Kepulangan ke tempat tanah kelahiran kedua orang tuanya membuat kehidupan Naila berubah penuh, tidak tahu harus bagaimana karena masih dalam tahap penyembuhan diri setelah apa yang terjadi dalam kehidupannya. Sebuah jawaban yang harus diberikan pada teman kerja sepupunya membuatnya tidak bisa melakukan karena peristiwa besar yang mengubah kehidupannya.
Sepulangnya Naila dari jalan – jalan ke Bromo dimana ternyata kedua orang tuanya beserta seluruh keluarga mempersiapkan pernikahan, Naila bahkan tidak menjawab apapun itu termasuk persetujuan mengenai pernikahan ini, meski begitu tetap melakukannya karena tidak ingin melihat sang mama sedih dan satu lagi Naila yakin jika pilihan kedua orang tuanya pasti yang terbaik. Permasalahan dengan atlet itu akan dianggapnya sebagai masa lalu dan telah selesai tapi tidak dengan sahabat sepupunya tersebut, Naila sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Evan.
“Sayang, kamu melamun aja lagi mikirin apa?”
Naila menatap pria yang memanggilnya tersebut dengan langsung mengubah ekspresi wajahnya, pria yang memanggilnya sayang saat ini sudah menjadi suaminya dalam beberapa jam yang lalu. Naila tidak tahu kenapa orang tuanya menyetujui pernikahan ini bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menolak, seakan mereka yang memiliki kehidupan dirinya meskipun Naila tidak mungkin membantah atau menolak.
Banyak pikiran yang melintas dalam isi kepalanya termasuk akankah pria yang menjadi suaminya ini akan menerima dia sepenuhnya termasuk masa lalu dirinya, Naila tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada pria dihadapannya saat ini, memilih melupakan semuanya dan menjalani kehidupan kedepan tanpa banyak pikiran mendalam karena biarkan semua terjadi begitu saja.
“Melamun lagi kamu,” ucap Irwan dengan menggenggam tangan Naila “Aku tahu kamu pasti terkejut dengan apa yang terjadi tadi, tapi satu yang harus kamu tahu kalau aku memang serius sama kamu dan kamu bisa mengandalkan aku apapun itu.”
Menghembuskan nafas panjang “aku merasa terlalu cepat dan tidak mengenal kamu dalam.”
Irwan tersenyum mendengar kata – kata yang keluar dari bibir Naila “Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal dan aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Irwan yang hanya diangguki Naila “udah sana mandi.”
Naila mengikuti perkataan Irwan dengan membersihkan diri, seketika saat berada dalam kamar mandi tiba – tiba tubuhnya membeku karena takut mengenai reaksi Irwan yang dirinya sudah tidak suci lagi. Keadaan tidak enak harus Naila alami yang pastinya melayani pria tersebut diatas ranjang, tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dari Irwan saat mengetahui hal itu nantinya. Memilih tidak memikirkan hal itu dan menganggap jika nantinya harus siap menghadapi apapun reaksi dari Irwan yang menjadi suaminya saat ini.
“Kamu sudah mandi?” tanya Naila menatap Irwan yang memainkan ponselnya
“Aku sudah mandi tadi dikamar sebelah.”
“Kenapa nggak disini?” tanya Naila penasaran.
Irwan tersenyum kecil “Tadi kebetulan aja bantuin mama di dapur terus ada kamar mandi disamping ya udah mandi.”
Memilih menganggukkan kepala atas jawaban Irwan yang bagi Naila tidak masuk akal tapi tidak ingin mempermasalahkan hal itu, memilih untuk merapikan penampilannya dengan mata Irwan yang mengawasi setiap apa yang dilakukannya. Naila sendiri mencoba tidak peduli dengan tatapan Irwan saat ini, tidak ada getaran khusus saat merasakan tatapan Irwan pada dirinya.
“Kamu tidak penasaran aku siapa?” tanya Irwan memecah keheningan “Atau mungkin alasan aku menikahi kamu dengan mendadak seperti ini?”
Mengalihkan pandangan kearah Irwan membuat tatapan mereka bertemu “Apa kamu akan mengatakannya saat ini sedangkan kita memiliki waktu seumur hidup untuk bersama dan bisa menceritakan ini semua.”
Irwan beranjak dari tempatnya dengan Naila mengikuti langkahnya, membuatnya berhenti terpaku pada tatapan Irwan, menarik dagu Naila dengan menundukkan wajahnya secara perlahan bibir mereka bersentuhan membuat Naila membeku. Memilih untuk menikmati ciuman mereka karena Irwan menggerakkan bibirnya secara perlahan, menutup matanya karena ciuman Irwan membuatnya masuk kedalam jebakan pria ini.
“Aku tegaskan sekali lagi jika pernikahan ini bukan pernikahan main – main dan aku memang mencintai kamu sudah lama,” ucap Irwan melepaskan ciuman dengan membelai bibir Naila pelan dengan ibu jarinya “Aku siap menerima segala masa lalu kamu dan berarti kamu harus siap dengan semua masa lalu aku.”
Naila menatap terkejut dan segala pikiran negatif mulai hadir kembali, Irwan yang menatap itu hanya tersenyum atas perubahan ekspresi wajah Naila.
“Setidaknya kasih petunjuk kenapa menginginkan menikahi aku sedangkan banyak wanita lain yang lebih cantik dari aku.”
“Cinta hanya itu yang bisa aku katakan sama kamu.”
“Berarti kita akan melakukan hubungan layaknya suami istri?” tanya Naila yang diangguki Irwan “Kamu tidak ada masalah dengan kesucian?” sedikit ragu tapi tetap diberikan pertanyaan itu pada Irwan karena rasa penasarannya.
Irwan hanya tersenyum dengan kembali mencium bibirnya lembut “Aku bukan pria sempurna dan suci, aku sendiri sudah tahu mengenai masa lalu kamu sebagian besar dan tidak mempermasalahkannya.”
Naila kembali terdiam mendengar jawaban yang keluar dari bibir Irwan ditambah tatapan matanya yang sangat serius saat mengatakan hal tersebut, karena tidak sedikit pun membayangkan akan ada pria yang mau menerima keadaan dirinya. Naila sendiri belum menceritakan secara keseluruhan permasalahan dengan sang atlet, dimana Evan hanya mengetahui tentang hal – hal utama saja tapi tidak sampai dengan kejadian masa lalunya.
Mencium pucak kepala Naila secara perlahan karena tahu jika wanita dihadapannya saat ini banyak hal yang dipikirkan dan pernikahan mereka yang mendadak memang tidak mudah begitu saja dihadapi begitu ditambah mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
“Percaya satu hal kalau aku bisa menjaga kamu dan kita tidak akan melakukan hubungan intim jika kamu tidak siap,” ucap Irwan membuat Naila membeku dengan memandang dalam pada pria yang sudah berstatus sebagai suaminya “Sudah yang penting sekarang adalah kita jalani kehidupan ini selayaknya suami istri dan nanti aku akan menceritakan semua latar belakangku, tapi sepertinya orang tua aku sudah menunggu dari tadi.”
Naila membelalakkan matanya mendengar perkataan Irwan jika orang tuanya sudah menunggu dari tadi, dimana berarti berada didepan sedang menunggu mereka keluar dari dalam kamar dengan segera merapikan penampilannya membuat Irwan tersenyum kecil saat melihat perubahan sikap Naila saat ini.
“Kenapa melihat begitu apa aku jelek?”
Irwan menggelengkan kepala “Kamu lucu.”
Membelalakkan mata mendengar perkataan Irwan yang semakin membuat pria tersebut tersenyum melihat ekspresi wajah Naila, memilih tidak peduli akan apa yang ada dalam pikiran pria tersebut membuat Naila kembali fokus karena tidak ingin orang tua Irwan menunggu terlalu lama diluar dan Naila ingin orang tua Irwan merasakan kebaikannya meskipun mungkin terlambat. Irwan sendiri memandang Naila dalam diam diatas ranjang dengan memainkan ponselnya, tatapannya berkali – kali pindah antara ponsel dan Naila dimana hal itu tidak diketahui sama sekali oleh Naila.
“Kamu bisa mendapatkan hak kamu kapan dan dimana pun kamu menginginkannya karena bagaimana pun pernikahan ini adalah pernikahan normal dan aku tidak mau membuat kamu tersiksa menahan diri sampai akhirnya mencari pelampiasan diluar.”
Orang tua Irwan menyambut Naila dengan sangat baik bahkan sang ibu memeluk Naila erat membuat Naila bingung melakukan apa, memilih membalas pelukannya dengan menepuk punggungnya pelan. Ciuman juga didapat Naila saat melepaskan pelukan membuatnya lagi-lagi tidak tahu harus bersikap seperti apa, tapi tetap satu yang Naila lakukan berusaha bersikap sopan sekali dihadapan mereka.
“Irwan itu minta kita untuk ke Surabaya katanya mau nikah dan kita bingung nikah sama siapa secara pacar aja nggak punya tapi pas dia bilang nikah sama sahabatnya Frida kita langsung setuju karena nggak mungkin Frida punya teman nggak benar cukup dia aja yang nggak benar,” ucap Fauzan sebagai ayah dari Irwan “Pas kita lihat Naila eh malah ibunya yang langsung setuju katanya lebih cantik aslinya daripada foto.”
Naila terdiam mendengar penjelasan pria yang sudah menjadi mertuanya ini, menatap Irwan yang hanya diam saat sang ayah mengatakan demikian. Sentuhan pada tangan Naila membuatnya menatap sang pelaku dimana hanya diam mendengarkan pembicaraan para orang tua, entah kenapa Irwan seakan melindungi dirinya dan seketika membuat Naila merasa aman berada dekat dengan pria yang sudah berubah status menjadi suaminya.
“Kami di taman belakang aja kalian lanjutkan bicaranya,” ucap Irwan membuat mereka semua menatap kearahnya “Aku perlu bicara banyak sama Naila karena dia pasti masih kaget dengan pernikahan mendadak ini.”
Tanpa menunggu jawaban dari mereka semua Irwan langsung menarik Naila menuju taman belakang, Naila sendiri tidak tahu apa yang akan Irwan bicarakan saat ini karena semua serba mendadak baginya.
“Mama kamu suka tanaman banget ya?”
Mengikuti arah pandang Irwan dan hanya mengangguk pelan dimana membenarkan perkatannya “Aku belum tahu banyak tentang kamu, atau aku harus memanggil nama lain?”
“Irwan Pradana usia tiga puluh lima ya bisa dikatakan seusia Yudo, pekerjaan aku....nanti kamu akan tahu sendiri pekerjaanku karena aku ingin kamu terkejut sama seperti pernikahan ini,” jawab Irwan dengan memberikan tatapan menggoda “Kamu pakai ini mulai sekarang,” sambung Irwan mengeluarkan dompet dan memberikan kartu pada Naila “Kamu sekarang tanggung jawabku dan itu adalah uang gaji saat kerja.”
“Kamu berikan ke aku?” tanya Naila yang diangguki Irwan “Berarti ada uang lain karena kamu bisa memberikan dengan sangat mudah.” Naila memberikan tatapan curiga.
Irwan tertawa mendengar kata – kata Naila “Bagaimana kamu tahu mengenai uang lain?” Naila hanya mengangkat bahu “Uang lain itu akan aku buka nanti saat kita ada di Jakarta.”
“Uang lain itu adalah milik kamu dan bisa kamu gunakan sesuai dengan kebutuhan kamu, nggak mungkin seorang pria yang sudah menikah tidak memiliki uang lain untuk menyambung kehidupannya saat seluruh gaji diberikan pada istri, aku nggak pernah masalah akan hal itu tapi setidaknya tahu diri digunakan untuk apa.”
Irwan mengangguk setuju mendengar perkataan Naila “Anak – anak ngajak ketemuan mau ikut?” Naila mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Irwan “Hadi ngajak ketemuan di cafe orang tua kamu.”
Naila mencibir perkataan Irwan mengenai pesan dari Hadi “Kebiasaan memang dia minta gratisan mulu.”
Irwan tertawa mendengar kata – kata yang keluar dari bibir naila, memegang tangan Naila membuat mereka saling menatap satu sama lain. Naila sendiri bisa merasakan bagaimana perasaan Irwan pada dirinya melalui tatapan mata yang mereka berdua lakukan, saling memandang satu sama lain hingga akhirnya bibir Irwan menyentuh bibir Naila yang membuatnya menutup mata.
“Mata Yasmin ternoda,” teriak Yudo membuat mereka melepaskan ciuman “Sakit, Sayang.”
“Kamu tu kaya nggak pernah menikah aja,” omel Zahra “Nay, masih ingat nggak semalam saat Irwan mengucapkan akad dengan pegang tangan papa terus kata sah keluar dan kamu terkejut pas kita kasih tahu kalau sudah sah.”
“Bahkan tidurnya harus pisah kamar haduh malam pertama apaan ini,” sambung Yudo dengan tatapan menggodanya.
Menatap kesal pada kedua orang yang disayangnya itu dan menarik Yasmin untuk digendongnya, Irwan sendiri memilih duduk di kursi kosong untuk menemani Yudo sekedar berbicara. Naila menatap bagaimana Irwan berbicara dengan kakak – kakaknya dimana hampir sama seperti Benny saat mereka bersama dahulu tapi sekarang bukan pria itu melainkan pria lain yang akan menemani dirinya sampai akhir hayat nantinya.
“Kamu udah sarapan?” tanya Indira yang berada disamping Naila yang hanya menggelengkan kepala “masakan Irwan mantap banget.”
Naila mengerutkan keningnya “Memang masak apa?”
“Lihat aja sendiri tadi kita makan sama mertua kamu juga.”
“Kenapa aku nggak diajak?” menatap kesal pada Irwan yang membuat pria tersebut tersenyum “Aku mau makan dulu kalau gitu.”
Memberikan Yasmin kembali pada Zahra dan melangkah masuk kedalam dimana ada bibi yang baru saja keluar dari kamar tamu, Naila menatap bingung bibi yang keluar dari ruang tamu.
“Semalam Mas Irwan tidur disana dan bibi bersihkan supaya bisa langsung istirahat,” jawab bibi saat menatap Naila “Mbak udah mau makan, mau dibuatkan apa?”
“Ini sudah aku panasin,” ucap Irwan sebelum Naila menjawab “Makasih sudah dibereskan dan maaf merepotkan,” sambung Irwan menatap bibi setelah meletakkan makanannya.
Naila menatap bagaimana sikap Irwan saat ini yang pastinya berbeda dengan kedua pria sebelumnya, Naila memang merasakan perbedaan besar antara mereka semua dan mencoba untuk bisa menerima Irwan sejauh ini.
“Bagaimana rasanya?” tanya Irwan yang membuat Naila menatap bingung “Aku yang buat.”
Mengangguk paham mendengar perkataan Irwan “Enak hanya saja terlalu kerasa penyedapnya dan untuk beberapa orang ini nggak bagus.”
Irwan mengangguk mendengar perkataan Naila “Semua orang lebih menyukai rasa yang seperti itu.”
Menggelengkan kepala pelan mendengar perkataan Irwan “Orang yang memiliki penyakit akan susah jika makan menu seperti ini.”
Irwan membenarkan perkataan Naila “Lantas bagaimana kita tahu orang tersebut sakit atau sehat karena kita sebagai chef hanya mengikuti standard yang sudah ada dan berarti adalah menu itu sudah menjadi patokan kami dan tidak mudah mengubah begitu saja.”
Memilih diam karena memang tidak tahu jawabannya apa, melihat reaksi dari Naila membuat Irwan menarik serta menghembuskan nafas panjang. Irwan tahu jika dirinya terlalu keras saat mengatakan hal tersebut, dimana dirinya belum memberitahukan siapa sebenarnya Irwan nantinya yang pasti akan membuat wanita yang ada dihadapannya terkejut.
“Kalian akan balik kapan?” Indira mendatangi mereka yang ada di meja makan bersama dengan Wati yang tidak lain adalah mertua Naila atau ibu kandung Irwan.
“Aku besok malam tapi kalau Naila masih mau liburan nggak masalah secara waktunya dia sebelum masuk masih lama, biarkan dia liburan dulu disini dan aku kembali karena masih banyak pekerjaan.”
Naila hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka karena memang tidak tahu pekerjaan Irwan sebenarnya, sedikit bersyukur karena Irwan meninggalkan dirinya disini dengan dia yang kembali terlebih dahulu. Menatap Irwan yang tampak biasa saja membuat salah satu sudut hati Naila tidak tega dibuatnya karena bagaimana pun mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri yang berarti harus mengikuti kemana sang suami berada.
“Aku juga kembali besok malam.”
Mempersiapkan barang – barangnya untuk kembali bersama dengan Irwan, keputusan yang diambilnya karena bagaimanapun status mereka berdua adalah suami istri dan telah sah di mata negara serta agama. Tidak mungkin Naila membiarkan Irwan kembali begitu saja apalagi ada orang tuanya disana, yang pastinya akan membuat nama Naila jelek jika membiarkan Irwan kembali begitu saja.
“Gue benaran nggak tahu maksud dia kesini,” ucap Frida menatap Naila dengan tatapan memohon ampun.
Naila tersenyum menatap Frida “nggak usah dipikirkan karena mungkin memang jalan takdir dan kakak kamu yang terbaik buatku.”
“Gue nyesel lo sama dia,” keluh Frida lagi membuat Naila mengangkat alisnya “tapi tenang dia memang baik cuman kamu harus sabar sama sifatnya yang Menjengkelkan.”
“Nggak usah kompor atau bilang hal jelek ke Naila,” tegur Irwan dengan duduk samping Naila “kita balik besok jadi jangan kangen ya.”
Frida menunjukkan ekspresi muntahnya “semoga Naila bisa sabar sama lo.”
Naila hanya tersenyum menatap mereka berdua dan saat matanya menatap kearah lain terlihat kakak sepupunya menatap penuh tanda tanya dengan keputusannya menikah secepat ini, Naila sangat tahu jika mereka semua sangat perhatian dengan dirinya hanya saja semua keputusan sudah diambil. Liburan yang seharusnya berlangsung lama membuat Naila harus kembali karena tidak tega dengan Irwan ditambah mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri dengan papanya yang langsung menjadi wali nikahnya.
“Bukannya lo mau disini beberapa hari terus kenapa balik?” Hadi menatap Naila malas dan kecewa “memang lo ngelarang dia buat liburan?” menatap tajam pada Irwan “dia jarang banget pulang kesini eh lo ajak balik aja.”
“Gue yang minta karena gimanapun kita udah menikah ya masa gue biarin dia balik sendiri.”
“See bukan gue kan,” ucap Irwan santai.
Hadi menatap malas pada Irwan mendengar kata – katanya, memilih membahas hal lain daripada berdebat hal yang tidak penting sama sekali. Mereka semua bisa saling melengkapi satu sama lain karena memang jarak yang tidak terlalu jauh dan saudara Naila seperti Bagas dan yang lain sudah mengenal mereka dengan sangat baik.
“Kamu udah yakin dengan pria itu?” Bagas menatap dalam pada Naila yang mengangguk pelan “kalau dia bajingan atau apapun itu katakan ke aku karena aku pasti akan langsung menghajarnya.”
“Siap,” ucap Naila dengan memberi hormat “aku sendiri belum tahu pekerjaannya apa atau dia bekerja dimana.”
Bagas membelalakkan matanya yang hanya diangguki Naila “memang kalian belum saling bicara?”
Naila tersenyum “sudah tapi nggak perlu aku ceritakan semua kan?” memberikan tatapan menggoda membuat Bagas menatap malas “aku akan bicara dengan Mas Evan nanti kalau ketemu disana.”
Pembicaraan singkat antara Naila dengan Bagas terhenti karena Irwan menginginkan mereka berdua pulang terlebih dahulu, berpamitan pada yang lain termasuk pamitan bahwa Naila akan kembali ke Jakarta. Pelukan bersama teman – temannya membuat Naila sedih karena waktu yang dimiliki sangat – sangat singkat dan sebenarnya masih ingin bersama dengan mereka dalam waktu beberapa hari.
Perjalanan dari cafe sampai rumah orang tuanya berlangsung singkat karena memang jaraknya tidak terlalu jauh, masuk ke dalam rumah membuat langkah Naila terhenti saat melihat Irwan masuk kedalam kamar tamu. Naila membiarkan saja itu terjadi karena dirinya belum siap untuk berada dalam satu ruangan tertutup bersama dengan Irwan yang saat ini menjadi suaminya, dalam lubuk hati kecilnya terdalam dimana Naila ingin mengajak Irwan tidur bersama hanya saja masih ada kecanggungan diantara mereka dan Irwan sendiri tidak memaksakan kehendaknya.
Mencoba tidak peduli dengan masuk kedalam kamar, membersihkan diri sebelum akhirnya berada di ranjang. Tatapan Naila berpusat pada ponselnya dimana banyak pesan dari Rafa, Rafi, Vivian dan juga Evan. Membalas pesan tersebut satu persatu kecuali Rafa karena memang Naila mencoba menjauh dari Rafa dalam keadaan apapun itu, menatap pesan sekali lagi dan mencoba tidak peduli.
Tangan Naila meluncur ke media sosial mencari siapa sebenarnya sang suami karena sampai sekarang tidak tahu banyak atau sama sekali mengenai Irwan, rasa penasaran yang membuat Naila tidak tahu harus bertanya mulai dari mana. Tidak menemukan media sosial milik Irwan membuat Naila langsung penasaran, mencoba membuka media sosial Frida untuk mencari kembali dan sekali lagi tidak menemukannya. Memilih untuk menutup mata karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu tentang suaminya tersebut, badan lelahnya membuat Naila menghabiskan waktu di ranjang lebih lama dibandingkan sebelumnya.
“Kamu sudah siap?” Naila mengangkat alisnya saat Indira bertanya mengenai hal yang tidak diketahuinya “kamu kan harus balik Jakarta dulu sedangkan kita masih ada urusan disini.”
“Irwan mana?” menatap sekitar yang tidak menemukan keberadaan pria tersebut “maksud aku Mas Irwan,” koreksi Naila saat melihat Indira menatap tajam.
“Ikut papa kamu ke cafe buat lihat keadaan cafe dan kenalan sama chef disana,” jawab Indira yang diangguki Naila.
“Memang dia paham?”
Indira mengangkat alisnya bingung “lah Irwan kan chef pastinya paham.”
Naila tersedak mendengar kata – kata Indira yang tidak pernah diketahuinya sama sekali, chef yang berarti bisa membuat makanan dan pantas saja rasa masakan kemarin tidak seperti masakan pemula. Seketika merasa bersalah karena memberikan kritikan atas makanan yang dibuatnya, menggelengkan kepala merasa apa yang dilakukannya tidak ada yang salah dan lagipula mereka tidak mengenal terlalu dalam.
“Pernikahan kalian memang dadakan tapi papa dan mama mengharapkan kebahagiaan buat kamu.”
“Kenapa papa menerima lamaran dia?” sedikit penasaran mengenai keputusan yang dibuat Fajar atas dirinya saat itu.
“Papa melihat kesungguhan di mata Irwan ditambah lagi memang mereka udah saling kenal satu sama lain maksudnya Om Awang sama papa, papa yakin jika Irwan tidak akan berbuat aneh karena Om Awang menjamin semua itu.”
Menghembuskan nafas panjang karena rasanya percuma mendebat karena semua sudah terjadi, artinya Naila harus melalui ini semua dan prinsipnya adalah pernikahan hanya sekali seumur hidup. Membayangkan hidup bersama dengan pria yang tidak dikenalnya sama sekali membuat Naila tidak tahu harus bertahan sampai sejauh apa nantinya.
Mereka kembali terlebih dahulu dimana Naila berangkat bersama dengan Irwan dan kedua orang tuanya, Naila lebih banyak diam selama perjalanan dan tertidur di bahu Irwan membuat sang pria hanya bisa diam.
Masuk ke dalam rumah sederhana yang membuat Naila menatap sekitar, sebelumnya mereka berpisah dengan orang tua Irwan yang tinggal berbeda dengan sang putra. Irwan menunjukkan ruangan – ruangan termasuk kamar mereka nantinya, menatap rumah yang bersih dan seketika tatapan Naila mengarah pada dapur yang indah dan juga bersih. Langkah Naila terhenti dengan melangkah kearah dapur menatap sekitar dengan Irwan berada di belakangnya mengamati apa yang Naila lakukan saat ini.
“Selamat datang di rumah kita Naila salah satu pegawai dari H&D Group yang nantinya akan menjadi partner di lingkungan kerja.”