Suasana hati Edeline belum sepenuhnya membaik. Pikirannya pun masih dihantui hal-hal buruk yang mengancam. Edeline belum memberanikan diri untuk mendekati pintu dan keluar dari kamar.
Padahal, mentari pagi sudah melenyapkan seutuhnya langit malam. Sepanjang waktu pergantian hari itu juga Edeline tidak menerima ancaman dari apa pun yang dibayangkan. Pria kemarin malam juga tidak menyusulnya.
Tetapi, apa itu bisa menjaminkan ketenangan Edeline untuk aman keluar dari kamar?
Edeline meyakini pria itu menaruh dendam pada dirinya atas sikap tak menyenangkan yang dilakukan. Pria itu telah mengetahui identitas dan tempat Edeline akan mengabdikan diri. Bagaimana jika dia nantinya mencari Edeline demi menuntaskan dendam?
Oh shit! Kenapa gadis cantik itu bisa tertimpa sial?
Kemarin, Edeline hanya berniat menolong. Pun dia tidak ingin hari pertama dia mengabdi di rumah sakit itu jadi berantakan atas kesalahan naif kemarin malam. Selain itu, Edeline berharap bisa hidup damai di kota baru yang menjadi pilihannya—menggapai cita-cita.
“Kau tidak boleh takut, Edeline. Kau harus berani,” gumamnya mensugesti diri sendiri.
Embusan napas panjang telah kasar dilepaskan. Gadis cantik itu telah mantap untuk keluar dari kamar dengan membawa jas putih dokter atau yang disebut snelli beserta tas—berisikan segala keperluan hari itu.
Namun, keraguan masih tersisa di jiwa Edeline. Gadis cantik yang telah rapi berpenampilan itu—sedikit tidak bernyali ketika ingin melintasi kamar milik pria itu menginap.
Bagaimana jika pria itu telah menanti kemunculan Edeline? Lalu dia menyergap Edeline seperti kemarin malam?
Klek! Edeline tersentak oleh suara pintu yang terbuka—di mana pria yang sedang menguasai pikirannya telah keluar dari sana. Gadis cantik itu ingin terpukul mundur untuk menghindar, namun ada dorongan besar di dalam hati untuk berani berhadapan dengan pria itu.
Lari dari masalah adalah pengecut! Batin Edeline menjerit kencang memarahi diri. Selain itu, ada seseorang penting yang haru segera Edelin temui, sehingga akhirnya dia berani untuk berjalan.
Sayangnya, keinginannya untuk berjalan mulus terhalangi ketika melintasi pria itu.
“Awhh!” Edeline mengeluh sakit saat terjatuh akibat tersenggol lengan pria itu. “Kau sengaja!” bentaknya kesal.
“Matamu yang buta! Jalan tidak becus!” Pria itu menanggapi tenang pada Edeline yang masih terduduk—kesal di lantai.
“Kau sengaja melakukannya! Cepat, minta maaf!” Mata Edeline mendelik sempurna, samar-samar dia melihat bekas luka di sisi wajah pria itu.
“Yang salah itu kau! Gunakan matamu dengan baik! Berjalan itu matanya lurus ke depan, bukan ke bawah!” sentak pria itu tidak mau disalahkan.
Mau dinilai dari sudut pandang apapun, pria itu jelas sekali menaruh dendam kepada Edeline. Dia yang berjalan tiba-tiba ketika Edeline melintas, tetapi malah Edeline yang disalahkan.
Edeline mendengkus kesal. Lalu memalingkan pandang untuk memungut snelli beserta tasnya yang terlepas saat terjatuh.
“Kau sudah memotong kukumu? Kau itu seorang dokter, kan?” seru pria itu kepada Edeline yang berdiri tegak.
“Bukan urusanmu!” Edeline menolak kesal.
“Dokter bertugas untuk menyelamatkan pasien, bukan untuk mencelakai.”
“Aku tidak butuh nasihatmu! Aku tahu yang terbaik untukku—”
“Kuku panjangmu itu bisa melukai pasien! Seperti kemarin malam kukumu itu melukai wajahku.”
Edeline terdiam oleh kalimat pria itu yang menyela tajam. Pun secara spontanitas menggiring kedua mata tertuju Edeline pada luka di sisi wajah pria itu.
“Semoga harimu berjalan dengan baik, Dokter Edeline.” Pria itu mengulas seringai sinis yang mengejek.
Edeline terdiam sembari menatap kepergian pria itu. Di dalam jiwanya ada perasaan bersalah yang bergejolak. Tapi ... ah! Itu bukan salah Edeline. Kemarin malam dia hanya membela diri dan tidak berniat melukai wajah pria itu.
Tiba-tiba saja, Edeline tersentak oleh handphone-nya yang berbunyi. Dengan spontanitas kedua kaki melangkah cepat saat mata melihat nama si penelepon pada handphone di genggaman tangan.
Sepanjang perjalanan menuju lobby—di mana seseorang telah menunggu, Edeline tidak berhenti berharap agar tidak bertemu lagi dengan pria pendendam dan menyebalkan itu.
“Kenapa kau lama sekali, Edeline?” seru sosok pria paruh baya kesal pada Edelina yang datang lama.
“Maafkan aku, Tuan Abraham,” Edeline menyapa dengan napas cukup terengah-engah.
Meski begitu, suara Edeline sangat sopan dan lembut kepada sosok penting yang sangat berjasa di kehidupannya beberapa tahun bekangan. Dia adalah Abraham Romanov—konglomerat yang memiliki sebuah yayasan beasiswa. Berkat dirinya, Edeline yang hidup serba kesusahan mampu meraih gelar dokter.
Kecerdasan dan tekad kuat gadis cantik itu meyakinkan Abraham—menjatuhkan pilihannya kepada Edeline untuk menerima beasiswa kedokteran. Berkat campur tangan dan kebaikannya juga, Edeline akan menjadi dokter magang di rumah sakit ternama di Manchester. Di mana dulu—rumah sakit itu pernah terikat kerjasama dengan rumah sakit yang pernah Abraham pimpin.
“Kita ke Omega Hospital sekarang juga. Petinggi di sana telah menunggu kedatangan kita,” ucap Abraham mengajak Edeline.
Tegang, gugup dan berdebar-debar, itu yang Edeline rasakan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit—tempatnya akan mengabdikan diri. Edeline terlihat tidak fokus mendengarkan obrolan ringan Abraham ketika di perjalanan. Bahkan ketika Abraham berbasa-basi menanyakan perihal kenyamanan kamar yang diberi, Edeline hanya menjawab seadanya.
Apakah Edeline bisa beradaptasi di tempat baru itu? Dan juga ... apakah tenaga medis di sana sama ramahnya dengan tenaga medis yang pernah ia temui? Rasanya jantung Edeline ingin berhenti berdetak saat itu juga, akibat rasa gugup yang melanda hebat.
“Edeline! Kita sudah sampai.” Abraham berkata.
Edeline menoleh kaku akibat terkejut. “O-oh iya, Tuan Abraham.”
“Jangan gugup! Orang-orang di sini sangat baik. Kau pasti akan betah dan senang memiliki rekan kerja seperti mereka.”
Bibir Edeline hanya menyimpulkan senyuman manis sebagai tanggapan. Dia tidak banyak berbicara, gadis itu hanya menurut ke mana langkah Abraham membawanya.
Namun, matanya bertindak lain. Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, Edeline mencermati—sambil kagum pada fasilitas canggih di rumah sakit itu. Tidak heran jika berobat di Omega Hospital sangatlah mahal, karena memang rumah sakit ini memiliki fasilitas lengkap dan terbaik.
“Selamat datang, Tuan Abraham,” sapa hangat seorang pria berumur yang Edeline yakini petinggi eksekutif rumah sakit itu.
“Halo, Tuan Peter Dalton. Maaf kami membuat Anda menunggu.” Abraham membalas dengan cara yang sama.
“Saya tidak merasa menunggu. Ayo, kita duduk di ruangan saya saja.”
Sama seperti sebelumnya, Edeline menuruti langkah Abraham yang berada di depannya. Ketika duduk pun gadis cantik itu tidak terlalu jauh berjarak dari Abraham.
“Jadi, ini Dokter Edeline yang akan magang di rumah sakit kami?” Peter membuka pembicaraan.
“Ya! Dia adalah Dokter Edeline—salah satu dokter muda cerdas dan berprestasi yang aku sponsori.” Abraham begitu bangga mengenalkan Edeline. “Jangan pandang usianya, tapi lihat ketekunan dan kegigihannya jika sudah menolong pasien. Rumah sakit kami sangat kehilangan saat aku mengirimnya ke sini,” lanjutnya kemudian.
“Kami menerima dengan senang hati. Selama magang di sini Dokter Edeline akan dibimbing oleh dokter terbaik di sini,” Peter menyambut.
“Dokter itu pasti Dokter Elvis.”Abraham berkomentar dengan senyuman tipis di wajahnya.
Dokter Elvis? Seperti apa dia? Edeline menerka-nerka di dalam hati mengenai sosok yang akan menjadi dokter pembimbingnya. Jiwa gadis itu semakin penasaran untuk mengetahui dan mengenal sosok dokter itu.
“Beliau pasti Dokter yang hebat. Saya tidak sabar untuk bertemu dengan beliau.” Edeline bersuara setelah sesaat menjadi pendengar.
“Dokter Elvis sempat mengisi pusat bedah dan transplantasi jantung rumah sakit putraku. Beliau merupakan dokter terbaik dan juga dihormati.” Abraham menjelaskan.
“Dokter Elvis juga managing director rumah sakit ini. Dia adalah putraku,” sambut Peter menimpali.
Edeline tersenyum, sementara jiwa sudah ketar-ketir setelah mengetahui background dokter pembibingnya.
Dokter itu bukan sosok biasa. Di dalam hati Edeline berharap dirinya bisa berhadapan baik.
Ketika Edeline ingin membuka mulut mungilnya, pintu ruangan yang tertutup telah terbuka tanpa meminta izin. Seolah-olah hal itu sudah terbiasa dilakukan.
“Aku minta maaf datang terlambat. Aku harus melakukan visite pada pasien sebelum datang ke sini.” Suara berat Elvis memasuki ruangan.
“Kami sangat memaklumi,” Abraham menyahut tenang. “Dan ... oh, Edeline, ayo sapa dokter pembimbingmu. Beliau adalah Dokter Elvis—yang kita ceritakan tadi.”
Edeline tidak berkedip menatap pria yang baru datang itu. Dia terkejut setengah mati sampai membuatnya mematung kaku. Seluruh pikirannya telah berkecamuk sehingga Edeline tidak bisa berpikir jernih.
Napas Edeline terkecat ingin berhenti. Tangannya berkeringat dingin. Lutut terasa sangat lemas. Pria itu adalah pria yang beberapa waktu merusak awal pagi hari Edeline. Pria arogan yang menjengkelkan dan mengancam bagi Edeline.
“Elvis, kenapa dengan wajahmu?” tanya Peter begitu penasaran pada plester kecil di sisi wajah pria bernama Elvis Dalton itu.
“Kemarin aku dicakar oleh kucing.” Elvis menyindir, sementara mata tajamnya mengantarkan ketegangan nyata terhadap Edeline yang memucat.
“Berhati-hatilah agar tidak terluka.” Peter menanggapi naif.
Elvis mengabaikan perkataan ayahnya. Pria tampan bermulut kasar itu sedang sibuk membidik Edeline yang memucat—masih menutup mulut. “Jadi, dia adalah dokter magang itu? Dokter muda di bawah pengawasanku?”
Bersuaralah, Edeline! Jangan tunjukkan rasa takut menyebalkan itu kepada pria itu. Batin Edeline menjerit untuk menyadarkan.
“Halo, Dokter Elvis. Saya adalah Dokter Edeline—dokter magang yang—”
“Tidak punya sopan-santun dan memiliki sikap meremehkan!” Elvis menyela kejam Edeline yang sudah beranjak—ingin mengenalkan diri. “Kepada orang yang lebih dewasa sekaligus dokter pembimbingnya saja, kau tidak memiliki attitude untuk langsung menyapa. Bagaimana dengan pasien? Kau akan melihat dan diam saja?”
Dada Edeline begitu sakit oleh kalimat ketus yang Elvis keluarkan. Pria itu masih dendam pada Edeline. Tatapannya yang bermusuhan tak suka itu sangat menegaskan jika Elvis menaruh dendam begitu besar pada Edeline.
“Rumah sakit ini tidak butuh dokter magang yang tidak tahu etika seperti Anda, Dokter Edeline,” ucap Elvis yang menyindir kental.
Tubuh Edeline membeku mendengar apa yang dikatakan oleh Elvis. Kata-kata menusuk dan memberikan sidiran pedas padanya. Oh, God! Edeline tak mengira kalau dirinya akan mengalami hal sesial ini dalam hidupnya.
“A-aku minta maaf, Dokter Elvis.”
Suasana bingung yang sempat menguasai telah lenyap oleh permintaan maaf dari Edeline. Gadis cantik itu dengan sukarela mengalah, pun membungkukkan punggung untuk menggambarkan ketulusan dari permintaan maafnya.
Edeline kalah telak. Gadis cantik itu tak memiliki pilihan apa pun selain meminta maaf. Dia masih mencintai karirnya. Mimpinya menjadi dokter tidak boleh hancur hanya karena kebodohannya. Jadi lebih baik untuk kali ini dia mengalah minta maaf. Entah kesabarannya apakah mampu menghadapi sifat Elvis.
“Jangan galak-galak dengan Dokter Edeline, Elvis. Dia bisa tidak betah jika kau seperti itu.” Dengan nada kaku bercampur canggung, Peter membujuk Elvis. Pria paruh baya itu sedikit memberikan peringatan pada putranya.
“Tidak masalah. Hitung-hitung mental Edeline diuji untuk menjadi kuat.” Abraham mengambil alih untuk mencairkan suasana.
Sementara itu, Elvis masih melayangkan tatapan tajamnya kepada Edeline yang sudah mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam mengirimkan isyarat bermusuhan kepada Edeline, pun menakut-nakuti Edeline untuk tidak boleh bersikap sembrono kepada dirinya.
Edeline sendiri memahami isyarat tak ramah itu. Dia hanya menelan saliva dalam diamnya, pun mulai curi-curi memalingkan pandangan dari Elvis yang mengintimidasi.
Beruntungnya saat itu Edeline sesaat terselamatkan oleh Abraham. Konglomerat berumur itu pamit undur diri setelah menyelesaikan tugasnya. Dia merasa bahwa hari ini kesialan bertubi-tubi datang.
“Terima kasih telah mengantar dan membantuku, Tuan Abraham,” ucap Edeline ketika hendak berpisah dengan Abraham di luar ruangan.
Abraham mengulas senyuman hangat. “Lakukan yang terbaik dan jangan buat kesalahan. Sore nanti kau akan dijemput oleh orang suruhanku. Dia akan mengantarmu ke rumah yang akan kau tinggali. Barang-barangmu di hotel telah aku minta untuk dirapikan dan nantinya dibawa.”
“Sekali lagi terima kasih, Tuan Abraham. Anda telah banyak membantuku.”
Edeline menyerukan rasa terima kasih yang penuh ketulusan. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan di raut wajah, meski senyuman cantiknya bersusah payah menutupi.
Bagaimana tidak? Di dekatnya ada Elvis yang masih mengintimidasi. Dan sudah bisa dipastikan Edeline akan menerima penyiksaan dari Elvis. Takdir sepertinya sangat membenci dirinya.
“Tuan Abraham sudah pergi. Kau mau terus berdiri?” Elvis menegur ketus pada Edeline yang menatap kepergian Abraham bersama Peter.
Edeline menoleh dingin. Dari matanya yang tak senang terlihat sekali kesabaran Edeline sedikit menipis berhadapan dengan Elvis. “Bukankah aku sudah meminta maaf? Kenapa kau masih saja bersikap ketus seperti aku memiliki masalah fatal denganmu?”
Oh my god! Edeline sungguh berani. Dia sudah menahan diri. Tapi dadanya terasa panas. Tidak bisa tahan sama sekali.
“Tampaknya permintaan maafmu tadi tidak tulus sampai kau berbicara tidak sopan kepada dokter seniormu di rumah sakit ini. Kau itu tidak sadar diri?” seru Elvis menyindir sinis.
“Bukan begitu. Aku hanya—”
“Simpan penjelasanmu. Aku tidak mau mendengarkan. Sebaiknya kau ikuti aku! Kalau tidak, siapkan mentalmu untuk bertugas di kamar mayat.”
Edeline membelalakkan mata sementara mulutnya sudah menganga menatap Elvis yang sudah memalingkan pandangan. Gadis itu shock pada perkataan pria angkuh dan menjengkelkan itu.
Edeline benar-benar terancam jika tidak patuh. Karirnya bisa tamat jika dia membuat kesalahan pada pria pendendam itu. Hingga dengan terpaksa Edeline mengikuti langkah panjang Elvis yang cukup kelimpungan Edeline susul.
Ruangan Elvis menjadi tujuan mereka. Ruangannya cukup besar, mungkin karena Elvis sosok penting di rumah sakit itu. Hanya saja, ruangan itu tampak kosong—tidak banyak dipenuhi pernak-pernik yang menggantung di dinding ataupun di meja.
“Kau akan bertugas di pusat bedah dan jantung yang sama denganku. Itu artinya kau akan ikut di setiap jadwal operasiku. Di rumah sakit sebelumnya kau memiliki pengalaman di ruang operasi?” Elvis bertanya acuh—karena sambil memeriksa rekam medis beberapa pasien.
“Aku memiliki pengalaman yang cukup di unit bedah dan—”
“Aku hanya butuh jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku tidak butuh omong kosongmu yang menyombongkan diri,” Elvis menyela sinis, pun matanya telah melayang tajam pada Edeline yang mulutnya dibungkam paksa. “Aku telah lebih dulu menikmati asam garam dunia kedokteran ini dibandingkan kau, Dokter Edeline.”
Arrghhh! Batin Edeline menjerit kencang atas kesombongan Elvis. Dia ingin sekali menyambut dengan kalimat sinis yang sama agar harga diri tidak hilang.
Tetapi ... ya, Edeline hanya bisa berekspektasi di dalam hati. Akalnya sudah menasihati untuk tidak cari masalah. Karena keberlangsungan karir Edeline ada di tangan pria angkuh itu.
“Aku akan melakukan yang terbaik—”
“Kau memang harus melakukan yang terbaik.” Lagi, Elvis menyela sinis seolah tidak memberi kesempatan Edeline untuk berbicara. “Jika kau melakukan satu kesalahan, maka kau akan aku pindahkan ke unit IGD. Aku beri tahu informasi sedikit, unit IGD selalu sibuk setiap harinya—di mana untuk bernapas saja kau tidak memiliki waktu.”
Aura cantik Edeline memudar oleh mata tajam yang menguarkan ekspresi tersinggung. Lewat perkataan dan sikap bermusuhan itu saja Edeline bisa menyimpulkan jika Elvis menaruh dendam pada dirinya.
Pria itu memiliki kuasa, sudah pasti dia akan menindas Edeline. Mau sebaik apa pun Edeline berusaha, Edeline menyimpulkan jika dirinya tidak akan tenang bernapas di rumah sakit milik Elvis.
“Kalau begitu tugaskan saja aku di unit IGD.” Edeline berani menantang dengan tenangnya.
Elvis bersikap tenang, tetapi matanya yang menusuk tajam ke mata Edeline tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Kau yakin?”
“Kenapa aku tidak yakin? Sejak awal kau memang tidak berniat menugaskanku di unit bedah dan jantung. Aku yakin kau berniat menyiksaku karena dendam padaku.” Edeline tak ragu melampiaskan isi pikirannya yang menuduh kental. Ya Tuhan, gadis itu memang sudah tak lagi tahan dengan sikap Elvis. Walaupun kalah telak, tapi dia akan tetap berusaha memperjuangkan harga dirinya.
Elvis tersenyum kesal. “Aku dendam padamu?”
“Ya!” Edeline menyahut tegas. “Situasinya akan berbeda jika kemarin malam aku tidak menyinggung dan cari masalah denganmu. Tapi perlu kau ketahui, Dokter Elvis ... kau tidak sepenuhnya benar.” Edeline semakin percaya diri, pun matanya tidak takut beradu tajam dengan mata Elvis yang menyorot kesal.
“Kau lahir ke dunia ini berkat seorang wanita. Jika kau menyakiti dan bertindak kasar pada wanita, itu sama saja kau menyakiti wanita yang melahirkanmu. Wanita juga diciptakan dari tulang rusuknya pria. Bukankah sama saja kau sengaja melukai tubuhmu sendiri?” lanjutnya kemudian.
“Kau semakin tidak tahu diri,” Elvis mengerang kesal.
“Aku sangat tahu diri, tapi bukan berarti aku harus merendahkan harga diri.” Edeline menyambut cepat tanpa rasa takut. “Saat ini, kau memang berkuasa dibandingkan aku. Karirku di rumah sakit ini bergantung di tanganmu. Jika menggunakan emosi, aku sangat pantas menagih permintaan maaf darimu atas intimidasi yang kau lakukan kemarin. Jadi, Dokter Elvis ... kita impas!”
Batin Elvis telah berdecak kesal atas sikap Edeline yang dinilai sangat lancang. Dia merasa harga dirinya begitu terhina. Sebab, gadis itu adalah orang pertama yang berani mengibarkan bendera perlawanan kepada dirinya.
Tidak ada seorang pun di rumah sakit itu, entah itu rekan satu profesi apalagi kedua orangtuanya yang berani menentang sikapnya. Tapi di depan mata, Edeline—seorang dokter magang yang usianya terpaut 13 tahun lebih muda dari dirinya begitu berani beradu mulut dengannya.
“Kau tidak takut? Atau ... kau berani berkata seperti itu karena Tuan Abraham mem-back-up-mu?” Elvis mengejek dengan bibir mengulas senyuman menjengkelkan.
“Walaupun di belakangku tidak ada Tuan Abraham, aku tetap sama. Aku tidak boleh takut untuk menjadi orang sukses.”
Elvis terkekeh kencang mengejek pernyataan Edeline yang begitu percaya diri. “Oke! Buktikan ucapanmu itu untuk menjadi sukses di unit IGD. Jika kau tidak sanggup, kau bisa datang ke ruanganku dan berlutut untuk meminta maaf. Pintu ruanganku ini terbuka lebar selama 24 jam untukmu, Dokter Magang!”
“Tidak akan! Aku tidak akan melakukan itu!” bantah Edeline yang jelas tersinggung atas penghinaan Elvis.