Bab 1

Gio sedang merapikan dokumen di atas meja kerja yang hendak dibawa pulang, saat pintu ruang kerjanya terbuka dan muncullah Tasia, sang sekretaris.

“Jangan lupa, kamu harus segera bilang pada Linda untuk menceraikan dia jika anaknya perempuan. Aku yang akan memberikan anak laki-laki padamu. Ikhlaskan saja uang yang diberikan kakekmu padanya. Lagi pula, kamu punya lebih dari cukup. Sudah hampir lima tahun aku menunggumu, Gio,” ujar Tasia yang kemudian duduk di sofa.

Gio mendengkus seraya berkacak pinggang. Sebetulnya suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Ia sudah capek bersandiwara di depan wanita ini. Gio tidak ingin menipu perasaannya. Siapa pun akan dengan mudah jatuh cinta dengan Tasia. Semua juga didukung dengan kemolekan tubuh dan cara kerjanya yang kompeten. Hanya saja, wanita ini terlalu misterius dan Gio ingin membuka kedoknya. Namun, sudah empat tahun berlalu semuanya belum berhasil. Aneh, setiap ia ingin mendapatkan proyek di pulau seberang selalu tidak berhasil. Sekalinya berhasil, itu hanyalah sebagian kecil dan pencapaian terbesarnya tidak ada sangkut paut dengan keinginannya mendapatkan tanah idaman sang kakek yang berasal dari tanah lelang.

Gio tak ingin menduga-duga, tetapi wanita yang telah ia pacari cukup lama ini juga merupakan wanita yang penuh rahasia. Terlebih, adanya surat ancaman yang selalu ditujukan kepadanya untuk tidak melepaskan Tasia. Gio bukanlah orang bodoh, surat-surat berupa kertas fisik dan surel telah diperiksa kepolisian, tetapi selalu menemui jalan buntu. Gio belum bisa melepaskannya juga karena bahaya yang mengintai sang istri. Ia hanya perlu bertahan sebentar lagi, seperti yang dijanjikan orang-orang yang telah disewanya. Padahal jika mau, dirinya bisa turun tangan sendiri. Akan tetapi, jelas ia tidak bisa gegabah saat ini, Belinda sedang hamil dan ia tak ingin mengambil resiko tersebut.

“Aku sudah mendengarnya ribuan kali, dan masih sangat mengingatnya. Sabarlah sebentar lagi. Kontrak kami sampai tahun kelima dan itu tinggal menghitung bulan.”

“Kamu akan pulang?”

“Tentu.”

“Kalau begitu aku ikut denganmu.”

Ucapan Tasia membuat Gio menghentikan kegiatannya dan menatap tidak percaya pada wanita itu. “Aku harus di rumah sekarang. Kita bisa bertemu besok saat pergi ke luar kota.”

Gio rindu memeluk istrinya tersebut. Istri yang selama ini orang-orang tahu tidak pernah dipedulikan. Awalnya memang semuanya tanpa cinta, tetapi kesetiaan Belinda dan kepatuhan terhadap semua yang Gio lakukan membuat pria itu luluh dan sangat mencintainya. Hanya saja, ancaman demi ancaman ini harus ia bereskan dulu sebelum benar-benar bisa menunjukkan perasaannya kepada sang istri.

Tasia menggeleng manja. “Tidak. Aku tidak mau kamu hanya berdua dengannya. Lihat, sejak kamu mengembalikan para pembantu ke rumah orang tuamu dan kalian tinggal berdua, sekarang dia hamil anakmu.”

“Jangan konyol dan apa kamu pikir aku meniduri dia saat kami hanya berdua? Kami ini suami istri Tasia. Kalau-kalau kamu lupa.”

Tasia menggebrak meja di depannya dengan tatapan tajam. Dia membalas sorot mata Gio dengan alis memicing. Darahnya mendidih mendengar perkataan Gio yang frontal dan tidak memperdulikan perasaannya itu. Tasia tahu, ia menjalin hubungan dengan pria beristri. Akan tetapi, ia lebih dulu menjalin kasih dengan Gio sebelum wanita miskin itu masuk dan merebut perhatian keluarga besar Zaron serta Handari. Wanita licik, menjerat Gio dengan mendekati keluarganya terlebih dulu, hal itu juga membuat rencana yang telah disusun Tasia hancur berantakan. Apa ia ingin memulai dari nol kembali? Jelas tidak, Tasia sudah hampir kehabisan waktu, ia tak ingin hidup dalam kemelaratan.

“Aku kekasihmu, kalau kau lupa. Jangan main-main denganku, Gio! Dan, bisa-bisanya kamu mengataiku konyol lantas bercerita tentang kegiatan bercinta kalian! Kamu tidak peduli dengan perasaanku?!”

“Tentu saja tidak, Sayang. Jangan emosi, ingat dengan kesehatanmu,” rayu Gio.

Namun, jelas ia tidak akan meminta maaf dengan apa yang di katakan barusan. Peduli setan jika Tasia merasakan sesuatu yang tidak beres. Namun, rasanya tidak mungkin. Tasia terlalu mencintainya dan pasti akan memaafkan lidahnya yang tajam seperti halnya Belinda-nya. Sungguh, ia ingin mengenyahkan kekhawatiran sesekali.

“Aku bisa saja mati saat ini. Jantungku lemah dan itu semua karena kamu. Kamu harus ingat dengan pesan Hasan untuk selalu menjagaku, bukan?”

“Tentu saja aku ingat. Dia teman baik dan karenaku dia pergi.”

Gio bingung, sampai detik ini ia tidak bisa menemukan keberadaan Hasan yang dulu mengalami kecelakaan bersamanya. Jasadnya juga tidak ditemukan, hanya pesannya sebelum kecelakaan itu terjadi adalah jangan pernah meninggalkan Tasia apa pun yang terjadi.

“Aku akan ikut ke rumahmu. Menginap di sana,” ucap Tasia dengan mengusap punggung Gio dan mengecup pipi kanannya.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Gio yang pasrah dengan keinginan kekasihnya.

Belinda sedang menikmati coklat hangat dan sebuah donat ukuran jumbo dengan taburan kacang almond cincang di atasnya, saat di depannya berdiri menjulang pria tampan yang sudah menghilang lebih dari empat tahun lamanya. Pria itu tersenyum ramah dan kemudian duduk di depannya tanpa permisi.

“Kamu semakin cantik saja.”

“Hasan, lama tidak bertemu. Ke mana saja?” tanya Belinda dengan tatapan terkejut yang tak bisa ditutupi.

Hasan terkekeh sambil merapikan jaket kulitnya. “Aku baik. Kamu sepertinya keheranan bertemu kembali denganku?”

“Kamu menghilang begitu saja sejak kecelakaan itu, jadi aku sangat terkejut,” ucap Belinda jujur. Ia sendiri bingung dengan apa yang harus dikatakan kepada pria ini. “Dan, melewatkan pernikahanku dan Gio.”

Wajah Hasan berubah serius. Kini, dengan tatapan intens ia berkata, “Seharusnya kamu tidak menikah dengan Gio, Linda. Itu merupakan kesalahan besar. Lagi pula, itu bukanlah kecelakaan pertamaku dan bukan sekali ini aku menghilang dari hadapanmu.”

“Kenapa begitu?” tanya Belinda dengan suara tercekat. Detak jantungnya bergemuruh. Ia sampai takut, jika Hasan bisa mendengar suara degup jantungnya. Seperti dirinya yang bisa mendengarnya, sampai ke gendang telinga.

“Dengar, suamimu tidak akan pernah bisa berpaling dari Tasia karena keberadaanmu sedari awal adalah sebuah kesalahan. Kamu itu hanya menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaan mereka. Apa kamu tidak merasa heran atau memang tidak peduli? Bertahan dalam ketidakpastian hanya hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Pergilah, tinggalkan Gio! Gapai bahagiamu dan jika kamu perlu pertolongan, aku bisa membantumu,” ucap Hasan yang kini mencondongkan tubuh merapat kepada Belinda, tetapi wanita itu beringsut menjauh.

“Kamu seolah-olah tahu tentang kehidupan pernikahanku,” ujar Belinda seraya tersenyum masam. Belinda tidak habis pikir, pria ini baru saja muncul setelah bertahun-tahun menghilang dan sekarang berbicara seolah selama ini ia ada dan terlibat dalam hidup Belinda. Namun, dirinya tak ingin mengakui dengan begitu mudah terlebih kepada orang yang sudah lama tidak ia lihat batang hidungnya.

“Kamu tampaknya sedang tidak baik-baik saja.” Perkataan Hasan jelas sekali terlihat sebagai pernyataan bukan pertanyaan yang diucapkan dengan penuh percaya diri.

“Bukan urusanmu. Aku rasa sungguh tidak sopan kamu berkata seperti itu. Dia temanmu dulu, sahabatmu. Bagaimana bisa kamu berbuat seperti ini?” balas Belinda yang mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria ini.

Belinda menyandarkan punggung pada sofa dan menghembuskan napas lelah. Semua yang dikatakan Hasan terasa benar di telinganya. Seandainya semua itu, dikatakan jauh sebelum ia menerima pernikahan yang dirancang oleh Jendra Handari, semuanya tentu tidak seperti saat ini. Menghadapi kehamilan seorang diri bukanlah perkara mudah. Memiliki suami, tetapi tetap hidup dalam kesendirian atau sebatang kara sudah biasa Belinda rasakan. Jangankan suami yang tidak mencintainya, ibu yang melahirkan dirinya dan selalu berbuat kasar saja selama ini, bisa dihadapi. Kepasrahan, itu yang membuat Belinda bisa bertahan. Toh, pernikahan ini terjadi demi sang ayah yang terbaring lemah tidak berdaya, sementara saudaranya yang lain tidak bisa membantu. Syukur-syukur mereka masih bisa memberikan bantuan untuk makan sehari-hari.

Lahir dari keluarga sederhana tidak membuat Belinda meratapi nasib. Hanya saja, kadang kala timbul rasa penyesalan di dalam diri jika mengingat semua. Sifat tidak tega dan janjinya pada pria tua itu, membuat dirinya terseret dalam arus hubungan tanpa cinta dengan Gio Zaron, cucu dari pria baik hati yang sudah membantunya untuk meneruskan pendidikan dan bahkan memberikan dirinya pekerjaan, hanya karena Belinda pernah menolong Jendra saat akan terserempet sebuah mobil.

“Semuanya sudah terlambat sekarang,” jawab Belinda seraya menunduk, kepercayaan dirinya sedang terguncang saat ini. Ia baru menyadari sangat membutuhkan teman bicara. Namun, untuk bercerita pada seseorang seperti Hasan yang muncul entah dari mana, sangat tidak mungkin. Apalagi, pria itu tampak memusuhi suaminya. Sungguh aneh, karena jika dirinya tak salah ingat Hasan yang meminta Gio untuk tidak meninggalkan Tasia. Sekarang, pria itu meminta dirinya untuk meninggalkan Gio dan meminta bantuan kepadanya? Ini lebih tidak masuk akal.

“Semua belum terlambat. Setelah melahirkan, bercerailah dari Gio dan carilah aku.”

“Kenapa kamu kembali? Bukankah, kamu sudah pergi jauh? Kamu teman Mbak Tasia dan Gio. Kenapa kamu ingin membantuku?”

“Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di kota ini.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Baiklah aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau Gio pulang dan tidak mendapati aku di rumah.”

Pria bernama Hasan itu mendengkus lalu tertawa lirih meremehkan. “Apa kamu pikir suamimu peduli dengan hal itu?”

“Tentu saja dia akan peduli,” balas Belinda yang tidak ingin orang lain terlalu ikut campur urusan rumah tangganya, termasuk pria tampan di depannya saat ini yang setahu Belinda merupakan sahabat sang suami dan juga kenalan dari Tasia, calon madunya jika sang suami benar-benar akan menikahi wanita itu.

“Suatu hari kita akan bertemu kembali dan kamu akan meminta bantuan dariku. Aku cinta kamu, Linda.”

Belinda tidak menyahuti ucapan pria yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi itu. Dengan perutnya yang besar, wanita itu segera bangkit dari sofa, lalu pergi dari sana. Ia bisa melihat pintu gerbang rumahnya dari kafe ini yang letaknya juga berdekatan dengan kios salah satu ekspedisi langganannya untuk mengirim hasil kerjanya. Ia tidak ingin selalu dianggap sebagai parasit, walau kenyataan sebenarnya jelas tidak bisa dikatakan demikian. Bukankah sudah menjadi tugas seorang suami untuk menafkahi istrinya?

Bab 2

Belinda tersenyum tipis. Dia sangat tahu sang suami belum pulang, walau saat ini jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Seperti malam-malam sebelumnya, ia akan menikmati kesendirian di rumah itu. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan bersama. Pemikiran itu sering datang akhir-akhir ini. Satu hal yang pasti, Belinda tidak ingin sendirian lagi. Ia perlu tempat untuk merasakan kembali, seseorang yang menjadi tujuannya. Tanpa sadar ia mengusap perutnya. Wanita itu mulai menyadari, dengan atau tanpa keberadaan Gio, ia memiliki bayinya. Dia akan membawa pergi bayinya jika memang pernikahan ini tidak bisa dipertahankan. Cukup dirinya saja yang merasa sudah menjual diri pada keluarga orang tua itu demi pengobatan sang ayah, yang ternyata tetap pergi untuk selamanya.

Udara malam sudah mulai menerpa. Sambil berjalan kaki, ia membenarkan kaitan tas berisi bahan makanan dan membetulkan cardigannya. Namun, ternyata dugaan Belinda salah, begitu membuka pintu pagar, sang suami sudah berada di halaman depan dan duduk di pembatas taman yang terbuat dari beton.

“Dari mana saja kamu?” tanya Gio dingin seraya memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana dan bangkit sambil bersedekap.

“Dari kafe.”

“Dengan perut sebesar itu saja, kamu masih tebar pesona?” ujar Gio seraya menatap ke arah perut Belinda.

Spontan Belinda memeluk perut buncitnya dengan posesif. “Siapa yang tebar pesona? Jangan konyol. Aku hanya suntuk, butuh olahraga dan hiburan juga demi kelancaran kelahiran nanti.”

“Sudah semakin jago berdebat kamu sekarang, ya. Kamu pikir dengan berbuat demikian aku akan menceraikan kamu?"

“Jika memang bisa membuat hal itu terjadi, silakan saja. Toh, aku tidak menuntut harta gono-gini darimu.”

“Jangan mimpi. Kamu sudah mendapatkan lebih dari yang seharusnya. Jangan lupa, jika anak itu perempuan, aku akan segera menceraikan kamu.”

Begitu selesai ucapan Gio. Pintu mobil bagian penumpang terbuka dan turunlah wanita cantik bernama Tasia.

“Jangan khawatir aku bahkan tidak menggunakan uangmu untuk modal tebar pesonaku. Apa kamu ingin bukti?” ujar Belinda setelah melirik keberadaan Tasia sekilas dan segera berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu tanpa menunggu jawaban dari Gio dan membukanya. Lihat bukan, ucapan Gio kadang membingungkan. Satu sisi ia bilang tidak akan menceraikan Belinda karena harta, tetapi di sisi lain, ia juga akan segera menceraikan dirinya jika mengetahui anak yang dilahirkannya seorang perempuan.

“Silakan, anggap saja rumah sendiri,” ujarnya karena tahu sepasang anak manusia itu mengikuti dari belakangnya.

Belinda dengan acuh meninggalkan Gio dan Tasia seperti biasa. Dia lalu menyusun bahan makanan dan segera menuju ruang laundry, menghabiskan waktu sore menjelang malam ini dengan merajut dan melipat pakaian bayi yang dibelinya secara daring.

Sementara itu, Gio yang sedari tadi memendam keresahan, menahan diri untuk tidak menghubungi sang istri karena keberadaan Tasia. Bagaimana dirinya tidak panik, saat mendapati rumah dalam keadaan kosong, sementara sang istri hamil besar dan ia sendiri tidak membawa kunci cadangan. Apalagi, Tasia sudah mengomel, mendesak Gio untuk segera menghubungi Belinda. Gio memang menghubungi Belinda pada akhirnya, tetapi ponsel wanita itu dalam keadaan mati.

Begitu ia selesai menelepon, muncullah wanita yang ditunggunya. Kelegaan seperti tersiram air sejuk mendera hatinya. Istrinya tampak baik-baik saja, hanya saja kegiatan di luar ini sungguh tidak ia sukai. Gio khawatir ada sesuatu yang akan terjadi pada Belinda. Sebetulnya ia cukup jengkel, pasalnya bertahun-tahun tidak menemukan keberadaan Hasan dan juga tidak bisa menemukan pelaku yang sering meneror dirinya. Orang tersebut sangat ahli, itu sebabnya Gio menunda memiliki anak. Namun, rejeki tak mungkin ditolak. Sebentar lagi, ia akan menyandang status sebagai seorang ayah.

Gio juga belum bisa memutuskan hubungan dengan Tasia. Ia masih ingin mengorek informasi tentang keberadaan Hasan dari wanita itu. Ia sangat yakin Tasia masih berhubungan dengan sahabatnya itu. Gio yakin, jika Hasan masih hidup di antah berantah saat ini. Gio yang awalnya tidak mencintai Belinda begitu menikah dan mengenal wanita itu, menjadi tak bisa berpaling. Namun, tanggung jawab dari sang ayah mengharuskan dirinya untuk sering bepergian dan bersama dengan Tasia. Ini juga merupakan usahanya untuk mencari informasi tentang wanita itu. Begitu juga keluarganya yang cukup misterius. Gio sengaja tidak meminta tolong pamannya saat ini, karena merasa apa yang sedang ia selidiki sudah mulai menunjukkan hasil yang diinginkan.

Namun, berbicara kasar dan membuat wajah istrinya yang sedang hamil bersedih serta bersikap dingin, membuat dirinya turut bersedih. Hanya saja, ia belum bisa mengakhiri sandiwara ini. Harapan Gio hanya satu, semoga saja Belinda bisa bertahan disisinya. Seandainya situasinya terbalik, Gio sudah pasti pergi sedari dulu.

Setelah mengikuti sang istri dari belakang dengan Tasia yang menggelayut manja di lengannya, membuat Gio berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak mencampakkan tangan wanita ini. Ingin rasanya, ia merengkuh tubuh mungil yang terkesan sangat kuat di depannya ini. Perut gendut yang membulat lucu itu, ingin rasanya ia kecupi sedemikian rupa.

“Kamu lihat sikap dingin istrimu itu? Seharusnya, ia bersyukur masih kamu pelihara di sini. Enaknya, sudah tidak perlu bekerja. Lihat kelakuannya itu, dengan perut buncit begitu saja masih bisa-bisanya tebar pesona di kafe. Kamu tidak tahu bukan, siapa saja yang ditemui di sana,” ucap Tasia dengan gerutuan yang terasa memprovokasi Gio.

“Aku sedang tidak ingin bertengkar saat ini Tasia. Tidak dengan adanya kalian berdua di sini,” balas Gio seraya berkacak pinggang. Keduanya kini sedang berada di kamar tamu yang akan ditempati oleh Tasia.

“Kenapa kamu takut membuatnya marah dan kemudian terjadi sesuatu dengan kandungannya?” tanya Tasia dengan dagu terangkat dan kedua tangannya mengalungi leher Gio, menggelayut manja.

Gio melerai jalinan tangan Tasia pada lehernya dan memberikan jarak dengan wanita itu.

“Jangan kejam, Tasia. Aku tidak suka hal itu.” Wajah Gio mengeras dan menunjukkan rasa tidak sukanya dengan sikap wanita cantik di depannya ini.

“Ingat, kamu harus menceraikan dia secepatnya setelah melahirkan. Jangan sampai hartamu jatuh di tangan perempuan miskin itu. Pemberian orang tuamu sudah cukup untuknya.” Tasia memperingatkan Gio seraya menusukkan jari telunjuknya yang terawat sempurna menusuk-nusuk dada bidang Gio Zaron.

“Kamu tidak perlu mengingatkan aku dengan apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak makan malam, bukan? Aku tinggal dulu kalau begitu.”

Tasia tidak menjawab ucapan Gio. Wanita itu memilih untuk melucuti pakaiannya dan dengan tubuh polos, ia melenggang anggun menuju kamar mandi.

Gio berkacak pinggang, saat tidak mendapati sang istri di dapur dan kamar tidur. Ia harus memutar otak karena telah diabaikan oleh istrinya tadi. Dengan melenggang santai, wanita itu meninggalkan dirinya dan menuju dapur menyusun bahan makanan seolah ia dan Tasia adalah sosok tak kasat mata. Gio tanpa membersihkan diri terlebih dulu lantas menuju ruang laundry, yakin sang istri masih berada di sana saat ini.

“Linda, kamu tidak masak?”

Belinda yang hendak meluruskan kakinya pada sofa empuk yang sengaja ia taruh di ruangan itu, segera bangkit dan keluar dari sana. Ia tidak ingin Gio dan Tasia melihat pakaian milik sang jabang bayi.

Belinda tertegun di ambang pintu saat melihat sang suami belum membersihkan diri dan tampak sendirian. Belinda berpikir jika Gio hanya akan mengambil sesuatu dan kembali pergi dan menginap di apartemen atau di tempat Tasia seperti informasi yang sering ia dapatkan selama ini.

“Aku pikir kamu akan pergi dengan Mbak Tasia.”

“Tidak. Aku ingin makan malam di rumah.”

“Apa aku harus memasak banyak malam ini?” tanya Belinda seraya mengayunkan langkah menuju dapur.

“Tidak. Hanya untuk kita berdua saja.”

Belinda menelan salivanya kasar seraya mengambil bahan makanan dari kulkas. “Kekasihmu, tidak ikut makan malam?” tanyanya ragu-ragu dan was-was. Karena dirinya memunggungi Gio, Belinda tidak melihat rahang Gio yang mengeras dan kedua tangannya yang terkepal pada kedua sisi tubuhnya.

“Dia tidak terbiasa makan nasi malam hari. Aku akan mandi. Masaklah sesuai dengan yang kamu mau.”

“Tentu,” jawab Belinda tanpa berpaling dan memilih menyibukkan diri dengan mencuci kangkung.

Belinda yang asyik mencuci perabotan memasaknya, sama sekali tidak menyadari jika Gio sudah datang dengan memakai kaos singlet dan celana pendek, dia tertegun saat berbalik hendak mengelap tangannya yang basah.

Gio sedang mengambil dua gelas kosong yang terletak tak jauh dari Belinda berada dan dengan santainya pria itu mengisinya dengan air putih yang sudah disiapkan Belinda dalam teko kaca di meja.

“Ayo makan,” ajak Gio yang malam ini bahkan memundurkan kursi untuk Belinda.

Mereka makan di meja dapur, alih-alih pindah ke meja makan. Belinda memang belum sempat memindahkan masakannya ke ruang makan.

“Tumben pakai pakaian biasa? Apa kalian akan tidur di sini?” tanya Belinda lamat-lamat, jujur hatinya juga sakit mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya sendiri. Sudah lama sekali Gio tidak membawa Tasia untuk tinggal bersama dengan mereka. Apalagi saat ini dirinya sedang hamil besar. Sungguh, mereka berdua memang jenis manusia yang hati nurani dan empatinya sudah mati.

Gio menghentikan gerakannya menyendok nasi dan meletakkan piringnya dengan sedikit keras hingga menimbulkan bunyi kaca yang beradu.

“Apa aku tidak boleh tidur di rumahku sendiri?” tanya Gio dingin seraya menatap Belinda dengan intens.

“Silakan. Toh, ini rumahmu. Aku kan hanya menumpang. Tumben saja, rasanya sudah lama sekali kamu tidak tinggal di rumah,” jawab Belinda seraya menunduk memperhatikan mangkok berisi sayur kangkung.

“Aku tidak ingin bertengkar malam ini Linda. Aku sangat capek dan butuh istirahat yang cukup. Lagi pula kamu tidak pernah bertanya di mana aku tinggal jika tidak di rumah,” jawab Gio dengan kembali melakukan kegiatannya.

Belinda mengangguk. “Memang. Tetapi, kalau-kalau kamu lupa. Mas dulu yang berpesan, jika tidak perlu mempertanyakan di mana dirimu berada, bukan? Sudah benar bukan apa yang aku lakukan dengan tidak mencampuri urusanmu?”

Dirinya juga tidak ingin bersitegang terlalu lama dengan Gio. Apalagi ada telinga lain satu atap dengan mereka saat ini. Hanya, sekali saja ia ingin tidak selalu disalahkan. Sungguh, Belinda ingin sebentar saja merasakan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan ini.

Belinda terpaku saat dari sudut matanya melihat Tasia dengan gaun tidur berenda yang menggoda sepanjang setengah paha, berjalan dengan anggun menuju dapur dan mengambil botol air dari dalam kulkas.

Belinda mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk, lalu bangkit dan memundurkan kursinya.

“Mau ke mana?” tanya Gio tanpa mengalihkan perhatian dari piring di hadapannya. Netranya melirik pada Tasia yang kini bersandar pada meja pantry dapur.

“Aku rasa kamu sudah ada yang menemani. Aku akan makan di tempat lain saja,” jawab Belinda sedikit ragu dan was-was. Instingnya mengatakan saat ini suaminya sedang memendam amarah. Hanya saja, ia bingung. Ditujukan kepada siapakah amarah suaminya tersebut. Padahal kekasih sang suami ada bersama dengan mereka. Sebagai wanita yang tahu diri dan paham betul penyebab awal pernikahan mereka, ia memutuskan lebih baik mengalah. Dirinya yang sebetulnya, telah menjadi wanita kedua dalam hubungan Gio dan Tasia.

“Duduk Linda. Dan aku tidak akan mengulangi perintah untuk yang kedua kalinya,” jawab Gio dingin dan kali ini mata pria itu menyorot tajam ke arahnya, “jangan berlaku tidak sopan terhadap tamu dengan pergi begitu saja. Sudah cukup sikap acuhmu, ingat kamu nyonya rumah sudah sepantasnya kamu duduk dan makan di sini.”

Mendengar kata nyonya rumah terdengar sangat menggelikan, terlebih saat ini ia merasa seperti makhluk tak kasat mata di rumah ini, dan khususnya di hidup Gio.

Belinda melirik Tasia yang tampaknya kesal dengan ucapan Gio yang kemudian berlalu dari dapur dengan langkah lebar. Tak lama, kemudian terdengar pintu yang ditutup kasar. Belinda tersenyum di dalam hati dan kembali duduk di tempatnya semula. Hatinya sedikit bahagia, melihat suaminya mengacuhkan sang kekasih dan tetap bertahan untuk makan malam sederhana bersamanya. Walaupun ini peristiwa yang langka, ia berusaha untuk menikmati setiap detik yang berharga ini. Siapa yang tahu di masa mendatang, akankah dirinya masih bisa melayani sang suami atau bisa jadi digantikan oleh wanita yang kini sedang berada di kamar tamu rumah ini.

Belinda mengerjapkan kelopak mata dengan bulu lentik bersama dengan rasa penasaran yang tak mau pergi benaknya. Suaminya tampak sangat berbeda hari ini. Ia merasa curiga, apakah Gio tahu jika ia bertemu dengan Hasan? Namun, rasanya tidak mungkin juga. Toh, pria itu tadi bertanya bukan dari mana ia pergi. Belinda bisa mendengar samar percakapan penuh nada tertahan antara Gio dan Tasia. Dirinya tahu, kedua orang itu pasti sedang rebut tentang kejadian di dapur tadi.

Sebenarnya, ia sangat penasaran. Akan tetapi, Belinda menuruti permintaan Gio untuk istirahat terlebih dahulu. Namun, rasa penasarannya berlanjut sampai saat ia tertidur dan merasakan pria itu mengecup dahinya lembut atau rasanya Belinda bermimpi tentang itu. Ia segera bangun ketika tidak mendengar lagi suara percakapan dan menemukan Gio berada di ruang kerjanya. Ada sedikit kelegaan jika sang suami tidak membujuk sang kekasih dengan memadu kasih, walau entah nanti jika pria itu selesai bekerja. Sungguh membingungkan. Tadi pria itu bilang sangat capek, tetapi sekarang ia malah berada di ruang kerja.

“Mas, mau kopi?” tanya Belinda yang tidak tega melihat keseriusan Gio dan mejanya yang hanya berisi dokumen.

Gio mendongak dari layar laptopnya. “Tidak perlu, aku hanya sebentar saja. Kembalilah tidur.”

Kalimat tegas dari pria itu lantas membuat Belinda meninggalkan Gio yang tenggelam dalam dokumen kerja. Belinda tidak pernah berharap lagi sang suami akan menempati bantal di sebelahnya. Belinda menghela napas panjang seraya mengusap bantal yang bersisian itu.

Tak lama berselang, kali ini ia merasakan pelukan dan usapan telapak tangan lebar pada perutnya, Belinda tak berani membuka mata dan kembali larut dalam tidur. Jika dekapan hangat ini hanya mimpi, biarlah ia menikmati saat ini.

Bab 3

Dua bulan kemudian

Belinda berbaring miring seraya mengusap perutnya yang membuncit, sambil sesekali meringis menahan kontraksi yang mulai sering terjadi. Ia menatap jam weker yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Setelah beberapa kali mengatur napas, ia segera berusaha bangkit dari pembaringannya dan meraih tas yang sudah disiapkan.

Belinda menoleh pada sisi ranjang yang selalu kosong. Mendengkus panjang, ia segera menutup pintu kamarnya dan memastikan semuanya aman sebelum akhirnya pergi. Beruntung, taksi daring sudah menunggu di depan tak lama kemudian.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengirimkan pesan singkat kepada sang suami yang saat ini entah berada di mana.

Belinda:

“Mas, aku sudah menuju rumah sakit. Kemungkinan hari ini aku akan melahirkan. Jenguk anakmu jika kamu sudah ada waktu.”

Belinda melirik layar ponselnya sekali lagi sebelum menghubungi orang tuanya. Centang satu, bisa berarti banyak hal, bukan? Belinda tidak ingin suudzon apa pun yang terjadi kedepannya, ia harus siap dengan segala konsekuensi. Bagi keluarga suaminya, yang utama adalah keturunan yang ia hasilkan bagi mereka.

Belinda tidak jadi menghubungi ibunya melalui panggilan telepon, kontraksinya semakin menjadi dan dirinya hampir tiba di rumah sakit. Semuanya menjadi terlupakan karena fokusnya kepada sang janin. Belinda sudah merasakan basah pada bawah pantatnya. Ia panik melirik pada sopir taksi yang tampak sigap membawakan kemudi.

“Pak, maaf. Jok Bapak basah, sepertinya ketuban saya pecah, Pak,” kata Belinda dengan raut penuh penyesalan dan permintaan maaf.

Si sopir hanya melirik sekilas sebelum semakin cepat melajukan kendaraannya.

“Tidak apa, Bu. Wajarkan kalau ketuban pecah. Jok yang kotor masih bisa dibersihkan,” ujar sang sopir maklum.

Dalam hati Oza Parama, cukup geram. Suami mana yang begitu tega tidak ada bersama sang istri ketika hendak melahirkan. Terlebih tidak ada seorang pun yang menemani. Padahal, jika dilihat dari rumah yang mereka tinggali cukup berada. Sungguh ia sangat simpati kepada wanita muda ini, cantik dan terlihat sederhana. Wanita tegar, terlihat dari upayanya yang tidak mengeluh sedikit pun sedari tadi.

Oza membantu penumpangnya untuk duduk di kursi roda dan bersikeras membantunya sampai mendapatkan kamar.

“Anda tidak perlu melakukan ini, saya bisa melakukan sendiri. Saya bahkan belum membayar Anda. Saya tidak ingin berhutang budi,” kata Belinda seraya mengaduk isi tas mencari dompetnya.

Lengannya lantas ditahan oleh Oza. “Tidak apa, anggap saja ini bantuan dari sesama makhluk sosial.”

Belinda menggeleng. “Saya bahkan tidak mengenal Anda.”

“Kita tidak perlu saling mengenal dekat, untuk membantu sesama. Sudahlah sekarang lebih baik Anda berkonsentrasi dengan bayi dan diri Anda. Saya akan membantu semampu saya,” kata Oza seraya meremas bahu Belinda menyalurkan dukungan.

“Tapi, Pak?” protes Belinda.

“Adakah anggota keluarga yang bisa saya hubungi?” tanya Oza.

Belinda menggeleng saat Perawat membantunya berbaring di ranjang UGD.

“Kalau begitu saya akan temani Anda sampai melahirkan.”

Belinda menggeleng panik dan merasa tidak enak hati dengan perhatian berlebih orang asing di depannya itu. Namun, Belinda juga tidak kuasa mengalihkan perhatiannya dari pria yang ada di depannya itu, walau sedikit terhalang tirai dan lalu lalang para petugas medis, pria itu dengan santainya duduk di sana dan memberikan senyum tipis ke arah Belinda. Belinda yang kepergok memperhatikan pria itu, lantas memalingkan wajahnya yang tersipu. Rasanya tidak asing jika diamati lebih lama. Namun, Belinda tidak kunjung mengingat. Mungkin ia pernah bertatap muka di jalan.

Oza bersedekap seraya duduk tenang di bangku ruang tunggu. Kedua tangannya mengepal erat di balik raut wajahnya yang tampak sangat bersahabat. Ia sangat bersyukur bahwa dirinya yang mendapatkan penumpang dini hari ini. Padahal sejatinya ia hanya iseng membuang waktunya yang tak kunjung mengantuk dan menghilangkan kepenatan. Geram yang dirasakannya mendapati wanita itu tidak ada yang menemani di hari pentingnya ini.

Bagaimana jika sampai banyak hal buruk terjadi dan tidak ada satu orang pun yang tahu? Di mana para pekerja di rumahnya?

Oza menggeleng-gelengkan kepala seraya memijat pelan tengkuknya mengenyahkan segala pertanyaan itu. Ia akan mencari tahu nanti.

Oza masih menemani Belinda sampai wanita itu selesai diperiksa dan akhirnya bisa melahirkan dengan selamat dan di tempatkan di kamar. Oza menengok Belinda yang sedang tertidur nyenyak dan mengecup puncak kepala-nya dengan lembut. Andaikan ia tidak ada jadwal mengajar pagi ini, akan dengan senang hati ia menemani Belinda dan anaknya. Namun, Oza akan mengirim orang untuk memantau keadaan Belinda. Wanita cantik ini jelas tidak baik-baik saja, begitu juga dengan rumah tangganya.

Oza melangkahkan kaki keluar dari lobby rumah sakit, saat menangkap bayangan Gio yang menuju meja informasi. Ia lantas menggapai gawainya dan menghubungi sang ayah, Felix.

“Pa, aku sudah menemukan dia.”

“Kamu yakin itu dia?”

“Sangat yakin, wajah dan postur tubuhnya sama dengan Mama waktu masih muda ditambah lagi dengan tanda lahir di lehernya. Mereka bagaikan pinang dibelah dua.”

“Akhirnya. Bagus, Nak. Bagaimana keadaannya?” tanya Felix dengan suara khas orang bangun tidur.

“Tidak terlalu bagus, Pa. Satu yang pasti, ia sudah menikah dan pernikahannya tidak bahagia. Ngomong-ngomong, selamat, Pa. Papa baru saja mendapatkan cucu perempuan.”

“Terima kasih Tuhan. Oh, anakku yang malang. Bawa dia kembali, Nak. Bagaimanapun caranya.”

“Oh ya, Pa, dia menikah dengan Gio Zaron.”

“Bocah tengik itu? Pantas saja dia tidak bahagia,” geram Felix Alfedo.

“Aku akan membuat perhitungan dengannya,” tambah Felix.

“Jangan gegabah, Pa. Kita lakukan secara perlahan, yang terpenting saat ini sang putri akan kembali ke pelukan kita lagi.”

Oza menghela napas lega. Setidaknya proses persalinan Belinda lancar dan wanita yang dirinya cari sejak dua puluh tahun ini sudah ditemukan. Tugasnya sekarang adalah mencari orang yang dulu pernah menculik wanita itu. Ia sangat yakin jika Belinda masih berhubungan dengan mereka. Seorang Zaron tidak mungkin mempersunting wanita dari kalangan biasa saja. Hanya saja mendapati Belinda yang seorang diri di rumah tanpa terlihat satu orang pun yang menemani tak urung kembali membuat Oza berpikir. Sangat jelas Gio tidak mengurus adik angkatnya itu dengan baik.

Gio terbangun dan mematikan alarm pada gawainya. Menyingkirkan tangan lentik yang mendekap dadanya dengan erat dan kemudian bangkit berjalan menuju kamar mandi.

“Masih sangat pagi, kamu akan kembali?”

“Iya, perasaanku tidak enak.”

“Kalau begitu kembalilah berbaring dan aku akan melakukan sesuatu yang enak pada tubuhmu?” goda wanita bertubuh seksi tersebut.

“Tidak bisa, aku harus kembali.”

Tasia mendesah kecewa. Selalu seperti ini, kapan ia bisa memperoleh seluruh waktu pria tersebut. Hanya bisa mendekap tubuh gagah itu setiap malam saja tidaklah cukup. Ia ingin semuanya, waktu, tubuh, pikiran dan tentu saja materi yang berlimpah.

“Siapkan semua keperluan kita untuk ke Jepang dua hari lagi.”

“Sudah aku lakukan,” jawab Tasia seraya menyangga kepala dengan sebelah tangannya, tidur menyamping memperhatikan pria di depannya yang sedang memakai pakaiannya.

Tasia lantas bangkit dengan bertelanjang bulat dan membetulkan letak dasi prianya.

“Aku cukup baik, bukan? Aku tidak pernah meninggalkan jejak kepemilikan pada tubuhmu. Padahal kamu tahu aku sangat ingin sekali, supaya wanita bodoh itu tahu siapa pemilik hatimu yang sesungguhnya.”

“Dia tahu Sayang. Maka dari itu dia tidak pernah protes dengan diriku yang tidak pernah menghabiskan waktu di rumah,” kata Gio seraya mengusap lengan atas Tasia dan mencumbunya dengan mesra.

Gio lantas mengerutkan dahinya saat membaca pesan dari Belinda. Wanita itu melahirkan saat ini? Gio bahkan tidak tahu berapa usia kandungan Belinda, karena seingatnya satu minggu yang lalu wanita itu tampak masih lincah mengurus dirinya dan membersihkan rumah. Kandungan yang tidak begitu besar membuat Gio tidak terlalu memperhatikan hal itu, atau memang dia tidak pernah peduli dengan Belinda?

Gio mendesah, sebelum meraih tas kerjanya dan meraih mantel. Suhu di luar masih dingin sepagi ini ditambah dengan hujan yang masih mengguyur jalanan.

“Kamu tidak mau sarapan dulu. Morning sex mungkin?” goda Tasia mencoba mengulur waktu kepergian Gio.

Tasia sangat tidak suka jika pergi ke kantor sendirian, tanpa Gio di sisinya. Ia sudah terlalu biasa berada bersama dengan pria itu.

“Belinda melahirkan. Aku akan menengoknya terlebih dahulu. Kamu berangkatlah bekerja terlebih dahulu dan atur ulang jadwalku pagi ini, ya?” Gio meraih tengkuk Tasia yang merengut dan mengangguk ke arahnya.

Gio kembali memagutnya mesra sebelum sepenuhnya pergi dari rumah wanita itu. Gawainya kembali berbunyi satu pemberitahuan masuk. Foto Belinda yang diantarkan oleh seseorang ke rumah sakit kali ini menyita perhatian Gio.

“Untuk apa ada pria itu di sana? Apa mereka saling kenal?” gumam Gio pada dirinya sendiri.

Tanpa sadar Gio mengeratkan cengkraman jari jemarinya pada kemudi dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED