Di sebuah rumah sederhana nan nyaman, pepohonan hijau rindang dan bunga-bunga warna-warni menghiasi halaman depan. Terletak di pinggiran kota, rumah itu tampak asri-tempat penuh kedamaian untuk sebuah keluarga kecil.
"Aish, Kakak curang! Kakak sudah jauh, pion Fio malah terus turun!" seru Fiona dengan nada kesal.
"Itu karena Kakak pintar," sahut Fillio dengan bangga, hidungnya terangkat sedikit.
"Narsis!" Fiona mencibir, tangannya menyilang di dada.
"Kenapa pion Fio selalu dimakan ular, sih? Ihh, sebel!" protesnya lagi.
"Mungkin ularnya suka sama Fio."
"Ihh, amit-amit! Fio takut sama ular. Kalo kucing Fio suka," katanya dengan lidah cadel yang mengundang senyum.
"Suka Fio, bukan cuka," koreksi sang kakak dengan tegas.
"Ihh, Kakak! Terserah Fio dong mau bilang apa!"
Dari dapur, Freya hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil mendengar celoteh si kembar. Tangannya sibuk menyiapkan camilan dan dua gelas susu hangat untuk buah hatinya.
Freya Amalia. Seorang ibu muda berusia awal dua puluhan, dengan tinggi sekitar 160 cm, bermata cokelat hangat, dan rambut panjang yang selalu ia ikat kuda saat di rumah. Wajahnya manis, begitu memesona hingga tetangga dan teman kerjanya sering menjulukinya "Barfien"-karena wajahnya mirip dengan aktris ternama Thailand.
"Ayo, sayang, istirahat dulu. Minum susu dan makan camilan, ya," ucap Freya lembut sambil meletakkan nampan di meja.
"Yee... minum susu!" seru Fiona, langsung berlari menyambut.
"Hey, bantuin Kakak beresin dulu mainannya, dong!" panggil Fillio sambil menatap adiknya yang kabur begitu saja.
"Kakak sendiri aja deh! Fio mau minum susu!" jawab Fiona sembari nyengir, suara cadelnya membuat Freya tertawa kecil.
"Fiona, nggak boleh gitu, Sayang. Tadi kan mainnya berdua. Sekarang beresinnya juga harus sama-sama, ya."
"Tapi Fio udah haus, Mom..."
"Bantu Kakak dulu sebentar, baru kita minum susu bareng. Oke?"
Fiona menatap Freya, lalu mengangguk pelan. "Oke deh, Mom..."
Freya selalu berusaha adil. Meskipun kadang si kembar bertengkar atau menangis, ia tak pernah lelah menjadi penengah yang sabar. Mungkin capek, mungkin pusing, apalagi menghadapi Fiona yang selalu aktif, tapi kasih sayangnya tak pernah berkurang.
Si kembar adalah segalanya.
Untuk mereka, Freya rela melakukan apa saja-asal tetap di jalan yang benar. Ia bekerja di minimarket dekat rumah dan kadang menerima jasa mencuci pakaian tetangga untuk menambah penghasilan.
"Cuci tangan dulu, baru kembali ke sini ya," titah Freya, dan si kembar langsung menurut.
Fillio membiarkan adiknya lebih dulu ke arah Freya. Meski sering menggoda Fiona, Fillio sangat menyayangi adiknya. Jika Fiona dijahili anak tetangga, ia yang paling dulu maju membela.
Fillio, bocah empat tahun yang cerdas, cenderung tenang dan serius. Tapi jika bersama Freya dan Fiona, sisi hangatnya muncul. Ia juga cepat tanggap-kadang membuat Freya kewalahan menjawab semua pertanyaannya. Bahkan, ia sudah lihai memainkan ponsel ibunya.
Berbeda dengan Fillio, Fiona masih terbata menyebut beberapa huruf. Tapi justru itu yang membuatnya semakin menggemaskan. Meskipun sering jadi bahan godaan sang Kakak, Fiona tak pernah menyerah.
Setelah beres-beres, mereka duduk bersama menikmati camilan dan susu sambil menonton kartun favorit: Upin & Ipin.
"Mom... kapan kita jalan-jalan seperti Upin dan Ipin?" tanya Fiona sambil menatap TV.
"Kapan-kapan, ya Sayang. Sekarang belum ada pasar malam. Nanti kalau ada, Mommy pasti ajak kalian."
"Oh, gitu ya Mom..." Fiona mengangguk kecil.
"Mom," panggil Fillio, "Lio pernah lihat di TV, ada tempat bermain yang rame banget, banyak permainannya... apa ya namanya? Lio lupa."
"Seperti apa tempatnya?" tanya Freya, berusaha menebak.
"Ada yang naik turun, orang-orang pada teriak... kayak gini." Ia menggambarkan gerakan dengan tangannya.
"Ada juga yang seperti kapal... terus masuk gua..." lanjutnya dengan ekspresi serius.
Freya mengerutkan dahi. "Hmm... maksud Lio mungkin... Dufan?"
"Iya! Itu Mom! Dufan! Lio mau ke sana, boleh ya Mom?"
"Boleh, Sayang. Kapan-kapan kita ke sana, ya. Nanti Mommy ajak Mami Maret juga."
"Yay!" Fillio langsung bersorak girang.
"Mom, kenapa Mami Maret nggak ke sini hari ini?" tanya Fiona sebelum menyantap camilannya.
"Mungkin Mami Maret sedang sibuk, Sayang. Tapi nanti pasti-"
"Hai... hai... hai!"
"Hai... hai... hai!" Seorang wanita cantik berambut panjang masuk ke rumah sambil menenteng dua kantong kresek besar. Senyumnya lebar, matanya bersinar hangat, seolah membawa matahari masuk ke dalam rumah.
Fillo dan Fiona langsung melompat dari sofa begitu mendengar suara itu. Bahkan kartun kesukaan mereka yang sedang tayang pun terlupakan seketika.
"Mami Maret!" teriak Fiona penuh semangat.
Margaret William, perempuan keturunan Inggris berusia 26 tahun, adalah sosok yang tak tergantikan bagi mereka. Maret - begitu si kembar memanggilnya - adalah mama baptis mereka, sahabat sejati Freya, dan tempat mereka menggantungkan banyak cinta.
Margaret bukan hanya seorang sahabat, tapi keluarga. Sejak Freya menemukan Margaret dalam keadaan terluka di jalanan beberapa tahun lalu, mereka hidup bersama, saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh orang-orang terkasih.
"Mami kangen kalian," ucap Maret, membungkuk agar sejajar dengan si kembar lalu memeluk keduanya erat-erat.
"Fiona juga kangen Mami Maret!" sahut Fiona riang.
"Fillo juga!" timpal Fillio dengan suara tak kalah antusias.
Maret tersenyum, gemas melihat mereka bergelayut manja padanya. Freya yang menyaksikan momen itu dari kejauhan ikut tersenyum, hatinya hangat.
"Taraaa..." Maret mengangkat kantong kresek yang dibawanya.
"Itu apa, Mi?" tanya Fiona penuh rasa ingin tahu.
"Mainan untuk Fiona dan Fillio," jawab Maret sambil menyerahkan masing-masing satu kantong kepada mereka.
Teriakan gembira pun pecah saat isi kantong dibuka.
"Yeah! Barbie!" Fiona melompat kegirangan, memeluk boneka barunya. "Makasih Mami Maret! Fiona suka banget!"
"Sama-sama, sayang." Maret membelai rambut Fiona dengan lembut.
"Makasih, Mami. Fillio juga suka pesawatnya," kata Fillio tak mau kalah. Maret kembali membalas dengan pelukan hangat.
"Sekarang kalian main dulu, ya. Mami mau bicara sama Mommy Freya," pintanya.
"Ok, Mi!" jawab mereka kompak.
Begitu anak-anak sibuk dengan mainannya, Maret duduk di samping Freya.
"Kamu itu enggak pernah kapok beliin mainan buat mereka," tegur Freya lembut sambil menahan tawa.
"Yang penting mereka bahagia," jawab Maret santai sambil mengambil camilan di meja. Freya hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya itu.
Lalu Maret menatap Freya, serius. "Fre... sepertinya kita harus pindah."
Freya menoleh. "Pindah?"
"Aku diterima kerja di perusahaan besar, di pusat kota. Maaf, Fre... kita harus pindah ke sana."
Senyum kecil muncul di wajah Freya. "Selamat, Ret. Akhirnya impianmu tercapai."
"Tapi... kamu enggak apa-apa kan kalau kita pindah ke kota?" Maret menatap Freya dengan cemas.
Freya tak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke si kembar. Wajahnya berubah murung. Ada luka lama yang belum sembuh, dan kota menyimpan banyak kenangan pahit baginya.
"Aku trauma dengan kota itu. Tapi... aku tak bisa menjadi penghalang impian Maret. Dia pasti tak akan tega meninggalkan kami. Aku tak ingin menjadi beban."
"Fre?" panggil Maret pelan.
Freya terperanjat dari lamunannya. "Iya, aku dengar."
"Setelah pindah, si kembar bisa langsung aku daftarin ke preschool dekat kantor. Gimana?"
Butuh waktu bagi Freya untuk menenangkan pikirannya. Ia tahu Maret tahu luka yang selama ini ia simpan. Tapi pada akhirnya, ia mengangguk.
Maret tersenyum lega dan langsung memeluk Freya erat. "Terima kasih..."
"Semoga ini keputusan yang terbaik," batin Freya.
"Aku akan membantumu menemukan Daddy si kembar. Aku tahu kau membencinya... tapi aku percaya, suatu hari kalian akan butuh dia. Aku akan mencari kebenaran, meski semuanya masih abu-abu," batin Maret.
Malamnya, setelah mengganti pakaian tidur si kembar, Freya membaringkan mereka di tempat tidur. Tangan lembutnya menepuk-nepuk bokong Fiona seperti kebiasaannya tiap malam.
"Fillio, Fiona... lusa kita akan pindah ke kota, ya, Sayang."
"Kenapa kita pindah, Mom?" tanya Fillio yang masih belum mengantuk.
"Karena Mami Maret dapat pekerjaan baru, dan Mommy ingin kita selalu bersama."
"Terus, kita enggak bakal balik ke sini lagi?" tanya Fillio lagi. Fiona hanya mendengar lirih, matanya sudah sayu, nyaris terpejam.
"Entahlah, Sayang. Mungkin sesekali kita akan datang kalau merindukan rumah ini."
Freya menatap langit-langit. Ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini tempat perlindungannya, tempat ia membesarkan anak-anaknya, tempat ia jatuh berkali-kali lalu bangkit sendiri.
Rumah yang menjadi saksi bisu luka yang mendalam. Rumah yang menyelamatkannya saat dunia mengusirnya karena kehamilannya yang tak diketahui asalnya. Rumah tempat ia merintih, menangis, berdoa, dan membangun keberanian baru dari serpihan hidup yang hancur.
"Apakah aku akan bertemu pria itu lagi? Tapi... bagaimana bisa? Aku bahkan tak tahu siapa dia. Aku bahkan tak tahu wajahnya."
Freya menggeleng frustasi, menolak harapan yang perlahan tumbuh di hatinya. Ia benci perasaan itu.
"Tidak! Aku tak boleh berharap dia akan muncul. Aku tidak selemah itu."
Kenangan pahit menyergapnya. Malam-malam panjang saat ia mengandung, sendiri, bertarung dengan rasa sakit dan kerinduan pada aroma tubuh asing yang tertinggal di kepalanya. Betapa ia pernah mencari aroma itu di antara rak-rak supermarket, berharap menemukan sesuatu yang bisa menghapus dahaganya akan pelukan.
Ia begitu tersiksa. Sendiri. Tanpa orang tua. Tanpa kekasih. Tanpa dukungan. Bahkan, terkadang ia pernah memukul perutnya sendiri karena terlalu marah dan kecewa.
Tapi semua penderitaan itu perlahan memudar saat ia mendengar tangis pertama bayi kembarnya. Dua makhluk mungil yang kini menjadi nyawanya. Mereka adalah alasannya bertahan. Mereka adalah penyembuh.
Freya menatap kedua anaknya yang telah terlelap, lalu meraih kalung yang tergantung di lehernya. Ia menggenggam erat liontin kecil di sana - sebuah cincin perak dengan inisial "V" terukir di bagian dalamnya.
Satu-satunya benda yang ia temukan di tempat kejadian itu.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Cuaca terik menyambut perjalanan awal mereka. Di dalam mobil merah milik Maret, Freya dan si kembar duduk rapi sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan menuju ibu kota. Kota baru yang kelak akan menjadi tempat mereka memulai hidup dari lembaran yang berbeda.
Fiona, si gadis kecil yang cerewet itu, tak henti-hentinya berceloteh sejak mobil meninggalkan halaman rumah. Sesekali ia bernyanyi dengan suara cadelnya yang khas.
"Naik keteta api, tut... tut... tut... siapa hendak tulun... ke Bandung, Surabaya... ayo kawanku lekas naik... keteta ku tak bethenti lama... hore!"
Tepuk tangan meriah pun terdengar dari Fiona dan Freya, yang kompak mengikuti irama lagu. Maret ikut tertawa dari kursi kemudi, sementara Fillio hanya menatap keluar jendela, mengamati gedung-gedung tinggi yang mulai menjulang dari kejauhan.
"Mommy, Fiona lapar..." keluhnya sambil memegangi perut.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai di restoran," jawab Maret, melirik dari spion tengah dengan senyum lembut.
"Restoran? Apa itu... retoran?" tanya Fiona sambil memiringkan kepala, penasaran.
"Restoran, Sayang. Itu tempat orang-orang makan. Banyak makanan enak di sana," jawab Freya, sambil mengusap rambut anak perempuannya yang sudah mulai terlihat lelah.
"Ohh... jadi banyak makanan ya di sana? Banyak orang juga?"
"Iya, banyak yang datang buat makan atau sekadar minum. Tapi tenang saja, Mommy dan Mami ada di samping Fiona, nggak usah takut," kata Freya menenangkan.
Beberapa saat kemudian, mobil Maret memasuki pelataran parkir sebuah restoran mewah di jantung kota. Restoran itu luas, dengan interior berkelas yang membuat mata Fiona dan Fillio membulat kagum.
"Mommy... tempat ini cantik sekali! Tapi pasti mahal, ya?" tanya Fillio polos, sambil membuka maskernya.
"Iya Ret, harusnya kita cari tempat makan yang lebih sederhana," ujar Freya lirih, merasa tak enak hati.
Maret terkekeh pelan. "Tenang saja. Uangnya masih cukup, kok. Hari ini kalian bebas pesan apa saja. Anggap saja ini pesta kecil untuk menyambut rumah baru kita."
Senyum Maret yang tulus dan hangat itu tanpa disadari menarik perhatian seorang pria muda yang duduk di meja seberang. Ia menghentikan aktivitas makannya, menatap ke arah Maret dengan penuh takjub. Tangannya bahkan menjatuhkan sendok secara tak sengaja.
"I love her smile... she is beautiful," gumamnya lirih.
Sahabatnya yang duduk berhadapan mengangkat alis, lalu menoleh ke arah yang sama.
"Bro, sadar. Itu wanita punya anak, lho. Bahkan dua. Fokus!"
"Aku hanya bilang aku suka senyumnya. Bukan berarti aku mau memilik-"
"Terserah deh!"
Percakapan mereka terpotong karena mereka harus segera menuju proyek pembangunan mall yang mereka kelola.
Sementara itu di meja keluarga kecil Freya...
"Mommy, makanannya enak banget! Fiona kenyang." Fiona mengusap mulut mungilnya dengan tisu.
"Syukurlah Sayang. Kapan-kapan kita makan di sini lagi, ya," kata Maret sambil membelai lembut rambut Fiona.
"Fillio juga suka udangnya. Rasanya hampir mirip kayak buatan Mommy," sahut Fillio dengan polos. Freya tersenyum, hatinya menghangat. Dibandingkan dengan koki restoran mewah, rasa masakannya masih mendapat tempat di hati anak-anaknya.
Setelah selesai makan, mereka pun bersiap pergi.
"Ayo, kita ke rumah baru," kata Maret sambil menggendong Fiona yang mulai mengantuk.
Sesampainya di kasir, Maret menyerahkan uang sambil menyebutkan nomor mejanya.
"Meja tiga, Mbak."
Namun kasir menjawab dengan senyum sopan, "Sudah dibayar, Mbak. Tadi pria dari meja dua yang melunasinya."
Maret mengernyit. "Apa nggak salah? Saya nggak kenal siapa-siapa di sini."
"Ini bill-nya, Mbak bisa lihat sendiri."
Maret memandangi kertas tagihan itu dengan kening berkerut. Jumlahnya tidak kecil. Siapa pria itu? Kenapa ia membayarkan makanan mereka? Belum sempat bertanya lebih lanjut, pria itu sudah menghilang.
'Siapa pun dia... semoga suatu hari aku bisa mengucapkan terima kasih.'
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah baru.
Di sisi lain kota...
"Huhh... Max, sudah ada kabar tentang gadis malam itu?" tanya Vero dengan suara lelah. Di dalam mobil mewah yang tengah membelah jalan menuju mansion miliknya, ia duduk bersandar, menatap langit-langit mobil.
Max, asistennya, hanya menggeleng pelan. "Belum ada perkembangan, Ver."
Vero mendesah keras. Ia menyatukan jemari lalu menekan keningnya, frustasi. "Sudah bertahun-tahun. Tidak ada satu petunjuk pun..."
Bayangan gadis itu masih membekas kuat. Aroma tubuhnya, suara pelan di telinga, dan terutama-cahaya samar yang menyembunyikan wajahnya di malam itu. Malam kelam yang ia sesali sepanjang hidupnya.
"Gadis itu... darah... dia perawan. Dan aku... bodoh!"
Hatinya menyesal, pikirannya penuh penyesalan. Bukannya bangga, ia justru dihantui rasa bersalah. Bahkan aromanya-vanilla lembut yang memabukkan-masih lekat dalam ingatannya. Aroma yang kini selalu ia kejar di setiap wanita yang lewat, tapi tak satu pun yang menyamai.
"Gila... aku bahkan menyuruh Max mengendus parfum wanita!" batinnya pilu.
"Aku harus menebus kesalahan itu. Dia bisa saja hancur karena aku. Tapi ke mana aku harus mencari? Kota ini terlalu luas..."
Max hanya menatap sahabatnya dalam diam. Vero memang terlihat seperti pria mapan tak tersentuh, tapi malam itu mengubah semuanya.
Dan ia tahu, pencarian ini belum akan berakhir.