Bab 2

Dengan bersusah payah, akhirnya Humaira berhasil keluar dari kerumunan para tetangga di sekitar halaman rumahnya yang sedang beradu mulut, ia sudah tak mempedulikan lagi semua  itu.

Humaira berjalan menyusuri komplek perumahan di dekat rumahnya, yang mungkin tidak akan pernah lagi ia akan kembali.

Humaira berjanji di dalam hatinya, ia tidak akan mengharapkan harta apapun dari mantan suaminya yang sangat pelit itu, Ia ingin membuktikan kalau ia juga bisa mandiri dan sukses walaupun tanpa bantuan dari Imron.

Malam semakin larut, Humaira masih berada di jalanan, ia terus melangkah menyusuri jalan di sekitar komplek perumahan yang tidak begitu jauh dari rumah yang pernah tempati bersama Imron, yang kini telah menjadi mantan suaminya.

Dengan  bermodalkan uang sebesar dua puluh ribu rupiah, sisa upah hasil kerjanya tadi siang, menjadi pegangannya untuk saat ini.

Humaira terus berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti, ia sebenarnya sangat kebingungan, karena untuk ongkos pulang ke kampungnya yang berada di luar kota, jelas tidak akan cukup.

Humaira tertunduk lesu, sesekali ia mengusap air mata di wajahnya dengan saputangan berwarna merah muda.

Sepanjang perjalanan Humaira senantiasa  berdoa dalam hati agar dilindungi dan dijauhkan dari segala macam marabahaya.

Kakinya telah lelah untuk melangkah, ia ingin beristirahat sejenak di warung yang berada di seberang jalan yang baru saja tutup.

Humaira menoleh ke arah kiri dan kanan sambil menyeret kopernya, namun ketika ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba, dari arah sebelah kiri jalan, melintas sebuah mobil Xenia berwarna hitam.

 Angga yang sedang asyik melakukan panggilan telepon di dalam mobil tersebut, ia sangat terkejut melihat seorang wanita yang sedang menyebrangi jalan

Angga membanting setirnya ke arah yang berlawanan demi menghindari wanita yang berada di depannya, namun sisi mobil sedikit menyentuh tubuh Humaira, sehingga ia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Angga segera membawa Humaira ke rumah sakit terdekat dibantu oleh beberapa warga yang kebetulan melintasi jalan tersebut.

Sesampainya di rumah sakit humaira segera ditangani oleh tim medis.

Angga berjalan mondar mandir di depan ruangan tunggu tempat Humaira sedang dirawat,

Ia mencemaskan keadaan wanita yang baru saja ditabraknya itu, berkali-kali ia mengintip ke dalam melalui sela-sela kaca jendela yang tertutup gorden.

Angga mengeluarkan gawainya untuk melakukan sambungan telepon, ia ingin mengabarkan keluarganya.

["Halo! Assalamualaikum Rani! Mas Angga enggak bisa pulang hari ini, lagi ada musibah,"] ucap Angga.

["Besok kalau sempat ajak ayah sama ibu pergi ke rumah sakit ya?"] imbuhnya lagi.

["Siapa yang sakit mas Angga?"] tanya Rani.

"[Mas nggak tahu siapa namanya, mas hampir saja menabrak orang, sekarang sedang menunggunya sadar, dia pingsan,"] balas Angga.

["Baiklah Mas! Besok aku ajak ayah sama ibu ke rumah sakit,"] ucap Rani.

["Iya, Mas tunggu. Assalamualaikum,"] balas Angga.

["waalaikumsalam."] Rani memutuskan sambungan telepon.

                     ***

Keesokan harinya

Setelah semalaman Humaira pingsan, pagi harinya humaira terbangun, ia melihat ke sekeliling ruangan sambil memicingkan matanya.kemudian ia berusaha untuk duduk, tapi ia masih merasakan sakit di kepalanya.

"A.. aku di..  dimana ini." Humaira sambil memegang kepalanya.

"Eh, kamu sudah siuman, " balas Angga.

"Kamu siapa?" Humaira bertanya.

"Kenalkan Aku Angga, maaf aku yang membawamu kesini, tadi malam kamu kecelakaan," balas Angga.

"Kamu gimana keadaannya? Apa sudah mendingan?" tanya Angga.

Beberapa saat kemudian, dokter pun datang bersama perawat. Kemudian memeriksa humaira.

"Keadaannya sudah mulai membaik, tinggal lecet-lecet sedikit, kalau nanti siang sudah kuat, sudah boleh pulang." ucap dokter, kemudian ia berlalu pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya.

"Baik Dok," jawab Humaira.

Dalam hati, humaira merasa bingung, akan kemana ia setelah ini.

"Udah jangan bengong, nanti aku antarkan pulang. O ya, rumah kamu dimana? Atau ada keluarga kamu yang bisa dihubungi enggak?"

"Keluargaku jauh ada di kota lain," jawab Humaira, ia masih enggan menceritakan padanya kalau ia meninggalkan rumah.

"Tak apa, biar aku antar," ucap Angga dengan tulus.

"Terima kasih, tidak usah repot-repot," jawab Humaira sungkan.

"Nggak apa-apa, nggak repot juga, sudah seharusnya aku bertanggung jawab" ucapnya lagi.

"Terima kasih banyak Angga," imbuh Humaira.

"Iya, sama-sama, aku juga minta maaf sudah membuat kamu jadi begini, untung kamu enggak kenapa-napa," ucapnya.

Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka, terlihat keluarga Angga memasuki ruangan rumah sakit, tempat Angga dan Humaira berada.

"Rani!" ucap Humaira terkejut, netranya membulat melihat kedatangan Rani.

"Huma!" balas Rani tak' kalah terkejutnya, ia sama sekali tidak menyangka, kalau orang yang ditabrak oleh kakaknya ternyata sahabatnya sendiri.

"Loh! Kalian sudah saling kenal" Angga menatap Humaira dan Rani keheranan.

"Iya, Huma ini teman kerjaku dulu waktu di catering" jawab Rani.

"Tapi setelah menikah, saya sudah tak bekerja lagi," sela Humaira.

"Apa kabar, Ran? Masih kerja di catering kah?" tanya Humaira.

"Alhamdulillah kabar baik, aku sudah tidak kerja lagi disitu, Huma. Sekarang aku sedang merintis usaha catering sendiri," balas Rani.

"Alhamdulillah, semoga sukses ya Ran?" ucap Humaira.

"Aamiin.," balas Rani.

"Om, Tante, " Humaira bersalaman dengan kedua orang tua Angga yang baru saja masuk.

"Gimana keadaannya, Nak apa sudah baikan," tanya Rena seraya menatap Humaira.

"Huma, Tante! Alhamdulillah sudah mendingan. Kata dokter siang ini sudah boleh pulang,"  Humaira menyalami Rena.

"Keluargamu apa sudah diberitahu, Nak" ucap Om Burhan

"Belum Om, keluarga saya jauh, disini saya tinggal dengan suami saya, tapi baru saja kami bercerai" ucapku dengan berderai air mata, malu sebenarnya jika harus jujur, tapi aku tak tau harus bagaimana, mengingat keluarga ku jauh, dan uang pun tak punya.

"Kamu sudah bercerai dengan Bang Imron?" Rani membulatkan netranya, ia sangat terkejut mendengar Humaira dan Imron sudah bercerai, menurutnya mereka adalah pasangan yang sangat serasi.

"Kasian sekali kamu Huma, tinggal di rumahku saja dulu, ya kan Ma, Pa?" imbuhnya lagi.

"Iya, sementara kamu dirumah kami dulu," ucap Om Burhan.

"Terimakasih Om, Tante tapi saya tidak mau merepotkan kalian," ucap Humaira, ia merasa terharu.

"Tidak merepotkan kok, nak Huma, biar kamu tinggal bersama kami sementara waktu, setelah keadaannya membaik dan benar-benar pulih, baru pulang kampung,"

"Baiklah Om, Tante, terimakasih banyak atas kebaikan keluarga Om," ucap Humaira.

"Iya sama-sama," balas Om Burhan Tante Rena.

 "jangan sungkan ya, anggap kami sebagai keluargamu juga," ucap Tante Rena lagi.

"Iya Tante, terimakasih untuk semua kebaikan keluarga Om dan Tante" jawab Humaira terharu, kebaikan keluarga Angga mengingatkan ia kepada keluarganya di kampung

"Ayo kita siap-siap, sebentar lagi kan' kita mau pulang," ucap Angga menyadarkan Humaira yang sedang melamun.

Rani dan Tante Rena membereskan barang-barang milik Humaira, sementara Om Burhan pergi ke bagian administrasi rumah sakit.

Angga membantu mengangkat barang-barang milik Humaira ke mobil milik Om Burhan.

Suster pun datang  memeriksa keadaan Humaira terlebih dahulu, sebelum mereka pulang.

"Sebelum pulang makan dulu lalu minum obatnya ya?" ucap suster.

 "Dan ini resep dokter yang harus ditebus, untuk beberapa hari kedepan setelah obatnya habis, cek lagi kesini ya" ucap Suster dengan ramahnya.

"Baik, Suster terimakasih" jawab Humaira.

Setelah makan dan minum obat, mereka pun pulang, Humaira ituntun oleh Rani dan Tante Rena.

"Huma...!" seseorang berteriak memanggil Humaira ketika ia sedang berada di area parkir.

Next

Bab 3

"Huma" seseorang berteriak memanggil Humaira ketika ia sedang berada di parkiran.

Humaira yang sedang berjalan dipapah oleh Rani dan Tante Rena, seketika menoleh ke arah belakang, ia mencari sumber suara, yang sepertinya sudah tidak asing lagi baginya.

"Eh Maya, apa kabar May? kamu ngapain di sini?" Jawab Humaira. Maya adalah tetangganya dari kampung, rumah mereka saling berhadap-hadapan.

"Kamu sendiri ngapain di sini?" Maya kembali bertanya.

"Ceritanya panjang, lain kali saja  ceritanya ya?" jawab Humaira.

"Kamu kok semakin kurus aja sih, Hum?" Maya memperhatikan Humaira dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mendengar hal itu, Humaira hanya tersenyum kecut, ia teringat kembali dengan kehidupan rumah tangganya bersama Imron.

"O iya! Maya, kenalin ini Tante Rena, Om Burhan, Angga, dan ini Rani" lalu mereka pun bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing.

"Kamu ngapain sih kesini? Siapa yang sakit?" tanya Humaira.

"Aku enggak sakit kok, cuma mau medical check up, buat lamaran kerja ke Jepang," jawab Maya.

"Wah hebat kamu May, syukurlah kalau kamu enggak sakit, semoga hasilnya bagus ya," balas Humaira.

"May, gimana keadaan keluarga di kampung?" tanya Humaira.

"Alhamdulillah, sehat-sehat semuanya," balas Maya.

"Kamu kapan mau pulang kampung, Huma? Sejak menikah, belum pernah pulang kampung," tanya Maya.

"Nanti pulangnya, tunggu baikan dulu," jawab Humaira.

"Huma, aku minta nomor handphone kamu, dong?" pinta Maya.

"Waduh! Aku enggak punya handphone" jawab Humaira jujur, selama menikah dengan Imron, jangankan handphone untuk makan saja susah.

"Sini, simpan di handphone aku saja," sela Rani, seraya mengeluarkan gawainya.

Setelah saling menyimpan nomor handphone, mereka pun berpisah.

Humaira dan Angga sekeluarga menaiki mobil Burhan, yang pun melaju dengan kecepatan sedang.

                        ***

Setelah berpisah dengan Humaira di parkiran, Maya memasuki rumah sakit, ia menuju ke ruangan Dokter Sheila, seorang dokter muda yang cantik yang akan memeriksaku, beliau seorang dokter umum, sebenarnya Maya sudah check up beberapa hari yang lalu, sekarang ia akan mengambil hasilnya.

'Semoga semua baik-baik saja, aamiin.' batin Maya.

"Maya Sofia" ucap perawat memanggil namanya.

Maya bergegas masuk, sepintas ia melihat Laras' masuk ke ruangan Dokter kandungan.

'Laras? Ngapain dia kesitu' batin Maya, ia merasa keheranan tapi dipedulikannya, karena Maya sudah dipanggil oleh perawat.

Maya segera masuk ke ruangan yang dipanggil Suster tadi.

"Silahkan Mba!" ucap Dokter Sheila tersenyum manis menampakkan lesung pipi nya.

"Jadi gimana hasil Check up saya Dok?" tanya Maya yang duduk di depannya.

"Semuanya baik, tapi masih ada yang harus di check ulang untuk memastikannya lagi, di sini ada kista, tapi masih sangat kecil, sementara saya akan memberikan resep, nanti seminggu kemudian kita check lagi ya," tuturnya.

"Kista?" ucap Maya kaget.

"Tidak apa-apa, jangan khawatir, masih bisa sembuh, diminum saja obatnya dan jauhi pantangannya." ucap dokter memberikan semangat.

"Baik Dok, terimakasih," jawab Maya sambil menerima resep dan bergegas pergi menuju ke apotek rumah sakit.

                          ***

'Laras mana ya tadi?' batin Maya.

Ngapain dia ada tadi di dokter kandungan? Dia kan belum menikah? batinnya lagi.

"Maya Sofia!" Petugas apoteker memanggil Maya, ia pun segera beranjak mengambil obat dan bergegas meninggalkan rumah sakit.

"Maya!" Seseorang memanggil Maya ketika ia telah sampai di parkiran.

"Eh Laras, ngapain disini?" tanya Maya

"A aku... cek kesehatan," jawab Laras gugup.

"Ooh!"  jawab Maya singkat, namun dalam hatinya ia kurang puas dengan jawaban Laras', ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Laras'.

"Laras', masih ada lowongan kah di tempat kerjamu?" tanya Maya.

"Aku rencananya mau ikut tes kerja ke Jepang, tapi kondisiku masih harus dipulihkan dahulu, mana tau enggak lulus ke Jepang, bisa aku ikut kerja di tempat kamu," ucap Maya

"Belum tau juga, mungkin kalau Office Girl ada sepertinya, coba besok datang temui satpam di tempatku bekerja" jawab Laras.

"Baiklah, terimakasih informasinya ya" jawab Maya.

"By the way kamu mau kemana sekarang?" tanya Maya.

"Aku sedang menunggu jemputan.

Eh Maya Minggu ini kamu datang ya ke acara pernikahanku, cuma syukuran saja, enggak banyak undangan, hanya keluarga dan teman-teman dekat saja," ucapnya antusias.

"O ya! Selamat ya? Iya Insyaallah aku datang," jawab Maya.

"Ya sudah, aku pulang duluan ya!" Maya menaiki ojeg online, yang tadi dipesannya melalui aplikasi.

"Ok, see you" Laras melambaikan tangannya.

Selepas kepergian Maya, beberapa saat kemudian datanglah Imron  menjemput Laras, Lalu mereka berdua pergi menuju rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit.

"Bang, kok lama banget jemput nya, pegel tau! Mana lapar," ucap Laras sambil mencebikan mulutnya.

"Macet Dek! Ayolah kita makan sudah lapar kali ini pun, enggak ada makan apa-apa dari tadi pagi Abang,"

Mereka mencari rumah makan yang tidak jauh dari rumah sakit.

Imron melambaikan tangannya memanggil pramusaji restoran.

Setelah makanan tersedia di meja makan mereka pun makan dengan lahapnya terutama Imron.

"Bang, jadi kan acara kita Minggu ini? Orang tua Abang datang kah?" tanya Laras.

"Terus siapa siapa aja yang diundang?" imbuhnya lagi.

"Mungkin hanya saudaraku yang disini saja yang datang, beberapa teman dekat dan tetangga sekitar saja," jawab Imron.

"Aku sudah mengundang  beberapa teman dekat, kalau keluargaku di Jambi hanya doa saja, enggak bisa datang katanya," Laras berbicara dengan mulut yang belepotan.

"Jorok kali Kau! Lap dulu tuh mulut! Belepotan makannya macam anak kecil" ucap Imron yang telah selesai makan.

"Ish! Abang, bersihin napa'? Biar romantis macam di film-film, " ucap Laras' sambil me-lap mulut dan menyelesaikan makannya.

"Halah tak payahlah, tak suka aku macam itu," balas Imron.

"Habis ini kita ke butik ya Bang, kita cari dulu baju pengantin buat kita" ajak Laras.

"Enggak usah Butik-butik deh, kita sewa aja dari tukang rias nya nanti, biar murah sedikit." Imron menghidupkan motornya.

"Pelit sekali sih Bang!" ucap Laras.

Imron menghidupkan motornya, kemudian segera melaju membelah kota Jakarta menuju ke tempat kost Laras.

"Hei Laras, lama sekali baru sampai, jalan-jalan dulu ya?" tanya Maya yang sedang duduk-duduk di depan kost-an nya, mereka tetangga kost beda kamar.

"Iya nih, kami makan-makan dulu," ucapnya sambil bergelayut manja di lengan Imron.

Tiba-tiba handphone Maya berdering.

"Halo, eh Huma ya? Gimana sudah baikan? Kapan mau pulang?" ucap Maya sambil masuk menuju kamarnya.

"Hah... Huma?" Dalam hati Imron dan Laras'.

 "Beda orang mungkin Dek!" bisik Imron.

"Ah iya mungkin Bang! Huma kan bukan cuma dia saja" timpal Laras.

"Okelah Abang pulang dulu lah ya" ucap Imron kepada Laras.

"Baiklah, hati-hati di jalan Bang!" ucap Laras.

Imron hanya membalas dengan senyuman sambil melajukan motornya.

NEXT

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED