Bab 1

Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 07.20 pagi, Emily bergegas mempercepat langkahnya menuju kelas 1B, kelas pertamanya hari ketiga di SMA Siliwangi. Langkahnya dilanjutkan dengan berlari.

“GUBRAAAAAAK…” Suara pintu kelas memecahkan suasana.

“Nah, loh, lo, darimana Aja, Mil?” Tanya Diwi yang duduk paling depan bangku nomer dua, setengah berbisik.

Semua mata terbelalak. Pandangan mereka terarah pada Mily yang tergesa-gesa ketakutan. Guru yang sedang duduk dan fokus mengajar, tiba-tiba berdiri melangkah menuju Mily yang masih di depan pintu cengar-cengir tanpa doa. Eh, dosa. Raut muka guru itu berubah, seperti ada aura Iblis yang merasukinya. Sangat-sangat menakutkan, matanya mendelik dan hidungnya mengembang.

“AMPUUUUN….BUK, saya takut, saya khilaf, saya cantik!!” teriak Mily dengan menutup matanya.

“Huuss……” jari telunjuk bu Guru tepat pada bibirnya. “Sudah cepat duduk sana!” perintah bu Guru.

“Ngapain, lo, terlambat Mil. Ati-ati sama nilai lo, entar dikurangi, beehhh!!” tanya Lani yang duduk dibelakang Mily.

“Sudah, sudah, kita lanjut lagi ya.” Kata bu Guru.

Pelajaran yang sempat tertunda kemudian dilanjutkan kembali, hari ini jam pertama dibuka dengan pelajaran Sejarah, di depan sudah duduk Guru yang bernama bu Wayan. Salah satu Guru yang paling ditakuti murid-murid SMA Siliwangi. Ada beberapa sebab yang sangat mengerikan menurut mereka. Pertama, beliau paling tidak suka ada siswa perempuan rambutnya di cat. Kedua, beliau tidak suka ada murid memakai aksesoris berlebihan. Ketiga, sayang adek kakak. Eh, nggak ding. Ketiga, beliau paling tidak suka ada murid yang terlambat. Lalu, yang seterusnya masih banyak, capek gue jelasinnya. Intinya beliau adalah salah satu Guru yang sangat disiplin, tidak salah beliau ditunjuk sebagai Kepala Kesiswaan.

Gaya beliau yang khas, tegas, lugas dan sangat lantang dalam menyampaikan materi tentang Sejarah begitu mengagumkan. Tetapi semua itu tidak membawa Mily dan sahabat-sahabatnya untuk menyukai pelajaran Sejarah, mereka berpikir buat apa belajar tentang Sejarah. Sejarah ‘kan mengungkit masalalu. Masalalu untuk dilupain bukan untuk di ingat-ingat. Yaelah, Mil.

Yang terlihat dari arah depan, Mily, Diwi, dan Lani sudah sangat bosan dengan pelajaran Sejarah, padahal jam baru menunjukkan beberapa menit berlalu. Tampak Diwi hanya bertopang dagu, kemudian Lani cuma menguap-menguap beberapa kali, dan Mily sesekali jail ke Tari yang duduk disebelahnya.

Mereka berempat adalah satu geng yang dibentuk mulai SMP, mereka sudah berjanji untuk masuk SMA yang sama dengan alibi persahabatannya tidak boleh berakhir sampai Bapak-Ibu. Singkatnya, mereka sekarang duduk di kelas yang sama. Geng ini dibentuk mulai dari SMP kelas 1, yang awalnya dulu Mily pernah dilabrak oleh kakak kelasnya dengan tuduhan mencuri barang yang ada di tas kakak kelasnya, padahal itu memang sengaja dimasukkan ke tas Mily oleh murid laki-laki yang iseng. Melihat kejadian itu, Lani dan Tari bermaksud menolong Mily yang terkena tuduhan. Namun, Lani dan Tari merasa kurang power untuk melawan kakak-kakak kelasnya. Jadi mereka berdua memboking Diwi yang pada saat itu memang terkenal dengan sebutan jago pukul, itu turunan dari bapaknya yang juga terkenal sebagai pelatih pencak silat yang terbaik di desanya dan se SMP. Maka dari itu mereka kompak menolong Mily dengan bermodalkan Diwi sebagai tameng di depan.

Setelah kejadian tolong-menolong selesai, mereka akhirnya berkenalan satu sama lain, sampai mereka memutuskan untuk membentuk geng dengan alih-alih agar persahabatannya tetap awet. Geng terbentuk pas bertepatan dengan perlombaan sekolah atau class meeting. Lomba pada saat itu sepak bola. Nah, kemudian Mily nyeletuk Prit pelanggaran kepada salah satu murid yang menendang bola keluar lapangan. Tiba-tiba Lani juga nyeletuk nama gengnya.

“Eh, gimana kalo nama geng kita ada kata-kata Pritnya?” saran Lani kepada ketiga anak SMP itu.

“Prit, gimana, Lan? tanya Tari.

Sedangkan Diwi hanya diam saja, memandangi ketiga temannya merumuskan nama gengnya. Diwi memang cewek yang tidak banyak omong, dia kalo ngomong seperlunya saja.

Tari juga menyarankan untuk nama gengnya, “Gimana kalo Prit, prit, gitu?”

“Apaan sih lo, Tar!!” sahut Lani.

“Begini anak cantik!” kata Tari memandang wajah Lani yang ada di dekatnya. “Nama kita kalo, Prit-Prit Can, gimana?”

“Prit-Prit punya arti Prit itu kita simpulin sebagai berhenti atau stop seperti peluit sepak bola yang tadi berbunyi, terus kalo can itu penggalan dari kata cantik. Kita ‘kan emang cantik-cantik to!” imbuh Tari memperjelas nama gengnya.

“Emm, boleh juga tuh.” kata Diwi yang daritadi belum ada ngomong sama sekali.

“Kalo, gue, sih yes.” imbuh Mily, “Gimana, Lan, menurut lo? Tanya Mily ke Lani yang sepertinya raut wajahnya menunjukkan rasa setuju.

“Fix, mantap. Duh, Tari emang pinter deh. Udah pinter, cantik, imut.” Lani nyerocos, untung saja air liurnya tidak muncrat-muncrat.

“Diem, lo.” Sahut Tari. “Oke ya, jadi mulai sekarang, tanggal 22 Juni jam 10.15 WIB, hari selasa, kita semua tergabung di geng dengan nama Prit-prit Can.” Tari menjelaskan kepada ketiga sahabatnya dan diteruskan dengan anggukan setuju dari ketiga sahabatnya.

Mereka pun berkumpul membentuk lingkaran dan mengedepankan tangan kanan masing-masing dan bersorak yel-yel yang dibuat dadakan oleh Mily.

Semenjak hari itu mereka berempat kemana-kemana bareng, mulai dari mengikuti ekstrakulikuler yang sama, kelas yang sama hingga lulus SMP, juga masuk ke SMA yang sama tepatnya di SMA Siliwangi.

Cerita mereka berlanjut di SMA Siliwangi, salah satu sekolah unggulan yang ada di Kota. Yang tiap tahunnya selalu naik angka murid yang daftar disana. SMA Siliwangi itu selain terkenal dengan olahraganya, disana juga terkenal dengan sekolahannya yang sangat luas. SMA Siliwangi sering sekali merebut juara 3 besar untuk olahraga Volly-nya karena notabene murid-muridnya hobby dan sebagian ada yang ikut tim-tim Volly diluar sekolahan.

Mily, Lani, Diwi, dan Tari juga tergabung dengan tim bola Volly cewek sewaktu di SMP. Karena kebetulan ayah Lani ikut dalam tim Volly di rumahnya, jadi kadang kalau berkunjung kerumah Lani, mereka bertiga juga diajak berlatih Volly dilapangan sebelah rumah Lani. Ayah Lani juga seringkali mengikuti Tournament-tournament antar wilayah, beliau juga pernah sesekali diajak hingga ke pertandingan Kabupaten.

Maka dari itu, mereka berempat memutuskan untuk ikut berlatih Volly. Itu semua bukan secara paksaan, mereka memang sangat menyukai olahraga Volly dan mereka diuntungkan dengan postur tubuh yang tinggi-tinggi. Apalagi Lani, dia sangat persis ayahnya, mulai dari tingginya, cara berjalannya, sampai-sampai gaya bermainnya juga hampir sama sama.

Persahabatan yang baik adalah persabahatan yang saling support, tidak membatasi dalam perhatian, tidak memberhentikan masukan demi keangkuhan. Buang jauh-jauh keegoisan agar tercipta sebuah keharmonisan. Persahabatan yang Indah adalah menemani dikala susah dan senang, merangkul disaat sedang dihujani kesedihan dan bersama-sama mencari jalan keluar untuk sebuah kebahagiaan.

Bab 2

Setelah pelajaran Sejarah yang menurut geng Prit Prit Can sangat membosankan, kini tiba waktunya untuk pendidikan Jasmani. Waktu yang paling ditunggu-tunggu mereka berempat. Selain pelajaran yang menyenangkan, pendidikan Jasmani juga menyuguhkan pemandangan-pemandangan yang mampu untuk mencuci mata mereka. Banyak kakak kelas yang ganteng-ganteng dan keren-keren sedang olahraga di lapangan. Seperti, main basket dan Volly ataupun sejenisnya.

Hal ini yang sangat disukai Lani dan ketiga sahabatnya. Di depan pintu kamar mandi Diwi sibuk mengikat rambutnya dengan satu karet, sedang Tari sudah siap daritadi tetapi dia duduk-dudukan di sebelah kamar mandi sambil menunggu kedua sahabatnya yang masih berganti pakaian. Diwi dan Tari bersenda gurau menghabiskan waktu itu. Tidak selang beberapa menit, mereka berempat sudah selesai berganti pakaian. Lalu, menujulah mereka berempat ke tengah lapangan setelah menaruh pakaian hari Rabu yang mereka kenakan karena beberapa teman-temannya sudah bersiap untuk pemanasan sebelum melakukan kegiatan olahraga.

“Duuuk.”

“Akh.”

Ada bola Volly terbang tepat mengenai kepala Mily. Entah, siapa yang melempar. Sahabat-sahabatnya kebingungan dan menoleh sekeliling mencari tau dari mana bola itu berasal. Mereka tidak berhasil menemukan. Smashan bola Volly itu tidak main-main, sangat keras hingga membuat Mily terjatuh dan pingsan. Sontak semua murid mengalihkan pandangannya ke Mily dan berniat membantu membawanya ke UKS.

Dia, Emily Hayu Baskoro. Cewek kelas satu yang tergabung dalam geng Prit Prit Can tengah terbaring lemah di ruang UKS. Tubuhnya yang kurus membuatnya sedikit terpental setelah terkena bola Volly.

Sampai saat ini yang melempar smashan tadi hingga selesai jam olahrga belum juga ditemukan, sahabat-sahabat Mily sudah naik podium, eh. naik darah ding. Mereka bersumpah tidak akan memaafkan orang yang melempar bola ke kepala Mily.

“Siapa sih tadi yang ngelempar, lo, tau kagak, Lan, Tar?” Tanya Diwi pada kedua sahabatnya, mereka semua berkumpul di ruang UKS untuk menemani Mily yang belum siuman.

“Mungkin kakak kelas kita yang ganteng, cool, keren. Terus-terus, habis ini dia nolongi Mily pake kecupan hangat di kening, uucchh..ucchhh, so sweet.” ucap Lani kelakuannya tidak jauh-jauh dari rasa humor yang tinggi, tidak mengenal tempat dan kondisi.

“Diem, mulut, lo, tuh cium pasti bau bangkai, Lan.” ketus Diwi, “Kita harus nyari tau ini ke kakak kelas yang olahraga tadi!” selidik Diwi.

“Yuukk, yuuuuukkkk, caapcuuuuus.” Lani nyerocos.

“Sekali lagi, mulut, lo, nggak bisa diem, gue sumpel pake kaos kaki, Mily, Lan.” sahut Diwi bola matanya membulat.

Disaat mereka bertiga merencanakan sesuatu untuk mencari siapa gerangan yang melempar bola dan belum meminta maaf sampai sekarang. Tiba-tiba Mily membuka matanya dan memanggil nama mereka bertiga.

“Eh, Mily, bangun.” kata Lani.

“Gimana keadaan, lo, Mil. Masih pusing atau gimana? Atau kita bawa ke puskesmas, biar diperiksa?” Tari mengusap rambut Mily yang menutupi keringat.

“Ee-e nggak usah, Tar. Gue udah baikan.” Ucap Mily, “Udah, sekarang, lo, lo, pada masuk ke kelas, sekarang ‘kan udah mulai jam pelajaran Matematika! Perintah Mily.

Lani berjalan menuju Mily setelah mengambilkan air minum, “Oh, iya, sekarang waktunya Pak Munawar. Kalo kita nggak masuk, abis kita entar.”

“Bolos aja sekali-sekali.” Sahut Diwi.

“Eh, jangan dong. Kita harus menjadi murid yang teladan dan berbakti kepada Guru. Biar bagaimanapun kita butuh beliau-beliau.” Tari memberikan wejangan.

“Bacot.” Tutup percakapan dari Diwi.

“Udah, cepet kalian masuk kelas, guys.” Ucap Mily kepada ketiga sahabatnya itu.

“Udah, ayoook, gue takut kena marah.” Kata Lani dengan menggandeng kedua tangan temannya dan berucap hati-hati kepada Mily.

Berlalulah ketiga teman Mily, kini Mily seorang diri di ruang UKS. Keadaan kepalanya masih pusing, sesekali dia memijatnya pelan-pelan agar tidak terlalu sakit. Dia tidur terlentang dengan kepala menatap keatas, banyak sekali yang dia pikirkan. Terutama siapa yang melemparnya dan tidak minta maaf. Sebenarnya tidak apa-apa batinnya, walaupun tidak meminta maaf tetapi Mily begitu penasaran. Apa salah Mily sampai ada yang melempar dengan bola Volly begitu keras hingga pingsan. Di dalam hati, dia berniat mencari orang itu, untuk menanyakan maksudnya melempar bola. Dia sengaja atau tidak, itu yang terngiang-ngiang di pikiran Mily atau mungkin juga ketiga sahabatnya.

Jam istirahat, Mily berniat kembali ke kelas, di ruang UKS dia menyempatkan merebahkan tubuh agar saat bangun nanti sudah enakan dan tidak pusing lagi. Karena Mily pingsannya lumayan cukup lama. Dia pun juga tidak memberi kabar orangtuanya, takutnya mereka bergegas ke sekolah dan menjemput dia untuk pulang.

“Permisi!” suara serak digaungkan dari balik pintu UKS. Samar-samar terlihat bayangan seseorang.

“Ya, siapa?” Tanya Mily dengan suara lirih.

“Boleh masuk?”

Tap!

Tap!

Suara sepatu berjalan menuju Mily, belum dipersilakan masuk. Dia menerobos begitu saja tanpa rasa sungkan.

“Siapa, lo?” Tanya Mily.

“Gimana keadaan kepala, lo?” Tanya balik dari seorang laki-laki bertubuh tinggi dan bersuara serak-serak becek.

“Lo, siapa, gue, nggak kenal, lo!!! Suara Mily menunjukkan ketidaknyamanan. Dia sedikit menjauhkan tubuhnya.

“Nggak usah banyak tanya, sekarang gue mau mastiin kepala, lo, yang kelempar bola Volly tadi. Lo, alesan aja ‘kan tadi biar semua temen-temen, lo, pada perhatian.” Kata laki-laki itu, menuduh Mily. Kini dia berada dekat sekali dengan Mily.

“Lo, ini siapa, datang-datang ngomong nggak jelas, haissh…..” Mulut Mily mengerucut.

“Argan. Kenalin gue Kana Bagas Arganta, jelas?” Argan menatap Mata Mily tajam-tajam sambil memberikan tangan kanannya.

Mily memalingkan wajah, “Terus ngapain, lo, kesini?” Tanya Mily sekali lagi.

“Udah, ya, gue cabut dulu. Tuh kepala, udah baik-baik ‘kan.” setelah berucap, Laki-laki itu pergi meninggalkan Mily begitu saja.

“Wiiiihh, setan, kagak minta maap, kagak bawain makanan, apaan kek gitu.” Batin Mily sebal.

Setelah Argan pergi menjauh dari hadapan Mily. Dia kembali merebahkan tubuhnya. Lagi asik-asiknya menikmati kenyamanan yang hakiki ada saja pengganggu datang secara tiba-tiba. Mily memposisikan lagi bantal yang dia pakai, wajahnya kembali menatap ke atas, matanya sedikit-sedikit dipejamkan. Namun, secara tidak langsung, bibirnya tersenyum tipis gara-gara tingkah laki-laki tadi alias Kana Bagas Arganta. Ada apa dengan pikiran Mily?

Jam bel pun berbunyi, baru beberapa detik menutup mata, mily kembali terganggu. Dia menggerutu kepada bantal yang ada disampingnya. Sekarang waktu rebahannya sudah habis, dia harus kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Pelajaran Matematika tadi, dia sudah di izinkan tidak mengikuti karena masih sakit di UKS. Setelah merapikan tempat tidur di UKS, dia bangkit dari UKS dan kembali menuju kelasnya. Senyum tipis tadi masih belum lenyap, yang ada dia malah cengar-cengir tidak jelas. Sakit kepalanya sudah tidak dirasakan, dia malah merasakan yang lain!

Bab 3

“Duuuuaaarrr…

Mily mengagetkan Lani yang duduk disebelah pintu kelas, dia menghadap membelakangi pintu. Sedang enak-enaknya ngegibah dengan sahabat-sahabatnya.

“Badak, lo.” Mulut Lani sontak berucap yang tidak jelas artinya.

“Udah sembuh, lo, Mil? Tanya Diwi.

“Udah dong, udah baikan nih.” hehehe, “Kok nggak pada ke kantin nih?” tanya Mily kepada tiga sahabatnya.

Terlihat Tari sibuk mengerjakan tugas yang diberikan pak Munawar barusan, selain paling rajin, Tari juga sangat menyukai pelajaran Matematika. Berbeda 180% dengan ketiga sahabatnya. Yang sangat anti Matematika, sejarah, dan ada beberapa mata pelajaran lainnya. Niat sekolah apa kagak sih?

Lagi serius-seriusnya mengerjakan tugas, Tari dihampiri oleh Mily yang membawa tipe x. Digenggamnya benda itu kemudian dibubuhkan pada buku Tari secara acak, tulisan Tari yang semula sudah rapi, ciamik, aduhai, lalalala. Kini rusak karena bekas coretan benda itu yang dibubuhkan ngawur.

“Apaan, sih, lo, Aseeem!! ucap Tari sembari melayangkan pukulan ringan ke tangan Mily.

“Ih, sukurin…weeeeek.” bukannya kesakitan, Mily malah tambah mengejek sahabatnya itu.

Kedua sahabatnya juga tertawa ringan melihat tingkah laku Tari dan Mily. Ada saja kelucuan-kelucuan yang mereka ciptakan. Persahabatan mereka harmonis. Ada tawa, ada perhatian, ada duka, ada-ada saja. Jika salah satu dari mereka mengalami kesusahan ataupun rasa sakit. Yang lain tidak akan tinggal diam, pasti mereka berusaha melindungi, berusaha menjadi yang terdepan untuk menolong. Seperti halnya, peristiwa tadi sewaktu Mily pingsan gara-gara smashan bola Volly. Lani, Belani Dewi Atmojo, yang notabene jago pencak silat, bersikeras untuk mencari siapa yang melempar. Sampai-sampai sahabatnya yang tak lain dan tak bukan, Diwi dan Tari juga bersumpah tidak akan memaafkan pelakunya jika sampai ketemu.

Begitulah perhatian-perhatian yang mereka ciptakan. Susah senang, mereka sudah patenkan untuk selalu ada saat dibutuhkan. Tawa dan tangis, sudah seringkali mereka dapatkan. Adapun, dengan rangkulan, satu per satu masalah mereka terbinasakan.

Ada raut wajah bahagia yang dipancarkan Mily, sewaktu datang dari UKS, senyum merekah ditampilkan kepada sahabat-sahabatnya.

“Lo, kenapa, Mil, girang banget, dasar bocah tengik?” selidik Lani yang Mily kagetkan tadi.

“Ih, biasa aja tuh, gue.” Mily menjawab dengan bibir menyuncup.

“Gue, mencium bau-bau tidak seperti biasanya, cepet, lo, jujur, habis ngapain, lo, di UKS tadi?” gini giliran Tari yang memastikan.

“SUMPAH, gue, biasa aja, tetep sama. Tetep Emily Hayu Baskoro, yang kalian kenal.” Hahaha.

Diwi tetap dengan ciri khasnya, diam, menyaksikan sahabat-sahabatnya bencengkrama. Sesaat kemudian, dia beranjak dari bangkunya, menghampiri Mily yang masih berdiri di depan Tari. Dari belakang, kerah baju Mily di jinjingnya, lalu disuruh duduk tepat didepannya.

“Ngaku nggak, lo! Perintah Diwi, kaki kanannya diangkat dan dipinjakkan dikursi tempat duduk Mily, dia bergaya seperti seorang detektif yang mencari informasi.

“Tuh, liat, Diwi, guys. Uuccch…., cantik banget kalo udah bergaya.” Lani menimpali pujian dengan tertawa kecil. Kali ini Diwi tidak menggubris pujian Lani. Dia tetap pada posisinya.

“Okkeeeeh, gue, mau jujur. Tapi singkirin dulu kaki, lo, yang bau petis ini.” Sekarang gantian Mily menimpali Diwi dengan ejekan.

“Congooooor, lo, amis.” Tangan kanan Diwi mencubit pipi Mily.

Saat itu juga Mily bercerita panjang kali lebar kali tinggi pada ketiga sahabatnya. Bahwa, setelah ditinggal sendirian di ruang UKS. Tidak selang beberapa lama, Mily di hampiri laki-laki yang sepertinya itu kakak kelas mereka. Ketiga sahabatnya kali ini lebih antusias. Lani menarik bangkunya mendekat ke Mily, Tari juga demikian, Diwi tidak berubah posisi. Mereka memandangi Mily girang. Mendengarkan cerita Mily yang sepertinya menarik untuk di dengar dan dihayati. Tidak di lebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi. Mily jujur apa adanya kepada ketiga sahabatnya.

Sampai pada inti cerita, Mily tidak luput sedikitpun karena memang ingatannya masih kuat. Disamping baru saja dialami, Mily juga bahagia ketemu dengan laki-laki tersebut walaupun kesan pertamanya menyebalkan.

Terkadang, setiap manusia membawa kesannya masing-masing. Entah baik, entah buruk, ataupun menyebalkan. Kesan pertama adalah kesan yang manis. Seperti Jus Boba rasa taro dicampur dengan susu kental dan misis warna-warni. Ah, membahagiakan.

Mily terus melanjutkan ceritanya, mereka duduk dan terpaku dengan cerita Mily. Hingga Mily belum selesai cerita. Sahabatnya tiba-tiba menyimpulkan sendiri-sendiri tentang kejadian yang dialami Mily.

“Ah, Mily, bikin ngiri, gue. Gue mau dong.” ucap Lani dengan kedua tangan menghimpit tubuhnya yang kecil dan memasang wajah yang paling manis.

“Nganan, aja, lo.” Ketus Diwi ke Lani. “Gue, nggak terima kalo dia tiba-tiba ninggalin, Mily, begitu aja. Dikira, Mily, nggak butuh bantuan atau sekedar minta maaf. Songong banget jadi cowok,” Diwi memuncak, kali ini dia tidak mau tinggal diam. “Siapa yang mau ikut, gue, ngelabrak tuh, cowok. Biar bacotnya nggak asal-asalan. Enak aja, main tinggal gitu aja, shiitt.” Diwi berdiri dan ingin melangkah keluar kelas, tetapi ketiga temannya melarang, tangannya diraih Mily. Pertanda untuk menyuruh duduk kembali.

“Betul kata, lo, Diw. Kita harus ke cowok itu. But jangan buru-buru. Kita main aman aja. Kita masih baru disini. Takutnya entar kalo kita gegabah, yang ada kita malah runyam sendiri.” Tari memberikan opsi.

“AAAAHH…, Lama, lo, lo, semua. Udah biar, gue, sendiri yang kesana.” genggaman Mily kali ini terlepas, hati Diwi sudah membeku, bongkahannya keras sekali. Tidak ada yang bisa membendung ataupun menghancurkan.

“Diwiiiii, jangan, tunggu, gue.” teriak Lani memperingatkan sahabatnya.

Diwi berjalan keras keluar kelas, matanya mengelilingi setiap laki-laki yang dia temui dan sesekali bertanya kepada Mily yang sedari tadi mengekor.

“Lo, diem, aja, Mil.” Tegas Diwi, kali ini Mily hanya diam dan terus menjadi ekor.

Diwi tetap berjalan, memasuki satu per satu kelas 3, yang sepengetahuan Mily bahwa Argan adalah kakak kelas mereka. Mulai dari kelas Bahasa Indonesia, IPA, hingga kelas paling garang yaitu IPS. Mereka sempat dipelototin kakak kelas mereka yang cewek-cewek, tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah Diwi dan ketiga sahabatnya.

Mereka masih belum menemukan yang mereka cari, hingga terakhir masuk ke dalam kantin. Matanya berputar mengelilingi sudut-sudut kantin, beberapa laki-laki dicermati sampai detail. Kemudian, yang mereka cari sepertinya ada di depan meja kantin bagian tengah, dia membelakangi mereka berempat.

“Eh, elo, kampreet….” Ucap Diwi menarik bahu laki-laki itu. “Wih, maaf, Pak. Saya salah orang.” Ternyata Guru bahasa Indonesia. Hahaha, sorry, bercanda.

“Eh, elo, lo, Argan ‘kan?” tanya Diwi menarik bahu laki-laki itu dan kemudian Argan menoleh ke Diwi.

“Jawaaaaab, elo, Argan, ‘kan?” sekali lagi Diwi bertanya dengan ucapan sedikit diperkeras.

“Ya.” Argan kembali membalikkan badan dan menyeruput es yang ada dihadapannya.

Sekarang Diwi duduk pas di depan Argan, dia menatap matanya tajam. Namun, Argan tidak menggubris, dia tetap santai tanpa merasa terusik.

Sedangkan ketiga sahabatnya masih berdiri dibelakang Argan. Diwi melambaikan tangannya untuk menyuruh mereka duduk disebelahnya.

“Uuuchh, Mily, ganteng banget, kak Argan!” bisik Lani tepat di telinga Mily. “Mau, dong, kenalin, gue.” Hehehe. Lani malah cengar-cengir padahal situasi sedang memanas.

Dari sudut-sudut kantin, dari kursi-kursi tempat mereka melepas dahaga. Semua mata tertuju kepada mereka berempat. Tak luput Argan juga jadi pusat perhatian karena dilabrak adek kelasnya.

Banyak pasang mata yang menyaksikan dan banyak bibir yang memberikan beberapa pertanyaan. “Ada apa dan mengapa?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED