Bab 1

“Get the fuck out of here!”

Langkah Edeline seketika terhenti oleh bentakan memekik yang mengundang perhatian. Dia berhenti penuh kepedulian terhadap seorang wanita yang didorong hingga terjatuh oleh si pengumpat kejam di ambang pintu.

Edeline Johnson—gadis cantik berusia 22 tahun itu baru saja tiba di Manchester akibat pekerjaan. Dia mendapatkan fasilitas sebuah kamar dari hotel mewah di hari pertama kedatangannya—di mana dirinya tidak sengaja menjadi penonton dadakan atas sebuah kekerasan.

Awalnya, Edeline hanya ingin menuju kamarnya. Tetapi, dia dihadang oleh seorang wanita yang didorong kasar hingga terjatuh. Tatapan gadis cantik itu melihat adegan yang membuatnya kesal.

“Kenapa kau kasar sekali? Aku ini bukan orang asing bagimu!”

“Don’t play dumb! Kau sangat tahu aku menganggapmu itu apa?!” pria tampan itu membalas kejam dengan tatapan dingin yang tak berhati.

Wanita cantik yang masih terduduk sakit di lantai itu sudah menangis dihujani kalimat sarkasme yang menegaskan ketidaksukaan. Tatapannya menatap lirih pria tampan yang memprilakukannya dengan sangat kasar.

Edeline berdecak atas tontonan tidak mengenakkan di depan mata. Dia tidak bisa menutup mata—lalu pergi. Sebab, situasi kejam di depan mata bagaikan dejavu nyata yang menyakiti jiwa Edeline.

Mata cantiknya memindai wanita itu. Emosi gadis berambut cokelat terang itu memuncak ke ubun-ubun ketika mendengar rintihan kesakitan serta luka di telapak tangan wanita yang terluka itu.

“Kau terlalu sempurna untuk pria sampah itu.” Bibir mungil Edeline dengan sadar mengeluarkan penghinaan yang membela.

Gadis berpakaian casual itu menghampiri wanita yang menoleh ke arahnya. Dia berlutut lalu memapah wanita yang terjatuh itu untuk berdiri tegak—tanpa peduli pada sorot tajam dari pria di ambang pintu.

“Kau tidak pantas menangis dan merendahkan diri pada pria sampah dan bodoh sepertinya.” Edeline mengulas senyuman manis pada wanita yang bingung menatapnya.

“Stay away!”

Edeline menolehkan pandangan pada pria yang menghardik sinis itu. Sorot matanya menajam ketika memindai pria itu. “Mulut sampahmu menjatuhkan nilai wajah tampanmu,” ucapnya berani menghina.

Edeline langsung memalingkan pandangan. Dia tidak peduli pada ekspresi pria itu. Bagi gadis cantik itu, menghibur wanita di dekatnya adalah pilihan yang baik.

Untuk sejenak, Edeline teralihkan ketika tangan merogoh ke dalam tas miliknya yang bertengger di bahu kiri. Perhatiannya kembali fokus pada wanita itu saat sebuah alcohol swab dikeluarkan dari dalam tas—yang kemudian digunakan untuk membersihkan luka di telapak tangan wanita itu.

“Jika seorang pria tidak bisa mengontrol emosi, berkata dan bersikap kasar, menjatuhkan dan menginjak harga dirimu ...” Edeline terhenti sejenak saat samar-samar menghela napas sembari menutupi luka di telapak itu dengan sebuah plester.

“Please ... stop! Berhenti mendapatkan balasan dari pria bodoh dan tak bermoral seperti itu. Perasaanmu dan harga dirimu lebih penting dari apa pun,” lanjut Edeline menasihati yang penuh dengan sindiran sinis.

Tidak perlu dijelaskan kepada siapa sindiran sinis itu ditujukan. Edeline pun tidak menghiraukan bagaimana perasaan dari seseorang itu. Ujung bibir itu tertarik—yang membuat bibir mungilnya menipis oleh senyuman manis yang mengembang. Wajah cantiknya pun berseri—menunjukkan ketulusan pada wanita di depannya yang kaku tidak percaya diri.

“Tadi kau terjatuh sangat keras. Sebaiknya segera memeriksakan diri. Atau ...” Edeline memalingkan wajah—yang bersamaan senyuman ramahnya berubah sinis ketika menatap pria di ambang pintu. “Lakukan visum dan laporkan pria ini. Aku bersedia menjadi saksi jika kau membutuhkan.”

Pria tampan itu terkekeh kesal sembari menahan emosi yang telah bergejolak di dalam jiwa. Sementara itu matanya telah tajam membidik Edeline—gadis aneh yang berani ikut campur akan urusannya. “Kau ini masih kecil, tapi sungguh berani ikut campur urusan orang lain. Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan-santun?”

Mata Edeline mendelik mendapatkan kata-kata tajam pada pria tampan itu. “Aku tahu bersikap sopan dan menghargai dibandingkan orang dewasa yang tidak punya akal!” Edeline tidak mau kalah.

What the fuck? Anak kecil? Apakah tubuhnya terlalu mungil sampai dibilang anak kecil? Ingin rasanya Edeline memaki pria tampan di hadapannya itu. Memang dia akui bahwa pria berperawakan tampan itu pasti sudah berusia matang. Menurut tafsirannya pria tampan itu sudah berusia di atas 30 tahun. Tentu jika dibandingkan dengannya, dia pasti akan seperti anak kecil.

Pria tampan itu menipiskan bibir—mengukir seringai sinis. “Bercermin dahulu sebelum membuat cermin untuk orang lain. Selain itu, tanyakan pada wanita yang kau bela itu! Apa yang dia lakukan sehingga aku mengusirnya dengan kasar?!”

Alih-alih mencari tahu, Edeline malah mengulas seringai sinis yang mengejek. “Yang dilihat oleh mata lebih nyata dibandingkan—”

“Wanita yang kau bela itu memaksa masuk ke dalam kamar seorang pria. Di dalam kamarku, dia membuka pakaiannya—entah itu untuk menggoda atau apa pun itu, aku benci wanita murahan seperti itu!” sela pria tampan itu bernada lugas dan tanpa jeda.

Edeline membisu dengan perasaan yang berkecamuk, antara malu dan tidak percaya diri. Namun, logikanya berusaha menghibur wanita cantik itu yang kemudian menasihati akalnya untuk mencari tahu.

Edeline menatap wanita itu. Dan ... ah, sial! Wanita itu merunduk guna menyembunyikan wajahnya yang memucat takut. Itu menandakan bahwa memang orang yang dia bela adalah orang yang bersalah.

Astaga! Memalukan! Edeline bahkan membela orang yang bersalah. Maksud hati ingin membela orang yang lemah, tapi apa-apaan ini? Dia sangat malu! Jika seperti ini, rasanya dia ingin masuk saja ke dalam jurang.

“Apa kau diajak bekerja sama dengannya?”

Suara tenang pria itu itu mengusik perhatian Edeline, membuat gadis cantik itu kembali menoleh ke arahnya.

“Aku tidak mengenalnya.”

Pria terkekeh mengejek bantahan Edeline. “Benarkah? Mengingat betapa liciknya wanita yang kau bela itu, aku tidak percaya. Berapa kau menerima uang dari dia? Sehingga kau bisa memainkan akting sempurna seperti tadi.”

Gigi Edeline menggertak akibat api emosi yang membara. Pria tampan yang di depannya itu sungguh cerdik mempermainkan emosinya. Dia bisa saja meledakkan amarah dan membela diri agar tak terkalahkan dari pria yang berusia jauh dari dirinya.

Akan tetapi, kenyataan di depan mata telah menyadarkan Edeline tak akan bisa menang dari pria itu. Selain itu, wanita yang takut dan tidak percaya diri di sampingnya turut menyadarkan Edeline untuk mengibarkan bendera putih tanda mengalah.

“Enyahlah dari hadapanku! Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tujuanku datang ke sini untuk tidur dengan nyaman! Jangan ganggu aku!”

Seolah tahu maksud jelas pernyataan pria itu, wanita cantik di samping Edeline seketika pergi tanpa berpamitan. Tidak ada sederet kalimat penjelasan apalagi sepatah kata pamit kepada Edeline.

Dalam sedetik, keheningan menguasai di sekitar Edeline. Gadis cantik itu juga disapa oleh rasa canggung yang tidak nyaman untuk lama-lama diresapi. Namun sekejap kemudian, perasaan itu lenyap oleh suara tenang dari pria itu yang merendahkan keberadaan Edeline.

“Kau tidak ikut dengannya? Atau kau masih mau meneruskan aktingmu?” pria itu memasang senyuman menghina dan menjengkelkan.

Tangan Edeline mengepal kuat menatap tajam pria itu. Dia memalingkan tatapan kesal. Lebih baik memilih mundur dan menjernihkan pikiran dari pria menyebalkan itu.

Sayangnya, keberuntungan belum memihak Edeline. Ketika dia terburu-buru untuk pergi, roda dari koper yang ditariknya menyangkut pada karpet tebal yang menyelimuti lantai koridor kamar. Pun di saat bersamaan langkah Edeline ikut tak terkendali sehingga Edeline jatuh di hadapan pria itu.

Edeline mengeluh kesal di dalam hati. Isi dari tas yang ikut jatuh telah berantakan. Cepat-cepat Edeline mengutip dan memasukkan pernak-pernik isi di dalam tasnya itu. Tetapi, Edeline membeku ketika pria itu dengan lancang mengutip id card milik Edeline.

“Edeline Johnson?” pria itu bersuara tenang, namun tidak menutupi rasa penasaran yang mengundang.

“Kembalikan milikku!” Edeline mendikte tegas sembari berdiri tegak.

“Ah, rupanya kau seorang dokter? Dokter magang di Omega Hospital, huh?” setelah membaca id card itu, ekspresi pria itu menajam seolah menakuti Edeline untuk tidak membantah. “Kau baru datang ke Manchester?” lanjutnya penasaran.

Pria tampan itu menarik ujung bibirnya membentuk seringai tipis, di kala melihat id card milik Edeline. Tatapan mengejek dan mencemooh. Dia sama sekali tak mengira kalau gadis yang ingin menjadi pahlawan merupakan dokter magang di Omega Hospital.

“Bukan urusanmu!” Edeline membentak, pun dia berhasil merampas benda berharga itu dari pria menyebalkan itu.

“Perhatikan tingkahmu. Jangan seperti gadis liar yang tidak tahu aturan.” Pria tampan itu berkata sarkas. “Kau sangat tidak tahu arti sopan santun.”

Edeline melayangkan tatapan bermusuhan yang lantang pada pria itu. Seujung kuku pun nyali Edeline tidak ciut oleh mata tajam pria itu yang berpadu ke matanya. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki kesopanan setelah merampas dan membaca identitas orang tanpa permisi?”

Bibir pria itu menguraikan senyuman kejam. “Minta maaf padaku!” ucapnya menuntut.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu! Kau yang harus minta maaf padaku!” Edeline bersikeras tidak mau disalahkan.

“Minta maaf padaku sekarang atau kau menyesal, Dokter Edeline Johnson!” Nada bicara pria tampan itu menajam, seolah memberikan ancaman yang tak main-main.

Edeline tertegun. Seketika keterkejutan tanpa bisa dikontrol telah merayapi tubuh, merusak kenyamanan di jiwa sampai merasuki pikiran pada senyar ketakutan.

Perubahan emosional itu bukan karena bentakan bengis pria yang egois itu. Melainkan pergelangan tangan kurus Edeline dicengkram kencang—tubuh rampingnya telah dihimpit ke dinding oleh pria yang memiliki tubuh gagah.

“Cepat! Minta maaf padaku,” pria itu berdesis rendah di depan wajah Edeline yang memucat.

“L-le-lepaskan ... lepaskan aku.” Bibir mungil Edeline gemetaran berkata-kata.

Tubuh gadis cantik itu gemetaran diserang situasi dejavu yang menggiring pikiran pada hal-hal menakutkan dan menjijikkan. Keringat dingin telah menetes di balik rambut yang menutupi dahi.

“L-lepaskan aku. A-aku katakan ... lepaskan aku!”

Edeline memberontak sekuat tenaga setelah mengumpulkan keberanian. Tangannya yang satu memukul tangan pria itu—sampai Edeline tidak menyadari kukunya telah melukai sesuatu yang mencoreng kesempurnaan di wajah.

Koper yang tadi terlepas telah dipungut oleh Edeline. Gadis muda itu berlari sambil melirik-lirik ke pintu-pintu kamar. Setelah menemukan kamar tujuannya, Edeline masuk dan menenggelamkan diri di kamar itu tanpa ingin keluar sedetik pun.

Sementara itu, pria kejam yang Edeline tinggalkan masih berdiri tegak sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pintu kamar Edeline. Dia mengerang kesal, kemudian jemari kanannya menyentuh sisi wajah yang terluka akibat kekejaman kuku Edeline.

“Sialan!” gumamnya kesal dengan ekspresi penuh dendam.

Bab 2

Suasana hati Edeline belum sepenuhnya membaik. Pikirannya pun masih dihantui hal-hal buruk yang mengancam. Edeline belum memberanikan diri untuk mendekati pintu dan keluar dari kamar.

Padahal, mentari pagi sudah melenyapkan seutuhnya langit malam. Sepanjang waktu pergantian hari itu juga Edeline tidak menerima ancaman dari apa pun yang dibayangkan. Pria kemarin malam juga tidak menyusulnya.

Tetapi, apa itu bisa menjaminkan ketenangan Edeline untuk aman keluar dari kamar?

Edeline meyakini pria itu menaruh dendam pada dirinya atas sikap tak menyenangkan yang dilakukan. Pria itu telah mengetahui identitas dan tempat Edeline akan mengabdikan diri. Bagaimana jika dia nantinya mencari Edeline demi menuntaskan dendam?

Oh shit! Kenapa gadis cantik itu bisa tertimpa sial?

Kemarin, Edeline hanya berniat menolong. Pun dia tidak ingin hari pertama dia mengabdi di rumah sakit itu jadi berantakan atas kesalahan naif kemarin malam. Selain itu, Edeline berharap bisa hidup damai di kota baru yang menjadi pilihannya—menggapai cita-cita.

“Kau tidak boleh takut, Edeline. Kau harus berani,” gumamnya mensugesti diri sendiri.

Embusan napas panjang telah kasar dilepaskan. Gadis cantik itu telah mantap untuk keluar dari kamar dengan membawa jas putih dokter atau yang disebut snelli beserta tas—berisikan segala keperluan hari itu.

Namun, keraguan masih tersisa di jiwa Edeline. Gadis cantik yang telah rapi berpenampilan itu—sedikit tidak bernyali ketika ingin melintasi kamar milik pria itu menginap.

Bagaimana jika pria itu telah menanti kemunculan Edeline? Lalu dia menyergap Edeline seperti kemarin malam?

Klek! Edeline tersentak oleh suara pintu yang terbuka—di mana pria yang sedang menguasai pikirannya telah keluar dari sana. Gadis cantik itu ingin terpukul mundur untuk menghindar, namun ada dorongan besar di dalam hati untuk berani berhadapan dengan pria itu.

Lari dari masalah adalah pengecut! Batin Edeline menjerit kencang memarahi diri. Selain itu, ada seseorang penting yang haru segera Edelin temui, sehingga akhirnya dia berani untuk berjalan.

Sayangnya, keinginannya untuk berjalan mulus terhalangi ketika melintasi pria itu.

“Awhh!” Edeline mengeluh sakit saat terjatuh akibat tersenggol lengan pria itu. “Kau sengaja!” bentaknya kesal.

“Matamu yang buta! Jalan tidak becus!” Pria itu menanggapi tenang pada Edeline yang masih terduduk—kesal di lantai.

“Kau sengaja melakukannya! Cepat, minta maaf!” Mata Edeline mendelik sempurna, samar-samar dia melihat bekas luka di sisi wajah pria itu.

“Yang salah itu kau! Gunakan matamu dengan baik! Berjalan itu matanya lurus ke depan, bukan ke bawah!” sentak pria itu tidak mau disalahkan.

Mau dinilai dari sudut pandang apapun, pria itu jelas sekali menaruh dendam kepada Edeline. Dia yang berjalan tiba-tiba ketika Edeline melintas, tetapi malah Edeline yang disalahkan.

Edeline mendengkus kesal. Lalu memalingkan pandang untuk memungut snelli beserta tasnya yang terlepas saat terjatuh.

“Kau sudah memotong kukumu? Kau itu seorang dokter, kan?” seru pria itu kepada Edeline yang berdiri tegak.

“Bukan urusanmu!” Edeline menolak kesal.

“Dokter bertugas untuk menyelamatkan pasien, bukan untuk mencelakai.”

“Aku tidak butuh nasihatmu! Aku tahu yang terbaik untukku—”

“Kuku panjangmu itu bisa melukai pasien! Seperti kemarin malam kukumu itu melukai wajahku.”

Edeline terdiam oleh kalimat pria itu yang menyela tajam. Pun secara spontanitas menggiring kedua mata tertuju Edeline pada luka di sisi wajah pria itu.

“Semoga harimu berjalan dengan baik, Dokter Edeline.” Pria itu mengulas seringai sinis yang mengejek.

Edeline terdiam sembari menatap kepergian pria itu. Di dalam jiwanya ada perasaan bersalah yang bergejolak. Tapi ... ah! Itu bukan salah Edeline. Kemarin malam dia hanya membela diri dan tidak berniat melukai wajah pria itu.

Tiba-tiba saja, Edeline tersentak oleh handphone-nya yang berbunyi. Dengan spontanitas kedua kaki melangkah cepat saat mata melihat nama si penelepon pada handphone di genggaman tangan.

Sepanjang perjalanan menuju lobby—di mana seseorang telah menunggu, Edeline tidak berhenti berharap agar tidak bertemu lagi dengan pria pendendam dan menyebalkan itu.

“Kenapa kau lama sekali, Edeline?” seru sosok pria paruh baya kesal pada Edelina yang datang lama.

“Maafkan aku, Tuan Abraham,” Edeline menyapa dengan napas cukup terengah-engah.

Meski begitu, suara Edeline sangat sopan dan lembut kepada sosok penting yang sangat berjasa di kehidupannya beberapa tahun bekangan. Dia adalah Abraham Romanov—konglomerat yang memiliki sebuah yayasan beasiswa. Berkat dirinya, Edeline yang hidup serba kesusahan mampu meraih gelar dokter.

Kecerdasan dan tekad kuat gadis cantik itu meyakinkan Abraham—menjatuhkan pilihannya kepada Edeline untuk menerima beasiswa kedokteran. Berkat campur tangan dan kebaikannya juga, Edeline akan menjadi dokter magang di rumah sakit ternama di Manchester. Di mana dulu—rumah sakit itu pernah terikat kerjasama dengan rumah sakit yang pernah Abraham pimpin.

“Kita ke Omega Hospital sekarang juga. Petinggi di sana telah menunggu kedatangan kita,” ucap Abraham mengajak Edeline.

Tegang, gugup dan berdebar-debar, itu yang Edeline rasakan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit—tempatnya akan mengabdikan diri. Edeline terlihat tidak fokus mendengarkan obrolan ringan Abraham ketika di perjalanan. Bahkan ketika Abraham berbasa-basi menanyakan perihal kenyamanan kamar yang diberi, Edeline hanya menjawab seadanya.

Apakah Edeline bisa beradaptasi di tempat baru itu? Dan juga ... apakah tenaga medis di sana sama ramahnya dengan tenaga medis yang pernah ia temui? Rasanya jantung Edeline ingin berhenti berdetak saat itu juga, akibat rasa gugup yang melanda hebat.

“Edeline! Kita sudah sampai.” Abraham berkata.

Edeline menoleh kaku akibat terkejut. “O-oh iya, Tuan Abraham.”

“Jangan gugup! Orang-orang di sini sangat baik. Kau pasti akan betah dan senang memiliki rekan kerja seperti mereka.”

Bibir Edeline hanya menyimpulkan senyuman manis sebagai tanggapan. Dia tidak banyak berbicara, gadis itu hanya menurut ke mana langkah Abraham membawanya.

Namun, matanya bertindak lain. Sepanjang perjalanan menuju lantai atas, Edeline mencermati—sambil kagum pada fasilitas canggih di rumah sakit itu. Tidak heran jika berobat di Omega Hospital sangatlah mahal, karena memang rumah sakit ini memiliki fasilitas lengkap dan terbaik.

“Selamat datang, Tuan Abraham,” sapa hangat seorang pria berumur yang Edeline yakini petinggi eksekutif rumah sakit itu.

“Halo, Tuan Peter Dalton. Maaf kami membuat Anda menunggu.” Abraham membalas dengan cara yang sama.

“Saya tidak merasa menunggu. Ayo, kita duduk di ruangan saya saja.”

Sama seperti sebelumnya, Edeline menuruti langkah Abraham yang berada di depannya. Ketika duduk pun gadis cantik itu tidak terlalu jauh berjarak dari Abraham.

“Jadi, ini Dokter Edeline yang akan magang di rumah sakit kami?” Peter membuka pembicaraan.

“Ya! Dia adalah Dokter Edeline—salah satu dokter muda cerdas dan berprestasi yang aku sponsori.” Abraham begitu bangga mengenalkan Edeline. “Jangan pandang usianya, tapi lihat ketekunan dan kegigihannya jika sudah menolong pasien. Rumah sakit kami sangat kehilangan saat aku mengirimnya ke sini,” lanjutnya kemudian.

“Kami menerima dengan senang hati. Selama magang di sini Dokter Edeline akan dibimbing oleh dokter terbaik di sini,” Peter menyambut.

“Dokter itu pasti Dokter Elvis.”Abraham berkomentar dengan senyuman tipis di wajahnya.

Dokter Elvis? Seperti apa dia? Edeline menerka-nerka di dalam hati mengenai sosok yang akan menjadi dokter pembimbingnya. Jiwa gadis itu semakin penasaran untuk mengetahui dan mengenal sosok dokter itu.

“Beliau pasti Dokter yang hebat. Saya tidak sabar untuk bertemu dengan beliau.” Edeline bersuara setelah sesaat menjadi pendengar.

“Dokter Elvis sempat mengisi pusat bedah dan transplantasi jantung rumah sakit putraku. Beliau merupakan dokter terbaik dan juga dihormati.” Abraham menjelaskan.

“Dokter Elvis juga managing director rumah sakit ini. Dia adalah putraku,” sambut Peter menimpali.

Edeline tersenyum, sementara jiwa sudah ketar-ketir setelah mengetahui background dokter pembibingnya.

Dokter itu bukan sosok biasa. Di dalam hati Edeline berharap dirinya bisa berhadapan baik.

Ketika Edeline ingin membuka mulut mungilnya, pintu ruangan yang tertutup telah terbuka tanpa meminta izin. Seolah-olah hal itu sudah terbiasa dilakukan.

“Aku minta maaf datang terlambat. Aku harus melakukan visite pada pasien sebelum datang ke sini.” Suara berat Elvis memasuki ruangan.

“Kami sangat memaklumi,” Abraham menyahut tenang. “Dan ... oh, Edeline, ayo sapa dokter pembimbingmu. Beliau adalah Dokter Elvis—yang kita ceritakan tadi.”

Edeline tidak berkedip menatap pria yang baru datang itu. Dia terkejut setengah mati sampai membuatnya mematung kaku. Seluruh pikirannya telah berkecamuk sehingga Edeline tidak bisa berpikir jernih.

Napas Edeline terkecat ingin berhenti. Tangannya berkeringat dingin. Lutut terasa sangat lemas. Pria itu adalah pria yang beberapa waktu merusak awal pagi hari Edeline. Pria arogan yang menjengkelkan dan mengancam bagi Edeline.

“Elvis, kenapa dengan wajahmu?” tanya Peter begitu penasaran pada plester kecil di sisi wajah pria bernama Elvis Dalton itu.

“Kemarin aku dicakar oleh kucing.” Elvis menyindir, sementara mata tajamnya mengantarkan ketegangan nyata terhadap Edeline yang memucat.

“Berhati-hatilah agar tidak terluka.” Peter menanggapi naif.

Elvis mengabaikan perkataan ayahnya. Pria tampan bermulut kasar itu sedang sibuk membidik Edeline yang memucat—masih menutup mulut. “Jadi, dia adalah dokter magang itu? Dokter muda di bawah pengawasanku?”

Bersuaralah, Edeline! Jangan tunjukkan rasa takut menyebalkan itu kepada pria itu. Batin Edeline menjerit untuk menyadarkan.

“Halo, Dokter Elvis. Saya adalah Dokter Edeline—dokter magang yang—”

“Tidak punya sopan-santun dan memiliki sikap meremehkan!” Elvis menyela kejam Edeline yang sudah beranjak—ingin mengenalkan diri. “Kepada orang yang lebih dewasa sekaligus dokter pembimbingnya saja, kau tidak memiliki attitude untuk langsung menyapa. Bagaimana dengan pasien? Kau akan melihat dan diam saja?”

Dada Edeline begitu sakit oleh kalimat ketus yang Elvis keluarkan. Pria itu masih dendam pada Edeline. Tatapannya yang bermusuhan tak suka itu sangat menegaskan jika Elvis menaruh dendam begitu besar pada Edeline.

“Rumah sakit ini tidak butuh dokter magang yang tidak tahu etika seperti Anda, Dokter Edeline,” ucap Elvis yang menyindir kental.

Bab 3

Tubuh Edeline membeku mendengar apa yang dikatakan oleh Elvis. Kata-kata menusuk dan memberikan sidiran pedas padanya. Oh, God! Edeline tak mengira kalau dirinya akan mengalami hal sesial ini dalam hidupnya.

“A-aku minta maaf, Dokter Elvis.”

Suasana bingung yang sempat menguasai telah lenyap oleh permintaan maaf dari Edeline. Gadis cantik itu dengan sukarela mengalah, pun membungkukkan punggung untuk menggambarkan ketulusan dari permintaan maafnya.

Edeline kalah telak. Gadis cantik itu tak memiliki pilihan apa pun selain meminta maaf. Dia masih mencintai karirnya. Mimpinya menjadi dokter tidak boleh hancur hanya karena kebodohannya. Jadi lebih baik untuk kali ini dia mengalah minta maaf. Entah kesabarannya apakah mampu menghadapi sifat Elvis.

“Jangan galak-galak dengan Dokter Edeline, Elvis. Dia bisa tidak betah jika kau seperti itu.” Dengan nada kaku bercampur canggung, Peter membujuk Elvis. Pria paruh baya itu sedikit memberikan peringatan pada putranya.

“Tidak masalah. Hitung-hitung mental Edeline diuji untuk menjadi kuat.” Abraham mengambil alih untuk mencairkan suasana.

Sementara itu, Elvis masih melayangkan tatapan tajamnya kepada Edeline yang sudah mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam mengirimkan isyarat bermusuhan kepada Edeline, pun menakut-nakuti Edeline untuk tidak boleh bersikap sembrono kepada dirinya.

Edeline sendiri memahami isyarat tak ramah itu. Dia hanya menelan saliva dalam diamnya, pun mulai curi-curi memalingkan pandangan dari Elvis yang mengintimidasi.

Beruntungnya saat itu Edeline sesaat terselamatkan oleh Abraham. Konglomerat berumur itu pamit undur diri setelah menyelesaikan tugasnya. Dia merasa bahwa hari ini kesialan bertubi-tubi datang.

“Terima kasih telah mengantar dan membantuku, Tuan Abraham,” ucap Edeline ketika hendak berpisah dengan Abraham di luar ruangan.

Abraham mengulas senyuman hangat. “Lakukan yang terbaik dan jangan buat kesalahan. Sore nanti kau akan dijemput oleh orang suruhanku. Dia akan mengantarmu ke rumah yang akan kau tinggali. Barang-barangmu di hotel telah aku minta untuk dirapikan dan nantinya dibawa.”

“Sekali lagi terima kasih, Tuan Abraham. Anda telah banyak membantuku.”

Edeline menyerukan rasa terima kasih yang penuh ketulusan. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan di raut wajah, meski senyuman cantiknya bersusah payah menutupi.

Bagaimana tidak? Di dekatnya ada Elvis yang masih mengintimidasi. Dan sudah bisa dipastikan Edeline akan menerima penyiksaan dari Elvis. Takdir sepertinya sangat membenci dirinya.

“Tuan Abraham sudah pergi. Kau mau terus berdiri?” Elvis menegur ketus pada Edeline yang menatap kepergian Abraham bersama Peter.

Edeline menoleh dingin. Dari matanya yang tak senang terlihat sekali kesabaran Edeline sedikit menipis berhadapan dengan Elvis. “Bukankah aku sudah meminta maaf? Kenapa kau masih saja bersikap ketus seperti aku memiliki masalah fatal denganmu?”

Oh my god! Edeline sungguh berani. Dia sudah menahan diri. Tapi dadanya terasa panas. Tidak bisa tahan sama sekali.

“Tampaknya permintaan maafmu tadi tidak tulus sampai kau berbicara tidak sopan kepada dokter seniormu di rumah sakit ini. Kau itu tidak sadar diri?” seru Elvis menyindir sinis.

“Bukan begitu. Aku hanya—”

“Simpan penjelasanmu. Aku tidak mau mendengarkan. Sebaiknya kau ikuti aku! Kalau tidak, siapkan mentalmu untuk bertugas di kamar mayat.”

Edeline membelalakkan mata sementara mulutnya sudah menganga menatap Elvis yang sudah memalingkan pandangan. Gadis itu shock pada perkataan pria angkuh dan menjengkelkan itu.

Edeline benar-benar terancam jika tidak patuh. Karirnya bisa tamat jika dia membuat kesalahan pada pria pendendam itu. Hingga dengan terpaksa Edeline mengikuti langkah panjang Elvis yang cukup kelimpungan Edeline susul.

Ruangan Elvis menjadi tujuan mereka. Ruangannya cukup besar, mungkin karena Elvis sosok penting di rumah sakit itu. Hanya saja, ruangan itu tampak kosong—tidak banyak dipenuhi pernak-pernik yang menggantung di dinding ataupun di meja.

“Kau akan bertugas di pusat bedah dan jantung yang sama denganku. Itu artinya kau akan ikut di setiap jadwal operasiku. Di rumah sakit sebelumnya kau memiliki pengalaman di ruang operasi?” Elvis bertanya acuh—karena sambil memeriksa rekam medis beberapa pasien.

“Aku memiliki pengalaman yang cukup di unit bedah dan—”

“Aku hanya butuh jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku tidak butuh omong kosongmu yang menyombongkan diri,” Elvis menyela sinis, pun matanya telah melayang tajam pada Edeline yang mulutnya dibungkam paksa. “Aku telah lebih dulu menikmati asam garam dunia kedokteran ini dibandingkan kau, Dokter Edeline.”

Arrghhh! Batin Edeline menjerit kencang atas kesombongan Elvis. Dia ingin sekali menyambut dengan kalimat sinis yang sama agar harga diri tidak hilang.

Tetapi ... ya, Edeline hanya bisa berekspektasi di dalam hati. Akalnya sudah menasihati untuk tidak cari masalah. Karena keberlangsungan karir Edeline ada di tangan pria angkuh itu.

“Aku akan melakukan yang terbaik—”

“Kau memang harus melakukan yang terbaik.” Lagi, Elvis menyela sinis seolah tidak memberi kesempatan Edeline untuk berbicara. “Jika kau melakukan satu kesalahan, maka kau akan aku pindahkan ke unit IGD. Aku beri tahu informasi sedikit, unit IGD selalu sibuk setiap harinya—di mana untuk bernapas saja kau tidak memiliki waktu.”

Aura cantik Edeline memudar oleh mata tajam yang menguarkan ekspresi tersinggung. Lewat perkataan dan sikap bermusuhan itu saja Edeline bisa menyimpulkan jika Elvis menaruh dendam pada dirinya.

Pria itu memiliki kuasa, sudah pasti dia akan menindas Edeline. Mau sebaik apa pun Edeline berusaha, Edeline menyimpulkan jika dirinya tidak akan tenang bernapas di rumah sakit milik Elvis.

“Kalau begitu tugaskan saja aku di unit IGD.” Edeline berani menantang dengan tenangnya.

Elvis bersikap tenang, tetapi matanya yang menusuk tajam ke mata Edeline tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Kau yakin?”

“Kenapa aku tidak yakin? Sejak awal kau memang tidak berniat menugaskanku di unit bedah dan jantung. Aku yakin kau berniat menyiksaku karena dendam padaku.” Edeline tak ragu melampiaskan isi pikirannya yang menuduh kental. Ya Tuhan, gadis itu memang sudah tak lagi tahan dengan sikap Elvis. Walaupun kalah telak, tapi dia akan tetap berusaha memperjuangkan harga dirinya.

Elvis tersenyum kesal. “Aku dendam padamu?”

“Ya!” Edeline menyahut tegas. “Situasinya akan berbeda jika kemarin malam aku tidak menyinggung dan cari masalah denganmu. Tapi perlu kau ketahui, Dokter Elvis ... kau tidak sepenuhnya benar.” Edeline semakin percaya diri, pun matanya tidak takut beradu tajam dengan mata Elvis yang menyorot kesal.

“Kau lahir ke dunia ini berkat seorang wanita. Jika kau menyakiti dan bertindak kasar pada wanita, itu sama saja kau menyakiti wanita yang melahirkanmu. Wanita juga diciptakan dari tulang rusuknya pria. Bukankah sama saja kau sengaja melukai tubuhmu sendiri?” lanjutnya kemudian.

“Kau semakin tidak tahu diri,” Elvis mengerang kesal.

“Aku sangat tahu diri, tapi bukan berarti aku harus merendahkan harga diri.” Edeline menyambut cepat tanpa rasa takut. “Saat ini, kau memang berkuasa dibandingkan aku. Karirku di rumah sakit ini bergantung di tanganmu. Jika menggunakan emosi, aku sangat pantas menagih permintaan maaf darimu atas intimidasi yang kau lakukan kemarin. Jadi, Dokter Elvis ... kita impas!”

Batin Elvis telah berdecak kesal atas sikap Edeline yang dinilai sangat lancang. Dia merasa harga dirinya begitu terhina. Sebab, gadis itu adalah orang pertama yang berani mengibarkan bendera perlawanan kepada dirinya.

Tidak ada seorang pun di rumah sakit itu, entah itu rekan satu profesi apalagi kedua orangtuanya yang berani menentang sikapnya. Tapi di depan mata, Edeline—seorang dokter magang yang usianya terpaut 13 tahun lebih muda dari dirinya begitu berani beradu mulut dengannya.

“Kau tidak takut? Atau ... kau berani berkata seperti itu karena Tuan Abraham mem-back-up-mu?” Elvis mengejek dengan bibir mengulas senyuman menjengkelkan.

“Walaupun di belakangku tidak ada Tuan Abraham, aku tetap sama. Aku tidak boleh takut untuk menjadi orang sukses.”

Elvis terkekeh kencang mengejek pernyataan Edeline yang begitu percaya diri. “Oke! Buktikan ucapanmu itu untuk menjadi sukses di unit IGD. Jika kau tidak sanggup, kau bisa datang ke ruanganku dan berlutut untuk meminta maaf. Pintu ruanganku ini terbuka lebar selama 24 jam untukmu, Dokter Magang!”

“Tidak akan! Aku tidak akan melakukan itu!” bantah Edeline yang jelas tersinggung atas penghinaan Elvis.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Bad Duda

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED