayang. Semoga aku bisa melakukannya. Tapi kamu harus tahu, aku melakukan semua ini semata-mata hanya untuk kita. Ya, lebih tepatnya untukmu!” ucap Nadia yang telah siap dengan sepatu hak tingginya. Jemari lentiknya mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di samping televisi.
Andre kembali tertegun. Larutan dalam imajinasi liarnya. Andai saja dia tak punya, ingin rasanya membuntuti istrinya dan mengintip apa yang akan dilakukan istrinya pada atasannya itu.
Sudah cukup lama Andre mendengar tua bangka itu selalu menggoda dan sangat menginginkan istrinya. Nadia selalu bertahan dan tak pernah memberikan ruang buat atasnya itu untuk menggoda, padahal Andre sudah sangat sering memberinya izin. Andrenalin Andre selalu terbakar setiap kali membayangkan istrinya digoda lelaki lain.
“Pak Egar pasti akan terpana hari ini. Istriku bahkan sengaja memakai pakaiannya yang hampir saja tidak mampu memuat pantat dan buah dadanya.” Andre mendesah membayangkan wajah Pak Egar yang terkesima dan akhirnya dia pun berlari ke kamar mandi untuk menidurkan juniornya yang selalu cepat berdiri setiap kali berimajinasi.
^^^
Selama di kantor, Andre tidak dapat bekerja dengan tenang. Pikirannya dibayangi dengan apa yang sedang terjadi antara istrinya dengan Pak Egar, atasannya. Dia juga selalu dhantui berbagai misteri yang akan disuguhkan dalam liburan mereka nanti.
Di ruang sebelah, dari dinding pemisah ruangan yang keseluruhan menggunakan kaca, Andre tersenyum melihat Aditya. Keponakan Pak Nelwan itu tampaknya sedang sangat asyik berbincang-bincang dengan Angel.
Tampaknya lelaki yang masuk dalam lingkungan kerjanya melalui jalur nepotisme itu, mulai berusaha menggoda Angel. Wajar saja karena dalam liburan nanti dirinya memiliki kebebasan penuh untuk mendapatkan tubuh bahenol dari wanita simpanan pamannya yang sekaligus mantan atasannya itu.
Sesaat kemudian Andre melirik jam di ruangan. Pukul 15.43 WIB. Dia merasakan waktu berjalan dengan sangat lambat sekali hari ini.
“Hey, hey, hey! Apakah kalian sudah siap dengan liburan kita besok!” teriak Ricko ketika melewati pintu kacanya yang terbuka.
Dan seketika itu pula, Andre mendapati sesosok tubuh semampai di belakang Ricko. Sosok itu melemparkan senyum termanisnya dengan lesung pipit yang mengapit di kedua pipinya. Mata sang sosok itu berbinar indah, raut mukanya penuh keramahan dan keakraban.
Andre teramat mengagumi senyum itu. Ya, sebuah senyum dari Siska yang selalu saja membuat hatinya tak berkutik.
Siska, dokter muda istri sahabatnya itu memang memiliki sejuta pesona bagi dirinya. Andre sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin wanita kalem dan lembut itu justru dulu memilih Ricko untuk menjadi teman hidupnya. Ricko bahkan masih sangat urakan dan liar saat mereka berpacaran.
“Untuk liburan besok, aku dan Siska telah mempersiapkan semuanya. Dan aku harap kamu dan istrimu juga begitu,” ucap Ricko sambil memeluk pundak istrinya dan menatap Andre penuh tantangan.
“Aku harap kamu mengajak Nadia, karena liburan ini pasti akan sangat menyenangkannya!” sambung Siska dengan mata indahnya yang terus menatap Andre. Ricko mengedipkan matanya ke arah Andre sambil menyeringai.
“Ya, pastinya liburan ini akan sangat menyenangkan kita semua!” balas Andre sambil tersenyum kecut.
Seandainya Siska tahu, bahwa Ricko suaminya telah mempersilakan kepada semua temannya untuk berlomba mendapatkan tubuh indah milik dirinya.
“Apa kamu benar-benar merelakan wanita alim itu disantap oleh teman-temanmu?” bisik Andre, setelah Siska meninggalkan mereka untuk mengambil beberapa barang di ruang kerja suaminya.
“Justru itu, aku sangat ingin melihat semuanya terjadi. Tentunya tanpa membuatnya marah. Dan aku rasa kamu bisa membantuku untuk menaklukannya,” balas Ricko kalem tanpa beban.
Andre tercengang dengan jawaban sahabatnya yang sejak di bangku SMP dulu memang sudah sangat terkenal mesumnya. Tak heran saat di SMA, Ricko bahkan sudah mulai berani bermain dengan beberapa guru perempuan incarannya.
Beberapa saat kemudian, dengan langkah santai, Ricko menggamit pinggul istrinya untuk melangkah keluar. Tepat di depan pintu di depan mata Andre, Ricko meremas pantat istrinya dengan gemas. Sontak Siska membalasnya dengan tatapan tajam. Dia sedikit marah dengan ulah suaminya yang terkesan melecehakannya.
Ricko memang sengaja melakukan itu untuk menggoda Andre, sahabatnya. Ricko juga bahkan sangat tahu jika Andre sejak lama menginginkan tubuh istrinya.
Hari ini benar-benar sangat melelahkan bagi Andre. Dia mencoba memejamkan matanya di atas sofa di ruang tamu, sesaat setelah sampai di rumahnya.
“Uuugggh!” Andre menghela napasnya, minggu ini benar-benar hari yang melelahkan bagi lahir dan batinnya.
Nadia dan Siska, dua sosok wanita yang memiliki kesempurnaan tubuh yang sering diimpikan kaum hawa. Nadia dengan gayanya yang riang dan supel, membuat semua lelaki berlomba untuk berakrab ria dengannya. Tentu saja sambil mengagumi setiap lekuk bagian tubuhnya yang sempurna. Sedangkan Siska, sosok wanita kalem dengan senyum yang menawan dan mata yang teduh, membuat para lelaki merasa betah untuk berlama-lama mencumbu keindahannya.
Hanya saja bagi Andre, Siska memiliki arti lebih dari sekedar seorang wanita yang ramah. Di balik tubuhnya yang selalu tertutup pakaian putih khas seorang dokter, Siska memang memiliki misteri yang begitu besar. Ada hasrat yang terpendam sangat rapi di dalam sana.
Sayup-sayup Andre mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya. Tak lama terdengar suara Nadia yang bersenandung riang memasuki rumah mereka. Andre terjaga dari lamunannya.
“Sayang, aku telah mendapatkan cuti seperti yang kamu mau!” seru Nadia dengan nada yang lebih riang. Lalu mengecup kening suaminya yang tengah tiduran.
“Oh ya, bagaimana cara kamu mendapatkannya? Bukankah itu tidak mudah?” tanya Andre excited.
“Ya, seperti yang kamu katakan tadi pagi, aku harus sedikit menggoda Pak Egar.” Nadia mengambil napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Untuk mendapatkan cuti yang kamu inginkan, aku harus melepas dua kancing bagian atas blazerku ketika memasuki ruangan Pak Egar. Bahkan ketika duduk di depannya, aku sengaja melipat kedua kakiku untuk memberikan sedikit tontonan yang menarik. Berharap orang tua itu dapat langsung memberikan izin cutiku.” Nadia bercerita makin antusias.
“Lalu?” sambar Andre dengan suara yang dibuat sesantai mungkin, dia tak sabar ingin mendengar segala yang tejadi antara istrinya dengan atasannya.
Mata Andre menatap rok Nadia yang semakin tertarik ke atas, ketika istrinya duduk di sampingnya. Pikiran Andre mencoba membayangkan suguhan apa saja yang telah diberikan istrinya pada lelaki tua bangka itu hingga dengan musah izin cuti itu bisa dikeluarkan.
“Penasaran ya?” goda Nadia yang dibalas dengan anggukan cepat oleh Andre.
“Dan seperti katamu. Tidak mudah untuk mendapatkan izin. Orang tua itu justru semakin ngelunjak ketika aku mengajukan permohonan. Dia memintaku untuk menemaninya ngobrol di sofa ruangannya.” Nadia menunda ucapannya menunggu reaksi suaminya.
Andre semakin berdebar-debar dan membiarkan istrinya untuk terus bercerita. Cerita yang bener-benar sangat dia harapkan.
“Dan kamu tahu, apa yang dilakukan lelaki tua itu selama kami ngobrol?” Nadia berhenti kembali untuk mengatur napasnya dan sekaligus memberikan jeda agar Andre semakin penasaran.
Andre mengangguk tak sabar.
“Tua bangka itu mulai berani meraba pahaku. Bahkan berulang kali mencoba memasukkan jemarinya ke dalam rok sempit yang jelas-jelas tidak akan cukup untuk tangan gemuknya. Meski aku tahu usahanya sia-sia, aku tetap menepis ulah usilnya itu.” Nadia mencoba kembali menggantung ceritanya sambil mengecup bibir suaminya.
Lalu dengan sangat bernafsu Nadia meneguk minuman dingin milik Andre yang ada di depannya.
“Baiklah. Banyak persiapan yang harus aku lakukan untuk besok. Aku tidak ingin ada barang penting yang tertinggal nantinya,” ucap Nadia lugas sambil beranjak dari duduknya.
Meski wajahnya sedikit pucat karena kelelahan setelah bekerja sehari penuh, namun wanita cantik itu tampaknya begitu bersemangat menyambut liburannya.
Sementara Andre sibuk mengingat-ingat sosok tambun Pak Egar dengan jari-jari tangan yang juga dipenuhi lemak. Tubuhnya yang pendek membuat pria paruh baya itu semakin membulat.
Hey! Ada seberkas noda yang mengering pada rok bagian belakang Nadia. Andre meloncat dari tempat duduknya.
“Apakah hanya itu yang dilakukan Pak Egar padamu?” sela Andre sambil perlahan menarik Nadia hingga kembali duduk di sampingnya.
Entah mengapa Andre begitu penasaran dengan noda yang baru saja dilihatnya di rok istrinya.
“Ya, Setelah tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya pada bagian bawah tubuhku, tangan yang dipenuhi bulu itu mengiba kepadaku untuk bisa merasakan sedikit kepadatan payudaraku.” Nadia menjawab dengan penuh percaya diri. Harinya tertawa riang karena telah berhasil membuat suaminya terpesona dengan ceritanya.